when you needed it whispered

“Serius?”

Dokja mengangguk, untuk yang kesekian kalinya.

“Serius Joonghyuk nggak pernah ngomong sayang?”

Kali ini, dia mengembuskan napas besar sampai poninya ikut tertiup sedikit. Sooyoung telah mengulangi pertanyaan itu setidaknya lima kali dan dia sudah lelah menjawab dengan perkataan yang sama.

”Iya, serius. Lo nanya sekali lagi gue tinggal nih, ya,” ancamnya pada wanita berambut sebahu yang lagi-lagi hanya menganga tak percaya. Dokja menggerutu dalam hati— memang apa salahnya kalau pacarnya nggak pernah bilang sayang?

“Terus lo… nggak apa-apa gitu dia nggak pernah ngomong sayang?”

”Emang kalau pacaran harus banget ngomong sayang?” Tanyanya datar.

Pertanyaannya itu malah mengundang tatapan aneh dari wanita di hadapannya. Dokja hanya merotasikan kedua bola mata, lantas meraih cangkir kopinya yang tinggal setengah. Tangan satunya lagi digunakan untuk mengetuk layar handphone sehingga bisa melihat dengan jelas menit-menit yang sudah mereka lewati di bagian luar kafe. Sooyoung yang paling tidak menyukai suasana gerah, awalnya melontarkan protes karena dia sengaja memilih bagian outdoor. Namun, ini harus dilakukan demi menuruti titah sang kekasih sebelum dirinya berangkat tadi siang.

Biar aku gampang jemputnya.

Dokja bukan orang yang suka diperintah, tapi untuk suatu alasan yang sulit dijelaskan, ia suka melihat Joonghyuk bersikap penuh perhatian terhadapnya. Terlepas dari status hubungan mereka, ia suka melihat pria dengan tampang datar itu menunjukkan kepedulian; jauh dari anggapan orang-orang yang tidak mengenal pria itu dengan baik.

Berbeda dengan dirinya.

“Aneh banget gaya pacaran kalian,” tukas Sooyoung lagi setelah Dokja memastikan dia masih mempunyai waktu sepuluh menit sebelum sosok jangkung itu datang menjemput.

Bukannya tersinggung, Dokja malah tersenyum kecil. “Mungkin buat beberapa orang aneh, tapi karena gue tau Joonghyuk orangnya gimana, itu jadi bukan masalah. Lagian, gue tetep tau kok dia sayang sama gue tanpa perlu dikasih tau,” jawabnya panjang lebar.

Satu alis Sooyoung terangkat naik. “Gimana caranya?”

“Ya bukan lewat kata-katalah. Soalnya Joonghyuk itu… lebih bisa nyampein apa yg dia rasain lewat aksi. Lo pasti paham istilah acts of service, kan? Nah, itu tuh Joonghyuk banget,” jelasnya sambil memainkan sendok kecil yang ada di dalam cangkirnya. Ia lalu mengangkat benda mungil itu dan menunjuk Sooyoung sambil menyeringai. “Lo pasti nggak setuju sama gue.”

“Iyalah!” Tangan wanita itu memukul meja, membuat perhatian beberapa pengunjung teralihkan ke arah mereka. “Menurut gue, yang namanya sayang itu juga perlu disampein lewat kata-kata.”

Dokja hanya tersenyum di balik cangkir kopinya.

Dilihatnya dari sudut mata, Sooyoung sudah membuka mulut untuk— mungkin —menyampaikan argumen lain. Tapi, belum sempat suara wanita itu terdengar, ada interupsi lain yang mendahului.

“Dokja.”

Matanya otomatis mencari sosok pemilik suara bariton tersebut. Begitu dipertemukan dengan netra gelap yang sudah terlebih dulu menyambutnya, ia tersenyum lebar. Di sebelahnya, didengarnya Sooyoung mendengus kecil.

On time banget sih jemputnya. Tenang aja padahal, pacar lo nggak bakalan ilang,” seloroh Sooyoung dengan ekspresi yang dibuat sejutek mungkin. Dokja tak berusaha mencegah ‘pertengkaran’ yang dimulai oleh temannya dan lebih memilih membereskan barang-barangnya yang berserakan di atas meja. Toh, ia sudah terbiasa.

“Tetep bisa gawat jadinya kalau kelamaan sama lo. Nanti pacar gue dapet pengaruh yang aneh-aneh,” balas Joonghyuk tanpa ekspresi— seperti biasa. Sooyoung langsung menjulurkan lidah dan membuat gerakan seolah ingin menonjok, tapi kekasihnya tidak menggubris sama sekali.

Dokja mengenakan tasnya kemudian menjulurkan kedua lengan untuk memeluk Sooyoung sebagai salam perpisahan. “Makasih ya, udah bantuin gue hari ini. Sori nggak bisa lama-lama,” ucapnya sambil mengedikkan kepala ke arah Joonghyuk dengan penuh arti. Sooyoung lagi-lagi hanya mencibir, walau sedetik kemudian, berubah menjadi senyuman tulus.

No problem. Kalau ada yang perlu dibantuin lagi, hubungin gue aja. Cuma lain kali, please! Kita diskusiinnya di indoor aja. Suruh pacar lo masuk ke dalem kafe kalau mau jemput! Jangan manja!” Seru wanita itu keras-keras (yang pastinya sengaja) sambil melepaskan diri dari pelukannya lalu menatap tajam Joonghyuk yang tetap diam membisu. Dokja tertawa kecil dan segera beranjak sambil melambaikan tangan.

“Daah! Nanti gue chat, ya!”

Dokja pun ganti menaruh atensi kepada sang kekasih yang langsung menarik tangannya. Mereka sama-sama berjalan menuju mobil hitam yang sudah terparkir di seberang jalan. Sayangnya, begitu Dokja membuka pintu mobil dan mendudukkan diri di kursi penumpang, ia menepuk jidat karena baru teringat meninggalkan sesuatu di atas meja kafe.

“Eh, sebentar! Aku lupa ada yang ketinggalan di atas meja sana. Tunggu ya, biar aku ambil du—“

Tangannya yang ingin membuka pintu mobil langsung diraih. Mata mengerjap, lalu menoleh bingung ke arah Joonghyuk yang sudah membuka pintu mobil duluan.

“Nggak usah, kamu duduk aja. Biar aku yang ambilin.”

Belum sempat bibirnya melontarkan larangan, pria itu sudah keluar dari mobil dan menyeberangi jalan. Dokja memperhatikan sosok jangkung yang menjauh itu dari jendela sambil merenung.

Tiba-tiba saja, ia teringat dengan perkataan Sooyoung tentang bagaimana sepasang kekasih sewajarnya menyampaikan sayang lewat kata-kata.

Bukannya ia tidak ingin mendengar kata ‘sayang’ terlontar dari bibir Joonghyuk, melainkan apa yang didapatnya kini— apa yang telah diberikan pria itu padanya kini, lebih dari cukup. Walau awal hubungan mereka tidak berjalan mulus, sudah bisa seperti sekarang saja Dokja amat bersyukur.

Rasanya terlalu egois jika dia berharap ‘lebih’.

Lagi pula, memang tidak semua hal perlu disampaikan lewat kata-kata, bukan?

“Nih, udah. Nggak ada lagi, kan, yang ketinggalan?”

Dokja terlonjak saat tahu-tahu suara Joonghyuk menyapa gendang telinganya. Ia baru tersadar sudah melamun cukup lama sampai tidak menyadari kehadiran pria itu. Dokja menerima barangnya yang dijulurkan sambil berterima kasih lalu menggeleng pelan.

“Nggak ada, kok. Yuk, buruan jalan. Nanti keburu macet.”

Divokalkan atau tidak, ia tetap tahu bahwa Joonghyuk menyayanginya.


“Kak, mau balik bareng nggak?”

Kepalanya terangkat mendengar suara pemuda yang sudah terlampau familier tersebut. Setelah memproses selama beberapa detik, barulah dirinya menggeleng.

“Hari ini nggak, nih. Kamu duluan aja.”

Gilyoung mengangguk, kemudian ada suara feminin yang langsung menimpali.

“Dokja pasti mau ke rumah Joonghyuk, ya?

Tahu-tahu, Sangah sudah menghampiri dan berdiri di sebelah kubikelnya. Wanita itu tersenyum, sebagaimana biasanya, kendati ada tatapan menggoda yang membuat Dokja bersemburat merah.

“Kok tau, sih?” Tanyanya, mempertahankan mimik polos yang dipasangnya.

“Tadi aku liat berita, Joonghyuk menang lomba lagi, kan? Jadi tebakanku, kamu pasti bakal ngerayain berdua hari ini di rumahnya,” balas wanita itu sambil membetulkan posisi tas tangan dengan anggun. Sangah tidak langsung beranjak pergi, tetapi malah mengawasi gerak-geriknya dengan tatapan penuh ingin tahu.

”Kenapa?” Dokja yang memiliki insting kuat, langsung memancing wanita itu.

“Nggak… aku masih bingung aja kenapa kalian nggak sekalian tinggal bareng. Kalian, kan, juga udah pacaran lumayan lama.” Ekspresi wanita itu dengan cepat berubah ragu— mungkin tidak enak karena merasa telah ikut campur. “Eh, tapi itu urusan kalian, sih… nggak perlu dijawab, kok.”

Dokja meraih tasnya dan memberi gestur pada wanita itu agar mereka sama-sama berjalan menuju lift. Senyumnya menunjukkan bahwa dia tidak keberatan sama sekali ditanyai seperti itu.

Karena sejujurnya, Joonghyuk pun sering mempertanyakan hal yang sama.

“Hmm… nggak ada alasan persisnya, sih. Cuma butuh waktu sedikit lagi aja sebelum tinggal bareng dia.” Tanpa bisa menahan diri, derai tawanya mengiringi langkah kaki mereka. “Soalnya kebayang kalau udah tinggal bareng dia, pasti bakalan… yah, gitu deh, aku yakin kamu bisa nebak. Kamu tau sendiri Joonghyuk orangnya gimana.”

Sangah mengangguk, kini terlihat paham. “Pasti bakalan jadi lebih protektif?”

“Itu, sama…” Dokja menyeringai, teringat dengan paras kekasihnya yang selalu ditekuk setiap kali dia harus melaksanakan dinas luar kota atau lembur, “bisa-bisa aku disuruh berhenti kerja.”

Sangah ikut tertawa, membuat beberapa pria yang sedang menunggu di depan lift menoleh dan memperhatikan dengan mulut sedikit terbuka. Kencatikan teman wanitanya itu memang tidak pernah gagal dalam mengalihkan atensi setiap pria.

Dan dia merasa beruntung karena Sangah mau berteman dengannya di kantor ini.

“Oke, deh. Kalau gitu, sampein salamku buat Joonghyuk, ya! Oh ya, sekalian sampein selamat karena udah menang lombanya.” Sangah melambai kemudian berjalan ke arah berlawanan begitu mereka telah keluar dari gedung.

“Oke!” Balasnya ringan sebelum menyapukan pandangan ke sekeliling jalan, berusaha mencegat taksi yang lewat. Ia harus segera pergi dari sana sebelum handphone-nya dibombardir dengan pesan yang menyuruhnya untuk cepat datang.

Dokja mafhum— toh, Yoo Joonghyuk memang terkenal sebagai pribadi yang tidak sabaran.


“Hei, selamat, ya…”

Dokja bisa merasakan pelukannya dibalas dengan sama eratnya. Tangannya mengusap punggung lebar sementara kekasihnya menenggelamkan wajah di bahunya. Aroma sabun dan detergen yang menguar menjadi penanda bahwa pria itu pasti baru saja selesai mandi. Sedangkan Dokja merasa dirinya pasti sudah bau matahari bercampur keringat setelah bekerja seharian penuh.

“Hyuk, emang aku nggak bau apa? Mau numpang mandi deh, tapi aku lupa bawa baju ganti,” ucapnya penuh sesal sambil mendorong bahu pria itu. Ia lupa bahwa kekasihnya memiliki tubuh bak batu besar di pinggir pantai sehingga usahanya menjauhkan pria itu tak membuahkan hasil.

“Pake punyaku aja nanti.”

Dokja mengerucutkan bibir, tangannya gatal ingin segera melepas kemejanya yang terasa lengket. Ia tak tahan ingin segera mandi di bawah shower mahal milik sang kekasih. “Baju kamu suka kegedean di aku.”

Mendengar balasannya, barulah Joonghyuk mengangkat kepala. Walau sekilas menampilkan mimik datar, Dokja bisa menangkap tatapan heran di balik iris gelap kekasihnya.

“Lagian kamu ke sini kenapa nggak bawa baju?” Tanya pria itu, terlihat penuh ekspektasi.

“Kenapa aku harus bawa baju?”

Sekarang, Joonghyuk memandangnya seolah di kepalanya tumbuh makhluk aneh.

“Emang kamu bakalan langsung pulang?” Tanya Joonghyuk lagi dengan alis yang saling menyatu, membuat wajah sang kekasih terlihat jauh lebih tampan dari seharusnya.

“Loh, emang nggak?” Dokja bertanya dengan nada sepolos mungkin.

Hela napas pria itu terdengar amat jelas di telinganya saat tubuhnya kembali dipeluk erat. Kakinya bahkan nyaris terangkat dari lantai.

“Jangan pulang. Nginep aja di sini.”

Dokja menggeliat saat Joonghyuk tiba-tiba menjatuhkan gigitan kecil di ceruk lehernya. “Tapi besok aku harus tetep kerja,” protesnya sambil berusaha mendorong pria yang malam itu hanya mengenakan kaus putih dan sweatpants abu-abu— sukses membuat bibirnya kering dan langsung menimbang tawaran menginap barusan.

Ralat. Perintah menginap barusan.

“Padahal kalau kita tinggal bareng, kamu nggak perlu kerja di perusahaan sialan itu lagi,” gumam Joonghyuk sepenuh hati seakan memiliki dendam kesumat terhadap perusahaan tempatnya bekerja.

Setelah berhasil melepas pelukan kekasihnya, Dokja menepuk-nepuk bahu pria itu. Senyumnya terkulum sementara Joonghyuk menampilkan tatapan cemberut (yang sering disalahpahami sebagai ekspresi marah oleh orang lain).

“Jangan harap aku bakal berhenti kerja.”

Tanpa menunggu tanggapan kekasihnya, Dokja langsung melenggang menuju kamar mandi— tahu ada dua pasang mata yang mengikutinya dari belakang.


Dokja punya kebiasaan buruk sering terbangun tengah malam.

Entah karena apa, ia juga masih sulit memahami hingga sekarang. Yang jelas, sulit baginya untuk kembali tidur dan biasanya inilah yang membuatnya terjaga sepanjang malam sehingga pagi harinya dia terpaksa berangkat kerja ditemani lingkaran hitam di bawah mata. Joonghyuk sudah sering menasihatinya soal ini, tapi salah pria itu juga yang memilih berargumen dengan seseorang yang keras kepala.

Tidak terkecuali malam ini.

Dokja terbangun dalam keadaan disorientasi. Ada beban di sekitar pinggangnya yang menghalanginya untuk bergerak. Ia menunduk, berusaha melihat benda apa yang menahan pergerakannya. Baru setelah mengerjap beberapa kali untuk membiasakan penglihatannya dalam gelap, Dokja menyadari lengan Joonghyuk-lah yang tengah memerangkapnya bagai lilitan ular.

Berhati-hati agar tidak membangunkan pria itu, Dokja bergerak perlahan mengangkat lengan yang memeluk pinggangnya erat. Ada lima menit sendiri ia habiskan sebelum akhirnya bisa bangkit dari tempat tidur. Beruntung Joonghyuk termasuk tipe yang tak mudah terbangun meski ada suara sekecil apa pun.

Dinginnya lantai menyentuh kaki telanjangnya. Dokja memeluk tubuhnya sendiri, mencari hangat dari lapisan piyama milik sang kekasih yang membungkusnya. Ia melangkah berjinjit menuju dapur lalu membuka kulkas untuk mencari apa pun yang bisa mengisi perutnya. Sungguh berbeda dengan miliknya, berbagai macam buah, karton susu, yoghurt, serta sayur mayur memenuhi isi kulkas sang kekasih. Tapi itu wajar karena meskipun berprofesi sebagai pro-gamer, Joonghyuk tetap perlu memperhatikan pola makan agar mampu bertanding dalam keadaan prima.

Lain cerita dengan dirinya yang hanya pegawai biasa.

Setelah mengambil satu apel dan sebotol yoghurt, Dokja kembali ke ruang tengah. Dia tidak ingin mengganggu Joonghyuk dengan aktivitas malamnya. Biarlah dia bergelung di sofa sambil membaca webnovel sampai nanti ketiduran.

Begitu mudah rasanya tenggelam dalam dunia fiksi yang dimainkan oleh tokoh protagonis favoritnya. Dalam sekejap, Dokja melupakan lingkungan di sekitarnya dan berandai-andai jatuh ke dalam dunia khayalan— tidak menyadari ada presensi yang perlahan menghampirinya.

“Kamu kebangun?”

Dokja kira, itu hantu yang berbicara karena ia hampir melupakan fakta tengah bermalam di apartemen Joonghyuk. Hampir saja dirinya berteriak kalau bukan karena sosok jangkung kekasihnya segera mengambil langkah lebar dan duduk di sebelahnya. Meski baru terbangun dari tidur, pria itu tetap terlihat tampan dengan baju dan rambut yang sama-sama berantakan. Dokja memberi apresiasi lewat tatapannya, kendati cahaya yang masuk ke ruangan begitu minim.

Berbanding terbalik dengan dirinya, Joonghyuk justru mengkerutkan kening tak suka. Pria itu menjulurkan tangan hingga mencapai pipinya dan memberi usapan lembut di sana.

“Nggak bisa tidur lagi?”

Dokja mengangguk, lantas memejamkan mata untuk menikmati lebih dalam sentuhan sang kekasih.

“Kenapa nggak bangunin aku?” Tanya Joonghyuk lagi dalam suaranya yang terdengar lebih parau— khas orang yang bangun tidur.

“Ngapain? Nanti aku cuma ganggu waktu istirahat kamu. Pagi ini, kan, kata kamu ada meeting penting.” Tangan Dokja ikut terangkat untuk menyentuh pergelangan Joonghyuk. Ia kembali membuka mata dan menemukan iris hitam itu masih memakunya di tempat.

“Kamu juga penting buat aku.”

Bisikan yang mengalun di tengah heningnya malam menjadikan suara pria itu seakan menggema di dalam kepalanya. Di hatinya. Mengalirkan hangat yang bahkan tak dia dapatkan dari lapisan fabrik mahal yang menyelimuti tubuhnya sekarang.

”Makasih,” balasnya tulus, yang kemudian direspons lewat gumaman kecil.

“Ayo, balik tidur lagi. Kalau begadang, nanti pagi kamu bakal keburu capek,” ujar Joonghyuk sambil menarik handphone-nya lembut dari tangan dan meletakkannya di atas meja. Dokja tak menuai protes, pasrah ditarik berdiri dan berjalan kembali menuju kamar.

Sesampainya di ruangan berpendingin udara tersebut, Dokja buru-buru naik ke atas kasur dan menarik selimut. Ia bergelung seperti kepompong, tetapi Joonghyuk justru masih berdiri di sebelah tempat tidur sembari memperhatikannya.

“Kenapa?”

“Kamu mau aku buatin susu anget? Siapa tau bisa bikin kamu jadi ngantuk lagi,” tawar pria itu, yang langsung memunculkan senyum di wajahnya.

“Kamu mau bikinin?”

Joonghyuk mengangguk tanpa suara.

“Kalau gitu mau.”

Dokja pikir, setelah menjawab, Joonghyuk akan langsung pergi menuju dapur. Yang tak diduganya adalah pria itu justru mencondongkan tubuh, menyibak poninya ke belakang, lalu menjatuhkan kecupan kecil di dahinya. Lembut hela napas pria itu terdengar pelan, seolah menyampaikan kata-kata yang jarang disampaikan.

Kata yang menurutnya tak perlu disampaikan dengan keras karena aksi pria itu selalu lebih kencang mendobrak pertahanan jantungnya.

Dan, mungkin, inilah sosok Joonghyuk yang Sooyoung— atau siapa pun —tidak pahami. Karena Yoo Joonghyuk sejatinya adalah epitome dari pemberi sayang yang tahu bagaimana menafsirkannya dalam diam.

Namun, untuk kali ini, ada dorongan ego yang ingin ia penuhi.

Jadi, manakala pria itu hampir menarik diri, Dokja segera meraih lengan kekasihnya dan menatap lurus-lurus sambil bertanya, “Kamu sayang nggak sama aku?”

Detik-detik yang terlewati seakan memberinya jeda untuk menarik napas— mempersiapkan diri untuk menerima jawaban apa pun yang akan terlontar.

(dan ia tahu Joonghyuk tidak akan mengecewakannya.)

“Selalu,” pria itu maju lalu mengunci kedua bilah bibirnya dalam lumatan lembut. “Dan nggak akan pernah berhenti.”

Sayang-nya pria itu memang tidak tersampaikan lantang seperti ekspektasi pada umumnya, tapi Dokja tahu limpahan kasih untuknya tetap ada— ibarat konstelasi bintang yang takkan lenyap, meski langit tak lagi diliputi kelam.


Happy birthday, Yoo Joonghyuk!

Prompts by ‘one hundred ways to say i love you’

no.53 “Sit down, I’ll get it.” no.20 “You can borrow mine.” no.66 “Stay over.” no.84 “You’re important too.”