Bagian I
Satu pesan singkat itu berhasil membuatnya tertegun lama. Oikawa yang baru turun dari bus dan hendak melangkah, mendadak berhenti hingga membuat beberapa orang di belakangnya menggerutu. Tanpa memedulikan reaksi orang-orang di sekitarnya, ia hanya terdiam di tempat sembari menatap nyalang layar yang masih memperlihatkan pertanyaan tak terduga sang kekasih.
Oikawa sendiri bertanya-tanya— bagaimana Iwaizumi bisa tahu?
Perutnya bergejolak aneh. Ada rasa tak nyaman yang menjalar, membuat tangan dan punggungnya terasa dingin. Refleks, kepalanya menoleh ke berbagai arah. Jangan-jangan Iwaizumi ada di sekitar sini? Namun, orang-orang yang turun dari bus berbarengan dengannya barusan sudah tak terlihat. Hanya tersisa segelintir orang yang tengah menunggu di halte tersebut.
Oikawa kembali menatap layar ponselnya. Pesan itu masih terpampang jelas seakan mengolok— seakan menuduh karena ia sudah berbohong. Oikawa tidak tahu harus membalas apa, kendati Iwaizumi pasti sudah melihat tanda read kecil yang tertera.
Yang jelas, kepalanya memerintahkan agar kakinya melangkah secepat mungkin menuju apartemen mereka. Tidak dipedulikannya pesan lain dari pria yang memang hari itu ia temui. Sekarang yang ada di kepalanya hanya bagaimana menjelaskan ini semua kepada Iwaizumi.
“Shit,” umpatnya pelan kepada udara kosong selagi mengantungi ponselnya ke dalam kantung jaket. Dengan jantung yang mulai berdetak tak karuan, Oikawa bergerak secepat mungkin di tengah udara musim panas.
Sesungguhnya, banyak alasan yang membuatnya jadi sepanik ini. Kalau tidak mengenal baik Iwaizumi Hajime— sangat baik malah —mungkin dia bisa berpikir jernih sekarang dan menyusun rangkaian kalimat penjelasan di dalam otak. Tapi ia tahu bisa jadi secemburu apa kekasihnya, bahkan untuk sekadar hal kecil. Terkadang Oikawa memiliki kepuasan sendiri dalam menggoda pria itu. Ada kalanya, dia dengan sengaja melancarkan jurus flirting-nya dengan orang lain— sekadar untuk membangkitkan segelintir emosi di wajah sang kekasih. Dan caranya selalu berhasil, meski sudah ratusan kali Oikawa mengungkapkan bahwa itu candaan dan ia hanya bersikap ramah.
Tapi, kecemburuan seperti itu masih bisa diatasi. Oikawa hanya perlu memanjakan pria itu; meyakinkan berulang kali bahwa Iwaizumi masih segalanya baginya. Diiringi ciuman, serta satu blowjob jika memang diperlukan, dan setelahnya Iwaizumi akan kembali bersikap biasa.
Sayangnya, Oikawa tahu betul ia telah melakukan kesalahan besar kali ini. Pertama, ia pergi dengan Ushijima Wakatoshi, pria yang selama ini telah menjadi rivalnya sejak SMA (selain Kageyama, tentu saja). Kedua, Oikawa berbohong soal alasan kepergiannya— bahwa hari itu ia hanya akan pergi me time di sebuah pusat perbelanjaan sehingga sang kekasih tidak perlu ikut menemani. Walau masih penasaran bagaimana Iwaizumi bisa mengetahui soal kebohongannya, itu tak penting sekarang.
Oikawa memencet tombol lift dengan tidak sabar begitu tiba di gedung apartemen. Bibirnya sempat menyunggingkan senyum sopan begitu pintu lift terbuka dan keluarlah seorang wanita paruh baya bersama seekor anjing. Cepat-cepat ia masuk, membetulkan posisi tas yang sedikit merosot, lalu menarik napas dalam.
Saat lift akhirnya berhenti di lantai yang ditujunya, Oikawa mengeratkan cengkeraman di strap tasnya. Ia memperlambat langkah, baru kali itu otaknya kosong tanpa terlintas satu pun alasan yang bisa dipakai. Pintu yang menyambutnya pun nampak seperti gerbang kematian. Mungkin setelah ini dia akan—
Oke. Mungkin itu terlalu berlebihan.
Mungkin Iwaizumi hanya akan memperlihatkan kecemburuan seperti biasa. Oikawa pun hanya perlu meminta maaf dan menggunakan cara seperti biasa. Lalu setelah itu, mereka akan bersantai di depan TV dan memesan makanan seperti biasa pula. Dan hari pekannya akan berakhir seperti biasa.
Jadi, dengan keberanian baru, Oikawa memasukkan kode pintu apartemen mereka lalu membukanya seberisik mungkin— memberitahukan kehadirannya.
“Hajime?” panggilnya di tengah keheningan apartemen. Ruang tamu yang masih bergabung dengan dapur pun terlihat kosong. Tidak ada suara air mengalir pula dari dalam kamar mandi. Barulah ketika ia meletakkan tas di atas sofa dan melepas jaket, matanya menangkap pintu kamar tidur mereka yang tertutup.
Tanpa memasang ekspektasi bahwa Iwaizumi akan berada di dalam, Oikawa membuka pintu kamar.
“Oh,” batinnya otomatis saat melihat subjek yang dicarinya. Iwaizumi yang sedang berbaring dengan punggung bersender di kepala tempat tidur hanya meliriknya sekilas sebelum kembali menatap layar iPad.
“Aku kira… kamu nggak ada di rumah,” ucapnya pelan sembari menghampiri dengan langkah hati-hati. Jendela kamar mereka yang biasanya ditutup setiap malam, dibiarkan terbuka sehingga memperlihatkan cahaya dari gedung-gedung tinggi di luar sana. Apartemen mereka terletak di lantai 17; praktis memperlihatkan pemandangan indah kota di kala malam.
Tapi, bahkan keindahan pemandangan kota tidak bisa mengurangi aura dingin yang menguar dari sang kekasih.
Oikawa meneguk ludahnya dengan gugup. Perlahan ia menududukkan diri di atas kasur; di sebelah pria itu. Iwaizumi masih belum mendongak menatapnya, entah apa yang ditekuni pria itu dalam layar.
“Kamu udah makan? Kalau belum, mau pesen sekarang?” cobanya lagi dalam upaya memancing pria itu bersuara. Tapi yang diterimanya lagi-lagi hanya keheningan dan Oikawa mulai kehabisan kesabaran.
Oikawa mengembuskan napas kencang hingga poninya tertiup sedikit. “Aku tau kamu marah karena aku udah bohong soal alasan pergi hari ini. Tapi, aku tau kamu nggak bakal ngizinin kalau aku bilang bakal pergi sama Ushiwaka. Dan aku nggak tau gimana kamu bisa tau, atau apa yang kamu liat, tapi sumpah!” Oikawa mengangkat kedua telapak tangannya, “Aku sama dia nggak ngapa-ngapain! Aku cuma dengerin dia nanya-nanya soal—”
“Aku nggak nanya kamu sama dia ngapain aja.”
Bibirnya terbungkam secara otomatis. Saat ia mencoba membukanya lagi, tak ada suara yang keluar. Keningnya berkerut defensif; tidak menyukai nada yang digunakan sang kekasih.
“Terus? Sekarang kamu marah, kan, tapi? Ini aku lagi berusaha jelasin, jadi at least kamu bisa dengerin dulu daripada ada salah paham.”
Kali ini, Oikawa berucap setegas mungkin. Ia tidak menampilkan kesan bercanda agar Iwaizumi pun menganggapnya serius. Ia paling benci jika ada miskomunikasi di antara mereka. Baginya, komunikasi tetaplah penting, sekalipun mereka telah mengenal satu sama lain sejak kecil.
Oikawa memang mengharapkan respons, tapi yang tidak disangkanya adalah ketika Iwaizumi tahu-tahu mengeluarkan tawa kosong. Netra gelap pria itu akhirnya menatap lurus dirinya dan Oikawa harus menahan gelenyar dingin yang merambat di sepanjang lengan agar kegugupannya tidak tertangkap jelas.
“Lucu kamu bilang begitu,” Iwaizumi menukas tanpa ada humor terselip di dalamnya. “Apa kamu bakal jelasin juga seandainya nggak ketauan bohong? Baru pas ketauan kayak gini kamu takut ada salah paham di antara kita?”
“Aku nggak—” Oikawa berusaha membela diri, tapi kata-kata apa pun yang nyaris keluar segera ditelannya kembali. Dalam hati ia berusaha menenangkan diri. Jika mereka berdua sama-sama terpancing emosi, tentu masalah ini akan semakin merembet ke mana-mana. “Oke, sebelumnya, aku minta maaf karena udah nggak jujur. Aku cuma mikir lebih baik… kamu nggak tau. Toh, aku juga nggak ngapa-ngapain sama Ushiwaka. Aku pun nggak ada niatan buat ketemu dia lagi habis ini, jadi… aku minta maaf pokoknya.”
Belum ada sepuluh detik Oikawa mengutarakan rentetan kalimat tersebut, Iwaizumi kembali mendengus pelan. Pria itu akhirnya bergerak— mematikan layar iPad dan meletakkannya di atas nakas. Matanya mengikuti tanpa sadar; menunggu apa yang akan diucapkan atau dilakukan sang kekasih.
“Oke.”
Oikawa mengeluarkan napas lega.
“Tapi malem ini, aku nggak akan berhenti gitu aja.”
“Apa?” tanyanya, tak paham maksud pria itu.
“Di mana HP kamu?” potong pria itu cepat— mengejutkannya.
“Eh? Di… di dalem jaket, di ruang tamu,” jawabnya bingung.
“Aku mau habis ini kamu hapus nomor dia. Ngerti?”
Oikawa meneguk ludahnya kasar. Kepalanya mengangguk tanpa sadar mendengar titah tersebut. Ia tidak perlu bertanya siapa dia yang dimaksud. Saat Iwaizumi nampak puas dengan jawaban tanpa suaranya, pria itu tanpa aba-aba meraih dagunya di antara telunjuk dan ibu jari. Oikawa hanya sempat menarik napas selama tiga detik sebelum bibirnya dikuasai penuh. Bukannya ia sendiri tidak melihat hal itu datang, tapi saat kekagetan dari sebelumnya belumlah lenyap, apa pun yang dilakukan pria itu terasa bagai kejutan listrik.
Namun, tidak butuh waktu lama bagi Oikawa untuk menyambut ciuman yang mulai melibatkan lidah dan saliva tersebut. Ini— masih bisa dia handle. Masih bisa ia balas dengan hasrat yang sama. Rasa frustrasinya atas masalah mereka sebelum ini menguap seketika. Tangannya terangkat dan dikalungkan di sekitar leher sang kekasih sebagai upaya menghapus jarak. Tetapi saat Oikawa menekan tubuhnya agar hangat pria itu kian tersalurkan, Iwaizumi justru melepaskan ciuman mereka. Bibirnya mengeluarkan desah kecewa dan kelopaknya mengerjap terbuka.
Di situlah ia baru sadar, Iwaizumi belum menyentuhnya sama sekali kecuali adu bibir yang tadi mereka lakukan. Tatapan penuh tanda tanyanya pastilah tertangkap jelas. Tersenyum miring, Iwaizumi meraih sesuatu dari dalam nakas. Matanya terbelalak saat mendapati benda tak asing yang diraih pria itu.
“Aku mau kamu nurut sama aku malem ini. Bisa?”
-tbc
@fakeloveros