Padahal Oikawa hanya bercanda saat mengatakan akan mengenakan sesuatu yang konyol seandainya Iwaizumi menang adu panco melawan murid dari sekolah lain. Pasalnya, murid itu memiliki perawakan fisik yang jauh lebih besar dari sang sahabat, jadi Oikawa yakin dirinya akan memenangkan taruhan mereka (ia sendiri berencana menyuruh Iwaizumi mengenakan kaus berwarna pink stabilo— sesuatu yang benar-benar dibenci pria itu).
Sayang, ia lupa bahwa Iwaizumi Hajime bukanlah orang yang suka menerima kekalahan; sifat yang seharusnya tak asing lagi karena dirinya pun begitu.
Oikawa sudah menyiapkan mental seandainya Iwaizumi menyuruhnya mengenakan kaus Godzilla berwarna hijau terang yang dimiliki pria itu. Dari sekian banyak gaya fashion yang dimiliki Iwaizumi, kaus itulah yang paling dibencinya. Dan Oikawa yakin, Iwaizumi mengetahui kebenciannya tersebut sehingga akan dijadikan titik lemah.
Matanya menyipit curiga manakala Iwaizumi menyuruhnya datang ke gudang olahraga kala pulang sekolah hari itu. Kalau memang ingin mempermalukannya, bukankah seharusnya Iwaizumi memilih jam yang lebih ramai? Bahkan sekarang tak begitu banyak murid yang tersisa kecuali segelintir di lapangan, serta yang sedang mengikuti kegiatan klub. Praktis, kecurigaannya kian bertambah saat membuka pintu gudang dan menemukan sahabatnya sudah menunggu di sana.
Gudang itu tak terlalu gelap walaupun lampunya dimatikan. Jendela yang ada di ruangan cukup memberikan pencahayaan dari sinar matahari sore. Oikawa menutup pintu di belakangnya dan berjalan mendekat— mencari-cari dengan matanya letak kaus berwarna hijau yang akan dikenakannya di depan umum sebentar lagi. Namun, Iwaizumi hanya menegakkan tubuh dan menyerahkan kain bermotif kotak-kotak begitu Oikaw tiba di depan temannya itu. Oikawa memperhatikan baik-baik sebelum menyadari bahwa yang disodorkan kepadanya adalah rok seragam sekolah mereka.
Tangannya menerima fabrik itu sedikit ragu. “Kok, lo malah bawa rok…?”
Awalnya, Iwaizumi tak langsung menjawab. Pria itu hanya menatapnya lekat seakan memiliki ekspektasi terhadap sesuatu. Oikawa mengerutkan kening, lantas menatap kain di tangannya dengan bingung.
“Jangan bilang… lo mau gue pake ini?”
Saat akhirnya pria itu memberikan reaksi berupa anggukan, Oikawa refleks beringsut mundur dengan tangannya yang memegang rok terjulur ke depan. “Hah? Lo gila, ya?! Ogah! Gue nggak mau pake itu!”
“Di perjanjian kita nggak ada aturan khusus, kan? Berarti, gue bisa nyuruh lo pake apa aja,” respons Iwaizumi datar dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam kantung celana. Ada sesuatu dalam nada pria itu yang membuat Oikawa berhenti mengerut jijik dan ganti menatap sang sahabat dengan penuh tanda tanya.
“Lo serius mau gue pake ini?”
Iwaizumi mengangguk mantap.
“Terus, habis itu gue harus keluar? Biar anak-anak liat?” Oikawa mengerang. Ia sudah bisa membayangkan reaksi murid di sekolah mereka, terutama Matsukawa dan Hanamaki. Dua sejoli itu pasti akan meledeknya habis-habisan, setidaknya selama setahun penuh sampai kelulusan.
“Nggak usah.”
Balasan Iwaizumi membuatnya mengangkat satu alis. “Hah?”
“Nggak usah keluar. Pake di sini aja, depan gue.”
“Kenapa gitu?” tanyanya otomatis. Ia pikir, esensi dari taruhan mereka adalah untuk mempermalukan pihak yang kalah? Kalau hanya Iwaizumi yang melihat, bukankah itu akan menjadi percuma? Oikawa berusaha menebak jalan pikiran sahabatnya. “Ooh, atau lo mau foto gue, terus nanti fotonya lo sebarin? Iya, ya? Gitu, ya?” tuduhnya, dengan nada sedikit sewot.
“Nggak,” lagi-lagi Iwaizumi hanya menggeleng. “Cuma gue yang bakal liat lo pake itu.”
Oikawa membuka mulut untuk kembali menyudutkan pria itu. Namun, determinasi yang ada di balik obsidian sahabatnya membuat Oikawa mengurungkan niat tersebut. Pandangannya beralih ke rok yang ada di genggamannya— mungkin lebih cepat lebih baik. Ia bahkan sudah tidak terlalu peduli untuk bertanya dari mana Iwaizumi mendapatkan rok tersebut.
“Oke.” Bahunya terangkat ringan; ia pikir itu bukan masalah. Lagi pula, apa susahnya, sih, mengenakan rok?
“Lepas celana lo juga.”
Saat titah itu terlontar, Oikawa menunduk menatap celana seragamnya, kemudian balik ke Iwaizumi yang terlihat serius dengan kata-kata barusan. Mendadak, suhu di dalam gudang tersebut seolah naik. Oikawa berdeham untuk menghilangkan kegugupan, lantas dengan santai mulai membuka ritsleting celananya.
Oikawa berusaha mengabaikan tatapan Iwaizumi yang mengikuti gerakannya— membuatnya seakan ditelanjangi, padahal ia pun masih mengenakan bokser putih di balik celana kotak-kotaknya.
Setelah melepas celana dan meletakkannya di atas salah satu matras senam lantai yang ada di sana, Oikawa meloloskan kakinya satu per satu ke dalam rok dan menaikkan ritsletingnya dengan mudah. Dalam hati ia terkejut karena ukuran rok itu sangat pas untuknya walaupun jika diukur berdasarkan tinggi, ternyata cukup pendek sehingga mengekspos pahanya sedemikian rupa. Oikawa menepuk-nepuk rok itu, seolah membersihkan debu yang kasatmata. Kenyataannya, ia hanya tidak berani mengangkat kepala dan menemukan tatapan Iwaizumi masih terpaku di dirinya.
“Berapa lama gue harus pake ini?”
Sunyi senyap— tak ada jawaban yang terdengar. Menyerah, Oikawa pun mengangkat kepala. Serta merta pemandangannya disambut oleh Iwaizumi yang mengambil langkah besar dan tahu-tahu berdiri di depannya. Pria itu bagai menjulang, walau jelas-jelas dirinyalah yang lebih tinggi. Gelap netra itu, Oikawa punya firasat, tak ada hubungannya sama sekali dengan ruangan yang minim cahaya. Ia menelan ludahnya gugup dan hampir mengambil langkah mundur. Seketika, Iwaizumi menahan tangannya cepat.
“Tunggu. Tunggu sebentar.” Pria itu terlihat kesulitan bicara. “Jangan… gerak dulu.” Iwaizumi mencondongkan tubuh dan memerangkap Oikawa dalam tatapannya. “Gue… mau coba sesuatu, kalau boleh.”
Oikawa tak bergerak— tak mampu bergerak. Dan mungkin rapat bibirnya yang terkatup ditandai sebagai gestur persetujuannya. Masih dengan tatap penuh intensitas yang membuat wajahnya memanas, Iwaizumi perlahan menghilangkan jarak hingga menyudutkannya di antara dua lemari. Oikawa bingung kenapa dirinya tidak menolak atau mendorong pria itu sekalian, terlebih saat Iwaizumi menahan pinggangnya dengan kedua tangan.
“Gini nggak apa-apa?”
Lidahnya terlalu kelu untuk sekadar mengeluarkan kata ya. Namun, Iwaizumi nampaknya paham karena pria itu hanya menyunggingkan senyum kecil sebelum lebih menghimpitnya. Tangan pria itu perlahan turun hingga menyentuh ujung roknya. Oikawa yakin tubunya bergetar manakala tangan besar Iwaizumi menyusup ke balik rok dan mengelus bagian dalam pahanya naik turun— amat perlahan, seperti mengetes reaksinya. Kasar kulit pria itu di atas pahanya yang tak tertutup apa pun menimbulkan sensasi aneh. Oikawa terpaksa memejamkan matanya erat dan menggigit bibirnya, berupaya tidak mengeluarkan suara-suara aneh.
Tiba-tiba, ada sentuhan mengejutkan yang menyapa kulit lehernya.
Oikawa membuka mata dan terkesiap. Tangannya yang tadinya terjulur kaku di samping tubuh, otomatis terangkat untuk mencengkeram lengan Iwaizumi. Otot pria itu seakan berkontraksi di bawah sentuhannya. Meski demikian, Iwaizumi tidak menghentikan gerak bibir di lehernya— malah bergerak naik menyusuri rahang, lalu turun kembali dan menjatuhkan kecupan di ceruknya.
“Wa…” lirihnya, tanpa tahu apa yang ingin dikatakan. Kakinya lemas dan mungkin ia sudah terjatuh seandainya tidak ada Iwaizumi yang menopang beban tubuhnya. “T-tunggu…” Namun, satu kata akhirnya berhasil keluar manakala dirasakannya tangan Iwaizumi kian merangkak naik. Pria itu seketika berhenti dan menjauhkan wajah sedikit untuk menatapnya. Kalau tidak salah mengartikan, Oikawa paham bahwa itu adalah tatapan penuh hasrat.
“Lo… ngapain?” tanyanya lagi, enggan menyuarakan secara lantang bahwa berhentinya pria itu malah membuatnya frustrasi.
“Nggak boleh?” Bukannya menjawab, Iwaizumi malah balik bertanya dalam lirih yang sama. “Kalau nggak boleh ngomong aja, gue bakal langsung berhenti.”
Bukannya nggak boleh, Oikawa berpikir selagi mengalihkan tatapan. Tapi, mereka selama ini kan cuma sahabat…
“Tooru.”
Oikawa tertegun saat nama kecilnya diucap jelas; tatapannya kembali ke depan. Iwaizumi, dengan tangan kiri yang bebas, mengusap pipinya dengan punggung tangan. “Kalau nggak boleh juga ngga apa-apa. Kita bisa ngelupain ini.”
Pria itu mulai menarik diri, tetapi gerak tangannya jauh lebih cepat dibanding gerigi di otaknya dalam meregister situasi.
“Nggak apa-apa,” Oikawa sadar bibirnya bergerak menyuarakan hal tersebut. “Coba… lanjut aja.”
“Yakin?” Iwaizumi mencari-cari netranya. Oikawa mengangguk tanpa suara dan berusaha untuk tidak mendesah lega saat Iwaizumi kembali menipiskan jarak. “Kalau lo berubah pikiran, bilang aja. Gue pasti bakal langsung berhenti.”
Mungkin itu hanya ungkapan formalitas karena setelahnya, Iwaizumi justru bergerak bagai mobil yang baru saja diberikan lampu hijau. Tangan pria itu kembali menyusup— kali ini penuh urgensi. Oikawa tak bisa menahan erangannya saat menerima remasan di pahanya yang masih dijamahi.
“Lo… cocok banget pake ini,” gumam Iwaizumi, tanpa terdengar mengejek sama sekali. “Gue suka liatnya,” lanjut pria itu dengan suara seperti tercekat.
Kepalanya berputar pening— tidak pernah terbayangkan olehnya mereka akan melakukan hal sefrontal seperti ini. Namun, kalau dipikir-pikir lagi, bukan berarti matanya tak pernah menelusuri punggung dan abdomen sang sahabat yang kian terbentuk manakala mereka sedang berganti baju setelah latihan. Beberapa kali ia pun pernah tak sengaja menangkap basah Iwaizumi melakukan hal yang sama. Ada kalanya, sentuhan pria itu di punggungnya saat memuji di lapangan terasa berbeda— seperti berlama-lama untuk mengharapkan suatu reaksi.
Mungkin, hasrat itu sudah ada di antara mereka sejak dulu dan Iwaizumi mendapat keberanian untuk mengkonfrontasinya lewat taruhan konyol mereka.
Jujur saja, Oikawa tidak keberatan sama sekali.
“O-oh, ya?” tanyanya kesulitan, lebih-lebih ketika dua tangan yang kerap bergerak aktif itu meremas bokongnya tanpa aba-aba. Oikawa menjatuhkan kepalanya di atas bahu pria itu— mendesah di sana saat roknya disingkap ke atas dan Iwaizumi bersusah payah menurunkan celananya. “Seberapa… suka?”
Napas pria itu terdengar liar di telinganya. “Lo… tau? Tiap kita latihan, seberapa susahnya fokus gara-gara celana lo yang kependekan itu? Dan gue selalu bayangin, apa rasanya kalau bisa megang tanpa penghalang sama sekali. Apa rasanya kalau bisa nandain paha lo yang mulus ini. Kalau bisa—” Iwaizumi memotong ucapannya sendiri untuk mengumpat pelan. Dan Oikawa nyaris saja tertawa kalau bukan karena keras yang tiba-tiba beradu dengan miliknya di bawah sana. Oikawa menunduk dan mendapati pria itu telah menurunkan celana hingga lutut— memperlihatkan ukuran masif yang berdiri tegang. Oikawa meneguk ludah dan mengangkat wajah hingga beradu pandang dengan Iwaizumi.
“Sori, gue nggak bisa nahan,” aku pria itu tanpa malu-malu. Oikawa mendengus keras, namun tak berlangsung lama karena bibirnya kembali meloloskan desah panjang saat kejantanan mereka beradu untuk kedua kalinya. Keningnya ia senderkan di bahu pria itu sembari menatap pemandangan di bawah dengan dada yang naik turun. Tangan Iwaizumi yang berukuran lebih besar darinya menyatukan penis mereka dan mulai memompanya naik turun. Saat ia nyaris berteriak agar pria itu mempercepat gerakan, Iwaizumi meludahi telapak tangan, kemudian mengulangi gerak yang sama dengan ritme tanpa ampun. Basah tangan pria itu membuat gerakan naik-turun yang dilakukan semakin lancar; menaikkan libidonya. Lenguhannya ia perdengarkan tanpa ragu, mengisi gudang seolah berlomba dengan geram rendah yang dikeluarkan Iwaizumi.
Tangannya mencengkeram bahu pria itu kuat— dilanda dilema antara ingin terus memperhatikan dan memejamkan mata karena aktivitas erotis yang tengah berlangsung. Iwaizumi tak perlu lagi meludahi tangan karena licin itu mulai terasa alami berkat cairan yang perlahan keluar dari ujung masing-masing. Oikawa melingkarkan tangannya di sekitar leher Iwaizumi dan mendekap sahabatnya erat; mengikuti hentakan yang dituntun pria itu demi mengejar pelepasan mereka. Wajah dan tubuhnya terasa panas. Peluh mengalir deras membasahi kausnya yang terasa sesak. Ada gumpalan panas yang terasa di dasar perutnya sebelum Iwaizumi mengocok lebih cepat hingga erangan mereka bersatu kala putih itu keluar bebas. Iwaizumi memperlambat gerak tangan, sedang Oikawa berusaha mengatur napas akibat orgasme yang baginya luar biasa tersebut. Ia seakan tidak bisa berhenti, sekalipun sentuhan Iwaizumi mulai membuatnya sensitif.
Begitu tak ada tenaga yang tersisa, Oikawa memasrahkan diri di pelukan pria itu. Iwaizumi menurunkan roknya dan ganti memeluk pinggangnya selagi ikut menenggelamkan diri di atas bahunya. Oikawa memejamkan mata walau otaknya mulai meneriakkan apa yang baru saja terjadi.
Mereka tetap berada di posisi itu selama beberapa menit.
Hingga Iwaizumi menjadi yang pertama melepaskan diri untuk melarikan pandangan ke bawah.
“Simpen aja roknya, itu buat lo.”
Oikawa memutar kedua bola mata. Iwaizumi hanya tersenyum lebar dan melanjutkan dengan nada sugestif.
“Dan mungkin… kita bisa taruhan lagi buat hal lain nanti.”
@fakeloveros