Satu dari sekian banyak sifat buruknya, Oikawa paham betul bahwa inilah yang paling sulit ditolerir.
Kepalanya dimiringkan di atas bantal, jendela kamarnya— kamar lamanya — terbuka lebar hingga memperlihatkan pemandangan langit biru cerah yang teriknya sungguh kontras dengan mendung di hatinya. Matanya menatap kosong, meski suara-suara di benaknya silih berganti menghampiri— membuat pikirannya jauh melayang tanpa memedulikan getar ponsel di atas nakas yang nampaknya tidak ada tanda-tanda untuk berhenti.
Tanpa perlu melihat pun, Oikawa tahu siapa yang sedang berusaha menghubunginya.
Oikawa memalingkan muka dan menenggelamkan wajahnya di atas bantal. Ia hirup dalam-dalam aroma deterjen familier yang melingkupi bantalnya, kemudian dilepaskannya dengan berat. Meski telah melakukannya berulang kali, tetap saja tak ada cara untuk mengurangi sesak di dada yang menghimpitnya sejak tadi pagi— sejak dia mengucapkan salam perpisahan kepada sosok wanita paruh baya yang kerap menyambutnya hangat diiringi sorot mata penuh pengertian, terlebih saat tangannya menggandeng seorang anak perempuan berkuncir dua.
“Mas nggak perlu ngerasa nggak enak. Silakan datang lagi ke sini kapan aja, sama Mas Iwa juga boleh. Saya juga kangen pengen liat Tobio.”
Oikawa berharap senyumnya tidak terlihat pahit manakala gelengan ia berikan, sekaligus alasan yang menyertai.
“Saya… belum tau, Bu, bisa ke sini lagi atau nggak. Tapi nanti kalau ada waktu, saya bisa kasih tau Tobio buat sekali-sekali main ke sini.”
Ibu yang merawat panti asuhan itu lagi-lagi hanya tersenyum, kemudian meninggalkannya dengan anak perempuan yang masih menggenggam tangannya erat. Ada tarikan konsisten di celananya yang membuatnya menunduk menatap sosok kecil itu.
“Om mau main pasir lagi?”
Bohong kalau Oikawa tidak ingin menangis saat itu juga.
Dan itu memang pertanda manakala air mata yang sedari tadi menggenang tahu-tahu jatuh dan langsung diserap oleh bantalnya. Oikawa memiringkan kepalanya kembali, menghirup dalam-dalam udara walau semakin sulit dengan gumpalan tak kasatmata yang memenuhi tenggorokannya.
Setelah beberapa menit berbaring dengan posisi seperti itu, telinganya menangkap ketukan samar di pintu kamarnya. Tak lama, kepala ibunya muncul dari balik pintu. Lagi-lagi, Oikawa bisa menebak apa yang akan dikatakan ibunya, bahkan sebelum wanita itu membuka mulut.
“Suamimu dateng, tuh… katanya mau jemput. Ibu suruh tunggu di bawah aja atau naik ke sini?”
Oikawa tahu ini sikap yang kekanak-kanakan, tapi sekarang ia sedang tidak ingin bertemu siapa pun. Meski begitu, bagian lain dari dirinya merasa bersalah karena telah menempatkan suaminya dalam posisi yang sulit. Tapi, demi apa pun, ia takut jika bertatap muka dengan suaminya sekarang, air mata yang tidak ingin diperlihatkannya justru akan jatuh tanpa aba-aba. Oikawa tidak ingin dianggap merajuk atau memberikan kesan bahwa ia sengaja melakukan itu.
“Bilang aja…” Oikawa berdeham karena suaranya terdengar serak, “suruh tunggu di rumah, nanti sore atau malem aku bakal pulang, kok.”
Oikawa belum mengutarakan apa pun kepada ibunya, namun dari sorot mata teduh yang dilayangkan, nampaknya sang wanita pun paham ada masalah di antara dirinya dengan Iwaizumi. Ia cukup mensyukuri ibunya tidak memaksa dirinya untuk bercerita. Setidaknya untuk sekarang.
“Ya udah, ibu bilangin dulu ke mas gantengmu itu.”
Oikawa tersenyum kecil mendengar ibunya masih memanggil Iwaizumi dengan panggilan yang sama sejak dulu. Setelah pintu kamarnya ditutup pelan, Oikawa mengubah posisi tidurnya hingga menghadap langit-langit kamar. Matahari masih bersinar cerah di luar sana, tetapi bukan itu sebabnya memejamkan mata.
Saat tak ada suara-suara lagi yang terdengar dari lantai bawah dan kantuk mulai menyerangnya, ponselnya kembali bergetar. Kali ini, dengan setengah mengantuk, Oikawa meraih benda pipih itu dan membaca chat yang masuk dari notifikasi layar. Nama suaminya tertera di sana dengan isi pesan yang mau tak mau mengundang dengus pelan.
Kalau nanti malem kamu gak pulang juga, aku bakal masuk ke kamar kamu lewat jendela
Satu getaran lagi terasa.
Bukannya aku gak mau punya anak lagi
Jantungnya berdebar kencang, netranya otomatis terbuka lebih lebar.
Tp aku mau ngasih tau alasanku dulu ke kamu
Oikawa menatap layarnya lama. Jarinya bergerak untuk membuka kunci, tapi ada satu pesan lagi yang tiba-tiba masuk.
Jadi nanti kamu pulang ya? Please.
@fakeloveros