when you call my name

“Laper…”

Entah sudah berapa kali Oikawa mengumamkan satu kata itu dibarengi gerakan mengusap-usap perutnya bak wanita hamil. Matanya melirik ke arah jam yang tertera di sudut layar komputer— 8.15 malam. Padahal pekerjaannya tinggal sedikit lagi selesai, tetapi perutnya tak mau lagi diajak berkompromi.

Oikawa menghela napas, suaranya sampai terdengar mengisi ruangan kantor yang hening dan gelap. Ia menengokkan lehernya ke kiri dan kanan, juga memutar setengah tubuhnya yang sedari tadi menempel di atas kursi demi menghilangkan pegal. Oikawa melepas kacamata dan memijit bagian pangkal hidungnya sembari sekali lagi menghela napas berat.

“Aduh, anjrit laper banget,” ucapnya keras-keras seolah dengan begitu penderitaannya akan sedikit berkurang. Tapi untuk makan ia membutuhkan uang, dan untuk menghasilkan uang ia harus bekerja. Pun, bagian dari pekerjaan adalah rela lembur demi menyelesaikan tugas yang menumpuk.

Layar komputer menatap nyalang seakan mengejek nasibnya yang belum bisa menyentuh sepiring nasi. Oikawa balik menatap tajam halaman excel yang terbuka seolah tengah menantang berkelahi. Bukannya cepat-cepat mengerjakan, dia malah ganti merenung dan bertanya-tanya dalam hati apakah sekembalinya nanti ke kos-an, abang yang menjual nasi goreng akan tetap ada?

“Bangsat. Laper banget gue,” keluhnya sembari memajukan kursi dan kembali memakai kacamata.

“Oikawa?”

Kepalanya menoleh secepat kilat, takut itu hantu yang berbicara. Namun, yang didapatinya justru sosok seorang pria yang tengah memasukkan handphone ke dalam kantung celana sambil menatapnya datar.

“Kamu belum pulang?” Tanya pria itu lagi, kini sambil melangkah sedikit menuju kubikelnya.

“Eh, Pak… belum, nih. Masih ada kerjaan sedikit lagi. Bapak sendiri… baru mau pulang?” Matanya menelusuri tampilan pria itu yang terlihat tanpa cela meskipun sudah bekerja seharian. Walau dasi yang tadi pagi dikenakan sudah tak terlihat dan lengan kemejanya sudah digulung setengah, pria itu tetap terlihat… menawan. Oikawa tak bisa mengalihkan tatapannya dari lengan berotot yang (kalau berdasar gosip di antara para pegawai) hampir setiap hari bertemu gym. Ia tak bisa menyalahkan apabila banyak pegawai wanita yang berusaha mendekati atasan mereka tersebut.

Bahkan dirinya saja suka.

“Emang kerjaannya nggak bisa dilanjut Senin nanti?”

Pertanyaan itu sedikit membuatnya gelagapan. Oikawa pikir atasannya itu hanya akan menjawab basa-basi, kemudian pergi meninggalkannya seorang diri. Namun, pria dengan surai hitam itu malah berjalan semakin mendekatinya.

“Eh? Bisa aja sih, Pak. Tapi… tanggung,” jawabnya sekenanya. Perkataannya itu disambut gumaman panjang dan tahu-tahu pria itu sudah menyender di kubikelnya.

Kalau dipikir-pikir, Oikawa sering mendengar berbagai rumor soal Hajime Iwaizumi.

Pria bermodalkan ekspresi datar, bahkan cenderung galak itu memang sering menjadi buah bibir. Banyak pujian yang sering dilontarkan oleh para pegawai— tampan, memiliki badan yang bagus, sering mentraktir makan para pegawai, serta bersikap adil terhadap semuanya. Pertama kali, siapa pun akan dibuat terheran-teran karena kontrasnya raut wajah dengan sikap pria itu. Jika ada yang membuat kesalahan, Iwaizumi tidak pernah menaikkan nada suara maupun menasihati di depan umum. Pria itu juga tidak pernah terlihat keberatan atau bosan jika harus menjelaskan sesuatu kepada para pegawai yang belum mengerti. Walaupun memiliki sifat bak malaikat, tetap tidak ada yang berani bersikap kurang ajar. Semua menghormati, meski pria itu masih tergolong muda untuk menempati posisi tinggi. Oikawa pun ikut memberi respek kendati ia tahu umur mereka berdua sama.

Namun, sesempurnanya manusia bukan berarti tidak memiliki kekurangan.

“Kalau disuruh milih,” bisik Alisa, di suatu siang sekembalinya mereka dari lobi untuk mengambil pesanan kopi, “gue bakal lebih pilih Pak Kuroo dibanding Pak Iwa.”

Oikawa nyaris tersedak dolce latte-nya. “Kenapa gitu?”

“Yaaah, walapun Pak Kuroo rada boomer dikit, at least tuh orang masih bisa senyum. Tapi coba kalau Pak Iwa?” Alisa membuat tubuhnya seolah bergidik. Wanita itu mencondongkan tubuh, lantas berbisik lebih pelan, “Lo bayangin kalau jadi pacarnya, bakal jarang banget dikasih senyum!”

Setelahnya, Oikawa memikirkan perkataan tersebut. Tanpa sadar ia mulai lebih memperhatikan untuk mencari bukti bahwa atasan mereka mana mungkin tidak pernah tersenyum.

Tapi, baru lima hari mengawasi ia sudah menyerah. Mau berada dalam keadaan apa pun, Iwaizumi Hajime memang tidak pernah tersenyum.

Tapi gue nggak keberatan, kok, jadi pacarnya… benaknya mengangguk setuju, mengikuti arah pandangnya terhadap sang atasan yang hari itu mengenakan setelan jas lengkap karena ada rapat penting dengan petinggi perusahaan lain. Sekilas, ia yakin tatapan mereka sempat bersirobok, namun Oikawa cepat-cepat menunduk dan pura-pura berkonsentrasi dengan pekerjaan di dalam layar.

Lalu sekarang, tiba-tiba ia mendapat kesempatan berbincang dengan pria itu. Hanya berdua.

“Kamu udah makan?”

Kalau tadi Oikawa gelagapan, sekarang ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutan.

“Eh… belum, Pak.”

Oikawa tidak berani menatap pria itu langsung, jadi matanya sengaja ia arahkan ke tangan dengan warna kulit terbakar matahari yang sedang memainkan kunci mobil.

Anjrit. Tangannya aja ganteng.

“Emang nggak laper?”

Keningnya mengernyit bingung. Ia mulai merasa sedikit aneh karena ditanya-tanyai seperti itu. Bukannya tidak boleh, melainkan ia tahu Iwaizumi bukanlah tipe atasan yang senang berbasa-basi atau membuat obrolan-obrolan kecil. Sudah banyak buktinya karena selain soal pekerjaan, tidak ada lagi yang sering dibicarakan pria itu di depan umum.

“Laper, sih, Pak…” Oikawa mengaku jujur, kunci mobil yang dimainkan pria itu kini berhenti. “Tapi… tanggung…”

Ia akhirnya memberanikan diri untuk mendongak sedikit, dan menemukan netra pria itu sudah terarah padanya. Entah sejak kapan.

“Jangan gitu. Kalau nunda makan, kamu bisa sakit.”

Oikawa (berusaha) tertawa sopan. “Kenapa emang, Pak? Bapak mau traktir saya?”

Pertanyaannya tidak langsung disambut balasan.

“Eh, Pak, saya cuma bercanda,” imbuhnya panik karena mengira perkataannya sudah melewati batas. Meski begitu, sang lawan bicara malah menatapnya penuh atensi.

“Saya emang mau ngajak makan,” tukas Iwaizumi tanpa adanya perubahan ekspresi. Namun, keterkejutannya yang lagi-lagi tampak jelas mungkin berhasil membuat pria itu sedikit ragu sehingga melambatkan intonasi. “Itu juga… kalau kamu bersedia?”

Oikawa yakin dirinya terlihat bodoh dengan mata mengerjap-ngerjap dan mulut yang sedikit terbuka.

“Lagian kita searah, nanti pulangnya kamu bisa saya anter. Kamu biasanya naik kereta, kan?”

Oikawa mengangguk, masih tak memercayai suaranya untuk turut andil dalam kejadian tak terduga ini.

“Jadi, kamu mau?”

Dirinya tersentak, baru disadari bahwa pria itu menunggu jawaban verbal darinya. Buru-buru Oikawa menegakkan tubuh dan berusaha tersenyum lebar. “Eh, m-mau, Pak! Tapi… beneran nggak apa-apa? Saya nyelesein ini terus makan nanti pas nyampe di kos-an juga bisa kok, Pak. Lagian ini hari Jumat, besok libur. Bapak nggak ada janji sama siapa-siapa gitu…?”

Yang terakhir sengaja— memancing. Karena berdasarkan salah satu rumor yang kepastiannya ingin diketahui banyak orang, Hajime Iwaizumi belum memiliki pasangan.

“Nggak apa-apa,” jawab pria itu sambil mengangkat bahu. “Saya nggak ada janji sama siapa-siapa juga—“ Iwaizumi berhenti, terlihat seolah ingin menambahkan sesuatu. “Kalau maksudnya sama pacar, saya emang nggak punya.”

Oikawa membentuk O dengan bibirnya tanpa bersuara sambil mengangguk-angguk sopan. Gotcha!

“Maaf, ralat. Bukan nggak punya, tapi belum.”

Hah?

Pandangan mereka kembali bertemu dan Oikawa bersumpah ia melihat pria itu mengangkat sudut bibir beberapa derajat. Ia tercengang, bagai baru saja menyaksikan salah satu keajaiban dunia.

Hajime Iwaizumi tersenyum.

“Kalau beneran mau saya traktir, lanjutin kerjaannya hari Senin aja. Sekarang beresin barang-barang kamu, terus kita jalan,” titah pria itu seraya mengecek jam di pergelangan tangan. Oikawa langsung tersadar dan otomatis segera melaksanakan perintah tersebut— pekerjaannya disimpan, komputernya dimatikan, dan memastikan tak ada yang tertinggal sebelum berdiri dan mengenakan jaketnya.

“Udah ready, Pak!” Oikawa tersenyum lebar, mendadak merasa bersemangat karena tahu akan ditraktir makan oleh sang atasan. Kapan lagi, kan, ia dapat kesempatan emas seperti ini?

Iwaizumi hanya mengangguk, lalu mulai berjalan menuju lift. Oikawa mengikuti dengan langkah ringan di samping pria itu. Kalau tidak menahan diri, bibirnya nyaris saja berdendang.

“Oikawa.” Namanya disebut tiba-tiba saat mereka tengah menunggu lift datang.

“Iya, Pak?” Sahutnya sambil menoleh ke si lawan bicara yang sedang mendongak memperhatian angka yang mulai naik. Masih ada tujuh lantai yang harus dilewati sebelum lift itu tiba.

“Sekarang nggak usah panggil ‘Pak’, panggil nama aja. Kita, kan, seumuran.”

Senyumnya mulai lenyap. Atasannya benar-benar mengejutkannya hari itu. Tapi, ia tak berani membantah karena ucapan Iwaizumi memang benar. Lagi pula, ini juga sudah di luar jam kerja.

“Ooh… oke deh, Pak— eh, sori, maksudnya… oke… Wa.”

Kepalanya buru-buru ditolehkan ke depan, tidak ingin tertangkap basah sedang membuat ekspresi canggung.

“Oikawa.”

Duh, apaan lagi, sih?

“Ya?” Sambutnya singkat, ikut mendongak untuk mengecek keberadaan lift.

TING

Lift yang sedari tadi mereka tunggu ternyata baru saja tiba.

“Kamu udah punya pacar?”

Tidak ada yang melangkah masuk. Pintu lift terus terbuka dan beberapa detik sebelum tertutup, Iwaizumi dengan cekatan menjulurkan tangan untuk memencet tombol. Kosongnya lift menjadi pemandangan Oikawa karena ia tidak berani menoleh— karena ia tahu Iwaizumi tengah menatapnya.

Dan menunggu jawaban.

Oikawa menggeleng, lalu berkata lirih, “belum…”

“Oke. Bagus.”

Pria itulah yang kemudian melangkah pertama kali masuk ke dalam lift. Mau tak mau akhirnya mereka bertatapan dan Oikawa tidak tahu mimik seperti apa yang sedang ditampilkannya kini.

Yang pasti, ia bisa melihat dengan jelas raut wajah Iwaizumi.

Pria itu tersenyum. Kecil. Namun, itu tetap bisa disebut… senyuman.

“Kamu nggak mau naik?”

Oikawa mengutuk dalam hati dan buru-buru masuk. Selama perjalanan menuju lantai bawah, mereka diselimuti hening. Tapi kini, saat bayangannya terefleksikan di pintu lift, ia akhirnya bisa melihat air mukanya sendiri.

Bibirnya ikut melengkung membentuk senyuman, sebagaimana hal yang sama masih terpetak jelas di wajah sang atasan.

Mungkin, tidak ada ruginya dia memutuskan lembur malam itu.

@fakeloveros