iloveyoumorethanicansay (part 1)

Hinata benci hari Senin.

Untuk alasan yang sudah jelas, siapa pun akan membenci hari pertama di awal minggu tersebut. Dan Hinata, sebagai pria dewasa yang telah seutuhnya mengabdikan diri di sebuah perusahaan swasta cukup besar, membenci hari itu sepenuh hati.

Setelah melewati hampir setengah jam perjalanan yang menguras tenaga, Hinata akhirnya mampu menghela napas dengan bebas dan mengendurkan ototnya di depan lift. Ia menunggu bersama orang-orang berpakaian rapi, mengutuk hari Senin dalam hati selagi tangannya merogoh ponsel dalam kantung.

Belum sempat mengeluarkan ponselnya, pintu lift akhirnya berdenting dan terbuka. Hinata, merasa beruntung karena memiliki badan yang cukup kecil, segera melesakkan diri untuk masuk. Karena departemennya tidak terletak di lantai yang sangat tinggi, hanya membutuhkan beberapa menit hingga dirinya tiba di tujuan.

Saat pintu lift tertutup di belakangnya, Hinata menghela napas sekali lagi. Belum ada setengah hari berjalan, tapi dia sudah merasa lelah. Apakah memang seperti ini rasanya tumbuh dewasa? Selalu cepat merasa lelah? Padahal dulu sewaktu SMA ia dikenal sebagai pemuda yang kelebihan tenaga— sungguh kontras dengan kondisinya sekarang.

Kakinya melangkah terseok-seok menuju kubikelnya tanpa menyadari sosok jangkung yang baru saja keluar dari pantry dan nyaris bertubrukan dengannya. Hinata berhasil menghentikan langkahnya tepat waktu, dalam hati bersyukur karena refleksnya setidaknya masih setajam saat dulu dia menekuni voli.

Kepalanya mendongak, walau ia sudah bisa menebak sosok yang menghadangnya pagi-pagi begini.

”Tampang lo kacau banget.”

Hinata mendengus— reaksi yang sebenarnya bisa dianggap tidak sopan mengingat pria di hadapannya bukan pegawai biasa. Ia terkadang harus mengingatkan diri sendiri bahwa pria itu merupakan anak tunggal dari petinggi perusahaan mereka.

Atau dengan kata lain, calon pewaris perusahaan tempat dirinya bekerja saat ini.

Kendati reaksinya seperti itu, Kageyama tidak menunjukkan perubahan ekspresi apa pun. Hanya terus menatapnya seolah menunggunya bersuara.

”Ini hari Senin. Siapa yang bakal nyambut Senin pake tampang ceria?” Balasnya lelah sambil melanjutkan langkah. Ia tidak peduli Kageyama mengikutinya atau tidak.

”Tumben lo nggak telat hari ini,” ucap pria itu lagi, yang terdengar lebih seperti pertanyaan. Hinata, yang masih merasa terkuras tenaganya setelah berdesak-desakkan di kereta, langsung mendudukkan diri dan menelungkupkan wajah di atas meja. Ia bergumam tak jelas sebentar sebelum mengintip dari balik lengan.

Kageyama masih berdiri di sebelah kubikelnya— menunggu jawaban.

Dan inilah yang Hinata tidak pahami.

Secara logika, Hinata-lah yang terlebih dulu bekerja di perusahaan itu. Baru setelahnya, manajer divisi mereka mengumumkan bahwa anak pemilik perusahaan akan mulai bekerja di departemen yang sama. Tujuannya— menurut kabar yang tersebar —adalah untuk melatih kemampuan pria itu sebelum benar-benar bisa mewarisi perusahaan. Sungguh khas orang kaya. Hinata yang mendengarnya hanya menganggap berita itu angin lalu. Toh, firasatnya mengatakan ia tidak akan berhubungan banyak dengan anak pemilik perusahaan.

Yang tidak ia sangka adalah sang pewaris ternyata masih sangat muda— seumuran dengannya.

Dan sangat jangkung.

Juga sangat tampan.

Awalnya pria itu tidak banyak berbicara. Para koleganya pun enggan mendekati terlebih dulu karena Kageyama selalu menampilkan ekspresi dingin dan cuek. Ditambah sikap pria itu yang hanya berbicara seperlunya serta baru menjawab setelah ditanya. Hinata pun awalnya enggan berinteraksi, sampai suatu hari ia ditugaskan menyelesaikan suatu proyek bersama pria itu.

Singkat cerita, semenjak itu Kageyama seringkali mengajaknya mengobrol. Walau awalnya masih terbatas soal pekerjaan, lambat laun basa-basi ringan pun mulai banyak dilontarkan pria itu. Hinata menanggapi santai seperti biasa, bahkan mereka mulai saling melontarkan ledekan setelah beberapa minggu berlalu. Menurut anggapannya, Kageyama hanya mulai merasa nyaman karena memiliki teman seusia yang bisa diajak bersenda gurau.

Meski begitu, beberapa koleganya memiliki spekulasi lain.

“Kata aku nih ya,” bisik Sugawara, salah satu seniornya, saat jam makan siang di hari Kamis yang cerah, “Kageyama naksir sama kamu.”

Hinata nyaris menyemburkan nasi yang ada di mulutnya. Ia melihat ke sekeliling dengan panik, berdoa semoga tidak ada yang mendengar omongan asal si pria bersurai perak barusan.

“Kakak ngomong apa, sih?” Tanyanya setelah bersusah payah menelan makanannya. “Mana ada dia naksir aku!”

Sugawara mengangkat satu alis dengan pandangan skeptis— terlihat tidak sependapat.

”Buktinya kamu doang yang suka diajak ngobrol sama dia,” tuduh pria itu sambil menunjuknya dengan sumpit.

Hinata memutar bola matanya. “Soalnya cuma aku, kan, yang seumuran sama dia di divisi kita?”

Sugawara menggeleng hingga poni pria itu terlihat ikut bergoyang. “Kamu nggak liat tatapan dia, sih.”

“Tatapan?” Hinata mengulangi dengan bingung. “Tatapan ke siapa?”

“Tatapan dia ke kamulah. Tau nggak kayak apa?” Saat dirinya menggeleng, seniornya melanjutkan ditemani senyuman lebar. “Kayak orang yang lagi jatuh cinta.”

Kali itu Hinata benar-benar menyemburkan nasi yang ada di mulutnya.

Ia menganggap asumsi itu sungguh tidak masuk akal sehingga melarang sang senior untuk mengungkitnya lagi. Sayangnya, bukan hanya Sugawara yang menarik kesimpulan seperti itu.

“Kamu pacaran ya, sama Kageyama?” Tanya Daichi, manajernya, begitu mereka selesai rapat. Kebetulan di ruangan itu tinggal mereka berdua yang masih membereskan berkas-berkas.

Hinata mengerang— entah kenapa tidak terlalu terkejut mendengar pertanyaan tersebut terlontar dari atasannya. “Bapak kok bisa, sih, ngambil kesimpulan kayak gitu?”

Netra atasannya terlihat membulat sepersekian detik. “Jadi beneran? Kamu pacaran sama dia?”

“Nggak, Pak. Saya nggak pacaran sama Kageyama,” jawabnya lelah, tak sabar ingin segera menyudahi pembicaraan itu.

“Oh, ya? Saya kira kalian pacaran…” Jawaban manajernya terdengar menggantung sehingga mau tak mau Hinata jadi penasaran.

“Bapak belum jawab pertanyaan saya. Bapak kok bisa ngira saya pacaran sama Kageyama, sih?”

Daichi mengedikkan bahu, ada senyum kecil yang menghiasi wajah pria itu. “Soalnya cara Kageyama tiap ngobrol sama kamu beda.”

Hinata ingin bertanya lebih lanjut, tetapi pintu ruangan keburu diketuk karena ada tim lain yang ingin mengadakan rapat di sana.

Intinya, Hinata sendiri masih bingung dengan alasan orang-orang yang menganggapnya memiliki hubungan spesial dengan Kageyama.

Hinata tidak sadar sudah melamun cukup lama sampai ada tangan yang tiba-tiba menyentuh rambutnya.

“Lo masih ngantuk, ya?”

Tubuhnya terlonjak, membuat si pemilik tangan yang beberapa detik lalu masih memainkan rambutnya ikut menjauh. Ada ragu yang tergurat di sana, membuat Hinata sedikit tak enak.

Tapi, ia benar-benar terkejut karena sentuhan Kageyama barusan seperti menimbulkan aliran listrik di sepanjang tubuhnya. Seingatnya, baru kali ini Kageyama dengan sengaja menyentuhnya. Biasanya hanya tangan atau bahu mereka yang tak sengaja saling bersentuhan. Itu pun ketika keduanya sedang amat berkonsentrasi dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.

“K-kayaknya… hahaha! Duh, kayaknya gue butuh kopi,” ucapnya buru-buru sambil berdiri. Untunglah kali ini Kageyama tidak mengikutinya, tapi ia bisa tetap merasakan tatapan yang mengikuti punggungnya dari belakang.

Mendadak, Hinata mulai memikirkan dengan serius perkataan Sugawara tempo lalu.

Kata aku nih ya, Kageyama naksir sama kamu.

Hinata mendengus. Mau dipikirkan sesering apa pun, tetap saja itu terdengar mustahil.


Malam di hari yang sama, Hinata terpaksa lembur.

Semua karena tadi sore, tepat lima belas menit sebelum jam pulang kerja tiba, Daichi menghampiri mejanya dan menyampaikan bahwa laporan dari proyek minggu lalu ternyata harus diserahkan esok pagi. Pria itu bahkan berbaik hati sudah menawari bantuan, tetapi Hinata langsung menolak karena ia merasa mampu mengerjakannya sendirian. Lagi pula, itu memang pekerjaannya. Ia tidak ingin merepotkan orang lain.

Walaupun harus mengorbankan jam pulang kerja, Hinata beranggapan lebih baik ia lembur di kantor karena tahu tidak akan mudah mengerjakannya di rumah. Ada ibu dan adik perempuannya yang mungkin akan merasa terganggu kalau ia bekerja hingga larut.

Jadi, di sinilah dia— setia di kubikelnya dengan layar komputer menyala dan dua kaleng bekas kopi yang sudah tandas. Tidak ada siapa pun lagi di ruangan, membuat bunyi pendingin udara (Daichi sudah meminta kepada penjaga gedung agar tidak mematikannya selama Hinata masih berada di ruangan) terdengar jelas. Hinata memang bukan orang yang penakut, tapi sepinya ruangan tetap membuatnya ingin segera menyelesaikan pekerjaan.

“Kok belum pulang?”

Hinata terlonjak saat ada suara femilier yang tiba-tiba terdengar di tengah sunyi. Ia lantas mengerang dalam hati— kenapa juga harus Kageyama yang mendadak muncul?

“Lagi lembur, nih,” jawabnya sambil setengah melirik— mendapati pria itu sedang berjalan menuju kubikelnya. Dua kancing teratas pria itu sudah dilepas dan lengan kemejanya sudah digulung setengah. Hinata otomatis menelan ludah karena pemandangan itu membuat perutnya bergejolak aneh. “Lo sendiri ngapain masih ada di sini? Kirain tadi udah pulang.”

“Barusan habis dari lantai atas. Terus tadi baru inget ada barang yang ketinggalan.”

Hinata membentuk huruf o dengan mulutnya tanpa bersuara. ‘Lantai atas’ yang dimaksud Kageyama pastilah ruangan ayah pria itu alias sang pemilik perusahaan. Ia tidak bertanya apa pun lagi dan berusaha kembali fokus melanjutkan laporan yang masih setengah.

“Masih banyak yang harus dikerjain?” Tanya Kageyama begitu tiba di sebelah kubikelnya. Pria itu menunduk sedikit untuk menatap layar komputernya sehingga tercium sekilas aroma parfum yang cukup segar. “Mau dibantuin?”

Hinata tertawa, berusaha menyembunyikan gugupnya. “Wah, tumben lo baik? Ada angin apa, nih?”

“Kalau nggak mau, ya udah.”

Hinata pikir Kageyama akan langsung beranjak setelah mengatakan hal tersebut. Nyatanya, pria itu justru menarik kursi dari kubikel lain dan duduk di sampingnya. Matanya terbelalak melihat aksi pria itu sehingga refleks bertanya, “Lo ngapain?”

“Duduk,” jawab Kageyama, seolah itu sudah sangat menjelaskan.

“Maksud gue, lo ngapain masih di sini? Nggak balik?”

“Lo ngusir gue?”

Hinata membuka mulut, tapi tak ada jawaban yang keluar. Pada akhirnya, ia memilih bungkam sembari mengangkat bahu. “Terserah lo, deh.”

Setelah itu, keheningan menyelimuti mereka sementara Hinata mencoba kembali fokus pada pekerjaannya meski sangat sulit dilakukan. Kageyama memang tidak mengganggunya, tetapi tatapan pria itu dari samping cukup membuatnya salah ketik beberapa kali. Ia tidak ingin mengakui perkataan Sugawara ada benarnya, tetapi jika Kageyama bersikap seperti ini tanpa mengatakan apa pun… siapa pun jelas akan salah sangka.

Termasuk dirinya.

“Beberapa hari lalu… Pak Daichi nanya sesuatu ke gue.”

Tahu-tahu, bibirnya sudah melafalkan kalimat pembuka itu tanpa dirinya bisa menahan diri. Hinata buru-buru menggigit bibir, menyesali ucapan yang sudah terlanjur keluar. Sayangnya, ia tidak mungkin menarik perkataan karena Kageyama sudah keburu memiringkan kepala, menunggu kelanjutan kalimatnya.

“Dia nanya…” Hinata berdeham, menghilangkan getar dalam suaranya. “Dia nanya… apa kita berdua… pacaran…”

Suaranya semakin hilang di ujung. Kepalanya tidak berani ditolehkan untuk melihat reaksi pria itu. Hinata rasanya ingin menghilang— ia sungguh menyesal telah mengaku jujur. Anggapan Sugawara pastilah salah. Kageyama pasti akan meledeknya setelah ini dan mereka tidak akan mengobrol lagi di kan—

“Terus lo jawab apa?”

Tangannya berhenti, tak lagi berpura-pura mengetik. Perlahan, Hinata memberanikan diri untuk menoleh ke samping— ke arah pria yang masih menatapnya dengan ekspresi statis.

“Yah… gue jawab nggak, dong? Kita nggak pacaran…?” Jawabannya justru terdengar seperti orang yang bertanya. Anehnya, Kageyama tetap diam; tidak langsung melontarkan sanggahan atau cemoohan yang tadinya ia perkirakan.

Gerigi di otaknya berputar dengan cepat. Ia harus mengatakan sesuatu.

“Gue… nggak tau kenapa Pak Daichi bisa mikir kayak gitu, tapi kalau misalnya ada yang nanya lagi atau salah paham… bakal langsung gue jawab nggak, kok,” selorohnya sambil tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana. Pikirnya, keterdiaman pria itu justru mungkin karena amarah yang sulit disampaikan. Ia berkata seperti itu karena akan sangat disayangkan kalau hubungan mereka jadi merenggang akibat kesalahpahaman kecil atau rumor tak berdasar.

Karena mau sekaku apa pun Kageyama Tobio, Hinata menyukai fakta bahwa hanya dirinya yang sering diajak berinteraksi. Dan ia tidak ingin kehilangan momen tersebut.

Namun, manakala dilihatnya Kageyama terus terdiam, Hinata menyimpulkan bahwa tak ada lagi yang perlu dibahas. Walau diam-diam merasa sedikit kecewa, ia yakin inilah jalan terbaik. Hinata cepat-cepat menyimpan pekerjaannya setelah memutuskan akan melanjutkan di rumah. Persetan seandainya setelah ini ia tidak akan tidur. Ia hanya ingin cepat pergi dari sana.

Hinata sedang sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam tas ketika ada tangan yang tiba-tiba terjulur dan menahan pergelangannya. Terkejut, ia menoleh ke arah satu-satunya orang yang sedari tadi masih menemaninya. Kageyama nampak sulit berkata-kata, namun ada determinasi kuat yang tak pernah diperlihatkan pria itu sebelumnya, sekalipun dalam urusan pekerjaan.

“Kenapa?” Hinata melontarkan pertanyaan singkat itu lebih untuk mengisi hening. Pun, untuk meredakan jantungnya yang berdentum liar.

“Kalau…” Pria itu memulai, suaranya terdengar parau. Hinata menelan ludah, matanya melirik ke arah pergelangan tangannya yang masih dicekal Kageyama. Meski tidak begitu kuat, rasanya ia dibuat tidak bisa bergerak sama sekali.

“Kalau kita pacaran beneran aja gimana?”

Kageyama, dengan iris birunya yang lebih menyerupai laut terdalam, menatap serius seakan kata-kata barusan mengandung makna yang setara. Hinata tahu matanya terbelalak lebar. Hinata tahu mulutnya terbuka sedikit. Hinata tahu keterkejutannya membuat dirinya terlihat bodoh sekarang. Hinata juga tahu ada jawaban yang harus diberikan setelah pertanyaan barusan diajukan.

Hinata biasanya benci hari Senin.

Tapi khusus untuk hari ini, ia bisa membuat pengecualian.

-tbc

@fakeloveros