Oikawa meletakkan gawainya di atas meja, lalu memperhatikan sekeliling ruangan dengan panik. Sebagian dari mereka sudah beranjak untuk mencari makan siang, termasuk teman-teman divisinya. Hanya Yukie, Kenji, dan Hanamaki yang masih setia di kursi masing-masing

“Eh, kalian mau makan siang di mana?” tanyanya, yang langsung menarik perhatian ketiga orang tersebut.

“Mau gofood nih, lo mau ikutan?” jawab Yukie yang langsung sibuk dengan gawai di tangan. “Kan lo lagi nggak bisa jalan jauh juga, mending bareng kita aja.”

“Ng... nggak ada yang mau turun kah? Ke lobi?” tanyanya lagi sambil menggaruk tengkuk dengan gugup. “Ada temen gue soalnya di bawah... ngajakin lunch bareng.”

“Aku mau ke lobi, Kak,” sambar satu suara tiba-tiba dari arah belakangnya. “Mau bareng?”

Oikawa menoleh dan mendapati Kunimi sudah berdiri di sebelah mejanya. Pria itu sibuk memasukkan dompet dan handphone ke dalam kantung, tetapi matanya tertuju ke arah Oikawa.

“Boleh deh, Kun. Nggak apa-apa, kan?”

“Nggak apa-apa, ayo.”

Meskipun hari itu Oikawa memang pergi ke kantor dengan bantuan tongkat, tetapi ia masih membutuhkan orang di samping untuk mengawasi langkahnya. Itu jugalah yang dilakukan Iwaizumi pagi tadi hingga dirinya bisa selamat tiba di dalam kantor. Ia sendiri tadinya berencana menitipkan makan siang pada salah satu teman supaya tidak perlu repot-repot turun ke bawah. Ditambah lagi, jelas-jelas Iwaizumi bilang akan menjemputnya jam empat sore. Lantas kenapa tiba-tiba pria itu mengabarkan sudah menunggunya di lobi?

Apa ini gara-gara isi chat mereka?

Oikawa tentu mempertimbangkan kemungkinan tersebut. Namun tetap saja, ia tidak mengerti alasan Iwaizumi sampai datang mendadak seperti ini.

“Temen Kakak siapa yang dateng?”

Pertanyaan Kunimi memecahkan lamunannya. Ia pun baru tersadar mereka sudah berada di dalam lift, yang untungnya, tidak ada siapa-siapa lagi di sana.

“Si itu, Kun... si cowok beranak satu,” tukasnya pelan selagi menilai pantulan dirinya sendiri di dalam lift. Rapat yang baru berlangsung selama dua jam sudah membuat penampilannya sedikit berantakan, tapi ia bahkan tidak memiliki hasrat untuk sekadar merapikan rambut.

“Terus kok Kakak lemes gitu? Bukannya harusnya seneng?” tanya yang lebih muda dengan raut wajah penasaran. “Lagi berantem ya, Kak? Makanya tadi seharian kayak orang kekurangan ion?”

“Emang keliatan banget, ya?”

“Apanya? Lagi berantemnya, atau kekurangan ion-nya?”

“Ih,” Oikawa menatap Kunimi sedikit kesal. “Ya lemesnya lah! Lagian gue nggak lagi berantem kok sama dia...”

Oikawa menggantung jawabannya sembari menengadah menatap angka lift yang semakin rendah.

Ada pertanyaan besar terlihat jelas di wajah yang lebih muda, tetapi dirinya tidak punya waktu untuk menjelaskan karena di saat yang sama, pintu lift terbuka lebar. Mereka pun melangkah keluar, dan langsung menoleh ke sana kemari.

“Yang mana orangnya, Kak? Itu ya, yang lagi duduk di sofa?”

“Banyak, Kun, yang lagi duduk di sofa...” Oikawa pun ikut mencari-cari dengan matanya.

“Oh, yang itu bukan, sih? Yang lagi nunduk liat HP?”

Mungkin benar anggapan yang bilang bahwa orang akan langsung tersadar jika sedang dibicarakan atau diperhatikan. Begitu Kunimi menunjuk ke satu arah, dan Oikawa mengikuti, Iwaizumi mendongak sehingga mata mereka bertemu pandang.

“Iya, bener itu orangnya. Udah, Kun, sampe sini aja. Makasih banyak, ya.”

Kunimi mengangguk singkat sebelum kembali berbicara. “Nanti kalau mau naik, kasih atau aja, Kak. Aku mau ke kafe sebelah seoalnya, jadi biar sekalian.”

Oikawa mengacungkan jempol, lantas memperhatikan punggung yang lebih muda menjauh. Meski begitu, sisi wajahnya terasa panas karena sadar betul ada yang memperhatikan.

Saat tahu dirinya tak bisa lagi berlama-lama berdiri di tempat, Oikawa menghampiri pria yang kini telah ikut berdiri. Mata pria itu mengawasi lebih intens, seakan takut Oikawa akan tiba-tiba kabur.

Oikawa, berusaha tidak memedulikan suasana canggung yang menyelimuti, langsung memasang senyum terlebarnya.

“Hei, kok jadinya dateng jam segini? Bukannya mau dateng pas jam 4 aja?” tanyanya, dengan suara yang dibuat seceria mungkin.

Awalnya Iwaizumi tak membalas— hanya menatapnya tanpa kata seolah bukan itulah yang terpenting sekarang.

“Aku bawain kamu makan siang.”

Pada akhirnya, Iwaizumi ikut bersuara, meski intonasi pria itu terdengar lebih ragu dari biasanya.

Oikawa menelengkan kepalanya ke satu sisi— baru menyadari bahwa pria itu datang dengan membawa sebuah tote bag di satu tangan.

“Kamu bawain aku makanan?” ulangnya dengan nada takjub yang tak bisa disembunyikan.

Iwaizumi mengangguk, lalu memperhatikan suasana ramai di sekeliling mereka.

“Apa ada tempat di kantor kamu biar kita bisa makan bareng?”

Oikawa refleks mengangguk. Tangannya terangkat, dan menunjuk arah kedatangannya barusan.

“Ada lounge gitu di belokan deket lift sana. Kalau mau, kita bisa makan di sana.”

Tanpa menunggu aba-aba, Oikawa memutar tubuh dan mulai berjalan ke arah yang dimaksud. Ia tidak perlu memastikan apakah Iwaizumi mengikutinya atau tidak karena bisa mendengar jelas langkah pria itu di belakangnya. Jujur saja, tangannya mulai berkeringat karena kegugupan yang sejak tadi ada, kini semakin menyerang dua kali lipat.

Yah, siapa sih, yang tidak akan terkejut saat mengetahui pria yang disuka ternyata mantan dari temannya sendiri? Oikawa pikir, pepatah yang mengatakan dunia itu sempit hanya berlaku untuk beberapa orang, tetapi jelas tidak termasuk dirinya.

Kalau Iwaizumi datang ke sini untuk membicarkan soal itu, apa yang perlu dibahas? Toh, kedua orang itu kan sudah putus.

Ia juga tidak memiliki hak untuk cemburu.

“Di sini nggak apa-apa?”

Oikawa bersyukur saat mendapati ternyata masih ada satu meja bundar dan dua bangku yang kosong. Lounge itu memang disediakan bagi para pegawai yang malas makan di ruangan masing-masing, tetapi tidak ingin sampai kepanasan karena harus keluar gedung. Dan biasanya, lounge itu selalu penuh oleh oleh para pegawai dari berbagai kantor yang menempati gedung tinggi tersebut.

“Nggak apa-apa.”

Iwaizumi menjawab singkat, dan langsung mengikutinya duduk. Oikawa memperhatikan dengan jari yang mengetuk-ngetuk paha, saat pria itu satu per satu mengeluarkan kotak dan peralatan makan.

“Aku bikinin kamu pasta,” Iwaizumi mengumukan, selagi membuka salah satu penutup kotak makan. Langsung saja aroma spaghetti carbonara menguar ke udara dan membuat salivanya hampir menetes. Entah bagaimana, gugupnya seakan ikut terbawa terbang oleh aroma yang menggoda perutnya itu.

“Kamu sempet bikin ini tadi?” tanyanya kagum, lalu menerima tanpa protes garpu yang dijulurkan ke arahnya.

Iwaizumi hanya mengangguk, lantas menunjuk dengan dagu gulungan spaghetti yang menurut Oikawa pantas dijadikan menu restoran bintang lima.

“Ayo, dimakan. Nanti kasih tau enak atau nggak.”

“Hah? Pasti enak lah,” selorohnya, dan tanpa membuang waktu langsung menyuapkan gulungan pertama ke dalam mulut. Begitu indra perasanya bersentuhan dengan makanan tersebut, Oikawa bergumam panjang sekaligus mengangguk-anggukan kepala. “Tuh kan enak! Pake banget!” ucapnya penuh semangat sambil bersiap menyuapkan gulungan yang kedua.

Setelah beberapa saat menikmati hidangan yang memanjakan lidahnya tersebut, Oikawa baru menyadari bahwa Iwaizumi tidak ikut makan. Sang pria hanya menatapnya penuh arti.

“Kok kamu nggak ikut makan?”

“Sebenernya aku ke sini mau mastiin sesuatu.”

Iwaizumi berbicara begitu serius, hingga mau tak mau, Oikawa terpaksa memelankan laju kunyahnya.

“Mau mastiin apa?”

Bisa dikatakan, itu pertanyaan retoris darinya karena ia sendiri bisa menduga ke mana percakapan mereka mengarah.

“Kita... masih oke, kan?”

Oikawa terdiam dengan mata yang membeliak lebar. Ada dua hal yang membuatnya ingin tertawa keras saat itu juga—

pertama, Iwaizumi yang bertanya dengan tatapan khawatir serta intonasi senada,

dan kedua, cara pria itu bertanya seolah-olah menunjukkan maksud bahwa sudah ada sesuatu di antara mereka.

Oikawa tidak tahu mana yang lebih lucu.

“Apa ini soal Akaashi yang ternyata mantan kamu?” Oikawa bertanya dengan satu alis yang terangkat tinggi. Kekhawatiran pria di hadapannya entah kenapa justru membuatnya lebih berani. “Karena kalau iya, jujur, aku emang sempet kepikiran. Tapi, kamu sendiri udah putus lama kan sama dia, jadi apa yang perlu dipermasalahin? Kecuali...”

Oikawa mengambil jeda, dan memastikan netra Iwaizumi tak beralih darinya.

“Kecuali kamu masih punya perasaan sama dia.”

Oikawa baru menghitung tiga detik dalam kepala, ketika Iwaizumi memberinya gelengan mantap. Tak ayal, diam-diam dirinya langsung menghela napas lega karena ketakutan terbesarnya kini tidak terbukti.

“Ada alasan kenapa aku nggak bisa sama dia lagi. Dua tahun itu lama, aku udah nggak punya perasaan apa-apa lagi ke dia.”

Oikawa gatal sekali ingin bertanya alasan kedua orang itu berpisah, tetapi rasanya terlalu pribadi sehingga ia mengurungkan niatan tersebut.

“Kamu masih kontakan sama dia?”

Di situ, barulah Iwaizumi tak bisa langsung memberikan gelengan yang sama.

Ah.

“Maksudku... nggak apa-apa juga kalau kamu masih kontakan. Toh, nggak ada hukumnya juga kan yang ngelarang buat keep in touch sama mantan?” Oikawa tertawa pelan, meski jantungnya kembali berdetak lebih cepat karena ketidaknyamanan. Matanya bergulir ke atas meja— ke arah spaghetti-nya yang tak lagi mengundang selera.

“Tapi aku serius.”

Pernyataan tanpa korelasi tersebut membuat Oikawa mengangkat kepala. Ia menemukan obsidian sang pria masih menatapnya lekat.

“Aku serius mau buat hubungan kita berhasil.”

Pria itu mengulangi, yang justru hanya menimbulkan kebingungan dalam diri Oikawa.

“Kamu... sadar kan, kalau hubungan kita masih sekadar... temen?” tanyanya ragu, merasa omongan pria itu terdengar sedikit ambigu. “Bukannya aku nggak mau naikin hubungan itu ke yang lebih tinggi— heck, bahkan aku yang deketin kamu duluan, tapi emangnya kamu...” udah yakin sama aku?

“Kalau gitu, ayo kita coba sekarang.”

“Apa?” Oikawa hanya sanggup melongo seraya memproses ajakan pria itu barusan.

“Ayo kita pacaran sekarang.”


@fakeloveros