sua

Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Shinsuke sedang tidak sengaja melamun memperhatikan jalanan yang mulai sepi dari dalam kafe ketika suara pelan Yachi memecah fokusnya.

“Kak, bagian kitchen udah selesai aku beresin.”

Shinsuke menoleh dan menerbitkan senyum kecil. “Oke, makasih ya, Yachi. Kamu pulang sekarang gih, kereta cuma sampai jam 11, kan?”

Yachi mengangguk seraya mulai mengenakan jaketnya yang tersampir di atas counter dekat meja kasir. Netra perempuan itu menatap penuh ingin tahu ke arah sang pemilik kafe yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera beranjak.

“Kakak nggak pulang? Ada lagi kah yang perlu dibantuin?”

“Oh, nggak kok, aku cuma lagi...” Shinsuke mengambil jeda. “Nungguin seseorang.”

Yachi bergumam kecil. Tangan perempuan itu merogoh kantung jaket untuk mengeluarkan handphone berwarna lilac dan menyalakan layarnya sesaat.

“Temen Kakak ada yang mau mampir jam segini?”

Shinsuke menelengkan kepalanya sedikit dengan ekspresi berpikir. Apakah seseorang yang sedang ditunggunya bisa disebut sebagai teman?

Mulutnya ingin menyanggah, tetapi tatapan perempuan dengan perawakan mungil itu pada akhirnya membuatnya mengulas senyum dan mengangguk.

“Iya, temenku ada yang mau dateng.”

“Oooh, oke deh, Kak. Kalau gitu aku balik duluan, ya. Makasih buat hari ini.”

Setelah mengucap salam perpisahan dan melambai kepada salah satu pekerja paruh waktunya, Shinsuke beranjak ke balik counter dan mulai membuat minuman hangat. Malam di pusat kota memang tidak sedingin di pegunungan— seperti rumah neneknya. Pendingin udara di dalam kafe pun sudah ia matikan beberapa sejak tiga puluh menit yang lalu. Namun malam itu tidak sebegitu dinginnya hingga ia memerlukan jaket. Shinsuke hanya berdiri dalam balutan kemeja putih dengan bagian lengan digulung sampai siku. Lehernya memang mulai mengeluarkan sedikit peluh, tetapi Shinsuke sangsi itu akibat udara panas yang mulai merambat.

Setidaknya, Shinsuke bisa membedakan antara keringat akibat kepanasan maupun akibat gugup.

Seakan mengafirmasi jawaban tak terucapkan tersebut, netranya bergulir ke atas dan bertemu pandang dengan pasang mata yang mengawasi dari balik jendela. Shinsuke terlonjak dan nyaris menumpahkan cairan beraroma peach di dalam cangkir yang dipegangnya kalau tidak segera menjaga keseimbangan.

Ada sudut bibir yang terangkat dari pria di seberang sana seolah bersiap menertawai gerak cerobohnya barusan. Namun Shinsuke hanya memutar kedua bola mata dan dengan tangannya yang bebas menyuruh agar pria itu segera masuk.

“Lain kali langsung masuk aja, biar nggak ngagetin kayak tadi,” omelnya begitu sang pria sudah melangkah ke dalam sehingga membunyikan bel di atas pintu. Namun yang menerima omelannya hanya tersenyum kecil dan duduk di salah satu kursi yang belum diangkat ke atas meja— seperti sudah sangat terbiasa. Shinsuke dengan berhati-hati membawa cangkir yang masih mengepulkan asap tipis, lantas meletakkannya di hadapan sang pria.

Begitu dirinya sudah ikut duduk, Shinsuke memperhatikan luka-luka baru yang hari ini muncul di wajah pria itu.

“Hari ini nggak terlalu banyak,” gumamnya tanpa sadar meski dalam hati tetap meringis saat mendapati salah satu luka belum terlihat begitu kering. Tangannya bergerak secara otomatis meraih kotak P3K yang sudah disiapkan di atas meja, lalu berpindah ke samping pria itu. “Sini, diobatin dulu.”

Yang diperintahnya langsung memutar tubuh dengan patuh tanpa melontarkan protes— sungguh berbeda dibandingkan saat kali pertama Shinsuke bertemu dengan Atsumu.

Shinsuke pertama kali bertemu Atsumu di tengah hujan deras. Hari itu kebetulan semua pekerja paruh waktu di kafenya sudah pulang sehingga hanya menyisakan dirinya yang tengah sibuk merapikan meja dan kursi. Saat menoleh ke luar, ada seorang pria jangkung yang terlihat tengah berteduh di bawah kanopi kafe kepunyaannya. Untuk beberapa saat, Shinsuke meneruskan aktivitasnya tanpa menaruh banyak peduli pada pria itu, tapi tak beberapa lama, batinnya menjadi tak tenang karena dari sudut matanya ia menyadari sang pria asing terlihat menggigil kedinginan.

Shinsuke ingat, neneknya selalu mengajarkan untuk menyebar kebaikan dalam hal apa pun meski bentuknya tak besar. Jadi, niat selanjutnya adalah membuka pintu kafe dan menyuruh sang pria asing agar menghangatkan diri di dalam. Namun alangkah terkejutnya Shinsuke saat mendapati wajah sang pria babak belur. Mata pria itu bengkak, ditambah luka robek di ujung bibir serta lebam di kedua sisi wajah. Shinsuke nyaris menutup pintu kafe kembali karena mengira pria itu pasti semacam berandal. Namun tiba-tiba, ada tangan yang menahan gerakannya.

“T-tunggu! Ini bukan...” Pria itu menggaruk kepala dengan canggung sementara Shinsuke hanya menyipit curiga. “S-saya bukan orang jahat... kalau itu yang ada di pikiran kamu. Wajah saya begini soalnya... berhubungan sama pekerjaan.”

“Pekerjaan?” tanyanya tajam dengan oktaf yang dinaikkan karena bunyi air yang membasahi bumi semakin mengalahkan suaranya. Bukankah jawaban pria itu terdengar lebih mencurigakan? Pekerjaan apa yang bisa sampai membuat wajah seseorang babak belur seperti—

“Saya atlet kickboxing.”

Oh.

Pria asing itu mengeluarkan cengiran polos, meski hanya berlangsung sepersekian detik karena terpotong oleh suara ringis kesakitan. Tangan sang pria terangkat otomatis untuk menyentuh sudut bibirnya yang masih terlihat basah oleh luka.

Shinsuke yang mengawasi pemandangan tersebut menelengkan kepalanya dengan heran— apa pria itu baru selesai berlatih? Atau mungkin bertanding? Lantas kenapa pria itu tidak mengobati luka-lukanya dulu sebelum keluar dan terjebak dalam hujan yang ganas seperti malam ini?

Seakan bisa membaca tatapan bertanya Shinsuke, pria itu mulai menjelaskan dengan tangan yang digerakkan ke sana kemari. “Ta-tadi nggak sempet diobatin soalnya saya buru-buru mau pulang. Eh, tapi di tengah jalan malah hujan deres dan saya nggak bawa payung, makanya numpang berteduh di sini...”

Mata pria itu lantas melirik ke dalam seolah sudah tidak tahan ingin merasakan hangatnya kafe. Pria itu memang memakai jaket, tapi sepertinya hujan yang turun tanpa aba-aba sempat membuat beberapa bagian bajunya kebasahan. Di tambah angin yang bertiup cukup kencang, pastilah pria itu amat sangat kedinginan sekarang.

Akhirnya Shinsuke merasa iba. Ia pun membuka pintu lebih lebar dan dengan kedikkan dagu menyuruh pria itu untuk masuk.

“Masuk aja.”

Reaksi yang diberikan begitu instan— pria asing itu tersenyum lebar (dan meringis lagi setelahnya), lantas segera melangkah ke dalam. Shinsuke menutup pintu hingga bunyi hujan di luar sana sedikit teredam dan menyisakan senandung pelan si pria asing yang tengah memperhatikan interior dalam kafe dengan pandangan tertarik.

“Saya baru tau ada kafe di daerah sekitar sini. Soalnya kebanyakan adanya restoran,” ucap pria itu dengan nada ceria, seakan hangat yang menyambut membuat suasana hatinya membaik. Shinsuke langsung bisa menebak, pria itu pastilah seorang ekstrovert— tidak hanya dari intonasi, tapi juga gayanya yang santai.

“Iya, baru buka dua minggu lalu,” jawab Shinsuke seraya berjalan ke balik counter dan membuka salah satu kotak merek teh kesukaannya. Dengan sedikit ragu, ia menyiapkan dua cangkir. “Mau minum teh?”

“Eh? Oh, boleh kalau nggak ngerepotin...”

Pria asing itu kini berjalan mendekat dan berhenti tepat di depan meja kasir. Netra yang bersinar sedikit keemasan di bawah cahaya lampu itu memperhatikan menu yang terpampang sembari bergumam panjang. “Kamu kerja sendirian di sini? Eh—”

“Kita. Kita Shinsuke. Panggil Kita aja nggak apa-apa. Dan aku nggak kerja sendirian, ada tiga orang yang part time di sini, tapi udah pada pulang.”

Lagi-lagi wajah pria asing itu berubah lebih cerah. Sungguh kontradiksi dengan cuaca di luar yang sedang tak bersahabat. Dan biasanya, Shinsuke lebih menyukai suasana hening. Dia jarang membuka obrolan dengan orang asing, apalagi menjawab panjang lebar. Tapi entah kenapa, ia tidak keberatan berbincang dengan pria bernama—

“Kenalin, namaku Miya Atsumu. Tapi panggil Atsumu aja nggak apa-apa soalnya aku punya saudara kembar, terus nanti takutnya susah dibedain kalau panggil nama keluarga,” jelas pria itu dengan gerakan tangan penuh animasi, seperti tadi. Sepertinya mendengar Shinsuke yang berbicara dengan gaya semi-formal pun membuat pria itu pun menurunkan levelnya.

Shinsuke mengulum senyum. Atsumu berbicara seolah-olah mereka akan sering bertemu sampai kemungkinan ia bertemu dengan saudara kembar pria itu terbuka lebar. Namun ia tidak mengangkat hal tersebut dan mengikuti tawaran sang atlet.

“Oke. Salam kenal, Atsumu.” Shinsuke menyibukkan tangannya kembali. Ia sadar tengah diperhatikan oleh sepasang netra madu di depannya, tetapi Shinsuke diam saja dan lebih memilih menaruh atensinya benar-benar ke minuman yang sedang ia racik.

“Sugar?” tanyanya sembari mengetukkan jari ke atas toples berisi bongkahan gula kecil-kecil. Ia sendiri mengabaikan pemanis tersebut karena sudah terbiasa dengan rasa yang lebih polos.

“Please. Tiga, ya.” Atsumu menjawab seraya menegakkan tubuh, mungkin sadar bahwa tubuhnya terlalu condong ke arah pria bersurai perak yang baru pertama kali ditemuinya.

“Kamu suka manis?”

“Banget. Kamu nggak suka, ya?”

Shinsuke tersenyum pada dirinya sendiri, tidak menyangka Atsumu akan se-observant itu sampai menyadari bahwa ia tidak memasukkan satu pun bongkah gula ke dalam tehnya.

“Bukan nggak suka, prefer ke sesuatu yang lebih plain aja.”

Atsumu mengangguk-angguk, walaupun di kening pria itu ada sedikit kerut kecil seolah ingin mengatakan sesuatu. Shinsuke sendiri tidak heran karena sering kali jawabannya memang menimbulkan reaksi yang sama.

“Kamu butuh plester?”

“Eh? Apa?”

Pertanyaannya yang tiba-tiba dan sedikit keluar topik pastilah mengejutkan pria itu. Atsumu menatapnya bingung beberapa saat sebelum mengekspresikan wajah paham.

“Ooh, maksudnya buat ini?” Tangan pria itu terangkat sendiri untuk menyentuh luka di salah satu bagian wajah. “Ah, nggak apa-apa, kok. Ini udah biasa.”

“Kalau nggak langsung diobatin bisa infeksi, loh.”

“Kalau gitu, kamu aja yang obatin.”

Atsumu mengucapkannya dengan nada penuh canda. Deretan gigi putih pria itu terlihat ketika menampilkan cengiran lebar. Atsumu pasti mengira Shinsuke akan menolaknya, bukan?

“Boleh.”

Shinsuke menjawab ringan seraya melangkah ke luar melewati pembatas counter menuju salah satu meja dekat jendela yang belum ia naikkan kursinya. Ia meletakkan dua cangkir yang menguarkan aroma harum di atasnya, lalu menoleh ke arah pria yang justru membeku di tempat.

“Duduk sini aja, aku ambil dulu kotak P3K-nya.”

“E-eh, a-aku cuma bercanda tadi... kamu nggak usah repot-repot,” kilah pria itu cepat sembari melangkah panik. Namun Shinsuke bisa mendeteksi semburat merah muda yang sedikit mewarnai kulit Atsumu. Shinsuke tetap memasang wajah tanpa ekspresi meski dalam hati ia sedikit terhibur.

“Nggak apa-apa, nggak ngerepotin, kok. Tunggu sebentar, ya.”

Begitu Shinsuke kembali, Atsumu ternyata mematuhi perintahnya— pria itu tengah duduk dan menatap ke luar jendela, seolah tenggelam dalam rintik yang semakin berlomba-lomba turun. Shinsuke tanpa suara menarik kursi untuk diletakkan di sebelah pria itu. Atsumu lantas menoleh ke arahnya, namun kali ini, tidak ada protes lagi yang terlontar.

Shinsuke mengobati luka-luka di wajah pria itu penuh kehati-hatian, bahkan sedikit bertanya-tanya apa yang menyebabkan pria di hadapannya memiliki profesi yang tak biasa. Padahal, kalau Shinsuke boleh mengakui, wajah pria itu bisa saja lolos menjadi model di majalah fashion.

“Sayang banget...” lirihnya tanpa sadar seraya menempelkan plester di kening pria itu.

“Apanya?”

“Wajah kayak gini jadi banyak luka.”

Atsumu tak menjawab dan Shinsuke pun tak menyesali komentarnya.

Yang Shinsuke tahu, begitu tugas di tangannya selesai, mereka duduk bersisian di dekat jendela ditemani teh beraroma peach dan deras hujan yang tak kunjung berhenti.

Juga, senyum lebar pria itu yang muncul keesokan harinya di depan pintu kafe.

. . .

“Shin.”

“Hm?”

“Kamu sebel nggak sih, aku dateng terus kayak gini?”

Shinsuke menutup kembali kotak P3K-nya setelah luka-luka di wajah Atsumu terobati sepenuhnya. Hari ini pria itu hanya memerlukan satu plester yang ditempelkan di pelipis. Tangannya lantas terangkat tanpa sadar untuk menyingkirkan poni Atsumu yang hampir jatuh menutupi mata.

“Nggak kok, biasa aja. Kenapa tiba-tiba nanya gitu?”

“Nggak, habisnya... sekarang aku jadi terbiasa dateng ke sini setiap selesai tanding. Terus kamu jadi kebiasaan juga ngobatin luka-luka aku, kan.”

“Kalau aku nggak terbiasa, siapa nanti yang bakal ngobatin luka-luka kamu?” Shinsuke membalas sembari menarik cangkir tehnya yang mulai mendingin. Setidaknya, aroma peach itu masih ada.

Atsumu terdiam dan hanya menatap sisi wajahnya dari posisi yang sama. Bahkan setelah Shinsuke menghabiskan setengah isi cangkirnya, pria itu masih bungkam seribu bahasa.

“Atsumu? Kena—”

“Kalau aku ngajak kamu keluar, mau nggak?” seloroh Atsumu cepat sebelum kata-katanya sendiri selesai. Shinsuke mengerjap pelan selagi mengawasi semburat familier datang menghiasi wajah sang atlet.

“Keluar... maksudnya, kayak kencan gitu?” tanya Shinsuke hati-hati, tidak ingin menangkap maksud yang berbeda mesti jantungnya sendiri sudah berdegup dua kali lebih cepat.

“Bukan kayak, tapi emang... kencan,” gumam Atsumu dengan telinga yang semakin memerah dan wajah ditundukkan. “K-kita udah kenal selama tiga bulan, dan aku masih pengen ngenal kamu lebih jauh. Boleh, nggak?”

Shinsuke berhasil menguasai dirinya lebih dulu. Jari telunjuknya menyentuh pelipis sang pria yang ditutupi plester dan memberi usapan lembut di sana. Gerakannya tak berhenti sampai pria bersurai terang itu akhirnya mendongak.

“Kamu mau ngajak aku ke mana emang? Asal kamu tau, aku bukan tipe yang gampang dipuasin cuma dengan diajak nonton film atau makan di restoran.”

Padahal Atsumu yang mengajak, tapi pria itu jugalah yang terlihat terkejut. Bibirnya membuka dan menutup selama beberapa sekon sebelum bilah itu membentuk senyuman sangat lebar. Yang lebih muda akhirnya menegakkan tubuh dan sedikit membusungkan dada.

“Tenang aja. Kalau sama aku, kamu nggak bakal bosen sam sekali. Oh, iya! Gimana kalau sekalian aja aku ajak kamu nonton boxing match aku? Kamu kan belum—”

“Atsumu,” Shinsuke memotong dengan nada tak setuju. “Kamu pikir aku bakal tega nonton pertandingan boxing kamu? Ngeliat kamu dipukulin gitu? Mendingan kamu ajak aku nonton film aja, nggak apa-apa.”

Tawa Atsumu terdengar berderai memenuhi malam yang sepi. Shinsuke masih memasang wajah tak terima, sementara pria di hadapannya justru terpingkal-pingkal.

“Oke, untuk sekarang... aku nggak akan maksa kamu nonton. Tapi, Shin,” Atsumu meletakkan satu tangan di atas senderan kursi yang lebih tua dengan badan dimajukan sehingga Shinsuke terpaksa menarik mundur wajahnya beberapa inci. Ada rasa penuh antisipasi yang membuat jantungnya meletup kecil seakan ada kembang api dinyalakan di baliknya.

“Kalau kencan yang ini berhasil, kapan-kapan kamu harus dateng ke pertandinganku dan liat sendiri gimana aku bakal menang,” bisik Atsumu dengan wajah penuh keteguhan.

“Terus kalau kamu menang?” tantang Shinsuke sembari menahan senyum.

“Aku mau minta hadiah.”

“Hadiah apa?”

Atsumu tak langsung menjawab, tapi netra pria itu turun hingga terpaku pada bibir Shinsuke sebelum kembali terangkat ditemani senyum penuh arti.

“Kopi gratis seminggu plus kencan tiap akhir pekan sama pemiliknya?”

Shinsuke tak bisa menahan diri lagi, ia tertawa sampai harus berpegangan pada sisi meja agar tidak jatuh terjungkal. Atsumu hanya mengawasi dalam diam penuh afeksi yang membuat Shinsuke harus menarik napas dalam sejenak sebelum menyuarakan jawabannya.

“Oke. Deal. Lagian itu nggak bakalan bikin aku bangkrut.”

Malah, Shinsuke akan menghitungnya sebagai keuntungan paling besar.


@fakeloveros

“Lo bisa diem, nggak? Kayak cacing panas aja sih nih orang satu.”

“Pasti tegang tuh mau ketemu mantan.”

“Apanya yang tegang, Oik?”

“Bangsat,” gerutunya di bawah napas. Tangannya mendorong bahu Matsukawa karena pemuda itu yang duduk paling dekat dengannya, sementara temannya yang lain hanya tersenyum mengejek. Bahkan Bokuto sampai tertawa terpingkal-pingkal. “Nggak lucu, anjir.”

“Lucu soalnya ini lo,” tukas Kuroo dengan mulut yang penuh keripik kentang. “Kapan lagi bisa liat lo tegang.”

“Ngapain tegang sih, waktu itu juga bukannya udah pernah payungan berdua, ya?” potong Hanamaki yang duduk di seberangnya dengan kedua alis dinaik-turunkan.

“Nggak usah bahas insiden payung bisa, nggak?” Matsukawa menimpali dengan raut wajah asam. “Gue masih sakit hati, nih.”

“Kita nggak payungan berdua,” Oikawa menjawab dengan keki. “Gue dipinjemin payung sama dia, berarti kan jalannya misah. Lagian kita juga nggak ngomong apa-apa kok di jalan.”

“Jujur, gue masih nggak ngerti kenapa lo berdua putus.”

Ucapan Hanamaki yang terdengar lebih serius membuat suasana di tempat tongkrongan mereka (yang sebenarnya hanyalah pekarangan rumah Kuroo) menjadi hening. Ada empat pasang mata yang memandanganya penuh ingin tahu. Oikawa bergerak gelisah di tempatnya, menolak memandang ke salah satu dari mereka karena tidak ingin facade-nya terlihat.

“Lo pernah bilang ngerasa nggak cocok sama dia, kan? Kok bisa?” Hanamaki kembali melanjutkan saat dirinya masih bungkam seribu bahasa. “Justru menurut gue, kalian tuh tipe yg opposites do attract.”

“Lo juga masih sayang sama dia kan, Oik?” Kali ini Kuroo yang menimpali. Mulutnya tak lagi mengunyah keripik kentang, namun kini di tangan pemuda itu ada sebungkus gorengan. “Jadi harusnya even ada halangan kayak gitu ya bisa diatasi, dong.”

“Itu pasti omongan berdasarkan pengalaman, ya?” ledek Bokuto yang sedari tadi memperhatikan dari atas motor hitam milik Hanamaki. “Lo sama Tsukishima kan beda banget.”

“Sama Kenma juga,” seloroh Matsukawa dengan wajah yang dibuat sepolos mungkin.

“Nggak usah jadi ngomong gue, anjing,” balas Kuroo seraya melempar bungkus keripik kentangnya yang sudah kosong ke arah Bokuto. “Ya intinya, Oik, kata gue sih lo sama Iwaizumi cuma perlu waktu aja.”

“Waktu buat apa?”

Oikawa mengangkat kepalanya berbarengan dengan suara baru yang menginterupsi percakapan. Matanya langsung beradu pandang dengan subjek pembicaraan mereka, sementara teman-temannya ikut menoleh dengan terkejut saat mendapati kehadiran Iwaizumi.

“Buset. Lo dateng kayak siput dah, nggak ada suaranya,” ucap Bokuto setelah menyeimbangkan duduknya kembali karena barusan nyaris terjungkal dari atas motor. “Naik apa lo ke sini?” tanya pemuda itu sembari menengok ke berbagai arah untuk mencari motor kesayangan milik sang empunya yang baru datang.

“Naik mobil. Tuh, gue parkir depan,” jawab Iwaizumi yang (Oikawa menghela napas lega diam-diam) lantas mengalihkan netranya ke arah lain. “Barusan nganterin nyokap dulu.”

Semuanya manggut-manggut dengan ekspresi yang sama. Hanya Oikawa yang tak bergerak seincin pun di tempatnya.

“Tadi lagi ngomongin apa? Kok bawa-bawa nama gue?” tanya Iwaizumi sesaat setelah menyamankan diri di kursi yang tersisa. Selama satu detik penuh, Oikawa yakin sang pemuda kembali melirik ke arahnya.

Tunggu. Barusan dia nggak denger obrolan mereka, kan?

“Oh, kagak... cuma lagi ngomongin... err... eh, ngomongin apa tadi kita?” Kuroo membalas dengan nada canggung seraya meminta bantuan ke arah lain dengan matanya. Tapi bahkan seorang bodoh sekalipun bisa langsung paham bahwa Kuroo tengah berpura-pura.

Tidak ada yang menjawab. Semua terdiam tanpa tahu harus menanggapi apa. Bahkan Bokuto terlihat tidak nyaman dengan wajah yang terang-terangan menatap Iwaizumi dan Oikawa secara bergantian.

“Oikawa.”

Sang empunya nama tersentak. Jantungnya berdegup dua desibel lebih keras saat menyadari siapa yang baru saja memanggilnya.

“A-apa?” Oikawa berdeham, suaranya terdengar sedikit serak.

“Mau temenin gue sebentar ke depan? Ada yang mau gue omongin.”

Kelopaknya mengedip cepat— memastikan bahwa apa yang didengarnya barusan bukan khayalan semata.

“Sebentar aja, kok,” tambah Iwaizumi, mungkin menilik reaksinya yang hanya tercenung di tempat seakan gerigi di otaknya tak lagi bekerja. Oikawa akhirnya mengangguk pelan, berusaha tidak memedulikan tampang penasaran dari seluruh teman mereka yang berada di sana. Ia pun bangkit mengikuti Iwaizumi yang sudah terlebih dulu bangun dari duduk dan berjalan ke arah gerbang.

Ada alasan mengapa rumah Kuroo dipatenkan menjadi tempat tongkrongan mereka. Selain karena satu-satunya yang tinggal di rumah, dan bukannya kos, tempat tinggal pemuda itu terbilang cukup luas di dalam komplek perumahan elit. Praktis, saat sudah berdiri di luar gerbang, jauh dari pendengaran teman-teman mereka, tak ada satu pun kendaraan atau tukang penjual makanan yang bisa mengganggu.

“Mau... ngomongin apa?” Oikawa menjadi penanya pertama kali. Tangannya meremas ujung kaus tanpa sadar dengan netra yang difokuskan ke arah pohon mangga di depannya. Ia tak berani menoleh sekalipun sadar bahwa Iwaizumi berdiri cukup dekat di sebelahnya.

“Lo ada waktu minggu ini?”

“Kenapa emang?”

Ada jeda sebelum Iwaizumi menjawab.

“Nyokap ngajakin makan malem.”

“Eh?”

Mau tak mau, Oikawa menoleh. Jawaban Iwaizumi sungguh di luar perkiraannya.

“Emang... ibu lo nggak tau kalau kita...?” Udah putus?

Tak perlu menunggu jawaban Iwaizumi pun Oikawa sudah bisa menebak dari ekspresi pemuda itu. Lantas, Oikawa mengganti pertanyaannya.

“Kenapa emang nggak bilang?” tanyanya pelan. Matanya menangkap kerutan kecil di antara kedua alis Iwaizumi— sebuah kebiasaan sang pemuda apabila berada dalam kondisi canggung atau ragu.

“Nggak tega. Nyokap gue kan suka banget sama lo.”

Kalau lo? Lo masih suka nggak sama gue?

Pertanyaan tak terlisankan itu Oikawa kubur dalam-dalam. Benaknya meyakinkan kalau memang Iwaizumi memiliki perasaan yang sama denganya, tidak mungkin pemuda itu langsung menyetujui keputusannya dalam mengajak berpisah, bahkan tanpa menanyakan alasan.

“Terus? Lo mau gue gimana? Kita gimana?”

“Kalau lo bersedia dateng, kita bisa... pura-pura depan nyokap nanti,” balas Iwaizumi seraya memalingkan muka— seolah pemuda itu sendiri benar-benar terpaksa mengatakannya.

“Terus udahannya gimana? Lo mau bohong sampai kapan?” tuntutnya yang entah kenapa merasa sedikit jengkel dengan sikap sang mantan kekasih. Kalau memang Iwaizumi merasa terpaksa, untuk apa mereka repot-repot berbohong di depan anggota keluarga pemuda itu?

“Akhir bulan ini.”

Saat keduanya tak lagi melarikan atensi ke objek lain yang menjadi penonton bisu dalam perbincangan tersebut, begitu mereka saling menyelami mata yang dulunya pernah menyimpan romansa khas dua insan yang saling jatuh cinta, Oikawa mafhum bahwa itu akan menjadi tenggat hubungan mereka sesungguhnya.

“Akhir bulan ini gue bakalan bilang,” lirih Iwaizumi dengan arti tatapan yang menyimpan beribu makna, sekaligus tak terbaca.


@fakeloveros


tw // harsh words


Kalau ada yang mengatakan pada Osamu bahwa sekarang adalah April Mop, mungkin dia akan percaya seratus persen.

Kalau ada yang mengatakan bahwa saudara kembarnya bekerja sama dengan teman masa kecilnya dalam mengadakan prank camera, dia tidak akan ragu sedikit pun.

Tapi kalau ada yang meyakinkannya bahwa kini Suna Rintarou, teman sekaligus tetangga sebelah rumahnya, tengah memojokkannya di suatu ruang kelas yang sudah sepi dan menyatakan perasaan, Osamu pasti akan langsung tertawa terbahak-bahak.

Bedanya, tidak ada secuil hasrat pun untuk mengeluarkan gelak tersebut meski mulutnya tengah terbuka lebar sekarang. Matanya mengerjap berulang kali seolah dengan begitu pemandangan yang ada di depannya bisa berubah-ubah seperti saluran televisi. Tubuhnya kaku seakan ada jerat ular yang mengancamnya supaya tidak bergerak.

Toh, ia pun tidak bisa membuat perintah untuk otaknya yang kini kosong— persis seperti buku catatan sejarah milik Atsumu. Walau mungkin seandainya Osamu mau menilik lebih dalam, otaknya tidaklah sepenuhnya kosong. Ada Osamu-Osamu kecil yang berlarian di dalamnya dengan panik seraya meneriakkan satu kalimat berulang-ulang—

Suna Rintarou suka sama gue! Suna Rintarou suka sama gue! Suna Rintarou suka sama gue!

Begitu terus sampai ada bagian kecil dalam otaknya yang akhirnya menyuruhnya bersuara.

“B-barusan... lo bilang a-apa?” tanyanya dengan terpatah seperti staccato tanapa dirigen. Tangannya menggapai sisi meja tanpa sadar— takut dirinya terjatuh dari keterkejutan yang menghantam.

Ada kerutan kecil bermain di wajah teman masa kecilnya— seolah pemuda itu sendiri enggan mengulangi hal yang sama meski tahu Osamu pasti mendengar jelas pernyataan jujurnya barusan.

“Gue suka sama lo.”

Kalau pertanyaannya terdengar seperti staccato, maka ucapan datar Rintarou mengalun seperti legato— tak terputus dan halus. Osamu pun tidak perlu meragukan artikulasi pemuda itu karena indra pendengarnya menangkap dengan jelas kalimat yang terdiri dari empat kata singkat tersebut.

“Kenapa?” Kok bisa???

Kerutan di wajah Rintarou terlihat semakin dalam— mungkin bisa menyamai Enstein. Kepala pemuda itu dimiringkan beberapa derajat ke kanan dengan netra yang dipenuh tanda tanya sekaligus spekulasi.

Seakan mempertanyakan Osamu yang menanyakan alasan pemuda itu sampai bisa menyukainya.

“Emang butuh alasan?”

Osamu menelan ludahnya susah payah. Tangannya gatal ingin meraih botol minum yang ada di atas meja. Tapi rasanya tidak etis membuat jeda di tengah peristiwa yang cukup krusial dalam kehidupan 17 tahun remajanya.

“Tapi kita kan...” Temen dari kecil?

“Emang kalau temenan dari lama, bukan berati gue nggak bisa atau nggak boleh suka sama lo?” potong Rintarou yang seakan bisa menembus isi kepalanya.

Osamu terdiam. Tidak tahu harus merespons apa. Di saat seperti ini ia justru berharap ada Atsumu yang tiba-tiba masuk ke kelas dan dengan suara toanya menguraikan situasi canggung tersebut. Namun itu hanya harapan semu karena Osamu tahu persis Atsumu sudah pulang dari tadi dengan alasan ingin segera tidur (akunya, sih, habis begadang mengerjakan tugas, tapi Osamu tahu saudaranya itu bermain game sampai subuh). Jadi kini hanya ada dirinya dan Osamu-Osamu kecil dalam otaknya yang masih berlarian dengan panik.

Rintarou pastilah cukup cerdik untuk menyadari konflik batin yang terjadi dalam otak dan hatinya. Setelah membiarkan hembusan angin dari jendela mengisi keheningan, pemuda itu menghela napas dan membetulkan posisi tas.

“Lo nggak usah jawab. Gue bilang itu bukan buat minta jawaban, jadi nggak usah sampe pusing gitu mikirinnya. Muka lo nggak cocok buat diajak mikir.”

“Heh—”

Sanggahannya terputus saat menyaksikan senyum kecil terpatri di wajah sang pemuda. Rintarou berbalik dan berjalan ke arah pintu kelas dengan langkah santai. Namun sebelum menghilang di balik pintu, pemuda itu menoleh dan berbicara serius pada Osamu yang masih berdiri seperti orang bodoh.

“Tapi gue serius ya, Sam. Gue beneran suka sama lo, bukan sebagai sekadar temen. Dan gue nggak lagi bercanda.”

Dengan perkataan final tersebut — yang bagi Osamu terdengar seperti ketukan palu seorang hakim di persidangan — Rintarou benar-benar hilang dari pandangan.

Lantas, menyisakan Osamu dengan berpuluh pernyataan dalam otaknya yang tak memiliki kapasitas cukup untuk mencerna semua kejadian barusan.

Kalau ada perihal yang akhirnya bisa diputuskan oleh Osamu-Osamu kecil secara bijak, yaitu ia harus segera pulang dan tidur seperti saudara kembarnya.


“Lo lagi ada apa deh sama si Suna?”

“Nggak ada apa-apa.”

Jawabannya keluar terlalu cepat. Sial. Dan sekarang Atsumu tengah memicingkan mata— tahu betul bahwa dirinya barusan berusaha berbohong.

Terkadang Osamu menyesalkan takdir yang membuat mereka harus terlahir sebagai saudara kembar.

“Belah mana nggak ada apa-apa? Lo sama dia udah diem-dieman dua hari, woy! Lo nggak tau apa kalau musuhan tuh nggak boleh lebih dari tiga hari?”

Osamu pura-pura tidak mendengar. Ia bersenandung pelan seraya mengupas apel yang tersedia di atas meja makan mereka.

“Jawab gue, bangsat!” seru Atsumu diiringi tendangan keras dari bawah meja.

“Aduh! Gue lagi megang pisau, anjir!”

“Bodo!”

Osamu menggerutu. Tangannya tak berhenti mengupas apel, namun otaknya tengah menimbang-nimbang apakah sebaiknya ia menceritakan peristiwa dua hari kemarin pada saudara kembarnya yang berisik itu.

“Apa sih, lama banget lo mikirnya! Tinggal kasih tau juga!” Lagi-lagi Atsumu menyalak tak sabar. Pemuda itu hampir menendang kakinya lagi, tapi Osamu buru-buru mengangkat tungkainya ke atas bangku.

“Ya sabar, dong! Ini harus gue pikirin baik-baik, tau!”

“Yaelah, paling si Suna nembak lo, kan?”

Bahkan kalau ada jarum pentul yang terjatuh ke atas lantai, bunyinya pasti akan sangat memekakkan ruangan yang mendadak diisi keheningan tersebut. Osamu tak bergerak, tetapi matanya bergulir pelan ke arah sang saudara kembar dengan beliak tak percaya.

Ternyata Atsumu pun ikut terbelalak.

“HAH? SI SUNA BENERAN NEMBAK LO?”

Osamu refleks melempar kulit apel yang ada di atas meja ke arah saudaranya yang langsung berteriak histeris, padahal di rumah hanya ada mereka berdua. Untunglah kedua orang tuanya memutuskan untuk pergi belanja bulanan sehingga memberi tugas kepada kedua pemuda Miya tersebut untuk menjaga rumah. Sayang, jobdesk tersebut tidak termasuk jangan membuat keributan di dalam rumah.

“Demi apa...” Atsumu tercengang dengan mulut yang menganga lebar— persis seperti ikan yang baru diangkat dari lautan. “Padahal gue bercanda, loh...”

Osamu membisu. Tangannya menyingkirkan pisau dan mulai menggigit apel-apel yang telah dikupas bersih dengan ahli. Tangan Atsumu ikut terjulur dan mengambil satu potong. Kalau biasanya Osamu akan meneriaki Atsumu agar tidak menyentuh makanannya sama sekali, kali ini dia membiarkan karena paham ada yang harus dibicarakan di antara mereka.

Saudara dengan saudara— karena bagaimanapun, tak ada yang mengenal dirinya lebih baik dibanding Atsumu.

“Wow... seorang Suna Rintarou suka sama lo... wow.”

“Emang aneh banget, ya?”

Atsumu menelan susah payah, lantas membuat ekspresi berpikir yang begitu berlebihan— persis seperti ketika menghadapi ujian, namun pemuda itu sebenarnya tak tahu akan jawaban benarnya.

“Hmm... tapi kalau dipikir-pikir... sebenernya nggak aneh, sih... dan rada obvious juga.”

“Obvious dari mananya?”

Osamu penasaran. Pasalnya, dia tidak bisa mencari celah dari hubungan pertemanan mereka yang terjalin sejak memakai popok untuk dijadikan patokan sampai Rintarou bisa menyukainya. Seingatnya, mereka bermain seperti biasa. Saling bercerita seperti biasa. Saling menghibur, menenangkan, membela dan—

Oke. Hubungan mereka memang sedekat itu, tetapi tetap saja Osamu tidak bisa menemukan titik terangnya.

“Nggak tau yah, kayak... ada yang beda aja. Duh, susah jelasinnya! Masa lo nggak nyadar, sih?”

“Lah, barusan aja lo kaget pas tau dia suka sama gue?”

“Tapi begitu tau, gue langsung sadar kalau Suna emang suka sama lo, Sam.” Atsumu mengubah posisi duduk menjadi lebih santai. Tangan lentik pemuda itu kembali meraih satu potong apel yang masih dibiarkan oleh Osamu. Ia penasaran ingin mendengar kelanjutan ucapan saudara kembarnya.

“Elaborate, dong.”

“Ah, lemot lo dasar. Gini deh, kita bertiga kan emang temenan dari kecil. Tapi even begitu, dia lebih deket sama lo, kan? Ke mana-mana nempelnya sama lo. Cerita apa-apa juga sama lo. Pokoknya lo berdua deh sebenernya yang udah kayak saudara kembar.”

“Ini lo jealous, ya?”

“Sam,” Atsumu meletakkan satu tangan di atas dada penuh khidmat. Wajahnya terlihat tersinggung. “Orang kayak gue? Jealous? Please, deh?”

Osamu mendengus, lalu mengedikkan dagunya. “Ya udah, coba lanjut.”

“Oke, sampe mana gue barusan? Oh ya, saudara kembar. Nah, tapi! Gue rasa kedekatan kalian itu mulai bikin dia baper tanpa sadar! Atau dia sadar, ya? Nggak tau gue. Pokoknya akhirnya dia suka sama lo.”

Osamu menurunkan bahunya sedikit kecewa. Padahal ia sudah berharap Atsumu akan memberi penjelasan teknis yang merinci dengan judul besar-besar di atas— Alasan Suna Rintarou Menyukai Osamu Miya. Tapi yang ia dapatkan justru...

“Nggak jelas banget penjelasan lo.”

“Sialan, udah gue bantuin juga.” Atsumu menghela napas lalu bertanya secara kasual. “Emang lo nggak ngerasa sikap dia ada yang berubah gitu ke lo? Lebih perhatian atau apa gitu misalnya?”

Lebih perhatian...?

Osamu melarikan matanya ke sana kemari seraya berpikir keras. Apa ada yang berubah dari perilaku Rintarou? Baginya, pemuda itu selalu bersikap seperti biasa. Kalau Osamu bangun kesiangan dan tidak sempat sarapan, pemuda itu tahu-tahu akan muncul di kelasnya pada jam istirahat pertama dengan beberapa potong roti dan sekotak susu. Rintarou juga yang sering mengingatkannya untuk belajar di malam sebelum tes atau mengerjakan tugas. Begitu tiba waktunya untuk pergi ke ekskul voli, Rintarou lah yang akan menghampirinya duluan ke kelas. Tidak jarang, pemuda itu pun membawakan minuman isotonik. Lalu pernah saat Osamu tidak masuk sekolah gara-gara sakit namun tidak ada yang merawat karena kedua orang tuanya harus tetap pergi bekerja, Rintarou diam-diam bolos sekolah dan menungguinya seharian.

Bukankah itu hal yang sewajarnya dilakukan oleh sepasang teman sejak kecil?

Atsumu yang terus mengawasi, perlahan memberi tatapan lo-goblok-apa-tolol-sih sebelum menggeleng beberapa kali, lalu bangkit dari duduk begitu apel yang dikupas Osamu sudah tandas seluruhnya.

“Sam, Sam, gue tau lo bego, tapi gue nggak nyangka lo bisa sebego ini.”

Dan sebelum Osamu bisa melempar benda apa pun yang ada di atas meja, Atsumu segera lari terbirit-birit menuju kamar mereka.


“Kata orang, diem-dieman tuh nggak boleh lebih dari tiga hari, loh.”

Osamu terlonjak. Keningnya sampai tidak sengaja membentur pintu loker di ruang ganti ekskul voli SMA mereka. Ia meringis pelan sembari menggosok-gosok bagian yang mulai memerah dengan netra yang sedikit mengeluarkan air mata di ujung.

Rintarou berdiri di ambang pintu dengan senyum yang terkulum.

“Kaget banget emang? Kok sampe kejedot gitu?”

“Duh, lo kalau masuk tuh salam dulu kek, apa kek. Jangan ngagetin kayak gitu, dong!” omelnya meski Osamu cepat-cepat kembali menghadap loker untuk menyembunyikan ekspresi gugupnya.

Tidak terdengar balasan apa pun dari sang teman sampai Osamu mengira pemuda itu telah beranjak pergi. Namun saat dirinya menoleh, Rintarou tengah memperhatikannya cukup intens dengan penuh kontemplasi.

“Apa? Kenapa ngeliatin gue kayak gitu?” tanyanya seraya menutup pintu loker dengan kekuatan yang berlebihan sebagai upaya tanpa sadar untuk mempertahankan ketenangan.

“Lo marah, ya?”

“Marah kenapa?”

“Karena gue udah bilang suka sama lo.”

Osamu memejamkan mata sepersekian detik selagi menggerutu dalam hati— kok dia segampang itu sih bilang suka?

“Nggak, kok. Kenapa juga gue mesti marah?” kilahnya kini sambil menyibukkan diri melipat seragamnya dengan gerakan super lambat. Matanya menunduk penuh konsentrasi seakan aktivitas membentuk seragam putih itu menjadi lipatan rapi dinilai lebih sulit daripada mengerjakan tes Kimia minggu lalu.

“Buktinya lo ngehindarin gue selama dua hari. Kalau bukan marah, terus apa namanya?” tantang Rintarou yang kini berjalan mendekat ke arahnya. Osamu tak menjawab— terus melipat seragamnya yang malah membuat fabrik itu bertambah kusut.

Kalau boleh jujur, Osamu sungguh tidak merasa marah.

Ia hanya... bingung bagaimana sebaiknya menyikapi perasaan temannya tersebut. Apakah ia menyukai Rintarou? Itu sudah pasti. Tapi apakah jenis “suka” yang mereka rasakan sama?

Osamu perlu waktu untuk memastikan.

“Kan gue udah bilang, nggak usah dipikirin. Lo nggak mesti jawab—”

“Bukan gitu.” Tiba-tiba, Osamu merasakan gelombang frustrasi terhadap dirinya sendiri. Ia menyerah dan memasukkan bajunya ke dalam tas secara asal, lantas bangkit dan menghadap ke arah sang teman. “Gue cuma bingung.”

Hening. Tak ada yang bereaksi. Di saat seperti inilah rasanya Osamu berharap dia memiliki super power untuk mengetahui isi pikiran orang lain. Rintarou memang bukan orang yang mudah diterka, tapi sejak pernyataan tak terduga beberapa hari lalu, Osamu jadi ragu akan perspektif dirinya terhadap pemuda bersurai hitam tersebut.

“Kalau gitu, kasih gue waktu seminggu.”

Suara Rintarou memecah keheningan dan memotong tajam— terdengar teguh, tapi penuh keputusasaan di saat yang bersamaan.

“Seminggu? Buat?”

“Buat buktiin perasaan kita masing-masing.”

Kalau dalam keadaan normal, Osamu pasti sudah mengeluarkan gelak tawanya karena ucapan tersebut terdengar sangat cheesysangat bukan Suna Rintarou. Tapi yang ada di kepalanya, ucapan itu justru ia tafsirkan menjadi—

“Buat buktiin kalau lo juga suka sama gue, dan bukan sebagai temen.”

Rintarou menyuarakannya secara lantang dan penuh determinasi— menatap Osamu tepat di manik mata seolah itu akan membantu dalam usahanya mencapai afirmasi. Osamu menarik napas tercekat sembari berdoa semoga dirinya tidak pingsan di tempat.

Dan mulutnya sepertinya lebih tahu dalam membuat keputusan dibanding otaknya yang lagi-lagi dipenuhi Osamu-Osamu kecil dalam gerak kepanikan mereka.

“Oke. Seminggu. Deal.”

Dan akan menjadi dusta kalau Osamu sendiri tak berharap untuk mengetahui jawabannya.

-tbc


@fakeloveros

Flashback

Malam sudah semakin larut, tapi Oikawa tidak bisa memastikan jam sekali lagi karena handphone-nya sudah mati. Salahkan dirinya yang lupa membawa pengisi daya cadangan, tetapi ajakan Ushijima yang begitu tiba-tiba membuatnya langsung mengiakan tanpa hampir memedulikan apa pun.

Termasuk kondisi badannya yang sedang tidak sehat.

“Lo nggak apa-apa?”

Entah sudah berapa kali Ushijima menanyakan pertanyaan yang sama. Dan jawaban yang ia berikan pun juga sama— gelengan lemah diikuti senyum kecil. Ia merasa tidak enak karena Ushijima baru mengetahui soal kondisinya begitu konser hampir berakhir. Pria itu bersikeras untuk segera membawanya pulang, tetapi band yang sedang tampil adalah favoritnya dan Oikawa tidak rela beranjak sebelum acara benar-benar berakhir.

Namun dia akhir, ia harus menyesali sifat keras kepalanya sendiri karena begitu konser selesai, kondisinya justru bertambah buruk.

“Kita udah sampe.”

Ucapan Ushijima berhasil memberi kesadaran sedikit untuk kepalanya yang terasa semakin melayang. Oikawa hanya ingin segera menutup mata dan berbaring di bawah tumpukan selimut. Namun nada tegang yang terdengar dari Ushijima ternyata tidak luput dari indranya.

“Kenapa?” tanyanya dengan suara yang terdengar serak. Oikawa berusaha duduk lebih tegak sementara Ushijima menatap ke luar jendela dengan tangan yang memegang roda pengemudi begitu erat.

“Ada Iwaizumi di depan kos-an lo.”

“Siapa?”

Oikawa takut salah dengar, meski nama yang keluar dari bibir Ushijima tak mungkin salah. Netranya pun ikut menatap ke depan dan yang ia tangkap pertama kali adalah motor hitam milik seseorang yang sudah terlampau familier. Bagaimana tidak, kalau hampir setiap hari ia naik ke atas joknya bersama sang empunya yang kini tengah berdiri tak jauh. Ekspresi pria itu tak terbaca, namun tangannya mengepal di samping tubuh dan Oikawa langsung tahu bahwa itu tanda Iwaizumi tengah menahan emosi.

“Shit,” rutuknya pelan seraya mengusap wajahnya dengan satu tangan. Oikawa merendahkan tubuh seakan berharap jok mobil yang sedang didudukinya bisa menelannya detik ini juga.

“Apa lo udah ngasih tau ke dia kalau kita pergi bareng?”

“Udah kok, cuma dia...” Ngelarang pergi karena tau gue lagi sakit.

Ushijima menghela napas berat. Pria itu seakan mengerti sisa jawabannya yang dibiarkan menggantung.

“Yah, ini salah gue juga karena nggak tau kalau lo lagi sakit. Kalau tau, gue juga nggak bakal ngajak lo keluar tiba-tiba kayak tadi.”

Oikawa merengut. “Tapi itu kan gue yang mau sendiri...”

“Tetep aja.”

Ushijima tidak membiarkan keheningan itu menyelimuti mereka lebih lama. Pria itu lantas mematikan mesin mobil, lalu menoleh ke arah Oikawa.

“Ayo turun, pacar lo pasti udah khawatir banget.”

“Dia bukan—”

Tapi sisa ucapannya tertelan begitu saja. Iwaizumi memang belum resmi menyatakan perasaan, tetapi berdasarkan rumor juga perhatian yang diberikan pria itu terhadapnya, Oikawa bisa dicap buta kalau tidak menyadari sama sekali.

Dan entah sejak kapan, perasaan pria itu pun mulai bersambut.

Oikawa membuka pintu dan turun dengan ragu. Pusingnya mendadak hilang dan kini digantikan dengan kekhawatiran luar biasa atas apa yang akan dikatakan atau diperbuat Iwaizumi. Ia jelas harus meminta maaf. Bagaimanapun, ini salahnya karena tidak—

BUKH

“LO NGAPAIN NGAJAK DIA KELUAR?! OIKAWA LAGI SAKIT, BERENGSEK!!”

Tubuhnya membeku di samping mobil. Ia hampir tidak memercayai penglihatannya saat Iwaizumi dengan terang-terangan melayangkan tinju ke arah Ushijima yang sudah berjalan lebih dulu. Ushijima, walaupun memiliki tubuh besar, langsung terhuyung setelah mendapat satu hajaran tersebut.

Iwaizumi, dengan napas yang sedikit tersengal, kembali maju dan mencengkeram kerah pria yang lebih tinggi darinya itu. Namun Iwaizumi tidak terlihat gentar dan malah menjatuhkan pukulan kedua.

“KALAU SAKITNYA TAMBAH PARAH GIMANA?! EMANG LO BISA TANGGUNG JAWAB?!”

BUKH

Kali ini, suara pukulan keras terdengar dari tinju yang ditargetkan langsung ke wajah Iwaizumi. Oikawa semakin tak bisa bergerak dan hanya bisa menatap pemandangan di depannya dengan mulut terbuka.

“KALAU GUE TAU DIA LAGI SAKIT JUGA NGGAK BAKAL GUE AJAK KELUAR, TOLOL!”

Mungkin akibat suara mereka yang saling berteriak lancang, atau bunyi adu jotos keduanya yang memekakkan keheningan malam— namun tak beberapa lama, beberapa penghuni kos keluar dan menyaksikan keributan tersebut. Wajah familier Matsukawa dan Hanamaki pun menyeruak dari kerumunan dan segera melerai perkelahian yang ada.

Oikawa tidak begitu ingat apa yang terjadi setelahnya. Namun samar dia ingat, ada tangan lain yang menyentuh lengannya dan segera menuntunnya masuk ke dalam. Ia langsung dibawakan makan, minuman hangat dan disuruh beristirahat di kamar.

Oikawa pikir dirinya akan langsung tertidur begitu sudah berada di balik selimut, namun matanya justru terus terjaga sementara menunggu suara-suara di luar kamarnya mereda.

Sekitar satu jam kemudian, ada yang mengetuk pintunya pelan.

“Masuk...”

Tak disangka, kepala Iwaizumi lah menyembul dari balik pintu. Ada luka robek di ujung bibir pria itu dan matanya terlihat sedikit bengkak. Oikawa tak tahu harus berkata apa sembari menyaksikan Iwaizumi masuk dan menutup pintu kamarnya pelan.

“Aku mau... minta maaf.”

Oikawa mengerjap. Tangannya mencengkeram ujung selimut lebih erat. Ia menunggu kelanjutan kalimat tersebut.

“Maaf, aku udah buat keributan kayak tadi... aku tau harusnya nggak langsung mukul dia. Aku kebawa emosi. Aku cuma... khawatir kamu kenapa-napa.”

Iwaizumi tidak menatapnya sama sekali. Pria itu menunduk seperti anak kecil yang menunggu omelan dari orang tuanya datang. Tapi Oikawa bisa merasakan pria itu tulus— baik untuk permintaan maaf, maupun kekhawatirannya.

“Aku juga minta maaf... karena udah seenaknya pergi, padahal tau lagi sakit.”

Oikawa akhirnya ikut membuka mulut. Kalau ada yang harus disalahkan atas seluruh kejadian ini, tentu saja dirinya yang paling tepat. Sungguh di luar dugaannya bahwa Iwaizumi akan menjadi semarah itu dan ia pun tidak menyangka Ushijima akan ikut meladeni.

Oikawa terbelalak— mengingat nama Ushijima membuatnya tersadar bahwa dia pun belum meminta maaf terhadap temannya yang satu itu. Ia baru akan bangkit ketika tiba-tiba Iwaizumi melangkah maju dan mendorongnya lembut agar kembali tertidur.

“Kalau kamu nyariin Ushijima, dia udah balik duluan tadi...”

“Oh...”

Oikawa kembali membaringkan kepalanya di atas bantal secara perlahan. Matanya mengawasi Iwaizumi yang masih berdiri dengan canggung.

Tiba-tiba, tangannya gatal ingin menyentuh pria itu.

“Coba sini.”

“Hm?”

“Liat lukanya.”

Iwaizumi mengerjap beberapa kali sebelum — dengan sedikit ragu — mendudukkan diri di atas lantai— tepat di sebelah kasurnya.

“Sakit, ya?”

Tangannya menyentuh pelan salah satu luka di ujung bibir dan menyaksikan pria itu meringis kecil. Oikawa mengulum senyum dan beralih menepuk pipi pria itu.

“Lain kali jangan gitu lagi, ya? Kasian juga orang yang kamu pukul, pasti sakit banget tuh.”

Iwaizumi menatapnya beberapa saat sebelum mengangguk. Oikawa tersenyum geli karena pria itu terlihat seperti anak anjing yang begitu patuh terhadap sang majikan.

“Udah malem, kamu nggak mau balik?”

“Ini ngusir ceritanya?”

“Emang kamu mau nontonin aku tidur?”

“Mau aja.”

Oikawa kali ini benar-benar menerbitkan senyumnya. Ia pun mengubah posisi jadi menghadap pria itu.

“Ya udah, temenin aku di sini sampe tidur.”

Iwaizumi tidak menjawab, tapi Oikawa tahu pria itu juga tidak menolak. Iwaizumi hanya duduk diam dengan punggung yang menyender pada dinding. Keheningan, di tambah lelah yang semakin menguasai tubuh pun membuat kelopaknya semakin berat. Namun di tengah ambang kesadarannya yang semakin menipis, Oikawa bisa merasakan sentuhan seringan kapas di pipinya diikuti bisikan maaf.


@fakeloveros

“Hajime, ini beneran alamatnya? Kamu nggak salah kirim?”

Terdengar suara langkah kaki dari seberang sambungan sebelum pertanyaannya dijawab ringan.

“Nggak, Tooru, beneran itu alamatnya. Kamu udah sampai, ya?”

“Udah, sih…” Netranya melirik ke depan, lantas mengira-ngira dalam hati terdiri dari berapa lantai bangunan tinggi besar yang menjulang di hadapannya. “Tapi bukannya kita mau dinner? Kenapa kamu malah ngajak makan di sini?”

Karena di sini yang dimaksud Oikawa adalah sebuah bangunan tinggi hotel megah yang terletak di pusat kota. Siapa pun pasti mengetahui nama hotel tersebut. Pernah ia tidak sengaja membaca di internet, menghabiskan semalam di sana saja harus merogoh kocek sebesar—

“Makanan room service-nya enak. Aku lagi pengen makan di sini,” balas kekasihnya cepat, seakan ingin segera mengalihkan topik atau mencegah protes berkepanjangan dari Oikawa. “Kamu mau aku jemput di bawah?”

“Nggak usah, aku naik sendiri aja. Lantai 21, kan?”

“Iya, nanti di resepsionis tinggal bilang aja namaku. Udah aku reserved, kok.”

Setelah mengucapkan salam perpisahan singkat, Oikawa mengantungi gawainya kembali lalu menghela napas. Matanya memicing curiga ke arah pintu yang terlihat tak kalah besar dan mewah dengan interior luar gedung tersebut. Ada penjaga yang memakai jas hitam dengan badan tinggi besar di depan pintunya. Awalnya Oikawa sempat ragu, namun ternyata kedua pria yang lebih terlihat seperti bodyguard itu memperbolehkannya masuk dengan ramah.

Setelah menyebutkan nama Iwaizumi Hajime ke resepsionis, dirinya langsung diperbolehkan untuk naik setelah sebelumnya menolak untuk diantarkan. Rasanya berlebihan jika harus ditemani seseorang menaiki lift, padahal ia sendiri tidak membawa apa-apa.

Oikawa datang hanya membawa diri, dompet dan handphone. Penampilannya pun sederhana karena ia pikir Iwaizumi memberikan alamat restoran biasa dan bukannya hotel megah.

Mau tak mau, Oikawa merasa sedikit curiga.

Sesampainya di lantai 21, tidak sulit menemukan nomor kamar yang telah diarahkan sang resepsionis. Baru tangannya terangkat untuk mengetuk, pintu yang ada di hadapannya sudah dibukakan lebih dulu.

Lantas wajah Iwaizumi muncul menyambutnya ditemani seulas senyum lebar.

“Hei, sini masuk.”

Oikawa mengikuti pria itu dan membiarkan pintu di belakangnya tertutup secara otomatis. Keadaan di dalam kamar ternyata cukup gelap karena Iwaizumi hanya menyalakan lampu tidur di atas nakas dengan tirai yang tersingkap utuh sehingga memperlihatkan pemandangan malam kota Tokyo. Mobil-mobil yang masih mengisi jalanan terlihat seperti berlian-berlian kecil yang berkedap-kedip. Namun dari dalam tidak terdengar suara bising perkotaan karena kamar itu pastilah kedap suara.

Barulah atensinya mengarah pada sang kekasih.

“Kenapa kita makan di sini?”

Padahal ia sudah menanyakan pertanyaan itu di awal, tapi tetap saja Oikawa ingin memastikan langsung jawaban Iwaizumi. Namun yang ditanya hanya tersenyum dan mengambil tempat di salah satu kursi depan meja yang berada tepat di sebelah jendela besar kamar tersebut. Oikawa pun baru sadar ada sebotol anggur dan dua gelas tinggi yang telah menunggu.

Kecurigaannya pun bertambah.

“Ini pasti ada sesuatu, ya?” tanyanya selagi ikut duduk di depan pria itu. Iwaizumi lagi-lagi hanya mengulum senyum seraya mulai menuangkan anggur tersebut ke masing-masing gelas. “Loh, bukannya habis makan kamu bakal balik ke kantor? Emang nggak apa-apa minum? Katanya mau lembur?”

“Nggak apa-apa kalau sedikit,” jawab Iwaizumi singkat. Oikawa menunggu kelanjutannya, tapi pria itu tidak berkata apa-apa lagi dan langsung menyesap anggur dengan wajah tenang.

“Lupa ya, tolerance kamu ke alkohol kan rendah?” tanyanya lagi dengan kening yang berkerut dalam. Menurutnya, Iwaizumi bersikap sedikit aneh malam ini.

“Ya kalau aku beneran sampai mabuk, tinggal nggak usah balik kerja.”

“Hah?'

TOK TOK

Baru saja Oikawa akan melayangkan pertanyaan kesekian, Iwaizumi sudah keburu bangkit dan berjalan ke arah pintu. Oikawa mengintip dari tempatnya duduk dan ternyata ada yang sedang mengantarkan makanan mereka.

Setelah pengantar makanan itu pergi dan beberapa hidangan mewah sudah tersaji di atas meja, Iwaizumi kembali duduk di hadapannya. Kali ini, Oikawa tidak memberikan kesempatan pada pria itu dan langsung melontarkan ucapan bernada tegas.

“Kalau kamu nggak ngasih tau ini sebenernya ada apa, aku bakal pulang sekarang juga.”

Dengan adanya ancaman itu, barulah Iwaizumi berhenti.

Oikawa menyenderkan tubuhnya ke sandaran kursi dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Netranya menatap serius pria yang tengah membuat ekspresi menimbang-nimbang.

“Oke, sebenernya aku emang mau ngomongin sesuatu...”

Tuh, kan.

Awalnya tidak ada satu pun ide terlintas di benaknya, tetapi begitu memperhatikan ekspresi dan gerak-gerik Iwaizumi yang menjadi sedikit gelisah, Oikawa menegakkan tubuh dan melemparkan pertanyaan pertama yang muncul di otaknya.

“Kamu... bukan mau ngajak putus, kan?”

Wajahnya pasti sudah terlihat memucat sekarang dengan imajinasi liar yang mulai terbayang di otaknya. Apa ini cara Iwaizumi dalam memutuskan hubungan mereka? Mengajaknya ke hotel mewah dan menyogoknya dengan makanan lezat sebelum meninggalkannya? Apa Iwaizumi juga—

“Tooru, nggak, astaga...”

Tahu-tahu Iwaizumi sudah bangkit dan berlutut di sebelah kursinya. Pria itu menarik kedua sisi wajahnya lembut sampai mereka bertatapan. Ada senyum geli yang menghias wajah pria itu.

“Kenapa mikirnya gitu?”

Oikawa menelan saliva. Jantungnya tak lagi memompa dengan gelisah. Namun ia tetap tak bisa menerka apa yang ingin dibicarakan Iwaizumi kalau bukan mengajaknya putus hubungan.

“Soalnya di novel-novel biasanya gitu... cowok gentle bakal ngajak pasangannya dinner mewah dulu sebelum ngajakin putus baik-baik.”

Iwaizumi masih tersenyum geli. Tangan pria itu bergerak pelan mengusap pipinya yang kemerahan akibat menahan malu.

“Berarti aku cowok gentle, ya?”

“Bukan itu intinya...”

Kali ini Iwaizumi tak bisa menahan tawanya lagi. Suara pria itu terdengar memenuhi ruangan sementara Oikawa menatap bingung bercampur sewot.

“Sebenernya kamu mau ngomongin apa, sih?”

“Duduk sini, deh.”

Iwaizumi berdiri dan menarik tangannya agar ikut bangkit lalu dituntun sampai terduduk di pinggir kasur. Mereka duduk bersisian dengan kedua tangannya yang kini digenggam erat. Ekspresi kekasihnya berubah serius di balik bayang-bayang temaram ruangan.

Mendadak, perut Oikawa bergejolak aneh.

“Kamu tau kan... aku nggak pernah pacaran sebelumnya. Awal kita resmi pacaran, aku masih bingung, mana yang sebaiknya aku omongin ke kamu dan mana yang nggak. Apa kalau aku ngelakuin ini kamu bakal seneng, atau justru sebaliknya. Waktu kamu bilang di chat yang soal bosen itu, sebenernya aku kepikiran— gimana seandainya kamu beneran bosen sama aku dan nemuin orang lain yang lebih bisa bikin kamu seneng.”

“Hajime, itu kan cuma—”

“Tapi dari hubungan ini aku juga belajar.” Iwaizumi memotong perkataannya lewat mata— menyuruhnya untuk mendengarkan apa yang ingin pria itu sampaikan lebih dulu. “Kita masing-masing nggak bisa jadi pasangan yang sempurna, yang bisa menuhin ekspektasi orang lain. Dulu pas aku bilang gitu, sebenernya aku sendiri masih bertekad buat jadi pasangan yang sempurna buat kamu. Aku mau buktiin gimanapun caranya. Tapi sekarang... aku bener-bener paham dan mau ngejalanin hubungan versi kita buat waktu yang lebih lama.”

Oikawa mengerjap pelan. Otaknya menyerap rentetan kalimat tersebut dan berusaha mengira apa maksud di baliknya.

Meski sepertinya, ia paham ke mana perbincangan ini mengarah.

“Kamu bilang gini karena aku pacar pertama kamu juga, kan?”

“Aku bilang gini karena kamu bakal jadi satu-satunya pacar aku.” Iwaizumi tersenyum menenangkan, lalu mengangkat tangannya yang masih digenggam. Pria itu menyentuhkan bibir di punggung tangannya dengan lembut dan berbisik di sana. “Tapi, aku mau improvisasi sedikit.”

“Impro...visasi?”

“Kamu tau ini udah masuk tahun ketiga kita pacaran. Kita berdua udah sama-sama lulus dan kerja. Aku udah kenal keluarga kamu, begitu juga sebaliknya. Bahkan Ayahku beberapa hari lalu nanyain kamu lagi sibuk apa sekarang gara-gara udah jarang main ke kantor.”

Oikawa ikut melengkungkan bibirnya mendengar hal tersebut. Padahal awalnya Ayah Iwaizumi masih menatapnya sinis dan penuh ketidakrelaan. Bahkan makan malam pertamanya dengan keluarga Iwaizumi terbilang cukup canggung meski berakhir dengan baik karena kehadiran Kak Yui dan Ibu sang kekasih yang langsung menerima dan memperlakukannya ramah. Butuh waktu berbulan-bulan sampai akhirnya tatapan sinis itu hilang dari pria baya yang telah melahirkan kekasihnya.

“Jadi gimana kalau kita improvisasi? Biar kamu nggak bosen lagi,” lanjut Iwaizumi dengan senyum yang mengulum penuh arti. “Kamu mau nggak—”

“Tunggu sebentar.”

Oikawa refleks menarik tangannya dari genggaman pria itu. Ia meletakkannya di atas jantungnya yang berdegup sangat kencang sembari menarik dan menghembuskan napas berulang-ulang.

“Oke. Aku siap.”

Iwaizumi tertawa rendah, lalu maju untuk menciumnya. Setelah pasokan oksigen di dadanya hampir habis, barulah pria itu melepaskan dan bertanya dengan nada menggoda.

“Kamu mau nggak kalau kita makan dulu?”

“Hah?”


Oikawa tidak begitu ingat apa yang terjadi setelahnya.

Mereka menghabiskan semua hidangan mewah (yang harus ia akui memang luar biasa kelezatannya) ditemani obrolan-obrolan ringan seputar apa pun— kejadian lucu, mengharukan, hal-hal di masa lalu, juga keinginan di masa depan. Meski hubungan mereka memang tidak sempurna, Oikawa merasa mereka sudah jauh lebih mengenal diri masing-masing. Oikawa bahkan akhirnya bisa menertawakan segala pengakuan memalukan Iwaizumi saat mereka masih berpura-pura menjalin hubungan semasa kuliah.

Mungkin setelahnya mereka berdansa diiringi musik yang diputar dari handphone Iwaizumi. Walau gerakan mereka lebih ke bergoyang pelan ke kiri dan kanan secara asal dan berputar tanpa menyesuaikan dengan alunan musik sama sekali.

Begitu keduanya sudah terlalu lelah untuk bergerak, tubuh mereka terjatuh ke atas kasur dengan tawa yang berderai. Namun tawa itu tak berlangsung lama karena bibir mereka langsung sibuk merasai anggur manis yang masih menempel di kedua belah dan lidah masing-masing. Tangan Iwaizumi yang sudah begitu familier, bergerak dan memuja sekujur tubuhnya yang panas sampai mereka kehabisan napas. Hela berat keduanya beradu cepat dan netra mereka bertemu dalam sayang yang tak perlu dideskripsikan lagi melalui kata-kata.

Seandainya di luar terjadi peperangan atau zombie apocalypse sekalipun, sepertinya Oikawa tidak akan menyadari atau bahkan peduli karena intensitas pria yang terus merengkuhnya sepanjang malam lebih membutakan — lebih menenggelamkan — dibanding apa pun. Kalimatnya tak lagi koheren. Otaknya terlalu dipenuhi kabut tebal sehingga yang terpikirkan olehnya hanya nama pria itu. Di akhir, Oikawa meneriakkan nama sang kekasih begitu lantang meski kesadarannya ada di ambang momentum penuh ekstasi.

Namun ada satu hal yang Oikawa ingat.

Setelah mereka kembali menapak bumi dengan tangan dan kaki yang saling bertaut tanpa tahu mana milik siapa, dengan napas yang masih tersengal dan wajah dipenuhi peluh juga senyum merekah, Iwaizumi akhirnya membisikkan hal yang sempat terlupakan (atau dirinya sengaja dibuat lupa karena pria itu terlalu pandai dalam mendistraksinya).

“Kamu mau nggak nikah sama aku?”

Oikawa tidak ingat bagaimana dia menjawab— apakah dengan anggukan berkali-kali atau jawaban “mau” ditemani air mata yang mengalir kelewat deras.

Tapi dia ingat Iwaizumi tersenyum begitu cerah sampai ia yakin matahari akan merasa berdosa keesokan paginya karena telah terbit.

Oikawa ingat Iwaizumi tidak melepaskannya sepanjang malam— terus menghujaninya dengan ciuman lembut di bahu, leher, dan setiap inci kulitnya yang bisa diraih sampai kelopaknya terlalu lelah untuk mengawasi gelap yang semakin terurai.

Tetapi Oikawa juga tidak ingat— kapan Iwaizumi menyematkan cincin perak di jari manisnya yang tidak sengaja ia lihat pertama kali begitu terbangun.

Oikawa menoleh ke samping dan menemukan mata pria itu tengah mengawasinya dalam sunyi. Tangan pria itu terangkat dan meraih jemarinya yang masih mengambang di udara. Matanya mengikuti gerakan Iwaizumi yang begitu perlahan saat menciumi setiap ujung jari hingga ke titik cincin itu melingkar dengan pas seolah memang di situlah tempatnya berada.

Iwaizumi masih belum mengatakan apa pun, tetapi rasanya seolah ada ikatan baru di antara mereka yang membuat Oikawa paham apa yang dirasakan pria itu sekarang. Atau lebih tepatnya, apa yang dikatakan pria itu dalam hati.

Mungkin— terima kasih dan

aku cinta kamu.


@fakeloveros

BAK BUK BAK BUK

“Papaaa! Kaos kakiku di manaa?”

BAK BUK BAK BUK

“Papa, nanti bikin videonya di ruang tengah aja, deh. Aku malu kalau di teras!”

DUK DUK DUK

BRAAK

“AYAH!!! BANGUN!!!”

Rintarou refleks mengerang dan menutup kepalanya dengan bantal. Namun tak beberapa lama, ada dua tangan kecil yang menggoyang-goyang bahunya, juga menarik selimut sebagai upaya membawanya ke dunia nyata dari alam bawah sadar.

“Ayah!! Cepetan banguun!! Aku harus bikin video sama orang tua!!”

Kali ini, Rintarou membuat usaha sedikit dengan memunculkan kepala dari balik bantal, lalu membuka satu kelopaknya yang masih terasa sangat berat. Padahal cahaya matahari sudah menerobos masuk kamar, tapi rasa kantuknya masih sama seperti tadi malam

“Makanya jangan lembur terus.”

Biasanya, hanya itu yang diucapkan Osamu apabila dirinya mengeluh di pagi hari saat bersiap-siap kembali menerjang jalanan ibu kota demi menjadi budak korporat. Ia ingin berargumen— membalas suaminya itu dengan kalimat, siapa juga sih yang mau lembur...?

Tapi pagi hari bukan waktu yang tepat untuk memulai ketegangan, apalagi dengan orang yang juga sudah repot-repot bangun subuh dan menyiapkannya bekal. Jadi, balasan sengit itu biasanya Rintarou telan kembali dan ia ganti jadi kecupan lembut di pipi suaminya.

Lantas ketika ada satu hari libur muncul di tengah-tengah Senin sampai Jumat layaknya oase di padang pasir, siapa yang rela melewatkannya begitu saja? Rintarou pun bertekad untuk balas dendam dengan bergelung di bawah selimut seharian.

Itu rencana awalnya, sampai—

“Ayaaaah!!! Cepetan banguuun!! Biar videonya cepet dibikin!!”

Sampai anak semata wayangnya masuk dengan heboh lalu berbicara sesuatu tentang bangun dan video. Entahlah, gerigi di otaknya masih belum seratus persen berputar.

“Video apa, sih...” tanyanya dengan suara serak yang teredam bantal. Kelopaknya hampir menutup lagi kalau bukan karena satu suara tiba-tiba ikut berpartisipasi dalam kehebohan pagi itu.

“Video nyanyi lagu 17-an,” sahut Osamu yang tahu-tahu sudah muncul di ambang pintu dengan gelas yang mengepulkan asap tipis. Aroma kopi yang menyerbu indra penciumannya dalam sekejap langsung menaikkan level kesadaran Rintarou.

“Kamu sarapan dulu gih, biar Papa yang bangunin Ayah kamu.”

Atas titah suaminya, anak laki-laki itu seakan lupa dengan tugas utamanya dan dengan bersemangat langsung turun dari kasur lalu menghilang di balik pintu. Terdengar suara langkah kaki berisik yang menuruni tangga, sebelum suasana di kamar itu kembali hening.

“Aku tau kamu paling anti minum kopi kalau lagi nggak kerja, tapi kamu harus bangun sekarang. Kita harus bikin video,” ujar Osamu sembari duduk di atas kasur kemudian menyerahkan gelas beraroma kuat tersebut.

Ditemani erangan yang lebih kencang dari sebelumnya, Rintarou memaksakan dirinya bangun lalu menerima uluran gelas tersebut. Saat kafein mulai menyentuh indra perasanya, seperti ada tombol ON yang menyalakan seluruh sistem tubuhnya agar segera bergerak dan bekerja.

Osamu hanya tersenyum kecil selagi memperhatikan sang suami yang menyesap kopi begitu khidmat seolah itu adalah minuman suci dari pegunungan.

“Emang kemaren pulang jam berapa? Kok aku nggak denger kamu masuk?” tanya Osamu begitu dilihatnya Rintarou sudah lebih segar meski masih ada setitik letih di balik bayang-bayang netra gelapnya.

Rintarou menghela napas besar sembari menyenderkan punggungnya di kepala kasur.

“Bukan kemaren. Aku balik jam satu pagi. Kamu udah tidur nyenyak banget, aku nggak tega bangunin.”

Osamu tak mengatakan apa-apa, tapi dari tatapannya, Rintarou tahu pria ikut bersimpati.

“Capek, ya?”

Rintarou mengangguk. Ingin rasanya kembali memuaskan rasa kantuk, tetapi bayangan wajah anaknya yang tengah merajuk membuatnya tersadar ada kewajiban lain yang harus dipenuhi terlebih dulu.

“Ini bikin videonya—”

“Nanti aku kasih hadiah, deh.”

“Hah?”

“Kalau sekarang kamu bangun terus siap-siap, nanti pas di bawah aku kasih hadiah.”

Tanpa memberikan kesempatan pada Rintarou untuk memproses, Osamu mengerling penuh arti sebelum bangkit lalu ikut menghilang di balik pintu. Rintarou baru mengerjap sekali ketika ada teriakan kencang yang terdengar dari lantai bawah.

“Papaaaa!! Susunya tumpaaah!!”


“Ayah ih, mukanya masih keliatan ngantuk!”

Rintarou hanya meringis saat mendengar tuduhan anak lelakinya yang kini tengah memeriksa hasil video mereka. Perintahnya sederhana— hanya perlu menyanyikan lagu kemerdekaan sebagai pengganti upacara bendera yang kali ini tidak bisa diadakan akibat pandemi.

Tapi yang membuatnya heran, kenapa juga orang tua harus ikut dilibatkan?

Osamu yang baru kembali dari toilet, ikut melirik layar kamera dari belakang bahu anak mereka.

“Ah, itu mah emang wajah Ayah kamu aja selalu begitu.”

Anaknya terkekeh dengan kaki yang terayun-ayun dari atas kursi. Tingginya yang belum seberapa untuk ukuran anak kelas lima sekolah dasar, membuat telapaknya belum bisa menyentuh lantai. Rintarou ingin melontarkan protes, namun pemandangan Osamu dan anak mereka yang sedang asyik mengejek wajah kantuknya justru menimbulkan seulas senyum.

Padahal, keduanya baru menghabiskan dua tahun bersama Takeshi— anak angkat mereka.

Dan keputusan mengadopsi Takeshi harus melalui berbagai pertimbangan— mulai dari biaya hingga respons anggota keluarga.

Tak disangka, Atsumu lah yang mendukung ide itu pertama kali.

“Gue dukung!! Biar nanti keponakan gue itu bisa diajarin main voli!”

Tidak hanya Atsumu, setelahnya pun dukungan terus datang hingga akhirnya mereka yakin dengan keputusan tersebut. Rintarou sendiri tidak begitu ingat bagaimana awal ide itu tercetus, tapi yang jelas, Osamu sering mengeluh kesepian setiap ditinggal lembur oleh sang suami.

“Kamu sebenernya nikah sama siapa, sih? Aku atau kerjaan?”

“Kamu, sayang...”

“Terus kenapa lembur terus?”

Malam itu, tak biasanya Osamu menungguinya di ruang tengah sampai pulang kerja. Padahal jarum jam sudah hampir menunjukkan pukul dua pagi, tapi sang suami malah berkacak pinggang selagi menyambutnya di depan pintu.

Rintarou yang sudah tak memiliki tenaga lagi untuk meladeni keluhan suaminya, hanya diam sembari melepas sepatu dan jaketnya yang tak lagi menguarkan aroma parfum. Ia hanya ingin cepat-cepat berganti baju lalu tidur.

“Lagi ada proyek besar di kantor, Sam... kan kamu udah aku kasih tau minggu kemaren.”

“Iya, tapi apa sepenting itu sampe harus lembur hampir setiap hari? Nanti kalau kamu sakit gimana, Rin? Kan kamu juga yang bakal repot!”

“Sebentar lagi selesai, kok... Jadi kamu nggak usah nungguin aku sampe jam segini lagi. Bukannya kamu juga udah sibuk ya di toko?” Rintarou berusaha melunakkan suaminya dengan segala cara. Sesungguhnya ia hanya ingin memeluk pria itu untuk melupakan rasa letihnya. Bukannya terlibat dalam argumen rumah tangga klasik di tengah malam seperti ini.

“Sebentar laginya kamu tuh kapan? Aku balik dari toko juga kamu tetep nggak ada di rumah. Sepi tau sendirian di sini! Dikira enak apa? Tau gitu mending sekalian aja aku numpang di rumah Tsumu.”

“Kalau gitu, kita adopsi anak aja gimana?”

Pertanyaan itu terlontar tanpa aba-aba. Bahkan Rintarou ikut terkejut dengan ucapannya sendiri. Namun saat dilihatnya ekspresi Osamu, ucapan asal itu malah berkembang menjadi sebuah tekad.

“Biar kamu nggak sendirian lagi di rumah kalau aku lagi lembur. Sama... yah, mungkin emang udah saatnya? Kayaknya seru punya anak.”

Osamu mendelik ke arahnya. Mungkin “seru” bukan kata yang tepat dalam mendeskripsikan sesuatu yang agaknya cukup krusial dalam kehidupan berumah tangga. Tetapi bayangan rumah mereka diisi oleh suara anak kecil entah kenapa memang tervisualisasi sangat menyenangkan di kepalanya.

Dan di sinilah mereka sekarang— tiga orang dengan kepribadian berbeda namun disatukan dalam silabel keluarga.

“Sayang ya, coba nggak ada pandemi, pasti ada lomba-lomba di lapangan belakang sore nanti,” ujar Osamu, berhasil memecah lamunannya.

“Papa dulu suka ikut lomba? Pernah menang nggak?” tanya Takeshi yang sudah melupakan kamera digital di tangannya dan langsung menaruh atensi dalam pembicaraan tersebut. Rintarou ikut mendengarkan seraya menyesap kopinya yang sudah dingin.

“Pernah, dong. Terus nanti kalau Papa menang, Om kamu pasti marah-marah.”

Takeshi tertawa— mungkin membayangkan wajah kekesalan Om Atsumu-nya begitu dikalahkan oleh saudara kembarnya sendiri. Rintarou sendiri tidak sulit membayangkan karena Atsumu memang memiliki jiwa kompetitif tinggi, bahkan untuk hal-hal sederhana.

“Kalau Ayah? Pernah menang lomba juga, nggak?” Sang anak kini mengalihkan perhatian ke arahnya yang sedari tadi hanya membisu. Rintarou meletakkan gelasnya di atas meja sebelum menjawab ringan.

“Pernah, dong.”

“Oh, ya? Lomba apa?”

“Lomba menangin hati Papa kamu.”

Yang disebut secara implisit refleks terbatuk keras. Wajah pria itu memerah— entah akibat tersedak saliva sendiri atau menahan malu. Rintarou hanya tersenyum kecil sedangkan anaknya menatap bingung Osamu.

“Papa kenapa? Mau diambilin minum?” tanya Takeshi dengan wajah polos penuh kekhawatiran.

“Ng-nggak usah. Papa nggak apa-apa, kok. Kamu ke atas aja gimana? Ini tugasnya udah selesai, kan? Nanti tinggal dikirim ke guru?” jawab Osamu yang sepertinya sudah berhasil menguasai diri. Tangan pria itu mengusap lembut rambut anak mereka meski netra sang suami melirik jengkel ke arahnya.

“Okay!” jawab anaknya tanpa kecurigaan sedikit pun. Rintarou mengacak surai hitam Takeshi yang dibalas dengan gerutuan sebelum anak itu bangkit dan menaiki tangga diikuti bunyi DUK DUK DUK sama yang telah membangunkannya tadi pagi.

Begitu memastikan keadaan sudah aman, Rintarou kembali menghadap ke depan. Osamu ternyata sudah menatapnya dari tadi dengan sebelah alis yang terangkat tinggi sampai hampir tertutup poni.

“Lomba di RT mana tuh? Kok aku baru denger?”

Rintarou memperlihatkan cengiran lebarnya. Mendadak, rasa kantuk dan keinginan untuk kembali ke atas kasur menghilang. Mungkin lebih baik ia memanfaatkan hari libur ini dengan seseorang yang spesial.

“Kamu emang nggak tau atau pura-pura nggak tau? Bisa pacaran sama kamu aja tuh udah kayak menang lomba masukin paku ke dalem botol, tau nggak? Susah banget! Banyak saingannya!”

Osamu mencibir meski senyum terpatri tidak hanya di bibir, tapi juga di balik bayangan obsidiannya.

“Tapi hadiahnya worth it, kan?”

“Kalau nggak worth it, aku mana mungkin nikah sama kamu— eh!” Rintarou menegakkan badan, lantas menjetikkan jari. “Hadiahnya mana? Katanya mau ngasih aku hadiah?”

“Nih, hadiahnya,” balas Osamu sembari mendorong piring berisi nasi kepal yang ditancapkan bendera-bendera kecil di atasnya— sarapan pagi mereka.

“Osamu, sayang, aku tau kamu emang paling jago bikin nasi kepal kayak gini. Terbaik pokoknya. Nggak ada yang bisa ngalahin. Tapi aku udah rela bangun pagi-pagi, masa hadiahnya ini doang?” rajuknya dengan bibir yang dikerucutkan layaknya anak kecil. Tangannya sudah gatal ingin menarik suaminya itu ke pelukan, tapi ia menunggu sampai Osamu sendiri yang menghampiri.

Untungnya, harapannya itu langsung didengarkan Tuhan dan dikabulkan. Pasti balasan atas sikap “suami penurut”nya hari ini.

Osamu bangkit dari duduk bersamaan dengan Rintarou yang menggeser posisinya sedikit hingga suaminya itu bisa duduk nyaman di atas pangkuannya. Seperti muscle memory, tangannya lantas melingkar nyaman di pinggang pria itu.

“Cium juga, dong.”

“Ih, banyak mau.”

Meski begitu, tak sampai sedetik kemudian bibirnya bersentuhan lembut dengan milik sang suami. Ada rasa kopi bercampur mint dalam pagutan lambat tersebut. Bukan tipe ciuman yang dilakukan terburu-buru setiap pagi sebelum Rintarou berangkat kerja, atau lumatan panas yang saling mengejar deru napas di bawah selimut dalam malam-malam penuh kerinduan. Ini tipe ciuman yang paling disukainya karena ia bisa merasakan Osamu secara utuh. Hangat, manis dan mengingatkannya akan rumah.

Osamu adalah rumahnya. Selalu. Dan tidak akan tergantikan.

Jadi mana mungkin Rintarou tidak bersyukur karena telah memenangkan lomba untuk memiliki hati pria itu?

“Samu,” bisiknya pelan di depan bibir suaminya. Mereka mengambil jarak beberapa inci untuk memasok oksigen yang sempat habis.

“Hm?” Osamu bergumam singkat. Tangan pria itu melingar semakin erat di sekitar lehernya sebagai upaya mengikis jarak. Rintarou menundukkan kepalanya sedikit untuk menghidu aroma favoritnya— campuran deterjen, sabun peppermint, juga wangi Osamu sendiri. Ia menggerakkan hidungnya naik turun secara perlahan di sepanjang leher jenjang suaminya sampai Osamu bergidik kecil di pangkuannya.

“Hadiahnya boleh dilanjut nanti malem lagi, nggak?”

Dan jawaban dari pertanyaannya ia terima dalam bentuk sentilan pelan di kening serta tawa berderai milik sang suami.

Rintarou rela mengikuti sebanyak apa pun lomba asalkan tawa pria itu yang menjadi hadiahnya.


@fakeloveros

Punya hobi kuliner itu wajar. Ingin mencicipi berbagai rasa makanan dari restoran itu bukan hal yang aneh, terlebih lagi hidangan dari kota lain yang bukan domisili.

Tapi Rintarou mengangkat satu alisnya tinggi-tinggi saat Osamu mengajaknya kuliner di setiap kantin fakultas yang ada di universitasnya.

Padahal Rintarou sendiri sudah datang jauh-jauh dari Bandung ke kota yang letak mataharinya berada satu jengkal di atas kepala. Tak ada maksud lain selain mengunjungi Osamu yang berkuliah di kota beda langit tersebut sebelum mereka sama-sama disibukkan dengan skripsi dan sidang.

Rintarou pikir, dirinya akan diajak mencicipi kuliner khas kota Depok, tapi yang ia dapatkan malah makanan khas mahasiswa dari empat belas fakultas.

“Ini serius? Gue jauh-jauh ke sini malah diajakin makan makanan kantin?”

Osamu hanya tersenyum lebar— membuat perawakan pria itu terlihat lebih tampan meski matahari yang bersinar terik menghadirkan peluh dari kedua pelipisnya. Rintarou menatap lama tanpa sadar sampai suara si surai yang lebih terang itu membuatnya kembali menapak bumi.

“Serius, Rin. Itu salah satu keinginan gue sebelum lulus. Nyicipin makanan di setiap kantin fakultas.”

“Kalau gitu kenapa gak dari dulu-dulu aja pas lo baru masuk kuliah? Ngapain ngajaknya pas gue main ke sini?” tanya Rintarou, sedikit tak paham dengan logika pria bermarga Miya tersebut.

Namun yang ditanya hanya mengedikkan bahu dan menjawab santai.

“Ya, gue maunya sama lo. Emang kenapa? Nggak boleh?”

Boleh banget kok, Samu.

Tapi hanya dijawab dalam hati karena hubungan mereka belum sampai situ.

Seandainya Rintarou bisa mengalahkan rasa takutnya, mungkin dengan gaya sedikit picisan dia akan bertanya, sebenernya hubungan kita mau dibawa ke mana sih, Sam? Ke Depok? Ke Bandung? Atau nggak ke mana-mana? Apa sinyal gue selama ini belum jelas? Apa gue kurang ngegas?

Pertanyaan yang sama terus berulang-ulang hingga Rintarou lelah sendiri dan akhirnya menikmati situasi dan kondisi yang ada. Atsumu, saudara kembar dari pria yang ia tambatkan rasa pujanya, terus-terusan mengejek bahwa dirinya ternyata orang yang cepat menyerah. Namun ledekan yang lebih tajam pria itu layangkan pada saudara kembarnya sendiri.

“Si Samu emang goblok. Nggak peka. Tipe yang harus dikasih tau di depan muka, baru tuh anak sadar.”

Begitu ucap Atsumu di suatu malam ketika Rintarou baru saja saling berbalas pesan dengan subjek yang dibicarakan. Baginya, isi pesannya malam itu cukup agresif— mungkin akibat rasa frustrasinya yang sudah berada di ambang batas. Namun ketika Osamu menanggapinya dengan sikap yang biasa, kekecewaan melandanya seperti ombak yang menembus pinggir pantai. Lalu tanpa berpikir panjang, ia langsung berkonsultasi dengan Atsumu.

Sungguh keputusan yang salah karena ucapan pria itu malah semakin menjatuhkan harapannya.

“Lagian kenapa sih, lo nggak langsung nembak dia aja?” tanya Atsumu begitu dua menit berlalu dalam keheningan. Mungkin Atsumu menaruh iba juga padanya. Akhirnya.

“Gue takut... dia cuma nganggap gue sebagai temen,” jawab Rintarou sepelan mungkin— berharap Atsumu tak mendengarnya sehingga ia tak perlu tenggelam dalam rasa kecewa pada dirinya sendiri.

“Kalau belum dicoba mana tau.”

Masalahnya, niat untuk mencoba itu selalu terkubur kembali dalam-dalam setiap Rintarou berkunjung dan bertemu Osamu secara face-to-face. Osamu akan menyambutnya dengan senyum cerah. Pelukan akrab yang langsung menginvasi indra penciumannya dengan parfum aroma musk bercampur matahari dan keringat. Serta sapaan familier yang hanya ditujukan padanya.

Rintarou tidak ingin kehilangan itu semua.

“Ya udah deh, ayo. Mau fakultas mana dulu?”

Ujung-ujungnya, pola yang sama akan terulangi. Ia akan ikut tersenyum seolah sentuhan ringan di tangan atau rangkulan di bahu dari Osamu tak membuat jantungnya memompa dua kali lebih cepat atau semburat di pipinya muncul akibat sinar matahari yang terlalu terik.

Kata orang, practice makes perfect.

Tapi kenapa semakin hari topengnya justru semakin retak?


“Kalau di sini, satenya yang juara.”

Rintarou hanya mengangguk-angguk selagi mereka berdua menempati salah satu meja panjang di kantin dengan dominan warna cokelat tersebut. Jam makan siang yang sudah lama lewat membuat suasana kantin fakultas ekonomi itu cukup lengang.

“Lo bias nggak, sih? Ini kan fakultas lo,” tuduh Rintarou sementara menunggu pesanan mereka tiba.

“Enak aja! Beneran, kok!”

Rintarou mengangkat sudut bibirnya— merasa terhibur dengan ekspresi galak milik Osamu yang jarang diperlihatkan. Bisakah ia menganggap ini sebagai privilege?

“Rin.”

Suara Osamu tiba-tiba berubah— terdengar lebih serius. Pria itu pun mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. Membuat Rintarou agak kewalahan sebelum berusaha menguasai diri.

“Apa?”

“Selama di kampus lo, udah pacaran sama berapa orang?”

Rintarou bersyukur es teh manis yang mereka pesan belum datang dan melewati kerongkongannya. Karena kalau sudah, dirinya pasti sedang tersedak heboh sekarang.

“Kenapa tiba-tiba nanya gitu?” tanyanya balik dengan nada defensif. Tidak biasanya Osamu menanyakan hal kelewat pribadi seperti ini.

“Kepo aja,” jawab pria itu singkat dengan binar tak terbaca.

“Kalau gitu lo dulu. Lo udah berapa kali pacar—”

“Nggak ada. Nol. Zero.”

Bukannya lega, Rintarou malah memicingkan mata dengan curiga.

“Aneh banget lo tiba-tiba nanya soal beginian. Biasanya paling anti.”

Namun saat didapatinya gestur Osamu tak berubah— masih menatapnya dengan pandangan tak terbaca, juga tanpa bergerak seincin pun dari tempatnya, akhirnya Rintarou menghela napas pasrah.

“Gue juga nggak ada. Nol. Zero.”

“Kenapa? Pasti banyak yang naksir lo, kan, di sana?”

“Nggak banyak lah, tapi ada. Cuma gue...” udah suka duluan sama lo.

“Apa?” tagih Osamu dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu.

“Kepo banget, sih!” Rintarou akhirnya merasa jengah hingga ia pun memalingkan muka. Meski hanya sisi wajahnya yang menghadap ke arah pria itu, ia tetap bisa merasakan tatapan lekat Osamu yang tak biasanya sampai membuat gugup seperti ini.

“Kok lo nggak nanya gue?”

Rintarou refleks kembali menoleh. Netranya bertemu dengan obsidian gelap yang seolah menantangnya tanpa suara.

Dan Rintarou menurut bak gayung bersambut.

“Kenapa lo nggak punya pacar selama di sini?”

“Soalnya gue udah suka sama orang lain.”

Lantas, reaksi apa yang Osamu harapkan darinya? Kaget? Itu sudah pasti. Sedih? Jangan ditanya lagi. Kecewa? Yang ada, perasaan itu justru bertambah kuat.

Tapi, harapan?

Untuk yang satu itu Rintarou masih belum berani. Jadi ia hanya mengatupkan bibir rapat-rapat tanpa berusaha bertanya lebih jauh siapa orang beruntung yang disukai temannya itu. Kalau ternyata memang bukan dirinya, mungkin dia akan nekat kembali ke Bandung malam ini juga.

“Lo kok nggak penasaran sih, orangnya siapa?” Lagi-lagi suara Osamu menyela lamunannya. Nada pria itu kini terdengar kesal, bahkan sedikit merajuk. Namun Rintarou yang sudah terlanjur jatuh suasana hatinya, hanya mendengus sembari melengos ke arah lain.

“Kalau dikasih tau juga gue nggak bakal kenal orangnya. Pasti anak sini, kan?”

Dari sudut matanya, ia menangkap gerakan mulut Osamu yang seolah akan menjawab. Namun perbincangan keduanya terpaksa dipotong oleh suara pemuda yang membawakan pesanan mereka.

Kata Osamu, sate di fakultas ekonomi lah yang paling enak.

Tapi bagi Rintarou, itu sate terhambar yang pernah menyentuh indra perasanya.


“Osamu? Ada angin apa tiba-tiba makan di sini?”

Terdengar sapaan dari suara laki-laki yang dalam sekejap langsung menghentikan perdebatan mereka dalam menentukan menu makan siang hari itu— soto atau rawon.

“Eh? Komori? Lah, lo sendiri ngapain di sini?”

Orang yang dipanggil dengan nama Komori lantas menatap Osamu seakan ada dua kepala tumbuh di badan pria itu.

“Soalnya ini fakultas gue?” jawab Komori dengan nada datar sementara Osamu hanya terkekeh pelan. Netra sang pria asing lantas bergulir ke arahnya diikuti tanda tanya dalam sunyi.

“Oh, ini temen gue dari luar kota. Lagi main ke sini sebelum sidang, sama kayak kita.”

Osamu mengenalkannya singkat. Cepat. Bahkan Osamu seperti sengaja tidak menyebutkan namanya.

Rintarou hanya menatap dengan bingung sementara pria bernama Komori itu mengangguk-angguk tanpa suara. Namun matanya meneliti Rintarou seolah mengetahui sesuatu.

“Eh, aduh, tiba-tiba kebelet gue. Bentar ya, Rin, gue ke toilet dulu. Pesen makannya nanti, tunggu gue balik!!”

“Iyaa, bawel. Cepetan sono!”

“Awas, loh!”

Lalu tanpa menunggu aba-aba, Osamu bangkit dan dengan terbirit-birit menghilang di sudut kantin sehingga meninggalkan Rintarou dan Komori dalam kecanggungan.

Padahal bisa saja tidak jadi canggung kalau pria asing itu langsung pamit pergi. Namun yang mengejutkam Rintarou, pemilik surai cokelat terang itu malah mengambil tempat di hadapannya dan menilik lekat seakan dirinya teka-teki yang akhirnya terpecahkan.

“Nama lo Suna Rintarou, bukan?”

Atau mungkin, Komori ternyata adalah seorang cenayang.

“Kok tau?” jawabnya curiga. Tangannya bersiap mengambil dompet Osamu yang tergeletak begitu saja di atas meja— khawatir kalau ternyata pria itu penghipnotis ulung dengan kedok mahasiswa.

“Oh, ternyata bener? Berarti lo orang yang ditaksir Osamu, dong!”

Apa?

Rintarou yakin ia salah dengar, atau Komori berbicara dalam bahasa ilmu alam yang tak dimengertinya karena mereka sedang berada di FMIPA.

Yang jelas, otaknya sulit memproses kalimat yang barusan didengarnya.

“Tadi lo… ngomong apa? Maaf?”

Komori terlihat tengah menimbang-nimbang sebelum mengedikkan bahu dengan gaya tak peduli— seakan kata-kata pria itu setelah ini tidak akan menjadi penentu hidup dan mati dari seorang Suna Rintarou.

“Nggak, soalnya Osamu sering banget koar-koar kalau dia sebelum lulus bakalan nyicipin makanan di setiap fakultas sini sama orang yang dia suka. Dia sering main ke banyak fakultas, tapi setiap diajakin makan di kantinnya pasti bakal langsung nolak. Terus dia pernah keceplosan nyebut nama orang yang bakal dia ajak kuliner kantin fakultas. Tadi gue nebak-nebak aja sebenernya, cuma karena dia nggak pernah bawa orang lain ke sini, jadi yaah… asumsi gue orangnya itu lo.”

Sulit. Rentetan kalimat tersebut terlalu sulit diterima untuk dirinya yang bahkan berasal dari jurusan sastra. Ia hanya bisa mengerjap dan menatap kosong permukaan meja yang penuh coretan— nyaris tidak memedulikan panggilan Komori yang terdengar semakin jauh. Barulah saat satu suara familer masuk ke gendang telinganya, Rintarou memfokuskan pandangan.

“Kenapa lo, kok ngelamun? Terus itu si Komori kenapa langsung kabur? Kalian habis ngomongin apaan?”

Rintarou menatap Osamu. Benar-benar menatapnya sampai si lawan bicara merasa jengah dan sedikit mengalihkan atensi ke arah lain.

Ke mana saja dia selama ini sehingga baru menyadari bahwa semburat itu selalu ada di sana saat dia tanpa sadar menatap lekat sang empunya? Apakah dia terlalu terbutakan oleh ketakutan dan kekhwatirannya sendiri sehingga tak pernah menyadari perasaan gamblang milik Osamu?

Anjir. Ternyata gue juga nggak peka orangnya. Rintarou mengutuk dalam hati.

“Sam,” panggilnya pelan. Mendadak, rasanya sungguh sulit untuk menahan cengiran lebar yang sudah berada di ujung bibirnya.

“Apa?”

“Nanti kalau kita udah lulus, gantian ya, lo yang ke Bandung.”

Osamu mencibir dengan kedua bola mata yang dirotasikan.

“Kenapa? Lo mau bales dendam ngajak gue kuliner di kantin kampus lo?”

“Bukan, tapi gue pernah baca di internet, ada satu kafe yang bagus banget buat dijadiin tempat ngungkapin perasaan ke orang yang disuka. Jadi gue mau ngajak lo ke sana nanti.”

Osamu membeku dengan mata yang terbeliak lebar. Wajah pria itu berubah— dari pucat pasi ke merah yang hampir setara dengan kepiting rebus.

Rintarou hanya tertawa sementara perlahan meraih tangan Osamu yang ikut membeku di atas meja. Kepalnya ia buka sampai jemari mereka bisa ditautkan dengan pas— seperti potongan puzzle yang saling melengkapi.

“Jadi, mau pesen apa kita sekarang? Soto atau rawon?”

Fin


@fakeloveros

Iwaizumi sebenarnya paling malas kalau ada jadwal rapat yang melibatkan seluruh ketua BEM fakultas di kampus mereka.

Bukan karena tempat rapatnya yang jauh. Bukan juga karena jam pulangnya terpaksa jadi lebih sore atau bahkan malam. Bukan, bukan itu.

Setelah memarkirkan motornya, Iwaizumi dengan malas-malasan menaiki undakan menuju pekarangan kecil tempat banyak orang sudah berkumpul. Rapat memang baru akan dimulai sekitar 15 menit lagi, jadi mungkin mereka masih menunggu orang-orang yang belum hadir. Beberapa langsung menyapanya, walau ada satu orang yang hanya meliriknya sekilas lalu memalingkan muka seolah kehadirannya dianggap angin lalu.

Iwaizumi mendengus pada dirinya sendiri— berharap rapat yang belum dimulai ini agar segera berakhir.

“Woy, baru dateng lo?”

Suara baru yang menyapa cukup untuk mengalihkan atensinya ke tempat lain. Langsung saja ada lengan kokoh yang merangkulnya akrab disertai seulas senyum lebar menginvasi indra penglihatannya. Kuroo seperti menyadari mood-nya yang sedang jelek karena temannya itu lantas menggulirkan obsidian ke arah satu titik yang sama.

“Padahal udah berapa lama, tapi aura ngajak ributnya selalu ada, ya,” komentar Kuroo pelan begitu mengembalikan netra ke arahnya yang hanya memutar kedua bola mata.

“Aura buat bunuh gue sih, lebih tepatnya.”

Kuroo mencibir.

“Emang deh, orang yang cemburuan tuh serem banget! Padahal...” Kuroo menunduk sedikit untuk berbisik pelan agar tidak ada yang mendengar. “Lo sama Oikawa kan udah putus, ya?”

Bagus. Bukan malah menghiburnya, Kuroo malah melemparkan fakta itu di depan wajahnya seolah selama ini ia buta akan perubahan status dirinya dengan nama pria yang disebutkan tadi.

“Btw, tuh orang udah tau belum sih, lo berdua udah putus?”

Iwaizumi baru membuka mulut untuk menjawab, namun sudah ada suara lain yang menyela obrolan privat mereka.

“HEY, HEY, HEEEY~ IWAIZUMI! KUROO!”

Keduanya bahkan tidak perlu menoleh untuk mencari tahu siapa pemilik suara menggelegar tersebut.

Bokuto, dengan langkahnya yang besar-besar, langsung menghampiri keduanya dan menjatuhkan tepukan kuat di bahu masing-masing. Iwaizumi hanya mampu meringis selagi memperhatikan Kuroo dan Bokuto yang sudah melakukan high five dalam gerakan-gerakan aneh.

“Gila! Sok sibuk banget sih! Masa kita cuma bisa ketemu kalau ada rapat BEM doang?!” Bokuto berseru sambil menatap keduanya secara bergantian. Temannya yang berasal dari fakultas hukum itu tak menurunkan oktaf suaranya sedikit pun sehingga banyak orang yang kini memperhatikan mereka. Tapi semua yang ada di sana sudah tahu betul kepribadian Bokuto yang meledak-ledak hingga tak ada lagi yang merasa terganggu. Iwaizumi pun sudah terbiasa, meski sifat dan perilaku pria itu sangat bertolak belakang dengannya.

“Lo kali yang sibuk. An