ii. they said jealousy is like drinking poison and waiting for the other person to die
Iwaizumi sebenarnya paling malas kalau ada jadwal rapat yang melibatkan seluruh ketua BEM fakultas di kampus mereka.
Bukan karena tempat rapatnya yang jauh. Bukan juga karena jam pulangnya terpaksa jadi lebih sore atau bahkan malam. Bukan, bukan itu.
Setelah memarkirkan motornya, Iwaizumi dengan malas-malasan menaiki undakan menuju pekarangan kecil tempat banyak orang sudah berkumpul. Rapat memang baru akan dimulai sekitar 15 menit lagi, jadi mungkin mereka masih menunggu orang-orang yang belum hadir. Beberapa langsung menyapanya, walau ada satu orang yang hanya meliriknya sekilas lalu memalingkan muka seolah kehadirannya dianggap angin lalu.
Iwaizumi mendengus pada dirinya sendiri— berharap rapat yang belum dimulai ini agar segera berakhir.
“Woy, baru dateng lo?”
Suara baru yang menyapa cukup untuk mengalihkan atensinya ke tempat lain. Langsung saja ada lengan kokoh yang merangkulnya akrab disertai seulas senyum lebar menginvasi indra penglihatannya. Kuroo seperti menyadari mood-nya yang sedang jelek karena temannya itu lantas menggulirkan obsidian ke arah satu titik yang sama.
“Padahal udah berapa lama, tapi aura ngajak ributnya selalu ada, ya,” komentar Kuroo pelan begitu mengembalikan netra ke arahnya yang hanya memutar kedua bola mata.
“Aura buat bunuh gue sih, lebih tepatnya.”
Kuroo mencibir.
“Emang deh, orang yang cemburuan tuh serem banget! Padahal...” Kuroo menunduk sedikit untuk berbisik pelan agar tidak ada yang mendengar. “Lo sama Oikawa kan udah putus, ya?”
Bagus. Bukan malah menghiburnya, Kuroo malah melemparkan fakta itu di depan wajahnya seolah selama ini ia buta akan perubahan status dirinya dengan nama pria yang disebutkan tadi.
“Btw, tuh orang udah tau belum sih, lo berdua udah putus?”
Iwaizumi baru membuka mulut untuk menjawab, namun sudah ada suara lain yang menyela obrolan privat mereka.
“HEY, HEY, HEEEY~ IWAIZUMI! KUROO!”
Keduanya bahkan tidak perlu menoleh untuk mencari tahu siapa pemilik suara menggelegar tersebut.
Bokuto, dengan langkahnya yang besar-besar, langsung menghampiri keduanya dan menjatuhkan tepukan kuat di bahu masing-masing. Iwaizumi hanya mampu meringis selagi memperhatikan Kuroo dan Bokuto yang sudah melakukan high five dalam gerakan-gerakan aneh.
“Gila! Sok sibuk banget sih! Masa kita cuma bisa ketemu kalau ada rapat BEM doang?!” Bokuto berseru sambil menatap keduanya secara bergantian. Temannya yang berasal dari fakultas hukum itu tak menurunkan oktaf suaranya sedikit pun sehingga banyak orang yang kini memperhatikan mereka. Tapi semua yang ada di sana sudah tahu betul kepribadian Bokuto yang meledak-ledak hingga tak ada lagi yang merasa terganggu. Iwaizumi pun sudah terbiasa, meski sifat dan perilaku pria itu sangat bertolak belakang dengannya.
“Lo kali yang sibuk. Anak hukum bukannya mau ngadain event?” balas Kuroo dengan kedua tangan terlipat di depan dada— terlihat tak terima karena dikatai “sok sibuk”.
Bokuto mengibaskan tangan dengan wajah santai. “Yaelah, apa gunanya jadi ketua BEM kalau nggak bisa nyuruh anak buah?”
“Kata gue juga udah lo santet itu pasti anak-anak hukum. Orang bener mana yang bakalan milih lo jadi ketua?”
Bokuto hanya tertawa mendengar balasan Kuroo. Namun tak lama, netranya melirik ke sana kemari seolah mencari sesuatu.
“Eh, Iwaizumi, pacar lo mana? Kok tumben nggak keliatan? Biasanya ngintilin lo juga ke sini.”
Gawat.
Iwaizumi tidak perlu melirik ke depan untuk mengetahui bahwa Ushijima kini sudah ikut memperhatikan mereka. Atau lebih tepatnya, mendengarkan percakapan mereka.
Tidak heran— karena setiap nama mantan pacarnya disebut, telinga pria itu pasti langsung berdiri layaknya antena TV.
Dan Iwaizumi hampir melupakan fakta bahwa bisa saja Bokuto masih belum mengetahui soal putusnya dengan Oikawa semenjak dua minggu yang lalu.
Tetapi Iwaizumi tidak ingin berbohong di depan temannya, apalagi salah satu teman dekatnya.
Jadi, kata-kata itu keluar seperti racun yang dimuntahkan.
“Gue sama Oikawa udah putus.”
Pekarangan itu kecil. Hanya beberapa petak. Jadi tidak heran apabila jawabannya menggema di udara terbuka yang ada. Keheningan pun menyusul setelahnya. Bukan hanya dari Bokuto yang terlihat terkejut, tapi juga dari beberapa mahasiswa yang mengetahui soal hubungannya dengan sang mantan pacar.
Tapi yang menusuknya lebih tajam adalah tatapan dari Ushijima.
Dan Iwaizumi tahu, setelah ini, dirinya tidak mungkin tinggal diam.
Sorry for the loooong delay, hahaha. Karena dari kemaren ngejar Soulmate dulu biar cepet tamat hehehe but now I'm free! So let's go back to this story!~
@fakeloveros