The Echoes of Love
“Hajime, ini beneran alamatnya? Kamu nggak salah kirim?”
Terdengar suara langkah kaki dari seberang sambungan sebelum pertanyaannya dijawab ringan.
“Nggak, Tooru, beneran itu alamatnya. Kamu udah sampai, ya?”
“Udah, sih…” Netranya melirik ke depan, lantas mengira-ngira dalam hati terdiri dari berapa lantai bangunan tinggi besar yang menjulang di hadapannya. “Tapi bukannya kita mau dinner? Kenapa kamu malah ngajak makan di sini?”
Karena di sini yang dimaksud Oikawa adalah sebuah bangunan tinggi hotel megah yang terletak di pusat kota. Siapa pun pasti mengetahui nama hotel tersebut. Pernah ia tidak sengaja membaca di internet, menghabiskan semalam di sana saja harus merogoh kocek sebesar—
“Makanan room service-nya enak. Aku lagi pengen makan di sini,” balas kekasihnya cepat, seakan ingin segera mengalihkan topik atau mencegah protes berkepanjangan dari Oikawa. “Kamu mau aku jemput di bawah?”
“Nggak usah, aku naik sendiri aja. Lantai 21, kan?”
“Iya, nanti di resepsionis tinggal bilang aja namaku. Udah aku reserved, kok.”
Setelah mengucapkan salam perpisahan singkat, Oikawa mengantungi gawainya kembali lalu menghela napas. Matanya memicing curiga ke arah pintu yang terlihat tak kalah besar dan mewah dengan interior luar gedung tersebut. Ada penjaga yang memakai jas hitam dengan badan tinggi besar di depan pintunya. Awalnya Oikawa sempat ragu, namun ternyata kedua pria yang lebih terlihat seperti bodyguard itu memperbolehkannya masuk dengan ramah.
Setelah menyebutkan nama Iwaizumi Hajime ke resepsionis, dirinya langsung diperbolehkan untuk naik setelah sebelumnya menolak untuk diantarkan. Rasanya berlebihan jika harus ditemani seseorang menaiki lift, padahal ia sendiri tidak membawa apa-apa.
Oikawa datang hanya membawa diri, dompet dan handphone. Penampilannya pun sederhana karena ia pikir Iwaizumi memberikan alamat restoran biasa dan bukannya hotel megah.
Mau tak mau, Oikawa merasa sedikit curiga.
Sesampainya di lantai 21, tidak sulit menemukan nomor kamar yang telah diarahkan sang resepsionis. Baru tangannya terangkat untuk mengetuk, pintu yang ada di hadapannya sudah dibukakan lebih dulu.
Lantas wajah Iwaizumi muncul menyambutnya ditemani seulas senyum lebar.
“Hei, sini masuk.”
Oikawa mengikuti pria itu dan membiarkan pintu di belakangnya tertutup secara otomatis. Keadaan di dalam kamar ternyata cukup gelap karena Iwaizumi hanya menyalakan lampu tidur di atas nakas dengan tirai yang tersingkap utuh sehingga memperlihatkan pemandangan malam kota Tokyo. Mobil-mobil yang masih mengisi jalanan terlihat seperti berlian-berlian kecil yang berkedap-kedip. Namun dari dalam tidak terdengar suara bising perkotaan karena kamar itu pastilah kedap suara.
Barulah atensinya mengarah pada sang kekasih.
“Kenapa kita makan di sini?”
Padahal ia sudah menanyakan pertanyaan itu di awal, tapi tetap saja Oikawa ingin memastikan langsung jawaban Iwaizumi. Namun yang ditanya hanya tersenyum dan mengambil tempat di salah satu kursi depan meja yang berada tepat di sebelah jendela besar kamar tersebut. Oikawa pun baru sadar ada sebotol anggur dan dua gelas tinggi yang telah menunggu.
Kecurigaannya pun bertambah.
“Ini pasti ada sesuatu, ya?” tanyanya selagi ikut duduk di depan pria itu. Iwaizumi lagi-lagi hanya mengulum senyum seraya mulai menuangkan anggur tersebut ke masing-masing gelas. “Loh, bukannya habis makan kamu bakal balik ke kantor? Emang nggak apa-apa minum? Katanya mau lembur?”
“Nggak apa-apa kalau sedikit,” jawab Iwaizumi singkat. Oikawa menunggu kelanjutannya, tapi pria itu tidak berkata apa-apa lagi dan langsung menyesap anggur dengan wajah tenang.
“Lupa ya, tolerance kamu ke alkohol kan rendah?” tanyanya lagi dengan kening yang berkerut dalam. Menurutnya, Iwaizumi bersikap sedikit aneh malam ini.
“Ya kalau aku beneran sampai mabuk, tinggal nggak usah balik kerja.”
“Hah?'
TOK TOK
Baru saja Oikawa akan melayangkan pertanyaan kesekian, Iwaizumi sudah keburu bangkit dan berjalan ke arah pintu. Oikawa mengintip dari tempatnya duduk dan ternyata ada yang sedang mengantarkan makanan mereka.
Setelah pengantar makanan itu pergi dan beberapa hidangan mewah sudah tersaji di atas meja, Iwaizumi kembali duduk di hadapannya. Kali ini, Oikawa tidak memberikan kesempatan pada pria itu dan langsung melontarkan ucapan bernada tegas.
“Kalau kamu nggak ngasih tau ini sebenernya ada apa, aku bakal pulang sekarang juga.”
Dengan adanya ancaman itu, barulah Iwaizumi berhenti.
Oikawa menyenderkan tubuhnya ke sandaran kursi dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Netranya menatap serius pria yang tengah membuat ekspresi menimbang-nimbang.
“Oke, sebenernya aku emang mau ngomongin sesuatu...”
Tuh, kan.
Awalnya tidak ada satu pun ide terlintas di benaknya, tetapi begitu memperhatikan ekspresi dan gerak-gerik Iwaizumi yang menjadi sedikit gelisah, Oikawa menegakkan tubuh dan melemparkan pertanyaan pertama yang muncul di otaknya.
“Kamu... bukan mau ngajak putus, kan?”
Wajahnya pasti sudah terlihat memucat sekarang dengan imajinasi liar yang mulai terbayang di otaknya. Apa ini cara Iwaizumi dalam memutuskan hubungan mereka? Mengajaknya ke hotel mewah dan menyogoknya dengan makanan lezat sebelum meninggalkannya? Apa Iwaizumi juga—
“Tooru, nggak, astaga...”
Tahu-tahu Iwaizumi sudah bangkit dan berlutut di sebelah kursinya. Pria itu menarik kedua sisi wajahnya lembut sampai mereka bertatapan. Ada senyum geli yang menghias wajah pria itu.
“Kenapa mikirnya gitu?”
Oikawa menelan saliva. Jantungnya tak lagi memompa dengan gelisah. Namun ia tetap tak bisa menerka apa yang ingin dibicarakan Iwaizumi kalau bukan mengajaknya putus hubungan.
“Soalnya di novel-novel biasanya gitu... cowok gentle bakal ngajak pasangannya dinner mewah dulu sebelum ngajakin putus baik-baik.”
Iwaizumi masih tersenyum geli. Tangan pria itu bergerak pelan mengusap pipinya yang kemerahan akibat menahan malu.
“Berarti aku cowok gentle, ya?”
“Bukan itu intinya...”
Kali ini Iwaizumi tak bisa menahan tawanya lagi. Suara pria itu terdengar memenuhi ruangan sementara Oikawa menatap bingung bercampur sewot.
“Sebenernya kamu mau ngomongin apa, sih?”
“Duduk sini, deh.”
Iwaizumi berdiri dan menarik tangannya agar ikut bangkit lalu dituntun sampai terduduk di pinggir kasur. Mereka duduk bersisian dengan kedua tangannya yang kini digenggam erat. Ekspresi kekasihnya berubah serius di balik bayang-bayang temaram ruangan.
Mendadak, perut Oikawa bergejolak aneh.
“Kamu tau kan... aku nggak pernah pacaran sebelumnya. Awal kita resmi pacaran, aku masih bingung, mana yang sebaiknya aku omongin ke kamu dan mana yang nggak. Apa kalau aku ngelakuin ini kamu bakal seneng, atau justru sebaliknya. Waktu kamu bilang di chat yang soal bosen itu, sebenernya aku kepikiran— gimana seandainya kamu beneran bosen sama aku dan nemuin orang lain yang lebih bisa bikin kamu seneng.”
“Hajime, itu kan cuma—”
“Tapi dari hubungan ini aku juga belajar.” Iwaizumi memotong perkataannya lewat mata— menyuruhnya untuk mendengarkan apa yang ingin pria itu sampaikan lebih dulu. “Kita masing-masing nggak bisa jadi pasangan yang sempurna, yang bisa menuhin ekspektasi orang lain. Dulu pas aku bilang gitu, sebenernya aku sendiri masih bertekad buat jadi pasangan yang sempurna buat kamu. Aku mau buktiin gimanapun caranya. Tapi sekarang... aku bener-bener paham dan mau ngejalanin hubungan versi kita buat waktu yang lebih lama.”
Oikawa mengerjap pelan. Otaknya menyerap rentetan kalimat tersebut dan berusaha mengira apa maksud di baliknya.
Meski sepertinya, ia paham ke mana perbincangan ini mengarah.
“Kamu bilang gini karena aku pacar pertama kamu juga, kan?”
“Aku bilang gini karena kamu bakal jadi satu-satunya pacar aku.” Iwaizumi tersenyum menenangkan, lalu mengangkat tangannya yang masih digenggam. Pria itu menyentuhkan bibir di punggung tangannya dengan lembut dan berbisik di sana. “Tapi, aku mau improvisasi sedikit.”
“Impro...visasi?”
“Kamu tau ini udah masuk tahun ketiga kita pacaran. Kita berdua udah sama-sama lulus dan kerja. Aku udah kenal keluarga kamu, begitu juga sebaliknya. Bahkan Ayahku beberapa hari lalu nanyain kamu lagi sibuk apa sekarang gara-gara udah jarang main ke kantor.”
Oikawa ikut melengkungkan bibirnya mendengar hal tersebut. Padahal awalnya Ayah Iwaizumi masih menatapnya sinis dan penuh ketidakrelaan. Bahkan makan malam pertamanya dengan keluarga Iwaizumi terbilang cukup canggung meski berakhir dengan baik karena kehadiran Kak Yui dan Ibu sang kekasih yang langsung menerima dan memperlakukannya ramah. Butuh waktu berbulan-bulan sampai akhirnya tatapan sinis itu hilang dari pria baya yang telah melahirkan kekasihnya.
“Jadi gimana kalau kita improvisasi? Biar kamu nggak bosen lagi,” lanjut Iwaizumi dengan senyum yang mengulum penuh arti. “Kamu mau nggak—”
“Tunggu sebentar.”
Oikawa refleks menarik tangannya dari genggaman pria itu. Ia meletakkannya di atas jantungnya yang berdegup sangat kencang sembari menarik dan menghembuskan napas berulang-ulang.
“Oke. Aku siap.”
Iwaizumi tertawa rendah, lalu maju untuk menciumnya. Setelah pasokan oksigen di dadanya hampir habis, barulah pria itu melepaskan dan bertanya dengan nada menggoda.
“Kamu mau nggak kalau kita makan dulu?”
“Hah?”
Oikawa tidak begitu ingat apa yang terjadi setelahnya.
Mereka menghabiskan semua hidangan mewah (yang harus ia akui memang luar biasa kelezatannya) ditemani obrolan-obrolan ringan seputar apa pun— kejadian lucu, mengharukan, hal-hal di masa lalu, juga keinginan di masa depan. Meski hubungan mereka memang tidak sempurna, Oikawa merasa mereka sudah jauh lebih mengenal diri masing-masing. Oikawa bahkan akhirnya bisa menertawakan segala pengakuan memalukan Iwaizumi saat mereka masih berpura-pura menjalin hubungan semasa kuliah.
Mungkin setelahnya mereka berdansa diiringi musik yang diputar dari handphone Iwaizumi. Walau gerakan mereka lebih ke bergoyang pelan ke kiri dan kanan secara asal dan berputar tanpa menyesuaikan dengan alunan musik sama sekali.
Begitu keduanya sudah terlalu lelah untuk bergerak, tubuh mereka terjatuh ke atas kasur dengan tawa yang berderai. Namun tawa itu tak berlangsung lama karena bibir mereka langsung sibuk merasai anggur manis yang masih menempel di kedua belah dan lidah masing-masing. Tangan Iwaizumi yang sudah begitu familier, bergerak dan memuja sekujur tubuhnya yang panas sampai mereka kehabisan napas. Hela berat keduanya beradu cepat dan netra mereka bertemu dalam sayang yang tak perlu dideskripsikan lagi melalui kata-kata.
Seandainya di luar terjadi peperangan atau zombie apocalypse sekalipun, sepertinya Oikawa tidak akan menyadari atau bahkan peduli karena intensitas pria yang terus merengkuhnya sepanjang malam lebih membutakan — lebih menenggelamkan — dibanding apa pun. Kalimatnya tak lagi koheren. Otaknya terlalu dipenuhi kabut tebal sehingga yang terpikirkan olehnya hanya nama pria itu. Di akhir, Oikawa meneriakkan nama sang kekasih begitu lantang meski kesadarannya ada di ambang momentum penuh ekstasi.
Namun ada satu hal yang Oikawa ingat.
Setelah mereka kembali menapak bumi dengan tangan dan kaki yang saling bertaut tanpa tahu mana milik siapa, dengan napas yang masih tersengal dan wajah dipenuhi peluh juga senyum merekah, Iwaizumi akhirnya membisikkan hal yang sempat terlupakan (atau dirinya sengaja dibuat lupa karena pria itu terlalu pandai dalam mendistraksinya).
“Kamu mau nggak nikah sama aku?”
Oikawa tidak ingat bagaimana dia menjawab— apakah dengan anggukan berkali-kali atau jawaban “mau” ditemani air mata yang mengalir kelewat deras.
Tapi dia ingat Iwaizumi tersenyum begitu cerah sampai ia yakin matahari akan merasa berdosa keesokan paginya karena telah terbit.
Oikawa ingat Iwaizumi tidak melepaskannya sepanjang malam— terus menghujaninya dengan ciuman lembut di bahu, leher, dan setiap inci kulitnya yang bisa diraih sampai kelopaknya terlalu lelah untuk mengawasi gelap yang semakin terurai.
Tetapi Oikawa juga tidak ingat— kapan Iwaizumi menyematkan cincin perak di jari manisnya yang tidak sengaja ia lihat pertama kali begitu terbangun.
Oikawa menoleh ke samping dan menemukan mata pria itu tengah mengawasinya dalam sunyi. Tangan pria itu terangkat dan meraih jemarinya yang masih mengambang di udara. Matanya mengikuti gerakan Iwaizumi yang begitu perlahan saat menciumi setiap ujung jari hingga ke titik cincin itu melingkar dengan pas seolah memang di situlah tempatnya berada.
Iwaizumi masih belum mengatakan apa pun, tetapi rasanya seolah ada ikatan baru di antara mereka yang membuat Oikawa paham apa yang dirasakan pria itu sekarang. Atau lebih tepatnya, apa yang dikatakan pria itu dalam hati.
Mungkin— terima kasih dan
aku cinta kamu.
@fakeloveros