Tasting Your Love

Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Shinsuke sedang tidak sengaja melamun memperhatikan jalanan yang mulai sepi dari dalam kafe ketika suara pelan Yachi memecah fokusnya.

“Kak, bagian kitchen udah selesai aku beresin.”

Shinsuke menoleh dan menerbitkan senyum kecil. “Oke, makasih ya, Yachi. Kamu pulang sekarang gih, kereta cuma sampai jam 11, kan?”

Yachi mengangguk seraya mulai mengenakan jaketnya yang tersampir di atas counter dekat meja kasir. Netra perempuan itu menatap penuh ingin tahu ke arah sang pemilik kafe yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera beranjak.

“Kakak nggak pulang? Ada lagi kah yang perlu dibantuin?”

“Oh, nggak kok, aku cuma lagi...” Shinsuke mengambil jeda. “Nungguin seseorang.”

Yachi bergumam kecil. Tangan perempuan itu merogoh kantung jaket untuk mengeluarkan handphone berwarna lilac dan menyalakan layarnya sesaat.

“Temen Kakak ada yang mau mampir jam segini?”

Shinsuke menelengkan kepalanya sedikit dengan ekspresi berpikir. Apakah seseorang yang sedang ditunggunya bisa disebut sebagai teman?

Mulutnya ingin menyanggah, tetapi tatapan perempuan dengan perawakan mungil itu pada akhirnya membuatnya mengulas senyum dan mengangguk.

“Iya, temenku ada yang mau dateng.”

“Oooh, oke deh, Kak. Kalau gitu aku balik duluan, ya. Makasih buat hari ini.”

Setelah mengucap salam perpisahan dan melambai kepada salah satu pekerja paruh waktunya, Shinsuke beranjak ke balik counter dan mulai membuat minuman hangat. Malam di pusat kota memang tidak sedingin di pegunungan— seperti rumah neneknya. Pendingin udara di dalam kafe pun sudah ia matikan beberapa sejak tiga puluh menit yang lalu. Namun malam itu tidak sebegitu dinginnya hingga ia memerlukan jaket. Shinsuke hanya berdiri dalam balutan kemeja putih dengan bagian lengan digulung sampai siku. Lehernya memang mulai mengeluarkan sedikit peluh, tetapi Shinsuke sangsi itu akibat udara panas yang mulai merambat.

Setidaknya, Shinsuke bisa membedakan antara keringat akibat kepanasan maupun akibat gugup.

Seakan mengafirmasi jawaban tak terucapkan tersebut, netranya bergulir ke atas dan bertemu pandang dengan pasang mata yang mengawasi dari balik jendela. Shinsuke terlonjak dan nyaris menumpahkan cairan beraroma peach di dalam cangkir yang dipegangnya kalau tidak segera menjaga keseimbangan.

Ada sudut bibir yang terangkat dari pria di seberang sana seolah bersiap menertawai gerak cerobohnya barusan. Namun Shinsuke hanya memutar kedua bola mata dan dengan tangannya yang bebas menyuruh agar pria itu segera masuk.

“Lain kali langsung masuk aja, biar nggak ngagetin kayak tadi,” omelnya begitu sang pria sudah melangkah ke dalam sehingga membunyikan bel di atas pintu. Namun yang menerima omelannya hanya tersenyum kecil dan duduk di salah satu kursi yang belum diangkat ke atas meja— seperti sudah sangat terbiasa. Shinsuke dengan berhati-hati membawa cangkir yang masih mengepulkan asap tipis, lantas meletakkannya di hadapan sang pria.

Begitu dirinya sudah ikut duduk, Shinsuke memperhatikan luka-luka baru yang hari ini muncul di wajah pria itu.

“Hari ini nggak terlalu banyak,” gumamnya tanpa sadar meski dalam hati tetap meringis saat mendapati salah satu luka belum terlihat begitu kering. Tangannya bergerak secara otomatis meraih kotak P3K yang sudah disiapkan di atas meja, lalu berpindah ke samping pria itu. “Sini, diobatin dulu.”

Yang diperintahnya langsung memutar tubuh dengan patuh tanpa melontarkan protes— sungguh berbeda dibandingkan saat kali pertama Shinsuke bertemu dengan Atsumu.

Shinsuke pertama kali bertemu Atsumu di tengah hujan deras. Hari itu kebetulan semua pekerja paruh waktu di kafenya sudah pulang sehingga hanya menyisakan dirinya yang tengah sibuk merapikan meja dan kursi. Saat menoleh ke luar, ada seorang pria jangkung yang terlihat tengah berteduh di bawah kanopi kafe kepunyaannya. Untuk beberapa saat, Shinsuke meneruskan aktivitasnya tanpa menaruh banyak peduli pada pria itu, tapi tak beberapa lama, batinnya menjadi tak tenang karena dari sudut matanya ia menyadari sang pria asing terlihat menggigil kedinginan.

Shinsuke ingat, neneknya selalu mengajarkan untuk menyebar kebaikan dalam hal apa pun meski bentuknya tak besar. Jadi, niat selanjutnya adalah membuka pintu kafe dan menyuruh sang pria asing agar menghangatkan diri di dalam. Namun alangkah terkejutnya Shinsuke saat mendapati wajah sang pria babak belur. Mata pria itu bengkak, ditambah luka robek di ujung bibir serta lebam di kedua sisi wajah. Shinsuke nyaris menutup pintu kafe kembali karena mengira pria itu pasti semacam berandal. Namun tiba-tiba, ada tangan yang menahan gerakannya.

“T-tunggu! Ini bukan...” Pria itu menggaruk kepala dengan canggung sementara Shinsuke hanya menyipit curiga. “S-saya bukan orang jahat... kalau itu yang ada di pikiran kamu. Wajah saya begini soalnya... berhubungan sama pekerjaan.”

“Pekerjaan?” tanyanya tajam dengan oktaf yang dinaikkan karena bunyi air yang membasahi bumi semakin mengalahkan suaranya. Bukankah jawaban pria itu terdengar lebih mencurigakan? Pekerjaan apa yang bisa sampai membuat wajah seseorang babak belur seperti—

“Saya atlet kickboxing.”

Oh.

Pria asing itu mengeluarkan cengiran polos, meski hanya berlangsung sepersekian detik karena terpotong oleh suara ringis kesakitan. Tangan sang pria terangkat otomatis untuk menyentuh sudut bibirnya yang masih terlihat basah oleh luka.

Shinsuke yang mengawasi pemandangan tersebut menelengkan kepalanya dengan heran— apa pria itu baru selesai berlatih? Atau mungkin bertanding? Lantas kenapa pria itu tidak mengobati luka-lukanya dulu sebelum keluar dan terjebak dalam hujan yang ganas seperti malam ini?

Seakan bisa membaca tatapan bertanya Shinsuke, pria itu mulai menjelaskan dengan tangan yang digerakkan ke sana kemari. “Ta-tadi nggak sempet diobatin soalnya saya buru-buru mau pulang. Eh, tapi di tengah jalan malah hujan deres dan saya nggak bawa payung, makanya numpang berteduh di sini...”

Mata pria itu lantas melirik ke dalam seolah sudah tidak tahan ingin merasakan hangatnya kafe. Pria itu memang memakai jaket, tapi sepertinya hujan yang turun tanpa aba-aba sempat membuat beberapa bagian bajunya kebasahan. Di tambah angin yang bertiup cukup kencang, pastilah pria itu amat sangat kedinginan sekarang.

Akhirnya Shinsuke merasa iba. Ia pun membuka pintu lebih lebar dan dengan kedikkan dagu menyuruh pria itu untuk masuk.

“Masuk aja.”

Reaksi yang diberikan begitu instan— pria asing itu tersenyum lebar (dan meringis lagi setelahnya), lantas segera melangkah ke dalam. Shinsuke menutup pintu hingga bunyi hujan di luar sana sedikit teredam dan menyisakan senandung pelan si pria asing yang tengah memperhatikan interior dalam kafe dengan pandangan tertarik.

“Saya baru tau ada kafe di daerah sekitar sini. Soalnya kebanyakan adanya restoran,” ucap pria itu dengan nada ceria, seakan hangat yang menyambut membuat suasana hatinya membaik. Shinsuke langsung bisa menebak, pria itu pastilah seorang ekstrovert— tidak hanya dari intonasi, tapi juga gayanya yang santai.

“Iya, baru buka dua minggu lalu,” jawab Shinsuke seraya berjalan ke balik counter dan membuka salah satu kotak merek teh kesukaannya. Dengan sedikit ragu, ia menyiapkan dua cangkir. “Mau minum teh?”

“Eh? Oh, boleh kalau nggak ngerepotin...”

Pria asing itu kini berjalan mendekat dan berhenti tepat di depan meja kasir. Netra yang bersinar sedikit keemasan di bawah cahaya lampu itu memperhatikan menu yang terpampang sembari bergumam panjang. “Kamu kerja sendirian di sini? Eh—”

“Kita. Kita Shinsuke. Panggil Kita aja nggak apa-apa. Dan aku nggak kerja sendirian, ada tiga orang yang part time di sini, tapi udah pada pulang.”

Lagi-lagi wajah pria asing itu berubah lebih cerah. Sungguh kontradiksi dengan cuaca di luar yang sedang tak bersahabat. Dan biasanya, Shinsuke lebih menyukai suasana hening. Dia jarang membuka obrolan dengan orang asing, apalagi menjawab panjang lebar. Tapi entah kenapa, ia tidak keberatan berbincang dengan pria bernama—

“Kenalin, namaku Miya Atsumu. Tapi panggil Atsumu aja nggak apa-apa soalnya aku punya saudara kembar, terus nanti takutnya susah dibedain kalau panggil nama keluarga,” jelas pria itu dengan gerakan tangan penuh animasi, seperti tadi. Sepertinya mendengar Shinsuke yang berbicara dengan gaya semi-formal pun membuat pria itu pun menurunkan levelnya.

Shinsuke mengulum senyum. Atsumu berbicara seolah-olah mereka akan sering bertemu sampai kemungkinan ia bertemu dengan saudara kembar pria itu terbuka lebar. Namun ia tidak mengangkat hal tersebut dan mengikuti tawaran sang atlet.

“Oke. Salam kenal, Atsumu.” Shinsuke menyibukkan tangannya kembali. Ia sadar tengah diperhatikan oleh sepasang netra madu di depannya, tetapi Shinsuke diam saja dan lebih memilih menaruh atensinya benar-benar ke minuman yang sedang ia racik.

“Sugar?” tanyanya sembari mengetukkan jari ke atas toples berisi bongkahan gula kecil-kecil. Ia sendiri mengabaikan pemanis tersebut karena sudah terbiasa dengan rasa yang lebih polos.

“Please. Tiga, ya.” Atsumu menjawab seraya menegakkan tubuh, mungkin sadar bahwa tubuhnya terlalu condong ke arah pria bersurai perak yang baru pertama kali ditemuinya.

“Kamu suka manis?”

“Banget. Kamu nggak suka, ya?”

Shinsuke tersenyum pada dirinya sendiri, tidak menyangka Atsumu akan se-observant itu sampai menyadari bahwa ia tidak memasukkan satu pun bongkah gula ke dalam tehnya.

“Bukan nggak suka, prefer ke sesuatu yang lebih plain aja.”

Atsumu mengangguk-angguk, walaupun di kening pria itu ada sedikit kerut kecil seolah ingin mengatakan sesuatu. Shinsuke sendiri tidak heran karena sering kali jawabannya memang menimbulkan reaksi yang sama.

“Kamu butuh plester?”

“Eh? Apa?”

Pertanyaannya yang tiba-tiba dan sedikit keluar topik pastilah mengejutkan pria itu. Atsumu menatapnya bingung beberapa saat sebelum mengekspresikan wajah paham.

“Ooh, maksudnya buat ini?” Tangan pria itu terangkat sendiri untuk menyentuh luka di salah satu bagian wajah. “Ah, nggak apa-apa, kok. Ini udah biasa.”

“Kalau nggak langsung diobatin bisa infeksi, loh.”

“Kalau gitu, kamu aja yang obatin.”

Atsumu mengucapkannya dengan nada penuh canda. Deretan gigi putih pria itu terlihat ketika menampilkan cengiran lebar. Atsumu pasti mengira Shinsuke akan menolaknya, bukan?

“Boleh.”

Shinsuke menjawab ringan seraya melangkah ke luar melewati pembatas counter menuju salah satu meja dekat jendela yang belum ia naikkan kursinya. Ia meletakkan dua cangkir yang menguarkan aroma harum di atasnya, lalu menoleh ke arah pria yang justru membeku di tempat.

“Duduk sini aja, aku ambil dulu kotak P3K-nya.”

“E-eh, a-aku cuma bercanda tadi... kamu nggak usah repot-repot,” kilah pria itu cepat sembari melangkah panik. Namun Shinsuke bisa mendeteksi semburat merah muda yang sedikit mewarnai kulit Atsumu. Shinsuke tetap memasang wajah tanpa ekspresi meski dalam hati ia sedikit terhibur.

“Nggak apa-apa, nggak ngerepotin, kok. Tunggu sebentar, ya.”

Begitu Shinsuke kembali, Atsumu ternyata mematuhi perintahnya— pria itu tengah duduk dan menatap ke luar jendela, seolah tenggelam dalam rintik yang semakin berlomba-lomba turun. Shinsuke tanpa suara menarik kursi untuk diletakkan di sebelah pria itu. Atsumu lantas menoleh ke arahnya, namun kali ini, tidak ada protes lagi yang terlontar.

Shinsuke mengobati luka-luka di wajah pria itu penuh kehati-hatian, bahkan sedikit bertanya-tanya apa yang menyebabkan pria di hadapannya memiliki profesi yang tak biasa. Padahal, kalau Shinsuke boleh mengakui, wajah pria itu bisa saja lolos menjadi model di majalah fashion.

“Sayang banget...” lirihnya tanpa sadar seraya menempelkan plester di kening pria itu.

“Apanya?”

“Wajah kayak gini jadi banyak luka.”

Atsumu tak menjawab dan Shinsuke pun tak menyesali komentarnya.

Yang Shinsuke tahu, begitu tugas di tangannya selesai, mereka duduk bersisian di dekat jendela ditemani teh beraroma peach dan deras hujan yang tak kunjung berhenti.

Juga, senyum lebar pria itu yang muncul keesokan harinya di depan pintu kafe.

. . .

“Shin.”

“Hm?”

“Kamu sebel nggak sih, aku dateng terus kayak gini?”

Shinsuke menutup kembali kotak P3K-nya setelah luka-luka di wajah Atsumu terobati sepenuhnya. Hari ini pria itu hanya memerlukan satu plester yang ditempelkan di pelipis. Tangannya lantas terangkat tanpa sadar untuk menyingkirkan poni Atsumu yang hampir jatuh menutupi mata.

“Nggak kok, biasa aja. Kenapa tiba-tiba nanya gitu?”

“Nggak, habisnya... sekarang aku jadi terbiasa dateng ke sini setiap selesai tanding. Terus kamu jadi kebiasaan juga ngobatin luka-luka aku, kan.”

“Kalau aku nggak terbiasa, siapa nanti yang bakal ngobatin luka-luka kamu?” Shinsuke membalas sembari menarik cangkir tehnya yang mulai mendingin. Setidaknya, aroma peach itu masih ada.

Atsumu terdiam dan hanya menatap sisi wajahnya dari posisi yang sama. Bahkan setelah Shinsuke menghabiskan setengah isi cangkirnya, pria itu masih bungkam seribu bahasa.

“Atsumu? Kena—”

“Kalau aku ngajak kamu keluar, mau nggak?” seloroh Atsumu cepat sebelum kata-katanya sendiri selesai. Shinsuke mengerjap pelan selagi mengawasi semburat familier datang menghiasi wajah sang atlet.

“Keluar... maksudnya, kayak kencan gitu?” tanya Shinsuke hati-hati, tidak ingin menangkap maksud yang berbeda mesti jantungnya sendiri sudah berdegup dua kali lebih cepat.

“Bukan kayak, tapi emang... kencan,” gumam Atsumu dengan telinga yang semakin memerah dan wajah ditundukkan. “K-kita udah kenal selama tiga bulan, dan aku masih pengen ngenal kamu lebih jauh. Boleh, nggak?”

Shinsuke berhasil menguasai dirinya lebih dulu. Jari telunjuknya menyentuh pelipis sang pria yang ditutupi plester dan memberi usapan lembut di sana. Gerakannya tak berhenti sampai pria bersurai terang itu akhirnya mendongak.

“Kamu mau ngajak aku ke mana emang? Asal kamu tau, aku bukan tipe yang gampang dipuasin cuma dengan diajak nonton film atau makan di restoran.”

Padahal Atsumu yang mengajak, tapi pria itu jugalah yang terlihat terkejut. Bibirnya membuka dan menutup selama beberapa sekon sebelum bilah itu membentuk senyuman sangat lebar. Yang lebih muda akhirnya menegakkan tubuh dan sedikit membusungkan dada.

“Tenang aja. Kalau sama aku, kamu nggak bakal bosen sam sekali. Oh, iya! Gimana kalau sekalian aja aku ajak kamu nonton boxing match aku? Kamu kan belum—”

“Atsumu,” Shinsuke memotong dengan nada tak setuju. “Kamu pikir aku bakal tega nonton pertandingan boxing kamu? Ngeliat kamu dipukulin gitu? Mendingan kamu ajak aku nonton film aja, nggak apa-apa.”

Tawa Atsumu terdengar berderai memenuhi malam yang sepi. Shinsuke masih memasang wajah tak terima, sementara pria di hadapannya justru terpingkal-pingkal.

“Oke, untuk sekarang... aku nggak akan maksa kamu nonton. Tapi, Shin,” Atsumu meletakkan satu tangan di atas senderan kursi yang lebih tua dengan badan dimajukan sehingga Shinsuke terpaksa menarik mundur wajahnya beberapa inci. Ada rasa penuh antisipasi yang membuat jantungnya meletup kecil seakan ada kembang api dinyalakan di baliknya.

“Kalau kencan yang ini berhasil, kapan-kapan kamu harus dateng ke pertandinganku dan liat sendiri gimana aku bakal menang,” bisik Atsumu dengan wajah penuh keteguhan.

“Terus kalau kamu menang?” tantang Shinsuke sembari menahan senyum.

“Aku mau minta hadiah.”

“Hadiah apa?”

Atsumu tak langsung menjawab, tapi netra pria itu turun hingga terpaku pada bibir Shinsuke sebelum kembali terangkat ditemani senyum penuh arti.

“Kopi gratis seminggu plus kencan tiap akhir pekan sama pemiliknya?”

Shinsuke tak bisa menahan diri lagi, ia tertawa sampai harus berpegangan pada sisi meja agar tidak jatuh terjungkal. Atsumu hanya mengawasi dalam diam penuh afeksi yang membuat Shinsuke harus menarik napas dalam sejenak sebelum menyuarakan jawabannya.

“Oke. Deal. Lagian itu nggak bakalan bikin aku bangkrut.”

Malah, Shinsuke akan menghitungnya sebagai keuntungan paling besar.


@fakeloveros