This is Me Trying

Punya hobi kuliner itu wajar. Ingin mencicipi berbagai rasa makanan dari restoran itu bukan hal yang aneh, terlebih lagi hidangan dari kota lain yang bukan domisili.

Tapi Rintarou mengangkat satu alisnya tinggi-tinggi saat Osamu mengajaknya kuliner di setiap kantin fakultas yang ada di universitasnya.

Padahal Rintarou sendiri sudah datang jauh-jauh dari Bandung ke kota yang letak mataharinya berada satu jengkal di atas kepala. Tak ada maksud lain selain mengunjungi Osamu yang berkuliah di kota beda langit tersebut sebelum mereka sama-sama disibukkan dengan skripsi dan sidang.

Rintarou pikir, dirinya akan diajak mencicipi kuliner khas kota Depok, tapi yang ia dapatkan malah makanan khas mahasiswa dari empat belas fakultas.

“Ini serius? Gue jauh-jauh ke sini malah diajakin makan makanan kantin?”

Osamu hanya tersenyum lebar— membuat perawakan pria itu terlihat lebih tampan meski matahari yang bersinar terik menghadirkan peluh dari kedua pelipisnya. Rintarou menatap lama tanpa sadar sampai suara si surai yang lebih terang itu membuatnya kembali menapak bumi.

“Serius, Rin. Itu salah satu keinginan gue sebelum lulus. Nyicipin makanan di setiap kantin fakultas.”

“Kalau gitu kenapa gak dari dulu-dulu aja pas lo baru masuk kuliah? Ngapain ngajaknya pas gue main ke sini?” tanya Rintarou, sedikit tak paham dengan logika pria bermarga Miya tersebut.

Namun yang ditanya hanya mengedikkan bahu dan menjawab santai.

“Ya, gue maunya sama lo. Emang kenapa? Nggak boleh?”

Boleh banget kok, Samu.

Tapi hanya dijawab dalam hati karena hubungan mereka belum sampai situ.

Seandainya Rintarou bisa mengalahkan rasa takutnya, mungkin dengan gaya sedikit picisan dia akan bertanya, sebenernya hubungan kita mau dibawa ke mana sih, Sam? Ke Depok? Ke Bandung? Atau nggak ke mana-mana? Apa sinyal gue selama ini belum jelas? Apa gue kurang ngegas?

Pertanyaan yang sama terus berulang-ulang hingga Rintarou lelah sendiri dan akhirnya menikmati situasi dan kondisi yang ada. Atsumu, saudara kembar dari pria yang ia tambatkan rasa pujanya, terus-terusan mengejek bahwa dirinya ternyata orang yang cepat menyerah. Namun ledekan yang lebih tajam pria itu layangkan pada saudara kembarnya sendiri.

“Si Samu emang goblok. Nggak peka. Tipe yang harus dikasih tau di depan muka, baru tuh anak sadar.”

Begitu ucap Atsumu di suatu malam ketika Rintarou baru saja saling berbalas pesan dengan subjek yang dibicarakan. Baginya, isi pesannya malam itu cukup agresif— mungkin akibat rasa frustrasinya yang sudah berada di ambang batas. Namun ketika Osamu menanggapinya dengan sikap yang biasa, kekecewaan melandanya seperti ombak yang menembus pinggir pantai. Lalu tanpa berpikir panjang, ia langsung berkonsultasi dengan Atsumu.

Sungguh keputusan yang salah karena ucapan pria itu malah semakin menjatuhkan harapannya.

“Lagian kenapa sih, lo nggak langsung nembak dia aja?” tanya Atsumu begitu dua menit berlalu dalam keheningan. Mungkin Atsumu menaruh iba juga padanya. Akhirnya.

“Gue takut... dia cuma nganggap gue sebagai temen,” jawab Rintarou sepelan mungkin— berharap Atsumu tak mendengarnya sehingga ia tak perlu tenggelam dalam rasa kecewa pada dirinya sendiri.

“Kalau belum dicoba mana tau.”

Masalahnya, niat untuk mencoba itu selalu terkubur kembali dalam-dalam setiap Rintarou berkunjung dan bertemu Osamu secara face-to-face. Osamu akan menyambutnya dengan senyum cerah. Pelukan akrab yang langsung menginvasi indra penciumannya dengan parfum aroma musk bercampur matahari dan keringat. Serta sapaan familier yang hanya ditujukan padanya.

Rintarou tidak ingin kehilangan itu semua.

“Ya udah deh, ayo. Mau fakultas mana dulu?”

Ujung-ujungnya, pola yang sama akan terulangi. Ia akan ikut tersenyum seolah sentuhan ringan di tangan atau rangkulan di bahu dari Osamu tak membuat jantungnya memompa dua kali lebih cepat atau semburat di pipinya muncul akibat sinar matahari yang terlalu terik.

Kata orang, practice makes perfect.

Tapi kenapa semakin hari topengnya justru semakin retak?


“Kalau di sini, satenya yang juara.”

Rintarou hanya mengangguk-angguk selagi mereka berdua menempati salah satu meja panjang di kantin dengan dominan warna cokelat tersebut. Jam makan siang yang sudah lama lewat membuat suasana kantin fakultas ekonomi itu cukup lengang.

“Lo bias nggak, sih? Ini kan fakultas lo,” tuduh Rintarou sementara menunggu pesanan mereka tiba.

“Enak aja! Beneran, kok!”

Rintarou mengangkat sudut bibirnya— merasa terhibur dengan ekspresi galak milik Osamu yang jarang diperlihatkan. Bisakah ia menganggap ini sebagai privilege?

“Rin.”

Suara Osamu tiba-tiba berubah— terdengar lebih serius. Pria itu pun mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. Membuat Rintarou agak kewalahan sebelum berusaha menguasai diri.

“Apa?”

“Selama di kampus lo, udah pacaran sama berapa orang?”

Rintarou bersyukur es teh manis yang mereka pesan belum datang dan melewati kerongkongannya. Karena kalau sudah, dirinya pasti sedang tersedak heboh sekarang.

“Kenapa tiba-tiba nanya gitu?” tanyanya balik dengan nada defensif. Tidak biasanya Osamu menanyakan hal kelewat pribadi seperti ini.

“Kepo aja,” jawab pria itu singkat dengan binar tak terbaca.

“Kalau gitu lo dulu. Lo udah berapa kali pacar—”

“Nggak ada. Nol. Zero.”

Bukannya lega, Rintarou malah memicingkan mata dengan curiga.

“Aneh banget lo tiba-tiba nanya soal beginian. Biasanya paling anti.”

Namun saat didapatinya gestur Osamu tak berubah— masih menatapnya dengan pandangan tak terbaca, juga tanpa bergerak seincin pun dari tempatnya, akhirnya Rintarou menghela napas pasrah.

“Gue juga nggak ada. Nol. Zero.”

“Kenapa? Pasti banyak yang naksir lo, kan, di sana?”

“Nggak banyak lah, tapi ada. Cuma gue...” udah suka duluan sama lo.

“Apa?” tagih Osamu dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu.

“Kepo banget, sih!” Rintarou akhirnya merasa jengah hingga ia pun memalingkan muka. Meski hanya sisi wajahnya yang menghadap ke arah pria itu, ia tetap bisa merasakan tatapan lekat Osamu yang tak biasanya sampai membuat gugup seperti ini.

“Kok lo nggak nanya gue?”

Rintarou refleks kembali menoleh. Netranya bertemu dengan obsidian gelap yang seolah menantangnya tanpa suara.

Dan Rintarou menurut bak gayung bersambut.

“Kenapa lo nggak punya pacar selama di sini?”

“Soalnya gue udah suka sama orang lain.”

Lantas, reaksi apa yang Osamu harapkan darinya? Kaget? Itu sudah pasti. Sedih? Jangan ditanya lagi. Kecewa? Yang ada, perasaan itu justru bertambah kuat.

Tapi, harapan?

Untuk yang satu itu Rintarou masih belum berani. Jadi ia hanya mengatupkan bibir rapat-rapat tanpa berusaha bertanya lebih jauh siapa orang beruntung yang disukai temannya itu. Kalau ternyata memang bukan dirinya, mungkin dia akan nekat kembali ke Bandung malam ini juga.

“Lo kok nggak penasaran sih, orangnya siapa?” Lagi-lagi suara Osamu menyela lamunannya. Nada pria itu kini terdengar kesal, bahkan sedikit merajuk. Namun Rintarou yang sudah terlanjur jatuh suasana hatinya, hanya mendengus sembari melengos ke arah lain.

“Kalau dikasih tau juga gue nggak bakal kenal orangnya. Pasti anak sini, kan?”

Dari sudut matanya, ia menangkap gerakan mulut Osamu yang seolah akan menjawab. Namun perbincangan keduanya terpaksa dipotong oleh suara pemuda yang membawakan pesanan mereka.

Kata Osamu, sate di fakultas ekonomi lah yang paling enak.

Tapi bagi Rintarou, itu sate terhambar yang pernah menyentuh indra perasanya.


“Osamu? Ada angin apa tiba-tiba makan di sini?”

Terdengar sapaan dari suara laki-laki yang dalam sekejap langsung menghentikan perdebatan mereka dalam menentukan menu makan siang hari itu— soto atau rawon.

“Eh? Komori? Lah, lo sendiri ngapain di sini?”

Orang yang dipanggil dengan nama Komori lantas menatap Osamu seakan ada dua kepala tumbuh di badan pria itu.

“Soalnya ini fakultas gue?” jawab Komori dengan nada datar sementara Osamu hanya terkekeh pelan. Netra sang pria asing lantas bergulir ke arahnya diikuti tanda tanya dalam sunyi.

“Oh, ini temen gue dari luar kota. Lagi main ke sini sebelum sidang, sama kayak kita.”

Osamu mengenalkannya singkat. Cepat. Bahkan Osamu seperti sengaja tidak menyebutkan namanya.

Rintarou hanya menatap dengan bingung sementara pria bernama Komori itu mengangguk-angguk tanpa suara. Namun matanya meneliti Rintarou seolah mengetahui sesuatu.

“Eh, aduh, tiba-tiba kebelet gue. Bentar ya, Rin, gue ke toilet dulu. Pesen makannya nanti, tunggu gue balik!!”

“Iyaa, bawel. Cepetan sono!”

“Awas, loh!”

Lalu tanpa menunggu aba-aba, Osamu bangkit dan dengan terbirit-birit menghilang di sudut kantin sehingga meninggalkan Rintarou dan Komori dalam kecanggungan.

Padahal bisa saja tidak jadi canggung kalau pria asing itu langsung pamit pergi. Namun yang mengejutkam Rintarou, pemilik surai cokelat terang itu malah mengambil tempat di hadapannya dan menilik lekat seakan dirinya teka-teki yang akhirnya terpecahkan.

“Nama lo Suna Rintarou, bukan?”

Atau mungkin, Komori ternyata adalah seorang cenayang.

“Kok tau?” jawabnya curiga. Tangannya bersiap mengambil dompet Osamu yang tergeletak begitu saja di atas meja— khawatir kalau ternyata pria itu penghipnotis ulung dengan kedok mahasiswa.

“Oh, ternyata bener? Berarti lo orang yang ditaksir Osamu, dong!”

Apa?

Rintarou yakin ia salah dengar, atau Komori berbicara dalam bahasa ilmu alam yang tak dimengertinya karena mereka sedang berada di FMIPA.

Yang jelas, otaknya sulit memproses kalimat yang barusan didengarnya.

“Tadi lo… ngomong apa? Maaf?”

Komori terlihat tengah menimbang-nimbang sebelum mengedikkan bahu dengan gaya tak peduli— seakan kata-kata pria itu setelah ini tidak akan menjadi penentu hidup dan mati dari seorang Suna Rintarou.

“Nggak, soalnya Osamu sering banget koar-koar kalau dia sebelum lulus bakalan nyicipin makanan di setiap fakultas sini sama orang yang dia suka. Dia sering main ke banyak fakultas, tapi setiap diajakin makan di kantinnya pasti bakal langsung nolak. Terus dia pernah keceplosan nyebut nama orang yang bakal dia ajak kuliner kantin fakultas. Tadi gue nebak-nebak aja sebenernya, cuma karena dia nggak pernah bawa orang lain ke sini, jadi yaah… asumsi gue orangnya itu lo.”

Sulit. Rentetan kalimat tersebut terlalu sulit diterima untuk dirinya yang bahkan berasal dari jurusan sastra. Ia hanya bisa mengerjap dan menatap kosong permukaan meja yang penuh coretan— nyaris tidak memedulikan panggilan Komori yang terdengar semakin jauh. Barulah saat satu suara familer masuk ke gendang telinganya, Rintarou memfokuskan pandangan.

“Kenapa lo, kok ngelamun? Terus itu si Komori kenapa langsung kabur? Kalian habis ngomongin apaan?”

Rintarou menatap Osamu. Benar-benar menatapnya sampai si lawan bicara merasa jengah dan sedikit mengalihkan atensi ke arah lain.

Ke mana saja dia selama ini sehingga baru menyadari bahwa semburat itu selalu ada di sana saat dia tanpa sadar menatap lekat sang empunya? Apakah dia terlalu terbutakan oleh ketakutan dan kekhwatirannya sendiri sehingga tak pernah menyadari perasaan gamblang milik Osamu?

Anjir. Ternyata gue juga nggak peka orangnya. Rintarou mengutuk dalam hati.

“Sam,” panggilnya pelan. Mendadak, rasanya sungguh sulit untuk menahan cengiran lebar yang sudah berada di ujung bibirnya.

“Apa?”

“Nanti kalau kita udah lulus, gantian ya, lo yang ke Bandung.”

Osamu mencibir dengan kedua bola mata yang dirotasikan.

“Kenapa? Lo mau bales dendam ngajak gue kuliner di kantin kampus lo?”

“Bukan, tapi gue pernah baca di internet, ada satu kafe yang bagus banget buat dijadiin tempat ngungkapin perasaan ke orang yang disuka. Jadi gue mau ngajak lo ke sana nanti.”

Osamu membeku dengan mata yang terbeliak lebar. Wajah pria itu berubah— dari pucat pasi ke merah yang hampir setara dengan kepiting rebus.

Rintarou hanya tertawa sementara perlahan meraih tangan Osamu yang ikut membeku di atas meja. Kepalnya ia buka sampai jemari mereka bisa ditautkan dengan pas— seperti potongan puzzle yang saling melengkapi.

“Jadi, mau pesen apa kita sekarang? Soto atau rawon?”

Fin


@fakeloveros