iv. they said most men would rather deny a hard truth than face it
“Lo bisa diem, nggak? Kayak cacing panas aja sih nih orang satu.”
“Pasti tegang tuh mau ketemu mantan.”
“Apanya yang tegang, Oik?”
“Bangsat,” gerutunya di bawah napas. Tangannya mendorong bahu Matsukawa karena pemuda itu yang duduk paling dekat dengannya, sementara temannya yang lain hanya tersenyum mengejek. Bahkan Bokuto sampai tertawa terpingkal-pingkal. “Nggak lucu, anjir.”
“Lucu soalnya ini lo,” tukas Kuroo dengan mulut yang penuh keripik kentang. “Kapan lagi bisa liat lo tegang.”
“Ngapain tegang sih, waktu itu juga bukannya udah pernah payungan berdua, ya?” potong Hanamaki yang duduk di seberangnya dengan kedua alis dinaik-turunkan.
“Nggak usah bahas insiden payung bisa, nggak?” Matsukawa menimpali dengan raut wajah asam. “Gue masih sakit hati, nih.”
“Kita nggak payungan berdua,” Oikawa menjawab dengan keki. “Gue dipinjemin payung sama dia, berarti kan jalannya misah. Lagian kita juga nggak ngomong apa-apa kok di jalan.”
“Jujur, gue masih nggak ngerti kenapa lo berdua putus.”
Ucapan Hanamaki yang terdengar lebih serius membuat suasana di tempat tongkrongan mereka (yang sebenarnya hanyalah pekarangan rumah Kuroo) menjadi hening. Ada empat pasang mata yang memandanganya penuh ingin tahu. Oikawa bergerak gelisah di tempatnya, menolak memandang ke salah satu dari mereka karena tidak ingin facade-nya terlihat.
“Lo pernah bilang ngerasa nggak cocok sama dia, kan? Kok bisa?” Hanamaki kembali melanjutkan saat dirinya masih bungkam seribu bahasa. “Justru menurut gue, kalian tuh tipe yg opposites do attract.”
“Lo juga masih sayang sama dia kan, Oik?” Kali ini Kuroo yang menimpali. Mulutnya tak lagi mengunyah keripik kentang, namun kini di tangan pemuda itu ada sebungkus gorengan. “Jadi harusnya even ada halangan kayak gitu ya bisa diatasi, dong.”
“Itu pasti omongan berdasarkan pengalaman, ya?” ledek Bokuto yang sedari tadi memperhatikan dari atas motor hitam milik Hanamaki. “Lo sama Tsukishima kan beda banget.”
“Sama Kenma juga,” seloroh Matsukawa dengan wajah yang dibuat sepolos mungkin.
“Nggak usah jadi ngomong gue, anjing,” balas Kuroo seraya melempar bungkus keripik kentangnya yang sudah kosong ke arah Bokuto. “Ya intinya, Oik, kata gue sih lo sama Iwaizumi cuma perlu waktu aja.”
“Waktu buat apa?”
Oikawa mengangkat kepalanya berbarengan dengan suara baru yang menginterupsi percakapan. Matanya langsung beradu pandang dengan subjek pembicaraan mereka, sementara teman-temannya ikut menoleh dengan terkejut saat mendapati kehadiran Iwaizumi.
“Buset. Lo dateng kayak siput dah, nggak ada suaranya,” ucap Bokuto setelah menyeimbangkan duduknya kembali karena barusan nyaris terjungkal dari atas motor. “Naik apa lo ke sini?” tanya pemuda itu sembari menengok ke berbagai arah untuk mencari motor kesayangan milik sang empunya yang baru datang.
“Naik mobil. Tuh, gue parkir depan,” jawab Iwaizumi yang (Oikawa menghela napas lega diam-diam) lantas mengalihkan netranya ke arah lain. “Barusan nganterin nyokap dulu.”
Semuanya manggut-manggut dengan ekspresi yang sama. Hanya Oikawa yang tak bergerak seincin pun di tempatnya.
“Tadi lagi ngomongin apa? Kok bawa-bawa nama gue?” tanya Iwaizumi sesaat setelah menyamankan diri di kursi yang tersisa. Selama satu detik penuh, Oikawa yakin sang pemuda kembali melirik ke arahnya.
Tunggu. Barusan dia nggak denger obrolan mereka, kan?
“Oh, kagak... cuma lagi ngomongin... err... eh, ngomongin apa tadi kita?” Kuroo membalas dengan nada canggung seraya meminta bantuan ke arah lain dengan matanya. Tapi bahkan seorang bodoh sekalipun bisa langsung paham bahwa Kuroo tengah berpura-pura.
Tidak ada yang menjawab. Semua terdiam tanpa tahu harus menanggapi apa. Bahkan Bokuto terlihat tidak nyaman dengan wajah yang terang-terangan menatap Iwaizumi dan Oikawa secara bergantian.
“Oikawa.”
Sang empunya nama tersentak. Jantungnya berdegup dua desibel lebih keras saat menyadari siapa yang baru saja memanggilnya.
“A-apa?” Oikawa berdeham, suaranya terdengar sedikit serak.
“Mau temenin gue sebentar ke depan? Ada yang mau gue omongin.”
Kelopaknya mengedip cepat— memastikan bahwa apa yang didengarnya barusan bukan khayalan semata.
“Sebentar aja, kok,” tambah Iwaizumi, mungkin menilik reaksinya yang hanya tercenung di tempat seakan gerigi di otaknya tak lagi bekerja. Oikawa akhirnya mengangguk pelan, berusaha tidak memedulikan tampang penasaran dari seluruh teman mereka yang berada di sana. Ia pun bangkit mengikuti Iwaizumi yang sudah terlebih dulu bangun dari duduk dan berjalan ke arah gerbang.
Ada alasan mengapa rumah Kuroo dipatenkan menjadi tempat tongkrongan mereka. Selain karena satu-satunya yang tinggal di rumah, dan bukannya kos, tempat tinggal pemuda itu terbilang cukup luas di dalam komplek perumahan elit. Praktis, saat sudah berdiri di luar gerbang, jauh dari pendengaran teman-teman mereka, tak ada satu pun kendaraan atau tukang penjual makanan yang bisa mengganggu.
“Mau... ngomongin apa?” Oikawa menjadi penanya pertama kali. Tangannya meremas ujung kaus tanpa sadar dengan netra yang difokuskan ke arah pohon mangga di depannya. Ia tak berani menoleh sekalipun sadar bahwa Iwaizumi berdiri cukup dekat di sebelahnya.
“Lo ada waktu minggu ini?”
“Kenapa emang?”
Ada jeda sebelum Iwaizumi menjawab.
“Nyokap ngajakin makan malem.”
“Eh?”
Mau tak mau, Oikawa menoleh. Jawaban Iwaizumi sungguh di luar perkiraannya.
“Emang... ibu lo nggak tau kalau kita...?” Udah putus?
Tak perlu menunggu jawaban Iwaizumi pun Oikawa sudah bisa menebak dari ekspresi pemuda itu. Lantas, Oikawa mengganti pertanyaannya.
“Kenapa emang nggak bilang?” tanyanya pelan. Matanya menangkap kerutan kecil di antara kedua alis Iwaizumi— sebuah kebiasaan sang pemuda apabila berada dalam kondisi canggung atau ragu.
“Nggak tega. Nyokap gue kan suka banget sama lo.”
Kalau lo? Lo masih suka nggak sama gue?
Pertanyaan tak terlisankan itu Oikawa kubur dalam-dalam. Benaknya meyakinkan kalau memang Iwaizumi memiliki perasaan yang sama denganya, tidak mungkin pemuda itu langsung menyetujui keputusannya dalam mengajak berpisah, bahkan tanpa menanyakan alasan.
“Terus? Lo mau gue gimana? Kita gimana?”
“Kalau lo bersedia dateng, kita bisa... pura-pura depan nyokap nanti,” balas Iwaizumi seraya memalingkan muka— seolah pemuda itu sendiri benar-benar terpaksa mengatakannya.
“Terus udahannya gimana? Lo mau bohong sampai kapan?” tuntutnya yang entah kenapa merasa sedikit jengkel dengan sikap sang mantan kekasih. Kalau memang Iwaizumi merasa terpaksa, untuk apa mereka repot-repot berbohong di depan anggota keluarga pemuda itu?
“Akhir bulan ini.”
Saat keduanya tak lagi melarikan atensi ke objek lain yang menjadi penonton bisu dalam perbincangan tersebut, begitu mereka saling menyelami mata yang dulunya pernah menyimpan romansa khas dua insan yang saling jatuh cinta, Oikawa mafhum bahwa itu akan menjadi tenggat hubungan mereka sesungguhnya.
“Akhir bulan ini gue bakalan bilang,” lirih Iwaizumi dengan arti tatapan yang menyimpan beribu makna, sekaligus tak terbaca.
@fakeloveros