Lomba

BAK BUK BAK BUK

“Papaaa! Kaos kakiku di manaa?”

BAK BUK BAK BUK

“Papa, nanti bikin videonya di ruang tengah aja, deh. Aku malu kalau di teras!”

DUK DUK DUK

BRAAK

“AYAH!!! BANGUN!!!”

Rintarou refleks mengerang dan menutup kepalanya dengan bantal. Namun tak beberapa lama, ada dua tangan kecil yang menggoyang-goyang bahunya, juga menarik selimut sebagai upaya membawanya ke dunia nyata dari alam bawah sadar.

“Ayah!! Cepetan banguun!! Aku harus bikin video sama orang tua!!”

Kali ini, Rintarou membuat usaha sedikit dengan memunculkan kepala dari balik bantal, lalu membuka satu kelopaknya yang masih terasa sangat berat. Padahal cahaya matahari sudah menerobos masuk kamar, tapi rasa kantuknya masih sama seperti tadi malam

“Makanya jangan lembur terus.”

Biasanya, hanya itu yang diucapkan Osamu apabila dirinya mengeluh di pagi hari saat bersiap-siap kembali menerjang jalanan ibu kota demi menjadi budak korporat. Ia ingin berargumen— membalas suaminya itu dengan kalimat, siapa juga sih yang mau lembur...?

Tapi pagi hari bukan waktu yang tepat untuk memulai ketegangan, apalagi dengan orang yang juga sudah repot-repot bangun subuh dan menyiapkannya bekal. Jadi, balasan sengit itu biasanya Rintarou telan kembali dan ia ganti jadi kecupan lembut di pipi suaminya.

Lantas ketika ada satu hari libur muncul di tengah-tengah Senin sampai Jumat layaknya oase di padang pasir, siapa yang rela melewatkannya begitu saja? Rintarou pun bertekad untuk balas dendam dengan bergelung di bawah selimut seharian.

Itu rencana awalnya, sampai—

“Ayaaaah!!! Cepetan banguuun!! Biar videonya cepet dibikin!!”

Sampai anak semata wayangnya masuk dengan heboh lalu berbicara sesuatu tentang bangun dan video. Entahlah, gerigi di otaknya masih belum seratus persen berputar.

“Video apa, sih...” tanyanya dengan suara serak yang teredam bantal. Kelopaknya hampir menutup lagi kalau bukan karena satu suara tiba-tiba ikut berpartisipasi dalam kehebohan pagi itu.

“Video nyanyi lagu 17-an,” sahut Osamu yang tahu-tahu sudah muncul di ambang pintu dengan gelas yang mengepulkan asap tipis. Aroma kopi yang menyerbu indra penciumannya dalam sekejap langsung menaikkan level kesadaran Rintarou.

“Kamu sarapan dulu gih, biar Papa yang bangunin Ayah kamu.”

Atas titah suaminya, anak laki-laki itu seakan lupa dengan tugas utamanya dan dengan bersemangat langsung turun dari kasur lalu menghilang di balik pintu. Terdengar suara langkah kaki berisik yang menuruni tangga, sebelum suasana di kamar itu kembali hening.

“Aku tau kamu paling anti minum kopi kalau lagi nggak kerja, tapi kamu harus bangun sekarang. Kita harus bikin video,” ujar Osamu sembari duduk di atas kasur kemudian menyerahkan gelas beraroma kuat tersebut.

Ditemani erangan yang lebih kencang dari sebelumnya, Rintarou memaksakan dirinya bangun lalu menerima uluran gelas tersebut. Saat kafein mulai menyentuh indra perasanya, seperti ada tombol ON yang menyalakan seluruh sistem tubuhnya agar segera bergerak dan bekerja.

Osamu hanya tersenyum kecil selagi memperhatikan sang suami yang menyesap kopi begitu khidmat seolah itu adalah minuman suci dari pegunungan.

“Emang kemaren pulang jam berapa? Kok aku nggak denger kamu masuk?” tanya Osamu begitu dilihatnya Rintarou sudah lebih segar meski masih ada setitik letih di balik bayang-bayang netra gelapnya.

Rintarou menghela napas besar sembari menyenderkan punggungnya di kepala kasur.

“Bukan kemaren. Aku balik jam satu pagi. Kamu udah tidur nyenyak banget, aku nggak tega bangunin.”

Osamu tak mengatakan apa-apa, tapi dari tatapannya, Rintarou tahu pria ikut bersimpati.

“Capek, ya?”

Rintarou mengangguk. Ingin rasanya kembali memuaskan rasa kantuk, tetapi bayangan wajah anaknya yang tengah merajuk membuatnya tersadar ada kewajiban lain yang harus dipenuhi terlebih dulu.

“Ini bikin videonya—”

“Nanti aku kasih hadiah, deh.”

“Hah?”

“Kalau sekarang kamu bangun terus siap-siap, nanti pas di bawah aku kasih hadiah.”

Tanpa memberikan kesempatan pada Rintarou untuk memproses, Osamu mengerling penuh arti sebelum bangkit lalu ikut menghilang di balik pintu. Rintarou baru mengerjap sekali ketika ada teriakan kencang yang terdengar dari lantai bawah.

“Papaaaa!! Susunya tumpaaah!!”


“Ayah ih, mukanya masih keliatan ngantuk!”

Rintarou hanya meringis saat mendengar tuduhan anak lelakinya yang kini tengah memeriksa hasil video mereka. Perintahnya sederhana— hanya perlu menyanyikan lagu kemerdekaan sebagai pengganti upacara bendera yang kali ini tidak bisa diadakan akibat pandemi.

Tapi yang membuatnya heran, kenapa juga orang tua harus ikut dilibatkan?

Osamu yang baru kembali dari toilet, ikut melirik layar kamera dari belakang bahu anak mereka.

“Ah, itu mah emang wajah Ayah kamu aja selalu begitu.”

Anaknya terkekeh dengan kaki yang terayun-ayun dari atas kursi. Tingginya yang belum seberapa untuk ukuran anak kelas lima sekolah dasar, membuat telapaknya belum bisa menyentuh lantai. Rintarou ingin melontarkan protes, namun pemandangan Osamu dan anak mereka yang sedang asyik mengejek wajah kantuknya justru menimbulkan seulas senyum.

Padahal, keduanya baru menghabiskan dua tahun bersama Takeshi— anak angkat mereka.

Dan keputusan mengadopsi Takeshi harus melalui berbagai pertimbangan— mulai dari biaya hingga respons anggota keluarga.

Tak disangka, Atsumu lah yang mendukung ide itu pertama kali.

“Gue dukung!! Biar nanti keponakan gue itu bisa diajarin main voli!”

Tidak hanya Atsumu, setelahnya pun dukungan terus datang hingga akhirnya mereka yakin dengan keputusan tersebut. Rintarou sendiri tidak begitu ingat bagaimana awal ide itu tercetus, tapi yang jelas, Osamu sering mengeluh kesepian setiap ditinggal lembur oleh sang suami.

“Kamu sebenernya nikah sama siapa, sih? Aku atau kerjaan?”

“Kamu, sayang...”

“Terus kenapa lembur terus?”

Malam itu, tak biasanya Osamu menungguinya di ruang tengah sampai pulang kerja. Padahal jarum jam sudah hampir menunjukkan pukul dua pagi, tapi sang suami malah berkacak pinggang selagi menyambutnya di depan pintu.

Rintarou yang sudah tak memiliki tenaga lagi untuk meladeni keluhan suaminya, hanya diam sembari melepas sepatu dan jaketnya yang tak lagi menguarkan aroma parfum. Ia hanya ingin cepat-cepat berganti baju lalu tidur.

“Lagi ada proyek besar di kantor, Sam... kan kamu udah aku kasih tau minggu kemaren.”

“Iya, tapi apa sepenting itu sampe harus lembur hampir setiap hari? Nanti kalau kamu sakit gimana, Rin? Kan kamu juga yang bakal repot!”

“Sebentar lagi selesai, kok... Jadi kamu nggak usah nungguin aku sampe jam segini lagi. Bukannya kamu juga udah sibuk ya di toko?” Rintarou berusaha melunakkan suaminya dengan segala cara. Sesungguhnya ia hanya ingin memeluk pria itu untuk melupakan rasa letihnya. Bukannya terlibat dalam argumen rumah tangga klasik di tengah malam seperti ini.

“Sebentar laginya kamu tuh kapan? Aku balik dari toko juga kamu tetep nggak ada di rumah. Sepi tau sendirian di sini! Dikira enak apa? Tau gitu mending sekalian aja aku numpang di rumah Tsumu.”

“Kalau gitu, kita adopsi anak aja gimana?”

Pertanyaan itu terlontar tanpa aba-aba. Bahkan Rintarou ikut terkejut dengan ucapannya sendiri. Namun saat dilihatnya ekspresi Osamu, ucapan asal itu malah berkembang menjadi sebuah tekad.

“Biar kamu nggak sendirian lagi di rumah kalau aku lagi lembur. Sama... yah, mungkin emang udah saatnya? Kayaknya seru punya anak.”

Osamu mendelik ke arahnya. Mungkin “seru” bukan kata yang tepat dalam mendeskripsikan sesuatu yang agaknya cukup krusial dalam kehidupan berumah tangga. Tetapi bayangan rumah mereka diisi oleh suara anak kecil entah kenapa memang tervisualisasi sangat menyenangkan di kepalanya.

Dan di sinilah mereka sekarang— tiga orang dengan kepribadian berbeda namun disatukan dalam silabel keluarga.

“Sayang ya, coba nggak ada pandemi, pasti ada lomba-lomba di lapangan belakang sore nanti,” ujar Osamu, berhasil memecah lamunannya.

“Papa dulu suka ikut lomba? Pernah menang nggak?” tanya Takeshi yang sudah melupakan kamera digital di tangannya dan langsung menaruh atensi dalam pembicaraan tersebut. Rintarou ikut mendengarkan seraya menyesap kopinya yang sudah dingin.

“Pernah, dong. Terus nanti kalau Papa menang, Om kamu pasti marah-marah.”

Takeshi tertawa— mungkin membayangkan wajah kekesalan Om Atsumu-nya begitu dikalahkan oleh saudara kembarnya sendiri. Rintarou sendiri tidak sulit membayangkan karena Atsumu memang memiliki jiwa kompetitif tinggi, bahkan untuk hal-hal sederhana.

“Kalau Ayah? Pernah menang lomba juga, nggak?” Sang anak kini mengalihkan perhatian ke arahnya yang sedari tadi hanya membisu. Rintarou meletakkan gelasnya di atas meja sebelum menjawab ringan.

“Pernah, dong.”

“Oh, ya? Lomba apa?”

“Lomba menangin hati Papa kamu.”

Yang disebut secara implisit refleks terbatuk keras. Wajah pria itu memerah— entah akibat tersedak saliva sendiri atau menahan malu. Rintarou hanya tersenyum kecil sedangkan anaknya menatap bingung Osamu.

“Papa kenapa? Mau diambilin minum?” tanya Takeshi dengan wajah polos penuh kekhawatiran.

“Ng-nggak usah. Papa nggak apa-apa, kok. Kamu ke atas aja gimana? Ini tugasnya udah selesai, kan? Nanti tinggal dikirim ke guru?” jawab Osamu yang sepertinya sudah berhasil menguasai diri. Tangan pria itu mengusap lembut rambut anak mereka meski netra sang suami melirik jengkel ke arahnya.

“Okay!” jawab anaknya tanpa kecurigaan sedikit pun. Rintarou mengacak surai hitam Takeshi yang dibalas dengan gerutuan sebelum anak itu bangkit dan menaiki tangga diikuti bunyi DUK DUK DUK sama yang telah membangunkannya tadi pagi.

Begitu memastikan keadaan sudah aman, Rintarou kembali menghadap ke depan. Osamu ternyata sudah menatapnya dari tadi dengan sebelah alis yang terangkat tinggi sampai hampir tertutup poni.

“Lomba di RT mana tuh? Kok aku baru denger?”

Rintarou memperlihatkan cengiran lebarnya. Mendadak, rasa kantuk dan keinginan untuk kembali ke atas kasur menghilang. Mungkin lebih baik ia memanfaatkan hari libur ini dengan seseorang yang spesial.

“Kamu emang nggak tau atau pura-pura nggak tau? Bisa pacaran sama kamu aja tuh udah kayak menang lomba masukin paku ke dalem botol, tau nggak? Susah banget! Banyak saingannya!”

Osamu mencibir meski senyum terpatri tidak hanya di bibir, tapi juga di balik bayangan obsidiannya.

“Tapi hadiahnya worth it, kan?”

“Kalau nggak worth it, aku mana mungkin nikah sama kamu— eh!” Rintarou menegakkan badan, lantas menjetikkan jari. “Hadiahnya mana? Katanya mau ngasih aku hadiah?”

“Nih, hadiahnya,” balas Osamu sembari mendorong piring berisi nasi kepal yang ditancapkan bendera-bendera kecil di atasnya— sarapan pagi mereka.

“Osamu, sayang, aku tau kamu emang paling jago bikin nasi kepal kayak gini. Terbaik pokoknya. Nggak ada yang bisa ngalahin. Tapi aku udah rela bangun pagi-pagi, masa hadiahnya ini doang?” rajuknya dengan bibir yang dikerucutkan layaknya anak kecil. Tangannya sudah gatal ingin menarik suaminya itu ke pelukan, tapi ia menunggu sampai Osamu sendiri yang menghampiri.

Untungnya, harapannya itu langsung didengarkan Tuhan dan dikabulkan. Pasti balasan atas sikap “suami penurut”nya hari ini.

Osamu bangkit dari duduk bersamaan dengan Rintarou yang menggeser posisinya sedikit hingga suaminya itu bisa duduk nyaman di atas pangkuannya. Seperti muscle memory, tangannya lantas melingkar nyaman di pinggang pria itu.

“Cium juga, dong.”

“Ih, banyak mau.”

Meski begitu, tak sampai sedetik kemudian bibirnya bersentuhan lembut dengan milik sang suami. Ada rasa kopi bercampur mint dalam pagutan lambat tersebut. Bukan tipe ciuman yang dilakukan terburu-buru setiap pagi sebelum Rintarou berangkat kerja, atau lumatan panas yang saling mengejar deru napas di bawah selimut dalam malam-malam penuh kerinduan. Ini tipe ciuman yang paling disukainya karena ia bisa merasakan Osamu secara utuh. Hangat, manis dan mengingatkannya akan rumah.

Osamu adalah rumahnya. Selalu. Dan tidak akan tergantikan.

Jadi mana mungkin Rintarou tidak bersyukur karena telah memenangkan lomba untuk memiliki hati pria itu?

“Samu,” bisiknya pelan di depan bibir suaminya. Mereka mengambil jarak beberapa inci untuk memasok oksigen yang sempat habis.

“Hm?” Osamu bergumam singkat. Tangan pria itu melingar semakin erat di sekitar lehernya sebagai upaya mengikis jarak. Rintarou menundukkan kepalanya sedikit untuk menghidu aroma favoritnya— campuran deterjen, sabun peppermint, juga wangi Osamu sendiri. Ia menggerakkan hidungnya naik turun secara perlahan di sepanjang leher jenjang suaminya sampai Osamu bergidik kecil di pangkuannya.

“Hadiahnya boleh dilanjut nanti malem lagi, nggak?”

Dan jawaban dari pertanyaannya ia terima dalam bentuk sentilan pelan di kening serta tawa berderai milik sang suami.

Rintarou rela mengikuti sebanyak apa pun lomba asalkan tawa pria itu yang menjadi hadiahnya.


@fakeloveros