iii. they said worry is a misuse of bad imagination
Flashback
Malam sudah semakin larut, tapi Oikawa tidak bisa memastikan jam sekali lagi karena handphone-nya sudah mati. Salahkan dirinya yang lupa membawa pengisi daya cadangan, tetapi ajakan Ushijima yang begitu tiba-tiba membuatnya langsung mengiakan tanpa hampir memedulikan apa pun.
Termasuk kondisi badannya yang sedang tidak sehat.
“Lo nggak apa-apa?”
Entah sudah berapa kali Ushijima menanyakan pertanyaan yang sama. Dan jawaban yang ia berikan pun juga sama— gelengan lemah diikuti senyum kecil. Ia merasa tidak enak karena Ushijima baru mengetahui soal kondisinya begitu konser hampir berakhir. Pria itu bersikeras untuk segera membawanya pulang, tetapi band yang sedang tampil adalah favoritnya dan Oikawa tidak rela beranjak sebelum acara benar-benar berakhir.
Namun dia akhir, ia harus menyesali sifat keras kepalanya sendiri karena begitu konser selesai, kondisinya justru bertambah buruk.
“Kita udah sampe.”
Ucapan Ushijima berhasil memberi kesadaran sedikit untuk kepalanya yang terasa semakin melayang. Oikawa hanya ingin segera menutup mata dan berbaring di bawah tumpukan selimut. Namun nada tegang yang terdengar dari Ushijima ternyata tidak luput dari indranya.
“Kenapa?” tanyanya dengan suara yang terdengar serak. Oikawa berusaha duduk lebih tegak sementara Ushijima menatap ke luar jendela dengan tangan yang memegang roda pengemudi begitu erat.
“Ada Iwaizumi di depan kos-an lo.”
“Siapa?”
Oikawa takut salah dengar, meski nama yang keluar dari bibir Ushijima tak mungkin salah. Netranya pun ikut menatap ke depan dan yang ia tangkap pertama kali adalah motor hitam milik seseorang yang sudah terlampau familier. Bagaimana tidak, kalau hampir setiap hari ia naik ke atas joknya bersama sang empunya yang kini tengah berdiri tak jauh. Ekspresi pria itu tak terbaca, namun tangannya mengepal di samping tubuh dan Oikawa langsung tahu bahwa itu tanda Iwaizumi tengah menahan emosi.
“Shit,” rutuknya pelan seraya mengusap wajahnya dengan satu tangan. Oikawa merendahkan tubuh seakan berharap jok mobil yang sedang didudukinya bisa menelannya detik ini juga.
“Apa lo udah ngasih tau ke dia kalau kita pergi bareng?”
“Udah kok, cuma dia...” Ngelarang pergi karena tau gue lagi sakit.
Ushijima menghela napas berat. Pria itu seakan mengerti sisa jawabannya yang dibiarkan menggantung.
“Yah, ini salah gue juga karena nggak tau kalau lo lagi sakit. Kalau tau, gue juga nggak bakal ngajak lo keluar tiba-tiba kayak tadi.”
Oikawa merengut. “Tapi itu kan gue yang mau sendiri...”
“Tetep aja.”
Ushijima tidak membiarkan keheningan itu menyelimuti mereka lebih lama. Pria itu lantas mematikan mesin mobil, lalu menoleh ke arah Oikawa.
“Ayo turun, pacar lo pasti udah khawatir banget.”
“Dia bukan—”
Tapi sisa ucapannya tertelan begitu saja. Iwaizumi memang belum resmi menyatakan perasaan, tetapi berdasarkan rumor juga perhatian yang diberikan pria itu terhadapnya, Oikawa bisa dicap buta kalau tidak menyadari sama sekali.
Dan entah sejak kapan, perasaan pria itu pun mulai bersambut.
Oikawa membuka pintu dan turun dengan ragu. Pusingnya mendadak hilang dan kini digantikan dengan kekhawatiran luar biasa atas apa yang akan dikatakan atau diperbuat Iwaizumi. Ia jelas harus meminta maaf. Bagaimanapun, ini salahnya karena tidak—
BUKH
“LO NGAPAIN NGAJAK DIA KELUAR?! OIKAWA LAGI SAKIT, BERENGSEK!!”
Tubuhnya membeku di samping mobil. Ia hampir tidak memercayai penglihatannya saat Iwaizumi dengan terang-terangan melayangkan tinju ke arah Ushijima yang sudah berjalan lebih dulu. Ushijima, walaupun memiliki tubuh besar, langsung terhuyung setelah mendapat satu hajaran tersebut.
Iwaizumi, dengan napas yang sedikit tersengal, kembali maju dan mencengkeram kerah pria yang lebih tinggi darinya itu. Namun Iwaizumi tidak terlihat gentar dan malah menjatuhkan pukulan kedua.
“KALAU SAKITNYA TAMBAH PARAH GIMANA?! EMANG LO BISA TANGGUNG JAWAB?!”
BUKH
Kali ini, suara pukulan keras terdengar dari tinju yang ditargetkan langsung ke wajah Iwaizumi. Oikawa semakin tak bisa bergerak dan hanya bisa menatap pemandangan di depannya dengan mulut terbuka.
“KALAU GUE TAU DIA LAGI SAKIT JUGA NGGAK BAKAL GUE AJAK KELUAR, TOLOL!”
Mungkin akibat suara mereka yang saling berteriak lancang, atau bunyi adu jotos keduanya yang memekakkan keheningan malam— namun tak beberapa lama, beberapa penghuni kos keluar dan menyaksikan keributan tersebut. Wajah familier Matsukawa dan Hanamaki pun menyeruak dari kerumunan dan segera melerai perkelahian yang ada.
Oikawa tidak begitu ingat apa yang terjadi setelahnya. Namun samar dia ingat, ada tangan lain yang menyentuh lengannya dan segera menuntunnya masuk ke dalam. Ia langsung dibawakan makan, minuman hangat dan disuruh beristirahat di kamar.
Oikawa pikir dirinya akan langsung tertidur begitu sudah berada di balik selimut, namun matanya justru terus terjaga sementara menunggu suara-suara di luar kamarnya mereda.
Sekitar satu jam kemudian, ada yang mengetuk pintunya pelan.
“Masuk...”
Tak disangka, kepala Iwaizumi lah menyembul dari balik pintu. Ada luka robek di ujung bibir pria itu dan matanya terlihat sedikit bengkak. Oikawa tak tahu harus berkata apa sembari menyaksikan Iwaizumi masuk dan menutup pintu kamarnya pelan.
“Aku mau... minta maaf.”
Oikawa mengerjap. Tangannya mencengkeram ujung selimut lebih erat. Ia menunggu kelanjutan kalimat tersebut.
“Maaf, aku udah buat keributan kayak tadi... aku tau harusnya nggak langsung mukul dia. Aku kebawa emosi. Aku cuma... khawatir kamu kenapa-napa.”
Iwaizumi tidak menatapnya sama sekali. Pria itu menunduk seperti anak kecil yang menunggu omelan dari orang tuanya datang. Tapi Oikawa bisa merasakan pria itu tulus— baik untuk permintaan maaf, maupun kekhawatirannya.
“Aku juga minta maaf... karena udah seenaknya pergi, padahal tau lagi sakit.”
Oikawa akhirnya ikut membuka mulut. Kalau ada yang harus disalahkan atas seluruh kejadian ini, tentu saja dirinya yang paling tepat. Sungguh di luar dugaannya bahwa Iwaizumi akan menjadi semarah itu dan ia pun tidak menyangka Ushijima akan ikut meladeni.
Oikawa terbelalak— mengingat nama Ushijima membuatnya tersadar bahwa dia pun belum meminta maaf terhadap temannya yang satu itu. Ia baru akan bangkit ketika tiba-tiba Iwaizumi melangkah maju dan mendorongnya lembut agar kembali tertidur.
“Kalau kamu nyariin Ushijima, dia udah balik duluan tadi...”
“Oh...”
Oikawa kembali membaringkan kepalanya di atas bantal secara perlahan. Matanya mengawasi Iwaizumi yang masih berdiri dengan canggung.
Tiba-tiba, tangannya gatal ingin menyentuh pria itu.
“Coba sini.”
“Hm?”
“Liat lukanya.”
Iwaizumi mengerjap beberapa kali sebelum — dengan sedikit ragu — mendudukkan diri di atas lantai— tepat di sebelah kasurnya.
“Sakit, ya?”
Tangannya menyentuh pelan salah satu luka di ujung bibir dan menyaksikan pria itu meringis kecil. Oikawa mengulum senyum dan beralih menepuk pipi pria itu.
“Lain kali jangan gitu lagi, ya? Kasian juga orang yang kamu pukul, pasti sakit banget tuh.”
Iwaizumi menatapnya beberapa saat sebelum mengangguk. Oikawa tersenyum geli karena pria itu terlihat seperti anak anjing yang begitu patuh terhadap sang majikan.
“Udah malem, kamu nggak mau balik?”
“Ini ngusir ceritanya?”
“Emang kamu mau nontonin aku tidur?”
“Mau aja.”
Oikawa kali ini benar-benar menerbitkan senyumnya. Ia pun mengubah posisi jadi menghadap pria itu.
“Ya udah, temenin aku di sini sampe tidur.”
Iwaizumi tidak menjawab, tapi Oikawa tahu pria itu juga tidak menolak. Iwaizumi hanya duduk diam dengan punggung yang menyender pada dinding. Keheningan, di tambah lelah yang semakin menguasai tubuh pun membuat kelopaknya semakin berat. Namun di tengah ambang kesadarannya yang semakin menipis, Oikawa bisa merasakan sentuhan seringan kapas di pipinya diikuti bisikan maaf.
@fakeloveros