All That You Are to Me (first part)


tw // harsh words


Kalau ada yang mengatakan pada Osamu bahwa sekarang adalah April Mop, mungkin dia akan percaya seratus persen.

Kalau ada yang mengatakan bahwa saudara kembarnya bekerja sama dengan teman masa kecilnya dalam mengadakan prank camera, dia tidak akan ragu sedikit pun.

Tapi kalau ada yang meyakinkannya bahwa kini Suna Rintarou, teman sekaligus tetangga sebelah rumahnya, tengah memojokkannya di suatu ruang kelas yang sudah sepi dan menyatakan perasaan, Osamu pasti akan langsung tertawa terbahak-bahak.

Bedanya, tidak ada secuil hasrat pun untuk mengeluarkan gelak tersebut meski mulutnya tengah terbuka lebar sekarang. Matanya mengerjap berulang kali seolah dengan begitu pemandangan yang ada di depannya bisa berubah-ubah seperti saluran televisi. Tubuhnya kaku seakan ada jerat ular yang mengancamnya supaya tidak bergerak.

Toh, ia pun tidak bisa membuat perintah untuk otaknya yang kini kosong— persis seperti buku catatan sejarah milik Atsumu. Walau mungkin seandainya Osamu mau menilik lebih dalam, otaknya tidaklah sepenuhnya kosong. Ada Osamu-Osamu kecil yang berlarian di dalamnya dengan panik seraya meneriakkan satu kalimat berulang-ulang—

Suna Rintarou suka sama gue! Suna Rintarou suka sama gue! Suna Rintarou suka sama gue!

Begitu terus sampai ada bagian kecil dalam otaknya yang akhirnya menyuruhnya bersuara.

“B-barusan... lo bilang a-apa?” tanyanya dengan terpatah seperti staccato tanapa dirigen. Tangannya menggapai sisi meja tanpa sadar— takut dirinya terjatuh dari keterkejutan yang menghantam.

Ada kerutan kecil bermain di wajah teman masa kecilnya— seolah pemuda itu sendiri enggan mengulangi hal yang sama meski tahu Osamu pasti mendengar jelas pernyataan jujurnya barusan.

“Gue suka sama lo.”

Kalau pertanyaannya terdengar seperti staccato, maka ucapan datar Rintarou mengalun seperti legato— tak terputus dan halus. Osamu pun tidak perlu meragukan artikulasi pemuda itu karena indra pendengarnya menangkap dengan jelas kalimat yang terdiri dari empat kata singkat tersebut.

“Kenapa?” Kok bisa???

Kerutan di wajah Rintarou terlihat semakin dalam— mungkin bisa menyamai Enstein. Kepala pemuda itu dimiringkan beberapa derajat ke kanan dengan netra yang dipenuh tanda tanya sekaligus spekulasi.

Seakan mempertanyakan Osamu yang menanyakan alasan pemuda itu sampai bisa menyukainya.

“Emang butuh alasan?”

Osamu menelan ludahnya susah payah. Tangannya gatal ingin meraih botol minum yang ada di atas meja. Tapi rasanya tidak etis membuat jeda di tengah peristiwa yang cukup krusial dalam kehidupan 17 tahun remajanya.

“Tapi kita kan...” Temen dari kecil?

“Emang kalau temenan dari lama, bukan berati gue nggak bisa atau nggak boleh suka sama lo?” potong Rintarou yang seakan bisa menembus isi kepalanya.

Osamu terdiam. Tidak tahu harus merespons apa. Di saat seperti ini ia justru berharap ada Atsumu yang tiba-tiba masuk ke kelas dan dengan suara toanya menguraikan situasi canggung tersebut. Namun itu hanya harapan semu karena Osamu tahu persis Atsumu sudah pulang dari tadi dengan alasan ingin segera tidur (akunya, sih, habis begadang mengerjakan tugas, tapi Osamu tahu saudaranya itu bermain game sampai subuh). Jadi kini hanya ada dirinya dan Osamu-Osamu kecil dalam otaknya yang masih berlarian dengan panik.

Rintarou pastilah cukup cerdik untuk menyadari konflik batin yang terjadi dalam otak dan hatinya. Setelah membiarkan hembusan angin dari jendela mengisi keheningan, pemuda itu menghela napas dan membetulkan posisi tas.

“Lo nggak usah jawab. Gue bilang itu bukan buat minta jawaban, jadi nggak usah sampe pusing gitu mikirinnya. Muka lo nggak cocok buat diajak mikir.”

“Heh—”

Sanggahannya terputus saat menyaksikan senyum kecil terpatri di wajah sang pemuda. Rintarou berbalik dan berjalan ke arah pintu kelas dengan langkah santai. Namun sebelum menghilang di balik pintu, pemuda itu menoleh dan berbicara serius pada Osamu yang masih berdiri seperti orang bodoh.

“Tapi gue serius ya, Sam. Gue beneran suka sama lo, bukan sebagai sekadar temen. Dan gue nggak lagi bercanda.”

Dengan perkataan final tersebut — yang bagi Osamu terdengar seperti ketukan palu seorang hakim di persidangan — Rintarou benar-benar hilang dari pandangan.

Lantas, menyisakan Osamu dengan berpuluh pernyataan dalam otaknya yang tak memiliki kapasitas cukup untuk mencerna semua kejadian barusan.

Kalau ada perihal yang akhirnya bisa diputuskan oleh Osamu-Osamu kecil secara bijak, yaitu ia harus segera pulang dan tidur seperti saudara kembarnya.


“Lo lagi ada apa deh sama si Suna?”

“Nggak ada apa-apa.”

Jawabannya keluar terlalu cepat. Sial. Dan sekarang Atsumu tengah memicingkan mata— tahu betul bahwa dirinya barusan berusaha berbohong.

Terkadang Osamu menyesalkan takdir yang membuat mereka harus terlahir sebagai saudara kembar.

“Belah mana nggak ada apa-apa? Lo sama dia udah diem-dieman dua hari, woy! Lo nggak tau apa kalau musuhan tuh nggak boleh lebih dari tiga hari?”

Osamu pura-pura tidak mendengar. Ia bersenandung pelan seraya mengupas apel yang tersedia di atas meja makan mereka.

“Jawab gue, bangsat!” seru Atsumu diiringi tendangan keras dari bawah meja.

“Aduh! Gue lagi megang pisau, anjir!”

“Bodo!”

Osamu menggerutu. Tangannya tak berhenti mengupas apel, namun otaknya tengah menimbang-nimbang apakah sebaiknya ia menceritakan peristiwa dua hari kemarin pada saudara kembarnya yang berisik itu.

“Apa sih, lama banget lo mikirnya! Tinggal kasih tau juga!” Lagi-lagi Atsumu menyalak tak sabar. Pemuda itu hampir menendang kakinya lagi, tapi Osamu buru-buru mengangkat tungkainya ke atas bangku.

“Ya sabar, dong! Ini harus gue pikirin baik-baik, tau!”

“Yaelah, paling si Suna nembak lo, kan?”

Bahkan kalau ada jarum pentul yang terjatuh ke atas lantai, bunyinya pasti akan sangat memekakkan ruangan yang mendadak diisi keheningan tersebut. Osamu tak bergerak, tetapi matanya bergulir pelan ke arah sang saudara kembar dengan beliak tak percaya.

Ternyata Atsumu pun ikut terbelalak.

“HAH? SI SUNA BENERAN NEMBAK LO?”

Osamu refleks melempar kulit apel yang ada di atas meja ke arah saudaranya yang langsung berteriak histeris, padahal di rumah hanya ada mereka berdua. Untunglah kedua orang tuanya memutuskan untuk pergi belanja bulanan sehingga memberi tugas kepada kedua pemuda Miya tersebut untuk menjaga rumah. Sayang, jobdesk tersebut tidak termasuk jangan membuat keributan di dalam rumah.

“Demi apa...” Atsumu tercengang dengan mulut yang menganga lebar— persis seperti ikan yang baru diangkat dari lautan. “Padahal gue bercanda, loh...”

Osamu membisu. Tangannya menyingkirkan pisau dan mulai menggigit apel-apel yang telah dikupas bersih dengan ahli. Tangan Atsumu ikut terjulur dan mengambil satu potong. Kalau biasanya Osamu akan meneriaki Atsumu agar tidak menyentuh makanannya sama sekali, kali ini dia membiarkan karena paham ada yang harus dibicarakan di antara mereka.

Saudara dengan saudara— karena bagaimanapun, tak ada yang mengenal dirinya lebih baik dibanding Atsumu.

“Wow... seorang Suna Rintarou suka sama lo... wow.”

“Emang aneh banget, ya?”

Atsumu menelan susah payah, lantas membuat ekspresi berpikir yang begitu berlebihan— persis seperti ketika menghadapi ujian, namun pemuda itu sebenarnya tak tahu akan jawaban benarnya.

“Hmm... tapi kalau dipikir-pikir... sebenernya nggak aneh, sih... dan rada obvious juga.”

“Obvious dari mananya?”

Osamu penasaran. Pasalnya, dia tidak bisa mencari celah dari hubungan pertemanan mereka yang terjalin sejak memakai popok untuk dijadikan patokan sampai Rintarou bisa menyukainya. Seingatnya, mereka bermain seperti biasa. Saling bercerita seperti biasa. Saling menghibur, menenangkan, membela dan—

Oke. Hubungan mereka memang sedekat itu, tetapi tetap saja Osamu tidak bisa menemukan titik terangnya.

“Nggak tau yah, kayak... ada yang beda aja. Duh, susah jelasinnya! Masa lo nggak nyadar, sih?”

“Lah, barusan aja lo kaget pas tau dia suka sama gue?”

“Tapi begitu tau, gue langsung sadar kalau Suna emang suka sama lo, Sam.” Atsumu mengubah posisi duduk menjadi lebih santai. Tangan lentik pemuda itu kembali meraih satu potong apel yang masih dibiarkan oleh Osamu. Ia penasaran ingin mendengar kelanjutan ucapan saudara kembarnya.

“Elaborate, dong.”

“Ah, lemot lo dasar. Gini deh, kita bertiga kan emang temenan dari kecil. Tapi even begitu, dia lebih deket sama lo, kan? Ke mana-mana nempelnya sama lo. Cerita apa-apa juga sama lo. Pokoknya lo berdua deh sebenernya yang udah kayak saudara kembar.”

“Ini lo jealous, ya?”

“Sam,” Atsumu meletakkan satu tangan di atas dada penuh khidmat. Wajahnya terlihat tersinggung. “Orang kayak gue? Jealous? Please, deh?”

Osamu mendengus, lalu mengedikkan dagunya. “Ya udah, coba lanjut.”

“Oke, sampe mana gue barusan? Oh ya, saudara kembar. Nah, tapi! Gue rasa kedekatan kalian itu mulai bikin dia baper tanpa sadar! Atau dia sadar, ya? Nggak tau gue. Pokoknya akhirnya dia suka sama lo.”

Osamu menurunkan bahunya sedikit kecewa. Padahal ia sudah berharap Atsumu akan memberi penjelasan teknis yang merinci dengan judul besar-besar di atas— Alasan Suna Rintarou Menyukai Osamu Miya. Tapi yang ia dapatkan justru...

“Nggak jelas banget penjelasan lo.”

“Sialan, udah gue bantuin juga.” Atsumu menghela napas lalu bertanya secara kasual. “Emang lo nggak ngerasa sikap dia ada yang berubah gitu ke lo? Lebih perhatian atau apa gitu misalnya?”

Lebih perhatian...?

Osamu melarikan matanya ke sana kemari seraya berpikir keras. Apa ada yang berubah dari perilaku Rintarou? Baginya, pemuda itu selalu bersikap seperti biasa. Kalau Osamu bangun kesiangan dan tidak sempat sarapan, pemuda itu tahu-tahu akan muncul di kelasnya pada jam istirahat pertama dengan beberapa potong roti dan sekotak susu. Rintarou juga yang sering mengingatkannya untuk belajar di malam sebelum tes atau mengerjakan tugas. Begitu tiba waktunya untuk pergi ke ekskul voli, Rintarou lah yang akan menghampirinya duluan ke kelas. Tidak jarang, pemuda itu pun membawakan minuman isotonik. Lalu pernah saat Osamu tidak masuk sekolah gara-gara sakit namun tidak ada yang merawat karena kedua orang tuanya harus tetap pergi bekerja, Rintarou diam-diam bolos sekolah dan menungguinya seharian.

Bukankah itu hal yang sewajarnya dilakukan oleh sepasang teman sejak kecil?

Atsumu yang terus mengawasi, perlahan memberi tatapan lo-goblok-apa-tolol-sih sebelum menggeleng beberapa kali, lalu bangkit dari duduk begitu apel yang dikupas Osamu sudah tandas seluruhnya.

“Sam, Sam, gue tau lo bego, tapi gue nggak nyangka lo bisa sebego ini.”

Dan sebelum Osamu bisa melempar benda apa pun yang ada di atas meja, Atsumu segera lari terbirit-birit menuju kamar mereka.


“Kata orang, diem-dieman tuh nggak boleh lebih dari tiga hari, loh.”

Osamu terlonjak. Keningnya sampai tidak sengaja membentur pintu loker di ruang ganti ekskul voli SMA mereka. Ia meringis pelan sembari menggosok-gosok bagian yang mulai memerah dengan netra yang sedikit mengeluarkan air mata di ujung.

Rintarou berdiri di ambang pintu dengan senyum yang terkulum.

“Kaget banget emang? Kok sampe kejedot gitu?”

“Duh, lo kalau masuk tuh salam dulu kek, apa kek. Jangan ngagetin kayak gitu, dong!” omelnya meski Osamu cepat-cepat kembali menghadap loker untuk menyembunyikan ekspresi gugupnya.

Tidak terdengar balasan apa pun dari sang teman sampai Osamu mengira pemuda itu telah beranjak pergi. Namun saat dirinya menoleh, Rintarou tengah memperhatikannya cukup intens dengan penuh kontemplasi.

“Apa? Kenapa ngeliatin gue kayak gitu?” tanyanya seraya menutup pintu loker dengan kekuatan yang berlebihan sebagai upaya tanpa sadar untuk mempertahankan ketenangan.

“Lo marah, ya?”

“Marah kenapa?”

“Karena gue udah bilang suka sama lo.”

Osamu memejamkan mata sepersekian detik selagi menggerutu dalam hati— kok dia segampang itu sih bilang suka?

“Nggak, kok. Kenapa juga gue mesti marah?” kilahnya kini sambil menyibukkan diri melipat seragamnya dengan gerakan super lambat. Matanya menunduk penuh konsentrasi seakan aktivitas membentuk seragam putih itu menjadi lipatan rapi dinilai lebih sulit daripada mengerjakan tes Kimia minggu lalu.

“Buktinya lo ngehindarin gue selama dua hari. Kalau bukan marah, terus apa namanya?” tantang Rintarou yang kini berjalan mendekat ke arahnya. Osamu tak menjawab— terus melipat seragamnya yang malah membuat fabrik itu bertambah kusut.

Kalau boleh jujur, Osamu sungguh tidak merasa marah.

Ia hanya... bingung bagaimana sebaiknya menyikapi perasaan temannya tersebut. Apakah ia menyukai Rintarou? Itu sudah pasti. Tapi apakah jenis “suka” yang mereka rasakan sama?

Osamu perlu waktu untuk memastikan.

“Kan gue udah bilang, nggak usah dipikirin. Lo nggak mesti jawab—”

“Bukan gitu.” Tiba-tiba, Osamu merasakan gelombang frustrasi terhadap dirinya sendiri. Ia menyerah dan memasukkan bajunya ke dalam tas secara asal, lantas bangkit dan menghadap ke arah sang teman. “Gue cuma bingung.”

Hening. Tak ada yang bereaksi. Di saat seperti inilah rasanya Osamu berharap dia memiliki super power untuk mengetahui isi pikiran orang lain. Rintarou memang bukan orang yang mudah diterka, tapi sejak pernyataan tak terduga beberapa hari lalu, Osamu jadi ragu akan perspektif dirinya terhadap pemuda bersurai hitam tersebut.

“Kalau gitu, kasih gue waktu seminggu.”

Suara Rintarou memecah keheningan dan memotong tajam— terdengar teguh, tapi penuh keputusasaan di saat yang bersamaan.

“Seminggu? Buat?”

“Buat buktiin perasaan kita masing-masing.”

Kalau dalam keadaan normal, Osamu pasti sudah mengeluarkan gelak tawanya karena ucapan tersebut terdengar sangat cheesysangat bukan Suna Rintarou. Tapi yang ada di kepalanya, ucapan itu justru ia tafsirkan menjadi—

“Buat buktiin kalau lo juga suka sama gue, dan bukan sebagai temen.”

Rintarou menyuarakannya secara lantang dan penuh determinasi— menatap Osamu tepat di manik mata seolah itu akan membantu dalam usahanya mencapai afirmasi. Osamu menarik napas tercekat sembari berdoa semoga dirinya tidak pingsan di tempat.

Dan mulutnya sepertinya lebih tahu dalam membuat keputusan dibanding otaknya yang lagi-lagi dipenuhi Osamu-Osamu kecil dalam gerak kepanikan mereka.

“Oke. Seminggu. Deal.”

Dan akan menjadi dusta kalau Osamu sendiri tak berharap untuk mengetahui jawabannya.

-tbc


@fakeloveros