“Coba jawab,” Oikawa meletakkan cangkir tehnya di atas meja, dan kembali menghadap Iwaizumi untuk menatap pria itu lurus-lurus tepat di manik mata. “Apa pendapat kamu dulu waktu pertama kali ketemu sama aku?”
“Hmm...” Iwaizumi terlihat memikirkan pertanyaannya dengan serius sebelum menjawab dengan nada yang sama. “Kamu tinggi, ngingetin aku sama—”
“Please,” Oikawa mengerang, dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Jangan bilang kayak belalang?”
Iwaizumi tertawa pelan. Mata pria itu tertutup sedikit hingga memperlihatkan bentuk bulan sabit.
“Nggak, tadi aku mau jawab kamu ngingetin aku sama atlet-atlet voli yang tiap hari aku training.”
“Oh.” Oikawa mengangkat wajahnya, lantas mengulum senyum. “Baguslah. Untung kamu nggak jawab aku kayak belalang.”
Oikawa memperhatikan Iwaizumi yang ikut tersenyum kecil selagi meraih cangkir teh milik pria itu sendiri. Mereka sudah selesai — istilahnya — beberes, dan kini tengah bersantai di sofa ruang tengah dengan TV yang dinyalakan dalam volume sangat kecil. Namun tidak ada satu pun yang memedulikan tontonan di layar. Sedari tadi, hanya ada obrolan kecil yang terus berlanjut di antara mereka. Oikawa yang sejak tadi siang dirundung stres karena keadaan Tobio, akhirnya bisa merasa santai karena kehadiran pria di sebelahnya.
“Kamu tau nggak, aku kaget banget pas sadar kalau dulu awal-awal tuh aku dikerjain sama Tobio.”
“Jujur, aku juga nggak tau dia lagi ngerjain kamu waktu itu. Pokoknya dia cuma bilang lagi ngasih tes ke om aneh,” jawab Iwaizumi sambil terkekeh pelan.
“Beneran aku dipanggil om aneh? Emang aku seaneh itu, ya?” tanya Oikawa dengan kedua alis yang saling menyatu. Kalau diingat-ingat lagi, kelakuannya di awal-awal memang sedikit gila— mendadak mengajak seorang anak berkenalan demi mendapatkan sang Ayah. “Astaga, untung aku nggak sampe dikira pedofil atau apa...”
“Mungkin karena Tobio udah nggak aneh lagi kalau dideketin kayak gitu...”
Oikawa merenungi jawaban tersebut. Ia melirik Iwaizumi yang tetap terlihat tenang, dan memutuskan untuk bertanya tentang hal yang selama ini cukup membuatnya penasaran.
“Kata kamu, dia emang sering dideketin kayak gitu sama orang-orang yang tujuannya emang buat deket sama kamu. Terus... yang bikin perlakuan dia ke aku beda tuh apa? Eh, aku bukannya mau sok kepedean atau gimana... cuma... yah, aku yakin kamu paham maksudku.” Oikawa tidak tahu bagaimana harus membuat elaborasi lebih jauh, jadi ia hanya memberikan tatapan penuh arti— berharap Iwaizumi paham akan maksudnya.
“Mungkin karena kamu tetep naruh perhatian sama dia walaupun tau udah dikerjain dan aku pun udah tertarik sama kamu.”
Bukannya dibuat mengerti oleh jawaban lugas tersebut, Oikawa malah dibuat terbatuk-batuk. Ia memukuli dadanya sendiri dengan heboh. Matanya bahkan sampai berair, tetapi ia bisa melihat Iwaizumi hanya tersenyum kecil di balik cangkir yang diangkat dengan tenang.
“Gila, kamu tuh kalau ngomong suka...” Oikawa mengembuskan napas besar-besar sembari berusaha menenangkan diri. Ia memutuskan untuk tidak menyentuh tehnya dulu untuk sementara— takut dibuat tersedak lagi oleh ucapan penuh kejutan dari pria Gemini di sampingnya.
“Sebenernya aku nggak kayak gini orangnya,” seloroh Iwaizumi tiba-tiba.
“Boong banget.”
“Serius.” Iwaizumi ikut meletakkan cangkirnya di atas meja, dan memutar posisi tubuh 180 derajat hingga benar-benar menghadap ke arahnya. “Tapi kalau sama kamu, nggak tau kenapa... aku kayak nggak mikir sebelum ngomong.”
Oikawa kehilangan kata. Ia tidak tahu harus merespons apa.
“Kayak yang waktu itu... aku mau minta maaf lagi karena udah sempet bikin kamu nggak nyaman,” lanjut pria di sebelahnya dengan senyum yang terlihat sedikit menyesal. “Kamu bener, mungkin aku emang agak ketrigger sama masalah Akaashi. Tapi kalau nggak ada soal itu pun, aku sendiri udah yakin... cuma timingnya aja emang nggak pas, ya?”
Oikawa mengeluarkan gumaman tak jelas. Matanya berusaha memandang apa saja asalkan bukan netra penuh rasa ingin tahu yang diarahkan Iwaizumi padanya.
“Apa? Kamu ngomong apa barusan?” tanya pria itu, dengan tubuh yang sedikit dicondongkan.
“Kamu ngomong soal yakin gitu tuh...” Oikawa bisa merasakan pipinya semakin memanas. “Emang kamu udah suka sama aku?”
Tik Tok Tik Tok
Bunyi jarum jam yang sama kencangnya dengan detak jantungnya sendiri membuat Oikawa berkeringat dingin selagi menunggu. Di saat seperti ini, Oikawa membenci dirinya yang selalu haus akan afirmasi. Namun ia teringat dengan perkataan Kunimi; dirinya bukan orang yang suka menebak-nebak. Ia ingin segalanya terpampang jelas, seperti angka-angka dalam setiap laporan yang dibuatnya secermat mungkin.
Dan katakanlah dirinya kekanakkan karena harus meminta kepastian, tetapi kalau Iwaizumi tidak menegaskan soal ini, mau diyakinkan dalam bentuk apa pun, Oikawa pasti akan tetap menuntut jawaban.
“Kalau udah, apa ajakan aku yang waktu itu bakal kamu terima sekarang?”
Sungguh lucu bagaimana yang terpikirkan pertama kali oleh Oikawa justru — ah, ini orang pasti ngomong nggak pake mikir lagi — dan bukannya pikiran yang menyangkal.
Tetapi, begini.
Ajaibnya, alih-alih tersipu seperti gadis SMA yang baru menerima pernyataan suka, kali ini Oikawa menaikkan dagunya sedikit dan membalas tatapan lekat milik sang athletic trainer. Tidak ada yang berusaha memecah keheningan setelah pertanyaan itu diajukan— bahkan tidak ketika Oikawa menyadari tubuh pria itu semakin condong ke arahnya.
“Bisa aja,” Oikawa menjawab per silabel dengan oktaf yang diturunkan. Kali ini ia bisa melihat obsidian di hadapannya semakin jelas— nyaris menyatu dengan bayang-bayang gelap dari layar TV yang tidak seberapa. “Tapi kalau kayak gitu, di mana serunya nanti?”
Iwaizumi mengangkat salah satu sudut bibir, dan perhatian Oikawa otomatis tertuju ke arah sana. Pria itu seperti sengaja, entah untuk mengalihkan atensinya, atau memang ingin menunjukkan maksud dari proksimitas mereka sekarang.
Oikawa mulai bisa menghitung bulu mata yang membingkai kelopak sang pria, dan bunyi detak jantung — entah milik siapa — yang semakin terdengar jelas di telinganya.
“Kamu salah ngomong kayak gitu ke aku.”
Sekarang, Oikawa bisa merasakan hangat embusan napas pria itu menyapu pipinya. Tangannya meremas fabrik celananya sendiri kuat-kuat tanpa sadar.
“Kenapa gitu?”
“Soalnya,” Iwaizumi menjawab lambat seolah memperpanjang detik yang memisahkan mereka. Oikawa menjilat bibirnya yang terasa kering karena terpapar udara, dan Iwaizumi menangkap gerakan itu dengan kedua obsidian yang tak berkedip. “Aku justru suka tantangan.”
Oikawa yakin ini waktu yang tepat untuk memejamkan mata. Ada radiasi hangat yang hampir menyentuh bibirnya, dan ia sudah memantapkan tekad untuk ikut maju menghapus jarak beberapa inci tersebut kalau bukan karena—
“Om Oik...?”
Oikawa tersentak. Refleks, ia mendorong tubuh Iwaizumi menjauh sampai pria itu mengaduh pelan. Oikawa lantas menoleh ke arah sumber suara, dan mendapati Tobio sudah berdiri di samping TV dengan mata yang setengah tertutup. Anak itu membawa gelas kosong di tangan.
“T-Tobio kok bangun? Kenapa? Kepalanya pusing lagi?” Oikawa buru-buru bangkit dan menghampiri sang anak. Wajahnya masih terasa membara akibat mengingat apa yang hampir saja terjadi barusan. Ia berdeham beberapa kali untuk menghilangkan kegugupannya.
Tobio menggeleng pelan. Oikawa mengambil gelas yang ada di tangan anak itu karena khawatir Tobio akan menjatuhkannya.
“Tobio mau minum?”
Kali ini, sang anak mengangguk. Mata Tobio yang tadi masih setengah tertutup kini dibuka sedikit lebih lebar. Oikawa pun berdiri dan berjalan ke arah dispenser untuk mengisi gelas kosong tersebut. Saat melewati sofa, ia berusaha tidak memandang ke arah Iwaizumi yang tengah dihampiri sang anak.
“Ayah kapan pulang?” Samar-samar, Oikawa bisa mendengar Tobio bertanya.
“Tadi jam delapan. Ayah mau pulang cepet, tapi nggak bisa. Untung ada Om Oikawa yang jagain kamu.”
“Om Oik nginep di sini...?”
“Iya, buat nemenin kamu.”
Sekembalinya Oikawa, ia hanya menatap sekilas Iwaizumi sebelum memanggil Tobio untuk kembali ke kamar.
“Om bakal nemenin aku tidur, kan...?” tanya anak itu yang perlahan bangkit dari sofa.
“Iya, makanya ayo balik ke kamar sekarang, biar Tobio istirahat lagi,” jawabnya sambil mengulurkan tangan ke arah anak itu. Tobio menyambutnya, tetapi tidak ikut melangkah dan malah menoleh ke arah pria yang masih duduk diam di atas sofa.
“Kok Ayah nggak ikut...?”
“Ayah nanti nyusul, mau gembok pager dulu sama ngunci pintu depan. Tobio tidur duluan aja sama Om Oikawa.”
Begitu namanya disebut, matanya otomatis bersibobrok dengan Iwaizumi yang sedari tadi ternyata masih memandanginya. Rasanya Oikawa ingin cepat-cepat kabur dari sana, jadi ia menarik lembut tangan Tobio.
“Tuh, nanti Ayah nyusul, jadi ayo Tobio istirahat lagi sekarang.”
Tobio mengangguk patuh. Namun sebelum melangkah lebih jauh, anak itu kembali berhenti dan menengok ke arah sang Ayah.
“Ayah, nanti tidurnya di kamar, ya. Jangan di sofa. Aku mau kita tidur bertiga.”
Oikawa menahan napas menunggu jawaban pria itu. Padahal tadinya ia sudah berencana akan membiarkan Iwaizumi dan Tobio tidur duluan, sedangkan dirinya di sofa. Tapi kalau sudah begini—
“Oke, nanti Ayah pasti tidur di sana juga.”
Obsidian itu masih memandangnya lekat bahkan saat membalas ucapan sang anak. Tidak ada yang bisa dirinya lakukan selain menelan ludah susah payah sebelum memaksakan kakinya untuk bergerak.
Tik Tok Tik Tok
Oikawa tidak bisa menyangkal ketika bunyi jarum jam itu sudah tidak bisa lagi meredam jantungnya yang bertalu kencang.
Besok (semoga) tamat AU-nya... xixixi
@fakeloveros