“Sabtu nanti aku mau ngajak Tobio belanja bulanan bareng. Boleh, kan?”

Yang menerima pertanyaan lantas mengangkat muka, lalu meneliti raut wajah sang kekasih yang terlihat tanpa ekspresi. Iwaizumi menghela napas, lantas meletakkan sendoknya.

Sudah sejak minggu kemarin mereka seperti ini— atau lebih tepatnya, Oikawa yang seperti ini; bicara seperlunya, menjawab hanya kalau ditanya, dan acap kali langsung mengalihkan atensi jika pembicaraan mereka sudah terlalu intens.

Iwaizumi tidak tahu di mana letak persis kesalahannya. Dia sudah menggali otak, menerka-nerka segala macam kemungkinan yang membuat hubungan mereka menjadi renggang seperti sekarang. Walaupun Oikawa masih menerima ajakannya untuk pulang pergi bersama, bahkan makan siang di jam istirahat kantor, Iwaizumi memiliki firasat ini hanya aksi formalitas semata dari sang kekasih.

Selama sepersekian detik, netranya bergulir ke sekeliling restoran yang mereka datangi. Letaknya berada di tengah-tengah kantor mereka sehingga tidak akan dibutuhkan waktu lama untuk kembali ke lokasi masing-masing. Iwaizumi pikir, setidaknya dia masih punya waktu tiga puluh menit.

Tiga puluh menit untuk memaksa Oikawa membuka mulut.

“Boleh, tapi,” Iwaizumi memberi jeda, menanti sampai pria di hadapannya benar-benar menatap lurus ke arahnya, “kenapa nggak sama aku aja?”

Tidak ada balasan yang keluar dari mulut Oikawa setelahnya. Pria itu sedikit menggigit bibir dengan ekspresi seolah tengah menghadapi persoalan yang amat sulit.

Iwaizumi menyerah. Selera makannya benar-benar telah menghilang sekarang.

“Tooru...” panggilnya sehalus mungkin; tidak dengan lantang, tapi juga tetap menjaga privasi dengan desibel yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. “Apa ada yang mau kamu omongin ke aku? Waktu itu kamu janji bakal ngomongin masalah kita, kan? Apa aku ada salah? Kalau iya, aku minta—”

“Jangan,” potong Oikawa cepat dengan tatapan yang semakin nanar. “Jangan minta maaf. Kan aku udah bilang kamu nggak salah.”

“Terus apa masalahnya? Karena kalau dari aku sendiri, aku juga nggak ngerasa kamu ada salah apa-apa.”

Oikawa orang yang suka berceloteh— Iwaizumi yakin akan hal itu. Sekalipun ada keheningan di antara mereka, biasanya hanya jika sang kekasih sedang berkonsentrasi membuat laporan, atau keduanya terlalu sibuk merasai bibir masing-masing.

Yang jelas, tidak pernah ada keheningan seperti ini di masa tiga tahun mereka menjalin hubungan.

Iwaizumi tidak berbohong— perutnya mulai melilit karena tegang.

“Tooru,” panggilnya lagi, kali ini sambil meraih tangan sang kekasih yang terkepal di atas meja. Dielusnya punggung tangan itu sampai sang empunya mendongak, dan menelan ludah dengan susah payah.

“Minggu lalu... aku ketemu mama kamu.”

Gerakannya otomatis melambat. Dari nada yang disematkan Oikawa, pertemuan itu sepertinya tidak menghasilkan sesuatu yang baik.

“Mama kamu... bilang sesuatu,” lanjut Oikawa, dengan mimik wajah seperti orang yang tengah menahan rasa sakit. Refleks, Iwaizumi mengubah posisi tangannya, dan ganti menggenggam jemari milik pria yang dikasihinya.

Padahal, lidahnya sendiri kelu karena firasat buruk yang mulai merambatinya.

“Ini kejadiannya setelah... kamu ngelamar aku waktu itu.”

“Apa?”

Iwaizumi mengerutkan kening. Pernyataan itu baginya terdengar tidak masuk akal karena dia sendiri belum memberitahukan rencana tersebut kepada orang tuanya. Jadi, bagaimana ibunya bisa tahu?

“Aku juga nggak tahu beliau denger dari siapa,” Oikawa buru-buru menyela, mungkin karena melihat tampangnya yang mendadak berubah penuh tanda tanya, “tapi habis itu... mama kamu nanya ke aku...”

“Nanya apa?” tanyanya cepat, ingin segera meluruskan masalah apa pun itu di antara mereka. Mungkin selama ini orang-orang melihatnya sebagai sosok yang kuat; pria dengan pekerjaan stabil, sudah memiliki rumah, bahkan “keluarga kecil” versinya sendiri. Namun orang-orang di luar sana tidak tahu bahwa penopangnya selama tiga tahun belakangan adalah Oikawa. Iwaizumi pun tidak mengira dia akan merasa sebergantung ini pada sang kekasih.

Pikirannya berkelana ke tiga tahun belakang, dan membayangkan kemungkinan buruk apa yang akan terjadi seandainya dia tidak bertemu Oikawa, atau memberanikan diri memulai hubungan serius dengan pria itu. Kenyataannya, hubungan asmara yang pernah dijalaninya selama ini tidak pernah ada yang bertahan lama. Namun dengan Oikawa, Iwaizumi justru yakin untuk mengambil langkah yang semakin jauh.

Hanya dengan Oikawa.

Jadi, jika ada sesuatu, atau seseorang yang menghalangi hubungan mereka, Iwaizumi bersumpah akan melawan penghalang tersebut; tidak peduli meski dilakukan oleh orang terdekatnya sekalipun.

“Mama kamu nanya, apa kamu yakin mau sama aku buat seterusnya...? Gimanapun, kita sama-sama pria dewasa. Bisa bangun keluarga sendiri. Bisa...” Oikawa berhenti, tatapan pria itu seolah menyiratkan lebih baik memotong lidah sendiri daripada melanjutkan pertanyaan apa pun itu yang telah dilontarkan ibunya.

Sayang, tidak perlu seorang jenius untuk menebak kelanjutan kalimat tersebut.

“Bisa... punya keturunan sendiri.”

Dan saat Oikawa memalingkan muka, saat pria itu menarik napas dalam-dalam, maupun saat genggaman tangannya dilepas, Iwaizumi tahu siapa yang harus dia hadapi;

orang tuanya sendiri.


@fakeloveros