“Katanya mau ngajakin aku jalan-jalan.”
“Ayo.”
Oikawa menunggu— satu detik… dua detik…
“Ayo, tapi kok nggak gerak-gerak?” gertaknya pada sang pria yang justru masih sibuk dengan gawai di tangan. Oikawa merengut, dan mengangkat sedikit badannya untuk diposisikan bertumpu pada dada telanjang sang kekasih. Iwaizumi hanya bergumam, serta menggeliat kecil sebelum kembali fokus menarikan jari di layar gawai.
“Aku jalan-jalan sendiri aja, deh,” ucap Oikawa, begitu dilihatnya sang kekasih tak bergerak juga barang seinci, “paling bakal nyasar doang nanti di sini.”
Iwaizumi mendengus, tetapi setelah itu, tidak mengatakan apa pun lagi.
“Kalau nggak nyasar, paling aku nanti diculik sama bule sini. Nggak apa-apa sih, siapa tau yang nyulik mafia Italia gitu. Kan mereka ganteng-ganteng,” tukasnya lagi, mulai kesal karena sang pria tidak juga memberikan respons.
“Kalau nggak nyasar atau diculik, paling nanti aku—”
“Tooru, sayang, sebentar.”
Oikawa menelan semua kalimat yang hampir terucap saat mendengar titah halus tersebut. Meski begitu, bibirnya tetap dikerucutkan ke depan sembari membuat menanti sang kekasih menaruh atensi padanya.
“Apa? Kamu lagi ngapain, sih?” Oikawa bertanya tak sabar. Pasalnya, ini liburan pertama mereka berdua setelah resmi menjadi sepasang kekasih. Kedua orang tuanya bahkan sudah berbaik hati menawarkan bantuan untuk menjaga Tobio selama kepergian mereka. Cutinya yang menumpuk karena pandemi tahun lalu pun akhirnya bisa dia gunakan sepuas mungkin.
Namun, lihatlah sekarang— bukannya beranjak untuk mulai bersiap atau apa, Iwaizumi justru sibuk dengan layar gawai, dan urusan entah-apa-itu yang membuatnya dinomorduakan begini.
Oikawa menghela napas lelah. Mungkin Iwaizumi memang sedang sibuk sekarang, dan tak bisa diganggu sedetik pun. Ia sudah bersiap untuk beranjak dengan niatan membuat sarapan, tetapi mendadak ada tangan yang menariknya hingga dia kembali terbaring di atas kasur.
“Aduh! Apaan—”
“Kan aku bilang tunggu, Tooru.”
Tahu-tahu, sudah ada Iwaizumi yang mengungkungnya dari atas. Oikawa refleks mendongak untuk memberi akses lebih saat pria itu mulai menjatuhkan ciuman-ciuman kecil di sepanjang lehernya.
“Kamu lama, sih... kita udah jauh-jauh ke sini masa mau di atas kasur doang seharian?” gerutunya setengah hati sebab apa yang tengah dilakukan Iwaizumi sekarang justru membuatnya tak ingin segera beranjak. Oikawa memejamkan mata saat ciuman-ciuman kecil itu mulai berubah menjadi gigitan yang ia yakin akan meninggalkan tanda. Kaus putihnya terangkat sepertiga saat ada dua tangan yang terasa kasar di atas kulit mulai menggerayangi abdomennya. Oikawa tak sengaja mengeluarkan desah kecil saat jemari sang pria memberi usapan lembut di dua titik sensitifnya yang sudah mengeras.
Ajakan untuk pergi keluar, dan melihat-lihat pemandangan negara asing itu langsung menguap di udara. Tak perlu diragukan, Iwaizumi benar-benar tahu cara untuk membuatnya terdistraksi.
“Tadi aku lagi milih foto.”
Seperti gelembung sabun yang dipecahkan tiba-tiba, intensitas itu hilang tanpa aba-aba. Tak ada lagi bibir yang menempel di atas kulitnya, atau beban yang menahannya di atas kasur. Iwaizumi menarik diri sehingga Oikawa terpaksa membuka mata.
“Apa?” tanyanya, sedikit linglung akibat perubahan sikap Iwaizumi. Namun, kekasihnya itu hanya tersenyum, dan kembali meraih gawai yang ternyata sempat terabaikan.
“Tobio ngechat aku, katanya aku disuruh ganti foto kontak.”
“Biar apa?”
“Katanya dia bosen liatnya,” jawab Iwaizumi dengan senyum lembut yang belum juga sirna. Oikawa menatap pemandangan itu sedikit lebih lama; tidak bisa memutuskan antara segera mengambil gawainya sendiri untuk mengabadikan, atau justru mencium sang pria sampai mereka kehabisan napas.
Oikawa memutuskan pilihan pertama akan jauh lebih banyak memberinya keuntungan. Untuk sekarang.
“Kalau gitu pake foto baru aja. Sini, aku fotoin,” tawarnya, sambil menjulurkan tangan untuk meraih gawainya yang berada di atas nakas.
“Oh, boleh juga. Nih, pake HP aku aja.”
“Nggak mau. Pake HP aku aja, biar fotonya original dari kamera aku.”
Dari sudut mata, Oikawa melihat Iwaizumi menggeleng tak habis pikir. Kendatipun begitu, kekasihnya menurut tanpa melontarkan protes.
“Gayanya mau gimana?”
“Terserah kamu. Aku ngikut aja,” jawab Iwaizumi pasrah, kentara sekali tak biasa berpose di depan kamera. Pria itu menggaruk tengkuk dengan bingung, sementara Oikawa berpikir keras selagi memperhatikan sekeliling kamar Airbnb mereka.
“Kalau gitu, sini, tiduran aja di sini. Hmm... sambil main HP nih ceritanya. Kayak tadi,” usulnya penuh antusias sembari mendorong Iwaizumi kembali ke posisi semula. Lagi-lagi sang kekasih hanya patuh tanpa mempertanyakan alasan di balik pemilihan pose tersebut.
Oikawa bangkit, dan mundur beberapa langkah. Ia membidikkan lensa, lantas mengambil beberapa pose dari berbagai angle. Setelah selesai, Oikawa tersenyum puas selagi melihat-lihat hasilnya.
“Tuh, aku udah kirimin yang paling bagus.”
“Loh, kok yang dikirim satu doang? Tadi bukannya kamu ngambil banyak?” tanya Iwaizumi, sedikit bingung saat mendapati hanya satu foto yang dikirimkan olehnya. Pria itu terus memperhatikan layar gawai dengan kening berkerut dalam. “Kok wajahku nggak keliatan, sih? Ini adanya badan doang sama jendela.”
“Iya, itu sengaja. Bagusan gitu,” balasnya enteng, seraya mulai mengenakan celana pendeknya yang ternyata semalam terlempar sampai ke ujung ruangan. Oikawa berusaha menggali memorinya bagaimana fabrik itu bisa terlempar begitu jauh. Namun, hasilnya nihil karena yang ia ingat hanya aktivitas panas mereka setelahnya.
“Maksudnya aku bagusan nggak keliatan wajah, gitu?”
“Iya, soalnya,” Oikawa maju, dan memberi ciuman cepat di bibir sang kekasih yang tengah merajuk, “wajah ganteng kamu cuma aku yang boleh liat. Yuk, ah, sarapan. Habis itu kita harus jalan-jalan, aku nggak mau tau. Aku juga mau nyari oleh-oleh buat Tobio.”
Dan sebelum tangan Iwaizumi sempat menariknya kembali ke atas kasur, Oikawa segera melangkah menjauh. Namun, baru tangannya memegang gagang pintu, ia menoleh dan memberi tatapan menggoda dari balik bahu.
“Atau... kita bisa sarapan nanti, terus lanjutin ronde ketiga di dapur?”
Selanjutnya, yang mengisi pagi hari itu hanya tawa berderai milik Oikawa saat didapatinya Iwaizumi buru-buru bangun, dan menyusulnya keluar kamar.
Sepertinya, oleh-oleh untuk Tobio pun terpaksa menunggu.
@fakeloveros