Iwaizumi tidak ingat kapan terakhir kali dia mengendarai motornya secepat kilat seperti itu. Namun bahkan dengan kecepatan yang biasanya tidak akan ia gunakan, langit yang terlampau gelap seolah mengoloknya bahwa dia tetap terlambat.

“Mas...” Bibi yang sudah bekerja di rumahnya sejak ia mengadopsi Tobio menyambutnya di depan pagar dengan tergopoh-gopoh. Wajah wanita penuh kerutan itu terlihat khawatir meski tetap sigap membukakan pagar, bahkan langsung membantu membawakan tasnya.

“Tobio gimana, Bi?” tanyanya tanpa basa-basi selagi melepas sepatu. “Oikawa masih di sini?”

“Tadi terakhir Bibi cek habis makan malem emang masih anget badannya. Mas Oikawa dari tadi siang masih di sini terus, nemenin Tobio.”

Iwaizumi mengangguk paham. Sebenarnya tentu saja ini bukan kali pertama Tobio terserang demam. Namun keadaan di tengah pandemi seperti ini mau tidak mau membuat kewaspadaannya sebagai ayah meningkat. Walau ia bukan tipe yang kelewat strict terhadap protokol kesehatan, tetap saja berita bahwa suhu badan Tobio yang tadi siang tiba-tiba meningkat membuatnya tak bisa tenang seharian di tempat kerja. Sayangnya, Iwaizumi tidak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja sehingga ia hanya bisa pasrah dan memantau keadaan Tobio lewat sang Bibi.

Ia sempat menghubungi Oikawa, tetapi pria itu hanya menyarankan agar dirinya tidak panik dan tetap fokus di tempat kerja. Oikawa menambahkan bahwa kemungkinan Tobio hanya terserang demam biasa dan akan terus menemani sang anak hingga dirinya pulang nanti.

Otomatis, kekhawatiran Iwaizumi langsung menyusut setengahnya.

“Bi, ini udah malem, jadi Bibi pulang aja. Udah ada saya ini, jadi nggak apa-apa,” ucapnya dengan perasaan sedikit bersalah karena jadi menahan wanita paruh baya itu lewat dari jam seharusnya. “Kalau besok Tobio masih sakit, kayaknya saya bakal ambil cuti. Bibi datengnya telatan dikit juga nggak apa-apa.”

“Besok Bibi bakal dateng kayak jam biasa kok, Mas... nggak apa-apa. Bibi juga khawatir sama Tobio. Tapi kalau gitu, Bibi pulang sekarang, ya? Mas kalau belum makan, itu masih ada makanan di atas meja, udah Bibi siapin. Mas Oikawa juga belum makan tadi, katanya nanti aja.”

“Oh, iya, nanti saya bakal suruh Oikawa makan juga. Makasih ya, Bi...”

“Iya, Mas, semoga Tobio cepet sembuh, ya. Bibi pulang dulu.”

Setelah menyaksikan wanita paruh baya itu keluar dari pagar, dan memastikan bahwa benar masih ada makanan di atas meja, Iwaizumi melangkah perlahan menuju kamarnya. Asumsinya, kalau ada Oikawa yang menjaga Tobio, mereka pasti ada di kamarnya.

Namun anehnya, ia tidak mendengar suara apa pun.

Apa udah pada tidur...?

Pintu kamarnya tidak tertutup sepenuhnya. Ada celah yang memperlihatkan cahaya dari dalam ruangan tersebut. Ia mendorongnya sedikit, berusaha tidak membuat suara sekecil apa pun agar tidak membangunkan keduanya apabila memang sudah tertidur.

Dugaannya terkonfirmasi saat mendapati dua orang yang tengah tertidur pulas di atas tempat tidurnya. Matanya langsung bergulir ke arah Tobio yang tidur dengan kain basah diletakkan di atas kening, dan selimut menutupi sampai dagu. Setelah memastikan tidak ada gejala aneh lagi terlihat di tubuh sang anak, netranya lantas melirik ke arah pria bersurai cokelat yang berbaring miring dengan satu tangan diletakkan di atas selimut anaknya. Masih dengan langkah mengendap-endap, Iwaizumi masuk ke dalam kamar dan memperhatikan dua sosok tersebut dari kaki tempat tidur.

Ia tahu harusnya sekarang khawatir dengan keadaan Tobio, tetapi di saat bersamaan, dirinya tidak bisa menahan rasa hangat yang muncul saat menyaksikan pemandangan di depannya.

Biasanya, kalau Tobio sakit, tidak ada yang bisa ia andalkan selain sang Bibi atau yang paling mendesak adalah meminta bantuan ibunya untuk datang ke rumah. Tapi ia sendiri tidak enak mengambil waktu ibunya, terlebih mereka tidak tinggal di wilayah yang berdekatan meskipun masih satu kota. Jadi begitu ada Oikawa yang dengan sigap langsung menawari—

Tidak. Pria itu bahkan berinisiatif sendiri sebelum Iwaizumi meminta bantuan.

Tidak ingin mengganggu keduanya lagi, Iwaizumi pun memutuskan untuk segera keluar dan menghabiskan sisa malamnya di sofa ruang tamu. Namun baru ia mencapai pintu, ada gumam kecil yang menyebut namanya dari belakang.

“Iwa...?”

Yang dipanggil menoleh, dan mendapati Oikawa setengah bangkit dengan tangan yang mengucek mata. Pria itu mengerjap beberapa kali sebelum memfokuskan tatapan ke arahnya.

“Oh, kamu udah pulang?” bisik Oikawa setelah berhasil mengumpulkan kesadaran sepenuhnya. “Si Bibi mana?”

“Bibi udah aku suruh pulang tadi. Sori, aku ngebangunin kamu, ya?”

Oikawa menggeleng, dan kali ini benar-benar bangkit untuk mendudukkan diri. Pria itu lantas berpaling ke arah Tobio dan memeriksa kening anak tersebut.

“Tadi siang panas banget badannya, tapi ini sekarang udah mendingan. Dia udah makan sama minum obat juga, tinggal banyakin istirahat aja.” Oikawa kemudian kembali melongok ke arahnya, tetapi dengan pandangan sedikit ragu. “Apa aku... mendingan balik sekarang juga?”

Iwaizumi menelan ludahnya. Ia ingin langsung menjawab jangan, tetapi semenjak kejadian ditolaknya tempo lalu, Iwaizumi sedikit belajar untuk menahan diri dan mementingkan pendapat pria tersebut. Dia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.

Di tengah konflik batinnya, Oikawa kembali melanjutkan.

“Kalau iya, aku—”

“Nggak usah,” potongnya cepat sebelum ia bisa menahan diri. “Maksudku, kalau kamu nggak keberatan... malam ini gimana kalau kamu nginep di sini aja? Siapa tau... itu... takutnya Tobio nyariin kamu nanti kalau kebangun,” lirihnya terpatah dengan wajah yang sedikit ditundukkan. Namun ia bertekad, bilamana Oikawa tetap bersikeras ingin pulang, dia tidak akan menghalangi.

“Oke.”

Suara halus itu terdengar tak beberapa lama setelahnya. Iwaizumi mengangkat kepala, dan Oikawa tengah menggaruk tengkuknya yang memerah. Namun pria itu tidak melihat ke arahnya sama sekali.

“Aku... bisa stay malem ini kalau kamu emang mau.”

Iwaizumi mengangguk yakin. Ia pun tidak bisa menahan senyumnya yang sedikit keluar, tetapi begitu Oikawa melirik ke arahnya, Iwaizumi langsung memasang wajah serius.

“Tadi si Bibi bilang kamu belum makan. Itu masih ada di makanan di atas meja, gimana kalau kamu makan dulu? Aku mau mandi sama ganti baju juga, nanti aku nyusul.”

Oikawa mengangguk singkat, lantas berdiri dari tempat tidur. Iwaizumi memperhatikan dari sudut mata, pria jangkung itu menunduk untuk memperhatikan kaus putihnya, lalu menukas lirih dengan nada yang terdengar lebih ragu dibandingkan tadi.

“Aku... boleh minjem kaos kamu, nggak? Yang ini udah aku pake dari tadi siang, jadi agak nggak enak rasanya... tapi kalau nggak boleh, aku bisa pulang dulu terus nanti—”

“Nggak usah, nanti aku pinjemin, kok. Kalau kamu mau mandi sekalian juga bisa. Aku ada handuk sama sikat gigi juga kalau kamu mau.”

Oikawa masih terlihat ragu. Pipi pria itu mengeluarkan sedikit semburat yang tanpa sadar Iwaizumi pandangi cukup lama. Namun setelah beberapa detik berlalu dalam keheningan, Oikawa mengangguk juga.

“Boleh... makasih ya, maaf jadi ngerepotin.”

“Ngomong apa, sih? Anggap aja ini ucapan makasih karena kamu udah jagain Tobio.”

Mereka mulai berjalan keluar menuju ruang makan setelah sebelumnya memastikan Tobio tidak terbangun karena gumam percakapan tersebut.

“Tapi aku ikhlas kok jagain Tobio,” balas Oikawa yang terdengar sedikit tidak terima dari belakangnya.

“Kalau gitu,” Iwaizumi berputar, dan hampir saja ia bertabrakan dengan Oikawa yang langsung berhenti akibat manuvernya. Netra cokelat yang sedikit terbuka dengan terkejut tersebut terlihat sangat dekat hingga Iwaizumi harus mengambil satu langkah mundur. Ia bahkan hampir bisa menghidu aroma alami tubuh Oikawa yang bercampur dengan aroma familier kamarnya sendiri— menandakan bahwa sang pria memang berada di kamarnya seharian ini.

“Kalau gitu, anggap aja ini ucapan makasih karena kamu mau stay.”

Iwaizumi tidak tahu apakah Oikawa bisa menangkap maksud lain dari kalimatnya barusan. Namun keterdiaman Oikawa, juga semburat yang semakin terang, membuat dirinya bersorak puas dalam hati sebelum berbalik tanpa menunggu balasan dari pria itu.


@fakeloveros