Sepertinya sudah sepuluh menit lebih Tobio mengamati pria yang mengajaknya pergi di Sabtu sore itu mengobrak-abrik belanjaan mereka dengan panik. Pasalnya, beberapa menit setelah mereka keluar dari arena perbelanjaan menuju tempat parkir, Oikawa tiba-tiba merogoh kantong celananya, lantas berseru kaget bahwa dompetnya tidak ada.
“Ada di dalem kali, om...” ujarnya pertama kali begitu Oikawa terlihat kalang kabut. Ia sudah siap akan kembali ke dalam, tetapi suara resah Oikawa keburu menahan langkahnya.
“Nggak mungkin! Kamu kan tadi liat sendiri om habis bayar belanjaan kita. Duh, keselip apa, ya?”
Dan begitulah awal cerita bagaimana kini mereka berada di antara mobil-mobil dengan Oikawa yang sibuk membuka satu per satu kantong yang mereka bawa. Tobio baru ingin berlutut, dan ikut mencari ketika dari sudut mata ia menangkap ada seseorang yang tengah berlari ke arah mereka. Dirinya lantas menegakkan tubuh, dan langsung terperanjat begitu menyadari sosok bersurai jingga lah yang tengah menghampirinya.
“Hina... ta?” bisiknya tak percaya dengan netra yang terbelalak lebar. Oikawa, mungkin karena mendengar bisik keterkejutannya, ikut menoleh ke arah titik pandangnya.
“Hinata? Hinata yang suka rebutan lapangan sama kamu itu?” Oikawa ikut bertanya, untuk sedetik melupakan masalah dompet yang hilang. Namun, ia hanya mampu membisu karena kini sosok itu semakin mendekat. Ini pertama kalinya Tobio melihat pemuda itu mengenakan pakaian lain yang bukan seragam. Dan harus diakui, Hinata terlihat... berbeda dalam balutan kemeja flanel kotak-kotak hijau, serta kaus putih polos di dalamnya.
(Tobio tidak sadar dia menatap lebih lama dari seharusnya.)
Barulah saat pemuda itu berhenti di hadapannya, dengan napas tersengal dan peluh bercucuran, Tobio tersadar dia harus mengatakan sesuatu.
“Lo... ngapain?” tanyanya, sedikit tersendat karena masih tidak memercayai kenyataan bahwa mereka bertemu di luar sekolah, dan terlebih lagi bukan untuk berebut lapangan.
“Ini...” Hinata memulai, berusaha meraup udara sebanyak mungkin supaya mampu berbicara dengan lebih jelas, “tadi... gue liat pas lo keluar... eh, ini... jatoh. Kayaknya punya om lo...”
Tobio menunduk, dan menemukan sebuah dompet tengah dijulurkan Hinata padanya. Sebelum dirinya sempat bereaksi, Oikawa lah yang terlebih dulu bangkit dari posisi jongkok, dan terpekik senang.
“Eh, iya! Ini dompet om! Ya, ampun... ternyata jatoh, ya!”
Hinata mengangguk, lantas menyerahkan dompet tersebut kepada sang empunya yang kini tak lagi terlihat seperti hampir menangis.
“Saya nggak buka dompetnya kok, om. Jadi harusnya sih masih aman isinya...” ucap Hinata sedikit kikuk. Netra madu pemuda itu berulang kali melirik ke arahnya. Kendatipun begitu, Tobio hanya berdiri diam selagi menyaksikan interaksi ajaib tersebut— terlampau bingung untuk mengatakan sesuatu.
“Oh, nggak apa-apa, Hinata! Om percaya kok sama kamu. Makasih banyak ya, udah capek-capek lari sampai ke sini buat balikin dompet om. Duh, coba kalau yang nemuin orang lain! Kan belum tentu bakal ada yang jujur,” balas Oikawa dengan senyum riang. Hinata ikut tersenyum walau raut wajah sang pemuda menunjukkan keheranan.
“Om... tau nama saya?”
“Oh? Tau, dong! Tobio kan sering cerita soal—”
“OM!” Tobio tanpa sadar langsung berteriak untuk memotong pembicaraan yang semakin memasuki zona berbahaya tersebut. Dirinya dengan panik menunduk, dan mulai membereskan plastik belanjaan yang dibiarkan begitu saja oleh Oikawa. “Om, kan udah ketemu dompetnya, ini langsung beresin, dong. Nanti kalau ada yang ilang lagi kan ribet,” omelnya, tanpa berani mengangkat wajah untuk melihat ekspresi keduanya.
Terutama, eskpresi dari Hinata karena Tobio tahu pemuda itu tengah mengamatinya.
“Duh, iya, kamu cerewet deh kayak ayah kamu...” gerutu sang pria sebelum kembali menghadap ke depan, dan melanjutkan perbincangan dengan Hinata. “Eh, ngomong-ngomong, kamu ke sini sama siapa? Habis ini ada acara, nggak?”
“Oh, saya tadi bareng ibu sama adek ke sini. Cuma saya suruh mereka pulang duluan soalnya mau balikin dompet om yang nggak sengaja saya liat jatoh ke jalan.”
Tobio berhenti, lalu mendongak sedikit untuk menatap sang pemuda.
Jadi dia punya adek...
“Eh, serius? Wah, gara-gara itu kamu jadi ditinggal, dong...” tukas Oikawa dengan nada tak enak. “Kalau gitu mau mampir ke rumah om buat makan malem, nggak? Sama Tobio juga. Rumah om nggak jauh kok dari sini, cuma sepuluh menitan. Nanti pulangnya bisa Tobio anter pake motor. Ya, kan, Tobio?”
“Hah?”
Dirinya hanya tercengang— sama sekali tak memiliki persiapan atas 'serangan' mendadak yang dilancarkan Oikawa. Setidaknya, Hinata pun terlihat sama bingungnya meski pemuda itu tetap menyunggingkan senyum lebar.
“Nggak usah kok, om... nggak apa-apa, nanti saya bisa pulang naik angkot atau gojol. Rumah saya juga nggak begitu jauh dari sini,” tolak Hinata sesopan mungkin. Namun, saat mendengar penolakan tersebut, ada sebersit kekecewaan yang terselip di hatinya.
Tobio gatal ingin menampar pipinya sendiri atas pemikiran tak masuk akal tersebut.
“Yah, tapi om mau ngucapin makasih ke kamu, dan kebetulan di rumah om lagi ada banyak makanan! Om denger dari Tobio katanya kamu main voli? Om juga dulu pemain voli loh di SMA, siapa tau kita bisa cerita-cerita. Tobio juga dulu suka voli, nih. Eh, tiba-tiba dia belok ke basket sekarang.”
“Oh, ya?”
Netra sewarna madu itu kembali bergulir ke arahnya, penuh rasa ingin tahu. Tobio otomatis menunduk, dan berpura-pura membereskan kembali kantong-kantong belanjaan mereka.
“Kalau misalnya nggak ngerepotin, sih... saya ada waktu.”
“Nggak kok, nggak! Om seneng malah kalau kamu mau dateng!” sambut Oikawa penuh semangat. “Tobio, nggak apa-apa kan Hinata ikut sama kita?” Pria itu lantas menoleh ke arahnya, dan terselip nada jahil yang membuatnya memutar kedua bola mata tanpa sadar.
Tobio berdeham, kemudian mengangkat semua kantong yang sudah ia kumpulkan ke satu tangan.
“Nggak apa-apa.”
“Pulangnya nanti anterin Hinata juga, ya?”
“Eh, kalau itu nggak usah repot—”
“Iya, nanti aku anter.”
Lagi. Tobio tak berani menoleh ke arah sang pemuda saat memotong penolakan tersebut. Ia hanya melirik sekilas sebelum membalikkan badan, dan mulai berjalan ke arah mobil Oikawa yang terparkir tak jauh dari sana.
Di belakangnya, Oikawa dan Hinata mulai terlibat perbincangan seru. Entah kenapa, ia tidak heran melihat dua orang itu segera menemukan kecocokan. Tobio justru bersyukur karena jadinya tidak perlu repot-repot mencari topik untuk dibicarakan dengan Hinata. Ia cukup mendengarkan.
Tobio hanya berharap kedua orang itu tidak mendengar suara jantungnya yang bertalu kencang.
@fakeloveros