“Kamu ngapain lagi, sih...”

Begitu sapaan yang diterima Oikawa ketika ia melangkah keluar dari kamar mandi. Ia mendapati Iwaizumi tengah duduk di sofa dekat jendela kamar hotel mereka dengan tangan yang sibuk menari di atas layar handphone. Oikawa tersenyum jahil dan melempar handuknya sebelum menghampiri sang kekasih.

“Apa? Emang aku ngapain?” tanyanya polos sembari melingkarkan tangan di sekitar bahu pria itu dari belakang. Meski mereka menggunakan sabun hotel yang sama, tapi ada aroma khas sang kekasih yang membuatnya menenggelamkan kepala di antara ceruk leher pria itu dan menghidu lebih dalam.

“Nggak usah sok polos, deh. Aku udah liat nih thread yang kamu buat tadi sore di Twitter,” jawab Iwaizumi, dan dengan tangan yang bebas menyentil keningnya pelan. “Rating ciuman? Ada-ada aja.”

Oikawa terkekeh dan menjatuhkan ciuman-ciuman kecil di sepanjang leher kekasihnya. “Nggak apa-apa, dong. Kan biar pada iri sama aku gara-gara bisa nyium kamu, tapi mereka nggak, hehe.”

Iwaizumi mengembuskan napas pasrah. Dari peripheral-nya, Oikawa melihat pria itu masih membaca isi thread yang dia buat dengan saksama.

“Ini,” Sang kekasih tiba-tiba mengetuk layar handphone sebagai gestur ingin minta diperhatikan. “Kamu suka ciuman aku kalau lagi cemburu?”

“Suka.”

“Kalau gitu sini.”

Tanpa memberikan kesempatan bagi Oikawa untuk merespons, Iwaizumi lantas menarik tangannya hingga ia terpaksa berjalan memutari sofa. Tanpa aba-aba, pinggangnya diraih dan Oikawa pun terduduk di atas pangkuan pria itu. Tangannya secara otomatis langsung melingkar di sekitar leher Iwaizumi. Pria itu memberinya tatapan yang biasanya berhasil membuat Oikawa merasa **terintimidasi **sekaligus ingin.

“Kamu tau nggak kalau seharian ini aku habis nahan cemburu?”

Iwaizumi mengeratkan rengkuhan, dan Oikawa menjilat bibirnya tanpa sadar.

“Cemburu kenapa?” pancingnya polos.

“Nggak tau, mungkin karena aku baru sadar kalau liburan ke pantai tuh ternyata ide buruk. Didn't know you'd go shirtless and shit,” gerutu Iwaizumi dari bawah napasnya. Oikawa tertawa pelan karena alasan pria itu benar-benar terdengar konyol.

“Duh, iya lah aku bakal shirtless? Masa aku ke pantai pake sweater?” Oikawa menjulurkan leher dan mencium ujung hidung kekasihnya. “And if we talked about being jealous, harusnya aku nggak sih yang lebih cemburu...? Kamu pikir aku nggak sadar banyak cewek yang ngeliatin badan kamu?”

Untuk menekankan maksudnya, Oikawa menggulirkan netra dari atas ke bawah— ke arah tubuh Iwaizumi yang meskipun tertutup oleh kaus, tetap memperlihatkan lekuk otot hasil olahraga rutin.

Iwaizumi mengangkat satu alisnya tinggi-tinggi. “Ngapain cemburu? Mereka kan cuma bisa ngeliatin.”

“Oh? Berarti kalau sama aku boleh diapain aja, ya?”

“Iya.” Gantian kini Iwaizumi yang maju dan menjatuhkan kecupan pelan di ujung bibirnya. “Asal aku juga boleh apa-apain kamu.”

Oikawa tidak tahu harus menangis atau tertawa mendengar kalimat tersebut. Tapi ia pun tidak bisa memberi reaksi karena bibirnya terlampau sibuk dilumat oleh sang kekasih. Pagutan yang ritme awalnya lambat itu lama-lama naik hingga hanya deru napas yang mereka kejar. Iwaizumi mengenal tubuhnya lebih dari siapa pun— bahkan mungkin lebih baik dari dirinya sendiri. Pria itu tahu kapan harus memperlambat ciuman untuk memberikan kesempatan menarik napas, atau mempercepatnya kembali hingga hanya pening yang Oikawa rasakan.

Iwaizumi juga tahu kapan waktu yang tepat untuk memperdalam ciuman mereka dan menjelajah setiap incinya tanpa memberikan Oikawa jeda sedikit pun. Nantinya, akan ada tangan yang meremas kuat kaus pria itu karena dari ciuman saja rasanya mampu membuat Oikawa kehilangan akal.

“Coba kasih tau,” Iwaizumi mendadak memberi jarak untuk berbisik di atas bibirnya. “Kalau yang ini ratingnya berapa?”

Otaknya seperti aliran listrik yang terputus— tidak bisa diajak bekerja sama untuk berfungsi. Benaknya terlalu berkabut bahkan untuk sekadar mengingat namanya sendiri.

“Infinity,” jawabnya tak beberapa setelah mampu menyambungkan beberapa gerigi di otaknya. “Kalau sama kamu, ciuman tiap menit juga aku mau. Soalnya enak.”

Iwaizumi tertawa rendah. Satu tangan pria itu naik untuk mengusap rahangnya lembut. Meski begitu, netra yang memakunya intens justru terlihat sangat berlawanan.

“Menurut kamu, apa aku cuma jago di ciuman?”

Oikawa menelan ludah. Ia menggeleng pelan yang disambut dengan senyum miring sang kekasih.

“Mungkin habis ini kamu bisa bikin thread lain soal aku.”

“Thread soal kamu? Misalnya?”

Oikawa tahu ia baru saja melontarkan pertanyaan retoris.

“Gimana kalau aku buktiin dulu? Baru habis itu kamu kasih rating.”

Dan Oikawa hanya bisa terpekik kaget saat Iwaizumi mendadak bangkit. Ia yang tadinya masih duduk di pangkuan pria itu lantas melingkarkan tungkai kakinya agar tidak terjatuh.

Iwaizumi kembali memagut bibirnya sementara pria itu melangkah menuju kasur dan menjatuhkannya di atas permukaan yang empuk. Ia hanya tertawa saat dengan main-main Iwaizumi menggeram kecil dan menggigit bibir bawahnya sebelum ditarik pelan.

“You're shitty, but I love you.”

Oikawa tersenyum di atas bibir Iwaizumi yang juga ikut melengkung lebar.

Iwaizumi tidak perlu membuktikan— ia sudah bisa langsung memberikan penilaian sempurna terhadap apa yang akan dilakukan pria itu selanjutnya sepanjang malam.

Tapi, ide untuk membuat thread lain sepertinya boleh juga.


@fakeloveros