Rasanya seperti mengulang memori saat Oikawa pertama kali berkunjung untuk makan malam bersama keluarga kecil itu. Saat ia dengan gamblang menyampaikan ketertarikannya, dan — mungkin — semenjak itu pula mulai ada yang berubah di antara mereka.

Mereka— tidak hanya dengan Iwaizumi, tetapi juga Tobio.

Entah bagaimana dua nama itu berhasil membuat hidupnya yang mundane di tengah pandemi menjadi lebih... memacu adrenalin.

Terutama, si yang lebih tua.

“Nanti kamu pulang, nggak?”

Pertanyaan sang Ibu memecah konsentrasinya yang tengah sibuk menarik benang dari sweater cokelat kesayangannya.

“Hah? Ya pulang lah, Bu!” jawabnya, dengan pipi yang mulai mengeluarkan semburat karena maksud tersirat dari pertanyaan barusan. “Lagian kan Tobio di sini, nanti kalau aku nggak pulang gimana?”

Ibunya malah menaik-turunkan alis dengan gaya menggoda.

“Kalau kamu nggak pulang, ya Tobio nginep aja di sini. Apa susahnya?”

Oikawa menarik napas dalam-dalam dan berusaha mengenyahkan imajinasi liar yang sempat terlintas akibat perkataan ibunya. Ia berputar sedikit untuk memeriksa penampilannya sekali lagi di depan kaca sebelum menghadap sang Ibu.

“Nggak, Ibu. Aku bakal pulang kok malem ini,” jawabnya tegas.

“Oke,” sang Ibu membalas ringan. “Tapi kalau sampe jam sebelas nanti batang hidung kamu nggak muncul juga depan pager, ibu kunciin, ya.”

Oikawa lantas memutar bola mata, sudah terlanjur kehabisan kata untuk membalas ibunya.

“Tobio di mana, ngomong-ngomong? Di kamar ibu, ya?” tanyanya saat berjalan beriringan dengan sang wanita menuju pintu keluar. Sejak kedatangan Tobio tadi sore, ia hanya sempat mengobrol dengan anak itu sebentar sebelum dirinya pun bersiap-siap.

“Iya, lagi main noh sama opa-nya.”

“Kalian tuh kenapa, sih... Ibu juga nyuruh Iwaizumi manggil Ibu, kan? Udah kayak apaan aja, deh...” gerutunya sembari memakai sepatu. Ibunya hanya mengeluarkan cengiran lebar selagi bersandar di dekat pintu.

“Kamu tau nggak ucapan itu adalah doa? Apalagi ucapan orang tua. Itu kan sama aja doa biar kamu sama Mas Iwaizumi tuh hubungannya lancar.”

“Iya deh, aku aminin aja dulu...” tukasnya pasrah. “Ya udah, Tooru dinner dulu sama Mas Ganteng ya, Bu, hehe.”

“Halah, kamu nih sendirinya kesenengan! Ya udah, sana! Salam buat Mas Gantengmu itu.”

Setelah berpamitan dengan ibunya, Oikawa melangkah ringan menuju rumah dengan pagar hijau yang telah didatanginya puluhan kali. Meski jantungnya sendiri berdetak tak karuan, kali ini ia tidak ragu untuk melangkah lebih cepat. Diam-diam, ia pun telah sangat menantikan malam ini.

Aku gak mau ada yang interupsi kita lagi nanti.

Oikawa sampai berhenti sebentar untuk menenangkan jantungnya karena mendadak teringat dengan kalimat yang ditulis Iwaizumi tempo lalu. Kalau dirinya tokoh dalam komik, pasti sudah ada asap yang keluar dari atas kepalanya sekarang.

“Ah, gila... gue kenapa jadi kayak ABG gini, sih?” gumamnya, bertepatan dengan kaki yang berhenti di tempat tujuan. Baru tangannya ingin mengirim pemberitahuan bahwa ia telah tiba, pintu rumah itu tiba-tiba terbuka dan Iwaizumi melangkah keluar untuk menyambutnya.

“Padahal aku belum ngasih tau kalau udah dateng?” Oikawa mengangkat satu alisnya dengan heran. “Jangan-jangan kamu nungguin depan pintu, ya?”

Iwaizumi tersenyum, dan membalas singkat. “Feeling aja.”

Oikawa tidak merespons jawaban absurd tersebut dan langsung mengikuti Iwaizumi masuk ke dalam. Begitu pintu ruang tamu tertutup di belakangnya, hidungnya langsung disambut oleh berbagai aroma lezat.

“Damn...” Oikawa berbisik takjub. “Kamu masak apa aja malem ini?”

“Obviously, pasta,” Iwaizumi tersenyum lebar kemudian menuntunnya ke meja makan yang malam itu penuh dengan berbagai hidangan. Matanya berkilat penuh kagum saat memandangi masakan yang bahkan tak ia ketahui namanya. “Sama masakan Italia lainnya. Biar lengkap.”

“Wow.” Rasanya Oikawa ingin melemparkan ratusan pujian, tapi yang sanggup ia keluarkan hanya satu kata tersebut. “Ini ada apa aja?”

“For starter, ada yang namanya Bruschetta. Ini semacam grilled bread gitu yang di atasnya pake simple toppings. Kalau ini... kamu tau lah ya, aku bikin pasta carbonara. Terus aku juga bikin Risotto kalau misalnya nanti kamu belum kenyang. Oh, terus dessert-nya ada Tiramisu Cake di kulkas.”

Oikawa hanya melongo mendengar penjelasan tersebut. Ia memang sering menggoda pria itu untuk membuatkannya masakan enak di acara makan malam mereka hari ini, tetapi apa yang ada di depan matanya sekarang benar-benar di luar dugaan.

“Sama ini...”

Oikawa menengadah. Matanya bersibobrok dengan Iwaizumi yang tahu-tahu tengah mengangkat sebuah botol tinggi dengan label dalam tulisan asing.

“Wine?” tebaknya sedikit ragu.

“Barbaresco.” Kata asing itu mengalun lancar dari bibir Iwaizumi. “One of the finest red wine in Italy. Dia punya aroma yang lebih kuat dibanding rasa. Aku nggak tau kesukaan kamu apa, tapi ini salah satu wine favoritku.”

“No, this is... fine. Thank you,” lirih Oikawa yang benar-benar tidak tahu lagi harus berkata apa, atau bereaksi bagaimana. Tangannya mendadak gatal ingin meraih pria itu untuk— apa saja.

Memeluknya, atau menciumnya sekalian, mungkin.

“Aku udah janji bakal masakin sesuatu yang enak buat kamu malem ini, jadi aku harap... yah, kamu emang bakalan suka.”

Untuk pertama kalinya, Iwaizumi terlihat malu saat melontarkan ucapan tersebut. Pria itu menyentuh tengkuk dengan gestur gugup. Sebuah pemandangan yang benar-benar jarang terlihat.

Oikawa tersenyum, lalu melangkah pelan supaya mereka bisa saling berhadapan. Kegugupannya sendiri mendadak hilang. Oikawa bahkan tidak peduli seandainya nanti ternyata masakan Iwaizumi hambar atau kelebihan garam.

Ia hanya ingin menenangkan pria itu.

“Aku yakin masakan kamu lebih enak dari punya Daichi.”

Iwaizumi mendengus. Pria itu ikut mengguratkan senyum kecil sebelum berputar dan menarik kursi untuk mempersilakannya duduk.

“Kalau soal itu, nggak usah ditanya lagi.”


“Sumpah, saranku nih ya, kamu sama Daichi keluar aja deh dari kerjaan masing-masing terus buka restoran! Aku mau kok yang jadi ngurusin keuangan kalian.”

Ada tawa rendah yang menyusul setelah kalimat itu terlontar. Oikawa sendiri hanya tersenyum lebar selagi mengamati pria yang terlihat santai malam itu dengan kemeja flanel dan kaus hitam di baliknya.

“Oke, aku mau ngaku. Sebenernya aku nanya resep-resep itu juga ke Daichi, bukan belajar sendiri,” ucap Iwaizumi sambil meraih botol wine yang ada di atas meja untuk dituangkan kembali ke gelas mereka berdua. “Walaupun spesialisasi dia lebih ke masakan lokal, sih.”

“Still,” Oikawa menukas lambat. “Menurutku masakan kamu lebih enak dari dia.”

Oikawa mengangkat gelas untuk menyesap substansi merah di dalamnya. Ia memperhatikan obsidian yang balik memandangnya lekat itu dari balik gelas. Untuk sesaat, tidak ada yang memecah sunyi, dan mereka hanya saling beradu pandang penuh arti.

Oikawa tidak ingat kapan mereka menghabiskan semua hidangan yang di atas meja. Namun di detik perutnya seperti akan meledak dan dirinya tidak bisa bergerak lagi, Iwaizumi mengajaknya bersantai di depan TV yang, seperti hari Selasa lalu, dinyalakan hanya sebagai pengisi latar belakang.

Mereka duduk di sofa yang sama, saling berhadapan, dengan segelas wine masing-masing di tangan. Sepertinya, dengan pikiran yang sudah agak berkabut pula meski Oikawa bersumpah ia masih bisa berpikir jernih.

“Kenapa kamu mau jadi athletic trainer?” tanya Oikawa yang akhirnya memutuskan untuk memecah kesunyian tersebut. Ia meletakkan gelasnya di atas meja dan memiringkan badan dengan satu tangan yang menopang kepalanya. Jarak yang memisahkan terlalu tanggung untuk disebut dekat, tapi juga tidak sangat jauh sampai Oikawa tidak bisa menghidu aroma parfum pria itu.

“Aku... seneng aja. Ngetraining para atlet. Knowing that I can help them to reach the peak of their best condition.”

Jawaban menerawang Iwaizumi membuatnya bergumam panjang. Ada perasaan puas karena bisa mengetahui satu hal lagi tentang pria itu malam ini.

Iwaizumi mengalihkan atensi ke arahnya. Kali ini ikut menopang kepala di satu tangan dengan senyum malas terukir di wajah tampan pria itu.

“Kamu sendiri kenapa kerja di bagian finance?”

Oikawa mengedikkan bahu. “Nggak ada alasan spesial. Aku cuma suka ngeliatin angka dari dulu. Waktu orang-orang malah jenuh karena apa-apa yang berurusan sama angka itu biasanya bikin pusing, aku malah semangat karena berasa dikasih tantangan.”

“Oh,” Iwaizumi merespons singkat. “Kita sama soal itu. Suka tantangan.”

Oikawa mengawasi dalam diam saat tangan pria itu terjulur pelan dan menyentuh lututnya yang dilapisi jeans. Ia tidak mengatakan apa-apa, bahkan saat tangan pria itu naik sedikit dan mulai membuat pola abstrak di atas pahanya. Sentuhan pria itu sehalus kapas, tetapi efeknya seperti ada puluhan aliran listrik yang berlomba-lomba mencapai jantungnya.

“Aku nggak yakin kita lagi ngomongin soal tantangan yang sama,” godanya jahil, yang lebih atas rasa penasaran dengan jawaban pria itu selanjutnya.

“Humor me,” pria itu menukas santai dengan gerakan tangan yang belum berhenti. Oikawa bergidik sedikit saat tangan lebar sang athletic trainer mulai memberinya pijatan pelan.

“Menurutku,” Oikawa menggeser duduknya untuk mencari posisi yang lebih nyaman. Tangan pria itu otomatis mengejarnya, seperti ada muscle memory yang sudah melekat. “Kalau kita ngomongin soal tantangan, kamu yang lebih sulit di sini.”

Iwaizumi mengangkat satu alisnya tinggi-tinggi.

“Am I the challenge in this relationship?”

“Is there a relationship to begin with?”

“Oh,” lagi-lagi Iwaizumi membuat ekslamasi yang sama seperti beberapa menit sebelumnya. “Aku tau ini arahnya ke mana.”

Oikawa tersenyum. Tersenyum yang benar-benar— tersenyum. Namun dia tidak berusaha membuat elaborasi lebih lanjut, atau membenarkan dugaan pria itu. Dia ingin Iwaizumi sendiri yang memutuskan.

“Humor me,” balasnya dengan kalimat yang sama— sedikit menahan napas saat mendadak Iwaizumi mencondongkan tubuh, dan meletakkan satu tangan di atas pinggulnya.

“Sebelum itu,” Iwaizumi memulai, dengan bariton yang terdengar lebih berat di telinganya. “Apa boleh aku cium kamu?”

Walaupun tahu semua ini akan mengarah ke mana, atau bagaimana sejak awal Iwaizumi terus menatap bibirnya sehingga ia dengan sengaja selalu mengecap kedua bilah miliknya itu, Oikawa tetap saja dibuat terkejut dengan kegamblangan sang pria. Entah membutuhkan waktu berapa lama supaya dirinya terbiasa.

Meski begitu, Oikawa tidak ingin memperbolehkan dengan mudah.

“Tergantung. Kalau habis ini kamu—”

“Iya, Oikawa, habis ini aku bakalan bilang suka ke kamu puluhan— nggak, bahkan ratusan kali kalau perlu. Dan kita bisa mulai hubungan apa pun itu yang kamu mau asalkan—”

Oikawa meraih kedua sisi wajah pria itu dengan tidak sabar, dan sebelum apa yang mereka nantikan terealisasi, ia berbisik tepat di sekon yang sama.

“Kamu banyak ngomong.”

Setelahnya, semuanya menguap seperti buih sabun. Oikawa tidak ingat makanan apa yang barusan dilahapnya. Oikawa tidak ingat apa yang mereka bicarakan sepuluh atau lima belas menit yang lalu. Oikawa tidak ingat sejak kapan rasa sukanya berkembang menjadi sesuatu yang meledak-ledak seperti ini.

Seperti ciuman mereka yang awalnya terasa seperti diburu waktu— terlalu rusuh. Namun begitu kehangatan, serta aroma cherry dengan sedikit rasa acid dari wine menguasai indra perasanya, Oikawa tidak memedulikan apa pun lagi.

Oikawa memejamkan matanya rapat-rapat. Membiarkan insting menuntunnya, meskipun ia yakin Iwaizumi lah yang membawa pagutan rusuh mereka menjadi lebih pelan. Perlahan. Sensual. Seperti alunan musik yang akhirnya menemukan staccato yang tepat— yang membuat siapa pun mendengar akan ikut memejamkan mata dan terbuai akan indahnya.

Dan saat sang konduktor memberhentikan musik, semua akan ikut menahan napas dan menanti.

Sama ketika akhirnya Iwaizumi memberinya kesempatan untuk menarik napas. Oikawa tetap memejamkan mata dengan dada yang terasa menyempit. Semua perasaan yang sulit terkatakan itu bercampur jadi satu dan membuatnya kewalahan. Ia hanya mampu berpegangan pada kedua bahu sang pria saat garis rahangnya dihidu lambat.

“Ini lebih dari bayanganku.”

Pria itu berbisik pelan. Oikawa bahkan tidak sadar bibir pria itu telah naik dan menetap di daun telinganya. Ia bergidik kembali saat hangat napas pria itu menerpanya di sana.

“Emang... bayangan kamu kayak gimana?” balasnya susah payah setelah mengumpulkan sedikit kewarasan yang tersisa.

“Sama. Kayak gini juga. Cuma kamu tau apa kata orang— yang asli selalu jauh lebih baik dari mimpi.”

Seolah ingin membuktikan pernyataan tersebut, Iwaizumi kembali meraup pinggangnya ke dalam pelukan erat, lantas melumat bibirnya yang tak bisa merasai apa pun lagi selain pria itu. Rasa manis wine di bibirnya seakan menghilang, dan digantikan dengan manis lain yang hanya bisa diberikan Iwaizumi.

Oikawa melingkarkan kedua lengannya di sekitar leher pria itu. Berpegangan erat, meski tahu Iwaizumi tidak akan melepasnya dengan mudah. Satu tangan pria itu ikut naik ke belakang kepalanya, dan memberi tekanan di sana selagi mereka saling memiringkan kepala untuk memperdalam bentuk afeksi tersebut.

Oikawa yakin ia hampir mengeluarkan desahan panjang.

“Sekarang,” Iwaizumi bergumam di depan bibirnya yang terbuka sedikit. Keduanya kembali membutuhkan oksigen, tapi terlampau tak rela untuk saling melepaskan. Oikawa membiarkan napas mereka bersatu di balik sengal masing-masing. “Apa kamu mau nerima aku?”

“Mana,” Oikawa berusaha mengeluarkan kalimat korehen di balik kabut yang semakin menguasai otaknya. “Kata sukanya?”

“Dan barusan kamu bilang aku yang jadi challenge di hubungan ini?” ucap Iwaizumi tak percaya. Pria itu akhirnya mengambil jarak sedikit, meski menurutnya masih sangat dekat karena ia bisa memperhatikan pupil sang athletic trainer membesar saat meraih kedua sisi wajahnya dengan lembut. “Aku suka kamu, Oikawa. Nggak tau sejak kapan. Mungkin sejak kita kenalan di tukang bubur itu. Mungkin juga sejak makan malem kita pertama kali. Atau mungkin sejak nama kamu selalu disebut sama Tobio di meja makan. Dan aku suka, bukan cuma karena kamu udah ikut peduli sama anakku. Atau pengakuan jujur kamu di awal kenapa berusaha deketin Tobio. Tapi aku suka karena... kamu, ya, kamu. Oikawa Tooru. Satu-satunya orang yang berhasil bikin aku penasaran, sampai ngomong nggak pake mikir, sampai bikin aku ngerasa kayak remaja yang baru pertama kali kenal kata suka. Dan itu cuma karena pengen lebih deket sama kamu untuk alasan yang aku sendiri nggak bisa jabarin. Tapi, kalau menurut kamu alasan suka aja udah cukup buat sekarang, aku nggak liat alasan kamu buat nolak. Jadi, apa kamu mau nerima aku?”

“Iya,” kali ini Oikawa tidak perlu berpikir, atau mencari-cari alasan lain yang membutuhkan kevalidan. Jikalau ia masih meragukan pria itu, berarti di sini dialah yang bersikap menyulitkan. “Aku mau.”

“Now,” Iwaizumi menggeram setengah bercanda sebelum menjatuhkan ciuman-ciuman kecil di sudut bibirnya. “Who's the challenge in this relationship?”

Oikawa tersenyum di balik ciuman mereka. Tangannya ikut melingkari pinggang pria itu dan menarik kekasih barunya ke dalam dekapan yang lebih erat. Tiba-tiba terbayang wajah Tobio, dan Oikawa penasaran respons apa yang akan diberikan anak itu jika mengetahui sang Ayah telah menjalin hubungan resmi dengannya. Mungkin, Tobio akan mengajak mereka untuk tidur bertiga lagi.

“Humor me,” balas Oikawa setelah bibirnya diberi kesempatan untuk menjawab. Ia tertawa saat mendengar Iwaizumi berdecak pelan, meski setelahnya tak ada lagi protes dari pria itu karena kali ini Oikawa lah yang maju dan mengikis jarak di antara mereka.

Oikawa tidak yakin dia akan muncul di depan pagar rumahnya sendiri pukul sebelas malam nanti.

End


@fakeloveros