“Jangan marah...”
Tidak ada jawaban.
“Hajime... ih, jangan marah, dong. Aku kan cuma lupa ngabarin.”
“Aku nggak marah.”
“Nggak marah, tapi wajahnya ditekuk gitu,” tukas Oikawa, seraya menyentuh pipi sang kekasih dengan satu telunjuknya— berharap aura ketegangan yang dikeluarkan pria itu akan segera mereda. “Kamu marah gara-gara udah capek-capek ke kantorku, ya? Maaf, deh...”
“Bukan,” Iwaizumi menghela napas, lantas meraih tangannya yang masih mengambang di udara untuk digenggam, “mungkin buat kamu masalah nggak ngabarin itu hal sepele, tapi aku ada sedikit trauma soal itu.”
Oikawa terdiam. Ia memperhatikan rintik hujan yang mulai membasahi jendela mobil. Mereka masih belum beranjak dari tempat parkir restoran yang Oikawa datangi bersama koleganya. Dan semenjak dirinya masuk ke dalam mobil, Iwaizumi belum mengatakan apa pun. Pria itu hanya menyambutnya dengan tatapan datar, dan bibir yang dikatupkan rapat.
“Apa ada hubungannya sama kejadian pas aku naik gunung itu?”
Sejenak, kembali tak ada jawaban.
“Siapa yang cerita ke kamu?” tanya pria itu pada akhirnya.
“Hanamaki. Katanya kamu sampe nyamperin ke vilanya waktu itu.” Oikawa menghadap ke depan, hanya melirik Iwaizumi dari sudut matanya. “Kamu takut aku ngilang lagi kayak waitu itu?”
Genggaman di tangannya mengerat. Meski begitu, raut wajah pria di sampingnya tetap tak menunjukkan perubahan apa pun.
“Kalau iya, apa menurut kamu itu berlebihan?”
Awalnya Oikawa ingin menjawab iya, tetapi itu lebih karena selama ini tidak ada yang pernah mengkhawatirkannya sampai sejauh itu. Jadi, sedikit banyak ia berusaha memahami kejadian tersebut dari sudut pandang kekasihnya.
Bagaimana seandainya Iwaizumi lah yang menghilang waktu itu?
“Nggak,” Oikawa menggeleng pasti, “kalau aku jadi kamu, pasti aku bakal khawatir juga.”
“Sampai rasanya kayak mau gila?”
Oikawa menoleh otomatis, meminta lewat tatapan matanya supaya pria itu membuat elaborasi lebih jauh.
“Soalnya pas kamu ngilang waktu itu, rasanya aku hampir jadi gila.”
Iwaizumi kini ikut menoleh hingga pandangan mereka saling bersibobrok. Padahal Oikawa tahu love languange kekasihnya bukanlah kata-kata manis. Namun, kalimat yang diucapkan Iwaizumi barusan seperti melelehkan hatinya.
“Segitunya?” tanyanya pelan, merasa sedikit egois karena memerlukan afirmasi.
“Segitunya,” Iwaizumi meyakinkan, dengan genggaman yang semakin mengerat. Pria itu lantas mengangkat tangan mereka yang saling bertaut untuk dibawa ke depan bibir. Oikawa merasakan bulu kuduknya meremang saat punggung tangannya menyentuh permukaan bibir hangat sang kekasih— sungguh kontras dengan cuaca di luar sana. “Tapi aku nggak pernah mau bilang karena aku yakin kamu bakal nganggap itu berlebihan, dan aku nggak mau usahaku deketin kamu waktu itu bakal jadi sia-sia.”
“Aku jadi penasaran...” Oikawa menelan ludah setelah memproses kalimat itu baik-baik, “emang kamu udah suka sama aku dari kapan?”
“Lama banget. Sebelum kamu pokoknya.”
“Ih,” Oikawa kali ini memberi tatapan tak terima, “kok yakin banget kamu duluan yang suka?”
“Waktu pertama kali Matsun ngenalin kita pokoknya,” Iwaizumi berseloroh santai. “Kamu emang inget itu pas kapan?”
“Hah? Itu bukannya...” Waktu kita masih kuliah semester akhir?
“Makanya,” Iwaizumi berujar seolah bisa membaca pertanyaan dalam pikirannya, “mana rela aku kalau kamu jadi ilfeel gara-gara kejadian itu.”
“Aku nggak bakalan ilfeel...” lirihnya sambil merunduk malu. “Lagian menurutku itu nggak berlebihan, kok. Aku malah... seneng kalau ada yang khawatirin segitunya.”
“Ya, tapi jangan dibiasain,” tegur sang kekasih seraya mencubit pipinya hingga Oikawa mengaduh pelan. “Pulang duluan boleh, makan siang sama kolega kamu juga boleh, asal jangan lupa kabarin aku, Tooru.”
“Iya, iya, maaf.... eh—” Oikawa lantas teringat pesan terakhir yang dikirimkan Hanamaki. “Aku dikasih tau Hanamaki, katanya ada cara buat bikin kamu nggak marah lagi.”
Iwaizumi mengangkat sebelah alis. “Gimana caranya?”
Oikawa tersenyum jahil, lalu menarik kedua sisi wajah sang kekasih. Oikawa memperhatikan netra Iwaizumi membulat karena terkejut selama beberepa detik, sebelum miliknya sendiri ia pejamkan selagi memberi pria itu kecupan cepat di bibir.
“Gitu caranya,” ucapnya bangga karena berhasil membuat Iwaizumi kehilangan kata-kata. “Jadi, sekarang kamu nggak— hmph!“
Oikawa menarik napas tercekat. Iwaizumi menariknya lebih dekat dengan meletakkan satu tangan di belakang kepalanya, dan tangan lain meraih pinggangnya. Oikawa refleks berpegangan pada lengan sang kekasih saat bibir pria itu membuka kepunyaannya untuk mengeksplor lebih jauh. Badannya semakin terdorong ke belakang seiring ciuman mereka yang semakin intens. Di sudut pikirannya yang masih dikuasai akal sehat, Oikawa bersyukur mobil pria itu memiliki kaca yang gelap.
“Kalau mau minta cium harusnya tinggal bilang. Nggak usah pake alasan kayak gitu,” bisik Iwaizumi di depan bibirnya saat mereka berusaha meraup udara. Ada nada jenaka yang terselip di balik ucapan sang kekasih sehingga membuat pipinya memanas.
“Siapa yang minta ci—”
Namun, Iwaizumi tak memberinya kesempatan untuk menyelesaikan kalimat tersebut karena lagi-lagi bibirnya dibungkam. Kali ini, Oikawa hanya pasrah dan menikmati radiasi hangat dari tubuh atletis Iwaizumi yang semakin menghimpitnya. Mau di luar ada hujan badai pun sepertinya dia takkan peduli.
Dan mungkin setelah ini, Oikawa harus berterima kasih pada Hanamaki.
Lagi hujan di rumahku... tapi nggak ada yang meluk... sad.
fakeloveros