sua


tw // sexual explicit content, anal sex, anal fingering, hand jobs, explicit language, sex with consent

Read at your own risk!


“Kamu udah ngomong sama Ushijima?”

“Kamu udah ngomong sama Ayah kamu?”

Iwaizumi tersenyum miring mendengar pertanyaannya dilempar balik. Oikawa sendiri langsung menyeret kakinya menuju ruang tamu dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa sambil mengerang. Mungkin karena sudah libur, bahkan di hari biasa pun pengunjung kafe tetap banyak. Ia terpaksa memperpanjang waktu shift-nya sampai Iwaizumi harus ikut menungguinya supaya mereka bisa ke apartemen pria itu bersama-sama.

Oikawa membenamkan wajahnya di atas sofa. Ia mendengar ada langkah kaki yang mendekat, kemudian beban yang mengisi sisa sofa dekat kepalanya. Tak beberapa lama, ada tangan yang memainkan surainya dengan lembut.

“Aku udah ngomong sama Ayahku.”

Oikawa memberi gumaman tak jelas, tanda ia mendengarkan omongan pria itu.

“Ayahku nggak ngomong-ngomong apa sih, tapi kayaknya habis ini aku bakal makin dijejelin kerjaan,” lanjut Iwaizumi seraya tertawa pelan. Oikawa pun mengangkat kepalanya dan melihat pria itu tengah tersenyum ke arahnya.

“Emang nggak apa-apa? Kamu nggak bakal capek?” tanya Oikawa yang langsung merasa tak enak. Seandainya ia bisa membantu mengurangi beban Iwaizumi, tentu dia akan sangat bersedia melakukannya. Namun dia tak mengerti apa pun tentang bisnis dan yang bisa dilakukan sekarang hanya menyemangati pria itu.

“Kalau ada kamu, aku nggak bakal capek.”

“Ew, geli.” Oikawa kembali membenamkan wajahnya selagi menikmati usapan lembut di kepalanya yang belum berhenti. Sepertinya kalau terus berlanjut, lama-kelamaan dia bisa tertidur. “Sejak kita pacaran beneran, kamu jadi cheesy banget, deh.”

“Emang kita udah pacaran?”

“Hah?” Oikawa mengangkat kepalanya dengan terkejut. “Emang belum?”

“Kan aku belum nembak kamu?” ucap Iwaizumi dengan seringai jahilnya yang terpatri.

Oikawa mengerang, lalu mengubah posisinya jadi terlentang. Ia geser badannya sampai kepalanya berada di atas pangkuan pria itu.

“Nggak usah pake acara tembak-tembakan, ah. Kayak anak SMA aja,” balasnya tak peduli. Oikawa memejamkan matanya ketika tangan Iwaizumi kembali memberikan atensi pada surai cokelatnya.

Iwaizumi bergumam panjang tanpa berucap lebih jauh. Sejenak, tak ada suara yang mengisi keheningan tersebut. Oikawa yakin ia akan jatuh ke alam mimpi beberapa detik lagi ketika pertanyaan Iwaizumi membangunkannya.

“Terus Ushijima?”

Oikawa membuka matanya dan menatap langit-langit — mendadak, memori dua hari lalu ketika akhirnya ia berbicara kembali dengan roommate-nya berputar di kepala. Ada perasaan tak enak dan canggung, namun sebagaimana Ushijima yang ia kenal, pria itu justru bisa bersikap tetap tenang.

“Dia minta maaf... karena waktu yang aku kabur itu, dia sempet agak maksa, kan. Dia pikir waktu itu kita putus... terus kemaren aku tegasin lagi ke dia dan aku bilang aja kita nggak pernah putus, cuma lagi marahan bentar,” jelas Oikawa sambil memainkan tali hoodie-nya. “Ya aku juga minta maaf karena nggak bisa bales perasaan dia... aku cuma anggap dia sebagai temen baikku, nggak lebih.”

Keheningan mengisi apartemen itu lagi. Iwaizumi tak berkomentar banyak sehingga Oikawa mendongakkan kepalanya sedikit untuk memperhatikan pria itu.

“Kamu nggak marah, kan?”

Iwaizumi menggeleng. “Lagian aku juga udah nebak dari dulu kalau dia emang suka sama kamu. Kamu aja yang denial. Sama kayak ke aku.”

“Bukannya denial...” Oikawa berucap lemah. “Cuma aku tuh takut aja salah nangkep sinyalnya. Takut ternyata orang itu nggak ngerasain apa yang aku pikir mereka rasain. Terus pas aku tanya atau konfrontasi, orang itu nggak ngaku dan malah ngecap aku aneh. In the end, bisa aja orang itu nggak mau lagi temenan sama aku, terus—”

Racauannya dihentikan oleh bibir Iwaizumi yang tahu-tahu sudah menempel di bibirnya. Oikawa baru ingin memejamkan mata dan merasai lebih dalam aroma kopi yang tertinggal di sana, namun Iwaizumi sudah menarik dirinya kembali.

“Kebiasaan banget suka overthinking.”

Oikawa merengut, meskipun dalam hati ia memang mengakui sifatnya yang satu itu juga perlu diperbaiki. Iwaizumi kemudian menepuk pipinya sekali, lalu bertanya, “mau makan sekarang nggak? Katanya mau dimasakin.”

Oikawa menjawab dengan anggukan antusias. Dan selagi memperhatikan punggung Iwaizumi yang melangkah menuju dapur, Oikawa bersyukur karena telah membuat keputusan untuk tidak kabur.

Mungkin setelah masuk kuliah nanti, dia akan mentraktir Matsun sebagai ucapan terima kasih.


“Cerita, dong.”

“Cerita apa?”

“Kapan kamu pertama kali ketemu aku dan gimana bisa langsung suka.”

Keduanya sudah berbaring di atas tempat tidur setelah sebelumnya berdebat cukup panjang. Oikawa bilang (dengan sedikit iseng) dia tidak apa-apa jika harus tidur di sofa, tapi Iwaizumi langsung melarangnya dan mengancam akan memindahkannya ke atas kasur apabila dirinya bersikeras.

Dan di sinilah mereka sekarang — di atas kasur besar milik Iwaizumi dengan lampu di atas nakas yang dibiarkan menyala karena sang pemilik ternyata tidak bisa tidur jika kamarnya gelap total. Cahaya yang tak seberapa itu membuat suasana kamar lebih hening untuk mereka berdua yang belum timbul kantuknya. Setelah makan malam, letih yang dirasakan Oikawa secara ajaib menghilang, dan ia ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan kekasihnya.

Iwaizumi tidak langsung menjawabnya sehingga yang terdengar sementara hanyalah bunyi ramai perkotaan di luar sana. Oikawa sampai menoleh untuk memastikan Iwaizumi tidak jatuh tertidur.

“Waktu SMA aku pernah dateng ke suatu pertandingan voli...”

Oikawa tak bergerak. Telinganya dibuka lebar-lebar untuk mendengarkan pengakuan pria itu. Entah kenapa, jantungnya berdebar semakin cepat.

“Dari sekian banyak pertandingan yg berlangsung, aku cuma tertarik sama pertandingan yang ada di tengah lapangan. Mungkin karena ada salah satu pemainnya yang narik perhatian aku waktu itu. Posisinya setter dan aku yakin banget nggak pernah liat ada orang main sehebat dia. Orangnya keliatan tenang, tapi juga agresif di lapangan. Kalau ada temennya yang nggak sengaja bikin salah, dia tetep senyum seolah itu bukan apa-apa. Dia bisa mimpin anggotanya dengan baik... dan sepanjang pertandingan entah kenapa cuma dia yang aku liat di lapangan.”

Iwaizumi ikut menoleh dan mengunci tatapan Oikawa yang kini sedikit tercengang.

“Dari situ juga aku selalu nyari tau jadwal pertandingan tim sekolah dia. Aku tonton pertandingan mereka. Semuanya. Tapi aku nggak pernah berani ajak kenalan karena setiap habis pertandingan, dia pasti dikelilingin sama banyak orang.” Iwaizumi lantas terkekeh pelan. “Yah, sampai sekarang penggemarnya juga masih banyak, sih.”

“Kamu...” Oikawa menelan salivanya susah payah, tak mampu menyelesaikan kalimatnya.

Iwaizumi tersenyum dan melanjutkan.

“Aku sempet sedih begitu lulus SMA, aku nggak tau ke mana orang itu bakal lanjutin kuliah. Aku sedih nggak bisa liat dia main voli, tapi aku lebih sedih kalau nggak bisa liat orang itu lagi.” Iwaizumi kini memiringkan badannya sampai menghadap Oikawa, lalu meraih tangannya untuk dibawa ke dekat mulut dan dikecup pelan. “Jadi bayangin, betapa senengnya aku pas tau kalau ternyata dia kuliah di tempat yang sama kayak aku. Kita beda fakultas sih, tapi buatku itu nggak masalah asalkan aku masih bisa liat dia.”

“Terus kenapa kamu...” nggak ngajak aku kenalan aja?

Tanpa melenyapkan senyum yang terpatri di wajahnya, Iwaizumi menjawab seakan bisa membaca pikiran Oikawa.

“Karena aku nggak pernah suka sama seseorang sebelumnya. Aku nggak pernah dibuat deg-degan sekalipun cuma liat orang itu dari jauh. Biasanya orang-orang yang deketin aku, tapi dia malah kayak nggak peduli sama sekali. Habis itu aku baru tau kalau ternyata dia udah nggak main voli lagi dan sibuk part time di sana-sini.” Iwaizumi mengambil jeda dan bahkan di bawah cahaya yang minim pun Oikawa bisa mendeteksi obisidian pria itu yang menatap lekat. Iwaizumi kemudian menggeser tubuhnya sehingga jarak mereka sedikit terkikis. Oikawa meremas ujung selimutnya tanpa sadar selagi menunggu kelanjutannya.

“Aku nggak berani ajak dia kenalan langsung. Aku ngerasa kayak pengecut banget. Tapi di sisi lain, aku takut bakal ada orang lain yang ngeduluin aku dan ngehancurin kesempatan itu. Jadi, aku cari cara biar bisa langsung deket sama orang itu...”

Oikawa yakin dirinya tak berkedip. Pengakuan Iwaizumi sungguh di luar dugaannya. Ia tak menyangka Iwaizumi sudah mengenalnya sejak lama, sedangkan dirinya tak memiliki petunjuk sama sekali. Justru dia pikir, mana mungkin orang yang beda level seperti Iwaizumi mengenal dirinya. Ternyata ia salah besar.

“Tapi aku nggak bohong soal Ayahku yang terus maksa. Aku merasa harus cari tameng untuk sementara, tapi aku nggak mau kalau sama orang lain. Sejujurnya, aku nggak enak karena harus sedikit bohong sama kamu. Dan makin sering kita bareng, aku makin suka sama kamu dan nggak mau kalau nanti harus putus dan hubungan kita balik lagi ke awal. Tapi aku juga nggak berani bilang yang sebenernya karena takut kamu nggak punya perasaan yang sama. Sekarang kamu bisa liat kan, kalau aku nggak cuma pengecut tapi juga egois.”

Kalimat yang terakhir diucapkan dengan nada pahit. Oikawa refleks bergerak dan meraih kedua sisi wajah Iwaizumi untuk direngkuh. Pria itu memejamkan matanya dan mencondongkan tubuh supaya dapat lebih merasakan sentuhannya.

“Menurutku itu wajar...” Oikawa berbisik pelan. Tangannya bergerak ke arah rahang pria itu untuk diusap lembut. “Rasa takut... menurutku itu wajar karena aku sendiri juga ngerasain itu. Yah, pada dasarnya kan nggak ada orang yang mau dikecewain... jadi aku... bisa maklum.”

“Kamu nggak marah?”

Oikawa menggeleng yakin. “Buat apa? Kan yang penting sekarang kita udah bareng. Pacaran beneran, bukan bohongan.”

Iwaizumi menghela napas seakan ada beban berat yang baru saja terangkat dari pundaknya. Tangannya menggenggam jemari Oikawa yang masih merengkuh wajahnya. Dalam hati ia bersyukur karena masih bisa merasakan kehangatan pria itu.

Sebenarnya ada lagi yang ingin dikatakan Iwaizumi pada Oikawa. Tentang perasaannya yang berubah seiring kedekatan mereka. Ia tentu masih menyukai pria itu, tapi sekarang, Iwaizumi yakin rasa sukanya sudah berkembang menjadi hal lain yang melebihi sayang.

Nanti, pikirnya seraya maju dan menghapus jarak di antara mereka sepenuhnya. Mereka masih memiliki banyak waktu di dunia. Masih banyak yang perlu mereka pelajari tentang perasaan masing-masing. Iwaizumi rela menghabiskan waktunya, asalkan bersama Oikawa.

Tangan Oikawa yang tadi merengkuh wajahnya kini turun dan mencengkeram bagian depan kausnya. Napasnya bergetar seiring bibir mereka yang bergerak semakin cepat. Iwaizumi merasa jarak di antara mereka masih begitu kentara sehingga tangannya meraih pinggang ramping kekasihnya dan menariknya sampai tubuh mereka menempel. Bibirnya menarik pelan bibir bawah Oikawa yang mulai memerah sampai izin itu diberikan. Pendingin udara seperti tak ada gunanya di ruangan itu karena suhu tubuh mereka semakin naik. Oikawa melenguh pelan saat tangan Iwaizumi masuk ke dalam piyamanya.

Kali ini tak ada lagi keraguan di antara mereka. Oikawa tak lagi memusingkan hal lain dan membiarkan tubuhnya mengambil alih untuk bergerak bersama pria yang merengkuhnya. Ciuman mereka semakin cepat, basah dan tak beraturan. Bulu kuduknya berdiri saat merasakan hawa dingin kamar menyentuh langsung kulitnya yang terekspos. Entah sejak kapan piyamanya terangkat dan tangan Iwaizumi semakin mengeksplor tubuhnya dengan tidak sabar.

Oikawa melepaskan ciuman mereka dan mendesah keras saat tangan Iwaizumi bermain di putingnya yang sudah mengeras. Namun ia segera menutup mulutnya dengan satu tangan. Mukanya memerah menahan malu.

Iwaizumi menyadari hal itu dan langsung menarik tangannya menjauh. Pria itu menciumi bagian telapaknya, setiap jari-jarinya sampai pergelangan tangannya di mana urat nadinya terlihat. Napas Oikawa semakin terengah begitu menyaksikan intensitas afeksi tersebut.

“Jangan ditahan,” bisik Iwaizumi di kulitnya. “Aku mau denger suara kamu.”

Gila.

Hanya satu kata itu yang sempat terpikir oleh Oikawa sebelum pikirannya kembali dibuat kosong oleh sentuhan sang pria. Seakan ingin membuktikannya, Iwaizumi tanpa aba-aba menunduk dan menjilat puting kanannya. Lenguhan itu pun keluar tanpa bisa Oikawa tahan. Dan kali ini, ia membiarkannya meskipun malu itu masih tersisa.

Tangan Iwaizumi bergerak cepat melepas kancing piyamanya satu per satu sampai kain itu tak lagi menempel di tubuhnya. Oikawa sama sekali tak merasakan dinginnya udara karena sentuhan Iwazumi di tubuhnya tak hanya membuat akal sehatnya lenyap, tapi juga menaikkan suhu tubuhnya ke titik tertinggi.

Oikawa mencengkeram surai hitam di depannya saat Iwaizumi tanpa ampun bergantian memberi atensi pada kedua putingnya yang semakin mencuat. Kakinya melengkung merasakan kenikmatan itu dan ada bagian tubuhnya yang terasa semakin sesak di bawah sana.

“Kaus kamu…” Kali ini Oikawa mulai ikut bergerak dan menyelipkan tangannya ke balik kaus Iwaizumi. Ia bisa merasakan betapa terbentuknya tubuh pria itu sehingga memunculkan ketidaksabaran untuk melihatnya langsung.

Saat sudah tak ada satu helai benang pun yang menutupi bagian atas tubuh mereka, Oikawa memandang tubuh kekasihnya penuh takjub. Perlahan, ia melarikan jemarinya di tubuh berotot sang pria. Iwaizumi tidak mengatakan apa-apa dan membiarkan Oikawa terus mengapresiasi tubuhnya.

Saat sentuhan Oikawa di tubuhnya sendiri hampir membuatnya gila, Iwaizumi lantas mencium pria itu kembali sampai kepalanya terdorong ke belakang. Iwaizumi berusaha memberi apresiasi sama besarnya di bibir pria yang selalu terlihat kemerahan itu dengan melumatnya keras, menarik, juga menggigitnya. Lidahnya kembali terlibat untuk memanjakan setiap bagian dalam mulut Oikawa yang bisa diraihnya.

Merasa tidak ingin kalah, Oikawa memberanikan diri dan bergerak lebih dulu meraih bagian atas celana Iwaizumi yang masih terpasang rapi. Perlahan, tangannya bergerak turun sampai menyentuh milik pria itu yang sudah menonjol dan mengenai bagian dalam pahanya seolah meminta perhatian.

Iwaizumi mengerang pelan.

Erangan yang keluar dari mulut kekasihnya mendorong Oikawa untuk terus bergerak — kali ini tidak hanya menyentuh, melainkan juga meremas pelan milik pria itu.

Padahal, Iwaizumi lah yang sedang ia sentuh, tapi Oikawa sendiri tanpa sadar ikut menggerakkan tubuh bagian bawahnya karena miliknya sendiri pun terasa semakin sesak.

Tanpa diduga, Iwaizumi tiba-tiba menarik badannya menjauh dan dengan satu gerakan cepat membuka celananya sampai tak ada lagi yang tersisa. Oikawa bahkan tidak sempat terkesiap karena pria itu langsung menempelkan kembali bibir mereka. Ciuman itu berantakan — saliva mereka saling bersatu saat Iwaizumi melesakkan lidahnya masuk. Namun saat Iwaizumi mulai menyentuh penisnya, Oikawa harus melepaskan ciuman mereka karena dirinya hampir saja tersedak ludahnya sendiri. Iwaizumi yang mulanya hanya meremas miliknya pelan, kini mulai bergerak cepat sampai Oikawa membuka mulutnya dan mendesah kencang.

“Hajime—hahh…”

Iwaizumi bisa merasakan miliknya sendiri mulai berkedut akibat pemandangan yang ada di depannya. Di matanya, Oikawa terlihat sangat cantik dengan wajah yang dipenuhi peluh, bibir yang merah dan bengkak, dan suara pria itu…

“Hajime… tolong…”

Suara penuh permohonan tersebut membuat Iwaizumi seperti kehilangan daya pikirnya. Ia pun melepaskan tangannya yang tengah bermain dengan kepunyaan Oikawa, lalu meraih celananya sendiri untuk dibuka dalam satu dorongan cepat. Ia tidak mengalihkan matanya sama sekali dari Oikawa, begitu juga sebaliknya. Entah sengaja atau tidak, Oikawa justru menatap pria yang tengah sibuk itu dengan tatapan sayu dan bibir bawah yang digigit sensual. Seakan menguji sisa-sisa kewarasan Iwaizumi yang hanya dihubungkan oleh segaris benang tipis.

Setelah melempar celananya asal ke lantai, Iwaizumi menindih Oikawa dan mulai menciumi leher pria itu. Oikawa mendongakkan kepalanya untuk memberi keleluasaan; tahu bahwa lehernya kini sedang ditandai oleh sang pria. Tangan Oikawa bergerak menuju surai kekasihnya yang halus dan bermain di sana. Sesekali menariknya tanpa sengaja saat pria itu menyentuh titik sensitif di lehernya.

Beberapa detik kemudian, lenguhan panjang kembali terdengar memenuhi kamar itu saat Iwaizumi bergerak sehingga kemaluan mereka saling bersentuhan. Seperti disengaja, Iwaizumi yang masih memberikan ciuman-ciuman di leher Oikawa, semakin menekan pinggulnya dan saling menggesekkan milik mereka dengan lebih cepat. Oikawa bisa mendeteksi pria itu tersenyum di lehernya saat desahan yang ia keluarkan semakin keras.

Oikawa sebentar lagi akan menangis. Ia yakin itu. Rasa frustrasinya sudah sampai ke ubun-ubun, tetapi Iwaizumi seolah berusaha memperlama permainan mereka.

“Sabar, sayang...”

Tiba-tiba, bibir Iwaizumi sudah berada di telinganya dan membisikkan kata itu pelan. Napas hangatnya menerpa pelan dan membuat Oikawa bergidik. Iwaizumi menjilat dan menggigit pelan telinganya sebelum bangkit dan bergeser untuk membuka laci nakas. Netra cokelat Oikawa mengawasi saat pria itu mengeluarkan botol pelumas kecil dan membukanya untuk dituang ke jari-jarinya. Tangannya tanpa sadar meremas seprai di bawahnya saat Iwaizumi kembali mengurungnya sementara tangan pria itu mulai menjelajah ke lubang senggamanya yang semakin berkedut minta dimasuki. Oikawa menarik napas tercekat saat jari pria itu perlahan masuk dan dengan gerakan lihai berhasil membuat dirinya bertambah basah.

Tak ada lagi kata koheren yang bisa dikeluarkan Oikawa. Bola matanya berputar ke belakang saat digit yang dimasukkan pria itu bertambah dan berhasil menemukan prostatnya. Tubuhnya semakin melengkung ke atas dan tangannya mencengkeram kuat bahu pria itu sehingga ia yakin akan meninggalkan bekas kemerahan.

Iwaizumi sendiri tak bisa merasakannya — terlalu fokus dengan liang hangat yang melingkupi jari-jarinya, serta ekspresi Oikawa yang terlihat penuh ekstasi.

Saat dirasakannya Oikawa sudah terlampau basah dan gerakan pria itu semakin frantik dalam mencari friksi, Iwaizumi menarik tangannya keluar sehingga menimbulkan desah protes dari yang bersangkutan.

“Kamu yakin?”

Oikawa membuka matanya saat mendengar pertanyaan tersebut terlontar. Ia yaris tidak memercayai pendengarannya sendiri. Mereka sudah sejauh ini, dan Iwaizumi masih bertanya?

“Kalau kamu pikir aku mau kita berhenti sekarang, kamu pasti udah gila.”

Iwaizumi tertawa pelan. Tangannya menangkup sisi wajah Oikawa dan membawa bibir mereka untuk kembali dipertemukan. Kali ini lebih lembut dari sebelumnya.

Iwaizumi kemudian bangkit dan untuk kedua kalinya membuka laci nakas lalu meraih kondom. Pria itu memasangnya dalam hitungan detik sementara netranya memaku Oikawa yang terlihat sama tak sabarnya. Oikawa menjilat bibirnya saat beban tubuh pria itu kembali menindihnya. Hangat dan familier.

Dengan sedikit gemetar, Oikawa mengalungkan lengannya di sekitar leher Iwaizumi saat pria itu membuka tungkainya semakin lebar. Iwaizumi berusaha mengalihkan Oikawa dari rasa sakit yang mungkin akan timbul dengan menciumi setiap bagian wajah pria itu selagi perlahan memasuki lubang yang semakin berkedut di bawah sana. Oikawa melenguh panjang saat milik Iwaizumi yang tidak bisa dikatakan kecil membuatnya terasa penuh.

Iwaizumi mencengkeram pinggul Oikawa sedikit lebih keras saat berusaha memasuki keseluruhan miliknya ke dalam liang hangat yang semakin menghimpit kepunyaannya. Iwaizumi berusaha menahan diri agar tidak langsung bergerak cepat. Ia ingin memberi waktu bagi Oikawa agar membiasakan diri. Namun lubang yang menghimpitnya terasa begitu hangat dan basah, sehingga membuatnya nyaris kehilangan kontrol.

“Tooru… sssh, wait, wait,” Iwaizumi berseru sedikit panik saat Oikawa tanpa sengaja mengeratkan himpitannya. Kalau tidak memiliki kontrol diri yang bagus, Iwaizumi yakin bisa langsung keluar hanya dari gerakan kecil tersebut.

“Hajime…” Oikawa mengucap nama sang pria dengan desahan frustrasi. Ia juga menggerakkan pinggulnya saat dirasa Iwaizumi tak kunjung bergerak. “Gerak... cepetan...”

Hanya perlu mendengar satu kata itu, dan Iwaizumi langsung bergerak mengikuti insting terliarnya.

Gerakan yang awalnya penuh kehati-hatian, berubah semakin cepat sampai menimbulkan suara decak dan kulit yang saling menampar. Iwaizumi kemudian bangkit dan menarik pinggulnya ke atas, lalu melingkarkan tungkai kanannya di sekeliling pinggang pria itu. Napasnya keluar semakin kasar dan cepat saat pria di atasnya membuat gerakan piston tanpa jeda. Oikawa meracau tak jelas saat prostatnya dihunjam terus-menerus sampai bola matanya bergulir ke belakang. Seolah tidak memberikan waktu bagi Oikawa untuk bernapas, tangan Iwaizumi ikut meraih penisnya yang sudah berdiri tegang sejak tadi.

“H-hajime... S-shit...”

Sensasi yang begitu memabukkan tersebut tidak memberi waktu bagi Oikawa untuk meminta pria di atasnya bergerak lebih pelan. Tangannya meremas seprai yang sudah kusut dan tubuhnya bergerak naik turun mengikuti gerakan frantik Iwaizumi. Mulutnya terbuka tanpa bisa mengeluarkan suara apa pun.

Saat merasakan aktivitas senggama mereka mulai membuat pria di bawahnya kewalahan, Iwaizumi justru semakin menaikkan ritme gerakannya. Oikawa hanya mampu mengerang panjang saat putihnya datang tanpa aba-aba. Kendati begitu, tangan Iwaizumi tidak kunjung berhenti dan terus membuatnya mengeluarkan seluruh cairan miliknya sampai tubuhnya terasa lemas.

Iwaizumi memperhatikan wajah kekasihnya yang semakin memerah setelah pelepasan. Wajahnya basah oleh keringat dan air mata, netranya terlihat tak fokus, juga ada serangkaian tanda kepemilikan menghiasi leher mulus Oikawa.

Pemandangan itu seolah menjadi pemantik dalam diri Iwaizumi untuk mengejar pelepasannya sendiri. Ritme gerakannya mulai berantakan saat Oikawa dengan sisa-sisa tenaganya ikut bergerak. Tubuhnya pun ambruk dan ia menggeram pelan saat Oikawa dengan sengaja mempersempit lubang senggamanya untuk membantunya keluar. Napasnya terengah selagi berusaha menurunkan diri dari rangsangan yang akhirnya terpuaskan. Ia bahkan hampir tidak sadar kalau Oikawa tengah mengelus pipinya dengan lembut.

Iwaizumi lantas membuka matanya dan mendapati Oikawa tengah tersenyum lebar ke arahnya. Ia mencium pria itu dan bisa merasakan kebahagiaan menguar di sekitar mereka. Hatinya menghangat saat Oikawa tersenyum di balik ciuman mereka.

“Nggak sakit?” Iwaizumi bertanya setelah keduanya sama-sama berbaring menyamping dan matanya menatap netra cokelat susu di hadapannya untuk meminta afirmasi. Yang ditanya hanya menggeleng kemudian memeluk tubuhnya erat, tak peduli meskipun keduanya masih dipenuhi keringat dan ada aroma seks memenuhi kamar tersebut.

“Nggak, kok...”

Sesaat, tak ada yang mengeluarkan suara. Mereka masih berusaha menormalkan tarikan napas sekaligus menikmati proksimitas tersebut.

“Kamu nggak akan kabur lagi, kan?”

Pertanyaan mendadak itu membuat Oikawa mengangkat kepalanya. Namun Iwaizumi hanya menatapnya serius seakan butuh penekanan secara verbal.

“Nggak akan. Aku janji.” Oikawa berusaha menyamakan keseriusan pria itu dan berucap sepenuh hatinya. “Selama sayangku masih buat kamu, aku nggak akan ke mana-mana.”

Iwaizumi tersenyum dan balas memeluk Oikawa erat. Keduanya tenggelam dalam perasaan satu sama lain dan akan begitu seterusnya selama mereka yakin sayang yang dirasakan takkan menguap begitu saja ke udara.

Bagaimanapun, mereka sudah tenggelam terlalu dalam.

Fin


@fakeloveros

“Gue masih nggak paham kenapa kita harus berdamai sama mereka.”

“Gencatan senjata.”

Oikawa memutar bola matanya. “Sama aja.”

Kageyama yang berada di sebelahnya hanya menghela napas. Pria yang lebih muda itu mungkin bisa jadi satu-satunya orang yang bertahan menerima segala keluhan Oikawa sepanjang hari. Padahal keputusan itu sudah ada sejak minggu lalu, namun di saat tinggal beberapa menit lagi mereka harus pergi, Oikawa mulai mengoceh kesal.

“They're a bunch of disgusting Alphas,” ucap Oikawa lagi, kali ini sambil bergidik geli. “They have no manners or whatsover.”

“Tapi mereka lebih kuat dari kita,” Kageyama bergumam tanpa maksud ingin membela. Itu hanya kenyataan yang sudah mereka ketahui sejak lama. Namun beberapa anggota klan masih menolak fakta tersebut, termasuk pria di hadapannya yang semakin merengut kesal.

“Pasti kalau bisa disuruh milih, lo lebih pengen masuk klan mereka, kan?” tanya Oikawa tanpa bersusah payah menyembunyikan kesinisan dalam suaranya. Namun yang ditanya lagi-lagi mengeluarkan napas berat seakan sudah lelah untuk berargumen lebih jauh.

Bagaimanapun, mereka tidak punya banyak waktu.

“Nggak usah ngomong yang aneh-aneh, deh. Kita harus pergi sekarang.”

“Tunggu, gue mau nanya satu hal.” Oikawa memberhentikan pria itu sebelum melangkah lebih jauh. “Gimana seandainya lo ketemu soulmate lo di klan itu? Mana yang bakal lo pilih?”

Bukannya menjawab, Kageyama justru tersenyum miring. Pria itu menurunkan suaranya satu oktaf seakan di ruangan itu ada yang hadir selain mereka.

“Gimana kalau LO yang ketemu soulmate lo di sana? Mana yang bakal lo pilih, hmm?”

Dan tanpa menunggu jawaban Oikawa, Kageyama berbalik dan meninggalkan sang Omega seorang diri.

Oikawa tak memiliki banyak waktu untuk mengeluarkan kekesalannya yang semakin menumpuk. Suara Ayahnya sudah terdengar dari luar. Itu berarti, mereka harus pergi sekarang menuju tempat tinggal klan yang sudah sangat ia benci sejak dulu.

Pertanyaan yang tadi dirinya tujukan pada Kageyama kembali terngiang. Tanpa berpikir dua kali pun Oikawa tahu harus memilih pihak yang mana.

Sekalipun soulmate-nya ada di sana.


“Jangan pasang wajah jutek kamu.”

Oikawa bergumam tak jelas. Tatapannya mengarah ke luar jendela.

“Jangan ngomong yang aneh-aneh.”

Oikawa mendengus pelan, namun ternyata cukup keras untuk didengar Ayahnya.

“Jangan—”

“Ayah,” Oikawa memotong dengan nada jengkel. Kekesalannya semakin menumpuk seiring roda mobil yang terus berputar membawa mereka ke tempat tujuan. Dari GPS yang terpampang, mereka hampir sampai di tempat yang seumur hidup paling tidak ingin ia injakkan kakinya. Namun Ayahnya justru memilih momen itu untuk menasihatinya seakan ia anak kecil.

“Aku bakal diem aja, jadi Ayah nggak usah khawatir,” jawab Oikawa, berusaha menjaga agar nadanya tetap tenang. Sekesal-kesalnya dia malam itu, Ayahnya adalah orang terakhir yang ingin ia kecewakan. Bagaimanapun, semua keputusan berdamai dengan pihak yang telah menjadi musuh mereka sejak lama diambil secara musyawarah. Mau ia marah-marah atau menolak ikut pun keputusan itu akan tetap dijalankan. Lagi pula, klan yang menjadi musuh mereka dulu pun ikut memberi usulan gencatan senjata tersebut.

Oikawa tidak punya kuasa apa-apa di sini.

Mungkin kalau dia terlahir sebagai seorang Alpha…

Oikawa buru-buru menghalau pikiran itu dan kembali memfokuskan pandangannya ke luar jendela. Mereka telah meninggalkan jalanan besar ibu kota dan kini memasuki wilayah pinggiran yang lebih banyak dikelilingi pohon-pohon. Tinggal sebentar lagi, dan Oikawa tidak ingin melalui sisa perjalanan dengan penyesalannya yang tidak ada guna. Kalau Ibunya ada di sini dan bisa mendengar isi pikirannya, ia pasti akan diceramahi habis-habisan soal ranking dan bagaimana hal itu tidak seharusnya menjadi tolak ukur kekuatan seseorang.

Tapi bagaimana mungkin, padahal hidup mereka saja ditentukan oleh itu? Oikawa beruntung dirinya lahir di klan terpandang meskipun rankingnya ada di posisi bawah. Dan lebih menguntungkan lagi karena Ayahnya merupakan pemimpin klan. Namun dirinya tahu, di belakang, anggota yang lain membicarakannya.

Bagaimana bisa seorang anak pemimpin klan mafia terkenal merupakan seorang Omega?

Ia hidup selama 22 tahun dengan menutup telinga atas semua pertanyaan tak kasatmata tersebut. Namun ia bisa mendeteksinya dari tatapan mereka dan bersumpah akan membuktikan pada semuanya bahwa dia pun memiliki kemampuan yang tak jauh berbeda dari ranking-ranking di atasnya.

Itulah alasan kekesalannya juga hari ini. Oikawa yakin, begitu orang-orang dari klan musuh itu mengetahui dirinya seorang Omega, mereka pasti akan langsung menganggap remeh dirinya.

“Tuan, kita sudah sampai.”

Oikawa tersadar dari lamunannya dan mendapati mereka telah tiba di depan sebuah gerbang besar yang dijaga ketat. Tidak jauh berbeda dengan headquarter utama mereka. Klan itu pastilah sudah mengetahui kedatangan mereka karena tak butuh waktu lama sampai dibiarkan masuk. Mobil klan mereka pun satu per satu memasuki wilayah yang luas tersebut. Ayahnya tentu tidak membawa semua anggota, hanya wakilnya, seorang Beta yang merupakan Ayah Kageyama, satu orang penasihat, tiga capo dan lima orang yang tergabung dalam ranking soldier. Kageyama dan dirinya berada di ranking tersebut.

Saat mereka turun dari mobil, Oikawa merasa perutnya sedikit bergejolak. Tangannya dingin dan jantungnya memompa lebih cepat tanpa alasan yang jelas. Ia menyatukan kedua tangannya yang gemetar di belakang punggung dengan bingung — tak ingin menarik perhatian anggotanya dengan kondisi tubuhnya yang tiba-tiba terasa aneh.

Mereka dituntun berjalan menuju sebuah bangunan yang sepintas terlihat seperti rumah. Namun Oikawa tahu, rumah utama pemilik klan itu sendiri pastilah berada di titik yang lebih dalam, bukan di dekat gerbang masuk. Mereka dipersilakan masuk ke sebuah ruangan luas yang terlihat begitu megah dengan lampu kristal besar di tengah-tengah, lukisan-lukisan mahal, dan kaca besar yang hampir memenuhi satu sisi dinding. Kendatipun begitu, tak ada barang lain di dalam ruangan itu. Hanya ada satu meja dan dua kursi di tengah-tengah.

Oikawa berdiri gelisah. Kakinya mulai mengetuk-ngetuk lantai dengan tak tenang. Ada peluh yang mulai mengalir di pelipisnya, padahal ruangan itu berpendingin udara.

Kageyama sepertinya menyadari sikap anehnya karena pria itu menyenggolnya pelan.

“Lo kenapa sih, dari tadi nggak bisa diem?”

Oikawa baru ingin membuka mulut untuk menjawab, namun pintu yang ada di seberang mereka mendadak terbuka dan masuklah segerombolan orang. Seorang pria berbadan besar dengan wajah menyeramkan memimpin di depan diikuti anggota klan lainnya. Oikawa refleks segera menunduk begitu merasakan aura Alpha yang menguar kuat dari pria itu.

Namun ada hal lain yang membuat perasaannya semakin tidak tenang.

Oikawa ganti memainkan jari-jarinya supaya kegelisahannya tidak lagi tersalurkan dalam bentuk ketukan kaki di lantai. Kageyama masih memberinya tatapan bertanya dari samping, namun Oikawa hanya mampu menggeleng pelan untuk meyakini temannya itu bahwa dirinya baik-baik saja.

“Terima kasih sudah mengundang kami untuk datang.”

Suara menggelegar Ayahnya terdengar. Ruangan itu langsung hening dan ada ketegangan yang menguar di udara. Meskipun sudah ada perjanjian bahwa masing-masing pihak tak boleh ada yang mengeluarkan feromon selama pertemuan berlangsung, Oikawa tetap bisa merasakan aura kuat di sekelilingnya. Kalau tidak terbiasa sejak dulu, dirinya pasti sudah jatuh pingsan sekarang.

“Terima kasih sudah menyetujui usulan gencatan senjata ini,” balas pria berwajah seram di seberang mereka yang Oikawa asumsikan sebagai pemimpin tertinggi klan tersebut. Seperti Ayahnya. “Cepat atau lambat, memang harus segera berakhir.”

Ayahnya membalas dengan ucapan lain, namun telinga Oikawa seperti disumpal. Ia tak dapat mendengar apa-apa lagi. Jantungnya berdetak lebih cepat dan ada dorongan aneh untuk mengangkat wajah dan menatap ke depan. Tetapi ia menolak dorongan aneh tersebut dan tetap menundukkan kepalanya entah sampai berapa lama.

“Dalam perjanjian gencatan senjata yang sudah disetujui, ada pernyataan bahwa kedua klan harus saling menghargai dan respek terhadap satu sama lain.” Tiba-tiba, ada suara bariton seorang pria dari seberang yang menggantikan Alpha sebelumnya. “Tapi kenapa salah satu anggota klan Anda justru tidak memperhatikan diskusi kita sejak awal?”

Oikawa yakin jantungnya sempat berhenti selama sedetik penuh. Ia berhenti memainkan jari-jarinya dan bisa merasakan tatapan semua orang tertuju padanya sekarang.

Ada suara langkah kaki yang mendekat dan dorongan aneh dalam diri Oikawa muncul kembali, kali ini bahkan lebih kuat. Keringatnya mengalir deras di punggung dan rasanya Oikawa bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri yang memompa semakin cepat.

“Oikawa…” Kageyama berbisik ngeri di sebelahnya. Oikawa tidak tahu siapa yang tengah berjalan ke arahnya, namun dari aura yang menguar, ia yakin pria itu juga seorang Alpha.

“Angkat kepala kamu.”

Oikawa menarik napas tercekat. Pria itu sudah berdiri di depannya dan memerintahkan dengan nada tegas. Tetapi Oikawa menolak dan bersikeras terus menatap lantai yang ada di bawah kakinya.

Perasaannya tidak enak.

“Tooru.” Terdengar Ayahnya menyebut namanya dengan nada memperingatkan yang sudah ia hafal. Ayahnya hanya akan memanggilnya seperti itu jika ada hal yang benar-benar harus dipatuhinya.

“Angkat kepala kamu.”

Perintah dari pria di hadapannya kembali terulang dan terdengar lebih tegas seakan tak akan menerima penolakan untuk kedua kalinya. Ketegangan itu semakin memuncak sehingga Oikawa tidak memiliki pilihan lain selain mengangkat wajahnya.

Dan hal yang paling ditakutinya terjadi.

Oikawa tidak tahu apa yang dilihat pria itu dalam dirinya, namun ia sendiri mampu menyaksikan ketika retina Alpha di hadapannya berubah warna menjadi silver selama sepersekian detik sebelum kembali ke warna aslinya. Setelah itu, ada keterkejutan bermain di wajah sang Alpha sebelum ekspresinya mengeras.

“Soulmate.”

Seperti ada paku yang menancapkan kakinya dalam-dalam di lantai, Oikawa tidak bisa bergerak sama sekali. Oikawa tahu arti perubahan warna retina itu. Menurut hukum alam, itu menandakan seseorang telah menemukan soulmate-nya. Belahan jiwanya. Dan dari satu kata yang diucapkan pria berkulit kecokelatan di hadapannya barusan, ia yakin warna retinanya juga sempat berubah.

Pertanyaan yang ia ajukan sebelum berangkat pada Kageyama seakan menamparnya. Bagaimana seandainya ia menemukan soulmate-nya di klan musuh—

Dan jawaban dari pertanyaan itu harus ia jawab sekarang.

Tapi Oikawa tidak bisa mengeluarkan satu patah kata pun. Begitu kata soulmate terdengar dari mulut pria di hadapannya, otaknya seperti kosong. Seperti gerigi-gerigi sepeda yang putus sehingga menjatuhkannya ke tanah tanpa peringatan apa pun.

Suasana di dalam ruangan itu begitu hening sampai Oikawa bisa mendengar suara jantungnya sendiri yang memompa cepat. Ia takut jika bergerak sedikit saja, rasionalitas dalam dirinya akan runtuh dan membuatnya melakukan hal-hal bodoh.

Seperti kabur misalnya.

Oikawa mengerjapkan matanya tak percaya ketika itulah yang justru dilakukan pria yang baru saja menyuarakan takdir yang paling ditakutinya. Pria itu berbalik cepat dan keluar dari ruangan dengan pintu yang terbanting keras di belakangnya, serta rentetan umpatan kasar.

Entah sudah berapa sekon terlewati saat tak ada satu pun yang bergerak di ruangan tersebut. Semua seakan ikut dibuat terkejut atas apa yang baru saja terjadi. Namun perlahan, banyak pasang mata yang kembali menancapkan atensinya pada pria yang masih berdiri kaku di tempatnya— menunggu Oikawa mengambil keputusan.

“A-apa...” Oikawa melarikan netranya dengan panik ke sekeliling ruangan— meminta bantuan. Namun sebagian besar anggota klannya justru memberinya tatapan iba. Tatapannya kemudian jatuh pada Ayahnya yang sedari tadi belum mengeluarkan titah apa pun. Tetapi pria paruh baya itu ikut diam seribu bahasa dan menatapnya dengan sesuatu yang tak bisa diartikan.

Kageyama lah yang justru berbicara padanya pertama kali.

“Kejar dia.”

Dan itu nasihat paling tidak masuk akal yang pernah didengarnya dari mulut temannya sejak kecil.

“Dia soulmate lo. Kejar dia.”

Oikawa menarik napas dan menyumpahi segala Dewa dan Dewi maupun Tuhan yang telah meletakkan takdirnya seperti ini. Rasanya seolah ada yang mengatur kehidupannya menjadi lebih menyedihkan dari sebelumnya. Seakan apa yang dialaminya selama ini belumlah cukup dan semesta ingin melihat seberapa jauh Oikawa akan berusaha.

Sebelum menyadari apa yang tengah dilakukannya, kakinya tahu-tahu sudah bergerak sendiri dan keluar dari ruangan yang menyesakkan tersebut. Namun begitu di luar, bukan aroma musim panas yang mengelilingya, melainkan cokelat; seperti cokelat panas yang dibuatkan ibunya ketika hujan deras membasahi bumi atau cokelat batangan yang dibawakan pamannya dulu sekembalinya dari tugas di luar negeri.

Namun yang satu ini jauh lebih kuat sehingga membuat Oikawa mempercepat langkahnya kendatipun kepalanya mulai berputar.

Oikawa tahu, wangi feromon dari setiap Alpha memang berbeda-beda. Yang satu bisa lebih kuat dari yang lain, tergantung pada kekuatan yang dimiliki sang Alpha. Semakin kuat, wanginya bisa semakin memabukkan dan membuat Omega di sekitarnya bertekuk lutut.

Oikawa menggertakkan giginya— ia sudah sampai tahap berlari dan memasuki hutan yang terletak jauh di belakang bangunan. Wangi cokelat itulah satu-satunya yang menjadi penuntunnya. Napasnya semakin berat begitu ia masuk semakin dalam sampai tak ada lagi suara dari headquarter yang terdengar. Apa yang masuk ke gendang telinganya tinggal gemerisik dedaunan dan hewan-hewan kecil. Mereka seperti menonton Oikawa yang berlari dengan konyol mengejar soulmate-nya sendiri.

Oikawa memperlambat larinya ketika di depannya tak lagi terlihat pohon-pohon tinggi. Jalanan di depannya membuka lebar sampai ia tiba di sebuah danau kecil. Dan di sana— di pinggir danau, ia bisa melihat punggung lebar seseorang yang sedari tadi dikejarnya. Punggungnya naik turun, karena seperti Oikawa, pria itu juga pasti berlari sekuat tenaga untuk mencapai kedalaman hutan seperti ini.

Seraya menghirup napas dalam-dalam, Oikawa berjalan pelan menghampiri pria itu. Aroma cokelat itu semakin kuat dan Oikawa harus menancapkan kuku-kukunya ke telapak tangannya yang mengepal agar tidak terbawa feromon Alpha di hadapannya.

“Stop.”

Langkahnya terhenti tanpa aba-aba karena kata-kata itu terdengar seperti mantra di telinganya.

“Berhenti... di situ,” ucap pria itu, dengan punggung yang masih menghadap ke arahnya. Kata-katanya terdengar tercekat seolah pria itu sedang menahan sesuatu. “Ngapain... ada di sini?”

Mau tak mau, ada gelombang kekecewaan yang menghantamnya kuat. Pertanyaan sederhana itu membuat Oikawa semakin mengepalkan tangannya. Sakit akibat kuku-kukunya yang menancap di kulit seolah tak terasa dibandingkan pertanyaan yang barusan dilontarkan sang Alpha.

“Orang macam apa yang lari dari soulmate-nya sendiri?” Oikawa memuntahkan pertanyaan itu dengan pahit. “Apa lo pikir gue juga seneng sama takdir ini? Lo dari klan musuh, dan walaupun sekarang kita udah berdamai, belum tentu gue—” Oikawa menghentikan kalimatnya dan menarik napas panjang. Ia berusaha meredakan emosinya yang tiba-tiba terpancing. “Gue ke sini karena kita harus ngambil keputusan. Gue nggak keberatan kalau lo emang mau reject gue sebagai soul—”

Kalimatnya belum selesai. Namun mendadak, seperti ada angin besar yang mendorongnya kuat-kuat ke belakang. Oikawa refleks memejamkan mata saat punggungnya menabrak batang pohon yang kasar. Mulutnya membuka kaget saat tahu-tahu pria itu sudah berdiri sangat dekat di hadapannya. Oikawa tidak menduga sang Alpha akan bergerak secepat itu menghampirinya.

“Apa?” Pertanyaan yang keluar terdengar begitu tajam sampai Oikawa bisa merasakan bulu kuduknya berdiri. “Barusan kamu bilang apa? Reject? Kamu pikir aku mau reject bond kita?”

Oikawa membuka dan menutup mulutnya dengan bingung. Dari nadanya, pria itu bertanya seolah apa yang Oikawa utarakan sebelumnya sangatlah di luar logis. Netranya menggelap dan ada aura kemarahan yang terpancar sehingga Oikawa secara otomatis melingkarkan sebelah tangan di tubuhnya sendiri sebagai bentuk perlindungan.

Mata sang Alpha mengikuti gerakannya dan rahangnya mengeras sebelum menjauhkan diri dengan mengambil beberapa langkah mundur.

“Aku nggak akan reject bond kita.”

Pernyataan itu terdengar seperti final. Meskipun begitu, Oikawa masih dibuat bingung dengan sikap pria itu.

“Terus kenapa lo kabur barusan?”

“Karena kamu yang jelas-jelas keliatan nggak mau ini semua kejadian.”

Oikawa menggigit bibirnya. Jawaban itu memang tepat sasaran, tapi ia tidak memiliki keberanian sebesar itu untuk memutarbalikkan hukum semesta. Ikatan soulmate adalah mutlak dan walaupun atas persetujuan masing-masing bisa saja dipatahkan, itu hanya akan menimbulkan pandangan buruk dari masyarakat, serta dipercaya hidupnya tak akan lagi diberi keberuntungan oleh Dewa.

Namun jika pria di hadapannya ingin mematahkan ikatan mereka, tentu ia tidak akan menentang.

“Bukannya nggak mau, tapi lo...” Oikawa menelan salivanya dan menegakkan tubuh. “Lo dari klan musuh. Usulan gencatan senjata ini cuma bakal lebih nguntungin klan lo. Jangan dipikir gue nggak paham,” ucapnya tajam— sedikit tak memedulikan fakta bahwa yang berdiri di hadapannya sekarang adalah seorang Alpha dengan kekuatan yang lebih besar darinya. Rasa kesalnya sebelum berangkat seakan kembali dan Oikawa melampiaskannya mentah-mentah sekarang.

Tetapi pria itu seakan tak terpengaruh atas tuduhan yang dilemparkan Oikawa. Sambil bersedekap dan dengan satu alis yang terangkat tinggi, sang Alpha justru bertanya balik.

“Apa cuma itu alasannya?”

Oikawa lagi-lagi menelan salivanya. Ia kini melarikan tatapannya ke arah lain— tak ingin menatap pria yang meniliknya intens seakan mencari kebenaran di balik jawabannya.

“Y-yang jelas, gue bakalan tetep balik ke klan gue hari ini,” ujar Oikawa setelah beberapa saat terlewati dalam keheningan. “Lo nggak bisa maksa gue.”

Pria itu, seseorang yang Oikawa ketahui sebagai Iwaizumi Hajime, putra dari pemimpin klan yang sejak bertahun-tahun lalu menjadi musuh mereka, mengeraskan tatapannya begitu keputusannya ia lontarkan.

“Oke,” Iwaizumi menjawab dengan oktaf yang direndahkan. Kakinya kembali melangkah sampai menyentuh ujung sepatu Oikawa sehingga ia terpaksa mundur dan punggungnya kembali menyentuh batang pohon.

“Tapi kamu harus inget kalau kita udah jadi soulmate, dan nggak boleh ada orang lain.”

Kalau Oikawa tak dibutakan oleh kebencian terhadap klan pria itu, ia pasti akan menganggap kalimat tersebut sebagai ikrar kepemilikan. Namun sekarang, yang ada di pikirannya hanyalah kenyataan bahwa semesta lagi-lagi tengah menjatuhinya hukuman.

Dan kali ini pun ia harus menerimanya.


@fakeloveros

This is boring.

Iwaizumi menyesap minuman berwarna bening yang ada di tangannya sembari matanya menyapu ruangan megah beraroma campuran parfum-parfum mahal tersebut. Ia mendengus pelan dan berharap bahwa minuman yang masuk ke tenggorokannya lebih keras dari sekadar pemanis. Pesta ini mulai membuatnya jenuh, padahal dia sendiri baru datang.

Seandainya ada Oikawa, tentu dia tidak akan sebosan ini.

Iwaizumi menghela napas. Ingatannya kembali ke beberapa hari lalu saat lagi-lagi dirinya mabuk di depan Oikawa dan dengan bodohnya menumpahkan semua perasaannya secara gamblang. Dia ingat. Tentu saja dia ingat. Iwaizumi ingat bagaimana dirinya memeluk Oikawa tanpa bisa menahan hasratnya untuk tidak menyentuh pria itu. Iwaizumi ingat bagaimana surainya dimainkan lembut oleh sang pria, atau bagaimana ekspresi Oikawa saat dirinya melarang pergi.

Iwaizumi ingat semuanya.

Dilihat dari respons Oikawa, Iwaizumi yakin bahwa mereka memang memiliki perasaan yang sama. Bahkan sejak kejadian di gym pun Iwaizumi tidak mungkin salah mengira arti tatapan maupun ciuman yang bertukar di antara mereka. Namun mungkin benar bahwa mereka berdua terlalu pengecut untuk sama-sama memperjuangkannya.

Iwaizumi sendiri bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Apabila pria itu memang tak ingin lagi berurusan dengannya, maka Iwaizumi akan mengabulkannya.

“Kok kamu sendirian? Mana Alisa?”

Suara seorang wanita tiba-tiba menginterupsi lamunannya. Dia menoleh dan mendapati kakaknya sudah berdiri di sebelahnya seraya memegang minuman yang sama. Dilihat dari semburat tipis yang mulai muncul, Iwaizumi yakin kakaknya sudah minum lebih banyak darinya malam itu.

“Nggak tau. Telat kali,” jawabnya tak peduli. Ia menyesap habis minumannya dan mendesah keras. Dia benar-benar membutuhkan sesuatu yang lebih keras sekarang.

“Telat? Dia telat atau… ninggalin kamu buat dateng sama cowok lain?”

“Maksudnya?”

“Tuh, liat siapa yang baru dateng,” balas Kakaknya seraya mengedikkan dagu ke arah pintu masuk. Iwaizumi lantas mengikuti arah tunjuk Kakaknya dan kalau saja dirinya tidak memiliki kontrol tubuh yang bagus, gelas di tangannya pasti sudah meluncur ke lantai.

Karena Alisa Haiba baru saja datang bersama seseorang yang menjadi objek dalam lamunannya beberapa menit yang lalu.

Oikawa…? Iwaizumi menatap pemandangan itu dengan bingung. Alisa datang dan terlihat memukau tamu lain seperti biasa melalui tampilannya hari itu. Tetapi mata Iwaizumi tak pernah lepas dari pria di sebelahnya yang hadir dalam balutan setelan putih (dan terlihat sangat tampan, kalau Iwaizumi boleh menambahkan dan akan ia tambahkan, tentu saja). Alisa menggandeng lengan Oikawa seraya menebar senyum dan mereka berdua terlihat sangat akrab.

Iwaizumi mengernyitkan alisnya. Ia pasti telah melewatkan sesuatu di sini.

Sebelum kakinya dapat diperintahkan untuk bergerak dan menghampiri pasangan itu, Oikawa lah yang lebih dulu menoleh ke arahnya. Pandangan mereka pun bertemu dan mengunci satu sama lain.

Kalau Iwaizumi boleh mengumpamakan momen itu dengan sesuatu yang dramatis, pastilah ia sudah beranggapan itulah rasanya ketika dunia hanya diisi oleh mereka berdua dan yang lain menjadi latar belakang semata.

Sekarang Iwaizumi justru harus menahan kakinya agar tidak bergerak di luar kendali, seperti menghampiri pria itu dan membawanya ke ruangan lain tanpa ada gangguan dari siapa pun, misalnya.

“You’re drooling.”

Ucapan dengan nada jahil yang keluar dari mulut Kakaknya membawa Iwaizumi kembali ke dunia nyata dan menyadari bahwa Alisa telah menyeret Oikawa datang ke arahnya. Iwaizumi menelan salivanya kuat-kuat dan meletakkan asal gelasnya di nampan pelayan yang kebetulan lewat.

“Malam, Kak.” Alisa menyapa Kakaknya terlebih dulu dengan nada ceria, sebelum beralih ke arahnya. “Hey, loser, what does it feel to be ditched by someone like me?”

Jawaban jujurnya tentu saja menyenangkan, tapi Iwaizumi menelan omongan itu dan lebih memilih menatap pria yang sejak tadi hanya diam.

“Kamu dateng,” ucapnya penuh rasa takjub. Oikawa tidak menjawab, namun dari lirikan pria itu, setidaknya Iwaizumi bisa menyimpulkan dia tidak datang secara terpaksa.

“Of course! That’s because I asked him to come with me! This is my surprise for you.” Alisa lah yang justru menjawab seraya tersenyum bangga. Wanita itu mengeratkan gandengannya di lengan Oikawa, dan Iwaizumi menyatukan alisnya dengan kesal melihat pemandangan itu.

“Then let him go,” ujarnya tajam, ingin segera menarik Oikawa jauh-jauh dari siapa pun yang ada di ruangan itu.

“What a possessive man,” gerutu Alisa, namun wanita itu melepaskan juga gandengannya di lengan Oikawa. “By the way, karena rencana kita gagal, jadi siap-siap aja ya habis ini,” ucap wanita itu santai sambil mengedipkan sebelah matanya. “Kayaknya Ayah kita bakalan marah besar sih gara-gara ini.”

Bahkan pada tahap ini Iwaizumi sudah tak peduli.

Tapi melihat Oikawa yang tiba-tiba berubah ekspresinya, Iwaizumi merasa ia harus segera bertindak.

“Itu urusan gampang,” jawabnya tanpa melirik sama sekali ke arah Alisa. Ia hanya ingin cepat-cepat pergi dari sana. “Can we talk now?” Iwaizumi akhirnya maju dan menyentuh tangan pria yang ada di hadapannya pelan.

“Fine, lovebirds! Sana deh, kalian pergi. Nggak apa-apa, aku di sini aja sama Kak Yui!” seru Alisa pura-pura jengkel. Meskipun begitu, ada senyum kecil terpatri di wajahnya. Wanita itu lalu merogoh sesuatu dari dalam tas kecilnya, kemudian melemparnya cepat ke arah Iwaizumi yang menangkapnya dengan sigap.

“Anggap aja itu juga sebagai permintaan maaf dari aku,” ucap Alisa sambil menaik-turunkan kedua alisnya setelah melemparkan semacam benda tipis yang tidak terlihat jelas oleh Oikawa.

Oikawa baru akan membuka mulutnya untuk bertanya, tetapi Iwaizumi tanpa basa-basi langsung menariknya.

“Kita mau ke mana?” tanya Oikawa, sedikit panik saat dirinya ditarik menuju keluar ruangan. Iwaizumi dengan tidak sabar memencet tombol lift. Oikawa pun tidak berani bertanya apa-apa lagi, bahkan setelah lift berhenti di lantai 15 dan Iwaizumi membawanya keluar menelusuri lorong yang cukup panjang dengan banyak pintu di kanan-kiri.

Masih dalam keadaan diam seribu bahasa, Iwaizumi berhenti di depan salah satu pintu, kemudian membukanya dengan kartu yang tadi diberikan Alisa.

Barulah Oikawa paham benda apa yang diberikan Alisa barusan.

Lampu di kamar itu langsung menyala dan membuat keduanya mengerjap-ngerjapkan mata untuk sesaat. Iwaizumi segera melangkah ke dalam, sedangkan Oikawa mengikutinya dengan ragu dari belakang.

Iwaizumi masih belum berkata sepatah kata pun.

“Kamu pasti marah.”

Adalah ucapan Oikawa untuk membuka percakapan mereka. Iwaizumi masih diam dan hanya berdiri membelakanginya menghadap jendela besar yang memperlihatkan gemerlap malam di kota besar itu. Oikawa bisa melihat pantulan mereka di kaca jendela, tapi tetap saja ekspresi Iwaizumi tak bisa ia artikan.

“Aku… minta maaf, buat semuanya. Kamu pasti kesel karena aku kabur terus. Dari dulu. Ada banyak hal yang rasanya mau aku jelasin, tapi aku terlalu pengecut buat omongin semua itu. Karena aku pikir… kamu nggak akan ngerasain hal yang sama, even orang-orang yang ada di sekitar kita justru ngomong hal yang sebaliknya…” Oikawa menarik napas. Matanya tak pernah lepas dari pantulan manik hitam pria itu yang menatapnya balik tanpa kata-kata. “Bukan cuma itu… dari kita pacaran bohongan pun, Ayah kamu udah nggak setuju. Dan waktu itu aku juga masih kepikiran soal Alisa… aku pikir dia bener-bener mau berusaha dapetin kamu. Dan aku yakin teoriku makin bener pas kamu sakit…”

Oikawa menyerah. Intensitas tatapan Iwaizumi padanya bukannya membuatnya tenang, tapi malah semakin menggetarkan suaranya. Ia pun menunduk untuk menatap karpet tebal yang berada di bawah kakinya.

“Kamu bahkan nggak nelpon aku waktu itu, jadi aku pikir… kamu beneran nggak anggap aku siapa-siapa. Di satu sisi harusnya aku paham kalau hubungan kita dari awal emang cuma berdasarkan kontrak. Tapi kamu taulah namanya juga manusia,” Oikawa tertawa getir. “Sering mereka maunya lebih, dan berharap bakal ada seseorang yang ngasih.”

Oikawa ingin bercerita bagaimana perceraian orang tuanya sedikit banyak memengaruhinya dalam mengharapkan hal tersebut dari orang lain. Ia sudah melihat sendiri apa yang terjadi pada pasangan, yang bahkan sudah menikah, ketika harapan itu tak bersambut. Apa yang didapat hanya kekecewaan dan Oikawa tidak ingin merasakannya untuk kedua kali.

Karena itulah ia memilh kabur selama ini.

Sampai dirinya lupa bahwa di luar sana masih ada orang yang ingin mewujudkan harapannya tersebut.

Dirinya masih menatap lantai, namun dari peripheral-nya, ia bisa melihat Iwaizumi mulai bergerak. Oikawa menahan napas dan tak berani mengangkat wajah sementara Iwaizumi terus mendekat ke arahnya.

“Tooru.”

Apakah masuk akal kalau tangannya kini sedikit bergetar saat mendengar Iwaizumi memanggilnya seperti itu? Apakah bisa dibayangkan oleh Iwaizumi betapa Oikawa sangat menahan dirinya saat ini?

“Tooru, coba liat aku.”

Maka kuasa apa yang bisa menahannya untuk bertindak kebalikannya? Oikawa mendongak dan netra yang tadi memakunya secara intens kini memperlihatkan banyak hal di baliknya. Untuk pertama kalinya sejak mengenal Iwaizumi, Oikawa merasa bisa membaca pria itu seperti buku yang terbuka.

“Waktu aku bilang sayang sama kamu… apa kamu percaya?” tanya pria itu lugas. Matanya tak berkedip seolah memantrai Oikawa agar berkata sejujur-jujurnya.

“Kamu… inget?” Oikawa terperangah. Suaranya naik satu oktaf akibat terkejut. “Kamu inget pas mabuk waktu itu bilang… apa?”

Iwaizumi mengangguk tanpa berkata lebih jauh. Jelas sekali pria itu masih menunggu jawabannya.

“Aku…” Oikawa mengerjapkan matanya beberapa kali seakan berusaha mengusir kegugupannya yang tiba-tiba datang. “Percaya.”

“Good.”

Dan hanya itu balasan Iwaizumi sebelum dunianya serasa berputar saat pria itu menariknya cepat dan kuat.

Napasnya tertahan di rongga dadanya ketika bibirnya dibuka sehingga langsung memberikan keleluasaan bagi pria itu untuk mengeksplor lebih dalam. Tak ada aba-aba. Tak ada peringatan. Rasanya seperti ciuman mereka yang terakhir kali, namun kali ini dua kali lebih intens. Pikirannya kosong dan yang mampu ia proses hanyalah rasa dan aroma pria itu di seluruh indranya. Tangannya yang tadi terkulai lemas di samping tubuh, lantas terangkat untuk mengalungkannya di sekitar leher pria itu. Oikawa bahkan tidak sadar Iwaizumi perlahan mendorongnya sampai punggungnya menyentuh permukaan dinding yang halus.

Ciuman itu belum berhenti, bahkan pagutannya semakin menuntut seakan jarak yang sudah terhapuskan belumlah cukup. Oikawa menarik napas dengan gemetar di sela-sela sekon ketika pria itu melepaskan bibirnya sesaat untuk menciumnya lebih dalam. Usahanya untuk melepas vokal seperti ditelan sehingga hanya deru napas dan decak bibirlah yang terdengar memenuhi ruangan.

Saat kepalanya mulai berputar karena kekurangan pasokan udara, barulah Iwaizumi melepaskannya. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, tubuh mereka masih menempel tanpa jarak, bahkan Oikawa harus memejamkan matanya rapat-rapat saat bibir sang pria mulai menelusuri rahangnya. Iwaizumi semakin menunduk dan lembap bibir pria itu meninggalkan jejak di sepanjang lehernya yang warnanya sudah senada dengan berma.

Lenguhan itu tak bisa lagi ia tahan ketika Iwaizumi menggigit kulit lehernya sampai ia yakin akan meninggalkan bekas. Rasanya sudah terlambat untuk merasa malu karena Oikawa berani bersumpah, Iwaizumi justru tersenyum selagi menghujani lehernya dengan ciuman-ciuman kecil selembut kapas.

Mereka terus seperti itu entah untuk berapa lama. Iwaizumi seperti tidak menyisakan seinci pun bagian wajahnya yang tak tersentuh. Barulah saat pria itu mencapai telinganya, Oikawa mulai bergerak.

“Tickle spot?” bisik pria itu. Napasnya bercampur dengan tawa pelan yang justru membuat Oikawa semakin menggeliat kegelian.

Iwaizumi tersenyum dan mengalihkan bibirnya ke bawah untuk mencium Oikawa sekali lagi sebelum mulai memberi jarak di antara tubuh mereka. Napas mereka sudah kembali normal. Kendatipun begitu, Oikawa merasa sekujur tubuhnya panas dan pipinya pastilah sudah semerah tomat.

Menggantikan bibirnya, tangan Iwaizumi terangkat untuk mengagumi semburat yang sedari dulu ingin disentuhnya. Iwaizumi tersenyum kecil saat rona itu semakin visibel dan menciptakan perpaduan cantik di atas kulit Oikawa yang putih.

“Kamu tau, aku nggak sesempurna yang orang-orang bilang.”

Oikawa mengangkat tatapannya sampai pandangan mereka kembali bertemu. Iwaizumi kini terlihat serius, meskipun ada sedikit kesedihan yang tersirat di balik binar matanya.

“Aku nggak akan bisa jadi orang yang menuhin segala ekspektasi kamu.”

Oikawa membuka mulutnya untuk menyanggah, tapi Iwaizumi segera mendiamkannya dengan sebuah ciuman. Tidak seintens ciuman mereka di awal, memang, tetapi ada keyakinan yang akhirnya membuat Oikawa paham.

“Tapi kalau kamu minta sayangku buat kamu semuanya… aku yakin nggak akan ada yang bisa ngalahin,” lanjutnya setelah mereka bisa menarik napas kembali. “Dan kamu pun sama. Kamu nggak usah memenuhi semua ekspektasi aku. Setiap pasangan nggak akan ada yang bisa, Tooru. Tapi itu nggak menjadikan kamu terlihat kurang di mataku. Kamu nggak perlu kabur kalau merasa ada yang salah. Kita bisa selesain semuanya bareng, selama kamu masih yakin sayangku cuma buat kamu.”

Oikawa percaya, kalau ia membuka mulutnya sekarang, yang keluar pasti hanyalah suara-suara aneh. Perasaannya membuncah, namun ia tidak tahu bagaimana harus mengekspresikannya selain menarik wajah pria itu dan menciumnya kembali dengan keyakinan yang sama.

“Nggak akan,” Oikawa berbisik di antara napas mereka yang saling beradu. Matanya menilik obsidian di depannya — berusaha membuat Iwaizumi yakin bahwa ia pun memiliki kasih sayang yang sama besar. “Aku nggak akan kabur lagi.”

Iwaizumi tersenyum dan menyuarakan satu kata yang tadi diucapkannya di awal.

“Good.”

Setelah ini, tentu akan sulit menyembunyikan bibirnya yang bengkak, atau tanda yang sudah tercetak dengan sangat jelas di lehernya. Iwaizumi seakan tak dapat menahan diri lagi hingga tangannya mulai bergerak menggerayangi tubuhnya. Oikawa tak sengaja menggigit bibir pria itu ketika ada sepasang tangan yang tahu-tahu sudah berada di balik kemejanya.

Tangannya sendiri yang berada di bahu Iwaizumi, mencengkeram lebih kuat saat pria itu membuat aliran listrik di sekujur tubuhnya terasa lebih nyata. Ketika tangan Iwaizumi semakin naik… barulah Oikawa menghentikannya.

“Kita harus…” Oikawa terlihat kewalahan mencari kata-kata yang pas di tengah otaknya yang berkabut. “Stop…”

“Why?” Iwaizumi bertanya tak acuh. Bibirnya menjamahi telinganya untuk dijilat dan digigit pelan sampai Oikawa betul-betul yakin sebentar lagi kakinya tidak akan kuat menopang berat tubuhnya.

“Ada pesta di— shit.” Oikawa mengumpat pelan saat tangan Iwaizumi meneruskan aksinya dan menemukan putingnya yang sudah mengeras. Untuk sedetik, ia nyaris menyuruh pria itu untuk berpindah ke atas kasur yang seakan menggoda mereka. Namun dengan segenap usaha, Oikawa berusaha berpikir jernih.

“Ada pesta di bawah dan kamu belum ajak aku dansa.”

Oikawa mengucapkannya dalam satu tarikan napas seraya mendorong bahu pria itu pelan dengan sisa kekuatan dan akal sehatnya. Iwaizumi tidak menolak, dan justru berhenti untuk menatapnya dengan ekspresi menimbang-nimbang.

“Oke.”

Oikawa menghela napas lega. Setidaknya, Iwaizumi berhasil dibujuk dan yang ia perlu khawatirkan sekarang adalah merapikan penampilannya yang pasti sangat berantakan. Ia tidak perlu kaca untuk mengetahuinya.

“But we’ll continue… this. Later.” Iwaizumi berujar beberapa detik kemudian. Pria itu lalu menjauhkan tubuhnya dan tersenyum santai seakan semburat yang kembali muncul di pipi Oikawa tak memengaruhinya sama sekali.

“Now, shall we dance?”


Akhirnya adegan sayang-sayangan...

@fakeloveros

Alisa Haiba mungkin wanita paling keras kepala yang pernah ditemui Oikawa.

Oikawa tidak tahu apa yang ingin dibicarakan wanita itu sampai bersikeras untuk datang ke kafe tempatnya bekerja keesokan harinya. Apa Alisa pada akhirnya ingin mengumumkan kedekatannya dengan Iwaizumi? Karena kalau iya-

Ya bukan itu lah, Oikawa mengingatkan dirinya sendiri. Emang lo nggak inget kemaren Iwaizumi udah ngaku apa ke lo?

Setiap mengingat kejadian malam ketika Iwaizumi mabuk dan membuat serentetan pengakuan tak terduga, Oikawa tidak bisa menahan agar pipinya tidak memerah. Rasanya ia sedikit kecewa saat mengetahui bahwa pria itu tidak mengingat apa-apa sama sekali. Kalau begitu haruskah dia ikut mengaku? Tapi bukankah itu hanya akan semakin mempersulit keadaan? Lalu bagaimana dengan Ayah Iwaizumi? Jelas sekali pria paruh baya itu tidak menyetujui hubungan mereka. Ayahnya tentu lebih menginginkan Iwaizumi bersama-

“Aku tau kalian cuma pacaran pura-pura.”

Alisa Haiba meletakkan cangkirnya dengan anggun kemudian menatap Oikawa dari balik bulu matanya yang lentik. Tatapannya penuh arti, namun anehnya tak semenyebalkan ketika mereka pertama kali bertemu ataupun saat di acara spring training waktu itu.

Tetapi tetap saja jantung Oikawa seperti jatuh ke dasar perutnya setelah mendengar ungkapan (atau tuduhan?) tersebut.

“Kata siapa?” Oikawa berusaha menjaga agar intonasinya tetap tenang. Kendatipun begitu, wanita di hadapannya hanya tersenyum simpul seolah dapat mendeteksi kebohongannya.

“Insting cewek. Iwaizumi juga nggak tahu, kok, bukan dia yang bilang. Aku nebak sendiri aja. Jadi bener, kan?”

Oikawa memilih diam seribu bahasa.

“Well, tapi aku ke sini bukan buat maksa kamu soal itu. Aku paham alasan Iwaizumi nyari tameng karena tuntutan Ayahnya. Walaupun aku nggak paham kenapa kalian masih harus pura-pura sedangkan keliatan banget kalau kalian saling suka,” cetus wanita itu panjang lebar. “Or am I wrong?”

Oikawa tidak menghiraukannya dan memutuskan untuk segera berganti topik.

“Terus ngapain kamu ke sini?”

“Like I said, I want to apologize,” kini Alisa Haiba terlihat lebih serius. Ekspresinya yang biasanya penuh arogansi berganti menjadi ketulusan. “For what I did, waktu kita ketemu di apartemen Iwaizumi. Dia manggil aku ke sana beneran cuma buat nyelesain kerjaan. Tapi dia tiba-tiba pusing banget sampai nyaris jatuh. Aku beneran cuma bantu ngerawat dia sebentar. Trust me, I even considered to call you with his phone.” Alisa menghela napas. Wajahnya terlihat menyesal.

“Dan waktu aku mau ke luar beli obat, kita ketemu, terus… yah, anggap aja itu kebodohan aku karena udah bersikap seenaknya.”

Mungkin Alisa melihat ekspresinya yang tidak berubah. Mungkin juga Alisa merasa pembelaannya tidak cukup meyakinkan sehingga wanita itu buru-buru menambahkan.

“Oke, waktu itu aku beneran mau ngisengin kamu juga, Oikawa! Because you looked… so… sooo funny! You were jealous, but you didn’t want to say it.”

Setidaknya itu tepat sasaran.

“But then Iwaizumi marah besar ke aku. Dia sampai nyuekin aku di kantor! Can you believe that? Dia pikir aku udah ngomong yang macem-macem ke kamu… well, yeah I did, tapi bukan begitu maksudku…” Suaranya semakin melemah dan matanya mengeluarkan binar minta dikasihani. “Jadi aku mau minta maaf… buat kelakuan konyolku waktu itu… you know I never really wanted to steal you fake boyfriend, right? It was just an acting too!”

Sekarang Oikawa yang merasa kepalanya berputar.

“Apa?” tanyanya karena ia yakin salah dengar. “Cuma akting?”

Alisa mengangguk-anggukkan kepalanya. “Serius! Soalnya aku… juga paham sama apa yang dirasain Iwaizumi. Ayahku sama aja. He forced me to be with someone else, padahal aku udah punya pacar! Oh, not a fake one tapi.”

Oikawa meringis. Kenapa wanita itu hobi sekali mengungkit soal hubungan pura-puranya dengan Iwaizumi? Apakah belum cukup Alisa nyaris menghancurkan hubungan mereka?

“Tapi kalau nggak nurut sama Ayah sekalii aja, dia bakalan lebih maksa. Makanya aku awal-awal akting kayak beneran mau ngerebut Iwaizumi, padahal mah…” Alisa bergidik seakan konsep itu sesuatu yang menggelikan baginya. “He’s not my type, anyway.”

Entah Oikawa harus menghembuskan napas lega atau justru semakin bingung dengan keadaan yang ada. Ia berusaha memproses informasi yang menumpuk di kepalanya sementara Alisa ikut diam seakan memberinya waktu untuk berpikir.

“You know,” setelah beberapa saat dilewati dalam keheningan, wanita itu kembali bersuara. “Aku nggak mungkin dateng ke sini cuma buat minta maaf. I also want to fix things between you two. Karena gimanapun, ini termasuk salahku.”

Oikawa merenungi ucapan wanita yang ada di hadapannya. Ia bisa saja menolak. Ia bisa saja memaafkan Alisa lalu menganggap semuanya beres. Kemudian Oikawa bisa melanjutkan hidupnya yang monoton dan melelahkan.

Tanpa hubungan pura-pura apa pun. Tanpa Iwaizumi Hajime.

Jangan kabur lo.

Oikawa tersenyum tanpa sadar. Mendadak ia teringat ucapan Matsukawa dan betapa gigihnya pria itu mengingatkannya agar tidak kabur dan untuk sekali coba selesaikan masalahnya. Karena pada akhirnya, Oikawa tidak akan menyesal meskipun hasil akhirnya tidak sesuai dengan yang diinginkan. Setidaknya dia sudah berusaha memperbaiki hubungan yang hampir kandas ini dengan Iwaizumi.

“Gimana caranya?”

Alisa mengerjap tak percaya kemudian terpekik senang. Wanita itu menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya dengan antusias diikuti seulas senyum jahil. Oikawa yakin, seandainya Alisa dipertemukan dengan Matsukawa, mereka berdua pasti akan cocok berteman.

Alisa berdeham, lalu membetulkan posisi duduknya. “So, my genius plan goes like this…”


@fakeloveros

“Itu gelas ketiga lo.”

Iwaizumi hanya melirik tanpa suara dari balik gelasnya. Pria berambut pirang yang tadi berkata dengan nada kagum itu sudah berpindah posisi sehingga kini benar-benar duduk menghadapnya.

“Ini pelampiasan gara-gara ujian udah selesai apa gimana, bro?” tanya Atsumu seraya menatap Iwaizumi dengan pandangan takjub sekaligus heran. Namun Iwaizumi diam saja dan menenggak minumannya sampai habis. Atsumu bahkan tidak tahu bahwa itu sudah bukan gelas ketiganya lagi. Dirinya sendiri sudah berhenti menghitung.

“Btw, kok lu nggak dateng bareng Oikawa? Gue sengaja nggak ngajak dia karena gue pikir lo pasti bakalan bareng dia,” ucap Atsumu lagi, tanpa menyadari perubahan ekspresi di wajah Iwaizumi.

Seandainya Atsumu tahu kenapa dirinya memutuskan untuk mabuk berat malam ini.

Iwaizumi pikir, pastilah dia memiliki semacam radar yang bisa merasakan kehadiran seorang Tooru Oikawa di dekatnya karena mendadak ada dorongan yang membuatnya mengangkat wajah tepat saat pria itu baru saja tiba.

Oikawa belum melihatnya. Belum. Pria itu tengah menyapa Ushijima yang sudah terlebih dulu datang tadi dan beberapa anggota voli lainnya. Iwaizumi terus menatapnya seakan memberi sinyal. Ia berharap bahwa Oikawa pada akhirnya akan mengalihkan fokus ke arahnya dan—

dan ketika manik kecokelatan itu akhirnya bergulir ke arahnya, Iwaizumi selalu berharap dirinya memiliki ingatan fotografis sehingga meskipun sedang tidur, ia bisa mengingatnya dengan sangat jelas sekalipun sang pemilik tak berada di dekatnya.

Seperti sekarang.

Iwaizumi meletakkan gelasnya — yang entah sudah keberapa — berbarengan dengan mata Oikawa yang langsung beralih ke arah lain dengan pipi yang bersemu merah. Iwaizumi memiringkan kepalanya dengan sedikit takjub. Apa itu permainan cahaya? Karena kalau iya, Iwaizumi merasa harus memberikan pujian kepada pemilik restoran karena berkat lampunya, rona cantik di wajah pria itu bisa terlihat lebih jelas.

Iwaizumi menggeleng. Tidak. Menurutnya, tanpa bantuan cahaya apa pun Oikawa selalu terlihat sempurna di matanya. Berbeda dengan dirinya yang mungkin memiliki banyak kekurangan di mata pria itu. Mungkin dirinya terlalu pendiam. Mungkin dirinya terlalu pemaksa. Mungkin dirinya terlalu pengecut untuk mendekati pria itu sebagaimana mestinya.

Mungkin juga dirinya terlalu menyukai pria itu sehingga tidak bisa berbuat apa-apa.

Mendadak, tawaran dari Alisa Haiba terngiang kembali di telinganya. Tentang pesta sialan yang mau tidak mau harus dihadirinya bersama wanita itu. Iwaizumi belum mengatakan pada siapa pun kecuali Takahiro bahwa hubungan kontrak antara dirinya dengan Oikawa telah berakhir secara sepihak. Sekalipun pura-pura, ia belum rela melepaskan Oikawa begitu saja karena bagaimanapun perasaannya terbilang nyata. Seandainya hubungan mereka masih baik-baik saja, ia membayangkan akan mengajak Oikawa pergi ke pesta sialan itu. Setidaknya, ia bisa mengajak pria itu kembali berdansa. Iwaizumi tahu Oikawa suka berdansa. Kalau perlu, setiap hari ia akan mengadakan pesta untuk pria itu apabila mampu.

“Lo udah mabuk, ya?”

Suara Atsumu terdengar untuk kesekian kalinya. Kali ini ada sedikit nada khawatir terselip dalam suara pria itu. Matanya melirik ke arah Oikawa yang duduk di ujung meja, lalu kembali pada dirinya yang masih menenggak segelas alkohol. Ada paham yang melintas sebelum pria itu akhirnya mengedikkan bahu dan bergumam,

“asal lo nggak nyesel aja nanti.”

Iwaizumi mendengus pelan. Atsumu tidak tahu ia sudah terlambat.

Ia sudah menyesali semuanya sejak awal.


“Kayaknya lo harus bawa pacar lo balik sekarang, deh.”

“Eh?”

Oikawa mendongak. Suara Atsumu mendadak masuk ke gendang telinganya dan sukses membawanya kembali dari lamunan. Ia mengikuti kedikkan kepala Atsumu dan mendapati Iwaizumi tengah... tertidur? Kepala pria itu berada di atas meja dan tubuhnya terlihat tidak bergerak sedikit pun selain gerakan naik-turun punggungnya yang menandakan pria itu masih bernapas.

“Dia minum banyak banget tadi. Gue pikir karena akhirnya bisa ngelepas stres habis ujian. Tapi kayaknya...” Atsumu terlihat ragu sesaat. “Ada alasan lain,” lalu dia memandang Oikawa penuh arti.

Tanpa diberi tahu pun, Oikawa paham akan maksudnya.

“Setau gue dia nggak bawa mobil ke sini tadi. Jadi mungkin lo bisa anter dia naik taksi? Lo pasti tau rumahnya, kan?” ujar Atsumu lagi, yang secara refleks dibalas Oikawa dengan sebuah anggukan.

“Oke, nanti gue yang anterin. Makasih ya, Atsumu.”

“Sip. Sama-sama.”

Oikawa menunggu sampai sang setter itu pergi, lalu berdiri dari duduknya. Namun tiba-tiba, tangannya ditahan seseorang.

“Lo mau nganterin dia?”

Pertanyaan Ushijima seolah memiliki makna lain. Oikawa tahu, sungguh aneh bagaimana berhari-hari ia kehilangan kontak dengan pria itu, dan sekarang tiba-tiba harus mengantarnya pulang. Namun mau dalam keadaan apa pun, Oikawa mana mungkin membiarkan Iwaizumi begitu saja.

Jadi itulah jawaban yang diberikannya.

“Iya, lo balik duluan aja. Gue cuma bakal nganterin, terus langsung balik.”

“Ooh...”

Saat pegangan di tangannya mengendur, Oikawa lantas beranjak menghampiri pria yang masih tertidur pulas tersebut. Ini kali kedua dia melihat Iwaizumi mabuk, namun sepertinya yang ini lebih parah.

“Hajim— ehm, Iwaizumi, ayo bangun. Aku anter kamu pulang,” ucap Oikawa seraya menggoyang-goyangkan badan pria itu. Awalnya, Iwaizumi tidak langsung bergerak, namun saat Oikawa memanggilnya sekali lagi, pria itu lantas membuka matanya.

“Tooru...”

Oikawa menelan salivanya. Rasanya seperti sudah lama sekali ia tidak mendengar namanya keluar dari mulut pria itu. Ia masih hapal dengan nadanya. Intonasinya. Semuanya.

“Ayo, Iwaizumi, kamu mabuk banget. Aku anter pulang, ya?” ucapnya sekali lagi, sembari berusaha meredam debaran jantungnya ketika akhirnya bisa berada dalam jarak yang cukup dekat dengan pria itu setelah sekian lama.

Seperti dulu.

“Kamuu? Kamu yang bakal nganterin akuu?” Iwaizumi mengerjap-ngerjapkan matanya. Pria itu akhirnya menegakkan tubuh meskipun ucapannya masih belum terlalu jelas. Oikawa mengangguk, lalu membantu pria itu untuk bangkit.

Entah Iwaizumi benar-benar mengerti maksudnya atau tidak, namun pria itu tidak protes ketika dibantu berdiri. Oikawa mengalungkan sebelah lengan Iwaizumi di sekitar bahunya, lalu setengah menyeret pria itu menuju pintu keluar.

Di depan restoran, ia bertemu Atsumu.

“Oikawa, gue udah manggilin taksi tuh, jadi lo berdua bisa langsung balik.”

“Oh, thanks ya, Atsumu!”

Atsumu hanya mengibaskan tangan, lalu segera membantunya menaikkan Iwaizumi yang setengah sadar dan setengah tertidur ke dalam taksi. Setelah itu, Oikawa menyebutkan alamat apartemen Iwaizumi kepada sang supir, dan langsung saja mereka disambut oleh jalanan malam ibu kota yang sudah lengang.

Oikawa melirik ke arah Iwaizumi yang masih tertidur pulas. Tangannya bergerak menyentuh kepala pria itu dan memosisikannya secara perlahan agar bersandar di bahunya.

Oikawa menghembuskan napas pelan, lalu mengalihkan atensinya ke luar jendela.

Ternyata, ia lebih merindukan pria itu daripada yang diduganya.


Oikawa mengerang keras seraya menjatuhkan Iwaizumi ke atas sofa. Pria itu memang memiliki bobot yang lebih berat darinya sehingga Oikawa bersyukur bisa membawa Iwaizumi pulang dengan selamat.

Sementara Iwaizumi langsung kembali ke alam bawah sadar, Oikawa membuka lemari kecil di bawah TV dan mengeluarkan aspirin. Ia kemudian beranjak menuju dapur untuk mengambil segelas air.

Rasanya sudah seperti bertahun-tahun lamanya ia tidak mengunjungi apartemen milik pria itu. Semuanya masih sama. Tidak ada yang berubah. Bahkan aroma yang memenuhi apartemen itu pun masih sama seperti dalam ingatannya.

Saat dirinya kembali, Oikawa langsung meletakkan gelas dan obat penghilang rasa sakit itu di atas meja. Ia sedang menimbang-nimbang apakah sebaiknya membawa Iwaizumi ke dalam kamarnya ketika tangannya tiba-tiba disentuh pelan.

Oikawa menunduk dan mendapati mata hitam pria itu sudah membuka dan tengah menatapnya sayu.

“Jangan pulang...”

Apa?

“Jangan pulang... temenin aku di sini...”

Awalnya Oikawa hanya mampu tercengang, tetapi ia cepat-cepat menolak dengan sedikit tergagap.

“A-aku... nggak bisa... a-aku harus pulang...” ucapnya lemah.

Iwaizumi menggeleng keras. Pria itu terlihat seperti anak kecil yang mainannya hampir diambil secara paksa. “Nggak boleh!”

“Iwaizumi—”

“Nggak boleh! Jangan pergi! Nanti kamu nggak balik lagi...”

Oikawa menelan salivanya. Ia kehilangan kata-kata.

“Kamu pergi... ninggalin aku... padahal aku... sayang banget sama kamu...”

Mendadak, pria itu bangkit dari tidurnya lalu menarik pinggang Oikawa dengan kedua tangannya. Oikawa terpekik kaget, tetapi bibirnya langsung terkatup rapat saat pria itu melingkarkan kedua lengannya di sekitar tubuhnya. Iwaizumi menenggelamkan wajahnya di perut Oikawa yang masih tertutup oleh jaket, kemudian mulai meracau.

“Kamu tau superpower apa yang pengin banget aku punya? Aku mau... bisa mundurin waktu! Aku mau ngulang ke awal pas kita pertama kali ketemu,” Iwaizumi tiba-tiba tertawa pelan. “Tapi kamu pasti nggak inget kapan kita pertama kali ketemu! Aku... cuma aku yang inget... dan aku langsung suka sama kamu... tapi itu juga pasti kamu nggak tau...” Iwaizumi terkekeh kembali, sedangkan Oikawa yang mendengarkan, merasa bingung dengan ucapan tersebut. Bukankah mereka pertama kali bertemu di lapangan basket? Saat dirinya mengembalikan dompet milik pria itu?

Atau ingatannya yang salah?

“Terus kamu tau apa yang bodoh dari aku?” Iwaizumi mendengus kencang. “Aku nawarin kamu jadi... jadi... pacar bohongan aku! Padahal aku maunya... kita... pacaran beneran, Tooru...”

Oikawa menggigit bibirnya. Tangannya bergerak dengan sedikit ragu ke arah kepala pria itu. Namun pada akhirnya, dia meletakannya di sana dan mulai mengelus rambut pria itu pelan.

“Terus kenapa kamu nggak jujur aja?” tanyanya dalam sebuah bisikan.

“Karena aku pengecut. Aku nggak berani deketin kamu... dengan cara biasa. Aku pikir... kamu bakalan langsung kabur kalau aku deketin... aku harus cari cara... biar kamu bisa deket sama aku secepatnya...terus... terus—”

Well, that makes us two, pikir Oikawa dengan pahit tanpa menghentikan gerakan tangannya.

“Aku juga pengecut. Soalnya aku kabur terus,” balas Oikawa tanpa pikir panjang. Lagi pula, itu memang benar.

Iwaizumi bergumam panjang. Suaranya teredam oleh pakaiannya sehingga yang Oikawa rasakan hanya getarannya. Meskipun begitu, jantungnya justru berdetak semakin kencang.

“Kalau gitu kita bisa jadi... pasangan pengecut, dong?” tanya Iwaizumi, wajahnya didongakkan untuk menatap Oikawa yang pipinya sudah bersemu merah.

Oikawa berdeham beberapa kali sebelum menjawab, “that sounds bad...”

“Terus kita bisa jadi pasangan apa?”

Mata yang menatap Oikawa kelewat polos untuk pertanyaan yang membawa begitu banyak makna. Binar itu terlihat penuh harap sampai Oikawa harus memalingkan wajahnya kalau tidak ingin wajahnya berubah semerah tomat.

“Gimana kalau pasangan dansa?”

“Apa?”

Oikawa menunduk dengan bingung. Kenapa tiba-tiba Iwaizumi bertanya seperti itu?

“Maksudnya apa?” tanya Oikawa sekali lagi.

“Pesta! Minggu depan ada pesta... kamu... kamu mau dateng sama aku?”

Pesta? Apa maksudnya pesta yang sama kayak waktu itu, ya? Oikawa bertanya-tanya dalam hati.

“Nanti kita bisa dansa di sana... kamu suka dansa, kan...” lanjut pria itu, kini kembali memeluknya sekaligus menenggelamkan wajahnya. “Kita bisa dansa... sampai bosen... walaupun aku nggak akan bosen kalau sama kamu, Tooru...”

“Tapi aku bukan...” Oikawa berusaha menyelesaikan kalimatnya dengan susah payah. “Aku bukan pacar kontrak kamu lagi...”

“You don't have to.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Iwaizumi terdengar seolah kesadarannya sudah kembali. Lengannya memeluk Oikawa semakin erat dan kepalanya dipalingkan sehingga suaranya bisa terdengar dengan jelas.

“Kamu bisa dateng sebagai orang yang aku... sayang. And you don't even have to like me back. Tapi kalau kamu... beneran nggak mau ketemu aku lagi, you don't have to come and I'll stop.”

Oikawa menahan napas. Gerakan tangannya berhenti dengan sempurna. Ia berusaha mencerna ucapan Iwaizumi baik-baik. Lantas seakan bisa membaca keraguannya, pria itu menegaskan sekali lagi dalam bisikan rendah.

“Kalau kamu nggak suka, aku bakalan berhenti.”


@fakeloveros

Pagi itu Oikawa terbangun akibat ketukan berkali-kali yang terdengar di pintu kamarnya. Oikawa mengerang dan berusaha mengenyahkan suara itu dari kepalanya dengan menarik selimutnya sampai menutupi sekujur tubuh. Namun beberapa menit kemudian, ketukan itu tetap terdengar.

“Kalau lo nggak bangun juga, hadiahnya nggak bakal gue kasih.”

Ucapan yang — walaupun teredam — terdengar di balik pintu itu langsung membangunkan Oikawa dan membuatnya sadar akan sesuatu.

Ini hari ulang tahunnya.

Sambil tersenyum lebar, Oikawa cepat-cepat bangkit lalu berjalan menuju pintu dan membuka dengan sangat keras. Tetapi satu setengah tahun tinggal bersama Oikawa sepertinya sudah cukup membuat Ushijima terbiasa karena pria itu tidak terlihat terkejut sama sekali.

Sebelum Ushijima membuka mulut dan mengucapkan sesuatu, Oikawa mendahuluinya terlebih dulu.

“Mana kadonya?”

Yang ditagih hanya berdecak kesal dan memukul kepala Oikawa pelan seraya memutar kedua bola matanya.

“Emang buat lo ucapan tuh nggak penting, ya?”

Oikawa mencibir sambil memperhatikan kotak yang dipegang Ushijima dengan mata berbinar. “Nggak perlu. Ucapan ulang tahun cuma ngingetin kalau gue udah tambah tua sekarang.”

Ushijima menghela napas, meskipun ada seulas senyum di wajahnya saat menyerahkan hadiah kepada roommate-nya itu.

“Still. Happy birthday.”

“Hehe, makasih.” Oikawa baru akan meraih hadiahnya ketika tiba-tiba Ushijima menariknya kembali. “Hadiahnya dibuka nanti malem aja. Kan kita mau makan-makan.”

“Ooh...” Mendengar kata nanti malam entah kenapa langsung membuat perut Oikawa bergejolak. Ia jadi diingatkan bahwa nanti di kampus harus bertemu seseorang dan mengatakan sesuatu yang penting.

Ushijima sepertinya menyadari perubahan ekspresi pada temannya itu, namun ia memutuskan untuk tidak bertanya sekarang dan memilih mengalihkan ke topik lain. “Nih, taro dulu, habis itu lo makan. Gue udah buatin sarapan khusus buat yang lagi ulang tahun,” ucapnya sambil meletakkan kotak hadiahnya di tangan Oikawa. Sepertinya pengalihan topik tersebut berhasil karena senyum yang tadi sempat hilang, kini muncul kembali di wajah Oikawa.

“Roger!”

Dan untuk sementara, Oikawa pun tidak ingin diingatkan akan keputusan yang sebentar lagi harus ia utarakan.


“Kalau ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi. Hari ini ulang tahun Oikawa sayang, so I'll always love you, baby~!”

“Orang gila,” ucap Oikawa sembari mendorong wajah Matsukawa jauh-jauh darinya. Temannya itu sedari tadi sudah berteriak-teriak heboh dan kini sedang berusaha mencium pipinya. Dengan refleksnya yang teramat bagus, Oikawa lantas menghindari serangan pria itu.

“Woy, lo ulang tahun setahun sekali! Masa nggak mau gue cium?!” protes Matsukawa setelah usahanya yang kesekian kali digagalkan. Sekarang Oikawa kabur ke belakang Daichi untuk meminta perlindungan dari pria yang memiliki fisik lebih besar itu. Kuroo dan Sugawara yang sedari tadi memperhatikan hanya menggelengkan kepala mereka.

“Ogah! Gue maunya kado! Bukan bibir lo!”

“Ini kado dari gue!”

“Dasar nggak modal!”

Matsukawa akhirnya berhenti dan dengan wajah (sok) sedih, menghempaskan dirinya di kursi terdekat. Kelas pertama mereka baru akan dimulai 15 menit lagi, dan untungnya, belum terlalu banyak teman-temannya yang datang. Namun beberapa sudah memberinya selamat, dan hanya dibalasnya dengan ucapan terima kasih singkat.

Perutnya kembali bergejolak tidak nyaman karena waktu yang terus berjalan. Ia bahkan merasa hari ini berjalan terlalu cepat, sedangkan yang diharapkan justru sebaliknya.

Setelah memastikan Matsukawa tidak akan berbuat aneh-aneh lagi, Oikawa keluar dari persembunyiannya (punggung Daichi), lalu mengambil tempat di sebelah Kuroo. Temannya yang satu itu pun tadi hanya mengucapkan HBD singkat diikuti nanti hadiahnya gue kirim langsung aja ya, ke rumah lo.

Tidak disangka, tiba-tiba Kuroo bertanya,

“Iwaizumi udah ngucapin belum?”

Oikawa langsung menghentikan gerakannya. Tetapi belum sempat ia menjawab, Matsukawa langsung berputar menghadap Kuroo dan menatap pria itu aneh.

“Ya pasti udah, dong! Kan tuh orang pacarnya!”

Kuroo mengedikkan bahunya. “Kenma pernah hampir lupa sama ulang tahun gue, terus dia baru ngucapin jam 9 malem.”

Setelahnya, kedua orang itu terlibat dalam diskusi tidak penting yang samar-samar terdengar seperti, apakah seorang pacar wajib mengucapkan selamat ulang tahun pertama kali? Namun tidak ada satu pun yang masuk ke telinga Oikawa karena ia sendiri baru tersadar akan satu hal.

Iwaizumi belum mengucapinya selamat ulang tahun.

Tangannya gatal ingin segera meraih handphone-nya dan bertanya apa pria itu datang ke kampus. Ia tidak mau kejadian minggu lalu terulang. Namun kali ini, Oikawa berusaha percaya bahwa apa pun yang terjadi pria itu pasti akan datang.

Karena ini hari ulang tahunnya.

Karena ini akan menjadi yang terakhir kalinya.

“Hajime belum ngucapin, kok.”

Oikawa mengatakannya dengan santai sembari mengeluarkan buku-bukunya dari dalam tas. Dan pernyataan itu sukses mendiamkan kedua temannya yang masih terlibat dalam diskusi panas.

Tapi Oikawa tidak peduli. Lagi pula, baginya ucapan ulang tahun tidaklah penting, sekalipun Iwaizumi yang mengatakannya.


“Temen-temen, kisi-kisi materi ujian hari pertama gue taro di grup kelas, ya!”

Oikawa tengah sibuk membereskan barang-barangnya ketika teriakan dari ketua kelasnya terdengar. Suasana kelas cukup berisik setelah kelas terakhir selesai, namun suara di kepalanya jauh lebih berisik. Seharian ia tidak bisa berkonsentrasi sama sekali dalam mengikuti kelas. Ia bahkan hampir menolak ajakan makan siang kalau Sugawara tidak menatapnya tajam dan segera menariknya paksa menuju kantin.

Bahkan ketika kelasnya sudah selesai, masih tidak ada pesan satu pun dari Iwaizumi. Oikawa sendiri tetap menolak untuk menghubungi duluan dan memutuskan akan langsung pergi ke gym dan menunggu di sana. Kalau ternyata Iwaizumi tidak datang—

“Lo mau langsung balik?”

Pertanyaan Kuroo menyadarkan Oikawa dari lamunannya. Ia mendongak dan menyadari teman sekelasnya satu per satu sudah mulai meninggalkan kelas.

“Eh? Nggak... gue ada urusan sebentar,” jawabnya seraya berdiri dan merapikan lipatan di bajunya dengan gugup. “Lo langsung balik?”

“Nggak kok, sama. Gue mau ke perpus nungguin Kenma,” jawab Kuroo selagi meneliti ekspresinya dengan saksama. “Lo nggak apa-apa?”

“Hah? Kenapa emang?”

“Habis seharian lo kayak orang linglung. Tadi Suga sampe nanya ke gue lo kenapa,” jawab Kuroo dengan oktaf yang lebih rendah karena masih ada beberapa teman di sekitar mereka. “Apa lo... ada masalah lagi sama Iwaizumi?”

“Hah? Oh, ng-nggak ada...” Oikawa buru-buru menyanggah. “Gue cuma... cuma... kepikiran aja soal ujian nanti. Iya, itu. Hahahaha...”

Kuroo mengangkat sebelah alisnya. Kentara sekali pria itu tidak memercayai alasan remeh yang dikemukakan Oikawa. Namun sebagaimana orang yang sangat mengenal baik Oikawa, Kuroo tahu temannya itu tidak bisa dipaksa untuk bercerita.

“Oke, tapi lo bisa cerita ke gue kalau ada apa-apa,” ucap Kuroo seraya tersenyum kecil dan menepuk pundaknya sedikit keras. “Sekali lagi met ultah, ya. Do not let bad things ruin your birthday.”

Setelah mengatakan kalimat yang sangat tidak terduga tersebut, Kuroo melangkah keluar kelas. Oikawa tertegun selama beberapa saat sebelum kegugupannya kembali mengambil alih.

“Oke, Oikawa, ayo tarik napas... lo pasti bisa.”

Oikawa menarik dan menghembuskan napasnya berulang kali. Meskipun begitu, langkahnya tetap terasa berat, tangan dan kakinya begitu dingin, juga ada peluh yang mulai mengalir di pelipisnya.

Kakinya seolah bergerak sendiri menuju gym tempat latihan dan pertandingan voli sering diadakan. Gym itu jugalah yang menjadi saksi atas ciuman pertamanya dengan Iwaizumi. Ia berusaha menguatkan hati dan bahkan sedikit berharap bahwa Iwaizumi akan lupa dan tidak datang ke tempat yang telah dimintanya.

Tetapi harapan itu sepertinya mustahil terkabul karena beberapa langkah lagi sebelum dirinya sampai, Oikawa berhenti dan matanya membeliak lebar.

Iwaizumi sudah datang dan tengah bersandar di depan pintu gym. Wajahnya menunduk dan terlihat seperti sedang melamun selagi memandangi sebuah kotak berukuran sedang yang dipegangnya. Namun Iwaizumi sepertinya langsung menyadari kehadiran Oikawa karena wajahnya langsung terangkat sehingga mata mereka saling beradu.

Untuk sesaat, tak ada yang berani memecah suasana hening tersebut.

“Hai.” Iwaizumi tersenyum kecil dan menegakkan tubuhnya.

“H-hai,” balas Oikawa dengan gugup. Suaranya sedikit pecah saat membalas pria itu. Ia pun berdeham lalu menyapa Iwaizumi sekali lagi. “Hai, kamu udah... nunggu lama?”

“Belum, baru aja,” jawab Iwaizumi singkat. Entah hanya dirinya, atau Iwaizumi memang terlihat sedikit... ragu? Oikawa bahkan bisa mendeteksi nada penuh kehati-hatian dalam suara pria itu. “Jadi... kita... mau masuk ke dalem, kan?”

“Eh? Oh? O-oh, iya...” Oikawa tersadar dan buru-buru mengeluarkan kunci gym yang sudah dipinjamnya dari Ushijima tadi pagi. Tangannya sedikit gemetar saat berusaha membuka pintu gym. Ia bisa merasakan Iwaizumi memandang sisi wajahnya lekat meskipun tidak berkata apa pun.

Saat pintu gym sudah berhasil terbuka, dengan bantuan cahaya yang masuk dari luar, Oikawa meraba dinding untuk menyalakan sakelar lampunya.

Setelah gym itu dipenuhi cahaya yang terang benderang, Oikawa bisa merasakan kegugupannya bertambah dua kali lipat. Ia menoleh ke belakang, dan tanpa melihat ke arah Iwaizumi, menarik tangan pria itu pelan sampai masuk ke dalam.

Hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar di dalam gym tersebut. Oikawa terus berjalan dengan tangan Iwaizumi yang masih berada di dalam genggamannya. Ia terus menariknya sampai mereka berhenti di pinggir lapangan.

Oikawa melepaskan genggaman tangannya, lalu berbalik sampai menghadap pria itu. Iwaizumi masih belum mengatakan apa-apa. Pria itu hanya mengawasinya dengan tatapan yang sulit dibaca.

“Sesuai janji waktu itu, aku mau ngasih kamu hadiah,” ucap Oikawa, berusaha mencairkan ketegangan di antara mereka. Namun sebelum tangannya bergerak meraih kotak yang disimpannya di dalam tas, Iwaizumi menghentikannya.

“Sebelum itu, boleh aku yang ngasih kamu kado duluan?”

Tanpa menunggu jawaban dari Oikawa, Iwaizumi lantas menyerahkan kotak kecil yang sudah dipegangnya sejak awal.

“Selamat ulang tahun.”

Mau tidak mau, senyumnya merekah juga saat kotak bersampul abu-abu itu sudah berada di dalam genggamannya. Oikawa menggoyangkannya sedikit, namun tidak ada bunyi yang terdengar.

“Buka aja,” Iwaizumi berkata tiba-tiba.

“Eh? Boleh? Buka di sini?”

Yang ditanya hanya mengangguk. “It's your gift.”

Dengan jantung yang sedikit berdebar, Oikawa membuka sampulnya sampai kotak aslinya terlihat. Tangannya langsung berhenti saat melihat tulisan yang ada di atas kotak tersebut. Nama brand yang tertera sungguh tidak asing.

“Kenapa?” tanya Iwaizumi saat dilihatnya Oikawa hanya diam. Namun Oikawa buru-buru menggeleng, dan dengan jantung yang semakin berdebar, membuka tutup kotak tersebut.

Matanya seakan tak bisa lepas dari benda yang ada di dalam kotak. Ia bahkan baru tersadar dirinya tercengang cukup lama sampai ada tangan Iwaizumi yang masuk ke peripheral-nya.

“Aku liat ini... dan langsung keingetan sama kamu,” ujar pria itu pelan selagi mengambil kalung berwarna silver yang ada di dalam kotak dengan hati-hati. “Terutama... ininya. Bener-bener ngingetin aku sama kamu.”

Ini yang dimaksud Iwaizumi adalah bandul kecil berwarna senada berbentuk bola voli.

Oikawa hanya mampu menelan salivanya saat Iwaizumi maju dan dengan tatapan matanya meminta izin. Seperti orang bodoh, Oikawa tak bisa melakukan apa pun selain mengangguk singkat. Namun itu diartikan cukup bagi Iwaizumi sehingga tanpa ragu pria itu maju lebih dekat sampai jarak di antara wajah mereka tinggal beberapa inci. Oikawa menahan napas saat Iwaizumi memiringkan kepalanya sedikit dan melingkarkan kedua tangan di sekitar lehernya tanpa benar-benar menyentuhnya untuk memasangkan kalung tersebut.

Padahal hanya sebentar, tapi bagi Oikawa, rasanya seperti seabad.

“It looks good on you,” Iwaizumi mengatakannya setelah kalung itu terpasang sempurna. Pria itu tidak langsung menarik dirinya, melainkan berlama-lama menyentuh bandul kecil yang menggantung sampai Oikawa yakin dirinya bisa jatuh sebentar lagi kalau mereka terus-terusan berada dalam jarak sedekat ini.

Barulah Oikawa bisa menghela napas lega saat Iwaizumi mulai memberi jarak di antara mereka.

“Se-sekarang aku.” Oikawa menyumpahi dirinya sendiri karena terdengar sangat gugup. Ia melepaskan tasnya, lalu meletakkannya di atas kursi penonton. Tangannya langsung meraih ke dalam isi tas untuk mengeluarkan hadiah yang sudah disiapkannya.

Dengan wajah bersemu merah, Oikawa langsung menyerahkan hadiah yang sudah disiapkannya ke arah Iwaizumi yang menerimanya dengan raut wajah penasaran.

“Se-selamat ulang tahun! Maaf telat ngucapinnya...”

Namun Iwaizumi sepertinya tidak mendengar ucapan Oikawa karena pria itu terus memandang hadiah yang baru saja diterimanya.

“Ini... boleh aku buka sekarang?” Ada nada penuh harap terdengar di balik suara pria itu.

Tentu saja Oikawa tidak mungkin melarang.

“O-oh, boleh... buka aja!” Berkebalikan dengan jawabannya, Oikawa justru semakin gugup saat melihat Iwaizumi membuka hadiah darinya. Ia mana mungkin menyangka bahwa hadiah yang diberikannya ternyata—

“Eh? Ini bukannya...” Iwaizumi terlihat terkejut saat membaca tulisan yang ada di kotak tersebut. Pasalnya, merek yang tertera sama persis dengan apa yang barusan diberikannya pada Oikawa.

Oikawa sendiri hanya mengawasi saat Iwaizumi akhirnya membuka penutup kotak tersebut.

“Kayaknya... kita nggak sengaja beli di tempat yang sama,” ujar Oikawa saat dilihatnya Iwaizumi diam saja. “Dan kata yang jual... itu bisa dibeli sepasang... sama kalung ini,” tambahnya lagi dengan pelan. Tangannya secara otomatis menyentuh kalung yang melingkar di lehernya.

Saat Iwaizumi masih belum mengatakan apa pun, Oikawa maju dan meraih gelang itu dari dalam kotak. Mata Iwaizumi bergerak mengikutinya, namun bibirnya masih terkatup rapat.

“Dan ini... ngingetin aku juga sama kamu.”

Oikawa menyentuh sekilas ukiran bola voli yang menghias bagian tengah gelang silver tersebut sebelum meraih tangan Iwaizumi dan memasangkannya.

“Cocok juga di kamu,” puji Oikawa setelah gelang itu terpasang pada tempatnya. Diam-diam ia mengagumi bagaimana gelang itu terlihat berkilau di bawah cahaya lampu gym yang amat terang. Namun yang membuat Oikawa semakin terlena adalah kulit kecoklatan Iwaizumi yang mengenakannya — seakan menambah kecantikan gelang itu.

Tanpa melepaskan tatapannya dari gelang yang melingkar di tangan Iwaizumi, Oikawa bertanya pelan, “apa boleh... aku minta satu hadiah lagi?”

Oikawa memang tidak bisa melihat wajah Iwaizumi, namun ia tetap mendengar jawaban cepat pria itu.

“Apa aja kalau aku bisa ngasih—”

“Can you kiss me?”

Oikawa pikir, ia bisa mengatakannya dengan lebih lancar apabila tidak melihat wajah pria yang ada di hadapannya.

“Kamu dulu pernah bilang... nggak akan cium aku lagi kecuali aku yang minta sendiri. Dan aku tau ini aneh karena tiba-tiba banget minta kayak gini. Apalagi pas lagi nggak ada siapa pun sekarang. A-aku bakal maklum kalau kamu nggak mau. Tapi habis ini aku nggak akan lagi—”

Oikawa bahkan belum menyelesaikan racauannya ketika ada tangan yang merengkuh sisi wajahnya dan menariknya tiba-tiba. Oikawa hampir saja kehilangan keseimbangan tubuhnya kalau Iwaizumi tidak segera menahan pinggangnya dengan tangannya yang satu lagi.

Oikawa hanya memiliki waktu satu detik untuk menatap mata dengan warna obsidian gelap itu sebelum miliknya sendiri menutup secara otomatis berbarengan dengan bibir Iwaizumi yang menyentuhnya.

Rasanya sungguh berbeda dengan dua ciuman mereka sebelumnya. Kalau yang pertama tidak lebih dari sekadar gerak motorik refleks, dan yang kedua merupakan bagian dari akting mereka, maka yang ini terasa lebih nyata dari apa pun.

Tidak ada kehati-hatian apalagi keraguan dalam ciuman mereka. Iwaizumi menariknya semakin dekat sampai tak ada lagi jarak yang tersisa di antara mereka. Tangannya yang sebelumnya memegang erat pinggang Oikawa, berpindah ke atas dan ikut merengkuh wajahnya dengan kedua tangan.

Oikawa tidak bisa kabur maupun memiliki keinginan untuk melepaskan diri.

Pagutan bibir mereka terhadap satu sama lain semakin cepat. Iwaizumi menciumnya seperti kelaparan. Napasnya tercekat saat bibir bawahnya digigit pelan dan Iwaizumi menganggapnya sebagai izin untuk menelusuri lebih dalam.

Oikawa berpegangan erat pada lengan pria itu agar tidak terjatuh menghadapi intensitas ciuman mereka. Napasnya semakin terengah seiring dengan lidah Iwaizumi yang terus bergerak seakan mempunya misi untuk mengambil seluruh pasokan oksigennya.

Oikawa tidak tahu berapa lama mereka berciuman. Yang ada di kepalanya hanya rasa dan aroma pria itu yang terasa menginvasi seluruh indranya. Dan saat dirinya benar-benar membutuhkan udara untuk bernapas, Iwaizumi melepaskan ciumannya.

Hanya ada suara tarikan napas pendek-pendek yang memenuhi gymnasium tersebut. Oikawa tetap memejamkan matanya. Wajahnya masih direngkuh dengan erat oleh Iwaizumi. Rahangnya bahkan ikut diusap lembut oleh pria itu. Oikawa memejamkan matanya semakin erat dan memantrai dirinya sendiri agar menikmati proksimitas itu untuk terakhir kalinya.

“Maaf...”

Suara Iwaizumi lah yang memecah kesenyapan di antara mereka pertama kali. Oikawa membuka matanya dan mendapati manik gelap pria itu tengah memakunya intens.

Maaf buat apa? Oikawa ingin bertanya, namun tak ada suara yang keluar.

“Maaf... soal yang waktu itu. Soal Haiba. Aku... aku minta maaf...”

“Kenapa?”

Oikawa seolah kembali merasakan sakit hatinya saat menemukan wanita itu keluar dari apartemen Iwaizumi. Ia masih belum paham.

“Kenapa kamu nggak manggil aku?”

Saat Iwaizumi tak langsung menjawab, Oikawa melanjutkan, “apa karena aku bukan pacar beneran kamu? Karena hubungan kita cuma kontrak?”

Iwaizumi menggeleng dengan frantik. “Bukan! Tooru, bukan gitu. Aku cuma nggak mau bikin kamu khawatir. Aku nggak mau batalin janji, sedangkan aku masih harus nyelesein kerjaan, jadi aku... manggil Haiba buat nyelesein bareng di apartemenku. But then I got really sick, terus...” Iwaizumi menelan salivanya susah payah. “Maafin aku udah bikin kamu salah paham. Terus aku juga—”

“Aku nggak marah sama kamu dan harusnya aku sadar kamu nggak wajib jelasin itu ke aku. Aku... nggak berhak buat salah paham. Maaf, ya.”

“Tooru—”

“Iwaizumi,” Oikawa memotong pria itu. Ia harus segera mengatakannya. Sekarang, sebelum perasaannya jatuh semakin dalam. “Kamu inget safe word yang pernah aku buat?”

Iwaizumi mengangguk. Wajahnya mendadak terlihat bingung. “Voli.”

“Voli,” Oikawa ikut mengucapkannya dengan sebuah penekanan. “Kita bikin safe word itu karena kamu bilang, if I say the word, you'll stop at whatever we're doing.”

Tangan Oikawa bergerak menyentuh tangan Iwaizumi yang masih berada di sisi wajahnya. Ia menggenggamnya lembut dan menurunkannya.

“Dan aku tadi bilang itu karena mau kita berhenti. At this. At whatever we're doing right now.”

“Tooru, aku nggak—”

“Aku yakin kamu nggak butuh bantuanku lagi. Aku yakin nggak perlu sampai 6 bulan pun Ayah kamu nggak akan maksa kamu lagi. You're doing great at your works and you just have to be in a good terms with Alisa and—”

“Aku suka sama kamu.”

Hening.

“Tooru, waktu aku bilang ada orang yang aku suka, itu maksudnya kamu,” Iwaizumi berkata dengan putus asa. Kalau ia harus memohon, maka ia akan memohon. Kalau Oikawa memintanya untuk tak lagi bertemu Alisa Haiba, ia akan melakukannya.

Ia akan melakukan apa saja.

Oikawa terlihat kehilangan kata-kata. Ada getaran di balik maniknya yang tak tak bisa Iwaizumi pahami. Oikawa menggigit bibirnya dan tak ada yang Iwaizumi inginkan selain mencium bibir itu kembali sebagai bentuk curahan perasaannya. Rasa sukanya. Sayangnya. Dan keinginannya agar Oikawa tidak pergi dari sisinya.

Untuk sedetik, Iwaizumi yakin Oikawa pasti akan mengatakan hal yang sama — bahwa mereka memiliki perasaan yang sama. Namun di detik selanjutnya, tangannya dilepas dan ada determinasi baru dalam mata pria itu.

Iwaizumi panik. Tangannya terjulur — ingin meraih pria itu, namun Oikawa mundur selangkah dan segera mengambil tasnya.

“Makasih banyak buat hadiahnya. Mulai bulan depan, kamu nggak perlu ngirim aku uang lagi. Aku bakal balik ke kerjaan part time yang dulu. Terserah kamu mau pake alasan apa soal kita. Aku bakal... ngikutin alasan kamu.”

Tanpa melirik ke arah Iwaizumi, Oikawa cepat-cepat melangkah. Ia ingin segera keluar dari sana. Ia takut jika sedikit lebih lama lagi berdiri di hadapan pria itu, keteguhannya akan hancur begitu saja.

“Tooru-”

Oikawa berhenti. Tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya. Ia memejamkan matanya sangat erat, kemudian berkata—

“dan please, jangan panggil aku Tooru lagi.”

Oikawa melanjutkan langkahnya. Lebih cepat dari sebelumnya, dan terus bertambah sampai air mata yang ada di ujung matanya terhapus dengan sendirinya berkat tiupan angin.

Oikawa semakin cepat berlari saat menyadari tak ada langkah kaki yang mengikutinya dari belakang.


@fakeloveros

Oikawa terus menghubungi Iwaizumi sepanjang perjalanan, namun tetap saja yang didengarnya pesan suara. Kekhawatirannya tidak semakin berkurang bahkan meski bangunan apartemen Iwaizumi sudah terlihat. Oikawa cepat-cepat turun dari taksi dan masuk ke dalam gedung yang sudah tak asing lagi itu.

Untungnya resepsionis membiarkannya masuk seperti biasa karena sudah cukup hapal dengan wajahnya yang sering terlihat bersama Iwaizumi. Dengan tidak sabar, Oikawa memencet tombol lift yang akan membawanya ke lantai tempat apartemen Iwaizumi berada.

Bahkan ketika sudah berada di dalan lift pun Oikawa mengetuk-ngetukkan kakinya dengan tidak sabar. Selain khawatir, Oikawa juga penasaran ke mana perginya Iwaizumi? Tidak biasanya pria itu tiba-tiba menghilang seperti ini tanpa memberi kabar sama sekali. Rasanya ia baru bisa bernapas lega setelah melihat Iwaizumi baik-baik saja dengan mata kepalanya sendiri.

Semoga dia nggak kenapa-napa… Oikawa berdoa dalam hati begitu sampai di lantai yang ditujunya dan berjalan cepat menuju pintu apartemen yang sudah dihapalnya.

Oikawa menarik napas panjang dan bersiap memencet bel ketika pintu apartemen itu tiba-tiba terbuka.

“Oh, Ha-”

“Oh?”

Nama Hajime tersangkut di tenggorokannya dan tidak berhasil keluar begitu Oikawa berhadapan dengan orang yang membuka pintu tersebut.

Atau lebih tepatnya, wanita yang membuka pintu tersebut.

“Oikawa?” wanita itu mengucap namanya dengan terkejut. Tapi bukankah seharusnya Oikawa yang lebih terkejut di sini?

Karena sedang apa Alisa Haiba berada di apartemen Iwaizumi?

“Kamu… ngapain ada di…” Oikawa menelan salivanya dan mencoba mengintip ke dalam apartemen. Ia tidak melihat Iwaizumi. “Hajime ada di dalem?”

Meskipun Oikawa mencoba membuat nadanya terdengar biasa saja, namun keberadaan wanita itu tak ayal membuatnya berpikir macam-macam. Tentang Iwaizumi dan Alisa Haiba. Tentang hubungan apa yang terjalin di antara mereka sekarang sampai wanita itu kini bisa berdiri tepat di hadapannya. Alisa pun tak lagi terlihat terkejut. Wanita itu seolah memasang kembali topengnya sembari bersedekap.

“Kamu beneran pacarnya bukan, sih?” tanya Alisa dengan pandangan meremehkan. “Hajime lagi sakit, tapi kamu nggak tau?”

“Apa?” Hajime sakit? “Dia… nggak ngabarin apa pun ke aku…” Oikawa berucap lemah. Jadi karena itu Iwaizumi tidak membalas pesan atau mengangkat teleponnya?

Namun fakta tersebut masih belum menjawab pertanyaan kenapa Alisa bisa berada di sini.

Seolah bisa membaca kebingungannya, Alisa menjawab lebih dulu.

“Hajime yang manggil aku ke sini.”

Oikawa tidak tahu bahwa satu kalimat simpel seperti itu bisa membuat pikirannya langsung kosong. Ia berusaha memproses kalimat itu baik-baik meskipun otaknya tak bisa diajak bekerja sama dan hatinya mengatakan hal yang sama berulang kali seperti kaset rusak.

Alisa pasti berbohong.

Wanita di hadapannya tersenyum angkuh seakan bisa membaca pikiran Oikawa. Lagi.

“Aku nggak bohong. Kalau nggak percaya, tanya aja sama Hajime langsung nanti. Dia ada di dalem, kok, tapi sekarang lagi tidur habis minum obat. Aku mau balik dulu ke kantor, jadi kalau kamu mau masuk ya… silakan,” ucap wanita itu panjang lebar selagi menyingkir dari pintu. Seandainya Oikawa hanya orang asing, dia pasti akan mengira Alisa adalah kekasih Iwaizumi — terdengar dari cara bicara wanita itu yang seakan sudah sering datang ke apartemen tersebut.

Alisa melemparkan senyum kecil penuh kemenangan ke arahnya sekali lagi sebelum pergi meninggalkan dirinya yang masih berdiri terpaku di depan pintu yang terbuka.

Haruskah dia masuk?

Tapi Oikawa sudah terlanjur datang. Lagi pula, kekhawatirannya belum sirna, apalagi setelah mendengar tadi bahwa Iwaizumi ternyata sedang sakit. Jadi Oikawa memberanikan diri untuk masuk meskipun hatinya masih bergemuruh tak nyaman akibat pertemuan tak disengajanya dengan Alisa.

Seperti yang diduganya, suasana di dalam apartemen sangat hening. Oikawa melewati dapur dan mencium samar aroma bubur.

Mungkin Alisa juga yang buatin, pikirnya pahit. Namun Oikawa berusaha tak memedulikan hal tersebut dan melangkah menuju kamar Iwaizumi yang selama ini tak pernah dimasukinya. Ia hanya pernah melihatnya dari luar secara sekilas.

Oikawa mengetuk pintu kamar itu pelan, meskipun tahu takkan ada jawaban dari dalam. Ia pun membukanya perlahan dan matanya langsung tertuju ke arah kasur di mana Iwaizumi terlihat tengah tertidur pulas.

Oikawa melangkah tanpa suara. Matanya mengamati pria itu baik-baik. Meskipun tak begitu kentara, namun ia bisa melihat peluh yang mengalir di pelipis pria itu dan bagaimana alisnya sedikit menyatu seolah Iwaizumi jatuh ke dalam mimpi buruk. Ada baskom kecil yang terletak di atas nakas, juga lap yang sepertinya habis digunakan.

Selama beberapa menit yang terasa panjang, Oikawa hanya berdiri di sana dan menatap Iwaizumi dalam diam. Baru kali ini dia melihat sosok Iwaizumi yang tidak berdaya. Dan baru kali ini juga hatinya dibuat sakit oleh alasan yang tak masuk akal.

Karena tidak berani membangunkan Iwaizumi, Oikawa berlutut di sebelah kasur dan tangannya mulai bergerak sendiri mengambil lap yang tersampir di atas baskom. Setelah membasahinya dengan air, dengan hati-hati Oikawa meletakannya di atas kening pria itu. Sesaat, Oikawa bisa merasakan betapa tingginya suhu badan Iwaizumi.

Dan ia merasa bersalah.

Ia merasa bersalah karena tahu Iwaizumi pasti sudah memforsir dirinya sendiri dalam pekerjaan hanya demi menemaninya datang ke pertandingan voli. Pria itu sudah mengejar pekerjaannya sejak minggu lalu, namun masih saja berusaha menyempatkan waktu untuk Oikawa.

Iwaizumi sudah melakukan banyak hal untuknya, padahal Oikawa merasa tidak berhak sama sekali untuk menerimanya.

Kenapa? Oikawa bertanya dalam hati. Tangannya kini bergerak menyentuh jarak di antara alis pria itu dan mengusapnya lembut sampai kerutannya hilang. Iwaizumi bergerak sedikit, namun Oikawa tetap berada di tempatnya. Ia hanya menatap pria itu lekat.

Mungkin — mungkin — sejak dulu ia bisa melihat tanda-tandanya. Orang-orang di sekitarnya pun sering mengatakannya. Namun Oikawa tutup mata karena ia tidak berani menyimpulkan, apalagi berharap. Ini bukan perihal yang mudah karena meskipun perasaannya sendiri sudah ikut berubah, masih ada batasan di antara mereka yang harus tetap dijaga. Oikawa takut bahwa jika batasan itu akhirnya dilewati, justru akan muncul masalah baru yang lebih pelik.

Dan mau bagaimanapun dirinya menampik, ia tidak ingin membuat Iwaizumi berada di posisi yang sulit.

Dan bagaimana jika ternyata kesimpulannya salah? Bagaimana jika selama ini Iwaizumi hanya benar-benar pandai berakting dan terlalu menjiwai perannya? Bagaimana kalau ternyata orang lain lah yang akan tetap menang?

Pikirannya kembali pada wanita yang barusan ditemuinya di depan pintu, ditambah kenyataan bahwa Iwaizumi menghubungi Alisa terlebih dulu dibandingkan dirinya.

Itu berarti, Iwaizumi tidak membutuhkannya, bukan? Mungkin pria itu selalu bersikap baik padanya karena mereka sekarang berteman baik. Lagi pula, Iwaizumi pernah bilang dia memiliki orang yang disukainya.

Pasti itu batasan yang diinginkan Iwaizumi, bukan?

Oikawa menghela napas, lalu perlahan bangkit dari posisinya. Kepalanya mendadak ikut pusing setelah memikirkan hal-hal yang lebih rumit dibandingkan ujian di kampusnya sendiri.

Inilah salah satu alasan kenapa dia tak mau lagi terlibat dalam hubungan serius. Lebih baik dia menenggelamkan diri dalam pekerjaan karena setidaknya itu lebih mudah dilakukan dibandingkan mengurusi soal hati. Dan dari sekian banyak patah hati yang dilewatinya, mungkin ini akan menjadi yang terberat.

“Emang bego lo, Oikawa…”

Oikawa berguman pelan pada dirinya sendiri. Mungkin julukan stupidkawa yang dulu pernah dicetuskan Matsukawa padanya memang benar. Ia merasa bodoh, dan terlalu besar kepala.

Oikawa menatap sosok pulas Iwaizumi sekali lagi — merasa sedih karena tidak bisa merawat pria itu sebagaimana janjinya dulu. Tapi itu mungkin hal yang bagus juga agar dirinya tidak perlu jatuh terlalu dalam lagi.

Setelah memastikan semua masih berada di tempatnya, Oikawa meninggalkan apartemen Iwaizumi. Sebelum benar-benar pergi, Oikawa mengirim pesan singkat pada Ushijima yang isinya berupa permintaan maaf bahwa dirinya mendadak tidak bisa datang ke pertandingan. Ia juga mengirim pesan untuk Iwaizumi yang mungkin akan dibaca pria itu nanti.

Dan terakhir, ia mengirim pesan singkat ke adik kelasnya.

Hei, Tobio, malam ini aku boleh nginep di tempat kamu?


Maaf ya, baru update sekarang huhu kerjaanku dari kemaren lagi banyak banget euy (curhat).

@fakeloveros

“Mau ngomongin apa?”

Oikawa tidak perlu berbasa-basi begitu ia membuka pintu mobil yang di kursi pengemudinya sudah ada seorang pria. Hampir tiga bulan menjalani hubungan pura-pura dengan pria itu membuatnya tahu bahwa Iwaizumi bukan orang yang suka berbasa-basi.

“Kita omongin di apartemenku aja, ya?”

Oikawa mengangkat sebelah alisnya. Sepertinya, Iwaizumi lah yang hari ini sengaja berbasa-basi.

“Emang kenapa kalau diomongin sekarang?” Oikawa mencoba lagi.

“Hmm…” Iwaizumi bergumam panjang selagi mulai menyetir di jalanan yang cukup padat akibat jam pulang kantor. “Lebih enak aja kalau kita ngomonginnya baik-baik, sambil duduk, dan face to face.”

“Apa bedanya coba…” Oikawa mendengus, lalu mengalihkan tatapannya ke luar jendela. “Kalau kita pacaran beneran, pasti aku udah ngira kamu mau ngajak putus.”

Hening. Tidak ada balasan dari pria di sebelahnya.

Oikawa menoleh dengan canggung. “Err… atau jangan-jangan kamu beneran mau…” mutusin kontrak kita sekarang?

“Nggak, Tooru,” jawab Iwaizumi segera dengan halus dan singkat.

Oikawa menunggu karena sepertinya masih ada yang ingin pria itu katakan, namun setelah beberapa saat, ternyata hanya sampai di situ saja kalimat yang diucapkannya.

Jadi ia hanya menghela napas, lalu kembali menatap pemandangan di luar jendela.


“Kamu mau aku bikinin teh?”

Bukannya langsung duduk dan membicarakan apa yang seharusnya dibicarakan, Iwaizumi seolah semakin menundanya dengan menawarinya minum teh. Bukannya Oikawa akan menolak, toh, setiap main ke apartemen pria itu pun dirinya memang selalu ditawari minum teh.

Tak lama setelah Oikawa mengangguk, aroma chamomile yang sudah tak asing lagi tercium memenuhi ruangan. Sejak dulu kedatangannya pertama kali ke apartemen Iwaizumi, lalu berlanjut hingga sekarang, Oikawa jadi mengetahui bahwa pria itu memang tidak memiliki teh rasa lain selain chamomile.

Selama hampir tiga bulan ini bisa dibilang Oikawa menghabiskan waktu paling banyak dengan Iwaizumi. Hal itu membuatnya jadi mengetahui lebih banyak soal Iwaizumi, juga menimbulkan pertanyaan dalam diri Oikawa, apakah Iwaizumi mengetahui tentang dirinya sebanyak ia mengetahui soal pria itu?

Meskipun kini hubungan mereka sudah lebih dekat, tentu ia tidak mungkin menanyakannya.

Oikawa menyesap tehnya perlahan. Meskipun begitu, matanya mengawasi gerak-gerik Iwaizumi yang — tidak biasanya — terlihat sedikit gelisah. Setahunya, Iwaizumi tidak pernah merasa gelisah, apalagi panik. Setidaknya, bukan di hadapannya.

“Hajime?” Oikawa memanggilnya sampai pria itu berhenti mondar-mandir. Biasanya dia memang masih memanggil Iwaizumi dengan marga keluarga pria itu apabila hanya berdua. Oikawa hanya memanggil Hajime jika sedang kelepasan atau berusaha menarik perhatian pria itu. Berbeda dengan Iwaizumi sendiri yang sekarang cukup sering memanggilnya Tooru meskipun tidak sedang berada di tempat umum. Tapi Oikawa pun tidak keberatan sama sekali dan membiarkan nama kecilnya mengalir lancar dari mulut pria itu.

“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya setelah pria itu akhirnya diam dan duduk di sofa tepat di hadapannya. Iwaizumi tidak langsung menjawab dan hanya menghela napas berat.

“Kamu tau, kan, kerjaanku di kantor Ayahku udah selesai dua minggu yang lalu?” Iwaizumi akhirnya mulai angkat suara. Oikawa cepat-cepat meletakkan cangkirnya di atas meja untuk mendengarkan lebih serius. “Tapi barusan Ayahku nelpon dan katanya… beliau mau mulai ngadain proyek baru dengan bantuanku.”

“Oh.” Hanya itu respons yang mampu dikeluarkan Oikawa. Ia berpikir sebentar sebelum bertanya, “berarti kamu bakal sibuk lagi kayak waktu itu?”

Iwaizumi mengangguk letih. “Itu dan… partner kerjanya ternyata salah satu rekan bisnis Ayahku.”

“Oke…?” Oikawa memiringkan kepalanya ke satu sisi karena tidak mengerti dengan konteks pernyataan tersebut. “Terus kena—”

“Alisa Haiba. Dia yang bakal jadi partner kerjaku nanti sebagai wakil ayahnya.”

Ada jeda yang cukup lama dan terdengar begitu nyaring di tengah ruangan tersebut.

“Te-terus… apa kamu tolak?” Oikawa bertanya, meskipun ia sendiri sudah tahu jawabannya.

“Kamu tau aku nggak mungkin nolak,” jawab Iwaizumi sambil tersenyum pahit. “Dan estimasinya proyek ini bakal berjalan selama tiga bulan.”

Tiga bulan…

Kontrak kita juga bakalan selesai tiga bulan lagi, Oikawa berpikir seraya menelan salivanya susah payah. Mendadak, aroma chamomile dan apartemen Iwaizumi yang biasanya menenangkan, kini justru membuatnya sesak. Oikawa tidak tahu apa lagi yang harus ia katakan.

Sebagi gantinya, ia malah menanyakan suatu pertanyaan.

“Kenapa kamu ngasih tau soal ini ke aku?”

Iwaizumi mengangkat kepalanya dan Oikawa bisa melihat pria itu menatapnya tidak percaya.

“Kamu mau aku nggak bilang apa pun soal ini? Soal aku bakal ada proyek baru? Terlebih lagi sama Haiba?” Iwaizumi bertanya dengan bingung.

“Bukan gitu,” Oikawa buru-buru menyanggah sebelum pertanyaannya menimbulkan kesalahpahaman. “Yang soal proyek ini aku paham. Tapi kalau soal Alisa Haiba…” Oikawa berhenti dan memainkan jari-jarinya dengan gugup. Ia sendiri bingung bagaimana harus menyuarakan maksudnya.

“Maksud kamu…” Iwaizumi memotong dengan suara sedikit tercekat. “Kamu nggak peduli aku bakal kerja bareng dia?”

Tentu saja ia peduli. Tapi Oikawa tidak mungkin mengatakan hal itu keras-keras, bukan?

“Aku… bukannya nggak peduli, tapi hal kayak gini udah di luar kuasa aku yang bukan siapa-siapa ini selain temen dan pacar bohongan kamu. If you're afraid that this will ruin our relationship, I promise you, it won't.” Karena sejak awal pun kita nggak punya hubungan apa-apa.

Iwaizumi menatapnya selama sepersekian detik yang terasa begitu panjang sebelum pria itu menutup wajahnya dengan kedua tangan dan tertawa.

Pria itu tertawa, sedangkan Oikawa tidak tahu di mana letak kelucuan dari situasi mereka sekarang.

“Harusnya aku udah duga soal ini…” Iwaizumi berucap pelan, yang lebih terdengar seperti untuk dirinya sendiri dibandingkan meminta balasan dari Oikawa. Pria itu menghela napas, lalu membuka kedua tangannya sampai wajahnya terlihat kembali.

Oikawa sudah cukup sering menghabiskan waktunya dengan Iwaizumi untuk mengetahui bahwa senyum yang terulas di wajah pria itu sekarang adalah senyum sedih.

“Apa… jawabanku salah barusan?” Oikawa bertanya sedikit ragu. Reaksi Iwaizumi barusan sungguh di luar dugaannya dan ia tidak paham alasannya.

“Nggak, kok. Aku yang salah karena udah besar-besarin soal ini. Maaf ya,” ucap pria itu masih dengan senyuman yang sama.

Oikawa tidak tahu harus menjawab apa dan kenapa pria itu malah meminta maaf. Namun sebelum dirinya bertanya lebih lanjut, Iwaizumi sudah kembali bersuara.

“You know what I hate the most from this fake relationship?”

Oikawa mengerjapkan matanya dengan bingung begitu mendengar pertanyaan tiba-tiba tersebut. Dia satu sisi ia takut untuk mendengarnya, namun dia sisi lain ia juga penasaran.

“Apa…?”

“The fact that we're doing it. If only I was braver at that time, I wouldn't drag you into this mess,” Iwaizumi menjawab tanpa mengalihkan tatapannya yang terasa seperti memaku Oikawa di tempat.

Dan Oikawa lagi-lagi dibuat terdiam. I berusaha memproses jawaban itu, namun tidak ada kesimpulan sama sekali yang terbentuk di otaknya. Jadi Iwaizumi mau mereka segera berhenti? Atau bagaimana?

“But the fact that I can't seem stop doing this. From dragging you into my life, is what I despise the most, Tooru.”

Iwaizumi, yang sekarang justru terlihat menyesal, lantas berdiri dan berjalan menuju dapur — meninggalkan Oikawa sendirian di ruang tamu dengan pikiran yang berkecamuk.


@fakeloveros


Trigger Warnings: dry humping, penetrative sex, male orgasm, kinda vanilla-ish

Read at your own risk!


Miya Atsumu biasanya pandai mengontrol diri.

Ia bukan pribadi yang meledak-ledak dan suka menumpahkan amarahnya tanpa alasan yang konkret. Ia juga bukan seseorang yang mudah termakan bujuk rayu — baik itu dalam bisnis maupun hal lainnya.

Sayangnya, lainnya ini ternyata masih memiliki pengecualian.

Pengecualian dalam sosok bernama Kita Shinsuke dan keahliannya dalam meruntuhkan pertahanan Atsumu yang — kalau kata orang — sekuat baja.

Mereka belum saja bertemu Shinsuke.

Atsumu berpikir begitu di tengah-tengah usahanya dalam meredam hasratnya sendiri yang sudah kepalang berada di ujung tanduk karena ulah suaminya.

Ada hembusan napas hangat yang menyapu lehernya diikuti suara tawa rendah milik pria yang tengah menjamah lehernya semenjak beberapa menit yang lalu.

“Kenapa tutup mata?” tanya Shinsuke dalam bisikan yang langsung membangkitkan birahinya. Bukan berarti dari tadi birahinya belum naik. Shinsuke sendiri sudah melancarkan aksinya semenjak pria itu naik ke pangkuannya dan sesekali menggesek-gesekkan bagian tubuh bawah mereka sampai Atsumu mengerang kenikmatan.

“Kamu— ah, shit,” Atsumu mengumpat pelan saat Shinsuke menggoyang pinggulnya lagi, kali ini sengaja menekan bagian bawah tubuhnya dengan lebih keras.

Atsumu bahkan langsung lupa tadi ia ingin mengatakan apa.

Padahal niatan Shinsuke datang ke kantornya adalah ingin mengajak makan siang seperti biasa. Namun karena pekerjaan Atsumu yang menumpuk hari itu, ia mengusulkan untuk makan di dalam ruangannya. Lagi pula, Atsumu ada rapat penting setelah ini. Tetapi entah alasan makan siang itu benar adanya atau hanya alibi semata bagi yang lebih tua agar bisa melancarkan serangan tiba-tiba seperti ini.

Bukannya Atsumu mengeluh atau apa. Rasa laparnya bahkan langsung terlupakan begitu Shinsuke meninggalkan sejenak lehernya dan kembali naik untuk memagut bibirnya dalam ciuman yang melibatkan lidah mereka. Tanpa aba-aba. Dalam. Penuh intensitas. Dan sangat memabukkan.

Shinsuke memang selalu memabukkan bagi dirinya.

Kata Osamu, ia seperti sudah terikat di jari tangan Shinsuke dan rela melakukan apa pun untuk pria itu. Atsumu langsung menyanggahnya waktu itu hanya demi membuat saudara kembarnya diam.

Namun Shinsuke kini memiliki kontrol penuh atas dirinya, padahal ia sudah berkomitmen bahwa kantor merupakan tempat di mana ia harus menjaga profesionalitasnya — tidak peduli sedang berhadapan dengan teman atau anggota keluarga. Bantahannya pun terasa seperti omong kosong belaka sehingga Atsumu harus mengakui perkataan Osamu ada benarnya.

Shinsuke seperti kryptonite bagi dirinya.

Kelemahannya satu-satunya yang dapat mengalahkan segala kontrol dirinya, tak peduli sekuat apa pun Atsumu berusaha berpikir jernih. Segala topeng yang dipasangnya di hadapan orang-orang dengan jabatan yang sama tinggi, langsung luntur sehingga meninggalkan dirinya dalam kondisi tak berdaya di hadapan pria itu.

Tapi Shinsuke juga adalah oksigennya.

Kita Shinsuke mampu membuat dirinya bernapas lebih mudah di antara segala kepenatan dari lingkungan kerja yang senantiasa menuntutnya bersikap tanpa cela — Miya Atsumu yang sempurna. Shinsuke menguatkannya dan membuatnya berpikir bahwa, Tuhan, biarkan dia hidup selamanya asalkan ada Shinsuke yang selalu berada di sampingnya.

Shinsuke adalah segala dari yang bisa ia deskripsikan karena pria itu terlalu sempurna bagi dirinya untuk digambarkan melalui kata-kata.

“Atsumu?”

Shinsuke melepaskan ciuman mereka dan ganti berbisik menggoda di telinganya sebelum menjilat dan mengulumnya sampai Atsumu menggeram pelan.

“Apa?” Atsumu bertanya dengan suara tertahan sambil mencengkeram pinggang ramping suaminya yang belum juga berhenti bergerak. Sepertinya lama-lama ia bisa jadi gila sendiri.

“Fuck me.”

Ya. Shinsuke memang bermaksud membuat dirinya jadi gila.

“Aku ada rapat habis ini...”

Alasan itu terdengar lemah, bahkan di telinganya sendiri.

“Hmm...” Shinsuke kembali mencium bibirnya sambil menggoyang pinggulnya dengan lebih keras — bermaksud menggoda Atsumu sampai yang lebih muda itu tanpa sadar ikut menggerakkan bagian tubuh bawahnya untuk mengejar friksi.

“Sayang banget.”

Namun kata-kata Shinsuke berlawanan dengan aksinya karena pria itu malah menjulurkan tangannya ke bawah dan menyentuh bagian bawah tubuh Atsumu yang sudah menegang sejak awal. Shinsuke menyeringai penuh kemenangan saat Atsumu mendongakkan kepalanya sambil memejamkan matanya penuh kenikmatan.

“Shinsuke—“

“Kamu yakin bisa rapat dalam kondisi begini?”

Sungguh pertanyaan yang mematikan karena Atsumu tahu persis apa jawabannya.

“Kata kamu itu rapat penting. Jadi bukannya kamu harus… hmm, apa sebutannya? Tampil prima?” ucap Shinsuke serayal memijat lembut kemaluan suaminya yang semakin mengeras di bawah sentuhannya. Ia tahu, Atsumu tidak akan bisa mengatakan tidak setelah ini.

Dan memang benar. Atsumu mana mungkin mengatakan tidak pada godaan yang lebih menggiurkan dibandingkan segala jenis kenikmatan yang ada di dunia.

“Fuck.”

Dengan keluarnya umpatan itu dari mulut Atsumu, Shinsuke tahu dirinya berhasil membujuk suaminya. Kontrol yang tadi dipegangnya, kini sudah berbalik seratus delapan puluh derajat menjadi milik pria itu sepenuhnya. Namun dengan senang hati Shinsuke membalas ciuman Atsumu yang kini intensitasnya menjadi lebih familier. Pria itu selalu menciumnya dengan intensitas yang sama setiap kali mereka bercinta di atas ranjang. Dan Shinsuke tidak pernah bosan karena setiap sentuhan Atsumu selalu membangkitkan api yang orang-orang tidak ketahui ada di dalam dirinya.

Mereka bercumbu selama beberapa saat, sebelum Atsumu menyapukan bibirnya yang basah di sepanjang rahang dan leher Shinsuke. Tangannya pun sibuk membuka satu per satu kancing kemeja yang lebih tua. Shinsuke mendesah pelan dan mempercepat gerakannya di bawah sana sampai ia bisa merasakan sendiri celananya yang semakin basah dan sesak.

Atsumu tidak melepaskan kemeja Shinsuke sepenuhnya dan hanya membuka semua kancingnya agar tubuh mulus suaminya itu bisa ia sentuh sepuas hati. Tanpa ragu, Atsumu langsung menjilat dan mengulum kedua titik coklat yang sudah mengeras di bawah sentuhannya seperti orang yang kelaparan. Shinsuke tercekat dan memejamkan matanya rapat-rapat seraya meremas rambut Atsumu yang semakin berantakan di tangannya.

Kenikmatan yang bertubi itu membuat Shinsuke menarik wajah Atsumu kembali agar mereka bisa melanjutkan sesi ciuman yang sempat terhenti sementara tangan Atsumu sibuk menggerayangi tubuhnya sampai ke bagian bawah Shinsuke yang masih tertutupi oleh celana.

Shinsuke tidak sengaja menggigit bibir bawah Atsumu saat tangan pria itu langsung meremas kemaluannya dan membuatnya melenguhkan nama prianya keras-keras. Tubuhnya terasa semakin panas, padahal ruangan Atsumu memiliki pendingin udara yang pada hari-hari biasa selalu membuatnya menggigil kedinginan.

“Stop teasing,” ucap Shinsuke dengan sedikit merajuk sambil menggerak-gerakkan pinggulnya penuh frustrasi.

“Hurry up and fuck me,” lanjutnya lagi sebelum menggigit bibirnya untuk menahan erangannya.

Manik mata Atsumu berubah semakin gelap saat mendengar pria di atasnya mengatakan sesuatu yang benar-benar memutus ikatan kontrol dirinya yang terakhir. Padahal tadinya ia ingin menahan dirinya lebih lama, namun salahkan Shinsuke dengan wajahnya yang menggoda, tubuh halusnya yang menghantarkan panas dan desahannya yang membuat Atsumu semakin tidak tahan.

Atsumu mengangkat pinggang Shinsuke untuk memberi kode bahwa kini harus ada helaian kain selanjutnya yang dilepas. Shinsuke langsung berdiri dan melepas kemeja serta seluruh celananya dalam kecepatan yang patut diacungi jempol. Atsumu yang juga sudah menanggalkan seluruh pakaiannya, menunggu dengan sabar meskipun tangannya gatal ingin segera menarik pria itu kembali ke pangkuannya.

Atsumu meraihnya kembali dan Shinsuke langsung terduduk di pangkuan pria itu. Keduanya sama-sama mengerang saat bagian bawah tubuh mereka yang sudah menegang bersentuhan. Di titik ini, Shinsuke bahkan tidak keberatan seandainya Atsumu langsung memasuki dan memenuhi dirinya sampai ia merasa puas.

Atsumu seolah dapat membaca pikirannya karena pria itu langsung mengambil inisiatif untuk menggerakan tubuh mereka bersama-sama. Gesekan itu membuat precum yang dikeluarkan di antara mereka semakin banyak.

Shinsuke memeluk leher Atsumu begitu erat. Napasnya ikut tersengal selagi pria itu mencengkeram pinggangnya lebih kencang dan mempercepat gerakan mereka. Ada setitik air mata yang sudah berada di ujung matanya karena rasa nikmat dan frustrasi itu bergabung jadi satu. Rasanya ia bisa benar-benar menangis seandainya Atsumu tidak cepat-cepat memenuhi keinginannya.

“I don't— I don't have a lube,” ucap Atsumu dengan napas yang sama terengahnya. Matanya terlalu digelapkan oleh nafsu sampai melupakan fakta bahwa ia tidak menyimpan benda seperti itu di dalam ruangan kantornya.

Shinsuke tidak mampu menjawab karena tangan Atsumu sudah berpindah menuju bokongnya untuk diremas kuat-kuat. Atsumu menolehkan wajahnya agar ia bisa dapat mencium kembali bibir Shinsuke yang sudah memerah dan membengkak. Namun perhatiannya teralihkan sedikit saat Shinsuke menepuk bahunya lemah.

“Di… kantung celana aku… ada...”

Atsumu berhenti dan menatap suaminya selama sepersekian detik.

“Jadi ini rencana makan siang kita? Hmm...” Atsumu tersenyum dan mengecup pelipis Shinsuke ringan sementara dirinya berusaha menggapai celana Shinsuke yang tersampir di atas sofa. Saat menemukan botol kecil yang sudah familier tersebut, senyum Atsumu semakin melebar.

Jelas sekali kalau ini sudah direncakan.

“Cepetan...” Shinsuke hanya menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Atsumu — tidak berani memperlihatkan wajahnya yang sudah memerah akibat campuran panas tubuhnya yang semakin naik, juga rasa malu karena niatnya sedari awal langsung ketahuan.

Atsumu tidak mengatakan apa-apa lagi — meskipun masih ada senyum kecil yang bermain di wajahnya — dan langsung melumuri jarinya dengan cairan tersebut. Setelah dirasa cukup licin, ia meremas bokong Shinsuke sekali lagi, lalu langsung memasukkan dua jari yang langsung disambut oleh hangat pria itu.

Shinsuke memekik pelan dan meremas bahu Atsumu sampai meninggalkan bekas. Tidak lama, Shinsuke langsung melenguh panjang dan refleks menggerakkan pinggulnya mengikuti jari-jari Atsumu yang bergerak pelan di dalam dirinya.

“Tsumu...“

Atsumu suka setiap kali Shinsuke mendesahkan namanya. Itu akan selalu menjadi melodi terindah yang takkan pernah membuatnya bosan.

Atsumu melingkarkan salah satu lengannya di pinggang Shinsuke untuk menahan gerakan pria itu dan dengan jari-jarinya yang masih berada di dalam, ia berusaha mencari titik yang bisa membuat suaminya itu meneriakkan namanya lebih kencang. Tidak membutuhkan waktu lama sampai keinginannya terkabul karena ia sudah paham betul bagian mana saja yang bisa memberikan kenikmatan bertubi-tubi pada tubuh Shinsuke.

“Atsumu— ah—”

Tidak butuh persiapan yang lebih lama karena Shinsuke pun sebetulnya sudah siap sedari tadi. Hanya saja, Atsumu tetap tidak ingin menyakitinya karena hanya kenikmatan lah yang ingin ia berikan pada orang yang paling disayanginya itu.

Maka, ketika akhirnya Atsumu mengarahkan miliknya dan mereka bersatu dengan sempurna, namanya dilafalkan panjang dalam intonasi yang begitu disukai Atsumu setiap kali mereka bercinta. Tidak ada lagi yang menahan mereka kali ini. Semua kontrol telah dilepaskan dan nafsu naluriah lah yang memimpin gerakan-gerakan mereka untuk mengejar puncaknya masing-masing.

Pendingin udara benar-benar tidak ada efeknya bagi tubuh mereka yang semakin berkeringat dan menempel satu sama lain. Napas hangat mereka kian bersatu selagi Atsumu mempercepat gerakannya. Suara-suara penuh seks memenuhi ruangan tersebut dan Atsumu sudah tidak peduli lagi bahkan seandainya ada yang mendengar mereka dari luar.

Yang ia inginkan hanyalah mengejar kenikmatan itu bersama Shinsuke yang ada di rengkuhannya.

“Fa— faster...“

Peduli setan dengan kontrol diri. Ia seolah berubah menjadi boneka marionet dengan Shinsuke yang memegang kendali penuh atas dirinya.

Atsumu menuruti pria itu dan dengan alis yang bertaut penuh konsentrasi, mempercepat gerakannya sampai Shinsuke memekik kencang. Tidak ada yang mengetahui hal ini, namun dalam hubungan mereka, memang Shinsuke lah yang lebih vokal. Dan Atsumu selalu menemukan kepuasan tersendiri setiap kali dia bisa membuat pria yang terkenal pendiam itu ikut kehilangan kontrol dalam aktivitas panas mereka.

“A— Aku hampir...“

Atsumu meraih rahang Shinsuke dan mempertemukan bibir mereka dalam ciuman basah yang berantakan, sementara gerakannya semakin frantik dan tak terkontrol. Ia tidak perlu mengatakan bahwa dirinya juga sudah sangat dekat karena Shinsuke pun langsung paham dan ikut menggerakkan tubuhnya dengan ritme yang sama.

Tahu apa orang-orang yang mengenalnya hanya dari luar. Mereka hanya tahu sosok Miya Atsumu yang tenang dan selalu berhati-hati dalam setiap tindakannya. Tidak ada satu pun yang akan terlewat darinya jika itu sudah menyangkut masalah kedisiplinan maupun kontrol diri.

Ah, kata itu lagi.

Mereka benar-benar tidak tahu bahwa kontrol diri tidak ada di dalam kamusnya jika sudah menyangkut Kita Shinsuke.

Ia akan mengabulkan, sekalipun Shinsuke meminta bulan.

Kedua tungkai kaki Shinsuke bergetar hebat saat pelepasan itu diraihnya. Atsumu bisa merasakan bagian dalam tubuh Shinsuke yang hangat dan lembap itu menghisap dirinya dengan kuat sebelum ia memperdalam gerakannya selama sepersekian detik dan ikut terhempas ke atas kenikmatan yang sama.

Hanya suara napas mereka yang terengah-engah memenuhu ruangan tersebut. Atsumu menggerakkan tangannya dan mulai membuat pola abstrak di punggung Shinsuke yang sedikit berkeringat. Ia mencium bahu telanjang Shinsuke penuh sayang sementara yang lebih tua itu masih berusaha mengumpulkan oksigen di antara ceruk leher Atsumu.

Atsumu melirik ke arah jam dinding dan mendapati bahwa rapatnya akan dimulai lima belas menit lagi.

“Aku beneran ada rapat habis ini,” bisik Atsumu di telinga Shinsuke dengan lembut.

Suaminya hanya terkekeh pelan, lantas mengangkat wajahnya yang — walaupun bermandikan peluh — namun terlihat sangat tampan dan bahagia.

“Sayang banget,” balas Shinsuke — mengulangi kalimat yang diucapkannya di awal tadi.

“Jangan,” Atsumu memperingati pria itu diikuti gelengan singkat. Tangannya kini berpindah ke atas dan sedikit merapikan poni Shinsuke yang jatuh berantakan.

“Kan kamu CEO-nya. Kamu bisa ubah jadwalnya semau kamu, dong,” ucap Shinsuke sembari menyentuh dadanya dengan gerakan sehalus kapas.

Atsumu meraih tangan Shinsuke dan mengecup satu per satu ujung jarinya dengan lembut.

“And what should I say? That I want to fuck my husband?”

“Hmm, boleh juga.”

Atsumu menggelengkan kepalanya, namun senyum yang terbit di wajahnya penuh afeksi untuk suaminya itu.

“You're unbelievable.”

“But you love me.”

“I do,” Atsumu menjawab cepat. Ia bahkan tidak perlu berpikir untuk membalas kalimat yang satu itu. “I do love you.”

“Kalau gitu, rapatnya dicepetin aja hari ini biar kamu bisa pulang lebih awal.”

Shinsuke menggerakkan pinggulnya sekali dan berhasil membuat Atsumu tersentak karena ia hampir lupa kalau dirinya masih berada di dalam pria itu.

“Terus kita… bisa lanjutin ini.“

Maka kuasa apa yang dimiliki Atsumu untuk menolak permintaan tersebut?


@fakeloveros

Kalau harus menyebutkan hal-hal yang disukainya dari mengikuti TM Spring tim voli di kampusnya, maka Oikawa yakin bisa memenuhi empat lembar kertas folio penuh.

Oke, mungkin tidak sebanyak itu, tapi yang jelas, Oikawa tidak pernah menyesal mengikuti kegiatan tahunan di kampusnya ini karena selain diberikan dispensasi untuk tidak mengikuti kegiatan perkuliahan, ia juga diberikan akomodasi yang nyaman secara gratis, makanan yang berlimpah, juga pemandangan yang indah.

Yang terakhir, harus Oikawa akui baru ia dapatkan dari kegiatan tahun ini.

“Lalat bisa masuk tuh kalau lo mangapnya segede itu.”

Oikawa buru-buru mengatupkan mulutnya, lalu melempar pandangan jengkel pada Matsukawa yang tiba-tiba datang dan duduk di sebelahnya. Temannya bersiul panjang saat ikut memperhatikan pemandangan yang sedari tadi membuat Oikawa tidak beranjak dari tempat duduknya.

“Pacar lo olahraga apaan deh sampai lengannya bisa segede itu? Hampir nyaingin Ushijima malah,” ujar Matsukawa lagi, tanpa menyadari bahwa akibat ucapannya, Oikawa justru merasa semakin tersiksa.

Oikawa merasa tersiksa karena sejak practice match dimulai, Iwaizumi tampil dengan mengenakan kaus tanpa lengan. Oikawa tahu, meskipun ia lebih tinggi beberapa inci, namun Iwaizumi memiliki otot tubuh yang lebih besar darinya, bahu yang lebih lebar, dada yang lebih bidang dan — Oikawa harus menghentikan pikirannya sampai di sini.

Dan sekarang, Iwaizumi memamerkan otot lengannya itu ke seluruh mata yang hadir di sana. Padahal pemandangan seperti ini bukanlah hal yang aneh lagi. Ia bahkan sudah terbiasa melihat anggota tim voli bermain tanpa mengenakan kaus sama sekali, namun entah kenapa pemandangan Iwaizumi yang memperlihatkan kulit sebanyak itu malah membuatnya resah.

Terbukti dari omongan Matsukawa barusan, bukan hanya dirinya yang memperhatikan.

“By the way, anak acara bakal ngadain apa nanti malem?” tanya Matsukawa yang berhasil memecahkan konsentrasinya.

“Rahasia lah,” jawabnya singkat.

“Gue nggak mau, ya, main uji nyali lagi.”

Oikawa mencibir dengan pandangan mengejek. “Payah lo. Yamaguchi aja tahun kemaren berhasil bertahan tuh.

“Dia ditemenin Tsukishima, ya! Gue sendirian!” seru Matsukawa berapi-api.

Oikawa hanya mengibaskan tangannya tanpa mengalihkan tatapan dari dua tim yang tengah bertanding. Tatapannya, terutama, mengarah pada pria berambut spike yang sedari tadi berhasil mencetak skor dengan gemilang dibantu oleh operan dari Atsumu. Siapa sangka kedua orang itu memiliki kerja sama yang cukup bagus?

“Tenang aja, kali ini santai kok permainannya.”

Matsukawa memicingkan matanya curiga. “Siapa kali ini yang ngusulin?”

“Sugawara,” jawab Oikawa seraya menyeringai lebar. Sesuai dugaannya, Matsukawa langsung mengerang dan memegang kepalanya dengan dua tangan.

“Mampus. Makin-makin aja lah itu namanya.”

Oikawa hanya tertawa, mengerti betul dengan kekhawatiran temannya setelah mendengar bahwa Sugawara lah yang mengusulkan permainan utama mereka nanti malam. Pria itu, meskipun dari luar terlihat tenang dan pendiam, sesungguhnya lebih licik dan berbahya dari yang orang-orang kira. Mungkin itulah kenapa Sugawara justru cocok dengan Daichi sebagai satu-satunya yang bisa mengendalikannya. Entah dengan cara apa.

Tatapannya kembali mengarah ke lapangan. Dan untuk sedetik, ia yakin Iwaizumi tengah melihat ke arahnya juga tadi.


Seven minutes in heaven.

Itulah nama permainan yang diciptakan oleh Sugawara untuk mereka malam ini.

Jadi di belakang bangunan penginapan yang mereka tinggali, ada semacam gubuk-gubuk yang diberi sekat dan berisi peralatan berkebun dan bersawah milik warga sekitar. Jumlah gubuknya ada cukup banyak sehingga Sugawara memanfaatkannya untuk permainan mereka hari ini.

Idenya cukup simpel. Setengah dari yang berpartisipasi hanya harus mengambil kertas undian berisi nama pasangan secara acak. Nantinya kedua orang itu harus berada di dalam gubuk selama tujuh menit. Terserah mereka mau membicarakan atau melakukan apa pun.

“Misalnya gue dapet nama Daichi, kalau mau gue bisa aja make out sama dia di dalam sana sampai waktu habis,” jelas Sugawara di hadapan seluruh anggota tim voli dan panitia yang sudah berkumpul. Langsung saja terdengar suara orang yang pura-pura muntah, siulan, tepukan tangan, juga decakan.

Serta Atsumu yang berseru kencang.

“ANJIIRRRR...! TAU GITU GUE NGAJAK KAK KITA BUAT IKUTAN!”

Dan seruannya itu lagi-lagi mengakibatkan dirinya menerima geplakan keras di kepala dari Osamu.

Sugawara menyeringai senang. “Tapi, bayangin misal lo dapet nama orang yang lo nggak suka banget. Tujuh menit itu bakalan berubah jadi neraka, dan bukannya surga.”

“Ya kita tinggal diem-dieman aja nggak, sih...” bisik Matsukawa yang duduk di sebelahnya setelah mendengar pernyataan tersebut. Oikawa hanya mengangguk setuju.

Sugawara sepertinya bisa memperkirakan pemikiran seperti itu karena tidak lama dirinya kembali berujar, “fyi aja, tujuh menit itu lama, lho. Jadi jangan harap dengan nggak saling ngomong pun kalian bakalan fine-fine aja.”

Setelahnya, dilakukan undian pertama untuk menentukan siapa-siapa saja yang akan memilih pasangannya. Sayangnya nama Oikawa tidak keluar sehingga ia harus pasrah menunggu sampai namanya keluar karena dipilih seseorang. Dari jauh, Oikawa memperhatikan bahwa Iwaizumi mendapat hak untuk menarik undian kedua.

Oikawa menyilangkan dua jarinya di belakang punggung dan berdoa sepenuh hati agar namanya yang keluar saat Iwaizumi menarik undiannya.

Namun semesta pasti tengah membencinya malam itu.

“Iwaizumi dapet...” Sugawara mengambil jeda selama beberapa detik, berdeham, lalu meneriakkan nama yang Oikawa harap justru tidak akan terdengar.

“Alisa Haiba!”

Langsung saja terdengar pekikan kaget dari wanita dengan nama tersebut. Alisa terlihat menutup mulutnya dengan mata yang melebar tidak percaya. Wanita itu kemudian berjalan menghampiri Iwaizumi yang tetap menampilkan ekspresi datar.

Oikawa mengepalkan kedua tangannya di samping tubuh. Rasanya ia ingin maju saat itu juga dan memberi jarak sejauh mungkin di antara dua orang itu. Meskipun Iwaizumi terlihat tidak peduli, namun tetap saja Oikawa tidak bisa menghilangkan perasaan jengkel yang mendadak muncul.

“Tampang lo udah kayak mau bunuh orang.”

Kali ini bukan Matsukawa yang berbicara, melainkan Atsumu yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. Pria itu memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung celana dengan santai dan ada senyum penuh arti yang terukir di wajahnya.

“Maksudnya apa?”

Atsumu terkekeh pelan, lalu berjalan mendekatinya dan merangkulnya. “Lo pikir gue nggak nyadar? Dari hari pertama aja, lo sama Kak Alisa tuh kayak saling punya dendam.”

Oikawa diam. Sengaja tidak ingin memberi jawaban apa pun yang bisa menimbulkan kesalahpahaman.

“Tenang aja, gue nggak akan nanya sebenernya ada masalah apa antara lo berdua. Tapi asumsi gue... ini ada hubungannya sama pacar lo? Soalnya Kak Alisa kayaknya ngebet banget tuh pengin deket-deket sama Iwaizumi dari kemaren.”

Kali ini Oikawa tidak bisa menahan rasa kesalnya yang kembali muncul. Ia mendorong pelan Atsumu sampai rangkulan pria itu terlepas dari bahunya.

“Intinya apa, sih, lo ngomong gitu ke gue?”

Atsumu mengangkat kedua tangannya seperti gestur yang menunjukkan bahwa ia tidak akan berbuat macam-macam. Pria itu kemudian mendekat kembali, lalu berbisik.

“Gue bisa bantuin lo nanti.”

“Hah? Maksudnya?”

Dengan gerakan penuh dramatisasi, Atsumu menarik secarik kertas kecil dari dalam kantung jaketnya.

“Lo fokus banget tadi ke Iwaizumi sampai nggak denger nama lo sendiri udah dipanggil.”

Dan di situlah — di secarik kertas yang tengah dipegang Atsumu, ada namanya tertulis dengan jelas.


Oikawa mengetuk-ngetukkan sepatunya dengan tidak sabar seraya melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya berulang kali. Ia sudah mendengar rencana yang diutarakan Atsumu dengan begitu yakin. Namun tetap saja, menanti sendirian di dalam gubuk yang hanya diterangi oleh satu lampu penerangan ternyata malah menambah kegugupannya.

Rencananya sendiri sangat sederhana. Orang yang namanya keluar di undian kedua menjadi yang menunggu di dalam gubuk sampai pasangan mereka datang sesuai aba-aba agar hitungan waktunya pas. Atsumu bilang, ia akan membujuk Sugawara agar membiarkan dirinya dan Iwaizumi bertukar posisi. Dan di bagian itulah Oikawa merasa sedikit ragu. Meskipun Sugawara temannya, apakah pria itu mau membantunya begitu saja?

Namun Atsumu lagi-lagi hanya menepuk pundaknya berulang kali dan mengatakan bahwa dia tidak perlu khawatir. Oikawa hanya perlu menunggu di dalam gubuk yang kecil ini sampai Iwaizumi tiba.

Pasalnya, meski sudah hari ketiga mereka menginap di tempat yang sama, belum ada kesempatan sama sekali untuk membicarakan apa yang perlu dibicarakan. Oikawa sibuk membantu para panitia dan menyusun acara, sedangkan Iwaizumi sibuk ikut berlatih bersama tim voli. Mereka hanya bertemu saat makan, dan itu pun tidak banyak interaksi yang bisa dilakukan.

Jadi menurutnya, hanya ini kesempatan yang mereka punya untuk saling berbicara.

Tok Tok

Oikawa terlonjak kaget saat ada suara ketukan terdengar di pintu gubuknya. Ia pun mendekat ke arah pintu dan menempelkan telinganya untuk mendengar dengan lebih jelas.

“Hajime...?” bisiknya agak kencang, berharap bahwa pria itulah yang benar-benar datang ke tempatnya.

Untuk sesaat, tidak ada yang menjawab. Oikawa baru akan memanggil sekali lagi ketika ada suara bariton pria yang menyahut dari balik pintu.

“Tooru, ini aku.”

Ada kelegaan luar biasa yang menghampirinya saat suara familier itu terdengar. Perlahan, Oikawa pun membuka pintu gubuk dan membiarkan Iwaizumi masuk ke dalam.

Iwaizumi menyapu sekilas pemandangan di dalam isi gubuk tersebut, kemudian menoleh ke arahnya.

“Fancy.”

Oikawa terkekeh, tidak menyangka Iwaizumi bisa memberikan komentar playful seperti itu. Pria itu masih terlihat letih seperti bagaimana pertama kali Oikawa mendapati keadaannya di dalam bus, namun setidaknya, Iwaizumi sudah terlihat lebih hidup dan bertenaga sekarang.

“Gimana Atsumu bisa bujuk Sugawara?” tanya Oikawa penasaran. Tentu temannya itu tidak langsung mengiyakan, bukan?

“Kamu bisa tanya soal itu ke Atsumu langsung nanti. Tapi sekarang,” Iwaizumi mendekatinya beberapa langkah sampai mereka benar-benar berdiri berhadapan. “Aku harus minta maaf dulu ke kamu.”

Oikawa menelan salivanya susah payah, dan bersiap mendengarkan.

“Maaf karena aku waktu itu udah bawa-bawa nama Ushijima tanpa alasan. Aku tahu kalian berdua termasuk temen deket. I know he cares for you, dan kamu pun begitu ke dia. Harusnya nggak ada alasan buat aku jadi... cemburu.”

Oikawa yakin, mulutnya sudah terbuka sekarang seperti bagaimana tadi pagi ia disindir Matsukawa saat melihat Iwaizumi berlatih dengan kaus yang lebih terbuka.

Namun apakah ia tidak salah dengar? Iwaizumi cemburu?

“Kamu... cemburu?” Oikawa bertanya seperti orang bodoh. “Kenapa?”

“Kamu inget dulu pas awal-awal pertemuan kita, aku pernah bilang sesuatu soal salah satu sifatku?”

Oikawa berpikir keras, berusaha mengingat-ingat percakapan mengenai sifat Iwaizumi dari sekian banyak yang telah mereka lakukan. Namun ia tidak ingat sama sekali dan akhirnya menggeleng sambil menatap pria di hadapannya dengan bingung.

“Aku pernah bilang ke kamu... kalau aku agak overprotective orangnya?” Iwaizumi pun membantunya dengan menjawab langsung, tetapi jawaban pria itu terdengar seperti pertanyaan untuk memastikan.

“Oh.” Sekarang Oikawa ingat. “Jadi... kamu... ke aku... m-maksudku...” Oikawa membuka dan menutup mulutnya berulang kali. Tidak yakin bagaimana harus melanjutkan.

“Aku tau hubungan kita cuma pura-pura, tapi aku tetep anggap hubungan ini sebagai yang pertama buat aku. Makanya tanpa sadar, aku bersikap kayak gitu. I acted as if you were my real boyfriend.”

“Hah? Pertama?!” Dari rentetan kalimat sepanjang itu, fakta bahwa Iwaizumi tidak pernah berpacaran sebelumnya lah yang justru menarik perhatiannya. Kali ini Oikawa benar-benar tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya. “Ini maksudnya kamu... nggak pernah pacaran sebelumnya??” Oikawa bertanya memastikan.

Iwaizumi tersenyum kecil. Pria itu menelengkan kepalanya ke satu sisi. “Kamu pernah bilang mantanku pasti ada banyak, padahal pacaran aja aku belum pernah.”

Oikawa masih tercengang. Rasanya sulit dipercaya bahwa pria seperti Hajime Iwaizumi tidak pernah memiliki pacar sama sekali sebelumnya.

“Kamu bohong, ya?” tuduhnya impulsif.

“Ngapain aku bohong?”

“Tapi kalau orang yang disuka ada, kan?”

“Ada.”

Oikawa lagi-lagi dibuat terkejut oleh jawaban pria itu. “Siapa?” tanyanya refleks.

Iwaizumi tidak menjawab, dan hanya menatapnya lama.

“Kamu nggak bilang ke orang itu kalau kamu suka sama dia? Kalau bilang, kan, kita nggak perlu...” Oikawa menghentikan ocehannya sendiri. Tiba-tiba tersadar akan makna di balik ucapannya.

Dan kini ia dilanda kebingungan.

“Aku nggak bilang karena... aku punya firasat orang itu bakalan kabur kalau aku bilang suka sama dia,” Iwaizumi menjawab pelan. Ada senyum yang kembali terulas, namun di mata Oikawa, senyuman itu terlihat sedih.

“Kenapa?”

“Karena aku nggak sesempurna yang orang-orang sering bilang. I have too many flaws. Dan aku pikir, perasaanku ke orang itu cuma bakal jadi beban buat dia.”

“You don't know that,” balas Oikawa halus. “Kamu nggak akan tau sebelum bilang langsung ke orang itu, kan.”

“Mungkin nanti aku bakal bilang ke dia. Tapi aku bakal nunggu sampai orang itu juga suka sama aku. Call me selfish, but I don't think I can face a rejection from him,” ucap Iwaizumi sambil tertawa rendah. “Aku udah sesuka itu sama dia, tapi terlalu pengecut buat bilang karena takut ditolak. See? That's one of my flaws.”

Oikawa menggeleng pelan. “Semua orang punya kelemahannya masing-masing. Tapi nggak seharusnya kelemahan diri sendiri kamu jadiin tolak ukur atas sikap orang lain. Bisa aja yang ada di pikiran orang lain beda, kan?”

Iwaizumi tersenyum, dan hanya memandangnya lekat tanpa mengatakan sepatah kata pun. Oikawa baru akan membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu ketika tiba-tiba terdengar suara teriakan Sugawara dari luar.

“Waktunya tiga menit lagi ya, guys!”

Oikawa bahkan tidak sadar waktu sudah berlalu sebanyak itu. Benar kata sugawara — tujuh menit ternyata cukup lama.

“Aku masih utang satu permintaan maaf lagi.”

Oikawa menoleh, dan mendapati Iwaizumi tengah memandanganya dengan serius.

“Tentang ciuman waktu itu... I know it's not a big deal for you. But I'll still feel like a jerk if I have to kiss you when I know you don't like me in a romantic way.”

Oikawa ingin membantah, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.

“Jadi... menurutku, kita nggak harus bertindak sejauh itu buat meyakinkan orang-orang. Dan aku cuma bakal cium kamu kalau kamu sendiri yang minta.”

“Kalau aku yang... minta?” Oikawa bertanya pelan — memastikan bahwa apa yang didengarnya tadi tidak salah.

Iwaizumi mengangguk. “Kalau kamu yang minta atau yang mulai duluan, aku nggak bakal nolak. Tapi selebihnya... I won't kiss you until then.”

Oikawa tidak yakin harus memberikan respons seperti apa. Namun karena Iwaizumi terlihat dan terdengar begitu yakin, Oikawa pun hanya sanggup menyanggupi.

Untuk sekarang.

“Oke,” jawabnya tak beberapa lama.

“Satu menit lagi ya!!” Teriakan Sugawara kembali terdengar dari luar. Kali ini lebih kencang dari sebelumnya.

“Iwaizumi, a-aku juga mau minta maaf...” Oikawa buru-buru mengucapkannya sebelum keberaniannya menghilang. “Maaf kalau aku... udah bersifat kekanak-kanakkan dengan kabur atau diemin kamu terus. Padahal aku nggak bermaksud kayak gitu. Aku cuma... cuma...” lagi bingung aja sama perasaanku sendiri, dan sekarang aku tambah bingung karena ternyata kamu udah punya orang yang disuka.

“Nggak apa-apa,” Iwaizumi segera memotong, seolah paham bahwa Oikawa sangat sulit mengutarakan maksudnya. “I know it won't be easy for both of us. Tapi lain kali, mungkin kalau ada yang ngeganjal di antara kita, bisa langsung diomongin aja biar nggak ada salah paham lagi.”

Oikawa menelan salivanya, dan mengangguk. “Noted.”

Oikawa tahu waktu yang mereka punya kini tinggal hitungan detik, namun rasanya ia tidak bisa beranjak dari sana seakan ada paku yang menancapkan kakinya di tanah.

“Do you mind if we hug? Anggap aja tanda kalau kita udah baikan,” ucap Iwaizumi dengan senyum ragunya yang justru terlihat menggemaskan di mata Oikawa. Tetapi ia buru-buru menggeleng untuk menghilangkan pikiran tersebut.

“Oh? Oke, nggak apa-apa kalau kamu nggak—”

Oikawa tahu ia tidak punya waktu untuk menjelaskan bahwa gelengan tadi bukan ditujukan untuk Iwaizumi. Jadi ia langsung maju dan menghilangkan jarak di antara mereka. Lengannya melingkar erat di pinggang Iwaizumi seakan itu terakhir kalinya mereka akan bertemu.

Dan saat lengan Iwaizumi menyambutnya dengan sama eratnya, saat wangi bergamot yang familier itu kembali memenuhi indra penciumannya, Oikawa tahu ada perasaannya untuk pria itu yang mulai berubah.


@fakeloveros