Lights Down Low
tw // sexual explicit content, anal sex, anal fingering, hand jobs, explicit language, sex with consent
Read at your own risk!
“Kamu udah ngomong sama Ushijima?”
“Kamu udah ngomong sama Ayah kamu?”
Iwaizumi tersenyum miring mendengar pertanyaannya dilempar balik. Oikawa sendiri langsung menyeret kakinya menuju ruang tamu dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa sambil mengerang. Mungkin karena sudah libur, bahkan di hari biasa pun pengunjung kafe tetap banyak. Ia terpaksa memperpanjang waktu shift-nya sampai Iwaizumi harus ikut menungguinya supaya mereka bisa ke apartemen pria itu bersama-sama.
Oikawa membenamkan wajahnya di atas sofa. Ia mendengar ada langkah kaki yang mendekat, kemudian beban yang mengisi sisa sofa dekat kepalanya. Tak beberapa lama, ada tangan yang memainkan surainya dengan lembut.
“Aku udah ngomong sama Ayahku.”
Oikawa memberi gumaman tak jelas, tanda ia mendengarkan omongan pria itu.
“Ayahku nggak ngomong-ngomong apa sih, tapi kayaknya habis ini aku bakal makin dijejelin kerjaan,” lanjut Iwaizumi seraya tertawa pelan. Oikawa pun mengangkat kepalanya dan melihat pria itu tengah tersenyum ke arahnya.
“Emang nggak apa-apa? Kamu nggak bakal capek?” tanya Oikawa yang langsung merasa tak enak. Seandainya ia bisa membantu mengurangi beban Iwaizumi, tentu dia akan sangat bersedia melakukannya. Namun dia tak mengerti apa pun tentang bisnis dan yang bisa dilakukan sekarang hanya menyemangati pria itu.
“Kalau ada kamu, aku nggak bakal capek.”
“Ew, geli.” Oikawa kembali membenamkan wajahnya selagi menikmati usapan lembut di kepalanya yang belum berhenti. Sepertinya kalau terus berlanjut, lama-kelamaan dia bisa tertidur. “Sejak kita pacaran beneran, kamu jadi cheesy banget, deh.”
“Emang kita udah pacaran?”
“Hah?” Oikawa mengangkat kepalanya dengan terkejut. “Emang belum?”
“Kan aku belum nembak kamu?” ucap Iwaizumi dengan seringai jahilnya yang terpatri.
Oikawa mengerang, lalu mengubah posisinya jadi terlentang. Ia geser badannya sampai kepalanya berada di atas pangkuan pria itu.
“Nggak usah pake acara tembak-tembakan, ah. Kayak anak SMA aja,” balasnya tak peduli. Oikawa memejamkan matanya ketika tangan Iwaizumi kembali memberikan atensi pada surai cokelatnya.
Iwaizumi bergumam panjang tanpa berucap lebih jauh. Sejenak, tak ada suara yang mengisi keheningan tersebut. Oikawa yakin ia akan jatuh ke alam mimpi beberapa detik lagi ketika pertanyaan Iwaizumi membangunkannya.
“Terus Ushijima?”
Oikawa membuka matanya dan menatap langit-langit — mendadak, memori dua hari lalu ketika akhirnya ia berbicara kembali dengan roommate-nya berputar di kepala. Ada perasaan tak enak dan canggung, namun sebagaimana Ushijima yang ia kenal, pria itu justru bisa bersikap tetap tenang.
“Dia minta maaf... karena waktu yang aku kabur itu, dia sempet agak maksa, kan. Dia pikir waktu itu kita putus... terus kemaren aku tegasin lagi ke dia dan aku bilang aja kita nggak pernah putus, cuma lagi marahan bentar,” jelas Oikawa sambil memainkan tali hoodie-nya. “Ya aku juga minta maaf karena nggak bisa bales perasaan dia... aku cuma anggap dia sebagai temen baikku, nggak lebih.”
Keheningan mengisi apartemen itu lagi. Iwaizumi tak berkomentar banyak sehingga Oikawa mendongakkan kepalanya sedikit untuk memperhatikan pria itu.
“Kamu nggak marah, kan?”
Iwaizumi menggeleng. “Lagian aku juga udah nebak dari dulu kalau dia emang suka sama kamu. Kamu aja yang denial. Sama kayak ke aku.”
“Bukannya denial...” Oikawa berucap lemah. “Cuma aku tuh takut aja salah nangkep sinyalnya. Takut ternyata orang itu nggak ngerasain apa yang aku pikir mereka rasain. Terus pas aku tanya atau konfrontasi, orang itu nggak ngaku dan malah ngecap aku aneh. In the end, bisa aja orang itu nggak mau lagi temenan sama aku, terus—”
Racauannya dihentikan oleh bibir Iwaizumi yang tahu-tahu sudah menempel di bibirnya. Oikawa baru ingin memejamkan mata dan merasai lebih dalam aroma kopi yang tertinggal di sana, namun Iwaizumi sudah menarik dirinya kembali.
“Kebiasaan banget suka overthinking.”
Oikawa merengut, meskipun dalam hati ia memang mengakui sifatnya yang satu itu juga perlu diperbaiki. Iwaizumi kemudian menepuk pipinya sekali, lalu bertanya, “mau makan sekarang nggak? Katanya mau dimasakin.”
Oikawa menjawab dengan anggukan antusias. Dan selagi memperhatikan punggung Iwaizumi yang melangkah menuju dapur, Oikawa bersyukur karena telah membuat keputusan untuk tidak kabur.
Mungkin setelah masuk kuliah nanti, dia akan mentraktir Matsun sebagai ucapan terima kasih.
“Cerita, dong.”
“Cerita apa?”
“Kapan kamu pertama kali ketemu aku dan gimana bisa langsung suka.”
Keduanya sudah berbaring di atas tempat tidur setelah sebelumnya berdebat cukup panjang. Oikawa bilang (dengan sedikit iseng) dia tidak apa-apa jika harus tidur di sofa, tapi Iwaizumi langsung melarangnya dan mengancam akan memindahkannya ke atas kasur apabila dirinya bersikeras.
Dan di sinilah mereka sekarang — di atas kasur besar milik Iwaizumi dengan lampu di atas nakas yang dibiarkan menyala karena sang pemilik ternyata tidak bisa tidur jika kamarnya gelap total. Cahaya yang tak seberapa itu membuat suasana kamar lebih hening untuk mereka berdua yang belum timbul kantuknya. Setelah makan malam, letih yang dirasakan Oikawa secara ajaib menghilang, dan ia ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan kekasihnya.
Iwaizumi tidak langsung menjawabnya sehingga yang terdengar sementara hanyalah bunyi ramai perkotaan di luar sana. Oikawa sampai menoleh untuk memastikan Iwaizumi tidak jatuh tertidur.
“Waktu SMA aku pernah dateng ke suatu pertandingan voli...”
Oikawa tak bergerak. Telinganya dibuka lebar-lebar untuk mendengarkan pengakuan pria itu. Entah kenapa, jantungnya berdebar semakin cepat.
“Dari sekian banyak pertandingan yg berlangsung, aku cuma tertarik sama pertandingan yang ada di tengah lapangan. Mungkin karena ada salah satu pemainnya yang narik perhatian aku waktu itu. Posisinya setter dan aku yakin banget nggak pernah liat ada orang main sehebat dia. Orangnya keliatan tenang, tapi juga agresif di lapangan. Kalau ada temennya yang nggak sengaja bikin salah, dia tetep senyum seolah itu bukan apa-apa. Dia bisa mimpin anggotanya dengan baik... dan sepanjang pertandingan entah kenapa cuma dia yang aku liat di lapangan.”
Iwaizumi ikut menoleh dan mengunci tatapan Oikawa yang kini sedikit tercengang.
“Dari situ juga aku selalu nyari tau jadwal pertandingan tim sekolah dia. Aku tonton pertandingan mereka. Semuanya. Tapi aku nggak pernah berani ajak kenalan karena setiap habis pertandingan, dia pasti dikelilingin sama banyak orang.” Iwaizumi lantas terkekeh pelan. “Yah, sampai sekarang penggemarnya juga masih banyak, sih.”
“Kamu...” Oikawa menelan salivanya susah payah, tak mampu menyelesaikan kalimatnya.
Iwaizumi tersenyum dan melanjutkan.
“Aku sempet sedih begitu lulus SMA, aku nggak tau ke mana orang itu bakal lanjutin kuliah. Aku sedih nggak bisa liat dia main voli, tapi aku lebih sedih kalau nggak bisa liat orang itu lagi.” Iwaizumi kini memiringkan badannya sampai menghadap Oikawa, lalu meraih tangannya untuk dibawa ke dekat mulut dan dikecup pelan. “Jadi bayangin, betapa senengnya aku pas tau kalau ternyata dia kuliah di tempat yang sama kayak aku. Kita beda fakultas sih, tapi buatku itu nggak masalah asalkan aku masih bisa liat dia.”
“Terus kenapa kamu...” nggak ngajak aku kenalan aja?
Tanpa melenyapkan senyum yang terpatri di wajahnya, Iwaizumi menjawab seakan bisa membaca pikiran Oikawa.
“Karena aku nggak pernah suka sama seseorang sebelumnya. Aku nggak pernah dibuat deg-degan sekalipun cuma liat orang itu dari jauh. Biasanya orang-orang yang deketin aku, tapi dia malah kayak nggak peduli sama sekali. Habis itu aku baru tau kalau ternyata dia udah nggak main voli lagi dan sibuk part time di sana-sini.” Iwaizumi mengambil jeda dan bahkan di bawah cahaya yang minim pun Oikawa bisa mendeteksi obisidian pria itu yang menatap lekat. Iwaizumi kemudian menggeser tubuhnya sehingga jarak mereka sedikit terkikis. Oikawa meremas ujung selimutnya tanpa sadar selagi menunggu kelanjutannya.
“Aku nggak berani ajak dia kenalan langsung. Aku ngerasa kayak pengecut banget. Tapi di sisi lain, aku takut bakal ada orang lain yang ngeduluin aku dan ngehancurin kesempatan itu. Jadi, aku cari cara biar bisa langsung deket sama orang itu...”
Oikawa yakin dirinya tak berkedip. Pengakuan Iwaizumi sungguh di luar dugaannya. Ia tak menyangka Iwaizumi sudah mengenalnya sejak lama, sedangkan dirinya tak memiliki petunjuk sama sekali. Justru dia pikir, mana mungkin orang yang beda level seperti Iwaizumi mengenal dirinya. Ternyata ia salah besar.
“Tapi aku nggak bohong soal Ayahku yang terus maksa. Aku merasa harus cari tameng untuk sementara, tapi aku nggak mau kalau sama orang lain. Sejujurnya, aku nggak enak karena harus sedikit bohong sama kamu. Dan makin sering kita bareng, aku makin suka sama kamu dan nggak mau kalau nanti harus putus dan hubungan kita balik lagi ke awal. Tapi aku juga nggak berani bilang yang sebenernya karena takut kamu nggak punya perasaan yang sama. Sekarang kamu bisa liat kan, kalau aku nggak cuma pengecut tapi juga egois.”
Kalimat yang terakhir diucapkan dengan nada pahit. Oikawa refleks bergerak dan meraih kedua sisi wajah Iwaizumi untuk direngkuh. Pria itu memejamkan matanya dan mencondongkan tubuh supaya dapat lebih merasakan sentuhannya.
“Menurutku itu wajar...” Oikawa berbisik pelan. Tangannya bergerak ke arah rahang pria itu untuk diusap lembut. “Rasa takut... menurutku itu wajar karena aku sendiri juga ngerasain itu. Yah, pada dasarnya kan nggak ada orang yang mau dikecewain... jadi aku... bisa maklum.”
“Kamu nggak marah?”
Oikawa menggeleng yakin. “Buat apa? Kan yang penting sekarang kita udah bareng. Pacaran beneran, bukan bohongan.”
Iwaizumi menghela napas seakan ada beban berat yang baru saja terangkat dari pundaknya. Tangannya menggenggam jemari Oikawa yang masih merengkuh wajahnya. Dalam hati ia bersyukur karena masih bisa merasakan kehangatan pria itu.
Sebenarnya ada lagi yang ingin dikatakan Iwaizumi pada Oikawa. Tentang perasaannya yang berubah seiring kedekatan mereka. Ia tentu masih menyukai pria itu, tapi sekarang, Iwaizumi yakin rasa sukanya sudah berkembang menjadi hal lain yang melebihi sayang.
Nanti, pikirnya seraya maju dan menghapus jarak di antara mereka sepenuhnya. Mereka masih memiliki banyak waktu di dunia. Masih banyak yang perlu mereka pelajari tentang perasaan masing-masing. Iwaizumi rela menghabiskan waktunya, asalkan bersama Oikawa.
Tangan Oikawa yang tadi merengkuh wajahnya kini turun dan mencengkeram bagian depan kausnya. Napasnya bergetar seiring bibir mereka yang bergerak semakin cepat. Iwaizumi merasa jarak di antara mereka masih begitu kentara sehingga tangannya meraih pinggang ramping kekasihnya dan menariknya sampai tubuh mereka menempel. Bibirnya menarik pelan bibir bawah Oikawa yang mulai memerah sampai izin itu diberikan. Pendingin udara seperti tak ada gunanya di ruangan itu karena suhu tubuh mereka semakin naik. Oikawa melenguh pelan saat tangan Iwaizumi masuk ke dalam piyamanya.
Kali ini tak ada lagi keraguan di antara mereka. Oikawa tak lagi memusingkan hal lain dan membiarkan tubuhnya mengambil alih untuk bergerak bersama pria yang merengkuhnya. Ciuman mereka semakin cepat, basah dan tak beraturan. Bulu kuduknya berdiri saat merasakan hawa dingin kamar menyentuh langsung kulitnya yang terekspos. Entah sejak kapan piyamanya terangkat dan tangan Iwaizumi semakin mengeksplor tubuhnya dengan tidak sabar.
Oikawa melepaskan ciuman mereka dan mendesah keras saat tangan Iwaizumi bermain di putingnya yang sudah mengeras. Namun ia segera menutup mulutnya dengan satu tangan. Mukanya memerah menahan malu.
Iwaizumi menyadari hal itu dan langsung menarik tangannya menjauh. Pria itu menciumi bagian telapaknya, setiap jari-jarinya sampai pergelangan tangannya di mana urat nadinya terlihat. Napas Oikawa semakin terengah begitu menyaksikan intensitas afeksi tersebut.
“Jangan ditahan,” bisik Iwaizumi di kulitnya. “Aku mau denger suara kamu.”
Gila.
Hanya satu kata itu yang sempat terpikir oleh Oikawa sebelum pikirannya kembali dibuat kosong oleh sentuhan sang pria. Seakan ingin membuktikannya, Iwaizumi tanpa aba-aba menunduk dan menjilat puting kanannya. Lenguhan itu pun keluar tanpa bisa Oikawa tahan. Dan kali ini, ia membiarkannya meskipun malu itu masih tersisa.
Tangan Iwaizumi bergerak cepat melepas kancing piyamanya satu per satu sampai kain itu tak lagi menempel di tubuhnya. Oikawa sama sekali tak merasakan dinginnya udara karena sentuhan Iwazumi di tubuhnya tak hanya membuat akal sehatnya lenyap, tapi juga menaikkan suhu tubuhnya ke titik tertinggi.
Oikawa mencengkeram surai hitam di depannya saat Iwaizumi tanpa ampun bergantian memberi atensi pada kedua putingnya yang semakin mencuat. Kakinya melengkung merasakan kenikmatan itu dan ada bagian tubuhnya yang terasa semakin sesak di bawah sana.
“Kaus kamu…” Kali ini Oikawa mulai ikut bergerak dan menyelipkan tangannya ke balik kaus Iwaizumi. Ia bisa merasakan betapa terbentuknya tubuh pria itu sehingga memunculkan ketidaksabaran untuk melihatnya langsung.
Saat sudah tak ada satu helai benang pun yang menutupi bagian atas tubuh mereka, Oikawa memandang tubuh kekasihnya penuh takjub. Perlahan, ia melarikan jemarinya di tubuh berotot sang pria. Iwaizumi tidak mengatakan apa-apa dan membiarkan Oikawa terus mengapresiasi tubuhnya.
Saat sentuhan Oikawa di tubuhnya sendiri hampir membuatnya gila, Iwaizumi lantas mencium pria itu kembali sampai kepalanya terdorong ke belakang. Iwaizumi berusaha memberi apresiasi sama besarnya di bibir pria yang selalu terlihat kemerahan itu dengan melumatnya keras, menarik, juga menggigitnya. Lidahnya kembali terlibat untuk memanjakan setiap bagian dalam mulut Oikawa yang bisa diraihnya.
Merasa tidak ingin kalah, Oikawa memberanikan diri dan bergerak lebih dulu meraih bagian atas celana Iwaizumi yang masih terpasang rapi. Perlahan, tangannya bergerak turun sampai menyentuh milik pria itu yang sudah menonjol dan mengenai bagian dalam pahanya seolah meminta perhatian.
Iwaizumi mengerang pelan.
Erangan yang keluar dari mulut kekasihnya mendorong Oikawa untuk terus bergerak — kali ini tidak hanya menyentuh, melainkan juga meremas pelan milik pria itu.
Padahal, Iwaizumi lah yang sedang ia sentuh, tapi Oikawa sendiri tanpa sadar ikut menggerakkan tubuh bagian bawahnya karena miliknya sendiri pun terasa semakin sesak.
Tanpa diduga, Iwaizumi tiba-tiba menarik badannya menjauh dan dengan satu gerakan cepat membuka celananya sampai tak ada lagi yang tersisa. Oikawa bahkan tidak sempat terkesiap karena pria itu langsung menempelkan kembali bibir mereka. Ciuman itu berantakan — saliva mereka saling bersatu saat Iwaizumi melesakkan lidahnya masuk. Namun saat Iwaizumi mulai menyentuh penisnya, Oikawa harus melepaskan ciuman mereka karena dirinya hampir saja tersedak ludahnya sendiri. Iwaizumi yang mulanya hanya meremas miliknya pelan, kini mulai bergerak cepat sampai Oikawa membuka mulutnya dan mendesah kencang.
“Hajime—hahh…”
Iwaizumi bisa merasakan miliknya sendiri mulai berkedut akibat pemandangan yang ada di depannya. Di matanya, Oikawa terlihat sangat cantik dengan wajah yang dipenuhi peluh, bibir yang merah dan bengkak, dan suara pria itu…
“Hajime… tolong…”
Suara penuh permohonan tersebut membuat Iwaizumi seperti kehilangan daya pikirnya. Ia pun melepaskan tangannya yang tengah bermain dengan kepunyaan Oikawa, lalu meraih celananya sendiri untuk dibuka dalam satu dorongan cepat. Ia tidak mengalihkan matanya sama sekali dari Oikawa, begitu juga sebaliknya. Entah sengaja atau tidak, Oikawa justru menatap pria yang tengah sibuk itu dengan tatapan sayu dan bibir bawah yang digigit sensual. Seakan menguji sisa-sisa kewarasan Iwaizumi yang hanya dihubungkan oleh segaris benang tipis.
Setelah melempar celananya asal ke lantai, Iwaizumi menindih Oikawa dan mulai menciumi leher pria itu. Oikawa mendongakkan kepalanya untuk memberi keleluasaan; tahu bahwa lehernya kini sedang ditandai oleh sang pria. Tangan Oikawa bergerak menuju surai kekasihnya yang halus dan bermain di sana. Sesekali menariknya tanpa sengaja saat pria itu menyentuh titik sensitif di lehernya.
Beberapa detik kemudian, lenguhan panjang kembali terdengar memenuhi kamar itu saat Iwaizumi bergerak sehingga kemaluan mereka saling bersentuhan. Seperti disengaja, Iwaizumi yang masih memberikan ciuman-ciuman di leher Oikawa, semakin menekan pinggulnya dan saling menggesekkan milik mereka dengan lebih cepat. Oikawa bisa mendeteksi pria itu tersenyum di lehernya saat desahan yang ia keluarkan semakin keras.
Oikawa sebentar lagi akan menangis. Ia yakin itu. Rasa frustrasinya sudah sampai ke ubun-ubun, tetapi Iwaizumi seolah berusaha memperlama permainan mereka.
“Sabar, sayang...”
Tiba-tiba, bibir Iwaizumi sudah berada di telinganya dan membisikkan kata itu pelan. Napas hangatnya menerpa pelan dan membuat Oikawa bergidik. Iwaizumi menjilat dan menggigit pelan telinganya sebelum bangkit dan bergeser untuk membuka laci nakas. Netra cokelat Oikawa mengawasi saat pria itu mengeluarkan botol pelumas kecil dan membukanya untuk dituang ke jari-jarinya. Tangannya tanpa sadar meremas seprai di bawahnya saat Iwaizumi kembali mengurungnya sementara tangan pria itu mulai menjelajah ke lubang senggamanya yang semakin berkedut minta dimasuki. Oikawa menarik napas tercekat saat jari pria itu perlahan masuk dan dengan gerakan lihai berhasil membuat dirinya bertambah basah.
Tak ada lagi kata koheren yang bisa dikeluarkan Oikawa. Bola matanya berputar ke belakang saat digit yang dimasukkan pria itu bertambah dan berhasil menemukan prostatnya. Tubuhnya semakin melengkung ke atas dan tangannya mencengkeram kuat bahu pria itu sehingga ia yakin akan meninggalkan bekas kemerahan.
Iwaizumi sendiri tak bisa merasakannya — terlalu fokus dengan liang hangat yang melingkupi jari-jarinya, serta ekspresi Oikawa yang terlihat penuh ekstasi.
Saat dirasakannya Oikawa sudah terlampau basah dan gerakan pria itu semakin frantik dalam mencari friksi, Iwaizumi menarik tangannya keluar sehingga menimbulkan desah protes dari yang bersangkutan.
“Kamu yakin?”
Oikawa membuka matanya saat mendengar pertanyaan tersebut terlontar. Ia yaris tidak memercayai pendengarannya sendiri. Mereka sudah sejauh ini, dan Iwaizumi masih bertanya?
“Kalau kamu pikir aku mau kita berhenti sekarang, kamu pasti udah gila.”
Iwaizumi tertawa pelan. Tangannya menangkup sisi wajah Oikawa dan membawa bibir mereka untuk kembali dipertemukan. Kali ini lebih lembut dari sebelumnya.
Iwaizumi kemudian bangkit dan untuk kedua kalinya membuka laci nakas lalu meraih kondom. Pria itu memasangnya dalam hitungan detik sementara netranya memaku Oikawa yang terlihat sama tak sabarnya. Oikawa menjilat bibirnya saat beban tubuh pria itu kembali menindihnya. Hangat dan familier.
Dengan sedikit gemetar, Oikawa mengalungkan lengannya di sekitar leher Iwaizumi saat pria itu membuka tungkainya semakin lebar. Iwaizumi berusaha mengalihkan Oikawa dari rasa sakit yang mungkin akan timbul dengan menciumi setiap bagian wajah pria itu selagi perlahan memasuki lubang yang semakin berkedut di bawah sana. Oikawa melenguh panjang saat milik Iwaizumi yang tidak bisa dikatakan kecil membuatnya terasa penuh.
Iwaizumi mencengkeram pinggul Oikawa sedikit lebih keras saat berusaha memasuki keseluruhan miliknya ke dalam liang hangat yang semakin menghimpit kepunyaannya. Iwaizumi berusaha menahan diri agar tidak langsung bergerak cepat. Ia ingin memberi waktu bagi Oikawa agar membiasakan diri. Namun lubang yang menghimpitnya terasa begitu hangat dan basah, sehingga membuatnya nyaris kehilangan kontrol.
“Tooru… sssh, wait, wait,” Iwaizumi berseru sedikit panik saat Oikawa tanpa sengaja mengeratkan himpitannya. Kalau tidak memiliki kontrol diri yang bagus, Iwaizumi yakin bisa langsung keluar hanya dari gerakan kecil tersebut.
“Hajime…” Oikawa mengucap nama sang pria dengan desahan frustrasi. Ia juga menggerakkan pinggulnya saat dirasa Iwaizumi tak kunjung bergerak. “Gerak... cepetan...”
Hanya perlu mendengar satu kata itu, dan Iwaizumi langsung bergerak mengikuti insting terliarnya.
Gerakan yang awalnya penuh kehati-hatian, berubah semakin cepat sampai menimbulkan suara decak dan kulit yang saling menampar. Iwaizumi kemudian bangkit dan menarik pinggulnya ke atas, lalu melingkarkan tungkai kanannya di sekeliling pinggang pria itu. Napasnya keluar semakin kasar dan cepat saat pria di atasnya membuat gerakan piston tanpa jeda. Oikawa meracau tak jelas saat prostatnya dihunjam terus-menerus sampai bola matanya bergulir ke belakang. Seolah tidak memberikan waktu bagi Oikawa untuk bernapas, tangan Iwaizumi ikut meraih penisnya yang sudah berdiri tegang sejak tadi.
“H-hajime... S-shit...”
Sensasi yang begitu memabukkan tersebut tidak memberi waktu bagi Oikawa untuk meminta pria di atasnya bergerak lebih pelan. Tangannya meremas seprai yang sudah kusut dan tubuhnya bergerak naik turun mengikuti gerakan frantik Iwaizumi. Mulutnya terbuka tanpa bisa mengeluarkan suara apa pun.
Saat merasakan aktivitas senggama mereka mulai membuat pria di bawahnya kewalahan, Iwaizumi justru semakin menaikkan ritme gerakannya. Oikawa hanya mampu mengerang panjang saat putihnya datang tanpa aba-aba. Kendati begitu, tangan Iwaizumi tidak kunjung berhenti dan terus membuatnya mengeluarkan seluruh cairan miliknya sampai tubuhnya terasa lemas.
Iwaizumi memperhatikan wajah kekasihnya yang semakin memerah setelah pelepasan. Wajahnya basah oleh keringat dan air mata, netranya terlihat tak fokus, juga ada serangkaian tanda kepemilikan menghiasi leher mulus Oikawa.
Pemandangan itu seolah menjadi pemantik dalam diri Iwaizumi untuk mengejar pelepasannya sendiri. Ritme gerakannya mulai berantakan saat Oikawa dengan sisa-sisa tenaganya ikut bergerak. Tubuhnya pun ambruk dan ia menggeram pelan saat Oikawa dengan sengaja mempersempit lubang senggamanya untuk membantunya keluar. Napasnya terengah selagi berusaha menurunkan diri dari rangsangan yang akhirnya terpuaskan. Ia bahkan hampir tidak sadar kalau Oikawa tengah mengelus pipinya dengan lembut.
Iwaizumi lantas membuka matanya dan mendapati Oikawa tengah tersenyum lebar ke arahnya. Ia mencium pria itu dan bisa merasakan kebahagiaan menguar di sekitar mereka. Hatinya menghangat saat Oikawa tersenyum di balik ciuman mereka.
“Nggak sakit?” Iwaizumi bertanya setelah keduanya sama-sama berbaring menyamping dan matanya menatap netra cokelat susu di hadapannya untuk meminta afirmasi. Yang ditanya hanya menggeleng kemudian memeluk tubuhnya erat, tak peduli meskipun keduanya masih dipenuhi keringat dan ada aroma seks memenuhi kamar tersebut.
“Nggak, kok...”
Sesaat, tak ada yang mengeluarkan suara. Mereka masih berusaha menormalkan tarikan napas sekaligus menikmati proksimitas tersebut.
“Kamu nggak akan kabur lagi, kan?”
Pertanyaan mendadak itu membuat Oikawa mengangkat kepalanya. Namun Iwaizumi hanya menatapnya serius seakan butuh penekanan secara verbal.
“Nggak akan. Aku janji.” Oikawa berusaha menyamakan keseriusan pria itu dan berucap sepenuh hatinya. “Selama sayangku masih buat kamu, aku nggak akan ke mana-mana.”
Iwaizumi tersenyum dan balas memeluk Oikawa erat. Keduanya tenggelam dalam perasaan satu sama lain dan akan begitu seterusnya selama mereka yakin sayang yang dirasakan takkan menguap begitu saja ke udara.
Bagaimanapun, mereka sudah tenggelam terlalu dalam.
Fin
@fakeloveros