Regret
“Mau ngomongin apa?”
Oikawa tidak perlu berbasa-basi begitu ia membuka pintu mobil yang di kursi pengemudinya sudah ada seorang pria. Hampir tiga bulan menjalani hubungan pura-pura dengan pria itu membuatnya tahu bahwa Iwaizumi bukan orang yang suka berbasa-basi.
“Kita omongin di apartemenku aja, ya?”
Oikawa mengangkat sebelah alisnya. Sepertinya, Iwaizumi lah yang hari ini sengaja berbasa-basi.
“Emang kenapa kalau diomongin sekarang?” Oikawa mencoba lagi.
“Hmm…” Iwaizumi bergumam panjang selagi mulai menyetir di jalanan yang cukup padat akibat jam pulang kantor. “Lebih enak aja kalau kita ngomonginnya baik-baik, sambil duduk, dan face to face.”
“Apa bedanya coba…” Oikawa mendengus, lalu mengalihkan tatapannya ke luar jendela. “Kalau kita pacaran beneran, pasti aku udah ngira kamu mau ngajak putus.”
Hening. Tidak ada balasan dari pria di sebelahnya.
Oikawa menoleh dengan canggung. “Err… atau jangan-jangan kamu beneran mau…” mutusin kontrak kita sekarang?
“Nggak, Tooru,” jawab Iwaizumi segera dengan halus dan singkat.
Oikawa menunggu karena sepertinya masih ada yang ingin pria itu katakan, namun setelah beberapa saat, ternyata hanya sampai di situ saja kalimat yang diucapkannya.
Jadi ia hanya menghela napas, lalu kembali menatap pemandangan di luar jendela.
“Kamu mau aku bikinin teh?”
Bukannya langsung duduk dan membicarakan apa yang seharusnya dibicarakan, Iwaizumi seolah semakin menundanya dengan menawarinya minum teh. Bukannya Oikawa akan menolak, toh, setiap main ke apartemen pria itu pun dirinya memang selalu ditawari minum teh.
Tak lama setelah Oikawa mengangguk, aroma chamomile yang sudah tak asing lagi tercium memenuhi ruangan. Sejak dulu kedatangannya pertama kali ke apartemen Iwaizumi, lalu berlanjut hingga sekarang, Oikawa jadi mengetahui bahwa pria itu memang tidak memiliki teh rasa lain selain chamomile.
Selama hampir tiga bulan ini bisa dibilang Oikawa menghabiskan waktu paling banyak dengan Iwaizumi. Hal itu membuatnya jadi mengetahui lebih banyak soal Iwaizumi, juga menimbulkan pertanyaan dalam diri Oikawa, apakah Iwaizumi mengetahui tentang dirinya sebanyak ia mengetahui soal pria itu?
Meskipun kini hubungan mereka sudah lebih dekat, tentu ia tidak mungkin menanyakannya.
Oikawa menyesap tehnya perlahan. Meskipun begitu, matanya mengawasi gerak-gerik Iwaizumi yang — tidak biasanya — terlihat sedikit gelisah. Setahunya, Iwaizumi tidak pernah merasa gelisah, apalagi panik. Setidaknya, bukan di hadapannya.
“Hajime?” Oikawa memanggilnya sampai pria itu berhenti mondar-mandir. Biasanya dia memang masih memanggil Iwaizumi dengan marga keluarga pria itu apabila hanya berdua. Oikawa hanya memanggil Hajime jika sedang kelepasan atau berusaha menarik perhatian pria itu. Berbeda dengan Iwaizumi sendiri yang sekarang cukup sering memanggilnya Tooru meskipun tidak sedang berada di tempat umum. Tapi Oikawa pun tidak keberatan sama sekali dan membiarkan nama kecilnya mengalir lancar dari mulut pria itu.
“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya setelah pria itu akhirnya diam dan duduk di sofa tepat di hadapannya. Iwaizumi tidak langsung menjawab dan hanya menghela napas berat.
“Kamu tau, kan, kerjaanku di kantor Ayahku udah selesai dua minggu yang lalu?” Iwaizumi akhirnya mulai angkat suara. Oikawa cepat-cepat meletakkan cangkirnya di atas meja untuk mendengarkan lebih serius. “Tapi barusan Ayahku nelpon dan katanya… beliau mau mulai ngadain proyek baru dengan bantuanku.”
“Oh.” Hanya itu respons yang mampu dikeluarkan Oikawa. Ia berpikir sebentar sebelum bertanya, “berarti kamu bakal sibuk lagi kayak waktu itu?”
Iwaizumi mengangguk letih. “Itu dan… partner kerjanya ternyata salah satu rekan bisnis Ayahku.”
“Oke…?” Oikawa memiringkan kepalanya ke satu sisi karena tidak mengerti dengan konteks pernyataan tersebut. “Terus kena—”
“Alisa Haiba. Dia yang bakal jadi partner kerjaku nanti sebagai wakil ayahnya.”
Ada jeda yang cukup lama dan terdengar begitu nyaring di tengah ruangan tersebut.
“Te-terus… apa kamu tolak?” Oikawa bertanya, meskipun ia sendiri sudah tahu jawabannya.
“Kamu tau aku nggak mungkin nolak,” jawab Iwaizumi sambil tersenyum pahit. “Dan estimasinya proyek ini bakal berjalan selama tiga bulan.”
Tiga bulan…
Kontrak kita juga bakalan selesai tiga bulan lagi, Oikawa berpikir seraya menelan salivanya susah payah. Mendadak, aroma chamomile dan apartemen Iwaizumi yang biasanya menenangkan, kini justru membuatnya sesak. Oikawa tidak tahu apa lagi yang harus ia katakan.
Sebagi gantinya, ia malah menanyakan suatu pertanyaan.
“Kenapa kamu ngasih tau soal ini ke aku?”
Iwaizumi mengangkat kepalanya dan Oikawa bisa melihat pria itu menatapnya tidak percaya.
“Kamu mau aku nggak bilang apa pun soal ini? Soal aku bakal ada proyek baru? Terlebih lagi sama Haiba?” Iwaizumi bertanya dengan bingung.
“Bukan gitu,” Oikawa buru-buru menyanggah sebelum pertanyaannya menimbulkan kesalahpahaman. “Yang soal proyek ini aku paham. Tapi kalau soal Alisa Haiba…” Oikawa berhenti dan memainkan jari-jarinya dengan gugup. Ia sendiri bingung bagaimana harus menyuarakan maksudnya.
“Maksud kamu…” Iwaizumi memotong dengan suara sedikit tercekat. “Kamu nggak peduli aku bakal kerja bareng dia?”
Tentu saja ia peduli. Tapi Oikawa tidak mungkin mengatakan hal itu keras-keras, bukan?
“Aku… bukannya nggak peduli, tapi hal kayak gini udah di luar kuasa aku yang bukan siapa-siapa ini selain temen dan pacar bohongan kamu. If you're afraid that this will ruin our relationship, I promise you, it won't.” Karena sejak awal pun kita nggak punya hubungan apa-apa.
Iwaizumi menatapnya selama sepersekian detik yang terasa begitu panjang sebelum pria itu menutup wajahnya dengan kedua tangan dan tertawa.
Pria itu tertawa, sedangkan Oikawa tidak tahu di mana letak kelucuan dari situasi mereka sekarang.
“Harusnya aku udah duga soal ini…” Iwaizumi berucap pelan, yang lebih terdengar seperti untuk dirinya sendiri dibandingkan meminta balasan dari Oikawa. Pria itu menghela napas, lalu membuka kedua tangannya sampai wajahnya terlihat kembali.
Oikawa sudah cukup sering menghabiskan waktunya dengan Iwaizumi untuk mengetahui bahwa senyum yang terulas di wajah pria itu sekarang adalah senyum sedih.
“Apa… jawabanku salah barusan?” Oikawa bertanya sedikit ragu. Reaksi Iwaizumi barusan sungguh di luar dugaannya dan ia tidak paham alasannya.
“Nggak, kok. Aku yang salah karena udah besar-besarin soal ini. Maaf ya,” ucap pria itu masih dengan senyuman yang sama.
Oikawa tidak tahu harus menjawab apa dan kenapa pria itu malah meminta maaf. Namun sebelum dirinya bertanya lebih lanjut, Iwaizumi sudah kembali bersuara.
“You know what I hate the most from this fake relationship?”
Oikawa mengerjapkan matanya dengan bingung begitu mendengar pertanyaan tiba-tiba tersebut. Dia satu sisi ia takut untuk mendengarnya, namun dia sisi lain ia juga penasaran.
“Apa…?”
“The fact that we're doing it. If only I was braver at that time, I wouldn't drag you into this mess,” Iwaizumi menjawab tanpa mengalihkan tatapannya yang terasa seperti memaku Oikawa di tempat.
Dan Oikawa lagi-lagi dibuat terdiam. I berusaha memproses jawaban itu, namun tidak ada kesimpulan sama sekali yang terbentuk di otaknya. Jadi Iwaizumi mau mereka segera berhenti? Atau bagaimana?
“But the fact that I can't seem stop doing this. From dragging you into my life, is what I despise the most, Tooru.”
Iwaizumi, yang sekarang justru terlihat menyesal, lantas berdiri dan berjalan menuju dapur — meninggalkan Oikawa sendirian di ruang tamu dengan pikiran yang berkecamuk.
@fakeloveros