sua

Bagi Atsumu, lucu bagaimana kepribadian kapten mereka bisa berubah 180 derajat ketika dihadapkan pada perubahan cuaca.

“Aku nggak suka cuaca panas.”

Lebih lucu lagi karena yang mengatakannya justru lahir di saat matahari sedang bersinar terik-teriknya.

“Eh? Kak Kita nggak suka musim panas, dong?” tanya kembarannya, ketika pernyataan itu tiba-tiba terlontar dari yang lebih tua.

Kita menggeleng singkat. Kepalanya mendongak, lalu matanya memicing menatap matahari seolah bintang yang dekat dengan Bumi tersebut akan mengajaknya berkelahi kapan saja.

“Pokoknya nggak suka,” tegas sang Kapten sekali lagi.

“Loh, beda banget sama Atsumu, Kak! Atsumu malah suka banget musim panas!” seru Osamu, yang langsung membuat Atsumu tersedak es krimnya sendiri. “Kenapa lo? Bener, kan? Kok malah Keselek?”

Atsumu memukul-mukul dadanya seraya menatap jengkel saudara kembarnya yang menurutnya amat sangat tidak peka tersebut.

“Nggak apa-apa,” jawabnya pelan, sambil berdeham-deham. Atsumu refleks melempar tatapannya kembali ke arah seniornya yang tahu-tahu sudah menatapnya dari tadi.

“Atsumu suka musim panas? Kenapa?”

Kenapa? Kalau harus disebutkan, Atsumu bisa membuat daftarnya— karena sebentar lagi liburan, ada festival musim panas, dia suka mendengar suara serangga yang saling bersahutan, dia bisa pergi ke pantai, dia juga bisa—

Atsumu mengerjap pelan— pikirannya sempat teralihkan saat mendapati setitik keringat perlahan jatuh dari pelipis sang Kapten menuju dagu, lalu turun sampai ke leher dan menghilang di balik kaus putihnya yang sedikit transparan. Rasanya seperti melihat adegan slow motion dalam film. Bedanya, Atsumu yakin hanya ia yang menyadari kejadian kecil tersebut.

“Atsumu?” Panggilan dari seniornya itu menyadarkan kembali Atsumu untuk berpijak pada tanah. Ia tidak sadar bahwa dirinya sedari tadi malah memperhatikan wajah yang lebih tua tanpa berkedip. Pasti wajahnya tadi terlihat sangat konyol. Semoga tak ada yang menyadari—

Matanya tak sengaja menangkap seringai Suna yang sudah menghabiskan es krimnya terlebih dulu. Untung saja temannya itu berdiri di belakang Kita sehingga pria yang masih menunggu jawabannya takkan curiga sama sekali.

Atsumu menghela napas. Tentu saja temannya yang sialan itu akan menyadari arti tatapannya terhadap seniornya sendiri.

“Aku suka musim panas soalnya... jadi keringetan, Kak, hehe aku suka keringetan soalnya! Berasa sehat aja gitu,” jawab Atsumu asal tanpa memedulikan tawa tertahan yang keluar dari mulut Suna.

Kita memiringkan kepalanya dengan wajah bingung. “Nggak mesti nunggu musim panas, kalau kamu olahraga juga bakal keringetan, kan?”

“Iya, sih... tapi kalau musim panas beda aja gitu Kak rasanya, hehehe.”

“Kayak lebih bikin kinclong gitu ya, Tsum, keringetnya?” celetuk Suna yang seringainya justru terlihat semakin lebar.

Atsumu hanya melempar tatapan jengkel pada temannya, tanpa menjawab sama sekali.

“Hmm...” Kita bergumam panjang seraya melempar stick es krimnya ke tempat sampah. “Jadi mau juga deh...”

“Hah? Mau apa, Kak?”

“Mau juga suka sama musim panas.”

Atsumu tahu ungkapan itu mungkin tidak memiliki makna lebih, tapi mau tak mau telinganya jadi memerah menyaingi kaus yang sekarang dikenakan Hitoshi saat mendengarnya.

Kita Shinsuke tidak tahu saja alasan Atsumu menyukai musim panas adalah karena pria itu sendiri.


“Kapan lo mau bilang ke Kak Kita?”

“Apaan?

“Ya kalau lo suka sama dia!”

Untuk kedua kalinya hari itu, Atsumu tersedak. Bedanya kali ini dia tersedak salivanya sendiri dan tidak ada siapa pun di sekitar mereka— hanya dirinya dan Osamu di dalam ruang ganti klub bola voli.

“H-hah? G-gue pikir lo...”

Osamu mengangkat sudut bibirnya, merasa terhibur dengan tampang panik saudara kembarnya yang jarang sekali muncul.

“Kenapa? Lo pikir gue nggak tau ya, kalau lo suka sama Kak Kita?”

Atsumu pura-pura tak mendengar dan kembali melanjutkan aktivitasnya.

“Kayaknya jelas banget, deh. Bahkan gue yakin semua anggota voli udah pada tau.”

“Ngomong apa sih—”

“Termasuk Kak Kita sendiri.”

Atsumu langsung terdiam.

“Lo jangan asal ngomong,” ucap Atsumu setengah menggerutu. Ia tidak berani membayangkan seandainya seniornya itu tahu tentang perasaannya. Entah mau disembunyikan ke mana wajahnya nanti.

“Ya terserah lo kalau nggak percaya. Cuma lo tau, kan, kalau kapten kita tuh peka banget? Waktu itu pas lo sakit aja dia langsung sadar, terus beliin lo vitamin sama obat. Jadi menurut gue, nggak mungkin dia nggak sadar alasan wajah lo berubah jadi kayak tomat setiap dia ngajak ngobrol atau nyentuh lo sedikit. Orang keliatan jelas,” Osamu menjelaskan panjang lebar. “Sekarang pertanyaannya, Kak Kita suka balik nggak sama lo.”

Atsumu menelan salivanya susah payah. Setengah ingin percaya dan setengah ingin menyanggah ucapan saudaranya.

“K-kalau menurut lo?”

Osamu tersenyum jahil seraya memakai tasnya. “Nggak tau deh, makanya coba lo bilang ke dia. Soalnya gue juga penasaran jawabannya apa.”

Atsumu hampir saja melempar sepatu yang tengah ia pegang ke wajah saudara kembarnya, tetapi Osamu buru-buru keluar sambil memeletkan lidahnya.

Setelah langkah kaki Osamu tak terdengar lagi, Atsumu menghela napas, lalu menyenderkan keningnya di depan loker sambil memejamkan mata. “Gila aja kalau sampai Kak Kita tau... Gue harus apa...”

“Tau soal apa?”

Secepat kilat, Atsumu lantas menegakkan tubuhnya lalu menoleh ke arah sumber suara. Matanya melebar saat mendapati subjek yang menjadi atensi pikirannya sejak tadi sudah berdiri di depan pintu. Sang Kapten menatapnya tanpa eskpresi, tetapi ada sinar keingintahuan di balik mata bulatnya.

“Kalau aku sampai tau soal apa?” Kita mengulangi pertanyaannya sembari melangkah ke dalam dan menutup pintu ruang ganti.

“K-Kak Kita belum... pulang?” Atsumu bertanya panik dengan wajah semerah tomat saat dilihatnya sang senior justru berjalan mendekat ke arahnya.

“Belum, barangku ada yang ketinggalan di sini,” jawab Kita singkat. “Tadi kamu belum jawab pertanyaanku, Atsumu.”

“O-oh, eh... itu... hahaha apa ya, Kak... aku jadi lupa...” Atsumu berusaha mengalihkan pembicaraan sambil melarikan matanya ke sana kemari. Benaknya mendadak terasa kosong dan jantungnya memompa lebih cepat. Di ruangan yang tak seberapa besar itu, Atsumu takut suara jantungnya akan terdengar sampai luar.

“Emang kenapa kalau aku sampai tau?”

“Eh?”

“Kalau aku sampai tau kamu suka sama aku, emang kenapa?”

Atsumu membeku di tempatnya. Kakinya berhenti melangkah mundur bertepatan dengan punggungnya yang sudah menyentuh tembok. Ia yakin tadi sudah salah dengar.

Tapi tanpa bisa dicegah, bibirnya bergerak sendiri.

“Nanti Kak Kita bisa... ilfeel.”

Sang Kapten kini sudah berdiri persis di depannya. Ujung sepatu mereka saling bersentuhan. Pria itu mendongak sedikit untuk menilik kedua netranya sebelum berucap pelan.

“Kalau ilfeel, aku nggak mungin ngelakuin ini.”

Atsumu lagi-lagi hanya berdiri kaku tanpa mampu memproses apa yang berikutnya terjadi. Tahu-tahu saja, ada bibir pria itu yang menyentuhnya pelan. Lembut. Seakan-akan tengah mengetes suhu air ketika mencelupkan kaki ke dalamnya.

Ciuman itu hanya berlangsung sepersekian detik, tetapi Atsumu yakin jantungnya sempat berhenti selama kejadian itu berlangsung.

“Padahal aku udah nunggu lumayan lama, tapi kayaknya kamu cuma berani kalau lagi tanding di lapangan aja ya, Atsumu?” Kita mengatakannya ditemani seulas senyum kecil saat kakinya sudah kembali menjejak tanah, dan bukannya berjinjit untuk memberi kecupan pada adik kelas yang masih berdiri kaku di depannya. “Aku sampai bawa-bawa soal cuaca barusan buat ngasih kamu kode. Untung Aran nggak sadar. Tapi kayaknya anak-anak kelas dua udah pada tau, ya? Apalagi Osamu sama—”

Atsumu tak membiarkan Kita menyelesaikan ucapannya. Gerigi di otaknya tiba-tiba berputar kembali dan langsung menyuruhnya untuk melakukan hal pertama yang memang ingin dilakukannya sejak dulu.

Orang bilang, segala hal yang pernah kita impikan sensasinya akan berkali-kali lipat jauh terasa lebih nikmat saat menjadi kenyataan.

Dan itulah yang tengah Atsumu rasakan sekarang.

Atsumu tidak berbohong— ia sudah sering memimpikan banyak hal liar bersama pria di rengkuhannya sekarang. Tetapi bahkan di mimpi terliarnya sekalipun, ia tidak tahu bahwa mencium Kita Shinsuke bisa sememabukkan ini. Kalau diibaratkan, pasti seperti mencicipi seteguk air di tengah padang pasir.

Ciuman yang awalnya berjalan dalam ritme pelan, mulai naik menjadi tempo yang tergesa-gesa. Atsumu seolah tidak memiliki waktu banyak untuk merasai setiap inci bibir dengan sedikit rasa manis dari es krim stroberi yang mereka sama-sama habiskan tadi siang. Kedua tangannya ia angkat untuk merengkuh wajah yang lebih tua tanpa berniat untuk melepaskan sedetik pun. Saat Kita ikut mengangkat tangan dan melingkarkannya di sekitar punggung Atsumu, ia yakin ada aliran listrik yang merambat di sepanjang tubuhnya.

Saat keduanya sama-sama membutuhkan oksigen, Kita lah yang pertama kali melepaskan ciuman mereka dengan napas terengah-engah. Namun Atsumu masih belum rela untuk menciptakan jarak di antara mereka sehingga ia langsung merengkuh pinggang yang lebih tua dan memutar balik posisinya. Sekarang, punggung Kita lah yang menyentuh dinding dengan tubuh Atsumu menekannya pelan.

“Jadi selama ini Kakak tau?” tanya Atsumu di tengah napasnya yang memburu selagi menjatuhkan ciuman-ciuman kecil di sepanjang leher seniornya. “Terus kenapa Kakak diem aja?”

“Soalnya...” Kita memejamkan mata dan mendongakkan kepalanya lebih ke atas untuk memberikan pria itu kemudahan. “Aku mau liat usaha kamu kayak gimana.”

Mendengar jawaban itu, Atsumu berhenti kemudian menatap Kita tak percaya.

“Kak, kamu tega banget selama ini ngebiarinin aku tersiksa...” Atsumu bahkan tidak peduli seandainya ucapannya terdengar seperti anak kecil yang tengah merajuk. Ia mana menyangka ternyata orang yang disukainya memiliki perasaan yang sama sejak dulu.

“Habis lucu liatnya,” jawab Kita seraya terkekeh pelan. “Tapi lama-lama aku sendiri yang nggak tahan.”

Atsumu mengerang pasrah, kemudian meletakkan keningnya di atas bahu orang yang sangat disukainya tersebut sejak lama. Napas mereka berdua sudah kembali normal dan Atsumu tengah menikmati usapan lembut jari-jari yang lebih tua di antara surainya.

“Kak, kamu tau kenapa aku suka musim panas?”

Ada gumaman pelan yang terdengar sebelum Kita menjawab dengan nada bertanya. “Karena kita pertama kali ketemu pas musim panas?”

Atsumu mengangkat kepalanya dan lagi-lagi menatap wajah sang Kapten dengan takjub sekaligus tak percaya.

“Kakak beneran bisa nebak semuanya, ya...?”

Yang ditanya hanya tertawa pelan, kemudian menarik wajah tercengang Atsumu dengan kedua tangan untuk kembali menjatuhkan kecupan cepat di bibirnya.

“Soalnya aku juga suka musim panas, Atsumu.”

Kali ini Atsumu tidak perlu bertanya alasan pria itu sempat berbohong padanya. Ia kembali menghapus jarak di antara mereka sampai tak terhitung lagi berapa lama waktu yang mereka habiskan hanya untuk berciuman. Atsumu yakin setelah ini mencium Kak Kita akan menjadi hobi barunya.

Kalau pria itu mengizinkan.

“Kak, berarti sekarang kita...?” Atsumu menggantungkan pertanyaannya penuh harap. Kalau mereka berdua sudah saling menyukai, sekalian saja melabeli hubungan baru tersebut, bukan?

Lag-lagi ada gumaman panjang dari sang Kapten memenuhi ruangan ganti tersebut. Kita Shinsuke tersenyum geli seraya merapikan poni Atsumu yang sedikit jatuh berantakan. Mata Atsumu benar-benar membulat lebar dengan binar seperti anak kecil yang menunggu akan dibelikan mainan terbaru.

“Tergantung. Kalau kamu bisa bantu tim kita buat menang di pertandingan musim panas nanti, aku bakal—”

“Tim kita pasti bakal menang, Kak.” Atsumu bahkan tak perlu menunggu sampai Kita menyelesaikan ucapannya. “Dan aku bilang gini bukan cuma gara-gara mau kita pacaran secara resmi, tapi aku yakin tim kita bakal menang. Dengan atau tanpa syarat dari Kakak.”

Kita tersenyum lebar. Inilah yang dia suka dari Miya Atsumu.

“Bagus. Kalau gitu nggak perlu nunggu sampai menang, aku mau pacaran sama kamu sekarang juga.” Kita Shinsuke kembali berjinjit seraya mengalungkan kedua lengannya di sekitar leher Atsumu dan mencium kekasih barunya itu dengan penuh kelegaan.

Dan Atsumu pun berani bersumpah, inilah musim panas terbaik sepanjang hidupnya.


Happy birthday, Kita Shinsuke! Summer shines brighter with you in our life (tsah).

@fakeloveros

Oikawa menghela napas dan membersihkan debu tak kasat mata dari kedua bahunya. Ia tersenyum puas pada dirinya sendiri selagi memperhatikan pria yang tak sadarkan diri di hadapannya.

Semua berjalan sesuai rencana.

Rencananya, lebih tepatnya.

Ia sendiri memang sudah yakin semua akan berjalan lancar tanpa menimbulkan kecurigaan sedikit pun. Mungkin nanti ia akan menerima omelan dari seseorang, tapi tidak akan ada yang bisa menyalahkannya setelahnya, begitu mengetahui ia berhasil mendapatkan informasi yang diperlukan. Walaupun dalam prosesnya Oikawa terpaksa harus menelan rasa jijik karena berdekatan dengan pria Aone tersebut, hasilnya tetap terbayarkan. Ia mengendus sedikit lengannya, berharap bahwa bau pria itu tak terlalu menempel di tubuhnya. Setidaknya Oikawa cukup memiliki kesadaran bahwa Iwaizumi tentu tidak akan menyukai bau Alpha lain yang menempel di tubuhnya.

Setelah memastikan alat perekam yang dia bawa sudah tersimpan dengan baik, Oikawa membalikkan tubuh dan membuka pintu dengan tenang. Ia berjalan seperti biasa seolah tidak sehabis merayu seorang pria asing untuk mengorek informasi, lalu membuatnya tak sadarkan diri. Ia tak boleh menarik perhatian.

Oikawa sudah setengah jalan menuju pintu utama, ketika mendadak ada seseorang yang menabraknya dengan kencang dari samping.

“Apa—”

“Aduh! Maaf, Tuan! Saya nggak sengaja. Tadi kacamata saya agak rabun, jadi saya nggak sadar ada orang di depan.”

Oikawa mengatupkan bibirnya dengan terkejut saat menyadari bahwa orang yang baru menabraknya adalah salah satu anggota klan yang menyamar menjadi pelayan, yaitu Tsukishima. Ekspresi datar pria itu kini digantikan dengan panik yang kelihatan sekali dibuat-buat.

“Kalau berkenan, Tuan bisa ikut dengan saya ke belakang sekarang. Nanti akan saya keringkan baju Tuan,” ucap pria berkacamata itu lagi, tetapi kali ini sambil melirik tuxedo putihnya penuh arti.

Oikawa menunduk dan baru menyadari ada tumpahan berwarna merah gelap yang menodai setelannya. Ia kemudian mendongak dan menyadari beberapa tamu tengah memperhatikan mereka. Oikawa pun langsung menoleh ke arah Tsukishima dan tersenyum lebar.

“Oh, terima kasih. Saya berkenan, kok.”

“Kalau begitu, silakan ke sebelah sini, Tuan.”

Tsukishima lantas berbalik dan berjalan memimpinnya ke arah pintu yang ada di bagian pojok ruangan. Setelah membukanya, pria yang lebih muda itu terus berjalan melalui lorong panjang dan membuka pintu lain yang berada di paling ujung.

Oikawa pikir, akan ada orang lain yang menyambut mereka, namun di dalam ruangan tersebut justru tidak ada siapa pun.

“Nggak ada orang...?” Oikawa berbisik pelan.

Tsukishima mengedikkan bahunya ke suatu arah dan Oikawa langsung mengikuti arah pandang pria itu.

Di sana, di kursi panjang yang diletakkan di ujung ruangan, terdapat empat orang pelayan dalam keadaan tak sadarkan diri.

“Mereka nggak kenapa-napa, cuma gue buat pingsan sebentar,” jelas Tsukishima tanpa menunggu ditanya. Ia membuka satu pintu lagi yang ternyata mengarah ke dapur. Di sana pun tidak ada siapa-siapa, tetapi Oikawa tahu tidak boleh ada waktu yang dilewatkan barang sedetik pun sekarang, jadi ia tidak bertanya lagi.

“Ini pintu keluar darurat. Asumsi gue, lo cuma punya waktu 5 menit sebelum para pengawal Aone meriksa keadaan Tuan mereka. Gue udah ngasih tau anggota klan yang ada di deket sini. Jadi nanti kalau di tengah jalan lo ketemu mereka, langsung naik ke mobilnya aja,” jelas Tsukishima tanpa terlihat panik sedikit pun. Wajah pria itu tetap tanpa ekspresi seolah sedang menjelaskan tentang cuaca hari ini.

“Emang nggak ada CCTV...?” Oikawa bertanya sedikit ragu, tetapi tangannya sudah berada di pegangan pintu.

Tsukishima menggeleng singkat. “Yang di ruangan barusan, dapur sama deket pintu keluar semua udah dimatiin, tapi tinggal nunggu waktu sampai pengawas di dalam sadar. Makanya lo harus pergi sekarang.”

“Oke, oke. Thanks ya, Tsukki!”

Oikawa tidak sempat melihat eskpresi Tsukishima karena ia langsung keluar dan setengah berlari menuju arah yang ditunjukkan barusan. Matanya tetap awas memperhatikan keadaan sekitar. Ia yakin sekarang para pengawal Aone sudah menyadari Tuannya dibuat pingsan sedangkan pasangannya menghilang begitu saja.

Oikawa pun mempercepat langkahnya. Tetapi ia belum melihat tanda-tanda keberadaan anggota klan yang lain. Oikawa kemudian berbelok di suatu sudut, tetapi langkahnya berhenti tiba-tiba saat dari kejauhan mendapati pria-pria berjas hitam dengan earpiece di telinga masing-masing tengah mengawasi jalan.

Ia memiliki perasaan tidak enak, kemudian mundur secara perlahan. Tapi setelannya yang berwarna putih— begitu kontras dengan langit malam, pastilah telah menarik perhatian karena salah satu dari kelompok tersebut tiba-tiba melakukan kontak mata dengannya. Pria itu lantas menyenggol anggota kelompok yang lain dan menunjuk ke arahnya.

“Shit.”

Dari situlah Oikawa mendapat dorongan untuk segera berbalik dan berlari sekencang mungkin.

Tanpa menoleh ke belakang, Oikawa bisa mendengar derap langkah kaki orang-orang yang tengah mengejarnya. Oikawa ingat pelajaran yang pernah didapatkannya di klan dulu— jika ia sedang dikejar, pastikan berlari ke wilayah yang memiliki banyak gang atau keramaian.

Oikawa memilih yang kedua.

Ia langsung menemukan jalan besar yang dipenuhi orang-orang karena lokasi pestanya sendiri masih berada di pusat kota. Oikawa ikut meleburkan diri di antara keramaian meskipun matanya mulai pusing berhadapan dengan tulisan-tulisan asing di berbagai pertokoan. Setelah dirasa cukup jauh berlari, ia memelankan langkahnya dan berusaha berjalan setenang mungkin. Oikawa tetap membuka telinganya lebar-lebar untuk memastikan keberadaan orang-orang tersebut. Namun semua suara itu tertelan sehingga Oikawa tidak bisa memperkirakan, apakah para pengawal yang mengejarnya barusan sudah kehilangan jejaknya atau mereka mengikuti langkahnya yang berjalan dengan tenang.

Oikawa mencoba melipir ke daerah yang lebih minim pertokoan. Hanya ada satu minimarket terlihat di depannya. Kendatipun begitu, sebelum Oikawa mencapai tempat yang ditujunya, mendadak ada tangan yang menariknya dari samping.

Hal yang dilakukan olehnya pertama kali adalah meronta. Tapi lengan yang tiba-tiba menarik dan juga menutup mulutnya itu menahannya begitu kuat sampai segala usahanya terbilang sia-sia. Orang itu menariknya masuk ke dalam gang kecil dan langsung melepas bekapannya.

Sebelum Oikawa sempat melawan, orang yang menariknya itu buru-buru membalikkan tubuhnya.

“Sst, ini aku.”

Otomatis Oikawa berhenti meronta dan matanya membeliak dengan terkejut.

“Iwaizumi?”

“Orang-orang itu masih ngejar kamu. Aku liat mereka tadi. Jadi kita harus sembunyi di dalam sini dulu.”

Oikawa tidak dibiarkan bertanya apa pun karena Iwaizumi langsung menariknya masuk ke sebuah pintu. Di dalamnya ada tangga kecil yang mengarahkan mereka ke sebuah lorong panjang dengan banyak pintu di kanan dan kirinya. Iwaizumi terus menariknya melewati meja resepsionis sederhana yang hanya dijaga seorang pemuda berwajah mengantuk. Pemuda itu bahkan tidak melirik ke arah mereka sama sekali saat keduanya lewat.

“Ini... apa?” Oikawa berbisik sambil menatap lorong yang barusan mereka lalui dengan bingung. Iwaizumi tak langsung menjawab, melainkan sibuk membuka pintu kedua dari ujung dengan sebuah kunci.

Barulah saat pintu itu terbuka dan interior dalamnya terlihat, Iwaizumi menjawab.

“Motel. Ayo masuk.”

“Hah?”

Meskipun begitu, kakinya tetap melangkah ke dalam dan memperhatikan kondisi kamar yang tak jauh berbeda dengan lorong di luarnya— ada sedikit bau apek, memiliki pencahayaan yang minim, serta perabotan tua. Saat pintu di belakangnya sudah menutup, Oikawa langsung memutar badan menghadap sang Alpha.

“Sampai kapan kita harus di—”

Oikawa tidak mampu menyelesaikan omongannya karena tubuhnya mendadak terdorong sampai jatuh ke atas kasur. Oikawa mengerjap kaget saat Iwaizumi tahu-tahu sudah berada di atasnya. Kedua tangannya ditahan di atas kepala oleh sang Alpha.

“Kenapa kamu bikin rencana sendiri kayak gitu?” tanya Iwaizumi dalam oktafnya yang paling rendah.

Oikawa membiarkan keadaan hening untuk sesaat. Ia sudah menduga Iwaizumi pasti akan menginterogasinya. Namun dirinya tidak menyangka pria itu akan terlihat semarah ini.

“Soalnya gue yakin rencana itu bakal berhasil dan emang terbukti karena gue udah dapet info tentang tempat senjata terakhir kalian dari Aone,” Oikawa menjawab tanpa rasa takut.

Netra hijau di hadapannya semakin menatapnya dengan nyalang. “Perjanjiannya bukan begitu. Rencananya kamu harus ngejalanin misi ini di bawah pengawasan CCTV supaya kita bisa terus mantau.”

“Lo tau itu nggak mungkin.” Oikawa menghela napas lelah. “Gue harus cari tempat yang lebih private buat ngorek informasi dari dia.”

“Private?” Iwaizumi bertanya tajam. “Dan hasilnya sekarang dari badan kamu kecium bau dia.”

“Oh, ya?” Oikawa bertanya dengan polos. Kepalanya ia miringkan beberapa derajat ke samping. “Kirain lo tetep bisa nyium aroma gue, makanya tadi bisa tau gue ada di mana.”

Ada kilatan marah di balik mata sang Alpha sebelum Oikawa dibuat terkesiap karena Iwaizumi tiba-tiba menghapus jarak di antara mereka.

“Bisa,” Iwaizumi berbisik rendah di dekat ceruk lehernya. Napas hangat pria itu menerpanya dan membuat Oikawa mendongakkan kepalanya tanpa sadar. “Tapi nyaris ketutupan sama bau orang itu.”

“Iwa—”

Bahkan di mimpi terliarnya sekalipun, ia tidak pernah membayangkan akan berada di jarak sedekat ini dengan soulmate-nya sendiri. Iwaizumi menempelkan hidungnya di kulit lehernya yang tidak tertutupi oleh kerah baju. Oikawa memejamkan matanya rapat-rapat saat pria itu kini ikut menempelkan bibirnya di sana. Iwaizumi bergerak pelan, seakan berusaha menghirup dalam-dalam aroma yang menguar dari setiap inci kulitnya yang terekspos. Akal sehat Oikawa menyuruhnya untuk mendorong Iwaizumi menjauh, tetapi sensasi yang dirasakannya terlalu membutakan untuk memikirkan hal lain.

“Hal kayak gini nggak akan terjadi seandainya kita udah—”

Oikawa membuka mata dan tubuhnya langsung terbujur kaku. Walaupun tidak bisa berpikir jernih, tetapi dia bisa mendengar setiap silabel yang barusan dikatakan Iwaizumi.

Dan ia bisa menebak kata apa yang selanjutnya akan diucapkan pria itu.

Mating.

Pria di atasnya pun ikut berhenti bergerak begitu tersadar sedetik lebih cepat. Hanya suara napas mereka berdua yang terdengar memenuhi kamar sebelum Iwaizumi tiba-tiba menjauh darinya dan segera bangkit. Ada umpatan pelan yang keluar dari mulut pria itu sementara Oikawa tetap berada dalam posisinya dan hanya diam membatu.

“Aku bawa baju ganti buat kamu, ada di atas kursi sana. Kamu tunggu di sini dulu sementara aku meriksa keadan di luar. Jangan ke mana-mana. Pokoknya jangan keluar selangkah pun sebelum aku balik. Dan jangan bukain pintunya buat siapa pun kecuali aku.”

Setelah mengucapkan rentetan perintah itu dalam satu tarikan napas, Iwaizumi lantas membuka pintu dan menghilang di baliknya. Oikawa terus berbaring selama beberapa menit sebelum perlahan bangkit. Namun satu kata yang tidak jadi terucapkan barusan seperti membangunkan perasaan yang selama ini berusaha ia kubur dalam-dalam. Perasaan itu muncul lagi ke permukaan dan mulai membanjirinya akibat arus yang begitu kuat.

Persis seperti ketakutannya sekarang.

Rasa takut bahwa Oikawa suatu saat akan menerima penolakan yang sama dari Iwaizumi begitu mengetahui kebenaran soal dirinya.


@fakeloveros

Kalau semuanya bisa dihitung dengan kedipan mata, mungkin rasanya seperti baru mengedip sepuluh kali dan tahu-tahu Oikawa sudah berada di negara lain.

Semuanya berlangsung begitu cepat— mulai dari keberangkatan mereka, sampai penyusunan rencana miliknya yang tinggal beberapa hari lagi akan dijalankan. Walaupun Iwaizumi tidak lagi melayangkan ketidaksetujuannya, tetapi Oikawa bisa melihat dari wajah sang Alpha bahwa idenya masih dianggap konyol.

Oikawa berpura-pura tidak sadar dan lebih memilih untuk ikut merencanakan idenya sesempurna mungkin dengan anggota klan lain. Perencanaan ini pun secara ajaib membuatnya akrab dengan beberapa anggota klan yang ikut, termasuk salah satunya Daichi Sawamura— pria yang pernah menjadi lawannya dalam tes pertahanan diri. Berbeda jauh dengan penampilan fisiknya, Daichi ternyata memiliki kepribadian yang ramah dan menenangkan. Pria itu tidak segan-segan menjelaskan segala hal yang mungkin akan berguna dalam misi mereka. Sudah lama dirinya tidak ikut andil dalam misi klan seperti ini dan bohong kalau Oikawa bilang ia tidak merasa bersemangat.

Sampai hari di mana rencana mereka akhirnya akan dijalankan pun, Oikawa tidak merasa khawatir sama sekali dan malah semakin antusias.

“Seenggaknya kamu boleh ngerasa tegang sedikit.”

Oikawa mendongakkan wajahnya dan mendapati soulmate-nya sudah duduk di hadapannya di meja makan. Anggota klan yang kebetulan berada di sana lantas berpura-pura sibuk dengan kegiatan masing-masing meskipun ia tahu telinga mereka pasti terbuka lebar-lebar.

Oikawa mengernyitkan keningnya dengan tidak paham. “Maksudnya?”

Ada hela napas berat yang terdengar keluar dari mulut pria itu. “Kamu keliatan... semangat buat ngejalanin rencana nanti malem.”

“Bukannya bagus kalau gue nggak tegang?” Oikawa bertanya dengan ketidakpahaman yang semakin terukir jelas di wajahnya.

“Justru itu yang bikin aku nggak tenang.”

Oikawa menelengkan kepalanya dengan bingung, tapi ia sudah terlalu malas untuk menanggapi omongan tidak masuk akal Iwaizumi.

“Yang penting kamu inget aja sama janji yang udah kita sepakatin.”

Iwaizumi berujar pelan, lalu bangkit dan menghilang di balik pintu. Ada keheningan yang merambat dan mulai memenuhi ruangan tersebut sementara Oikawa menyembunyikan wajahnya yang memerah di balik cangkir kopinya. Oikawa pura-pura tidak menyadari tatapan penasaran orang-orang yang berada di ruangan tersebut seraya berusaha mengusir jauh-jauh bayangan saat dirinya dipeluk oleh pria yang baru saja pergi beberapa hari kemarin.

Karena lebih mudah menganggap itu tidak pernah terjadi dibandingkan melupakannya.


“Pestanya dimulai jam 8 malem dan kemungkinan orang itu bakal tiba 10 menit sebelumnya.”

Oikawa mengangguk sembari membetulkan posisi dasi kupu-kupunya.

“Orang-orang yang bakal hadir di sana punya posisi penting. Pejabat tinggi negara, pengusaha, dan artis-artis A-list. Tapi bukan berarti pesta itu eksklusif. Asal bawa undangan, kamu pasti bisa masuk.”

Iwaizumi melambaikan amplop putih gading yang ada di tangannya— sebuah salinan sempurna yang akan menjadi kunci masuk Oikawa untuk rencana malam ini.

“Nggak ada info dia bakal dateng sama siapa, tapi yang jelas, dia diundang sama salah satu pengusaha elektronik terbesar di Korea, jadi dia pasti bakal ketemuan sama orang itu. Kamu udah hapal wajah pengusahanya, kan?” Iwaizumi menatapnya melalui pantulan cermin sementara Oikawa menyempurnakan penampilannya untuk malam ini. Lagi-lagi Oikawa hanya mengangguk sebelum meraih topeng putih dengan hiasan emas yang menjadi tema pesta malam itu.

“Nanti di dalem kamu nggak bakal sendirian. Udah ada juga beberapa anggota klan yang nyamar jadi pelayan dan—”

“Iwaizumi,” Oikawa memotong pria itu selagi membalikkan badan. “Gue udah hapal semuanya. Kita udah ngulangin rencana ini ratusan kali, jadi gue nggak mungkin lupa.” Tanpa mengindahkan ekspresi pria di hadapannya, Oikawa lantas merentangkan tangannya. “Gimana? Ada yang kurang?”

“Nggak ada.”

Jawaban itu datang terlalu cepat sampai Oikawa menaikkan sebelah alisnya dengan curiga. “Beneran?”

Iwaizumi mengangguk, lalu mendadak bangkit berdiri. Pria itu berjalan cepat menuju pintu dan sudah membukanya, tetapi berhenti sebelum benar-benar keluar.

“Justru bodoh kalau ada yang nganggap penampilan kamu keliatan kurang malam ini.”

Dan hal terakhir yang Oikawa tangkap dengan netranya adalah telinga memerah sang Alpha sebelum pintu kamar mereka tertutup pelan.


“Malah lo yang keliatan lebih tegang.”

Adalah sapaan Daichi pada dirinya pertama kali begitu mereka sudah siap pada posisi masing-masing. Iwaizumi melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya— baru 15 menit yang lalu dia mendapat kabar bahwa Oikawa sudah masuk ke dalam venue tanpa menimbulkan kecurigaan, tetapi dirinya bahkan tidak bisa duduk dengan tenang.

“Menurut lo mereka tau, nggak, ada orang-orang kita di dalem?” tanya Daichi selagi memperhatikan layar dengan tampilan berbagai sudut pandang CCTV yang berhasil mereka retas. “Jujur aja, tapi menurut gue, Klan Aone nggak sepinter itu.”

Iwaizumi menyetujui dalam hati. Walaupun senjata-senjata mereka sempat berhasil dicuri, namun itu akibat keteledoran klannya sendiri dan bukannya kemampuan klan lawan yang sangat mumpuni. Klan Aone hanya terkenal sebagai kelompok yang mampu bertarung, namun mereka kurang dalam strategi penyerangan maupun pertahanan.

“Jadi lo harusnya nggak perlu khawatir,” ucap Daichi tiba-tiba, seakan dapat membaca pikirannya.

Iwaizumi menghela napas. Punggungnya ia sandarkan ke belakang dengan gestur yang lebih rileks.

“Iya, gue tau...” Tapi tetep aja...

“Justru klan soulmate lo yang lebih terkenal jago, kan? Maksud gue, kalau mereka bukan klan yang kuat, jelas nggak akan musuhan sama klan kita dulu.” Lewat perkataan Daichi, Iwaizumi tahu temannya itu tengah berusaha menenangkannya.

Iwaizumi tidak menjawab, tapi pikirannya langsung melayang kembali ke tes pertahanan yang dilalui Oikawa saat pria itu baru pindah ke klannya. Bahkan Iwaizumi harus mengakui, kemampuan Oikawa tidak dapat dipandang sebelah mata. Terbukti, soulmate-nya itu memiliki refleks yang luar biasa dan daya pikir yang cukup cepat sehingga bisa mengalahkan Daichi dengan mudah.

Jadi kenapa selama ini ia jarang mendengar soal Oikawa? Padahal pria itu satu-satunya putra dari pemimpin klan yang pernah menjadi musuh mereka, maka otomatis suatu saat Oikawa yang akan menjadi penerus, bukan?

Iwaizumi lantas teringat dengan perkataan Oikawa tempo lalu.

“Kalau gitu caranya, lo nggak ada bedanya sama Ayah gue— selalu ngelarang ini itu seolah-olah gue nggak bisa ngapa-ngapain.”

Sekarang Iwaizumi menyatukan kedua alisnya dengan bingung. Dari yang ditangkapnya, berarti selama ini Ayah Oikawa selalu mengurung soulmate-nya. Namun apa alasannya? Apa karena Oikawa terlahir sebagai seorang Omega? Apa pria itu dianggap lemah di dalam klannya sendiri? Tetapi baginya, alasan itu terdengar tidak masuk akal karena di dalam klannya sekalipun seorang Omega berhak ikut serta secara aktif dalam menjalankan misi klan, seperti soulmate Atsumu, contohnya.

Bukan itu saja. Sikap Oikawa terhadapnya... ia bisa melihat pria itu tidak membencinya, tapi sang Omega pun belum menerimanya sepenuhnya. Terkadang ia bisa menangkap tatapan aneh yang ditujukan untuknya dari netra cokelat susu itu. Walaupun dalam hal ini Iwaizumi merasa tidak berhak berharap lebih karena ia pun memiliki alasan sendiri kenapa sampai sekarang belum—

“Oh, itu Oikawa, kan? Dia udah ngajak ngobrol Aone!”

Seruan Daichi di sebelahnya langsung membuyarkan lamunannya. Iwaizumi lantas menegakkan tubuhnya dan ikut memperhatikan arah yang ditunjukkan temannya. Tanpa sadar, Iwaizumi mengepalkan kedua tangannya saat layar memperlihatkan sosok Oikawa dalam balutan tuxedo putih yang tengah berbincang akrab dengan Aone. Bahkan dari layar sekecil itu, Iwaizumi bisa melihat Oikawa bersikap terlalu ramah terhadap musuh mereka. Sang Omega tidak segan-segan menyentuh lengan, bahkan mempersempit jarak duduknya dengan pria dari Klan Aone tersebut seraya menebar senyumnya yang paling lebar.

“Tenang, itu cuma akting.” Daichi yang diam-diam memperhatikan perubahan sikapnya, buru-buru berujar seperti itu. Temannya itu pasti berpikir ia sudah terlihat seperti orang yang bisa kehilangan kontrol kapan saja.

Dan memang benar.

Iwaizumi menarik napas panjang selagi berusaha meredakan emosi yang bergejolak dalam hatinya. Ia tentu saja tahu itu hanya akting, tapi bahkan Oikawa tidak pernah menyentuhnya dengan sukarela seperti yang dilakukan pria itu sekarang. Apalagi tersenyum lebar di hadapannya.

Seandainya mereka sudah melalui proses mating, tentu—

Iwaizumi dengan sekuat tenaga berusaha mengenyahkan pikiran tersebut. Bukan saatnya dia bersikap egois sekarang.

“O-oh...?”

Iwaizumi kembali memfokuskan atensinya pada layar begitu ia mendengar Daichi terkesiap di sebelahnya. Dan kalau tidak sedang mengepalkan tangan sampai kuku-kukunya menancap di kulit, ia pasti akan langsung masuk ke dalam tempat pesta sialan itu dan menarik Oikawa keluar.

Persetan dengan senjata-senjata itu.

Pasalnya, apa yang dilihatnya kini hampir membuat darahnya mendidih. Aone baru saja bangkit dengan Oikawa dan berjalan menjauhi bar dengan sebelah tangan yang merengkuh pinggang soulmate-nya dari belakang. Mereka terlihat mesra dengan Oikawa yang sesekali membisikkan sesuatu pada pria yang lebih jangkung tersebut, lalu dibalas oleh aksi yang sama.

Iwaizumi nyaris memiliki urgensi untuk memukul hancur layar yang ada di depannya kalau tidak di detik setelahnya, kedua orang itu menghilang dari layar CCTV mana pun. Daichi buru-buru mendengarkan laporan masuk dari anggota klan yang menyamar di dalam sana.

“Mereka masuk ke ballroom VVIP. Setau gue, di dalem sana nggak ada kamera CCTV.”

“Apa ada yang bisa masuk ke sana?” Iwaizumi segera mengambil alih. Ia harus tetap berpikir jernih meskipun kakinya sudah gatal ingin menendang sesuatu karena tindakan Oikawa saat ini sedikit di luar rencana. Padahal apa yang mereka sudah sepakati adalah agar pria itu melaksanakan rencana di bawah pengawasan CCTV, apa pun yang terjadi.

“Kayaknya gue bisa.” Suara tenang milik Tsukishima terdengar tak beberapa lama kemudian. Setelah Daichi mengambil alih kembali dan langsung memerintahkan Tsukishima untuk mencoba masuk ke dalam sana, Iwaizumi mengendurkan kepalan tangannya yang ternyata sudah menancap begitu dalam sampai sedikit merobek kulitnya.

Daichi yang melihatnya hanya meringis, namun tidak berkomentar apa pun.

“Tsukishima? Keadaan di dalem gimana?” Daichi bertanya melalui radio transmitter yang tersambung dengan bug setiap anggota klan. Pria yang ditanya tidak langsung menjawab dan rasanya kesabaran Iwaizumi semakin habis di setiap detik yang terlewati.

“Tsuki—”

“Gue nggak liat Oikawa. Aone juga nggak ada. Tapi ternyata di dalem sini ada beberapa pintu yang kayaknya ngarah ke semacam ruangan privat. Asumsi gue, Oikawa dan Aone masuk ke salah satunya.”

“Apa di sana nggak ada pengawal Aone satu pun yang keliatan?” Daichi bertanya lagi.

Hening sebentar.

“Nggak ada.”

Iwaizumi terus mendengarkan dengan saksama sedangkan Daichi di sebelahnya menghembuskan napas pelan.

“Kayaknya soulmate lo punya rencana sendiri yang kita nggak tahu.”

Iwaizumi tidak memberi respons, namun sudut bibirnya terangkat beberapa derajat sehingga membentuk senyum miring yang bagi sebagian besar orang sering dianggap menyeramkan. Atau setidaknya, begitulah yang sering ia dengar.

Namun ia tidak merasa marah. Belum. Entah mengapa ia yakin Oikawa mampu menyelesaikan rencana ini dengan lancar meskipun ternyata ada cara lain yang pria itu sembunyikan. Kekhawatiran Iwaizumi memang berkurang, namun bukan berarti ia akan membiarkan aksi gegabah ini terlewati begitu saja.

Setelah bertemu soulmate-nya nanti, dirinya akan meminta pertanggungjawaban pria itu.


@fakeloveros

Setelah terdengar suara pintu menutup sehingga menyisakan mereka berdua di dalam ruangan, Oikawa menghela napas untuk kesekian kalinya, lalu kembali meletakkan atensinya pada pria yang sedari tadi belum berhenti juga mondar-mandir.

Lebih tepatnya, semenjak Oikawa menceploskan ide bahwa dia bersedia mengorbankan diri dalam rencana perebutan senjata selanjutnya.

Sedikit banyak, Oikawa paham bahwa Iwaizumi pasti tengah pusing tujuh keliling sekarang. Siapa sangka salah satu orang yang mereka tangkap di gudang senjata hari ini memberikan info bahwa sebenarnya masih ada satu tempat lagi yang disembunyikan. Dan tempat itu, sayangnya, hanya diketahui oleh putra tunggal Klan Aone sendiri.

Dengan cepat, Klan Iwaizumi langsung mengorek informasi mengenai keberadaan pewaris utama klan tersebut. Dan entah disengaja atau tidak, namun mereka sama sekali tidak kesulitan dalam menemukan lokasi pria itu sekarang.

“Korea,” Iwaizumi mengucapkan satu kata itu dengan penuh amarah yang teredam. “Kita harus segera ke sana sebelum orang itu pergi lagi.”

Oikawa menghela napas. Entah harus berapa kali ia berargumen dengan pria yang satu ini.

“Apa lo punya rencana yang lebih jenius?” tanya Oikawa tanpa berusaha menyembunyikan sarkasmenya.

“Aku yang bakal nemuin dia langsung,” Iwaizumi lantas menjawab tanpa ragu.

“That’s stupid. Gue nggak nyangka lo sebodoh ini. Begitu lo sampai di sana, mereka tanpa ragu bakal pasang jebakan,” Oikawa menjelaskan dengan gemas. “Tapi gue yakin 90% mereka nggak tau kalau ada gue juga yang ikut sama lo sekarang. Mereka cuma hafal lo sama anggota klan yang lain, bukan gue. Kecuali lo udah ngumumin ke mana-mana kalau kita soulmate?” Tanpa bisa ditahan, Oikawa bertanya dengan skeptis.

“Dan lo selalu ngelarang gue keluar dari mobil setiap datengin tempat persembunyian senjata di sini. Terus fyi aja, gue juga belum bilang ke siapa-siapa kecuali temen-temen gue di klan bahwa gue udah nemuin soulmate. Jadi, yah, bisa dibilang gue invisible?”

Iwaizumi tak membalas apa pun, tetapi Oikawa tahu pria itu diam-diam mendengarkan.

“Lo bilang si Aone itu mau dateng ke suatu pesta, kan, nanti di Korea? Gue bisa nyamar dan ikut masuk ke pesta itu. Nanti di sana, antara gue bisa ngerayu dia buat bocorin di mana tempat persembunyian senjata satu lagi, atau—“

“Ngerayu?” Iwaizumi memotong dengan tajam.

Atau gue bisa pake kekerasan dan bawa orang itu ke tempat kalian buat diinterogasi. You choose.” Oikawa menyelesaikan tanpa memedulikan tatapan menusuk dari pria yang kini sudah berhenti mondar-mandir tersebut. “Lo harus mengakui kalau ini rencana yang bagus. Seandainya lo nggak keras kepala—“

“Tooru.” Dalam sekejap, pria itu sudah menghampirinya dalam langkah besar dan menariknya berdiri tanpa perlu bersusah payah. Proksimitas nyaris tanpa jarak itu mengingatkan Oikawa dengan kejadian di hutan saat sang Alpha menyentuhnya pertama kali. Oikawa pun membasahi bibirnya yang tiba-tiba terasa kering akibat gugup.

Gerakan kecil itu tentu saja tidak luput dari netra hijau sang Alpha. Namun cengkeraman yang cukup kuat di pergelangan tangannya membuat Oikawa tidak mampu memproses arti tatapan tersebut.

“Kalau aku nggak keras kepala, itu artinya aku nggak peduli sama kamu,” ucap pria itu dengan penuh penekanan. Cengkeraman di tangannya akhirnya mengendur sedikit meskipun tatapan pria itu masih sama menusuknya. “Kamu pikir aku bakal diem aja pas denger soulmate-ku sendiri ngusulin rencana kayak gitu?”

Oikawa menatap tanpa berkedip. Ucapan itu terlalu gamblang dan ia sungguh tidak menyiapkan hati untuk mendengarnya. Jantungnya memukul keras dadanya sampai ia ngeri sendiri seandainya Iwaizumi bisa mendengarnya.

“Gue udah bilang, gue bukan anak kecil,” Oikawa masih berusaha berargumen karena meskipun kekhawatiran pria itu memang beralasan, ia tidak mau hanya duduk dan berdiam diri. “Lo bilang gue bisa bantu klan ini. Tapi nyatanya, begitu kita sampai di sini lo nggak pernah ngebiarinin gue buat terjun langsung ke lapangan. Kenapa? Karena gue Omega? Jadi lo mau ngurung gue aja selamanya? Kalau gitu caranya, lo nggak ada bedanya sama Ayah gue— selalu ngelarang ini itu seolah-olah gue nggak bisa ngapa-ngapain.”

Oikawa yakin suaranya bergetar sedikit barusan. Ia sungguh tidak ingin menunjukkan kelemahannya, tetapi semua kata-kata itu terlontar begitu saja tanpa bisa ditahan— insekuritasnya, kesedihannya dan amarahnya yang selama ini ia pendam.

Bahkan itu saja belum setengahnya.

“Kalau lo emang berniat nerima gue di klan lo, maka lo harus bikin gue ngerasa berguna di sini. Gue nggak mau nerima pandangan yang sama dari anggota klan di sini. Gue nggak mau diliat sebagai orang yang lemah cuma karena posisi itu. Karena buat gue, itu nggak adil.” Oikawa melarikan tatapannya ke lantai— mendadak merasa terlalu letih untuk berbicara lebih banyak. “Nggak seharusnya kekuatan seseorang dinilai dari ranking semata. Tapi mungkin lo nggak bakal ngerti karena udah terlahir sebagai Alpha.” Oikawa mengakhirinya dengan nada kecut. Ia sudah sering mengalami hal seperti ini. Tapi kenapa perlakuan Iwaizumi yang sama seperti orang lain justru membuatnya merasa kecewa berkali-kali lipat?

Perlahan, Oikawa melepaskan cengkeraman pria itu di pergelangan tangannya.

“Gue capek, mau tidur. Terserah lo mau nyusun rencana kayak gimana. Gue nggak peduli.”

Baru Oikawa membalikkan badannya, kakinya langsung berhenti melangkah saat ada dua lengan yang merengkuhnya dari belakang. Oikawa terkesiap dan hanya mampu berdiri kaku sementara ada kehangatan yang langsung menjalar di sekujur tubuhnya saat punggungnya menempel dengan dada pria itu.

“Maaf…” Iwaizumi berbisik lirih. Hangat napasnya terasa sampai ke tengkuknya dan membuat perutnya bergejolak aneh. “Aku nggak tau kamu ngerasain hal kayak gitu selama ini. Aku… minta maaf.”

Oikawa tak cukup kuat untuk menggerakkan persendiannya yang seakan mati rasa. Jadi ia hanya pasrah ketika Iwaizumi semakin mengeratkan pelukannya.

Lagi pula, bukannya Oikawa tidak menyukai hantaran hangat dari tubuh pria itu—

“Aku pernah bikin kamu janji supaya nggak nempatin diri kamu dalam bahaya.” Iwaizumi melanjutkan dalam oktafnya yang paling rendah. Kalau Oikawa tidak salah dengar, ada setitik kesedihan yang begitu kentara di balik suaranya.

“Tapi sekarang, aku malah ngerasa kayak bakal nempatin kamu dalam bahaya.” Iwaizumi menghela napas dan sedikit melonggarkan rengkuhannya. Oikawa ingin protes, tapi ia langsung meredam keinginan konyol tersebut.

“Aku nggak pernah nganggap kamu lemah atau nggak mampu, Tooru. Tapi kita nggak pernah tau apa yang bisa terjadi di setiap rencana kayak gini.” Pria itu terdiam untuk beberapa sekon yang terhitung sangat lama sampai Oikawa menahan napasnya tanpa sadar.

“Aku cuma khawatir.”

Iwaizumi kini sudah benar-benar melepas pelukannya. Namun tangannya meraih kedua bahu Oikawa dan membalikkan tubuhnya perlahan sampai mereka berhadapan kembali.

“Kamu mau janji satu hal lagi?” tanya pria itu pelan— layaknya hembusan angin laut yang masuk lewat celah jendela.

Oikawa mengangguk— terlalu terkejut untuk mengeluarkan suara.

“Apa pun yang terjadi nanti, kamu harus kembali dalam keadaan hidup.” Iwaizumi mengucapkan per silabelnya dengan penuh kehati-hatian, juga ketegasan tak terbantah.

“Karena aku nggak mau lagi kehilangan orang-orang yang berharga.”


Woot, woot! I just realized that the starting point of this AU is kinda... rough? lmao (or is it just me?). Kayak, at some point kadang aku sendiri masih belum paham banget sama karakter dua orang ini. Thus, I'm trying so hard to 'break through' their characters seiring berjalannya cerita... biar kalian sendiri juga paham, hehe. Kalau kalian ngerasain kebingungan yang sama, either with the characters or the plot (tho I can't reveal much!), feel free to ask via DM, secreto or askfm! I'll be more than happy to answer it all!

@fakeloveros

Oikawa memasukkan gawainya ke dalam tas meskipun bunyi notifikasi pesan masuk masih berbunyi nyaring. Ia mengabaikannya karena tahu itu pasti dari Matsukawa dan meme-meme anehnya. Bukannya tidak ingin membalas pesan dari temannya, hanya saja dingin dari hujan yang semakin deras membuatnya ingin menghangatkan tubuh dengan kedua tangannya.

Sudah tidak bawa payung, pakaian yang hari ini ia kenakan pun sebatas kaus dan cardigan tipis. Lapisan itu mana mungkin bisa menghalau angin yang mulai menusuk sampai ke tulangnya.

Perhatiannya tersita ketika terdengar suara cipakan air dan sosok yang berlari dari kejauhan menghampirinya. Oikawa lantas tersenyum lebar begitu pria bersetelan jas lengkap yang datang sambil membawa payung tiba di hadapannya.

Di tengah napasnya yang terengah, Iwaizumi tersenyum kecil dan ikut berlindung dari tetesan air di bawah kanopi yang sama. Oikawa menghadap pria itu dan mulai menghapus jejak-jejak air di surai sang pria dengan sapu tangan miliknya.

“Maaf ya, kamu jadi repot-repot ke sini…”

Iwaizumi seakan tidak mendengar permintaan maaf tersebut dan malah memperhatikan Oikawa dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan kening yang mengerut dalam.

“Kamu keluar bajunya begini? Emangnya gak dingin? Udah tau lagi musim hujan. Mana kebiasaan suka lupa bawa payung,” omel pria itu seraya mulai melepas jasnya. “Nih, pake sebelum masuk angin.”

Oikawa menerima milik pria itu dengan senang hati. Setelah memakainya, ia menggosok-gosokkan kedua lengannya agar aroma bergamot yang menempel semakin menguar. Oikawa tersenyum dan langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang kekasih.

“Hehehe, makasih.”

Iwaizumi tidak membalas, namun ada dua lengan kokoh yang balas memeluknya erat. Mendadak, dinginnya cuaca seakan dikalahkan oleh hangatnya pelukan pria itu.

“Dingin.” Meskipun begitu, Oikawa berbohong hanya supaya rengkuhan pria itu di tubuhnya semakin mengerat.

“Kamu nggak kuat dingin?”

Oikawa menggeleng. Ia menghirup dalam-dalam campuran alami aroma tubuh kekasihnya, parfum dan hujan yang menempel sebelum menjawab.

“Biasa aja, tapi aku lebih nggak suka hujan.”

“Kenapa?”

“Dulu pas kecil aku pernah mimpi… hujan turuuun terus di bumi, pokoknya nggak berhenti-berhenti sampai kita semua tenggelam.”

Ada gumaman kecil yang terdengar di dekat telinganya sekaligus tangan yang mulai memainkan surainya dengan lembut.

“Kan tinggal berenang aja.”

“….aku nggak bisa berenang.” Oikawa mengakui dengan sedikit malu.

“Oh, ya?”

Kali ini Oikawa mengangguk dan langsung bertanya, “emang kamu bisa?”

“Aku pernah juara dulu pas SMP.”

Oikawa mendesah, lantas menjauhkan kepalanya dari ceruk leher sang pria.

“Kamu apa sih yang nggak bisa? Olahraga hampir bisa semua, di kuliah juga nilainya bagus terus, bisa masak, terus-“

“Ada yang aku nggak bisa.” Iwaizumi menyela sehingga membuat Oikawa mengatupkan bibirnya dalam sekon yang sama.

“Kamu nggak bisa apa?”

“Aku nggak bisa berhentiin hujan. Soalnya kamu kan nggak suka.”

Oikawa tertawa rendah. Tangannya menepuk pelan bahu prianya.

“Cheesy banget, ih. Belajar dari Kuroo, ya?”

Iwaizumi ikut tersenyum lalu menarik Oikawa kembali ke posisi awal. Mereka terus berpelukan di bawah nyanyian hujan yang masih berusaha membasahi setiap inci pijakan.

“Aku nggak bisa…” Tiba-tiba Iwaizumi kembali bersuara, meskipun sedikit teredam oleh bunyi hujan yang semakin menggila.

“Hm?” Oikawa menjauhkan wajahnya sedikit untuk menatap sisi wajah kekasihnya.

“Aku nggak bisa jamin kamu bakal bahagia selamanya sama aku.”

Oikawa terdiam, lantas mencubit pinggang Iwaizumi pelan sampai pria itu mengaduh kesakitan.

“Aku nggak minta kamu jadi cenayang. Lagian ngapain mikirin masa depan yang belum ketahuan bakal ada apa? Mending fokus sama apa yang kita punya sekarang. Kamu punya aku. Aku punya kamu. Gitu aja juga kita udah bahagia, kan?”

Oikawa sudah kembali memberi jarak di antara mereka untuk menatap Iwaizumi dengan serius tepat di manik mata. Pria itu membalas dan beberapa detik yang terasa begitu panjang setelahnya, melontarkan pertanyaan yang nyaris membuat Oikawa tersedak salivanya sendiri.

“Kalau udah lulus, kamu mau nggak nikah sama aku?”

Oikawa mengerjapkan matanya berulang kali. Ia tidak mungkin salah dengar karena meski sedang hujan, anehnya suara pria itu terdengar begitu nyaring di telinganya.

“Ini… kamu…” Oikawa tergagap. “Kamu ngelamar aku?”

Iwaizumi tersenyum kecil dan menyingkirkan poni Oikawa yang jatuh dan hampir menutup matanya.

“Belum, soalnya aku nggak punya cincinnya sekarang,” jawab pria itu dengan tenang. “Nanti aja, pas aku udah beli dan…” Iwaizumi kemudian mendongak ke arah langit malam yang masih mengucurkan substansinya. “Kalau cuacanya lagi cerah. Soalnya orang yang mau aku lamar nggak suka hujan ternyata.”

Oikawa yakin, sebentar lagi suara detak jantungnya pasti bisa mengalahkan derasnya air langit yang turun. Hatinya berdesir dengan limpahan kasih sayang untuk pria di hadapannya. Baru membayangkan bisa hidup selama yang ia mampu bersama Iwaizumi saja sudah membuatnya luar biasa bahagia.

Mungkin kalau pria itu benar-benar melamarnya sekarang, Oikawa tidak akan ragu untuk menjawab “iya”.

“Oke.” Oikawa menjawab seraya ikut mendongak ke arah langit, lalu kembali ke wajah pria itu. “Aku bakal tunggu sampai cuacanya cerah.”


Maklum di rumahku hujan lagi... maunya nulis yang anget-anget huhuhu...

@fakeloveros


cw // blood & minor character death


Kesan pertamanya saat melihat orang yang mengenalkan diri sebagai Miya Atsumu adalah betapa cerewetnya pria itu. Atsumu memperkenalkan diri sebagai teman sejak kecil Iwaizumi. Ia berada dalam tingkatan soldier sekaligus orang kepercayaan soulmate-nya. Atsumu bahkan menjelaskan siapa-siapa saja anggota keluarganya, termasuk saudara kembar, juga pasangannya sendiri, yaitu Kita Shinsuke.

Sebelum topik mereka mulai melenceng ke arah hobi pria itu, Oikawa buru-buru memotongnya.

“Jadi tes pertama nanti gue harus ngapain?”

“Oh, pertama lo harus tes defence sekaligus attack. Jadi nanti lo harus sparring sama salah satu anggota klan. Nggak susah, kan?” Atsumu menjawab enteng.

Oikawa tak menjawab. Di kepalanya mulai berputar teori-teori serta teknik bela diri yang selama ini dipelajarinya di klan. Apa pun yang terjadi, ia harus membuktikan bahwa dirinya mampu— bukan sekadar Omega lemah seperti anggapan orang-orang asing selama ini.

“Nanti tesnya bakal diliat sama orang-orang, tapi lo nggak usah gugup. Santai aja. Lagian bakal ada Iwaizumi juga— oh, itu orangnya!”

Oikawa mendongak dan hampir saja dia tersandung kakinya sendiri kalau tidak segera mengalihkan tatapannya ke arah lain. Karena di sana — beberapa langkah di hadapannya — Iwaizumi tengah berdiri mengawasi jalannya latihan tanpa ada sehelai benang pun yang menutupi bagian atas tubuhnya.

Oikawa menarik napas dalam-dalam. Namun sepertinya itu pun keputusan yang salah karena samar-samar ia bisa mencium aroma cokelat panas yang familier.

“Oy! Bos!” Atsumu berseru kencang dari sebelahnya sampai pria yang merasa dipanggil menoleh. “Ini soulmate lo udah gue bawa dengan selamat! Cepetan dimulai!”

Oikawa yakin, wajahnya sudah berubah merah sampai ke telinganya. Atensi orang-orang yang ada di sana langsung mengarah padanya, termasuk sang Alpha sendiri.

Jangan liat dia... Jangan liat dia... Jangan liat dia...

Oikawa mengulang kata-kata itu seperti mantra. Ia harus tetap fokus kalau ingin membuktikan bahwa dirinya mampu menjalani tes. Tetapi Iwaizumi yang kini mulai melangkah mendekatinya malah membuatnya sedikit panik sampai telapak tangannya berkeringat.

Ya gue tau sih ini lagi musim panas, tapi harus banget apa nggak pake baju kayak gitu?! Oikawa mengutuk dalam hati. Bukan hanya itu masalahnya, dalam sekali lirik pun Oikawa langsung bisa mendeteksi tatapan para wanita yang mengarah ke soulmate-nya seperti apa. Ia sendiri tidak heran— karena kulit kecokelatan pria yang seperti bersinar di bawah sinar matahari serta otot-otot yang terlihat keras itu sungguh menarik perhatian. Netra hijau gelapnya begitu kontras dan tengah menatapnya intens sehingga Oikawa buru-buru melempar pendangan ke arah hutan.

“Kalau gitu, kita mulai aja sekarang. Daichi, kamu yang bakal lawan dia.” Begitu Iwaizumi mengatakannya, seorang pria dengan potongan rambut cepak dan bahu lebar datang menghampiri mereka. “Pertandingan bakal selesai kalau salah satu dari kalian ada yang nyerah duluan. Keluarin semua teknik, nggak boleh pakai senjata dan dilarang menghabisi nyawa lawan.”

Omongan itu seharusnya ditujukan pada dua orang. Tetapi selama berbicara, tidak sekalipun Iwaizumi mengalihkan tatapannya dari Oikawa.

Tenggorokannya mendadak terasa kering dan yang mampu ia lakukan hanya mengangguk singkat. Setelahnya, mereka pindah ke sebuah arena di tengah lapangan dengan dikelilingi orang-orang yang bersorak sorai mendukung lawannya.

Seharusnya hal itu membuat Oikawa ciut, tapi yang ada justru keinginannya untuk membuktikan kemampuannya semakin berkobar. Ia ingin mengubah tatapan meremehkan orang-orang di klan itu menjadi segan terhadapnya.

“3... 2... 1... mulai!”

Tidak disangka, pria bernama Daichi itu langsung menyerangnya begitu Atsumu mengeluarkan aba-aba. Untunglah Oikawa memiliki refleks yang cukup bagus sehingga ia bisa menghindar tepat waktu. Oikawa memang lebih tinggi, tapi pria itu lebih besar darinya. Itu berarti, ia harus memanfaatkan kecepatan geraknya.

Mereka saling melingkari satu sama lain— berusaha memprediksi serangan berikutnya. Oikawa mencoba mengingat bagaimana dirinya dulu selalu berlatih bersama Kageyama ataupun Alisa dan mulai memasang kuda-kuda.

Seperti dugaannya, Daichi langsung menyerang. Namun kali ini, Oikawa sudah bersiap dan segera bergerak ke kiri untuk menghindar. Sebelum pria berbadan besar itu kembali menyerang, Oikawa segera memutar badan dan mengunci kaki lawannya sampai mereka berdua terjatuh. Oikawa kemudian mengerahkan seluruh tenaganya untuk menekan dan memosisikan kepala itu dalam jeratan lengannya.

Daichi meronta dalam kekangannya, namun usaha pria itu tanpa hasil. Setelah beberapa sekon, Daichi akhirnya menyatakan kekalahannya.

Oikawa segera bangkit dan mengulurkan tangan pada Daichi untuk membantunya berdiri. Setelahnya ia baru sadar penonton di sekitar mereka kembali berteriak, bahkan bertepuk tangan. Ada pandangan kagum yang dilemparkan padanya sehingga mau tak mau Oikawa merasa bangga pada dirinya sendiri.

Kendatipun begitu, ia hanya perlu mengetahui reaksi dari satu orang.

Netranya bergulir ke arah pria yang berdiri di pinggir arena pertandingan sambil bersedekap. Tatapannya sedikit tak terbaca, tetapi intensitasnya membuat Oikawa langsung memalingkan mukanya yang sudah semerah tomat.

Sepertinya sinar matahari mulai membuatnya kepalanya jadi sedikit aneh.

“Oke! Wow! Keren banget yang barusan! Berarti kita bisa lanjut sekarang,” ucap Atsumu yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelahnya dengan wajah bersemangat. “Karena selanjutnya tes endurance, jadi lo cuma perlu ngikutin Hinata buat ngelilingin wilayah klan ini. Sebentar ya— woy! Hinata! Sini!”

Dalam sekejap, seorang anak laki-laki yang jauh lebih pendek darinya datang seraya tersenyum lebar. Anak laki-laki itu memiliki rambut berwarna jingga yang hampir menyamai matahari tenggelam.

“Walaupun dia kecil begini, tapi tenaganya banyak banget. Jadi siap-siapa aja, ya,” ujar Atsumu sambil mengacungkan jempolnya dan mengedipkan mata.

“Hinata.”

Kali ini soulmate-nya ikut menghampiri dan berbicara dengan wajah serius.

“Usahakan kalian udah balik sebelum sore, ya.”

“Siap!”

Oikawa bertanya-tanya dalam hati kenapa mereka harus kembali sebelum sore. Tapi laki-laki berambut jingga itu sudah mulai berjalan ke arah hutan sehingga Oikawa buru-buru mengikutinya. Ia hanya menengok sekali ke belakang dan mendapati Iwaizumi tengah memperhatikannya.

Ternyata Atsumu tidak berbohong ketika mengatakan Hinata memiliki tenaga yang sangat banyak. Entah sudah berapa jam mereka berjalan, tapi pemuda itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda letih sementara peluh sebesar biji-biji jagung sudah mulai membasahi kulitnya.

Hinata dengan suara cerianya menjelaskan bagian-bagian hutan yang aman untuk didatangi maupun tidak; tidak aman karena di sana banyak dipasang jebakan, baik untuk hewan maupun manusia. Hinata juga menunjukkan batas wilayah headquarter klan mereka yang ternyata lebih luas dari perkiraannya. Pantas saja dulunya klan mereka saling berebut kekuasaan. Oikawa sekarang tidak heran kenapa klan ini disebut sebagai salah satu yang terkuat.

Mereka akhirnya mulai menapaki jalan menuju arah kembali ketika akhirnya Oikawa melayangkan sedikit permohonan.

“Apa kita... bisa istirahat sebentar?”

Hinata yang berjalan di depan menoleh padanya, lalu melihat ke arah langit di mana matahari mulai bersembunyi di balik awan. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan dan kalau tidak ingin kebasahan, jelas mereka harus mempercepat jalan. Tapi kaki Oikawa sepertinya akan patah kalau mereka menelusuri hutan dengan kecepatan yang sama seperti di awal.

“Nggak bisa... kita harus tetep lanjut jalan,” Hinata menggeleng dengan wajah sedikit panik. “Bisa gawat kalau keburu sore.”

“Emang kenapa kalau sampai sore?” tanya Oikawa di antara napasnya yang terengah. “Bakal ada hewan yang nyerang kita gitu?”

“Bukan, tapi—”

SRAAK

“Kak Shouyou?”

Oikawa menoleh dengan awas saat ada suara perempuan yang terdengar di balik semak-semak. Namun yang selanjutnya muncul hanyalah seorang anak perempuan berusia belia dengan rambut jingga terang— senada dengan pemuda yang menemaninya dari tadi.

“Natsu? Kamu ngapain ada di sini?!”

Perempuan kecil itu keluar dari semak-semak dan menghampiri mereka. Mata bulatnya menatap Oikawa dengan malu-malu sekaligus penuh rasa ingin tahu.

“Soalnya mau ketemu... soulmate-nya Kak Hajime...”

Hinata mengerang kemudian segera merangkul pundak — yang Oikawa asumsikan sebagai — adiknya.

“Kan bisa ketemu nanti... sekarang kita harus cepet balik. Sebentar lagi sore. Bahaya kalau kelamaan di sini.”

Kedua kakak beradik itu pun berjalan di depannya. Hinata terus-terusan menasihati adiknya tentang bahayanya pergi ke hutan seorang diri, terutama menjelang sore hari. Oikawa yang sudah terlalu letih, hanya mendengarkan setengah hati sementara benaknya mulai membayangkan kasurnya yang empuk.

Apa yang terjadi selanjutnya begitu cepat.

Tidak ada suara maupun gerakan mencurigakan di sekitar mereka. Namun tiba-tiba, perempuan kecil di hadapannya jatuh terjerembap ke belakang dan hampir saja menabrak Oikawa kalau dirinya tidak secara impulsif menghindar.

Tapi bukan itu yang membuatnya membeku di tempat.

Bagian depan baju perempuan itu dipenuhi darah— sangat banyak sampai di antara mereka tak ada yang bergerak selama sepersekian detik dan hanya menatap penuh kebingungan.

Oikawa tercekat saat menyadari darah itu berasal dari luka tembakan yang berasal tepat di jantung si anak perempuan berada. Dan darah itu keluar terus menerus. Tanpa henti— seakan ingin mewarnai kaus anak yang malang itu dengan warna baru.

Hinata jatuh terduduk dan menatap sosok adiknya yang sudah tak bergerak dengan tak percaya. Tangannya gemetar dan mulutnya membuka-menutup seperti ikan yang diangkat ke daratan. Oikawa sendiri langsung bergerak waspada dan memperhatikan sekeliling mereka. Ia sadar mereka harus segera kembali sekarang.

“Hinata! Kita—”

DOOR

Pemuda itu, meskipun tangannya masih gemetar dan tatapannya kosong, baru saja menembakkan pistol yang mengeluarkan asap berwarna ke udara. Oikawa yakin itu bentuk sinyal mereka. Meskipun begitu, ia tidak menurunkan kewaspadaannya sampai banyak suara dan gerakan yang perlahan mulai terdengar menghampiri.

Iwaizumi lah yang Oikawa lihat pertama kali dari gerombolan tersebut. Wajah pria itu terlihat tegang, dan rahangnya mengeras saat matanya sekilas menangkap Natsu yang sudah terbaring tak berdaya. Netra hijau itu kemudian beralih menatapnya dan dalam satu gerakan cepat, sang Alpha sudah berdiri di hadapannya.

“Kamu ada yang luka?” Iwaizumi bertanya— tangannya terangkat dan merengkuh kedua sisi wajah Oikawa seakan memeriksa kondisinya. Walaupun wajahnya diliputi kemarahan, tapi sentuhan di wajahnya terasa lembut, bahkan penuh kehati-hatian.

Oikawa menggeleng— sedikit banyak menyadari bahwa itu pertama kalinya Iwaizumi menyentuhnya. Ada aliran listrik yang menjalar di sekujur tubuhnya saat kulit mereka bersentuhan. Dan Oikawa langsung merasa kehilangan saat pria itu melepaskan tangannya.

“Gimana kejadiannya?”

Oikawa mengerjap— tersadar bahwa sang Alpha baru saja bertanya padanya.

“I-itu... kejadiannya cepet banget. G-gue nggak liat sama sekali... tiba-tiba... dia udah...” Oikawa menelan salivanya susah payah dan berusaha tidak menatap mayat anak perempuan yang masih mengucurkan darah tersebut.

“Atsumu, tolong bawa Tooru balik sekarang.”

Saat suara Iwaizumi kembali terdengar dan menyuruh pria yang dimaksud, Oikawa justru tidak langsung bergerak.

“T-tapi gue... bisa...”

“Jangan keluar rumah selangkah pun malam ini. Nanti bakal ada yang nemenin kamu di sana. Kalau ada apa-apa, kamu bisa hubungi aku,” ucap Iwaizumi dengan tegas— tidak menerima bantahan.

Oikawa tidak mengangguk, tapi juga tidak menggeleng. Tetapi ia pasrah saat akhirnya tangannya ditarik Atsumu untuk segera beranjak dari sana. Kepalanya menoleh ke belakang dan menyaksikan bagaimana Hinata mulai meraung dengan sedih dan tangisannya memenuhi hutan yang sepi.


@fakeloveros

Yachi selalu menyukai hari natal.

Pagi itu dirinya terbangun dengan cahaya berwarna putih menyelinap masuk melalui jendela kamarnya yang sedikit terbuka. Yachi menyipitkan matanya dan berpikir. Selang beberapa detik kemudian, matanya terbelalak lebar dan ia langsung melompat dari tempat tidur untuk menyibak jendela dan melihatnya langsung.

Putih.

Semua di hadapannya berwarna putih. Jalanan, pohon-pohon, atap rumah, juga mobil di seberang jalan, diselimuti oleh putih kesukaan Yachi. Dan setiap putih itu datang, dunia akan terasa lebih hening— bola dunia seakan beputar lebih lambat dan memberikan waktu bagi semua orang untuk berdiam diri di rumah bersama orang-orang terkasih selagi menikmati secangkir cokelat hangat.

Dan putih itu selalu membuat Yachi merasa bahagia dan sedih dalam waktu yang bersamaan.

“Yachi?”

Ada suara bariton halus masuk ke gendang telinganya. Dengan bersemangat, (walaupun tangannya cepat-cepat menghapus setitik air yang ada di ujung matanya) Yachi menoleh ke arah sumber suara sambil memamerkan senyum lebarnya.

“Selamat hari natal, Hinata.” Yachi mengucapkannya dengan begitu ceria, sampai-sampai pria yang diberi ucapan tersebut ikut tersenyum kecil karenanya. “Di luar turun salju!” Yachi melanjutkan seraya memfokuskan kembali atensinya ke arah luar jendela.

Kali ini Hinata tertawa pelan.

“Tadi aku juga udah liat.”

Hinata menyeberangi kamar sang perempuan dengan langkah halus untuk ikut berdiri di sebelah objek afeksinya yang masih menatap hamparan putih itu dengan mata yang berbinar-binar. Saking halusnya, Yachi sampai tidak menyadari bahwa Hinata sudah berdiri di sampingnya. Laki-laki itu kemudian menyingkap tirainya lebih jauh untuk sama-sama melihat pemandangan di luar.

Terkadang Yachi masih belum terbiasa dengan 'keahlian-keahlian' Hinata yang berada di luar nalar manusia. Jika langkah halusnya saja masih membuat Yachi terkejut, maka ia tidak berani membayangkan reaksinya jika melihat 'keahlian' lain pria itu. Bahkan tanpa 'keahlian-keahlian' itu pun, Hinata sudah terlihat begitu sempurna di matanya.

Terlalu indah, sampai terkadang hatinya terasa perih.

Dengan surai lembayung yang terlihat begitu halus, kulit yang menyaingi terangnya salju dan netra berwarna madu, Hinata sudah terlihat bersinar di mata Yachi.

Padahal lelaki itu memiliki suhu tubuh yang sama dinginnya dengan hamparan putih di luar sana.

Bedanya, jika hamparan salju itu ia genggam teksturnya akan berubah menjadi cair, maka jika menyentuh Hinata, keras lah yang akan dirasakan. Pria itu dingin, keras, tidak tidur dan hanya meminum darah sebagai penopang untuk bertahan hidup.

Objektif apa lagi yang cocok untuk menggambarkan Hinata selain kata vampir?

“Selamat natal.” Hinata membalas ucapannya setelah beberapa saat. Laki-laki itu lalu menoleh ke arah Yachi, dan memperlihatkan senyum lebarnya. Pandangannya sedikit tak terbaca, tapi itu bukan hal yang aneh lagi bagi Yachi. Entah karena setiap vampir memang jarang memperlihatkan emosinya, atau memang Hinata lah yang terlalu pandai menyembunyikan sentimennya.

Tatapan Yachi seolah terkunci pada manik mata yang menatapnya begitu lekat. Rasanya seolah-olah mereka berdua berada di dimensi lain; terkunci untuk menikmati waktu yang berhenti atas satu sama lain.

Walaupun begitu, tatapan Yachi masih menyiratkan emosi yang mendalam, dan Hinata tidak mengerti apa penyebabnya. Laki-laki itu bahkan tadi harus menahan diri untuk tidak segera menghancurkan pintu yang menghalanginya ketika menangkap aroma asin garam dan detak jantung Yachi yang mendadak memompa begitu kencang.

Namun sepertinya ia mengerti sekarang, setelah melihat tatapan perempuan itu terhadap hamparan salju di hadapannya. Hinata ingin bertanya untuk memastikan, tapi ia menahan diri dan lebih memilih untuk mencuri pandang pada cahaya putih yang jatuh di kulit Yachi, mata yang membulat penuh semangat, juga pipi yang bersemu merah dengan rambut acak-acakan sehabis bangun tidur.

Bagi Hinata, Yachi adalah manusia kecilnya yang indah, juga malang.

“Kamu nggak apa-apa?” Hinata akhirnya memutuskan untuk bertanya setelah sepuluh menit dan tiga-puluh detik berlalu. Pertanyaan dari Hinata pun menyadarkan Yachi kembali ke realita.

“A-aku ng-nggak apa-apa, k-kok,” Yachi menjawab sembari menggelengkan kepalanya. “Cu-cuma k-kangen aja sa-sama nu-nuan-s-sa nat-natal...”

Hinata mengerutkan keningnya, lalu mengumpat pelan setelah menyadari apa penyebab perempuan di sampingnya berbicara penuh gagap.

Yachi bahkan tidak sempat berpikir atau memproses apa yang baru saja Hinata lakukan. Satu detik tadi ia masih mengagumi pemandangan di luar sana, tetapi detik berikutnya badannya tiba-tiba terangkat dan sudah kembali menuju kasur.

“H-hinata! Ka-kamu nga-ngapain?!”

Hinata tidak menjawab. Laki-laki itu dengan lembut langsung membaringkan Yachi di kasurnya, dan menyelimutinya sampai menutupi dagu.

“Kamu kedinginan.” Hinata menyatakan fakta tersebut dengan nada yang terdengar sedikit tajam, berbanding terbalik dengan tangan lembutnya yang terus memastikan bahwa seluruh badan Yachi sudah terselubung hangat. “Kalau tadi aku nggak cepet bawa kamu ke kasur gimana? Kamu mau berdiri di sana terus sampai mati kedinginan?”

Kata-katanya memang terkesan kejam, tapi Yachi tahu Hinata tidak bermaksud seperti itu, dilihat dari kerutan dahi dan kekhawatiran yang tampak jelas di balik matanya.

“Aku nyalain penghangat, ya?” Daripada pertanyaan, kata-kata yang keluar dari mulut Hinata lebih terdengar seperti bujukan.

Tawaran tersebut terdengar sangat menggoda, namun hangatnya mesin yang dimaksud adalah suatu hal yang berharga dan perlu dibayarkan dengan uang; salah satu hal yang Yachi tidak banyak miliki dalam hidupnya.

Hinata menghela napas melihat ekspresi Yachi— tahu benar apa yang dipikirkan oleh perempuan itu. Yachi jadi ikut merasa bersalah dan sedikit malu. Padahal ini merupakan pagi natal mereka yang pertama, tapi belum apa-apa, Yachi merasa sudah menghancurkannya dengan tubuh manusianya yang lemah sehingga menyulitkan Hinata.

“Ha-harusnya a-aku bi-bikin sa-sarap-p-pan se-sekarang.”

Hinata menghela napas lagi mendengar Yachi yang berusaha mengalihkan topik.

“Aku bisa bikinin kamu sarapan,” laki-laki itu menawarkan. “Aku tau cara pakai kompor. Kemarin kamu sempet beli roti, telur, sosis sama susu. Oh ya, sama minuman cocoa.”

Untuk sesaat, Yachi lupa siapa dirinya dan siapa Hinata. Ada nada pahit yang terdeteksi dari ucapan Hinata barusan, dan Yachi langsung menyesalinya. Bagaimana bisa ia begitu bodoh sampai melupakan fakta tersebut?

Yachi sudah akan bangkit dan berkata sesuatu, tapi Hinata bergerak lebih cepat dan segera menahannya dengan tangan, juga tatapannya.

“Nggak usah bangun. Nanti aku bawain selimut lagi.” Yachi melihat tatapan laki-laki itu mengeras, lalu dengan gerakan kaku mulai mengambil jarak. “Aku nggak mau kamu kedinginan, Yachi.”

Yachi tidak berkata apa-apa dan hanya mengangguk. Apa pun yang ia utarakan, tidak akan bisa menurunkan keteguhan pria itu untuk merawat dirinya. Jadi Yachi hanya diam dan memperhatikan pria itu keluar-masuk kamarnya sambil membawakan banyak kain yang dijadikan selimut.

Setelah memastikan bahwa selimut yang dibawanya sudah cukup memberi kehangatan, Hinata kembali menghilang dengan langkahnya yang sunyi.

Yachi mencoba menjaga agar matanya tetap terbuka, tetapi cahaya putih yang masuk ke kamarnya dengan lembut, juga kehangatan yang menyelimuti, perlahan membuat kelopak matanya menjadi berat. Ia baru terbangun saat mencium aroma roti bakar, telur, sosis goreng, juga minuman cokelat panas yang familier.

Beberapa menit kemudian, Hinata muncul di pintu kamarnya sambil membawa sebuah nampan yang berisi makanan dan minuman tersebut.

Juga, dengan topi Santa yang terpasang di atas kepalanya. Padahal tadinya, topi itu Yachi letakkan di atas kulkas.

Yachi langsung tersenyum lebar. Kini ia merasa tidak hanya tubuhnya yang terasa hangat, tetapi hatinya pun ikut menghangat melihat aksi laki-laki tersebut. Tiba-tiba hari natalnya langsung terasa begitu indah.

Hinata meletakkan nampan di atas nakas sebelah tempat tidur Yachi dengan sedikit ragu. Namun keragu-raguan itu langsung hilang saat Hinata menangkap senyum halus yang diberikan Yachi untuknya.

“Jangan terlalu dipikirin.” Hinata mengatakannya dengan pelan, tanpa melihat ke arah Yachi. Pria itu mengambil piring berisi sosis dan telur, lalu memotong dan menusuk salah satu potongannya dengan garpu. “Kita... masih punya waktu seharian buat rayain natal. Natal masih bisa dirayain walaupun dari tempat tidur, kok.” Hinata lalu menyerahkan garpu itu pada Yachi.

Yachi menerimanya dengan senang hati dan langsung melahapnya. Sosis itu terasa dua kali jauh lebih enak, padahal itu hanyalah sosis murah yang biasa ia beli di supermarket. Namun begitu mendengar kalimat Hinata, dan makna lain di balik perkataannya, semburat merah langsung muncul di wajahnya. Ia pun berusaha menelan makanan yang masuk ke tenggorokannya tanpa membuat dirinya sendiri tersedak.

“I-iya, sih...” Yachi menjawab dengan suara pelan— berusaha menghalau pikiran ambigu yang mulai masuk ke dalam otaknya. “Boleh juga. Bukan ide yang buruk.”

Hinata melakukannya lagi— laki-laki itu menatap Yachi lebih lama dari seharusnya. Matanya terpaku pada semburat merah yang muncul dengan cantik di wajah Yachi. Namun Hinata cepat-cepat mengalihkan tatapannya sambil mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Diam-diam ia menyentuh ujung taringnya dengan lidahnya sendiri sambil berusaha meredam keinginan apa pun itu yang sempat muncul.

“Iya...” Hinata akhirnya membalas perkataan Yachi, tetapi kali ini matanya menatap ke arah luar jendela dengan pandangan tak terbaca. “Bukan ide yang buruk, kan?”


@fakeloveros


tw: slight violence


Terlahir dikelilingi oleh para Alpha tidak pernah membuat Alisa Haiba gentar sedikit pun meski dia sendiri hanyalah seorang Beta. Dari cerita-cerita yang pernah ia dengar, para wanita sering kali menemui Alpha yang kasar dan suka berbuat seenaknya. Namun anggapan itu dipatahkan di depan matanya sendiri begitu dia ikut pindah bersama orang tuanya ke sebuah kelompok yang juga merupakan salah satu klan mafia terkuat di negaranya.

Di klan ini ia tidak hanya menemukan teman, tetapi juga keluarga baru.

Seperti Oikawa dan Kageyama, contohnya.

Jadi ketika niatnya ingin menghibur Oikawa karena temannya itu terus-terusan bertingkah seperti orang aneh beberapa hari belakangan, bukan hasil seperti ini yang ia harapkan.

Bukan Oikawa yang tiba-tiba menghilang di depan matanya sendiri sehingga mau tak mau, ia menyalahkan keteledorannya karena telah meninggalkan temannya itu sendirian.

Tapi Alisa mengenal baik temannya itu. Oikawa mungkin satu-satunya Omega yang tidak ingin dianggap lemah yang pernah Alisa kenal. Oikawa tidak pernah absen mengikuti latihan pertahanan diri, selalu ingin melakukan segalanya sendiri, bahkan menyembunyikan rasa sakitnya sampai ada orang lain yang sadar.

(biasanya Alisa yang akan menyadari pertama kali, lalu mengobati pria itu sambil marah-marah.)

Jadi ia pun setengah hati mendengar perintah Kageyama, dan tetap pergi menjalankan misi konyolnya. Namun begitu kembali, temannya ternyata sudah raib diajak pergi oleh dua pria asing yang ia dan Kageyama periksa lewat CCTV.

Dan rekaman itulah yang tengah ia tunjukkan pada soulmate temannya— Iwaizumi Hajime berdiri dikelilingi oleh anggota klan mereka tanpa ada rasa khawatir sedikit pun dalam gerak-geriknya. Meskipun perjanjian gencatan senjata telah ditandatangani, bukankah setidaknya pria itu harus tetap waspada?

Alisa mengembalikan tatapannya pada pria yang masih memperhatikan rekaman CCTV dengan penuh konsentrasi. Untuk ukuran pria yang umurnya sepantaran dengan Oikawa, Iwaizumi termasuk besar sehingga menambah aura penuh intimidasinya. Mungkin karena pria itu juga seorang Alpha, entahlah, Alisa masih dibuat khawatir sekarang oleh hilangnya Oikawa dan ia hanya ingin cepat bergerak untuk menemukan temannya itu.

Alisa memperhatikan bagaimana tangan sang Alpha mengepal erat begitu tiba di bagian ketika Oikawa dihampiri oleh seorang pria asing. Secara alami, seorang Alpha pasti merasa lebih posesif ke Omega-nya, apalagi karena mereka berdua belum mengalami proses mating. Alisa tidak bisa membayangkan seberapa hebatnya Iwizumi menahan diri sekarang.

Video itu berakhir dengan adegan Oikawa yang ditarik paksa menuju keluar pintu sampai tak terlihat lagi. Sayangnya, di area dekat pintu keluar belakang, CCTV-nya sedang rusak sehingga mereka tak memiliki bukti lain. Hanya video itu satu-satunya petunjuk mereka.

“Jadi,” suara Ayah Oikawa lah yang memecahkan keheningan itu pertama kali. Ada urgensi di balik suara pria paruh baya tersebut. “Kamu tau siapa orang-orang itu?”

Semua mata menatap sang pendatang baru dengan penuh rasa ingin tahu. Rahang yang mengeras itu seolah menjadi pertanda bahwa apa yang akan mereka dengar bukanlah berita bagus.

“Saya tau salah satunya,” jawab Iwaizumi tanpa memandang siapa pun kecuali Ayah dari soulmate-nya. “Dan sepertinya saya juga tau ke mana Tooru dibawa oleh mereka.”

Tooru. Nama kecil temannya mengalir lancar dari mulut pria itu. Alisa mau tak mau merasa takjub. Dia tiba-tiba membayangkan bagaimana reaksi Oikawa jika mengetahui soulmate-nya sudah memanggilnya seperti itu.

“Kalau gitu, kita bisa pergi sekarang, kan?” tanya Alisa tanpa bisa menahan diri. Mereka sudah terlalu lama berdiam diri seperti ini. Apa pun bisa terjadi pada Oikawa di setiap detik yang mereka lewati sekarang.

Ada manik hijau yang bergulir ke arahnya, kemudian menatapnya tajam.

“Kita nggak boleh sembarang bergerak. Mereka bukan lawan biasa,” ucap pria itu dengan nada sedingin salju. Alisa bergidik tanpa sadar meskipun hawa musim panas begitu terasa. Namun ucapan tersebut berhasil membuatnya bungkam meskipun hatinya masih gelisah karena khawatir.

“Lagi pula, saya udah ngirim beberapa orang ke sana buat ngawasin gerak-gerik mereka.”

Iwaizumi menambahkan berbarengan dengan bunyi notifikasi yang terdengar dari gawai milik pria itu. Dalam satu gerakan cepat, ia mengeluarkan benda persegi itu dan membaca singkat pesan yang diterimanya. Semua yang ada di sekitar hanya mengawasi dalam diam dan menarik napas penuh antisipasi.

“Dan kita bisa pergi ke sana sekarang.”

Sang Alpha berbicara dengan nada final sebagai penutup rapat darurat mereka tengah malam itu. Wajahnya kembali mengeras meskipun jika Alisa tidak salah lihat, ada setitik kekhawatiran terdeteksi di balik netra hijaunya.

Entah di mana tempat yang dimaksud oleh Iwaizumi, tapi Alisa yakin, Oikawa pasti tidak berada dalam keadaan baik.


Oikawa terbangun saat merasakan ada nyeri di bagian tulang rusuknya. Ia mengambil napas tercekat, namun yang dirasakannya justru sakit yang semakin menusuk. Saat ingin bergerak menyentuh bagian tubuhnya yang terasa perih, barulah Oikawa tersadar dia tidak bisa bergerak banyak karena tangan dan kakinya diikat sangat kencang.

Oikawa menghela napas kasar dan melihat ke sekeliling ruangan yang gelap. Cahaya satu-satunya hanya berasal dari jendela kecil yang letaknya jauh mendekati atap. Selain itu, dirinya tak melihat jalan keluar apa pun yang bisa dimanfaatkannya. Sepertinya ia dikurung di sebuah gudang yang sangat luas.

Oikawa merutuk dalam hati. Bisa-bisanya dia terperangkap ke dalam tipuan dangkal seorang pria asing. Selama ini meskipun selalu waspada, tapi tidak pernah sekalipun ia menyangka akan ada yang mengincarnya di tempat seterbuka itu. Lagi pula, siapa kedua orang itu? Dari kelompok mana? Apakah dari klan musuh? Atau—

Pikirannya terhenti saat mendengar langkah-langkah kaki mendekat dari arah belakangnya. Namun belum sempat menoleh, ada tendangan bertubi-tubi yang kembali menyerang setiap inci bagian tubuhnya sampai ia mengerang kesakitan. Napasnya tersangkut dan Oikawa terbatuk-batuk demi mengumpulkan pasokan udara agar kembali memenuhi rongga dadanya.

Begitu pukulan-pukulan itu berhenti, Oikawa pikir orang-orang itu akan langsung pergi dan membiarkannya seperti tadi. Tetapi tanpa aba-aba, ada rasa sakit menyengat yang menjalar di sepanjang tubuhnya— dari ujung kaki hingga ujung kepala. Oikawa membuka dan menutup mulutnya tanpa bisa bersuara. Rasanya seperti dihujani ribuan jarum yang menguliti setiap lapisan kulitnya. Untuk sesaat, pandangannya seperti memutih dan pikirannya berubah kosong.

“Oh, kayaknya udah mulai bekerja tuh obatnya.”

Samar, Oikawa mendengar salah satu pria bersuara. Obat? Obat apa?

“Hmm… cepet juga ternyata, nggak sampai 30 menit,” balas yang satunya sambil menekan-nekan perutnya dengan ujung sepatu seolah ia hanyalah onggokan sampah. Oikawa ingin membalas mereka, atau sekadar melempar sumpah serapah, tapi tenaganya seperti tersedot habis dan yang bisa ia rasakan hanya sengatan tajam di sekujur tubuhnya.

“Bos pasti bakalan seneng, nih, kalau tau hasilnya bakal lancar begini,” ujar pria yang tiba-tiba berjongkok di depannya dan meraih wajahnya dengan kasar. Pria itu menyeringai dan dari balik kelopak matanya yang mulai berat, Oikawa mengenali salah satunya sebagai seseorang yang mengajaknya berbincang di bar semalam.

“Tenang aja, obat itu nggak bakalan langsung bikin lo mati, kok. Bos kita masih pengen nyiksa soulmate lo lebih lama lagi soalnya.”

Mendengar kata soulmate, membuat Oikawa mengerjapkan matanya untuk sesaat. Jadi mereka mengincar soulmate-nya? Apakah dia hanya dijadikan umpan sekarang?

Di balik kesadarannya yang mulai menghilang, Oikawa mendengar suara-suara ribut dari luar. Pria yang masih memegang wajahnya dengan kasar lantas berdiri sehingga menjatuhkan wajahnya ke atas lantai yang keras. Oikawa bahkan tidak sempat merasa kesakitan karena anggota tubuh bagian atasnya seperti mati rasa.

“Kayaknya mereka udah dateng.”

“Oke, itu sinyalnya. Ayo kita cepet pergi.”

“Sebentar.”

Oikawa mengerang saat ada tendangan keras dilayangkan ke perutnya. Ia meringkuk seperti anak kecil dengan tubuh yang gemetar hebat. Pandangannya sudah benar-benar kabur dan tidak ada tenaga yang tersisa, sekalipun untuk mengangkat jari-jarinya.

“Bilang ke soulmate lo itu, kalau sebentar lagi dia harus bayar perbuatannya sendiri.”

Kalimat itu diucapkan oleh pria yang barusan menendangnya terakhir kali sebelum mereka pergi dan meninggalkannya sendirian di lantai yang keras dan dingin. Perlahan, tubuhnya seakan menyerah dengan rasa sakit yang menyerangnya. Matanya mulai menutup dan otaknya seperti ditutupi awan tebal berwarna hitam.

Dan hal terakhir yang dilihatnya sebelum hilang kesadaran adalah pintu ruangan yang terbuka keras, juga wajah familier seorang pria bermata hijau gelap yang menatapnya penuh kengerian.


@fakeloveros

“Oh, this is so fun.”

Ucapan datar itu ditanggapi dengan sebuah pukulan keras di punggung sehingga pria yang menerimanya langsung mengaduh kesakitan.

“Jangan lemes gitu, dong, Kageyama! Kita kan ke sini mau ngehibur Oikawa!” seru Alisa berapi-api. Tangannya membuat gerakan-gerakan di udara yang menunjukkan antusiasmenya. Oikawa sendiri mulai curiga ini hanya taktik wanita itu agar mereka bisa pergi ke tempat penuh hingar bingar musik seperti sekarang.

Dan walaupun enggan mengakuinya, Oikawa pikir akan sulit untuk mengalihkan fokusnya ke hal lain sekarang. Namun teman wanitanya itu bersikeras bahwa bersenang-senang seperti ini akan membuatnya lupa untuk sementara.

Oikawa mendengus. Mana ada konsep seseorang bisa melupakan soulmate-nya semudah itu? Alisa berkata seperti itu karena belum bertemu saja dengan orang yang ditakdirkan untuknya.

Ah, persetan dengan takdir.

Oikawa menghabiskan minuman bening di gelasnya sampai tetes terakhir sementara kedua temannya masih meributkan hal yang tak penting.

“Ya udah, pokoknya ganti tuh ekspresi lo! Nggak enak banget diliatnya, masa ke sini muka lo masih aja kayak gitu, Kageyama?! Ceria dikit, kek!”

Kageyama mencibir— seolah perkataan Alisa tidaklah dianggap penting olehnya. Buktinya, pria itu masih saja berwajah datar dan terlihat cuek seperti biasa.

“Berisik. Gue mau ke toilet dulu. Kalian jangan ke mana-mana, ya. Jangan pergi sembarangan,” ucap pria itu meskipun kalimatnya lebih terdengar seperti ditujukan untuk Oikawa yang wajahnya mulai memerah akibat alkohol. Setelah Kageyama menghilang dari pandangan, Alisa mendesah keras.

“Ada cowok cakep arah jam 12…”

Oikawa mendongak dan mengikuti arah pandang wanita itu. Namun mau matanya mencari-cari pun, dia tidak menemukan orang yang dimaksud Alisa.

“Yang mana, sih?”

Alisa berdecak pendek. “Lo nggak bakal nemu orangnya. Sekarang kan buat lo yang cakep ya soulmate lo doang.”

Oikawa melengos malas, meskipun tidak membalasnya dengan argumen. Ia jadi sedikit kesal karena apa yang dikatakan Alisa ada benarnya. Padahal ia baru bertemu sekali dengan Iwaizumi, tapi rupa pria itu seperti sudah tertinggal di otaknya dan tak mau pergi. Yang ia ingat sekarang hanya netra gelap sang Alpha, rambut segelap obsidian dan aroma cokelat yang—

“Gue mau nyamperin cowok itu! Lo tunggu di sini, ya!”

Oikawa seakan terhempas kembali ke bumi begitu didengarnya suara Alisa mengumumkan dengan semangat. Ia bahkan belum menjawab, tapi temannya itu keburu hilang dari pandangan.

“Ngehibur gue belah mananya ini kalau malah ditinggal sendiri...” Oikawa berguman pada dirinya sendiri sambil menghela pasrah.

“Kenapa? Bukannya lebih enak sendirian, ya?”

Oikawa menoleh cepat saat ada suara baru bergabung dengannya. Tombol kewaspadaannya langsung menyala begitu didapatinya ada seorang pria tinggi dengan dandanan nyentrik duduk di sebelahnya. Pria itu tersenyum sekilas sebelum melambai pada bartender dan memesan nama minuman yang belum pernah didengar Oikawa sebelumnya.

“Nih, buat lo yang lagi sendirian,” ucap pria itu diikuti sebuah kedipan mata seraya mendorong gelas berisi cairan berwarna merah muda ke arahnya. Oikawa tak langsung menerimanya. Bertahun-tahun dilatih untuk waspada terhadap orang asing, cukup mengajarinya satu hal; jangan pernah menerima minuman dari orang yang tak dikenal. Itu aturan dasar.

“No, thanks,” tolaknya singkat dengan seulas senyum sopan. Bagaimanapun, ia hargai usaha pria itu.

“Yah, kok gitu? Kenapa? Lo curiga ya, minuman ini gue apa-apain? Emang lo nggak liat tadi habis bartender ngasih, langsung gue kasihin ke lo?”

Oikawa melirik ke arah bartender yang masih sibuk melayani pengunjung lain. Ia memang melihat dengan mata kepala sendiri saat bartender itu meletakkan gelasnya di atas meja, kemudian pria asing di sebelahnya langsung mendorong gelas itu ke arahnya.

Jadi seharusnya… tidak akan ada yang terjadi, bukan?

“Oke kalau gitu. Thanks.” Oikawa berucap pelan sebelum meraih gelas itu dan mulai menyesapnyaa. Ada manis, sedikit asam dan aroma menyegarkan memenuhi indra perasanya. Tanpa sadar Oikawa langsung meminumnya sampai habis.

Pria asing yang ada di sebelahnya hanya tersenyum selagi mengawasinya.

“Enak, kan?” tanyanya setelah Oikawa meletakkan gelasnya dengan suara kencang ke atas meja.

Oikawa mengangguk, kemudian mulai membuat pola-pola abstrak di atas meja ketika pria asing itu mengajaknya berbincang.

“Tapi beneran deh, dateng ke tempat kayak gini emang lebih enak sendirian. Lo jadi bisa nikmatin waktu sebebasnya tanpa ada yang ngawasin. Yah, kecuali… kalau lo sebenernya udah punya—” Pria itu menghentikan omongannya dengan sedikit ragu.

“Soulmate?” Oikawa membantu menyelesaikannya.

Pria itu mengangguk. “Lo punya?”

“Ada,” jawab Oikawa singkat dengan bayangan pria berkulit kecokelatan yang lagi-lagi mampir ke pikirannya.

Pria itu menarik napas terkejut. “Dan soulmate lo ngebiarinin lo pergi gitu aja ke sini? Eh, sebentar, lo Alpha, kan?”

Oikawa menghentikan gerakan tangannya dan mulai bergerak di kursinya dengan tak nyaman. Ia memang selalu meminum obat penekan feromon agar identitasnya sebagai Omega tidak diketahui umum. Dan pertanyaan barusan seperti menusuknya tepat di ulu hati.

“Gue…” Oikawa berdeham dan membuat gerakan berdiri. “G-gue kayaknya mau nyari temen-temen gue du—”

Namun ucapannya tidak selesai karena Oikawa dikagetkan dengan gelombang vertigo yang menyerangnya tiba-tiba. Ia sampai harus berpegangan pada kursi supaya tidak terjatuh. Oikawa menggelengkan kepalanya berulang kali— berusaha mengusir kunang-kunang yang mendadak muncul dan mengaburkan pandangannya.

“Lo kenapa? Pusing, ya? Coba ke sini dulu yang agak lengang.”

Oikawa tak sanggup melawan saat pria asing itu tahu-tahu menghampirinya dan membantunya berdiri dengan mudah. Tangan pria itu melingkar di punggungnya dan menuntunnya pergi menjauh dari bar menuju pintu keluar belakang.

“T-tunggu! Gue nggak—”

Dengan sisa kekuatannya, Oikawa berusaha mendorong pria itu. Namun mendadak seperti ada tangan dari sisi lain yang menariknya sampai keluar. Bahkan sebelum Oikawa sempat menghirup udara luar, pandangannya jadi semakin gelap.

Dan hal terakhir yang dilihatnya sebelum kesadarannya menghilang adalah seringai dua pria asing yang tengah menatapnya puas.


“Nggak ada yang mencurigakan malem ini.”

Pria dengan netra zaitun gelap itu hanya melirik sekilas sebelum kembali ke dokumen-dokumen yang berserakan di atas meja. Sedangkan temannya yang baru datang, langsung menghempaskan diri ke atas sofa sambil mengerang.

“Apa habis ini lo mau cek lagi sendiri?” tanya Atsumu sambil mengipas-ngipas wajahnya yang penuh peluh.

“Nggak, gue percaya sama lo.”

“Tumben? Biasanya lo suka mastiin lagi sendiri,” ucap Atsumu dengan nada sedikit menggoda. “Emang lagi males atau… mikirin hal lain?”

Ekspresi di wajah Iwaizumi tidak berubah sedikit pun kendati ia tahu ada makna khusus di balik ucapan temannya.

“Kalau lo nggak bisa liat, banyak laporan yang masih harus gue baca malem ini,” ucapnya datar tanpa mengangkat wajahnya sama sekali. Meskipun begitu, sosok pria dengan manik cokelat susu langsung melintas di benaknya.

Atsumu hanya berguman panjang seraya mengetuk-ngetukkan tangannya di atas sofa.

“Gue masih nggak paham kenapa lo nggak maksa Oikawa buat langsung tinggal di sini. Aturannya kan udah begitu. Bukannya dia Omega, ya?”

Oikawa. Mendengar nama soulmate-nya disebut saja, langsung memunculkan sensasi aneh dalam perutnya. Seperti ada sayap-sayap kecil berterbangan di dalam dan menggelitiknya. Namun Iwaizumi hanya mampu menghela napas saat teringat dengan jawaban sarat kebencian yang diutarakan pria itu tempo lalu.

“Dianya nggak mau.” Jadi hanya jawaban singkat itulah yang bisa ia berikan.

“Ya tapi nggak bakal selamanya kan kalian pisah gini? Gimana pas dia heat nanti terus lo nggak ada? Emangnya lo—”

“Gue bakal ngeyakinin dia,” potong Iwaizumi tajam. Membayangkan Oikawa harus melewati itu tanpa dirinya saja sudah membuat darahnya mendidih.

“Caranya?”

“Gue bakal— shit!

Seperti ada dorongan tak kasat mata, Iwaizumi hampir terjerambap ke belakang kalau saja tangannya tidak segera meraih ujung meja. Ia memegang kepalanya yang tiba-tiba pening sebelum sakit itu menghilang sedetik kemudian. Iwaizumi mengerjapkan matanya sampai pandangannya jelas kembali dan mendapati Atsumu tengah menghampirinya dengan ekspresi khawatir.

“Kenapa? Lo ada yang sakit atau giman—”

“Bukan gue.” Iwaizumi tiba-tiba menegakkan diri dan langsung meraih gawainya dari atas meja. Tatapannya mengeras saat tangannya dengan cepat menghubungi satu nomor.

“Tapi Oikawa. Dia lagi dalam bahaya.”


@fakeloveros

“Kamu yakin nggak mau apa-apa?”

“Iya, Tooru.”

“Serius nggak ada?”

“Serius, sayang.”

Oikawa meniup poninya yang tidak sengaja jatuh di depan matanya dengan frustrasi. Rasanya dia sudah menanyakan perihal itu puluhan— tidak, ia yakin sudah ratusan kali, tetapi jawaban yang dilontarkan Iwaizumi selalu sama.

Pria dengan netra gelap itu mengatakan dengan lugas bahwa dirinya tidak menginginkan apa pun untuk ulang tahunnya minggu depan.

“Lagian udah umur segini emang masih penting ya, ngerayain ulang tahun?” Pertanyaannya justru dilempar balik oleh kekasihnya itu.

“Setahun lalu kita masih ngerayain,” sanggah Oikawa tak mau kalah.

“Itu bukan ngerayain ulang tahunku tapi, lebih ke tukeran kado aja.”

Oikawa mendengus — membenarkan dalam hati. Bahkan tahun lalu dirinya masih belum tahu kapan ulang tahun Iwaizumi. Ia memang memberikan hadiah, walaupun saat itu niatnya lebih ke “hadiah perpisahan”.

Dan membicarakan soal “hadiah”, benda yang ia berikan tahun lalu pun masih melingkar dengan setia di pergelangan tangan sang pria. Gelang yang diberikannya tidak pernah dilepas sama sekali, kecuali saat Iwaizumi mendadak diajak practice match oleh tim voli. Alasannya, sih, karena takut copot dan terlempar.

Sejujurnya, tanpa bertanya pun Oikawa bisa saja memberikan lagi kekasihnya suatu barang. Tapi Iwaizumi terlalu berkecukupan sehingga apa pun yang dilihatnya di etalase pusat perbelanjaan, Oikawa yakin Iwaizumi mampu membelinya sendiri.

Oikawa pun tadinya ingin bersikap romantis dan memasakkan sesuatu untuk pria itu. Tapi memikirkan keselamatan dapur apartemen prianya, juga hal-hal tidak mengenakkan yang bisa mengganggu pencernaan mereka, membuat Oikawa mencoret opsi tersebut.

“Kamu yakin lagi nggak pengen apa-apa? Apa aja! Serius! Pasti bakal aku beliin. Oh, atau tempat yang mau dikunjungin, mungkin?” tanya Oikawa untuk kesekian kalinya dengan putus asa. Iwaizumi mungkin akhirnya dapat mendeteksi keputusasaan tersebut karena pria itu langsung menurunkan iPad-nya dan menatap Oikawa lekat tepat di manik mata.

Oikawa mencondongkan tubuhnya ke depan — berpikir bahwa akhirnya Iwaizumi akan memberinya jawaban.

“Kamu.”

“Hah?”

“Aku mau kamu.”

Oikawa mengerjapkan netra cokelat susunya untuk beberapa sekon — menduga bahwa ia telah salah dengar, walau tentu saja indra pendengarannya masih bekerja dengan sangat baik. Dan jawaban Iwaizumi barusan terdengar senyaring bel musim panas.

“Kamu mau— hah? Maksudnya?” Oikawa menyuarakan isi kepalanya yang mulai melaju ke mana-mana. “Mau aku... gimana maksudnya?” tanyanya lagi dengan semburat merah yang mulai menghiasi.

Iwaizumi tertawa pelan. Jenis tawa yang setahun belakangan menjadi favorit Oikawa karena ketika pria itu tertawa, matanya akan menghilang jadi segaris dan bariton suaranya terdengar lebih lembut. Jenis tawa yang tidak akan diperlihatkan pada siapa pun kecuali Oikawa seorang.

“Maksudku bukan kayak gitu.”

Oh. “Oh, terus?”

“Tunggu aja nanti pas aku ulang tahun, kamu juga bakal ngerti.”

Hah? “Gimana? Loh, jadi aku harus nyiapin apa?” Oikawa tahu Iwaizumi memang pintar, namun terkadang jalan pikiran pria itu sungguh sulit ditafsirkan.

“Ya nyiapin diri kamu aja,” jawab pria itu dengan makna yang sama — namun tetap tak dipahami Oikawa.

“Ngomong apa, sih? Nggak tau, ah. Dasar nggak jelas,” ucap Oikawa kesal seraya menyenderkan tubuhnya ke sandaran sofa dengan bibir yang sedikit dimajukan. Ia bukan bermaksud ngambek dengan kekasihnya itu, tetapi jawaban berputar Iwaizumi justru membuatnya semakin frustrasi memikirkan hadiah apa yang harus diberikannya.

“Yah, kok ngambek?” Iwaizumi meletakkan gawainya ke atas meja, lalu dengan sigap langsung memeluknya dari samping. Pria itu meletakkan dagunya di atas bahu Oikawa sambil bergumam panjang. Seperti sudah bagian dari instingnya, Oikawa refleks meletakkan tangannya di atas milik sang pria.

“Tapi aku beneran, kamu nggak perlu nyiapin apa-apa. Cukup ngabisin waktu berdua aja sama aku pas hari itu. Bisa, kan?”

Mendengar permintaan sederhana tersebut, Oikawa memutar kedua bola matanya. Tanpa ditanya pun ia pasti akan melakukannya. Bahkan tak perlu sampai harus menunggu hari perayaan kelahiran kekasihnya tiba.

“Itu pertanyaan retoris?” jawabnya dengan nada sedikit dibuat jutek — seakan dia masih marah dengan konsep tidak perlu memberikan hadiah apa pun bagi kekasihnya. Tapi kalau memang Iwaizumi sendiri yang berkata begitu, dia bisa apa?

Pria yang merengkuhnya lagi-lagi tertawa. Cahaya matahari sore mulai menyelinap dari balik jendela sehingga menghantarkan nuansa lembut di ruangan berisi pasangan tersebut. Bahkan ketika sudah hampir setahun bersama, pemandangan seperti ini terkadang masih sulit diterima akal sehatnya. Seolah ini mimpi dan Oikawa bisa terbangun kapan saja.

Tapi cahaya di luar yang perlahan tenggelam, sama nyatanya dengan dua lengan kokoh yang masih memeluknya erat. Hangatnya pun bukan sekadar khayalan; tetap terasa meskipun tak seintens predikat apa pun yang bisa ia kalimatkan utuh sebagai perasaannya untuk pria itu.

Ulang tahunnya bahkan masih sebulan lagi, tapi Oikawa kira, ia sudah mendapatkan hadiahnya sejak setahun yang lalu.

Dan dia akan selalu mensyukuri hadiah yang sama untuk tahun-tahun berikutnya sampai Tuhan tak lagi mengizinkan jantungnya memompa, serta menghirup udara yang sama dengan kekasihnya.

Itu berarti, selamanya kalau bisa.

Happy birthday, Iwa-chan!! @fakeloveros (June 10, 2021)