Sudden Attack
cw // blood & minor character death
Kesan pertamanya saat melihat orang yang mengenalkan diri sebagai Miya Atsumu adalah betapa cerewetnya pria itu. Atsumu memperkenalkan diri sebagai teman sejak kecil Iwaizumi. Ia berada dalam tingkatan soldier sekaligus orang kepercayaan soulmate-nya. Atsumu bahkan menjelaskan siapa-siapa saja anggota keluarganya, termasuk saudara kembar, juga pasangannya sendiri, yaitu Kita Shinsuke.
Sebelum topik mereka mulai melenceng ke arah hobi pria itu, Oikawa buru-buru memotongnya.
“Jadi tes pertama nanti gue harus ngapain?”
“Oh, pertama lo harus tes defence sekaligus attack. Jadi nanti lo harus sparring sama salah satu anggota klan. Nggak susah, kan?” Atsumu menjawab enteng.
Oikawa tak menjawab. Di kepalanya mulai berputar teori-teori serta teknik bela diri yang selama ini dipelajarinya di klan. Apa pun yang terjadi, ia harus membuktikan bahwa dirinya mampu— bukan sekadar Omega lemah seperti anggapan orang-orang asing selama ini.
“Nanti tesnya bakal diliat sama orang-orang, tapi lo nggak usah gugup. Santai aja. Lagian bakal ada Iwaizumi juga— oh, itu orangnya!”
Oikawa mendongak dan hampir saja dia tersandung kakinya sendiri kalau tidak segera mengalihkan tatapannya ke arah lain. Karena di sana — beberapa langkah di hadapannya — Iwaizumi tengah berdiri mengawasi jalannya latihan tanpa ada sehelai benang pun yang menutupi bagian atas tubuhnya.
Oikawa menarik napas dalam-dalam. Namun sepertinya itu pun keputusan yang salah karena samar-samar ia bisa mencium aroma cokelat panas yang familier.
“Oy! Bos!” Atsumu berseru kencang dari sebelahnya sampai pria yang merasa dipanggil menoleh. “Ini soulmate lo udah gue bawa dengan selamat! Cepetan dimulai!”
Oikawa yakin, wajahnya sudah berubah merah sampai ke telinganya. Atensi orang-orang yang ada di sana langsung mengarah padanya, termasuk sang Alpha sendiri.
Jangan liat dia... Jangan liat dia... Jangan liat dia...
Oikawa mengulang kata-kata itu seperti mantra. Ia harus tetap fokus kalau ingin membuktikan bahwa dirinya mampu menjalani tes. Tetapi Iwaizumi yang kini mulai melangkah mendekatinya malah membuatnya sedikit panik sampai telapak tangannya berkeringat.
Ya gue tau sih ini lagi musim panas, tapi harus banget apa nggak pake baju kayak gitu?! Oikawa mengutuk dalam hati. Bukan hanya itu masalahnya, dalam sekali lirik pun Oikawa langsung bisa mendeteksi tatapan para wanita yang mengarah ke soulmate-nya seperti apa. Ia sendiri tidak heran— karena kulit kecokelatan pria yang seperti bersinar di bawah sinar matahari serta otot-otot yang terlihat keras itu sungguh menarik perhatian. Netra hijau gelapnya begitu kontras dan tengah menatapnya intens sehingga Oikawa buru-buru melempar pendangan ke arah hutan.
“Kalau gitu, kita mulai aja sekarang. Daichi, kamu yang bakal lawan dia.” Begitu Iwaizumi mengatakannya, seorang pria dengan potongan rambut cepak dan bahu lebar datang menghampiri mereka. “Pertandingan bakal selesai kalau salah satu dari kalian ada yang nyerah duluan. Keluarin semua teknik, nggak boleh pakai senjata dan dilarang menghabisi nyawa lawan.”
Omongan itu seharusnya ditujukan pada dua orang. Tetapi selama berbicara, tidak sekalipun Iwaizumi mengalihkan tatapannya dari Oikawa.
Tenggorokannya mendadak terasa kering dan yang mampu ia lakukan hanya mengangguk singkat. Setelahnya, mereka pindah ke sebuah arena di tengah lapangan dengan dikelilingi orang-orang yang bersorak sorai mendukung lawannya.
Seharusnya hal itu membuat Oikawa ciut, tapi yang ada justru keinginannya untuk membuktikan kemampuannya semakin berkobar. Ia ingin mengubah tatapan meremehkan orang-orang di klan itu menjadi segan terhadapnya.
“3... 2... 1... mulai!”
Tidak disangka, pria bernama Daichi itu langsung menyerangnya begitu Atsumu mengeluarkan aba-aba. Untunglah Oikawa memiliki refleks yang cukup bagus sehingga ia bisa menghindar tepat waktu. Oikawa memang lebih tinggi, tapi pria itu lebih besar darinya. Itu berarti, ia harus memanfaatkan kecepatan geraknya.
Mereka saling melingkari satu sama lain— berusaha memprediksi serangan berikutnya. Oikawa mencoba mengingat bagaimana dirinya dulu selalu berlatih bersama Kageyama ataupun Alisa dan mulai memasang kuda-kuda.
Seperti dugaannya, Daichi langsung menyerang. Namun kali ini, Oikawa sudah bersiap dan segera bergerak ke kiri untuk menghindar. Sebelum pria berbadan besar itu kembali menyerang, Oikawa segera memutar badan dan mengunci kaki lawannya sampai mereka berdua terjatuh. Oikawa kemudian mengerahkan seluruh tenaganya untuk menekan dan memosisikan kepala itu dalam jeratan lengannya.
Daichi meronta dalam kekangannya, namun usaha pria itu tanpa hasil. Setelah beberapa sekon, Daichi akhirnya menyatakan kekalahannya.
Oikawa segera bangkit dan mengulurkan tangan pada Daichi untuk membantunya berdiri. Setelahnya ia baru sadar penonton di sekitar mereka kembali berteriak, bahkan bertepuk tangan. Ada pandangan kagum yang dilemparkan padanya sehingga mau tak mau Oikawa merasa bangga pada dirinya sendiri.
Kendatipun begitu, ia hanya perlu mengetahui reaksi dari satu orang.
Netranya bergulir ke arah pria yang berdiri di pinggir arena pertandingan sambil bersedekap. Tatapannya sedikit tak terbaca, tetapi intensitasnya membuat Oikawa langsung memalingkan mukanya yang sudah semerah tomat.
Sepertinya sinar matahari mulai membuatnya kepalanya jadi sedikit aneh.
“Oke! Wow! Keren banget yang barusan! Berarti kita bisa lanjut sekarang,” ucap Atsumu yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelahnya dengan wajah bersemangat. “Karena selanjutnya tes endurance, jadi lo cuma perlu ngikutin Hinata buat ngelilingin wilayah klan ini. Sebentar ya— woy! Hinata! Sini!”
Dalam sekejap, seorang anak laki-laki yang jauh lebih pendek darinya datang seraya tersenyum lebar. Anak laki-laki itu memiliki rambut berwarna jingga yang hampir menyamai matahari tenggelam.
“Walaupun dia kecil begini, tapi tenaganya banyak banget. Jadi siap-siapa aja, ya,” ujar Atsumu sambil mengacungkan jempolnya dan mengedipkan mata.
“Hinata.”
Kali ini soulmate-nya ikut menghampiri dan berbicara dengan wajah serius.
“Usahakan kalian udah balik sebelum sore, ya.”
“Siap!”
Oikawa bertanya-tanya dalam hati kenapa mereka harus kembali sebelum sore. Tapi laki-laki berambut jingga itu sudah mulai berjalan ke arah hutan sehingga Oikawa buru-buru mengikutinya. Ia hanya menengok sekali ke belakang dan mendapati Iwaizumi tengah memperhatikannya.
Ternyata Atsumu tidak berbohong ketika mengatakan Hinata memiliki tenaga yang sangat banyak. Entah sudah berapa jam mereka berjalan, tapi pemuda itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda letih sementara peluh sebesar biji-biji jagung sudah mulai membasahi kulitnya.
Hinata dengan suara cerianya menjelaskan bagian-bagian hutan yang aman untuk didatangi maupun tidak; tidak aman karena di sana banyak dipasang jebakan, baik untuk hewan maupun manusia. Hinata juga menunjukkan batas wilayah headquarter klan mereka yang ternyata lebih luas dari perkiraannya. Pantas saja dulunya klan mereka saling berebut kekuasaan. Oikawa sekarang tidak heran kenapa klan ini disebut sebagai salah satu yang terkuat.
Mereka akhirnya mulai menapaki jalan menuju arah kembali ketika akhirnya Oikawa melayangkan sedikit permohonan.
“Apa kita... bisa istirahat sebentar?”
Hinata yang berjalan di depan menoleh padanya, lalu melihat ke arah langit di mana matahari mulai bersembunyi di balik awan. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan dan kalau tidak ingin kebasahan, jelas mereka harus mempercepat jalan. Tapi kaki Oikawa sepertinya akan patah kalau mereka menelusuri hutan dengan kecepatan yang sama seperti di awal.
“Nggak bisa... kita harus tetep lanjut jalan,” Hinata menggeleng dengan wajah sedikit panik. “Bisa gawat kalau keburu sore.”
“Emang kenapa kalau sampai sore?” tanya Oikawa di antara napasnya yang terengah. “Bakal ada hewan yang nyerang kita gitu?”
“Bukan, tapi—”
SRAAK
“Kak Shouyou?”
Oikawa menoleh dengan awas saat ada suara perempuan yang terdengar di balik semak-semak. Namun yang selanjutnya muncul hanyalah seorang anak perempuan berusia belia dengan rambut jingga terang— senada dengan pemuda yang menemaninya dari tadi.
“Natsu? Kamu ngapain ada di sini?!”
Perempuan kecil itu keluar dari semak-semak dan menghampiri mereka. Mata bulatnya menatap Oikawa dengan malu-malu sekaligus penuh rasa ingin tahu.
“Soalnya mau ketemu... soulmate-nya Kak Hajime...”
Hinata mengerang kemudian segera merangkul pundak — yang Oikawa asumsikan sebagai — adiknya.
“Kan bisa ketemu nanti... sekarang kita harus cepet balik. Sebentar lagi sore. Bahaya kalau kelamaan di sini.”
Kedua kakak beradik itu pun berjalan di depannya. Hinata terus-terusan menasihati adiknya tentang bahayanya pergi ke hutan seorang diri, terutama menjelang sore hari. Oikawa yang sudah terlalu letih, hanya mendengarkan setengah hati sementara benaknya mulai membayangkan kasurnya yang empuk.
Apa yang terjadi selanjutnya begitu cepat.
Tidak ada suara maupun gerakan mencurigakan di sekitar mereka. Namun tiba-tiba, perempuan kecil di hadapannya jatuh terjerembap ke belakang dan hampir saja menabrak Oikawa kalau dirinya tidak secara impulsif menghindar.
Tapi bukan itu yang membuatnya membeku di tempat.
Bagian depan baju perempuan itu dipenuhi darah— sangat banyak sampai di antara mereka tak ada yang bergerak selama sepersekian detik dan hanya menatap penuh kebingungan.
Oikawa tercekat saat menyadari darah itu berasal dari luka tembakan yang berasal tepat di jantung si anak perempuan berada. Dan darah itu keluar terus menerus. Tanpa henti— seakan ingin mewarnai kaus anak yang malang itu dengan warna baru.
Hinata jatuh terduduk dan menatap sosok adiknya yang sudah tak bergerak dengan tak percaya. Tangannya gemetar dan mulutnya membuka-menutup seperti ikan yang diangkat ke daratan. Oikawa sendiri langsung bergerak waspada dan memperhatikan sekeliling mereka. Ia sadar mereka harus segera kembali sekarang.
“Hinata! Kita—”
DOOR
Pemuda itu, meskipun tangannya masih gemetar dan tatapannya kosong, baru saja menembakkan pistol yang mengeluarkan asap berwarna ke udara. Oikawa yakin itu bentuk sinyal mereka. Meskipun begitu, ia tidak menurunkan kewaspadaannya sampai banyak suara dan gerakan yang perlahan mulai terdengar menghampiri.
Iwaizumi lah yang Oikawa lihat pertama kali dari gerombolan tersebut. Wajah pria itu terlihat tegang, dan rahangnya mengeras saat matanya sekilas menangkap Natsu yang sudah terbaring tak berdaya. Netra hijau itu kemudian beralih menatapnya dan dalam satu gerakan cepat, sang Alpha sudah berdiri di hadapannya.
“Kamu ada yang luka?” Iwaizumi bertanya— tangannya terangkat dan merengkuh kedua sisi wajah Oikawa seakan memeriksa kondisinya. Walaupun wajahnya diliputi kemarahan, tapi sentuhan di wajahnya terasa lembut, bahkan penuh kehati-hatian.
Oikawa menggeleng— sedikit banyak menyadari bahwa itu pertama kalinya Iwaizumi menyentuhnya. Ada aliran listrik yang menjalar di sekujur tubuhnya saat kulit mereka bersentuhan. Dan Oikawa langsung merasa kehilangan saat pria itu melepaskan tangannya.
“Gimana kejadiannya?”
Oikawa mengerjap— tersadar bahwa sang Alpha baru saja bertanya padanya.
“I-itu... kejadiannya cepet banget. G-gue nggak liat sama sekali... tiba-tiba... dia udah...” Oikawa menelan salivanya susah payah dan berusaha tidak menatap mayat anak perempuan yang masih mengucurkan darah tersebut.
“Atsumu, tolong bawa Tooru balik sekarang.”
Saat suara Iwaizumi kembali terdengar dan menyuruh pria yang dimaksud, Oikawa justru tidak langsung bergerak.
“T-tapi gue... bisa...”
“Jangan keluar rumah selangkah pun malam ini. Nanti bakal ada yang nemenin kamu di sana. Kalau ada apa-apa, kamu bisa hubungi aku,” ucap Iwaizumi dengan tegas— tidak menerima bantahan.
Oikawa tidak mengangguk, tapi juga tidak menggeleng. Tetapi ia pasrah saat akhirnya tangannya ditarik Atsumu untuk segera beranjak dari sana. Kepalanya menoleh ke belakang dan menyaksikan bagaimana Hinata mulai meraung dengan sedih dan tangisannya memenuhi hutan yang sepi.
@fakeloveros