First Mission (part 2)

Oikawa menghela napas dan membersihkan debu tak kasat mata dari kedua bahunya. Ia tersenyum puas pada dirinya sendiri selagi memperhatikan pria yang tak sadarkan diri di hadapannya.

Semua berjalan sesuai rencana.

Rencananya, lebih tepatnya.

Ia sendiri memang sudah yakin semua akan berjalan lancar tanpa menimbulkan kecurigaan sedikit pun. Mungkin nanti ia akan menerima omelan dari seseorang, tapi tidak akan ada yang bisa menyalahkannya setelahnya, begitu mengetahui ia berhasil mendapatkan informasi yang diperlukan. Walaupun dalam prosesnya Oikawa terpaksa harus menelan rasa jijik karena berdekatan dengan pria Aone tersebut, hasilnya tetap terbayarkan. Ia mengendus sedikit lengannya, berharap bahwa bau pria itu tak terlalu menempel di tubuhnya. Setidaknya Oikawa cukup memiliki kesadaran bahwa Iwaizumi tentu tidak akan menyukai bau Alpha lain yang menempel di tubuhnya.

Setelah memastikan alat perekam yang dia bawa sudah tersimpan dengan baik, Oikawa membalikkan tubuh dan membuka pintu dengan tenang. Ia berjalan seperti biasa seolah tidak sehabis merayu seorang pria asing untuk mengorek informasi, lalu membuatnya tak sadarkan diri. Ia tak boleh menarik perhatian.

Oikawa sudah setengah jalan menuju pintu utama, ketika mendadak ada seseorang yang menabraknya dengan kencang dari samping.

“Apa—”

“Aduh! Maaf, Tuan! Saya nggak sengaja. Tadi kacamata saya agak rabun, jadi saya nggak sadar ada orang di depan.”

Oikawa mengatupkan bibirnya dengan terkejut saat menyadari bahwa orang yang baru menabraknya adalah salah satu anggota klan yang menyamar menjadi pelayan, yaitu Tsukishima. Ekspresi datar pria itu kini digantikan dengan panik yang kelihatan sekali dibuat-buat.

“Kalau berkenan, Tuan bisa ikut dengan saya ke belakang sekarang. Nanti akan saya keringkan baju Tuan,” ucap pria berkacamata itu lagi, tetapi kali ini sambil melirik tuxedo putihnya penuh arti.

Oikawa menunduk dan baru menyadari ada tumpahan berwarna merah gelap yang menodai setelannya. Ia kemudian mendongak dan menyadari beberapa tamu tengah memperhatikan mereka. Oikawa pun langsung menoleh ke arah Tsukishima dan tersenyum lebar.

“Oh, terima kasih. Saya berkenan, kok.”

“Kalau begitu, silakan ke sebelah sini, Tuan.”

Tsukishima lantas berbalik dan berjalan memimpinnya ke arah pintu yang ada di bagian pojok ruangan. Setelah membukanya, pria yang lebih muda itu terus berjalan melalui lorong panjang dan membuka pintu lain yang berada di paling ujung.

Oikawa pikir, akan ada orang lain yang menyambut mereka, namun di dalam ruangan tersebut justru tidak ada siapa pun.

“Nggak ada orang...?” Oikawa berbisik pelan.

Tsukishima mengedikkan bahunya ke suatu arah dan Oikawa langsung mengikuti arah pandang pria itu.

Di sana, di kursi panjang yang diletakkan di ujung ruangan, terdapat empat orang pelayan dalam keadaan tak sadarkan diri.

“Mereka nggak kenapa-napa, cuma gue buat pingsan sebentar,” jelas Tsukishima tanpa menunggu ditanya. Ia membuka satu pintu lagi yang ternyata mengarah ke dapur. Di sana pun tidak ada siapa-siapa, tetapi Oikawa tahu tidak boleh ada waktu yang dilewatkan barang sedetik pun sekarang, jadi ia tidak bertanya lagi.

“Ini pintu keluar darurat. Asumsi gue, lo cuma punya waktu 5 menit sebelum para pengawal Aone meriksa keadaan Tuan mereka. Gue udah ngasih tau anggota klan yang ada di deket sini. Jadi nanti kalau di tengah jalan lo ketemu mereka, langsung naik ke mobilnya aja,” jelas Tsukishima tanpa terlihat panik sedikit pun. Wajah pria itu tetap tanpa ekspresi seolah sedang menjelaskan tentang cuaca hari ini.

“Emang nggak ada CCTV...?” Oikawa bertanya sedikit ragu, tetapi tangannya sudah berada di pegangan pintu.

Tsukishima menggeleng singkat. “Yang di ruangan barusan, dapur sama deket pintu keluar semua udah dimatiin, tapi tinggal nunggu waktu sampai pengawas di dalam sadar. Makanya lo harus pergi sekarang.”

“Oke, oke. Thanks ya, Tsukki!”

Oikawa tidak sempat melihat eskpresi Tsukishima karena ia langsung keluar dan setengah berlari menuju arah yang ditunjukkan barusan. Matanya tetap awas memperhatikan keadaan sekitar. Ia yakin sekarang para pengawal Aone sudah menyadari Tuannya dibuat pingsan sedangkan pasangannya menghilang begitu saja.

Oikawa pun mempercepat langkahnya. Tetapi ia belum melihat tanda-tanda keberadaan anggota klan yang lain. Oikawa kemudian berbelok di suatu sudut, tetapi langkahnya berhenti tiba-tiba saat dari kejauhan mendapati pria-pria berjas hitam dengan earpiece di telinga masing-masing tengah mengawasi jalan.

Ia memiliki perasaan tidak enak, kemudian mundur secara perlahan. Tapi setelannya yang berwarna putih— begitu kontras dengan langit malam, pastilah telah menarik perhatian karena salah satu dari kelompok tersebut tiba-tiba melakukan kontak mata dengannya. Pria itu lantas menyenggol anggota kelompok yang lain dan menunjuk ke arahnya.

“Shit.”

Dari situlah Oikawa mendapat dorongan untuk segera berbalik dan berlari sekencang mungkin.

Tanpa menoleh ke belakang, Oikawa bisa mendengar derap langkah kaki orang-orang yang tengah mengejarnya. Oikawa ingat pelajaran yang pernah didapatkannya di klan dulu— jika ia sedang dikejar, pastikan berlari ke wilayah yang memiliki banyak gang atau keramaian.

Oikawa memilih yang kedua.

Ia langsung menemukan jalan besar yang dipenuhi orang-orang karena lokasi pestanya sendiri masih berada di pusat kota. Oikawa ikut meleburkan diri di antara keramaian meskipun matanya mulai pusing berhadapan dengan tulisan-tulisan asing di berbagai pertokoan. Setelah dirasa cukup jauh berlari, ia memelankan langkahnya dan berusaha berjalan setenang mungkin. Oikawa tetap membuka telinganya lebar-lebar untuk memastikan keberadaan orang-orang tersebut. Namun semua suara itu tertelan sehingga Oikawa tidak bisa memperkirakan, apakah para pengawal yang mengejarnya barusan sudah kehilangan jejaknya atau mereka mengikuti langkahnya yang berjalan dengan tenang.

Oikawa mencoba melipir ke daerah yang lebih minim pertokoan. Hanya ada satu minimarket terlihat di depannya. Kendatipun begitu, sebelum Oikawa mencapai tempat yang ditujunya, mendadak ada tangan yang menariknya dari samping.

Hal yang dilakukan olehnya pertama kali adalah meronta. Tapi lengan yang tiba-tiba menarik dan juga menutup mulutnya itu menahannya begitu kuat sampai segala usahanya terbilang sia-sia. Orang itu menariknya masuk ke dalam gang kecil dan langsung melepas bekapannya.

Sebelum Oikawa sempat melawan, orang yang menariknya itu buru-buru membalikkan tubuhnya.

“Sst, ini aku.”

Otomatis Oikawa berhenti meronta dan matanya membeliak dengan terkejut.

“Iwaizumi?”

“Orang-orang itu masih ngejar kamu. Aku liat mereka tadi. Jadi kita harus sembunyi di dalam sini dulu.”

Oikawa tidak dibiarkan bertanya apa pun karena Iwaizumi langsung menariknya masuk ke sebuah pintu. Di dalamnya ada tangga kecil yang mengarahkan mereka ke sebuah lorong panjang dengan banyak pintu di kanan dan kirinya. Iwaizumi terus menariknya melewati meja resepsionis sederhana yang hanya dijaga seorang pemuda berwajah mengantuk. Pemuda itu bahkan tidak melirik ke arah mereka sama sekali saat keduanya lewat.

“Ini... apa?” Oikawa berbisik sambil menatap lorong yang barusan mereka lalui dengan bingung. Iwaizumi tak langsung menjawab, melainkan sibuk membuka pintu kedua dari ujung dengan sebuah kunci.

Barulah saat pintu itu terbuka dan interior dalamnya terlihat, Iwaizumi menjawab.

“Motel. Ayo masuk.”

“Hah?”

Meskipun begitu, kakinya tetap melangkah ke dalam dan memperhatikan kondisi kamar yang tak jauh berbeda dengan lorong di luarnya— ada sedikit bau apek, memiliki pencahayaan yang minim, serta perabotan tua. Saat pintu di belakangnya sudah menutup, Oikawa langsung memutar badan menghadap sang Alpha.

“Sampai kapan kita harus di—”

Oikawa tidak mampu menyelesaikan omongannya karena tubuhnya mendadak terdorong sampai jatuh ke atas kasur. Oikawa mengerjap kaget saat Iwaizumi tahu-tahu sudah berada di atasnya. Kedua tangannya ditahan di atas kepala oleh sang Alpha.

“Kenapa kamu bikin rencana sendiri kayak gitu?” tanya Iwaizumi dalam oktafnya yang paling rendah.

Oikawa membiarkan keadaan hening untuk sesaat. Ia sudah menduga Iwaizumi pasti akan menginterogasinya. Namun dirinya tidak menyangka pria itu akan terlihat semarah ini.

“Soalnya gue yakin rencana itu bakal berhasil dan emang terbukti karena gue udah dapet info tentang tempat senjata terakhir kalian dari Aone,” Oikawa menjawab tanpa rasa takut.

Netra hijau di hadapannya semakin menatapnya dengan nyalang. “Perjanjiannya bukan begitu. Rencananya kamu harus ngejalanin misi ini di bawah pengawasan CCTV supaya kita bisa terus mantau.”

“Lo tau itu nggak mungkin.” Oikawa menghela napas lelah. “Gue harus cari tempat yang lebih private buat ngorek informasi dari dia.”

“Private?” Iwaizumi bertanya tajam. “Dan hasilnya sekarang dari badan kamu kecium bau dia.”

“Oh, ya?” Oikawa bertanya dengan polos. Kepalanya ia miringkan beberapa derajat ke samping. “Kirain lo tetep bisa nyium aroma gue, makanya tadi bisa tau gue ada di mana.”

Ada kilatan marah di balik mata sang Alpha sebelum Oikawa dibuat terkesiap karena Iwaizumi tiba-tiba menghapus jarak di antara mereka.

“Bisa,” Iwaizumi berbisik rendah di dekat ceruk lehernya. Napas hangat pria itu menerpanya dan membuat Oikawa mendongakkan kepalanya tanpa sadar. “Tapi nyaris ketutupan sama bau orang itu.”

“Iwa—”

Bahkan di mimpi terliarnya sekalipun, ia tidak pernah membayangkan akan berada di jarak sedekat ini dengan soulmate-nya sendiri. Iwaizumi menempelkan hidungnya di kulit lehernya yang tidak tertutupi oleh kerah baju. Oikawa memejamkan matanya rapat-rapat saat pria itu kini ikut menempelkan bibirnya di sana. Iwaizumi bergerak pelan, seakan berusaha menghirup dalam-dalam aroma yang menguar dari setiap inci kulitnya yang terekspos. Akal sehat Oikawa menyuruhnya untuk mendorong Iwaizumi menjauh, tetapi sensasi yang dirasakannya terlalu membutakan untuk memikirkan hal lain.

“Hal kayak gini nggak akan terjadi seandainya kita udah—”

Oikawa membuka mata dan tubuhnya langsung terbujur kaku. Walaupun tidak bisa berpikir jernih, tetapi dia bisa mendengar setiap silabel yang barusan dikatakan Iwaizumi.

Dan ia bisa menebak kata apa yang selanjutnya akan diucapkan pria itu.

Mating.

Pria di atasnya pun ikut berhenti bergerak begitu tersadar sedetik lebih cepat. Hanya suara napas mereka berdua yang terdengar memenuhi kamar sebelum Iwaizumi tiba-tiba menjauh darinya dan segera bangkit. Ada umpatan pelan yang keluar dari mulut pria itu sementara Oikawa tetap berada dalam posisinya dan hanya diam membatu.

“Aku bawa baju ganti buat kamu, ada di atas kursi sana. Kamu tunggu di sini dulu sementara aku meriksa keadan di luar. Jangan ke mana-mana. Pokoknya jangan keluar selangkah pun sebelum aku balik. Dan jangan bukain pintunya buat siapa pun kecuali aku.”

Setelah mengucapkan rentetan perintah itu dalam satu tarikan napas, Iwaizumi lantas membuka pintu dan menghilang di baliknya. Oikawa terus berbaring selama beberapa menit sebelum perlahan bangkit. Namun satu kata yang tidak jadi terucapkan barusan seperti membangunkan perasaan yang selama ini berusaha ia kubur dalam-dalam. Perasaan itu muncul lagi ke permukaan dan mulai membanjirinya akibat arus yang begitu kuat.

Persis seperti ketakutannya sekarang.

Rasa takut bahwa Oikawa suatu saat akan menerima penolakan yang sama dari Iwaizumi begitu mengetahui kebenaran soal dirinya.


@fakeloveros