First Mission (part 1)
Kalau semuanya bisa dihitung dengan kedipan mata, mungkin rasanya seperti baru mengedip sepuluh kali dan tahu-tahu Oikawa sudah berada di negara lain.
Semuanya berlangsung begitu cepat— mulai dari keberangkatan mereka, sampai penyusunan rencana miliknya yang tinggal beberapa hari lagi akan dijalankan. Walaupun Iwaizumi tidak lagi melayangkan ketidaksetujuannya, tetapi Oikawa bisa melihat dari wajah sang Alpha bahwa idenya masih dianggap konyol.
Oikawa berpura-pura tidak sadar dan lebih memilih untuk ikut merencanakan idenya sesempurna mungkin dengan anggota klan lain. Perencanaan ini pun secara ajaib membuatnya akrab dengan beberapa anggota klan yang ikut, termasuk salah satunya Daichi Sawamura— pria yang pernah menjadi lawannya dalam tes pertahanan diri. Berbeda jauh dengan penampilan fisiknya, Daichi ternyata memiliki kepribadian yang ramah dan menenangkan. Pria itu tidak segan-segan menjelaskan segala hal yang mungkin akan berguna dalam misi mereka. Sudah lama dirinya tidak ikut andil dalam misi klan seperti ini dan bohong kalau Oikawa bilang ia tidak merasa bersemangat.
Sampai hari di mana rencana mereka akhirnya akan dijalankan pun, Oikawa tidak merasa khawatir sama sekali dan malah semakin antusias.
“Seenggaknya kamu boleh ngerasa tegang sedikit.”
Oikawa mendongakkan wajahnya dan mendapati soulmate-nya sudah duduk di hadapannya di meja makan. Anggota klan yang kebetulan berada di sana lantas berpura-pura sibuk dengan kegiatan masing-masing meskipun ia tahu telinga mereka pasti terbuka lebar-lebar.
Oikawa mengernyitkan keningnya dengan tidak paham. “Maksudnya?”
Ada hela napas berat yang terdengar keluar dari mulut pria itu. “Kamu keliatan... semangat buat ngejalanin rencana nanti malem.”
“Bukannya bagus kalau gue nggak tegang?” Oikawa bertanya dengan ketidakpahaman yang semakin terukir jelas di wajahnya.
“Justru itu yang bikin aku nggak tenang.”
Oikawa menelengkan kepalanya dengan bingung, tapi ia sudah terlalu malas untuk menanggapi omongan tidak masuk akal Iwaizumi.
“Yang penting kamu inget aja sama janji yang udah kita sepakatin.”
Iwaizumi berujar pelan, lalu bangkit dan menghilang di balik pintu. Ada keheningan yang merambat dan mulai memenuhi ruangan tersebut sementara Oikawa menyembunyikan wajahnya yang memerah di balik cangkir kopinya. Oikawa pura-pura tidak menyadari tatapan penasaran orang-orang yang berada di ruangan tersebut seraya berusaha mengusir jauh-jauh bayangan saat dirinya dipeluk oleh pria yang baru saja pergi beberapa hari kemarin.
Karena lebih mudah menganggap itu tidak pernah terjadi dibandingkan melupakannya.
“Pestanya dimulai jam 8 malem dan kemungkinan orang itu bakal tiba 10 menit sebelumnya.”
Oikawa mengangguk sembari membetulkan posisi dasi kupu-kupunya.
“Orang-orang yang bakal hadir di sana punya posisi penting. Pejabat tinggi negara, pengusaha, dan artis-artis A-list. Tapi bukan berarti pesta itu eksklusif. Asal bawa undangan, kamu pasti bisa masuk.”
Iwaizumi melambaikan amplop putih gading yang ada di tangannya— sebuah salinan sempurna yang akan menjadi kunci masuk Oikawa untuk rencana malam ini.
“Nggak ada info dia bakal dateng sama siapa, tapi yang jelas, dia diundang sama salah satu pengusaha elektronik terbesar di Korea, jadi dia pasti bakal ketemuan sama orang itu. Kamu udah hapal wajah pengusahanya, kan?” Iwaizumi menatapnya melalui pantulan cermin sementara Oikawa menyempurnakan penampilannya untuk malam ini. Lagi-lagi Oikawa hanya mengangguk sebelum meraih topeng putih dengan hiasan emas yang menjadi tema pesta malam itu.
“Nanti di dalem kamu nggak bakal sendirian. Udah ada juga beberapa anggota klan yang nyamar jadi pelayan dan—”
“Iwaizumi,” Oikawa memotong pria itu selagi membalikkan badan. “Gue udah hapal semuanya. Kita udah ngulangin rencana ini ratusan kali, jadi gue nggak mungkin lupa.” Tanpa mengindahkan ekspresi pria di hadapannya, Oikawa lantas merentangkan tangannya. “Gimana? Ada yang kurang?”
“Nggak ada.”
Jawaban itu datang terlalu cepat sampai Oikawa menaikkan sebelah alisnya dengan curiga. “Beneran?”
Iwaizumi mengangguk, lalu mendadak bangkit berdiri. Pria itu berjalan cepat menuju pintu dan sudah membukanya, tetapi berhenti sebelum benar-benar keluar.
“Justru bodoh kalau ada yang nganggap penampilan kamu keliatan kurang malam ini.”
Dan hal terakhir yang Oikawa tangkap dengan netranya adalah telinga memerah sang Alpha sebelum pintu kamar mereka tertutup pelan.
“Malah lo yang keliatan lebih tegang.”
Adalah sapaan Daichi pada dirinya pertama kali begitu mereka sudah siap pada posisi masing-masing. Iwaizumi melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya— baru 15 menit yang lalu dia mendapat kabar bahwa Oikawa sudah masuk ke dalam venue tanpa menimbulkan kecurigaan, tetapi dirinya bahkan tidak bisa duduk dengan tenang.
“Menurut lo mereka tau, nggak, ada orang-orang kita di dalem?” tanya Daichi selagi memperhatikan layar dengan tampilan berbagai sudut pandang CCTV yang berhasil mereka retas. “Jujur aja, tapi menurut gue, Klan Aone nggak sepinter itu.”
Iwaizumi menyetujui dalam hati. Walaupun senjata-senjata mereka sempat berhasil dicuri, namun itu akibat keteledoran klannya sendiri dan bukannya kemampuan klan lawan yang sangat mumpuni. Klan Aone hanya terkenal sebagai kelompok yang mampu bertarung, namun mereka kurang dalam strategi penyerangan maupun pertahanan.
“Jadi lo harusnya nggak perlu khawatir,” ucap Daichi tiba-tiba, seakan dapat membaca pikirannya.
Iwaizumi menghela napas. Punggungnya ia sandarkan ke belakang dengan gestur yang lebih rileks.
“Iya, gue tau...” Tapi tetep aja...
“Justru klan soulmate lo yang lebih terkenal jago, kan? Maksud gue, kalau mereka bukan klan yang kuat, jelas nggak akan musuhan sama klan kita dulu.” Lewat perkataan Daichi, Iwaizumi tahu temannya itu tengah berusaha menenangkannya.
Iwaizumi tidak menjawab, tapi pikirannya langsung melayang kembali ke tes pertahanan yang dilalui Oikawa saat pria itu baru pindah ke klannya. Bahkan Iwaizumi harus mengakui, kemampuan Oikawa tidak dapat dipandang sebelah mata. Terbukti, soulmate-nya itu memiliki refleks yang luar biasa dan daya pikir yang cukup cepat sehingga bisa mengalahkan Daichi dengan mudah.
Jadi kenapa selama ini ia jarang mendengar soal Oikawa? Padahal pria itu satu-satunya putra dari pemimpin klan yang pernah menjadi musuh mereka, maka otomatis suatu saat Oikawa yang akan menjadi penerus, bukan?
Iwaizumi lantas teringat dengan perkataan Oikawa tempo lalu.
“Kalau gitu caranya, lo nggak ada bedanya sama Ayah gue— selalu ngelarang ini itu seolah-olah gue nggak bisa ngapa-ngapain.”
Sekarang Iwaizumi menyatukan kedua alisnya dengan bingung. Dari yang ditangkapnya, berarti selama ini Ayah Oikawa selalu mengurung soulmate-nya. Namun apa alasannya? Apa karena Oikawa terlahir sebagai seorang Omega? Apa pria itu dianggap lemah di dalam klannya sendiri? Tetapi baginya, alasan itu terdengar tidak masuk akal karena di dalam klannya sekalipun seorang Omega berhak ikut serta secara aktif dalam menjalankan misi klan, seperti soulmate Atsumu, contohnya.
Bukan itu saja. Sikap Oikawa terhadapnya... ia bisa melihat pria itu tidak membencinya, tapi sang Omega pun belum menerimanya sepenuhnya. Terkadang ia bisa menangkap tatapan aneh yang ditujukan untuknya dari netra cokelat susu itu. Walaupun dalam hal ini Iwaizumi merasa tidak berhak berharap lebih karena ia pun memiliki alasan sendiri kenapa sampai sekarang belum—
“Oh, itu Oikawa, kan? Dia udah ngajak ngobrol Aone!”
Seruan Daichi di sebelahnya langsung membuyarkan lamunannya. Iwaizumi lantas menegakkan tubuhnya dan ikut memperhatikan arah yang ditunjukkan temannya. Tanpa sadar, Iwaizumi mengepalkan kedua tangannya saat layar memperlihatkan sosok Oikawa dalam balutan tuxedo putih yang tengah berbincang akrab dengan Aone. Bahkan dari layar sekecil itu, Iwaizumi bisa melihat Oikawa bersikap terlalu ramah terhadap musuh mereka. Sang Omega tidak segan-segan menyentuh lengan, bahkan mempersempit jarak duduknya dengan pria dari Klan Aone tersebut seraya menebar senyumnya yang paling lebar.
“Tenang, itu cuma akting.” Daichi yang diam-diam memperhatikan perubahan sikapnya, buru-buru berujar seperti itu. Temannya itu pasti berpikir ia sudah terlihat seperti orang yang bisa kehilangan kontrol kapan saja.
Dan memang benar.
Iwaizumi menarik napas panjang selagi berusaha meredakan emosi yang bergejolak dalam hatinya. Ia tentu saja tahu itu hanya akting, tapi bahkan Oikawa tidak pernah menyentuhnya dengan sukarela seperti yang dilakukan pria itu sekarang. Apalagi tersenyum lebar di hadapannya.
Seandainya mereka sudah melalui proses mating, tentu—
Iwaizumi dengan sekuat tenaga berusaha mengenyahkan pikiran tersebut. Bukan saatnya dia bersikap egois sekarang.
“O-oh...?”
Iwaizumi kembali memfokuskan atensinya pada layar begitu ia mendengar Daichi terkesiap di sebelahnya. Dan kalau tidak sedang mengepalkan tangan sampai kuku-kukunya menancap di kulit, ia pasti akan langsung masuk ke dalam tempat pesta sialan itu dan menarik Oikawa keluar.
Persetan dengan senjata-senjata itu.
Pasalnya, apa yang dilihatnya kini hampir membuat darahnya mendidih. Aone baru saja bangkit dengan Oikawa dan berjalan menjauhi bar dengan sebelah tangan yang merengkuh pinggang soulmate-nya dari belakang. Mereka terlihat mesra dengan Oikawa yang sesekali membisikkan sesuatu pada pria yang lebih jangkung tersebut, lalu dibalas oleh aksi yang sama.
Iwaizumi nyaris memiliki urgensi untuk memukul hancur layar yang ada di depannya kalau tidak di detik setelahnya, kedua orang itu menghilang dari layar CCTV mana pun. Daichi buru-buru mendengarkan laporan masuk dari anggota klan yang menyamar di dalam sana.
“Mereka masuk ke ballroom VVIP. Setau gue, di dalem sana nggak ada kamera CCTV.”
“Apa ada yang bisa masuk ke sana?” Iwaizumi segera mengambil alih. Ia harus tetap berpikir jernih meskipun kakinya sudah gatal ingin menendang sesuatu karena tindakan Oikawa saat ini sedikit di luar rencana. Padahal apa yang mereka sudah sepakati adalah agar pria itu melaksanakan rencana di bawah pengawasan CCTV, apa pun yang terjadi.
“Kayaknya gue bisa.” Suara tenang milik Tsukishima terdengar tak beberapa lama kemudian. Setelah Daichi mengambil alih kembali dan langsung memerintahkan Tsukishima untuk mencoba masuk ke dalam sana, Iwaizumi mengendurkan kepalan tangannya yang ternyata sudah menancap begitu dalam sampai sedikit merobek kulitnya.
Daichi yang melihatnya hanya meringis, namun tidak berkomentar apa pun.
“Tsukishima? Keadaan di dalem gimana?” Daichi bertanya melalui radio transmitter yang tersambung dengan bug setiap anggota klan. Pria yang ditanya tidak langsung menjawab dan rasanya kesabaran Iwaizumi semakin habis di setiap detik yang terlewati.
“Tsuki—”
“Gue nggak liat Oikawa. Aone juga nggak ada. Tapi ternyata di dalem sini ada beberapa pintu yang kayaknya ngarah ke semacam ruangan privat. Asumsi gue, Oikawa dan Aone masuk ke salah satunya.”
“Apa di sana nggak ada pengawal Aone satu pun yang keliatan?” Daichi bertanya lagi.
Hening sebentar.
“Nggak ada.”
Iwaizumi terus mendengarkan dengan saksama sedangkan Daichi di sebelahnya menghembuskan napas pelan.
“Kayaknya soulmate lo punya rencana sendiri yang kita nggak tahu.”
Iwaizumi tidak memberi respons, namun sudut bibirnya terangkat beberapa derajat sehingga membentuk senyum miring yang bagi sebagian besar orang sering dianggap menyeramkan. Atau setidaknya, begitulah yang sering ia dengar.
Namun ia tidak merasa marah. Belum. Entah mengapa ia yakin Oikawa mampu menyelesaikan rencana ini dengan lancar meskipun ternyata ada cara lain yang pria itu sembunyikan. Kekhawatiran Iwaizumi memang berkurang, namun bukan berarti ia akan membiarkan aksi gegabah ini terlewati begitu saja.
Setelah bertemu soulmate-nya nanti, dirinya akan meminta pertanggungjawaban pria itu.
@fakeloveros