Summer Confession

Bagi Atsumu, lucu bagaimana kepribadian kapten mereka bisa berubah 180 derajat ketika dihadapkan pada perubahan cuaca.

“Aku nggak suka cuaca panas.”

Lebih lucu lagi karena yang mengatakannya justru lahir di saat matahari sedang bersinar terik-teriknya.

“Eh? Kak Kita nggak suka musim panas, dong?” tanya kembarannya, ketika pernyataan itu tiba-tiba terlontar dari yang lebih tua.

Kita menggeleng singkat. Kepalanya mendongak, lalu matanya memicing menatap matahari seolah bintang yang dekat dengan Bumi tersebut akan mengajaknya berkelahi kapan saja.

“Pokoknya nggak suka,” tegas sang Kapten sekali lagi.

“Loh, beda banget sama Atsumu, Kak! Atsumu malah suka banget musim panas!” seru Osamu, yang langsung membuat Atsumu tersedak es krimnya sendiri. “Kenapa lo? Bener, kan? Kok malah Keselek?”

Atsumu memukul-mukul dadanya seraya menatap jengkel saudara kembarnya yang menurutnya amat sangat tidak peka tersebut.

“Nggak apa-apa,” jawabnya pelan, sambil berdeham-deham. Atsumu refleks melempar tatapannya kembali ke arah seniornya yang tahu-tahu sudah menatapnya dari tadi.

“Atsumu suka musim panas? Kenapa?”

Kenapa? Kalau harus disebutkan, Atsumu bisa membuat daftarnya— karena sebentar lagi liburan, ada festival musim panas, dia suka mendengar suara serangga yang saling bersahutan, dia bisa pergi ke pantai, dia juga bisa—

Atsumu mengerjap pelan— pikirannya sempat teralihkan saat mendapati setitik keringat perlahan jatuh dari pelipis sang Kapten menuju dagu, lalu turun sampai ke leher dan menghilang di balik kaus putihnya yang sedikit transparan. Rasanya seperti melihat adegan slow motion dalam film. Bedanya, Atsumu yakin hanya ia yang menyadari kejadian kecil tersebut.

“Atsumu?” Panggilan dari seniornya itu menyadarkan kembali Atsumu untuk berpijak pada tanah. Ia tidak sadar bahwa dirinya sedari tadi malah memperhatikan wajah yang lebih tua tanpa berkedip. Pasti wajahnya tadi terlihat sangat konyol. Semoga tak ada yang menyadari—

Matanya tak sengaja menangkap seringai Suna yang sudah menghabiskan es krimnya terlebih dulu. Untung saja temannya itu berdiri di belakang Kita sehingga pria yang masih menunggu jawabannya takkan curiga sama sekali.

Atsumu menghela napas. Tentu saja temannya yang sialan itu akan menyadari arti tatapannya terhadap seniornya sendiri.

“Aku suka musim panas soalnya... jadi keringetan, Kak, hehe aku suka keringetan soalnya! Berasa sehat aja gitu,” jawab Atsumu asal tanpa memedulikan tawa tertahan yang keluar dari mulut Suna.

Kita memiringkan kepalanya dengan wajah bingung. “Nggak mesti nunggu musim panas, kalau kamu olahraga juga bakal keringetan, kan?”

“Iya, sih... tapi kalau musim panas beda aja gitu Kak rasanya, hehehe.”

“Kayak lebih bikin kinclong gitu ya, Tsum, keringetnya?” celetuk Suna yang seringainya justru terlihat semakin lebar.

Atsumu hanya melempar tatapan jengkel pada temannya, tanpa menjawab sama sekali.

“Hmm...” Kita bergumam panjang seraya melempar stick es krimnya ke tempat sampah. “Jadi mau juga deh...”

“Hah? Mau apa, Kak?”

“Mau juga suka sama musim panas.”

Atsumu tahu ungkapan itu mungkin tidak memiliki makna lebih, tapi mau tak mau telinganya jadi memerah menyaingi kaus yang sekarang dikenakan Hitoshi saat mendengarnya.

Kita Shinsuke tidak tahu saja alasan Atsumu menyukai musim panas adalah karena pria itu sendiri.


“Kapan lo mau bilang ke Kak Kita?”

“Apaan?

“Ya kalau lo suka sama dia!”

Untuk kedua kalinya hari itu, Atsumu tersedak. Bedanya kali ini dia tersedak salivanya sendiri dan tidak ada siapa pun di sekitar mereka— hanya dirinya dan Osamu di dalam ruang ganti klub bola voli.

“H-hah? G-gue pikir lo...”

Osamu mengangkat sudut bibirnya, merasa terhibur dengan tampang panik saudara kembarnya yang jarang sekali muncul.

“Kenapa? Lo pikir gue nggak tau ya, kalau lo suka sama Kak Kita?”

Atsumu pura-pura tak mendengar dan kembali melanjutkan aktivitasnya.

“Kayaknya jelas banget, deh. Bahkan gue yakin semua anggota voli udah pada tau.”

“Ngomong apa sih—”

“Termasuk Kak Kita sendiri.”

Atsumu langsung terdiam.

“Lo jangan asal ngomong,” ucap Atsumu setengah menggerutu. Ia tidak berani membayangkan seandainya seniornya itu tahu tentang perasaannya. Entah mau disembunyikan ke mana wajahnya nanti.

“Ya terserah lo kalau nggak percaya. Cuma lo tau, kan, kalau kapten kita tuh peka banget? Waktu itu pas lo sakit aja dia langsung sadar, terus beliin lo vitamin sama obat. Jadi menurut gue, nggak mungkin dia nggak sadar alasan wajah lo berubah jadi kayak tomat setiap dia ngajak ngobrol atau nyentuh lo sedikit. Orang keliatan jelas,” Osamu menjelaskan panjang lebar. “Sekarang pertanyaannya, Kak Kita suka balik nggak sama lo.”

Atsumu menelan salivanya susah payah. Setengah ingin percaya dan setengah ingin menyanggah ucapan saudaranya.

“K-kalau menurut lo?”

Osamu tersenyum jahil seraya memakai tasnya. “Nggak tau deh, makanya coba lo bilang ke dia. Soalnya gue juga penasaran jawabannya apa.”

Atsumu hampir saja melempar sepatu yang tengah ia pegang ke wajah saudara kembarnya, tetapi Osamu buru-buru keluar sambil memeletkan lidahnya.

Setelah langkah kaki Osamu tak terdengar lagi, Atsumu menghela napas, lalu menyenderkan keningnya di depan loker sambil memejamkan mata. “Gila aja kalau sampai Kak Kita tau... Gue harus apa...”

“Tau soal apa?”

Secepat kilat, Atsumu lantas menegakkan tubuhnya lalu menoleh ke arah sumber suara. Matanya melebar saat mendapati subjek yang menjadi atensi pikirannya sejak tadi sudah berdiri di depan pintu. Sang Kapten menatapnya tanpa eskpresi, tetapi ada sinar keingintahuan di balik mata bulatnya.

“Kalau aku sampai tau soal apa?” Kita mengulangi pertanyaannya sembari melangkah ke dalam dan menutup pintu ruang ganti.

“K-Kak Kita belum... pulang?” Atsumu bertanya panik dengan wajah semerah tomat saat dilihatnya sang senior justru berjalan mendekat ke arahnya.

“Belum, barangku ada yang ketinggalan di sini,” jawab Kita singkat. “Tadi kamu belum jawab pertanyaanku, Atsumu.”

“O-oh, eh... itu... hahaha apa ya, Kak... aku jadi lupa...” Atsumu berusaha mengalihkan pembicaraan sambil melarikan matanya ke sana kemari. Benaknya mendadak terasa kosong dan jantungnya memompa lebih cepat. Di ruangan yang tak seberapa besar itu, Atsumu takut suara jantungnya akan terdengar sampai luar.

“Emang kenapa kalau aku sampai tau?”

“Eh?”

“Kalau aku sampai tau kamu suka sama aku, emang kenapa?”

Atsumu membeku di tempatnya. Kakinya berhenti melangkah mundur bertepatan dengan punggungnya yang sudah menyentuh tembok. Ia yakin tadi sudah salah dengar.

Tapi tanpa bisa dicegah, bibirnya bergerak sendiri.

“Nanti Kak Kita bisa... ilfeel.”

Sang Kapten kini sudah berdiri persis di depannya. Ujung sepatu mereka saling bersentuhan. Pria itu mendongak sedikit untuk menilik kedua netranya sebelum berucap pelan.

“Kalau ilfeel, aku nggak mungin ngelakuin ini.”

Atsumu lagi-lagi hanya berdiri kaku tanpa mampu memproses apa yang berikutnya terjadi. Tahu-tahu saja, ada bibir pria itu yang menyentuhnya pelan. Lembut. Seakan-akan tengah mengetes suhu air ketika mencelupkan kaki ke dalamnya.

Ciuman itu hanya berlangsung sepersekian detik, tetapi Atsumu yakin jantungnya sempat berhenti selama kejadian itu berlangsung.

“Padahal aku udah nunggu lumayan lama, tapi kayaknya kamu cuma berani kalau lagi tanding di lapangan aja ya, Atsumu?” Kita mengatakannya ditemani seulas senyum kecil saat kakinya sudah kembali menjejak tanah, dan bukannya berjinjit untuk memberi kecupan pada adik kelas yang masih berdiri kaku di depannya. “Aku sampai bawa-bawa soal cuaca barusan buat ngasih kamu kode. Untung Aran nggak sadar. Tapi kayaknya anak-anak kelas dua udah pada tau, ya? Apalagi Osamu sama—”

Atsumu tak membiarkan Kita menyelesaikan ucapannya. Gerigi di otaknya tiba-tiba berputar kembali dan langsung menyuruhnya untuk melakukan hal pertama yang memang ingin dilakukannya sejak dulu.

Orang bilang, segala hal yang pernah kita impikan sensasinya akan berkali-kali lipat jauh terasa lebih nikmat saat menjadi kenyataan.

Dan itulah yang tengah Atsumu rasakan sekarang.

Atsumu tidak berbohong— ia sudah sering memimpikan banyak hal liar bersama pria di rengkuhannya sekarang. Tetapi bahkan di mimpi terliarnya sekalipun, ia tidak tahu bahwa mencium Kita Shinsuke bisa sememabukkan ini. Kalau diibaratkan, pasti seperti mencicipi seteguk air di tengah padang pasir.

Ciuman yang awalnya berjalan dalam ritme pelan, mulai naik menjadi tempo yang tergesa-gesa. Atsumu seolah tidak memiliki waktu banyak untuk merasai setiap inci bibir dengan sedikit rasa manis dari es krim stroberi yang mereka sama-sama habiskan tadi siang. Kedua tangannya ia angkat untuk merengkuh wajah yang lebih tua tanpa berniat untuk melepaskan sedetik pun. Saat Kita ikut mengangkat tangan dan melingkarkannya di sekitar punggung Atsumu, ia yakin ada aliran listrik yang merambat di sepanjang tubuhnya.

Saat keduanya sama-sama membutuhkan oksigen, Kita lah yang pertama kali melepaskan ciuman mereka dengan napas terengah-engah. Namun Atsumu masih belum rela untuk menciptakan jarak di antara mereka sehingga ia langsung merengkuh pinggang yang lebih tua dan memutar balik posisinya. Sekarang, punggung Kita lah yang menyentuh dinding dengan tubuh Atsumu menekannya pelan.

“Jadi selama ini Kakak tau?” tanya Atsumu di tengah napasnya yang memburu selagi menjatuhkan ciuman-ciuman kecil di sepanjang leher seniornya. “Terus kenapa Kakak diem aja?”

“Soalnya...” Kita memejamkan mata dan mendongakkan kepalanya lebih ke atas untuk memberikan pria itu kemudahan. “Aku mau liat usaha kamu kayak gimana.”

Mendengar jawaban itu, Atsumu berhenti kemudian menatap Kita tak percaya.

“Kak, kamu tega banget selama ini ngebiarinin aku tersiksa...” Atsumu bahkan tidak peduli seandainya ucapannya terdengar seperti anak kecil yang tengah merajuk. Ia mana menyangka ternyata orang yang disukainya memiliki perasaan yang sama sejak dulu.

“Habis lucu liatnya,” jawab Kita seraya terkekeh pelan. “Tapi lama-lama aku sendiri yang nggak tahan.”

Atsumu mengerang pasrah, kemudian meletakkan keningnya di atas bahu orang yang sangat disukainya tersebut sejak lama. Napas mereka berdua sudah kembali normal dan Atsumu tengah menikmati usapan lembut jari-jari yang lebih tua di antara surainya.

“Kak, kamu tau kenapa aku suka musim panas?”

Ada gumaman pelan yang terdengar sebelum Kita menjawab dengan nada bertanya. “Karena kita pertama kali ketemu pas musim panas?”

Atsumu mengangkat kepalanya dan lagi-lagi menatap wajah sang Kapten dengan takjub sekaligus tak percaya.

“Kakak beneran bisa nebak semuanya, ya...?”

Yang ditanya hanya tertawa pelan, kemudian menarik wajah tercengang Atsumu dengan kedua tangan untuk kembali menjatuhkan kecupan cepat di bibirnya.

“Soalnya aku juga suka musim panas, Atsumu.”

Kali ini Atsumu tidak perlu bertanya alasan pria itu sempat berbohong padanya. Ia kembali menghapus jarak di antara mereka sampai tak terhitung lagi berapa lama waktu yang mereka habiskan hanya untuk berciuman. Atsumu yakin setelah ini mencium Kak Kita akan menjadi hobi barunya.

Kalau pria itu mengizinkan.

“Kak, berarti sekarang kita...?” Atsumu menggantungkan pertanyaannya penuh harap. Kalau mereka berdua sudah saling menyukai, sekalian saja melabeli hubungan baru tersebut, bukan?

Lag-lagi ada gumaman panjang dari sang Kapten memenuhi ruangan ganti tersebut. Kita Shinsuke tersenyum geli seraya merapikan poni Atsumu yang sedikit jatuh berantakan. Mata Atsumu benar-benar membulat lebar dengan binar seperti anak kecil yang menunggu akan dibelikan mainan terbaru.

“Tergantung. Kalau kamu bisa bantu tim kita buat menang di pertandingan musim panas nanti, aku bakal—”

“Tim kita pasti bakal menang, Kak.” Atsumu bahkan tak perlu menunggu sampai Kita menyelesaikan ucapannya. “Dan aku bilang gini bukan cuma gara-gara mau kita pacaran secara resmi, tapi aku yakin tim kita bakal menang. Dengan atau tanpa syarat dari Kakak.”

Kita tersenyum lebar. Inilah yang dia suka dari Miya Atsumu.

“Bagus. Kalau gitu nggak perlu nunggu sampai menang, aku mau pacaran sama kamu sekarang juga.” Kita Shinsuke kembali berjinjit seraya mengalungkan kedua lengannya di sekitar leher Atsumu dan mencium kekasih barunya itu dengan penuh kelegaan.

Dan Atsumu pun berani bersumpah, inilah musim panas terbaik sepanjang hidupnya.


Happy birthday, Kita Shinsuke! Summer shines brighter with you in our life (tsah).

@fakeloveros