After The Rain

Oikawa memasukkan gawainya ke dalam tas meskipun bunyi notifikasi pesan masuk masih berbunyi nyaring. Ia mengabaikannya karena tahu itu pasti dari Matsukawa dan meme-meme anehnya. Bukannya tidak ingin membalas pesan dari temannya, hanya saja dingin dari hujan yang semakin deras membuatnya ingin menghangatkan tubuh dengan kedua tangannya.

Sudah tidak bawa payung, pakaian yang hari ini ia kenakan pun sebatas kaus dan cardigan tipis. Lapisan itu mana mungkin bisa menghalau angin yang mulai menusuk sampai ke tulangnya.

Perhatiannya tersita ketika terdengar suara cipakan air dan sosok yang berlari dari kejauhan menghampirinya. Oikawa lantas tersenyum lebar begitu pria bersetelan jas lengkap yang datang sambil membawa payung tiba di hadapannya.

Di tengah napasnya yang terengah, Iwaizumi tersenyum kecil dan ikut berlindung dari tetesan air di bawah kanopi yang sama. Oikawa menghadap pria itu dan mulai menghapus jejak-jejak air di surai sang pria dengan sapu tangan miliknya.

“Maaf ya, kamu jadi repot-repot ke sini…”

Iwaizumi seakan tidak mendengar permintaan maaf tersebut dan malah memperhatikan Oikawa dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan kening yang mengerut dalam.

“Kamu keluar bajunya begini? Emangnya gak dingin? Udah tau lagi musim hujan. Mana kebiasaan suka lupa bawa payung,” omel pria itu seraya mulai melepas jasnya. “Nih, pake sebelum masuk angin.”

Oikawa menerima milik pria itu dengan senang hati. Setelah memakainya, ia menggosok-gosokkan kedua lengannya agar aroma bergamot yang menempel semakin menguar. Oikawa tersenyum dan langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang kekasih.

“Hehehe, makasih.”

Iwaizumi tidak membalas, namun ada dua lengan kokoh yang balas memeluknya erat. Mendadak, dinginnya cuaca seakan dikalahkan oleh hangatnya pelukan pria itu.

“Dingin.” Meskipun begitu, Oikawa berbohong hanya supaya rengkuhan pria itu di tubuhnya semakin mengerat.

“Kamu nggak kuat dingin?”

Oikawa menggeleng. Ia menghirup dalam-dalam campuran alami aroma tubuh kekasihnya, parfum dan hujan yang menempel sebelum menjawab.

“Biasa aja, tapi aku lebih nggak suka hujan.”

“Kenapa?”

“Dulu pas kecil aku pernah mimpi… hujan turuuun terus di bumi, pokoknya nggak berhenti-berhenti sampai kita semua tenggelam.”

Ada gumaman kecil yang terdengar di dekat telinganya sekaligus tangan yang mulai memainkan surainya dengan lembut.

“Kan tinggal berenang aja.”

“….aku nggak bisa berenang.” Oikawa mengakui dengan sedikit malu.

“Oh, ya?”

Kali ini Oikawa mengangguk dan langsung bertanya, “emang kamu bisa?”

“Aku pernah juara dulu pas SMP.”

Oikawa mendesah, lantas menjauhkan kepalanya dari ceruk leher sang pria.

“Kamu apa sih yang nggak bisa? Olahraga hampir bisa semua, di kuliah juga nilainya bagus terus, bisa masak, terus-“

“Ada yang aku nggak bisa.” Iwaizumi menyela sehingga membuat Oikawa mengatupkan bibirnya dalam sekon yang sama.

“Kamu nggak bisa apa?”

“Aku nggak bisa berhentiin hujan. Soalnya kamu kan nggak suka.”

Oikawa tertawa rendah. Tangannya menepuk pelan bahu prianya.

“Cheesy banget, ih. Belajar dari Kuroo, ya?”

Iwaizumi ikut tersenyum lalu menarik Oikawa kembali ke posisi awal. Mereka terus berpelukan di bawah nyanyian hujan yang masih berusaha membasahi setiap inci pijakan.

“Aku nggak bisa…” Tiba-tiba Iwaizumi kembali bersuara, meskipun sedikit teredam oleh bunyi hujan yang semakin menggila.

“Hm?” Oikawa menjauhkan wajahnya sedikit untuk menatap sisi wajah kekasihnya.

“Aku nggak bisa jamin kamu bakal bahagia selamanya sama aku.”

Oikawa terdiam, lantas mencubit pinggang Iwaizumi pelan sampai pria itu mengaduh kesakitan.

“Aku nggak minta kamu jadi cenayang. Lagian ngapain mikirin masa depan yang belum ketahuan bakal ada apa? Mending fokus sama apa yang kita punya sekarang. Kamu punya aku. Aku punya kamu. Gitu aja juga kita udah bahagia, kan?”

Oikawa sudah kembali memberi jarak di antara mereka untuk menatap Iwaizumi dengan serius tepat di manik mata. Pria itu membalas dan beberapa detik yang terasa begitu panjang setelahnya, melontarkan pertanyaan yang nyaris membuat Oikawa tersedak salivanya sendiri.

“Kalau udah lulus, kamu mau nggak nikah sama aku?”

Oikawa mengerjapkan matanya berulang kali. Ia tidak mungkin salah dengar karena meski sedang hujan, anehnya suara pria itu terdengar begitu nyaring di telinganya.

“Ini… kamu…” Oikawa tergagap. “Kamu ngelamar aku?”

Iwaizumi tersenyum kecil dan menyingkirkan poni Oikawa yang jatuh dan hampir menutup matanya.

“Belum, soalnya aku nggak punya cincinnya sekarang,” jawab pria itu dengan tenang. “Nanti aja, pas aku udah beli dan…” Iwaizumi kemudian mendongak ke arah langit malam yang masih mengucurkan substansinya. “Kalau cuacanya lagi cerah. Soalnya orang yang mau aku lamar nggak suka hujan ternyata.”

Oikawa yakin, sebentar lagi suara detak jantungnya pasti bisa mengalahkan derasnya air langit yang turun. Hatinya berdesir dengan limpahan kasih sayang untuk pria di hadapannya. Baru membayangkan bisa hidup selama yang ia mampu bersama Iwaizumi saja sudah membuatnya luar biasa bahagia.

Mungkin kalau pria itu benar-benar melamarnya sekarang, Oikawa tidak akan ragu untuk menjawab “iya”.

“Oke.” Oikawa menjawab seraya ikut mendongak ke arah langit, lalu kembali ke wajah pria itu. “Aku bakal tunggu sampai cuacanya cerah.”


Maklum di rumahku hujan lagi... maunya nulis yang anget-anget huhuhu...

@fakeloveros