sua

“Kayaknya kamu suka banget ya, jalan-jalan ke hutan sendirian.”

Suara itu membuat Oikawa tersentak sehingga kepalanya ia tolehkan ke pemiliknya yang tengah berjalan mendekat. Oikawa bahkan tidak mendengar suara langkah pria itu datang. Atau dia barusan terlalu tenggelam dalam pikirannya sendiri hingga tidak menyadari apa pun?

“Lo sendiri selalu tau gue ada di sini,” cibir Oikawa sebagai upaya untuk mengalihkan rasa gugupnya yang mendadak muncul. “Lo cenayang, ya?”

Iwaizumi tersenyum tipis. “Kalau cenayang, harusnya aku bisa tau apa keputusan kamu nanti.”

Oikawa lantas terdiam.

“Maaf, maksudku bukan—“

“Gue yang minta maaf,” Oikawa memotong pelan. Tatapannya ia alihkan ke permukaan danau yang tak beriak. “Gue nggak bisa ngasih keputusan secepat itu. Gue…” Ia menelan salivanya susah payah. “Jujur, gue nggak tau harus gimana sekarang.”

Oikawa terkejut ketika didengarnya Iwaizumi tertawa rendah.

“Seenggaknya kita ada di kapal yang sama sekarang. Sama-sama nggak tau harus ngapain.”

Mereka berdua diam seribu bahasa selama beberapa saat sampai Oikawa yang memecahkan keheningan tersebut.

“Lo bahkan belum tau rahasia gue,” ucapnya getir.

“Kalau udah pun jawabanku bakal tetep sama,” jawab pria di sampingnya cepat dan terdengar tulus.

“Kenapa lo yakin banget?”

“Mungkin karena ini pertama kalinya aku sayang sama seseorang.”

Jawaban pria itu sungguh mengejutkan sampai Oikawa harus menarik napas dalam untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Ia tidak merespons apa pun sampai Iwaizumi kembali bersuara.

“Aku tau pernyataan barusan kedengeran bodoh di situasi kita yang lagi kayak gini. Padahal aku udah bilang semua keputusan ada di tangan kamu. Aku bahkan udah ngizinin kamu pulang. Tapi kalau boleh jujur,” Iwaizumi melangkah sampai tepat berdiri di sampingnya. “Semua bertentangan sama apa yang aku rasain.”

Oikawa mau tak mau menoleh. Tatapan bingungnya lagi-lagi dibalas oleh keseriusan dari netra hijau itu.

“Apa yang aku mau sebenernya adalah nggak ngizinin kamu pergi, dan maksa kamu biar tetep ada di sini. Juga ngeyakinin kamu sekuat tenaga bahwa masa depan kita nggak akan jadi seburuk itu kalau kita berani coba.”

Oikawa tertegun. Matanya mengerjap cepat menghadapi gelapnya suasana di sekitar sekaligus keteguhan sang Alpha yang begitu membara. Rasanya seperti menghadapi air dan api di saat yang bersamaan.

“Gue…” Oikawa membasahi bibirnya yang terasa kering. Ia menunduk— tak berani menatap netra yang semakin membakarnya dalam diam. “Gue nggak tau harus ngomong apa.”

“Kamu nggak perlu ngomong apa-apa. Itu cuma keegoisanku yang nggak perlu kamu penuhin. Aku paham kamu butuh waktu.” Iwaizumi membisu, kemudian melanjutkan dengan sedikit ragu. “Tapi… sebelum kamu pergi, apa aku boleh minta sesuatu?”

Oikawa mengangkat wajah dan dengan matanya bertanya.

“Boleh aku peluk kamu?”

Padahal sedang tak ada angin yang bertiup, tapi tubuhnya langsung meremang pendengar pertanyaan dalam satu tarikan napas tersebut. Tubuhnya mendadak terasa panas dan matanya kembali mencari distraksi selain pria di hadapannya.

“Sebelum ini lo nggak pernah minta,” balasnya refleks. “P-pas kita misi bareng itu… lo duluan yang nyentuh gue.”

“Maaf ya, harusnya aku nggak seenaknya kayak gitu,” ujar Iwaizumi yang untuk pertama kalinya terdengar sungkan. “Kalau yang tadi nggak boleh juga nggak apa-apa.”

Oikawa meneliti pria di hadapannya sekali lagi. Kali ini ia berusaha tenang, tanpa melibatkan emosinya yang kemarin sempat kacau begitu mendengar bahwa Iwaizumi tidak menginginkan bantuannya. Bukannya ia benar-benar akan membantu, namun penolakan itu tak ayal cukup membuatnya sedih dan kecewa.

Namun sekarang, dengan keyakinan yang sudah bulat, Oikawa maju beberapa langkah.

Tangannya ia lingkarkan di pinggang pria itu sampai panas tubuh sang Alpha menembus kaus tipisnya. Ia berusaha tidak memedulikan Iwaizumi yang tersentak pelan dan memilih untuk memejamkan mata seraya meletakkan kepalanya di bahu soulmate-nya itu. Aroma cokelat tercium begitu kuat dari ceruk leher Iwaizumi dan segala kecemasannya seakan tersapu bersih.

Tak beberapa lama, ada sepasang lengan yang melingkari tubuhnya erat.

Kayak deja vu, pikir Oikawa di tengah proksimitas tersebut. Rasanya samar-samar ia ingat pernah memeluk Iwaizumi seperti ini di tempat yang sama. Atau ia hanya pernah bermimpi?

“Tolong janji sama aku…” bisik Iwaizumi di dekat telinganya. Pelukan pria itu mengerat. “Kamu nggak akan balik sebelum dapet jawaban yang pasti.”

Oikawa mengangguk pelan.

“Dan selama kamu di sana, tolong jangan terlibat apa pun yang berbahaya.”

Dirinya mengangguk untuk kedua kalinya.

“Apa… aku boleh minta satu hal lagi?”

Oikawa bergumam pendek— menahan keinginan untuk menjawab bahwa permintaan apa pun pria itu pasti akan ia kabulkan. “Apa?”

“Bisa nggak kamu panggil namaku? Sekali aja.” Suara pria itu terdengar sedikit memohon sekarang. Tangan yang merengkuhnya semakin kuat menahannya seakan dirinya enggan dilepaskan.

Bukan berarti Oikawa pun ingin melepaskan diri.

Hajime.” Nama sang Alpha mengalir lancar dari bibirnya. Ada kepuasan aneh yang membuat dadanya meledak-ledak begitu mengucap nama kecil pria itu. “Aku janji.”

Tak ada ucapan yang terlontar lagi di antara keduanya. Oikawa bisa mendengar desah lega pria itu sebelum dirinya bersumpah bahwa Iwaizumi baru saja mencium lembut sisi kepalanya dan membisikkan kata terima kasih.


Kasian deh dikasih angst terus... sabar ya guys

@fakeloveros


trigger warning: mentions of suicide


Tak ada sepatah kata pun yang terlontar dari mulut keduanya begitu mereka telah masuk kembali ke dalam mobil. Makanan yang seharusnya terasa nikmat pun menjadi hambar di lidahnya, tidak terkecuali minuman favoritnya sendiri.

Pemandangan yang lewat melalui jendela bahkan tidak dipedulikannya. Oikawa terlalu gelisah sampai ia hanya mampu menatap lurus seraya menggenggam erat handphone-nya. Alisa belum membalas pesannya, dan itu berarti, tak ada yang bisa membantunya untuk berpikir jernih sekarang.

Ketika mobil yang dikendarai sudah keluar dari keramaian kota, barulah Oikawa membuka suara.

“Kita... mau ke mana?”

“Ke rumah kakekku,” jawab Iwaizumi singkat.

“Kakek?” Oikawa bertanya bingung. Ia tidak pernah mendengar soal anggota keluarga Iwaizumi yang lain selain ayah, juga ibunya yang telah meninggal. Oikawa tahu Iwaizumi pun tidak memiliki saudara kandung ataupun sepupu. Dan fakta bahwa kakek pria itu masih hidup namun tinggal di tempat terpisah cukup mengejutkannya.

Seakan paham dengan isi pikirannya, Iwaizumi meneruskan.

“Orang tuaku sama-sama anak tunggal, makanya aku nggak punya paman atau bibi. Kakek nenek dari pihak ayahku udah meninggal, jadi ini... kakek dari pihak ibu.”

“Terus kenapa kita mau ke sana?”

“Karena ibuku dimakamin di sana.”

Oikawa mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia ingin bertanya lebih jauh, tetapi sepertinya harus menunggu sedikit lagi. Bagaimanapun, Iwaizumi pasti akan menjelaskan semuanya.

Setelah setengah jam berlalu, Iwaizumi membawa mobil mereka masuk ke dalam sebuah hutan kecil. Ada jalan yang hanya cukup dimasuki oleh satu kendaraan, lalu mereka berhenti di depan rumah kayu bercat biru pucat. Rumah itu berukuran sedang, dan terlihat tak terawat dari luar seolah-olah tak ada penghuninya.

Oikawa mengikuti Iwaizumi yang sudah keluar dari mobil terlebih dulu. Pria itu mengetuk pintu, dan mereka menunggu beberapa sekon sebelum ada suara pelan yang menyahut di baliknya.

“Siapa...?”

“Kakek, ini aku,” jawab pria di sebelahnya dengan singkat. Sama seperti dirinya, Iwaizumi pun terlihat tegang. Bahkan lebih tegang dibandingkan saat menjalankan misi bersama mereka.

Saat pintu itu terbuka, langsung ada sepasang netra hijau gelap yang menyambutnya dengan awas. Oikawa berdiri dengan canggung sementara soulmate-nya menyapa pria tua itu.

“Kakek, maaf aku dateng tiba-tiba. Kenalin, dia...” Iwaizumi menoleh sembari meletakkan sebelah tangan di belakang punggungnya. “Soulmate aku. Oikawa Tooru.”

Ada keterkejutan bermain di netra sang pria tua saat mengamati Oikawa dengan lebih lekat. Tatapannya sedikit mengingatkan Oikawa pada Iwaizumi sendiri. Mungkin karena warna mata mereka nyaris sama. Dan dari intensitas yang familier, Oikawa tak ragu lagi bahwa pria yang ada di hadapannya merupakan kakek dari sang Alpha.

“Halo, K-kakek...” sapa Oikawa sedikit ragu. Meskipun begitu, pria yang disapanya tidak membalas dan hanya menatap mereka bergantian.

“Masuk.”

Oikawa kembali mengikuti langkah Iwaizumi. Matanya baru menyapu cepat isi rumah tersebut ketika suara soulmate-nya terdengar lagi.

“Aku mau ngajak Tooru ke makam Ibu.”

Sang pria tua berhenti, lalu menoleh ke arah cucunya. Mereka saling melempar pandang penuh arti cukup lama sebelum yang lebih tua menghela napas besar dan menghilang di balik dapur.

Oikawa menatap dengan bingung sementara Iwaizumi mulai melangkah menuju pintu belakang. Ia pun cepat-cepat menyusul tanpa sempat memperhatikan interior keseluruhan dalam rumah.

Ternyata bagian belakang rumah itu lebih luas dari tampilan depannya atau bagian dalam yang barusan mereka lewati. Ada semacam kebun yang dihiasi oleh banyak tumbuhan berwarna-warni. Namun pandangannya segera teralihkan oleh batu pualam besar yang terletak di tengah-tengah. Saat mendekat, ada nama seorang wanita yang terukir indah dan Oikawa langsung tahu siapa pemilik makam tersebut.

“Ibuku... meninggal waktu aku umur tiga tahun.” Suara halus Iwaizumi terdengar dari sampingnya tatkala pria itu menatap makam ibunya tanpa berkedip. Suasana di sekitar mereka begitu hening sampai Oikawa takut jika ia bergerak sedikit, maka cerita pria itu akan terganggu.

Jadi ia mendengarkan dalam diam.

“Orang-orang luar klan taunya Ibuku meninggal karena sakit, padahal...” Ada jeda yang begitu panjang sampai Oikawa menoleh dengan khawatir. “Ibuku bunuh diri.”

“Eh?”

Oikawa mengerjap beberapa kali. Mulutnya terbuka sedikit mendengar fakta mengejutkan tersebut. Tangannya nyaris terangkat untuk menyentuh pria itu, tetapi ia menahan diri.

“Tooru.” Iwaizumi menyebut namanya begitu tiba-tiba. Sang Alpha berputar 180 derajat ke arahnya dan menatapnya tepat di manik mata. “Apa kamu pernah denger soal salah satu pasangan soulmate yang kehilangan tanda* meskipun mereka udah mating?”

Oikawa menggeleng. Lidahnya terasa kelu. Tentu ia tidak pernah mendengar hal semacam itu. Setahunya, tanda yang diberikan masing-masing pasangan setelah proses mating akan bertahan selamanya. Karena itu merupakan simbol kepemilikan, serta ikatan atas satu sama lain.

“Ibuku kehilangan tandanya nggak lama setelah aku lahir.”

Suara pria itu begitu pelan— nyaris berbisik. Namun gaungnya begitu terasa sampai Oikawa yang berdiri dengan terkejut mampu merasakan kesedihan pria itu. Matanya membeliak semakin lebar begitu memproses apa yang baru saja didengarnya.

“T-tapi... itu nggak... mungkin...” Oikawa menyanggah lemah. Tangannya mendadak terasa dingin. Ada perasaan tidak enak yang menyusup saat melihat ekspresi soulmate-nya.

“Emang seharusnya nggak mungkin, tapi ternyata itu... bukan berarti nggak bisa terjadi. Ibuku salah satu contohnya.”

Iwaizumi mengembalikan netranya ke arah makam sang Ibu, lantas menunduk untuk membersihkan dedaunan yang jatuh di atasnya.

“Waktu ibuku lahir, ternyata darah Omega yang ada di dalam tubuh beliau nggak cukup banyak, nggak cukup kuat. Ibuku jadi sering sakit-sakitan. Bahkan kata dokter, ibuku nggak mungkin bisa hamil.”

Oikawa menegang. Ia berusaha menetralkan ekspresinya, tetapi tangannya tak bisa berbohong. Kesepuluh jarinya bergetar sampai ia harus menautkan dan menyembunyikannya di balik punggung.

Iwaizumi yang tak menyadari perubahan sikapnya, lantas melanjutkan ceritanya.

“Yah, kayak yang kamu lihat, ibuku akhirnya berhasil hamil... dan aku lahir. Tapi semenjak itu, ada yang berubah. Ibuku jadi... menjauh dari soulmate-nya sendiri. Dari ayahku. Mereka berusaha bertahan, walaupun lama-kelamaan ibuku nggak ngerasain apa-apa sama sekali, terutama begitu tanda mating-nya menghilang. Baru waktu aku umur tiga tahun, ibuku akhirnya nyerah.”

“Nyerah...?” Oikawa membisikkan satu kata itu dengan tak berdaya.

“Ibuku ngerasa bersalah... karena nggak ngerasain apa pun terhadap ayahku lagi. Sementara ayahku masih ngerasain hal yang sama. Sendirian. Aku nggak tau... siapa di antara mereka yang jadi gila duluan, tapi aku pikir, pasti itu alasan ibuku akhirnya memutuskan buat pergi selamanya.”

Angin bertiup dari sela-sela dedaunan. Namun hembusannya begitu pelan — tanpa suara — seolah menambah kengerian dari suasana yang menyelimuti mereka detik ini. Dari kenyataan mengerikan yang menimpa pasangan tersebut dan apa efeknya untuk Iwaizumi. Rasanya Oikawa ingin meraih pria itu dan memeluknya erat sembari menenangkannya.

“Dan kita bisa aja ngalamin hal yang sama.”

Oikawa membatu. Ia yakin tadi sudah salah dengar.

“Apa? Barusan kamu bilang apa?”

Untuk pertama kalinya, Oikawa benar-benar merasa takut. Apa yang dirasakannya beberapa hari terakhir tak sebanding dengan dingin yang mendadak menjalar di sekujur tubuhnya. Wajah Iwaizumi yang sudah kembali menatapnya terlihat begitu tersiksa seakan sedang menghadapi hukuman tak berbelas.

“Itu... bukan kejadian pertama kalinya dalam keluarga ibuku. Kakekku pun kehilangan tanda mating-nya nggak lama setelah ibuku lahir. Habis itu... nenekku pergi, nggak tau ke mana, dan ninggalin kakek dan ibuku berdua.”

“M-maksud kamu...” Oikawa menarik napas tercekat. “Itu... akibat keturunan? T-tapi kamu kan Alpha...? Terus kakek kamu juga...” Dirinya tak sanggup lagi berkata-kata. Pikirannya kosong dan tubuhnya seperti mendapat beban yang begitu berat. Dadanya sesak seakan ada yang menyumpal alat pernapasannya.

Iwaizumi tak langsung menjawab. Pria itu pun terlihat kehilangan kata-kata sampai ada suara halus yang menginterupsi mereka dari belakang.

“Kalian mau minum teh dulu? Kamu suka teh?” tanya Kakek Iwaizumi yang perlahan menghampiri mereka. Berbeda dengan di awal, netra hijau sang pria tua kini terlihat lebih lembut dan penuh simpati— seakan paham dilema yang tengah dirasakannya.

Tanpa berkata sepatah kata pun, Oikawa berjalan dengan gontai mengikuti langkah pelan sang Kakek. Iwaizumi mengikuti di belakangnya tanpa suara. Tapi tak perlu menoleh pun Oikawa tahu mereka merasakan kebingungan yang sama.

Saat sudah masuk kembali ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu, tercium aroma menenangkan teh mawar. Sang Kakek menaruh nampan di atas meja dan menyerahkan salah satu cangkir dengan isi yang masih mengepulkan asap ke arahnya. Oikawa menerimanya sambil menggumamkan kata terima kasih, lantas mulai menyesapnya.

Iwaizumi tidak ikut duduk di sebelahnya. Pria itu hanya berdiri dan bersandar di dinding dekat rak buku— menatapnya intens seakan Oikawa bisa menghilang kapan saja.

Oikawa berusaha untuk tidak mengindahkan pria itu dan lebih memilih menaruh atensinya terhadap kakek tua yang sudah siap berbicara.

“Semua yang diceritain Hajime benar, dan saya, sebagai kakeknya meminta maaf...” ucap pria tua itu dengan tulus ditemani tatapan sedih serta menyesal. “Entah semua ini berawal dari kapan, tapi yang jelas... ini memang bukan pertama kalinya dalam keluarga kami. Dan mungkin, kamu bisa tahu kalau saya sendiri seorang Alpha. Sama seperti Hajime.”

Semua energinya seolah terhisap habis. Kalau tidak sedang duduk, Oikawa yakin tubuhnya sudah terjatuh lemas. Ia tidak tahu harus merespons bagaimana selain menatap sang Kakek dengan pandangan nanar.

“Berarti... seandainya saya dan Iwaizumi... mating, tanda saya yang ada di dia nanti bakalan menghilang?” Oikawa berusaha memuntahkan pertanyaan itu meskipun hatinya merintih. Rasanya seperti ada monster dalam dirinya yang berteriak minta dibebaskan karena kesakitan.

“Ada kemungkinan seperti itu...” Pria tua itu menjawab pelan— sedikit ragu. Dari sudut matanya, Oikawa bisa melihat Iwaizumi berdiri tegang. “Tapi semua masih tergantung.”

“Tergantung...?”

“Setahu saya, darah Alpha yang ada di tubuh Hajime cukup kuat. Dan posisi pemimpin klan pun sedang dipegang sama dia, jadi seharusnya itu berpengaruh.”

“Pemimpin klan?” Oikawa bertanya tak mengerti. “Bukannya pemimpin klan Iwaizumi masih...?” Ayahnya?

“Itu cuma status di atas kertas.” Iwaizumi memotong dari seberang. Tatapannya tak sedetik pun beralih darinya. “Tapi aslinya, begitu aku nginjak umur dewasa, Ayahku langsung nyerahin posisi pemimpin itu. Tapi orang-orang luar klan taunya masih Ayahku yang memimpin.”

Satu lagi kejutan yang baru didengarnya.

“Tapi... aku sendiri baru tau itu punya pengaruh. Kenapa?” Kali ini Iwaizumi ikut mengalihkan atensinya pada Sang Kakek. Pria itu bertanya dengan kerutan di keningnya yang semakin dalam. “Kakek nggak pernah cerita soal ini.”

“Karena teori itu pun belum pasti. Tapi... kekuatan seorang Alpha itu bisa ditingkatkan, beda dengan Omega. Otoritasnya bisa lebih kuat dibandingkan Alpha lain yang nggak terlahir sebagai posisi pemimpin. Dan karena kamu punya semua itu... bisa aja nasib kamu beda sama Kakek.”

Ruangan itu hening. Tak ada yang bergerak seinci pun. Jantung Oikawa berdetak kencang memukul rongga dadanya hingga ia bisa merasakan dentumannya.

“Apa... ikatan sama Soulmate juga bisa ngaruh?” tanya Iwaizumi setelah keheningan panjang tersebut. Ada kilatan penuh harap yang tampak di balik matanya selama sedetik. “Nggak beberapa lama semenjak ketemu Tooru, aku bisa ngerasain rasa sakit dia, padahal kita belum mating. Apa... itu juga bisa ngaruh?”

Sang Kakek menegakkan tubuhnya dan membuat ekspresi berpikir keras. Oikawa menahan napas selang menunggu jawaban yang akan keluar dari bibir pria tua itu.

“Bukan berarti itu... nggak mungkin. Kakek pernah dengar juga beberapa kasus di mana ikatan soulmate itu sangat kuat sampai mereka bisa ngerasain rasa sakit pasangannya bahkan sebelum proses mating itu sendiri. Ada yang bilang, ikatan itu lebih kuat daripada ikatan soulmate biasa.” Sang Kakek lalu menatap Oikawa dan cucunya bergantian. “Itu bisa jadi pertanda bagus.”

“Berapa—” Oikawa berdeham karena suaranya terdengar serak. “Berapa persen kemungkinan yang kami punya?”

“Tooru—”

“50 banding 50. Atau lebih, seandainya tanda mating kalian bisa bertahan lebih dari dua tahun.”

Oikawa mengepalkan kedua tangannya. Dua tahun. Seandainya ia melalui proses mating dengan Iwaizumi, mereka hanya memiliki waktu dua tahun sebelum salah satu berubah jadi gila.

Sebelum tandanya untuk pria itu menghilang dan Oikawa harus menikmati kesendirian akibat perasaan Iwaizumi yang tak mungkin terjangkau lagi.

Atau... dua tahun itu bisa terlewati tanpa ada satu pun di antara mereka yang berpotensi kehilangan akal sehat. Tandanya di pria itu akan terus ada dan mungkin, akhirnya, mereka bisa hidup bahagia. Seperti di cerita-cerita.

Pilihannya ada dua, dan semuanya memiliki porsi yang sama.

Seperti bisa membaca pikirannya, Iwaizumi langsung maju dan berlutut di depannya sambil menggenggam kedua tangannya yang sedingin es. Cokelat bertemu hijau. Oikawa menatap kosong sementara Iwaizumi berbicara dengan penuh keyakinan.

“Tooru, dengerin aku. Aku nggak akan ninggalin kamu, apa pun yang terjadi. Aku nggak peduli meskipun tanda itu nanti hilang, aku nggak akan ke mana-mana. Aku bakal tetep sayang sama kamu, mau tanda itu ada atau nggak. Kita bisa berjuang sama-sama.”

Oikawa menggigit bibirnya kuat-kuat seraya menahan isak tangisnya yang bisa keluar kapan saja. Ia ingin menjawab ketulusan pria itu, juga memercayai hal yang sama. Namun bayangan bahwa di masa depan bisa saja hanya dirinya yang mencintai seorang diri membuatnya ragu. Oikawa tidak ingin jatuh dalam harapan tak berdasar, tapi di waktu yang sama, ia tidak rela melepaskan apa yang sudah didapatnya sekarang.

Mereka hanya memiliki dua tahun untuk dipertaruhkan.

“Apa... kita bisa pulang sekarang?”

Namun Oikawa malah melontarkan pertanyaan itu. Ia perlu waktu untuk berpikir. Genggaman di tangannya pun mengendur dan Iwaizumi terlihat sedih. Tetapi sang Alpha langsung mengangguk dan bangkit berdiri.

Begitu mereka sudah berada di luar dan bersiap untuk pergi, lengannya ditahan oleh pria yang sedari tadi memperhatikan interaksi mereka dalam keterdiaman.

“Oikawa... saya tahu keputusan ada di tangan kamu sekarang, tapi kalau saya boleh kasih saran... dan mungkin permintaan, tolong kasih Hajime kesempatan. Semenjak ibunya meninggal, ayahnya melepas semua tanggung jawab. Nggak ada yang merawat dia layaknya orang tua kandung. Dia tumbuh sendiri tanpa benar-benar ngerasain kasih sayang dari orang lain. Dan sekarang, cuma kamu yang bisa kasih itu ke dia karena nggak akan ada soulmate lain lagi seumur hidup kalian. Kamu sama dia berhak bahagia lewat satu-satunya kesempatan yang ada.”

Oikawa tertegun, namun tak ada reaksi yang bisa diberikannya selain satu anggukan singkat. Ia tidak ingin berpikir apa pun sekarang. Bayangan kasur empuknya yang sudah menanti terasa seperti surga untuk pikirannya yang sudah lelah.

Lagi-lagi tak ada yang berbicara begitu mobil sudah melaju. Oikawa menyenderkan kepalanya di jendela mobil tatkala memperhatikan lampu-lampu jalanan yang mulai dinyalakan. Matahari hampir tenggelam sepenuhnya sehingga menyisakan warna-warna abstrak di langit tak berbintang.

Rasa sakit itu masih ada. Bukan sakit yang membakar melainkan sesuatu yang menjalar secara perlahan. Seperti ada sesuatu yang menggerogoti dari dalam hingga tinggal menunggu waktu sampai tak ada yang tersisa.

Iwaizumi sendiri menggenggam roda kemudi begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih. Bibirnya membentuk segaris tipis dan matanya terpaku ke jalanan.

Oikawa bertanya-tanya dalam hati, apakah sekarang pria itu pun sedang merasakan sakitnya?


*Tanda: maksudnya di sini kayak semacam mark. Kalau di kebanyakan fanfic aboverse, biasanya mark itu ada di leher.

@fakeloveros

“Whoaa...”

Oikawa tidak bisa menahan dirinya untuk memandang takjub pemandangan yang ada di depannya. Perjalanan selama dua jam menjadi tidak terasa begitu mengetahui apa yang ternyata ingin ditunjukkan oleh soulmate-nya.

Harus Oikawa akui, bahkan klan-nya sendiri pun tidak memiliki gudang senjata sebesar dan selengkap yang dilihatnya sekarang.

“Wow.” Lagi-lagi Oikawa hanya mampu mengutarakan kekagumannya dalam satu kata. “Ini punya klan kalian semua?”

Iwaizumi yang melangkah di sampingnya, menjawab sambil mengernyitkan keningnya sedikit. “Klan kita. Ini punya kamu juga sekarang.”

“Oh.” Oikawa masih terlalu sibuk mengagumi persediaan senjata di hadapannya untuk mengoreksi perkataan pria itu. “Tapi bukannya yang diambil kemaren kata lo ada yang punya klien juga, ya?”

“Iya, beberapa emang terkadang dijual lagi,” Iwaizumi lalu menatapnya penuh arti. “Ilegally,” sambung pria itu penuh penekanan.

Oikawa mengangguk-angguk. Tanpa perlu dijelaskan, ia sendiri tahu bisnis yang biasa dijalankan oleh komplotan mafia seperti mereka, terutama yang berhubungan dengan senjata. Terkadang ada petinggi negara yang bisa diajak bekerja sama untuk memberi perlindungan bagi mereka dari belakang. Sebagai gantinya, ada transaksi-transaksi ilegal yang harus dijalankan demi memenuhi permintaan klien. Meskipun begitu, bukan berarti kelompok mafia mana pun bersedia dijadikan bawahan. Setiap kelompok berjuang masing-masing dengan caranya sendiri. Gencatan senjata yang dilakukan kedua klan mereka pun merupakan salah satunya.

Apalagi begitu kedua anak dari petinggi klan itu sendiri telah memiliki ikatan, maka tak ada alasan bagi masing-masing pihak untuk tidak membantu jika dibutuhkan.

Singkatnya, mereka telah beraliansi.

Namun Oikawa tak mengatakan bahwa sejujurnya ia masih bingung dengan posisinya sendiri. Menurut hukum alam, seorang Omega yang telah diklaim oleh Alpha-nya wajib mengikuti di mana pun pasangannya tinggal dan menjadikan kelompok itu keluarga barunya. Oikawa memang sudah pindah, tapi karena Iwaizumi sendiri belum mengklaimnya secara fisik, maka hukum itu belumlah berlaku sepenuhnya. Jadi begitu Iwaizumi menegaskan bahwa semua senjata ini termasuk miliknya... Oikawa tak tahu harus merespons bagaimana.

Ngomong-ngomong, Iwaizumi kapan rut-nya, ya...? Apa dia juga nggak pernah curiga soal siklus heat gue? Atau jangan-jangan, Kita nanya waktu itu karena sebenernya disuruh dia?

Pikiran menakutkan yang sempat memenuhi benaknya itu langsung terpotong begitu Iwaizumi berhenti melangkah di sebelahnya.

“Ini bagian senjata terakhir yang diambil klan Aone waktu itu,” jelas pria itu sambil menunjuk lima rak besar yang diisi oleh senjata berderet. Jumlahnya sangat banyak— bahkan lebih dari yang dikumpulkan di tempat-tempat sebelumnya saat Oikawa ikut serta.

“Sebanyak ini yang ada di tempat terakhir?” tanyanya terkejut sambil mendekati salah satu rak. Tangannya gatal ingin menyentuh salah satu senjata. “Apa karena di sini ada yang punya klien?”

Iwaizumi mengangguk, lantas ikut mendekat. Ia mengambil salah satunya dan tahu-tahu menyerahkannya pada Oikawa yang menerimanya dengan sedikit gugup.

“You like guns?” tanya pria itu seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung celana dan menatapnya lekat. “I bet you do, karena kemaren kata Kita kamu jago, kan.”

Oikawa tak langsung menjawab. Ia tengah mengagumi senjata yang ada di tangannya dan berandai-andai apa suatu hari bisa menggunakannya. Meskipun terampil, Ayahnya sangat membatasinya dalam penggunaan senjata sehingga ia harus puas dengan posisi sebagai pengajar. Bahkan dalam misi nyata sekalipun, ia tak begitu banyak menggunakan senjata.

Yah, bukan berarti gue sering ikut misi klan juga... pikir Oikawa pahit seraya mengangkat wajahnya untuk menatap soulmate-nya.

“Suka, tapi gue nggak pernah punya senjata sendiri.”

Iwaizumi mengangkat sebelah alisnya dengan bingung. “Kenapa?”

Oikawa mengedikkan bahu, lalu mengembalikan senjata itu kembali ke tempatnya. “Nggak tau. Mungkin Ayah gue pikir, gue nggak cukup jago.”

“Nggak mungkin.”

“Lo belum pernah liat gue megang senjata, kan?” tuduh Oikawa sambil berkacak pinggang karena sanggahan pria itu datang terlalu cepat.

“Nggak perlu liat juga aku tau kamu bakalan jago.”

Oikawa mengibaskan tangannya. Menurutnya, pernyataan itu terlalu konyol.

“Lo ngomong gitu cuma karena gue soulmate lo.”

Iwaizumi terdiam, namun matanya mengatakan banyak hal. “Mungkin iya, tapi kamu pun beda dari Omega lain yang pernah aku temuin. Jadi jawabanku tetep sama.

Itu karena gue emang beda...

Oikawa menelan balasan itu dan langsung mengalihkan wajahnya. Di kerongkongannya mendadak seperti ada gumpalan kapas dan sesuatu yang menindih jantungnya sampai ia kesulitan bernapas. Ia berusaha berjalan menjauh agar wajahnya tidak terlihat oleh Iwaizumi.

“Gue laper, apa kita bakal makan siang sekarang?” tanyanya, berusaha mengalihkan topik. Oikawa berdeham beberapa kali agar suaranya tidak terdengar pecah.

Ada hela napas berat yang terdengar dari belakangnya, serta langkah kaki yang tak beberapa lama menyusul.

“Apa ada yang lagi kamu pengen makan sekarang?” tanya Iwaizumi begitu mereka keluar dari gudang dan berjalan menuju mobil yang terparkir tak jauh dari sana. Beberapa penjaga berbadan besar menundukkan kepala saat mereka lewat. Oikawa membalasnya dengan canggung, lalu memikirkan jawaban dari pertanyaan Iwaizumi.

“Nggak ada. Gue makan apa aja, kok. Lagian bukannya lo yang ngajak kencan dulu—”

Oikawa berhenti begitu menyadari omongannya. Ia pura-pura terbatuk sambil menatap ke arah mana pun selain sang Alpha. Tapi dari sudut matanya, ia bisa menangkap Iwaizumi tengah tersenyum kecil.

“Iya, emang aku yang ngajak kencan, tapi aku juga bilang kan, kita bisa pergi ke mana pun kamu mau.”

Oikawa menggeleng. Seumur hidup, dirinya jarang sekali berkencan, terlebih lagi menjalin hubungan. Jadi mana mungkin dia tahu tempat-tempat bagus yang sering dikunjungi pasangan?

“Terserah ke mana aja,” tegasnya sekali lagi sambil membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Cuaca panas membuat mobil itu sedikit pengap sehingga Oikawa langsung mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah. “Asal yang adem aja deh. Di luar panas banget.”

Dan dengan pernyataan terakhirnya itu, tanpa membuang-buang waktu Iwaizumi langsung menjalankan mobil.


Tanpa diduga, Iwaizumi membawanya ke sebuah restoran Italia dengan warna putih gading mendominasi. Oikawa nyaris meneteskan air liurnya begitu mereka melangkah ke dalam. Pelayan yang melayani langsung mengarahkan keduanya ke salah satu meja yang terletak sedikit di pojok. Begitu sang pelayan meninggalkan mereka dengan buku menu, Oikawa refleks bertanya.

“Lo pernah ke sini sebelumnya?”

“Belum pernah.”

“Oh ya? Sama mantan pacar juga nggak pernah?”

Iwaizumi berhenti membalikkan lembaran buku menu, kemudian menatap Oikawa dengan satu alis yang terangkat.

“Apa ini cara kamu buat nanya aku pernah pacaran atau nggak?” Iwaizumi terkekeh, lantas menjawab santai. “Buat sekadar info, tapi aku nggak pernah pacaran.”

“Termasuk sama Kiyoko?”

Dalam hati, Oikawa mengutuk mulutnya yang tak bisa diam. Meskipun begitu, ia takkan menarik pertanyaannya karena sebenarnya sangat penasaran dengan hubungan kedua orang itu. Iwaizumi tak langsung menjawab, melainkan menghela napas seperti orang lelah, lalu menutup buku menunya.

“Udah kubilang, aku sama dia nggak ada hubungan apa-apa. Kita cuma pernah deket sebagai temen.”

“Pernah? Berarti sekarang nggak lagi?”

Iwaizumi menatapnya lama sebelum bertanya pelan. “Kayaknya kamu beneran nggak inget apa-apa ya, sama kejadian di deket danau beberapa hari lalu?”

Oikawa berusaha memasang wajah tenang, meskipun hatinya merasa waswas.

“Apa... ada kejadian atau omongan penting yang harusnya gue inget?”

“Buatku semuanya penting,” Iwaizumi menjawab singkat sebelum mengalihkan wajahnya ke samping. “Apa kamu mau pesen sekarang?” tanyanya seolah sengaja mengalihkan pembicaraan. Oikawa akhirnya menutup mulut— memutuskan untuk tidak membahas topik itu lebih jauh. Selanjutnya begitu ia mengangguk, Iwaizumi lantas memanggil pelayan.

Setelah selesai menyebutkan pesanan mereka, netra sang Alpha bergulir kembali ke arahnya. Kali ini kepala pria itu ikut dimiringkan seraya menampilkan ekspresi berpikir.

“Kamu suka stroberi.”

Itu bukan pertanyaan.

“I...ya?” balasnya tak yakin. Tadi Oikawa memang memesan jus stroberi sebagai minuman pendamping, tapi kenapa tiba-tiba Iwaizumi membahasnya?

“Pantes aja di kulkas banyak susu stroberi,” sambung pria itu dengan kesadaran yang terpampang jelas. Wajah Oikawa langsung berubah merah mendengar hipotesis tersebut.

“Maaf, menuhin banget ya? Itu Alisa yang kemarin bawain... dulu gue emang suka ngestock di kulkas, tapi kalau terlalu menuhin gue bisa—”

“Nggak kok, nggak apa-apa.” Iwaizumi buru-buru memotong racauannya. “Mulai sekarang, bilang aja kamu butuhnya apa. Kalau emang salah satunya suka itu, nanti aku stock terus di kulkas.”

“E-eh, nggak usah.” Kali ini gantian Oikawa yang menyela. “Lagian gue nggak minum setiap hari juga kok, lo nggak perlu repot-repot.”

“Nggak repot,” Iwaizumi bersikeras. “Karena aku sendiri yang mau.”

Oikawa menyerah. Sepertinya ia telah menemukan orang yang lebih keras kepala dibandingkan dirinya.

“Kenapa lo tiba-tiba kayak gini?”

Iwaizumi menyatukan alisnya tak paham. “Maksudnya? Kayak gini gimana?”

“Ya... kayak gini. Tiba-tiba peduli, padahal di awal gue inget banget lo nyuekin gue. Nganggap seolah-olah gue nggak ada. Terus tiba-tiba lo ngajak gue temenan, bahkan hari ini jalan-jalan. Apa lo berubah pikiran? Soal kita? Karena gue tau lo sendiri nggak bisa langsung nerima ikatan ini, dan lo juga bilang bahwa ada yang disembunyiin.”

Rasanya seperti habis berlari berkilo-kilo meter. Oikawa menarik napas panjang untuk mengisi rongga dadanya dengan pasokan udara yang sempat habis setelah mengutarakan kalimat begitu panjang. Ia tahu seharusnya mereka bersantai hari ini. Iwaizumi bahkan sudah berniat baik dengan mengajaknya kencan, tapi Oikawa malah menghancurkannya dengan segala praduga yang dimilikinya.

Mungkin karena selama ini ia hidup dalam ketidakpastian tentang dirinya sendiri. Ia jadi meragukan segala hal dan menganggap apa yang ada di depan mata tidak semuanya sesuai kenyataan.

Termasuk sikap Iwaizumi sekarang padanya.

Oikawa tahu Iwaizumi membutuhkan waktu untuk menjawab karena sampai pelayan datang dan menghidangkan makanan mereka pun pria itu masih terdiam. Oikawa yang tadinya lapar, mendadak kehilangan selera makan saking tegangnya menunggu jawaban pria itu.

“Kalau gitu, apa kamu mau dengerin dan nerima semuanya? Misal habis ini aku ceritain?”

Oikawa tertegun. Tidak menyangka bahwa pertanyaannya tidak langsung terjawab. Namun Iwaizumi terlihat begitu serius menantikan jawabannya, dan posisi mereka pun berbalik— dirinya yang kini terdiam.

Tetapi mereka sudah sejauh ini, jadi tidak mungkin Oikawa menolaknya. Ia pun ingin mengetahui banyak hal tentang pria itu, dan Oikawa yakin, Iwaizumi menginginkan hal yang sama darinya.

Dan itulah yang membuatnya semakin takut sekarang.

Kalau Oikawa mengiyakan, maka takkan lama sampai Iwaizumi menuntut hal yang sama— sesuatu yang disembunyikannya. Dan ia harus siap dengan segala konsekuensi, bahkan yang terburuk, dari soulmate-nya sekalipun.

Memang di dunia ini tidak ada yang sempurna, tapi bukan berarti, setiap orang mampu menerima ketidaksempurnaan itu dengan lapang dada. Bahkan di umurnya yang sekarang, ia sendiri masih menganggap apa yang tidak dimilikinya itu sebagai aib.

Oikawa takut Iwaizumi akan berpikiran hal yang serupa.

Tapi di sisi lain, ia masih sepenuhnya berharap. Seperti memegang ujung tali balon yang bisa lepas kapan saja, Oikawa berharap bisa menahannya agar tak sampai melayang di udara. Dan untuk melakukannya, tak ada jalan lain selain menarik talinya sekuat tenaga.

Selain berusaha. Selain berkata jujur.

“Mau. Apa pun itu, bakal gue dengerin semuanya.”

Lalu seandainya balon itu nanti terlepas, bisakah Oikawa berjanji pada dirinya sendiri agar tidak menangis? Atau berharap bahwa balon itu akan kembali padanya?

“Habisin dulu makanan kamu. Habis ini, bakal aku ajak ke suatu tempat.”

Tentu hanya ada satu cara untuk mengetahuinya.


Jiaaakh... pada ngira mau dikasih adegan fluff yah xixixi

@fakeloveros

Oikawa menginjakkan kaki di permukaan yang sudah sangat dihapalnya. Seperti rumah.

Atau mungkin, karena ia memang sedang berada di rumahnya.

Pria dengan seragam biru langit bertuliskan 13 itu menghirup napas dalam-dalam dan memejamkan mata di tengah hiruk pikuk suasana. Ia bisa mendengar sorakan dari kedua negara yang menyatu dan memenuhi ruangan besar tersebut seperti oksigen yang juga mengisi rongga dadanya sampai penuh. Ada aroma familier yang membuat kerinduan sekaligus semangatnya naik berkali lipat.

Ia membuka mata dan yang dilihatnya pertama kali adalah seragam merah dengan wajah-wajah tak asing yang dulu pernah mengisi masa remajanya. Rasanya seperti melihat kilasan balik dalam sebuah film saat sang tokoh utama mengalami sebuah tragedi.

Bedanya, Oikawa tak pernah sekalipun menganggap memori itu sebagai tragedi. Justru ia berterima kasih karena berkat semua pengalaman — yang tak semuanya bisa dikatakan indah — itu ia bisa berada di sini dan tetap mengejar mimpinya.

Sekarang, Oikawa bertemu lagi dengan orang-orang yang tanpa sadar terus mencambuknya agar tetap maju. Di sisi yang berlawanan, namun memiliki tujuan yang sama.

Kemenangan.

Oikawa tersenyum kecil saat wajah datar Kageyama menyambutnya— bersiap melakukan servis begitu peluit pertama berbunyi. Ada juga wajah bersemangat Hinata yang siap membuat kagum penonton dengan gerakan penuh kejutannya. Ia sendiri sudah sering melihatnya dan tetap dibuat terkejut. Pun dengan wajah berseri pemain lain yang sudah terlalu dihapalnya.

Netranya lantas bergulir ke sisi kanan lapangan lawan dan langsung menemukan apa — atau lebih tepatnya siapa — yang dicarinya. Berdiri tegap dalam balutan seragam hitam yang sudah terlalu sering dilihatnya — entah dari artikel berita, wawancara di TV atau bahkan foto yang pria itu kirim langsung ke HP-nya — Iwaizumi memicingkan dan menatap ke arah lapangan seolah pria itu sendiri yang akan menghadapi lawan.

Tak ada yang berbeda. Semua tetap sama. Hajime-nya.

Seolah tahu ada yang menatapnya lekat, pria berwajah tegas itu melirik ke samping sehingga pandangan mereka bertemu. Bahkan dari jarak sejauh ini, Oikawa tetap bisa mengenali netra gelap sang pria yang tengah memakunya di tempat. Bulu kuduknya meremang dan jantungnya berdetak lebih kencang— bukan karena euforia dari suasana pertandingan itu sendiri. Oikawa yakin.

Mereka bertatapan untuk waktu yang cukup lama— cukup untuk membuatnya lupa akan tujuannya berdiri di tempat ini atau mengapa ada sorakan-sorakan yang menyebutkan namanya penuh kebanggaan.

Mendadak, ada yang menepuk bahunya pelan dari belakang sehingga Oikawa terpaksa kembali menapak bumi.

Oikawa menoleh, lantas salah satu anggota timnya mengangguk dan memberi acungan jempol. Ia pun membalasnya dengan anggukan singkat dan bersiap di posisi.

Ia bisa berbicara dengan Hajime nanti. Mereka masih memiliki banyak waktu. Namun sekarang, tiba saatnya ia mempertaruhkan waktu itu sendiri untuk mencetak angka sebanyak-banyaknya.

Ia sudah berjanji kepada seseorang untuk memberikan yang terbaik dan Oikawa tidak ada niatan sedikit pun untuk melanggarnya.

Oikawa kembali menghirup napas dalam dan tersenyum. Ia sudah berada di rumah dan siap mencapai kemenangan di negara tempat kelahirannya sendiri.

Lalu, peluit pun berbunyi.


@fakeloveros

Setelah membalas pesan dari Kita, Oikawa lantas membuka pesan dari soulmate-nya dan menatap layar gawainya lama.

Ini pertama kalinya Iwaizumi memintanya datang ke ruangan kerja pribadi pria itu.

Dan ini pertama kalinya juga Oikawa akan berbincang dengan pria itu setelah kejadian dirinya mabuk. Oikawa ingat, ia terbangun pagi itu dengan terkejut dan tahu-tahu sudah ada Iwaizumi yang berdiri di sebelahnya selagi menyodorkan segelas air. Mukanya pasti benar sudah semerah kepiting rebus begitu menyadari di mana dirinya berada. Dan begitu kesadarannya terkumpul sempurna, hal yang dilakukannya pertama kali adalah kabur dari kamar sang Alpha.

Parahnya, dia tidak mengingat sama sekali kejadian malam sebelumnya. Tapi pasti ada sesuatu yang terjadi sampai dirinya bisa tidur di kamar pria itu.

Oikawa tidak berani bertanya.

Dan sekarang, Oikawa menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu besar berwarna mahogani gelap yang memisahkannya dengan soulmate-nya. Entah apa yang ingin dibicarakan pria itu sampai memanggilnya secara khusus kemari.

“Masuk.”

Terdengar suara bariton milik sang Alpha yang langsung membuat bulu kuduknya meremang. Oikawa membuka pintu itu pelan dan langsung disambut pemandangan Iwaizumi yang tengah sibuk membaca tumpukan dokumen di mejanya. Pria itu mengangkat wajah, kemudian memberi senyum kecil selagi dirinya melangkah ke dalam.

“Hai, maaf ya tiba-tiba manggil kamu ke sini.”

Oikawa menggeleng. Mendadak dirinya merasa gugup sampai-sampai tangannya berkeringat. Ia menghapus peluhnya diam-diam di celananya sembari menghindari tatapan pria itu.

Saat Oikawa sudah duduk, Iwaizumi menyingkirkan dokumen-dokumen yang tersebar di atas meja, lantas menangkupkan kedua tangan di bawah dagu seraya menatapnya dengan pandangan tak terbaca.

“A-apa?” tanya Oikawa yang merasa jengah karena ditatap seintens itu.

“Nggak apa-apa, gimana latihan hari ini? Aku denger kamu bantuin Kita ngelatih anggota klan nembak? Dan katanya kamu jago.”

Mau tak mau, ada sekelumit rasa bangga yang Oikawa rasakan saat Iwaizumi memujinya. Ia berusaha menjaga posturnya tetap tenang meskipun jantungnya bertalu kencang.

“Biasa aja, kok. Dulu juga di klan gue suka bantuin hal yang sama.”

“Apa kamu kangen pulang?”

“Eh?” Oikawa sempat tertegun karena mendadak ditanya seperti itu. “Ehm… masih sih, lumayan. Tapi di sini juga… mulai terbiasa. Orang-orangnya baik.”

Iwaizumi terlihat puas mendengar jawabannya. Sang Alpha mengangguk singkat sebelum netranya berubah menjadi lebih serius.

Oikawa menegakkan badannya.

“Alasanku manggil kamu ke sini karena mau ngajakin kamu buat ngunjungin gudang rahasia senjata klan kita. Semua senjata yang waktu itu diambil udah terkumpul. Thanks to you. Dan makanya aku mau ngajakin kamu ke sana buat sekalian ngecek langsung.” Iwaizumi mengambil jeda untuk menatapnya dalam. “Karena kupikir kamu berhak tau.”

Oikawa memproses rentetan kalimat yang barusan didengarnya dengan tidak percaya. Entah kenapa, ajakan Iwaizumi membuatnya terharu. Rasanya seperti benar-benar dihargai atas kerja kerasnya yang menurutnya tidaklah seberapa. Namun pria itu terlihat bersungguh-sungguh dan menanti jawabannya dengan penuh harap.

“Oh, oke… boleh. Kapan?”

“Besok. Karena tempatnya agak jauh, jadi kita bakal berangkat pagi. Nggak apa-apa?”

Oikawa mengangguk sebagai tanda persetujuan.

Ia pikir pembicaraan mereka selesai sampai di situ. Oikawa baru berniat untuk pamit ketika tiba-tiba Iwaizumi melanjutkan.

“Oh ya, satu lagi…”

Oikawa menunggu. Mungkin ada hal penting lainnya yang ingin disampaikan pria itu. Namun Oikawa mengernyitkan keningnya saat mendapati Iwaizumi bergerak sedikit gelisah.

“Besok kalau urusan di gudang udah selesai… apa kamu mau pergi sama aku?”

“Pergi? Ke mana?”

Iwaizumi berdeham pelan dan mengubah posisi duduknya.

“Apa kamu keberatan kalau aku ngajak… pergi makan? Nonton? Atau… apa pun terserah kamu.”

Oikawa memperhatikan Iwaizumi yang terlihat mengeluarkan semburat merah dari pipinya dengan tatapan kosong. Otaknya mendadak sulit diajak untuk berpikir jernih. Ia yakin tidak salah dengar. Barusan apakah maksud Iwaizumi—

“Itu… maksudnya… kayak kencan?” Oikawa bertanya tak yakin. Tangannya tanpa sadar meremas celananya sendiri selagi menunggu jawaban. Iwaizumi menggaruk belakang lehernya dengan kikuk sementara seulas senyum kecil menghiasi wajahnya yang masih kemerahan.

“Iya, kalau kamu nggak keberatan?”

Astaga.

Oikawa menelan saliva untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak terasa kering. Matanya tidak bisa beralih dari semburat merah yang baru pertama kali ia lihat di wajah pria itu. Ekspresi Iwaizumi yang biasanya datar dan dingin, kini terlihat…

Manis.

“Oke.”

Tanpa ragu, Oikawa menjawab singkat.

Seperti dimantrai sesuatu, kegugupan Iwaizumi lantas menghilang dan digantikan dengan senyum lebar. Oikawa harus mengerjapkan matanya berulang kali untuk memastikan bahwa pemandangan di depannya kini adalah Iwaizumi yang terlihat senang.

“Oke. Kalau gitu… besok, kita bisa pergi ke mana pun kamu mau.”

Dan Oikawa harus menahan diri agar tidak ikut tersenyum lebar meski ada rasa menggelitik yang memenuhi perutnya.

Kalau menurut orang lain, seperti ada kupu-kupu di dalamnya.


Kalian bosen gak sih, aku kasih narasi terus… LOL

@fakeloveros


TW: public sex, handjob, anal sex

Read at your own risk!


Dua puluh menit menit kemudian Oikawa sudah siap dengan segala persiapannya ke pantai. Ia meminjam tas besar milik Ushijima yang biasa digunakan temannya itu pergi berlatih voli. Dan komentar pertama yang dikeluarkan Iwaizumi saat melihatnya adalah—

“Ini kamu mau sekalian camping, ya?”

Oikawa mendelik kesal selagi memanuver tubuhnya masuk ke dalam mobil setelah meletakkan tas besarnya di jok belakang. Iwaizumi menatap tas yang dibawa dan dirinya secara bergantian dengan geli dari kursi pemudi. Pria itu mengenakan kemeja berwarna biru langit dengan kancing atas yang terbuka dua. Lengan panjangnya sengaja digulung sampai siku sehingga memperlihatkan otot-otot kencang yang didapat dari hasil olahraga rutin. Iwaizumi tersenyum ke arahnya dan binarnya matanya memperlihatkan antusiasme yang tak asing.

Oikawa merasa udara di dalam mobil semakin panas, dan ia yakin ini tak ada hubungannya dengan musim panas.

“Emang kamu nggak bawa apa-apa?” Oikawa mengalihkan atensinya dengan mengangkat topik lain.

Yang ditanya hanya mengedikkan bahu dan mulai menjalankan mobil.

“Nggak banyak. Kamu sendiri bawa apa aja itu? Kita beneran cuma mau ke pantai, kan?”

“Aku bawa baju ganti, handuk, minum, sunscreen, topi, HP, dompet, charger, picnic mat, bola tiup, sama—”

“Wow, wow, oke,” Iwaizumi cepat-cepat memotongnya seraya tertawa kecil. Pria itu menggeleng pelan sementara Oikawa memasang wajah bingung.

“Apa?”

“Nggak, cuma—” Iwaizumi tertawa lagi. “Persiapan kamu beneran banyak.”

“Aku jarang ke pantai, jadi bingung mau bawa apa aja...” ucap Oikawa sambil memainkan ujung kemeja dengan corak pohon kelapa kepunyaannya. “Kenapa? Lebay, ya?”

“Bukan lebay.” Namun Iwaizumi masih tersenyum lebar saat menyanggahnya. “Cuma well-prepared.”

Oikawa mendorong bahu kekasihnya dengan sedikit kencang. “Bilang aja aku lebay!”

Iwaizumi tertawa renyah sembari tangannya mengacak surai halus Oikawa.

“Kamu kok keringetan banget gini? Emang cuacanya panas banget?” tanya pria itu tiba-tiba saat menyadari beberapa helai rambut jatuh di atas keningnya dan menempel di sana akibat keringat.

“Ugh, AC apartemenku lagi rusak, makanya aku keringetan gini,” jawab Oikawa sambil mengipas-ngipas lehernya yang masih mengeluarkan peluh meskipun pendingin udara di dalam mobil sudah dinyalakan.

“Dari kapan rusaknya? Kenapa nggak bilang? Kan kamu bisa nginep di aku tau gitu.”

“Nggak ah, kasian Ushijima nanti dia tersiksa sendirian.”

“Ya biarin aja.”

Kali ini gantian Oikawa yang terkekeh pelan. “Udah dua setengah tahun, kamu masih aja cemburu sama dia?”

“Selama dia masih suka sama kamu, ya aku bakal tetap cemburu,” gerutu Iwaizumi di bawah napasnya.

“Oh, kayaknya dia udah mulai move on. Beberapa hari kemaren cerita habis ngedate sama temen part-timenya,” balas Oikawa santai. “Jadi udah, kamu nggak ada saingan.”

“Kageyama.”

“Apa?”

“Masih ada Kageyama.”

Tanpa bisa menahan dirinya, Oikawa tertawa kencang mendengar nama mantan adik kelasnya disebut.

“Dia cuma temen baik aku, kan kamu tau. Astaga, bisa-bisanya kamu cemburu sama dia...” Oikawa menggeleng tak habis pikir. Walaupun sudah dua tahun lebih menjalin hubungan, Iwaizumi masih saja menaruh kecurigaan pada juniornya yang malang itu. Pantas saja setiap mereka bertemu, wajah kekasihnya selalu berubah masam.

“Tuh kan, untung kita nggak ngajak siapa-siapa hari ini! Udah aku bilang, biar kita bisa pacaran berdua,” sambung Oikawa begitu dilihatnya Iwaizumi sudah kembali berkonsentrasi menatap jalanan di depannya. Ia kemudian meraih kacamata hitamnya yang ada di atas dashboard mobil dan memakainya. “Pokoknya hari ini kita seneng-seneng di pantai!”


“Woy! Iwaizumi! Sini join!”

“Oikawa! Jangan nonton doang, dong! Sini lo juga!”

Begitu namanya ikut disebut, Oikawa meringis pelan. Iwaizumi yang ada di sebelahnya melambai ke arah orang yang memanggil mereka sebelum menghela napas berat.

“Kok bisa ketemu mereka di sini...” Oikawa mengerang, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Kita jadi nggak bisa berduaan!”

Oikawa pikir, acara bermain ke pantainya hari itu bisa dihabiskan berdua saja dengan Iwaizumi. Namun siapa sangka, tak beberapa lama begitu menginjakkan kaki di atas hamparan pasir putih itu, ada yang menyapa mereka berdua.

“Soalnya Matsun ngeliat tweet lo.”

Mendadak, ada suara lain yang terdengar dari belakangnya. Oikawa menoleh dan mendapati Kuroo tengah menyeringai ke arahnya diikuti Kenma yang sibuk menancapkan netranya ke layar handphone.

“Habis itu, Suga deh yang ngusulin buat kita ikutan ke pantai,” sambung temannya lagi sambil melingkarkan tangan di bahunya. “Ya maaf deh, kalau udah ngehancurin rencana lo yang mau berduaan sama Iwaizumi.”

Namun tidak ada nada penyesalan sama sekali di balik permintaan maaf temannya itu. Kuroo malah tertawa semakin kencang begitu dilihatnya Oikawa memasang tampang cemberut.

“Lagian emang masih kurang, ya? Di kampus lo berdua nempel terus, pas liburan juga. Nggak apa-apa dong kalau sekarang main sama kita? Bentar lagi kita mau lulus, loh!”

“Belah mananya gue nempel terus sama dia? Orang Iwaizumi sibuk terus di kantor Ayahnya,” jawab Oikawa sembari memperhatikan punggung kekasihnya yang sudah berjalan lebih dulu di depan mereka. “Ini juga nggak biasanya dia bisa dapet day off segampang itu, makanya gue maunya berduaan aja!”

Kuroo menepuk-nepuk punggungnya dengan gestur menenangkan. “Ya udah, sabar aja. Atau lo coba aja nanti diem-diem pergi atau gimana kek. Walaupun kayaknya susah ya, soalnya Matsun dari tadi ngebet banget ngajakin pacar lo main voli pantai.”

“Matsun anjing,” Oikawa mengumpat penuh perasaan. Rasanya ia ingin menguburkan wajah ceria Matsukawa ke dalam pasir saat itu juga.

Kuroo kembali tertawa terbahak-bahak.


Oikawa menatap keramaian di depannya tanpa minat. Entah sudah berapa kali dirinya menghela napas berat hari itu. Semangat yang sejak awal ia rasakan seperti menguap begitu saja ke udara dan sekarang ia hanya bisa tenggelam dalam mood-nya yang tak kunjung membaik.

Singkat kata, yang mengganggu mereka kini bukan lagi teman-temannya, tetapi juga orang asing.

Oikawa pikir, Matsukawa yang tanpa sadar memonopoli kekasihnya hari itu sudah merupakan kenyataan yang buruk, tapi pikirannya langsung berubah begitu satu per satu kaum hawa ikut menonton permainan voli mereka. Dan yang membuat Oikawa bertambah kesal adalah saat wanita-wanita itu secara terang-terangan menggoda Iwaizumi.

Ada yang meneriakkan nama pria itu (dari mana juga mereka tahu?!), ada yang dengan berani mendatangi dan mengajak Iwaizumi main bersama, bahkan ada juga yang dengan seenaknya langsung menyentuh lengan kekasihnya seraya berakting manja.

Oikawa ingin muntah melihatnya.

Walau, Oikawa sendiri tak bisa menyalahkan mereka karena Iwaizumi terlihat sangat menarik perhatian di bawah terik cahaya matahari. Kemeja yang awalnya hanya terbuka tiga kancing, kini sudah dilepas seluruhnya sehingga menghadirkan pemandangan perut berotot pria itu. Jeans-nya pun sudah diganti dengan celana pendek. Panasnya cuaca ditambah hasil permainan voli membuat Iwaizumi berkeringat dan peluhnya mengalir dengan sangat menggoda dari dadanya lalu turun sampai ke bawah hingga menghilang di balik celana pria itu.

Oikawa kesal, tapi juga menikmati pemandangan langka tersebut.

Mungkin akan lebih baik untuk segera mengakhiri waktu bermain mereka, lalu ia bisa mengusulkan pulang ke apartemen pria itu dan keduanya bisa—

“Halo, permisi...”

Pikirannya teralihkan begitu ada suara wanita asing masuk ke gendang telinganya. Oikawa menoleh dan mendapati sosok wanita yang tak dikenalnya sudah berdiri di sebelahnya. Wanita itu menatapnya malu-malu dengan bibir yang digigit pelan.

“Ada apa, ya?” tanyanya, masih berusaha bersikap sopan walaupun mood-nya sedang berantakan. Wanita itu mengerjapkan matanya berulang kali kemudian tersenyum kecil.

“Aku ngeliat kamu berdiri di sini sendirian. Kalau nggak keberatan... kamu mau nggak ikut main sama kita?” Setelah bertanya seperti itu, sang wanita asing mengedikkan kepalanya ke belakang. Oikawa melihat ada tiga wanita lain yang tengah memperhatikan mereka dari kejauhan sambil berbisik-bisik satu sama lain. Oikawa berusaha untuk tidak memutar kedua bola matanya seraya mengembalikan atensi kepada wanita itu. Baru ia membuka mulut untuk menjawab, tiba-tiba ada sepasang lengan yang merengkuh pinggangnya dari samping.

“Hei, kamu kenapa sendirian aja di sini?”

Iwaizumi tahu-tahu sudah berada di sebelahnya, memeluknya, dan memamerkan senyumnya yang paling manis. Pria itu lantas mencium pipinya seakan-akan tidak ada seseorang yang berdiri di depan mereka dan menyaksikan semua itu.

“Hah? O-oh, nggak... lagi cool off aja. Kamu udah selesai mainnya?” tanya Oikawa di tengah kebingungannya atas sikap pria itu yang tiba-tiba.

“Udah, biarin Matsun lawan Daichi sekarang. Aku juga udah capek. Mau beli minum? Kayaknya tadi ada yang jual air kelapa di sana,” jawab Iwaizumi santai tanpa melepaskan rengkuhan tangannya. Oikawa melirik ke arah wanita asing yang kini menatap mereka dengan mulut sedikit terbuka. Tiba-tiba, ada keinginan untuk tertawa dari dalam dirinya.

“Hmm, boleh. Kebetulan aku haus banget,” jawabnya sambil memeluk balik pinggang kekasihnya dan menatap manja— ikut tidak memedulikan wanita yang berada di depan mereka.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Iwaizumi langsung menariknya pergi, bahkan tanpa melirik wanita itu sama sekali. Begitu sudah agak menjauh, barulah Oikawa tertawa keras.

“Liat nggak sih, tadi lagi ada yang ngajakin aku ngobrol? Jahat banget kamu nyuekin dia!” ucap Oikawa di tengah tawanya yang terpingkal-pingkal.

“Ya liat, makanya aku buru-buru nyulik kamu. Biar nggak ada yang godain lagi,” jawab Iwaizumi tanpa mengendurkan rengkuhannya. “Kamu tau seharian ini orang-orang pada ngeliatin kamu kayak gimana?”

Oikawa mengulum senyum geli. “Kebalik tau, bukannya kamu yang seharian ini narik perhatian cewek-cewek?”

Pertanyaannya dijawab dengan sebuah kerutan dalam di kening pria itu seakan-akan Iwaizumi benar-benar tidak menyadari efek eksistensi dirinya sendiri terhadap orang lain.

“Dan aku udah capek main sama Matsun. Jangan salah paham, aku seneng main sama mereka, tapi rencana kita ke sini kan buat berduaan, kenapa kita malah—”

Oikawa memotong ucapan pria itu dengan menempelkan bibirnya cepat. Iwaizumi lantas menghentikan racauannya, sedangkan Oikawa hanya tersenyum jahil.

“Aku juga maunya berduaan sama kamu.”

Ada kilatan determinasi di balik mata kekasihnya. Namun sebelum Oikawa dapat memproses apa pun, Iwaizumi tahu-tahu sudah menariknya ke arah bangunan kecil yang berada sedikit jauh dari pantai.

“Kita mau ngapain ke sini?”

Oikawa mengenali bangunan itu sebagai ruang ganti— terbagi dua, yaitu untuk pria dan wanita dengan banyak loker serta beberapa kubikel kamar mandi di dalamnya. Saat mereka masuk, tidak ada siapa-siapa di dalam dan Iwaizumi langsung menariknya ke kubikel paling ujung.

Meskipun belum bisa memproses sepenuhnya, jantung Oikawa bertalu kencang saat mengikuti langkah terburu-buru pria itu. Iwaizumi langsung mendorongnya masuk dan mengunci pintu kubikel.

Dalam hitungan detik, bibir pria itu sudah membungkamnya dalam ciuman keras— nyaris dominan. Oikawa bahkan tidak sempat memenuhi rongga dadanya dengan pasokan udara sehingga napasnya langsung tercekat. Ia mencengkeram lengan kokoh pria itu sementara Iwaizumi menariknya lebih dekat seakan jarak yang sudah menipis belumlah cukup.

Tuhan...” Iwaizumi mengerang begitu bibir mereka terpisah selama beberapa detik. Dadanya naik turun dengan napas yang tersengal seolah habis berlari puluhan kilometer. Oikawa pun tak ada bedanya.

“Bukan Tuhan,” Oikawa mengoreksi sambil tersenyum miring. “Tapi Tooru.”

Iwaizumi tak melayangkan protes sama sekali dan namanya lantas dibisikkan pelan begitu bibir mereka kembali bertemu dalam ciuman yang tak kalah dengan panasnya cuaca. Oikawa yang sudah berkeringat merasa punggungnya semakin basah akibat gerakan tangan mereka yang saling menggerayangi. Ia tidak sengaja menggigit bibir Iwaizumi saat tangan pria itu turun dan menyentuh selangkangannya. Oikawa mendesah pelan saat tangan kekasihnya memijit dengan lihai kemaluannya yang sudah menegang. Kakinya langsung lemas, dan kalau tidak ada Iwaizumi yang memeluknya erat, pastilah dia sudah terjatuh ke atas lantai.

“Kamu tau...” Iwaizumi berbisik tepat di depan telinganya. Napas berat pria itu membuat bulu kuduknya berdiri. “Seharian ini aku udah nahan diri...”

“Aku— ah, aku juga...” Oikawa tidak yakin ia bisa mengeluarkan kalimat koheren di tengah nikmat yang diberikan Iwaizumi. “Seharian ini kamu dikelilingin cewek-cewek itu...”

“Nggak peduli,” Iwaizumi mengucap singkat. Gerakan tangannya semakin cepat. “Yang aku liat cuma kamu.”

Oikawa tidak mampu merespons lagi. Matanya terpejam erat dan bibirnya mengeluarkan desahan panjang saat tangan pria itu sudah menyelinap ke balik celananya. Kecepatannya tidak berkurang, bahkan sekarang tangan Iwaizumi ikut menekan ujung kemaluannya sehingga membuatnya berjengit.

Gila. Kamu basah.”

Gara-gara siapa coba...

Oikawa hanya mampu berpikir dalam hati karena kemampuan bervokalisasinya seakan sudah lenyap. Iwaizumi mengangkat dagunya lalu mulai menciuminya lagi seperti orang yang kelaparan. Ciuman itu melibatkan terlalu banyak gigi dan lidah, namun Oikawa menikmati setiap detiknya.

“Lain kali— mmm,” Iwaizumi baru saja menggigit bibir bawahnya dan menariknya pelan. “Lain kali, kita nggak usah ke pantai lagi.”

“Kenapa?” Iwaizumi balik bertanya di tengah kesibukannya mengeluarkan kemaluannya sendiri yang sudah merah dan tegang. Oikawa menelan salivanya susah payah saat visualisasi di depannya mengacaukan kemampuan berpikirnya.

“Kamu— oh, astaga,” Oikawa kini harus melingkarkan tangannya di sekitar punggung kekasihnya karena Iwaizumi tiba-tiba menariknya lebih dekat dan membuat gigitan-gigitan kecil di ceruk lehernya sembari tangannya memainkan putingnya yang ikut mengeras. Oikawa mendongak untuk memberikan keleluasaan sementara otaknya kembali berusaha menyusun kata-kata.

“Kamu... banyak yang jadi ngeliatin kamu— aku, ah, nggak suka...”

Tooru,” Iwaizumi menyebut namanya penuh penekanan. Tangan pria itu melepas pinggangnya selama sepersekian detik untuk meraih sesuatu dari dalam kantung celana pendeknya. Di tengah pandangannya yang berkabut, Oikawa memperhatikan pria itu melumuri tangannya dengan cairan dari dalam botol kecil.

Iwaizumi tersenyum miring lalu menariknya untuk sebuah ciuman dalam.

“Bukan cuma kamu yang punya banyak persiapan, sayang,” bisik pria itu di depan bibirnya yang terbuka.

Akal sehatnya lagi-lagi menguap di udara saat jari pria itu mulai menggoda dengan manis di lubang hangatnya yang sedari tadi sudah menuntut atensi. Vokalnya tak bisa lagi ditahan. Oikawa mengeluarkan desahan patah-patah saat jari kedua menyusul dan pegangannya di punggung pria itu semakin menimbulkan remuk. Namun Iwaizumi terlihat tak peduli dan terus menaikkan birahinya sampai jari ketiga masuk dan membuat pandangannya seketika memutih.

Oikawa nyaris meneriakkan nama Iwaizumi kalau tidak tiba-tiba ada suara-suara yang masuk ke dalam ruang ganti.

Matanya langsung terbuka lebar dan napasnya tertahan di tenggorokan. Gerakan Iwaizumi juga ikut berhenti sementara mereka berdua menahan napas.

Ada tiga suara tak asing yang memenuhi ruangan tersebut.

“Si Oikawa sama Iwaizumi kabur ke mana?” tanya Matsukawa yang langsung disambut tawa pelan Sugawara.

“Nggak tau, yang jelas sih mereka mau jauh-jauh dari lo.”

“Lah, kok gue?”

“Ya lo gangguin Iwaizumi terus,” kali ini Daichi yang ikut menyahut. “Nggak liat emang itu wajah temen lo udah asem dari tadi siang?”

Oikawa mengeluarkan segala macam sumpah serapah dalam hati. Belum cukupkah seharian ini ia diganggu mereka? Kenapa sekarang juga dia harus—

Oikawa menggigit bahu pria di hadapannya dengan refleks begitu Iwaizumi tahu-tahu kembali bergerak di bawah sana.

“Ssst...” Iwaizumi berbisik rendah di telinganya seakan tekanan dari jari-jarinya tidaklah membuat Oikawa nyaris kehilangan kontrol. “Kamu mau kita ketahuan?”

Oikawa menggeleng dengan frantik.

“Ya udah, tahan sebentar, sayang.”

Tanpa merasa bersalah, Iwaizumi mempercepat gerakannya sampai ada basah lain yang melumuri jari-jari pria itu. Oikawa menggigit bibirnya keras-keras agar tidak mengeluarkan desahan sekecil apa pun meskipun kakinya mulai bergetar saat Iwaizumi berhasil meraih prostatnya.

Sesungguhnya, Oikawa tidak lagi memedulikan suara teman-temannya di luar sana. Persetan kalau mereka memang harus ketahuan.

Seakan paham dengan konflik batinnya, Iwaizumi kembali mengacaukan pikirannya yang sudah tercerai-berai dengan meraihnya dalam ciuman rakus. Tak ada lagi sehelai benang yang memisahkan mereka, dan Oikawa bisa merasakan kulit Iwaizumi yang basah oleh peluh menempel di setiap inci tubuhnya. Jari-jari kakinya melengkung penuh kenikmatan saat tangan Iwaizumi kembali meraih kemaluannya dan membuat gerakan naik-turun dengan cepat.

“Tooru— ah, shit. Balik badan, ya?”

Kalau dalam keadaan normal, Oikawa pasti sudah membeliak terkejut karena mereka akan tetap melakukannya di tengah suasana seperti ini. Tapi pikirannya yang sudah berkabut pun tak bisa menolak lagi sehingga ia hanya mengangguk dan langsung membalikkan badan. Didengarnya suara robekan bungkus kondom yang entah bagaimana juga sudah disiapkan pria itu.

Oikawa bisa bertanya nanti.

“Ya udah yuk balik. Cari makan gitu, gue laper banget,” suara Matsukawa kembali terdengar. “Siapa tau pas kita balik tuh orang berdua juga udah muncul lagi.”

“Kata gue sih mereka kabur,” sahut Sugawara diikuti celotehan lain dari Daichi yang sudah tak bisa lagi diproses oleh Oikawa. Begitu suara-suara itu perlahan menjauh, Oikawa menoleh dari balik bahunya dan menatap kekasihnya dengan pandangan memohon.

“Hajime, tolong...

Setelahnya, tak ada lagi yang melintas di otaknya selain sentuhan Iwaizumi, napas cepat pria itu, serta ekstasi yang dirasakannya. Bercinta dengan Iwaizumi membuatnya seakan melayang di udara sekaligus terjun bebas— ada napas yang tercekat, jantung yang mencelos serta panas membakar yang membangkitkan adrenalinnya. Ia seperti lupa caranya menjejak tanah, tetapi di saat bersamaan Iwaizumi mengikatnya agar tidak melayang terlalu jauh.

Bahkan setelah dua tahun berhubungan, sensasi memabukkan itu tidak pernah menghilang, bahkan semakin kuat seiring waktu yang mereka habiskan bersama.

Ruangan itu dengan cepat dipenuhi suara-suara berdosa dari gerakan mereka yang berusaha menelan satu sama lain. Oikawa tak lagi menggigit bibirnya, namun mulutnya hanya membuka tanpa suara sementara pria di belakangnya terus bergerak frantik mengejar kenikmatan puncak tanpa syarat itu bagi mereka berdua. Oikawa menggapai ke belakangnya dan Iwaizumi langsung menyambutnya dengan ciuman berantakan yang tak lagi sesuai ritme. Gerakan pria itu ikut kacau dan napasnya terdengar semakin berat sementara namanya dibisikkan penuh ketakjuban.

Seakan Oikawa lah yang membuat pria itu kehilangan akal sehat, dan bukannya sebaliknya.

Iwaizumi tak sanggup lagi menahan beban mereka berdua sehingga begitu keduanya keluar dalam waktu yang nyaris bersamaan, Oikawa langsung menjatuhkan tubuh ke lantai dengan tak berdaya. Napasnya berlomba antara satu tarikan dengan tarikan yang lain. Tubuhnya lemas dan basah oleh keringat— entah karena cuaca atau aktivitas mereka yang begitu menguras tenaga.

Oikawa membuka matanya dan memperhatikan Iwaizumi yang ikut bersender di dinding di sebelahnya. Pria itu mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan lalu tersenyum lebar.

“Apa?” Oikawa tak sanggup bertanya lebih karena baru sekarang tenggorokannya terasa kering. Ia butuh minum. Segera.

“Kamu nggak nanya kenapa di kantungku bisa ada...” Iwaizumi menggantungkan jawabannya dan membuat tatapan penuh arti.

Oikawa memutar kedua bola matanya.

“Tadinya aku mau nanya, tapi kayaknya mendingan aku nggak usah tau deh.”

Iwaizumi tertawa rendah, lantas menarik tubuhnya yang masih tak bertenaga itu mendekat. Pria itu menjatuhkan ciuman lebut di bahu telanjangnya, kemudian bergumam panjang.

“Habis ini kabur beneran, yuk? Kita pulang ke apartemenku. AC kamu masih rusak, kan?”

“Bisa aja nih umpannya...”

Iwaizumi tersenyum lagi. Ada kerlingan jahil yang biasanya terlihat di wajah pria penuh keseriusan itu.

“Kita bisa bikin minuman seger atau... mandi bareng. Biar nggak keringetan lagi.”

Iwaizumi mendengus pelan seraya tangannya meraih rahang pria itu untuk diberi kecupan cepat.

“Good. Let's go. I'm all sweaty.”


Selamat ulang tahun ya, Oikawa... semoga makin langgeng sama Iwaizumi... di AU mana pun kalian berada xixixi

@fakeloveros

Malam sudah semakin larut. Oikawa tidak tahu persisnya jam berapa, tetapi suasana yang sudah sepi menandakan ini bukan waktu yang tepat lagi untuk terjaga.

Meskipun begitu, matanya masih terbuka lebar selagi tangannya menuang tetes terakhir dari dalam botol wine yang didapatnya sekitar tiga jam lalu. Seingatnya, Alisa hanya minum sedikit karena sebagian besar dihabiskan olehnya.

Oikawa menolehkan kepalanya yang terasa berat ke samping dan mendapi temannya sudah tertidur pulas. Jujur, ia merasa tidak enak karena rencana mereka hari ini justru berakhir kurang menyenangkan akibat perubahan mood-nya secara tiba-tiba. Oikawa pun merasa kesal terhadap dirinya sendiri yang begitu mudah termakan emosi.

Tapi siapa yang tidak akan emosi melihat soulmate-nya sendiri memeluk wanita lain?

Oikawa menghela napas, lalu bangkit dari tempat tidur seraya meletakkan gelasnya di atas nakas. Ia meregangkan tubuhnya yang terasa kaku, lantas berjalan ke luar kamar. Oikawa berhati-hati menutup pintu di belakangnya agar tidak membangunkan Alisa. Sepertinya tidak ada siapa-siapa di dalam rumah selain mereka berdua karena tidak ada cahaya di balik pintu kamar Iwaizumi atau bahkan ruang kerjanya. Atau mungkin pria itu memang sudah terlelap juga.

Dengan langkah pelan, Oikawa menuruni tangga lalu membuka pintu depan. Ia langsung memenuhi rongga dadanya dengan udara malam dan mulai berjalan ke arah hutan. Otaknya pastilah tidak berfungsi dengan benar karena Oikawa yakin kakinya bergerak sendiri.

Dan aroma cokelat panas yang tercium olehnya sekarang pun pastilah hanya berada di dalam khayalannya.

Namun aroma familier itu tercium dari dalam hutan— dari arah danau besar tempatnya dulu berbincang pertama kali dengan Iwaizumi ketika tidak ada satu pun di antara mereka yang dengan terang-terangan menerima kehadiran satu sama lain, tapi tidak juga menolak ikatan tersebut.

Siapa pun yang tahu, tentu akan menertawakan hubungan mereka yang tidak seperti soulmate kebanyakan— sulit untuk diinterpretasi.

Oikawa membayangkan, seandainya dia tidak memiliki kekurangan, apakah dirinya bisa dengan tanpa ragu menerima Iwaizumi? Apakah mereka bisa menjadi pasangan kebanyakan? Yang bisa menerima ikatan takdir itu tanpa perlu mengkhawatirkan pilihan lain apa yang mereka punya?

Bisakah?

Oikawa menarik napas saat aroma cokelat itu tercium semakin kuat. Di tengah otaknya yang semakin berkabut, Oikawa mempercepat langkahnya menghampiri sumber terkuat aroma tersebut. Arahnya datang persis dari danau, jadi mungkinkah—

Oikawa melihatnya lebih dulu sebelum otaknya bisa memproses.

Punggung lebar itu membelakanginya dan tidak bergerak seinci pun selagi sosok itu terdiam menatap permukaan danau yang tenang. Oikawa berhenti dan memperhatikan dalam kesunyian di bawah naungan salah satu pohon. Ada dorongan untuk segera kembali, tetapi ada juga keinginan untuk mendekati dan memeluk pria itu dari belakang.

Oikawa ingat saat Iwaizumi memeluknya di Inggris atau saat pria itu berada dalam jarak yang begitu dekat dengannya ketika di motel. Semuanya, Iwaizumi yang memulai duluan. Dirinya bahkan tidak pernah mencoba untuk menyentuh pria itu pertama kali.

Oikawa menggigit bibir bawahnya selagi berandai-andai— apa rasanya bisa menyentuh soulmate-nya sendiri tanpa perlu merasa takut akan penolakan? Tanpa perlu menahan diri sehingga bisa mengumumkan kepada siapa pun bahwa sang Alpha adalah miliknya.

Beberapa menit kemudian, Iwaizumi pastilah tersadar akan kehadirannya karena pria itu menoleh dan langsung beradu pandang dengannya. Tidak ada yang bergerak di antara mereka seakan ada pembatas tak kasat mata yang menghalangi ruang gerak keduanya. Oikawa sendiri takut, jika bergerak sedikit, dirinya akan langsung menghambur ke pelukan pria itu.

Mau di bawah pengaruh alkohol atau tidak sekalipun.

“Tooru.”

Oikawa lagi-lagi menghirup napas dalam. Ia tidak pernah mengakuinya, tapi ada perasaan senang setiap kali mendengar namanya mengalir begitu lancar dari mulut pria itu. Seakan panggilan itu memang hanya ditujukan untuknya dari bibir Iwaizumi seorang.

“Udah malem, kenapa belum tidur?” tanya Iwaizumi, tanpa bergerak selangkah pun dari tempatnya berdiri. Namun matanya terlihat lebih ekspresif di bawah langit yang diterangi oleh sinar bulan dan beberapa tabur bintang.

Oikawa mengambil satu langkah mendekat tanpa sadar.

“Ada... wangi cokelat.”

Oikawa yakin jawabannya tidak terdengar masuk akal, bahkan nyaris bodoh. Ia menggelengkan kepalanya sedikit sebagai upaya untuk menjernihkan otaknya yang semakin tertutupi oleh kabut.

Tapi sepertinya tidak begitu berhasil.

“Cokelat?” Iwaizumi bergumam bingung. Ada senyum kecil di balik nada bertanya itu. “Maksudnya wangi aku kayak cokelat?”

Oikawa mengangguk. Kakinya kembali melangkah seakan ikut memperkuat jawaban tanpa suaranya yang ingin menghirup aroma menyenangkan itu lebih dekat.

“Tetep aja. Lain kali jangan keluar jam segini sendirian, ya. Harus ada yang nemenin.”

Oikawa mengerutkan keningnya tidak suka mendengar perintah halus tersebut.

“Gue bukan anak kecil. Gue bisa jaga diri sendiri.”

“Aku tau kamu bukan akan kecil,” Iwaizumi menyanggah pelan. “Tapi bukan berarti aku nggak boleh khawatir.”

Sekarang kakinya seakan tidak bisa berhenti melangkah.

“Khawatir kenapa? Lo kan nggak suka sama gue.”

Di detik itu pula Oikawa merasa seperti anak kecil yang tengah merajuk.

Ada kilatan amarah yang sama seperti tadi sore terlihat di balik netra hijau sang Alpha. Oikawa bisa melihat Iwaizumi mengepalkan kedua tangannya di samping tubuh sebelum berkata tajam.

“Itu anggapan terkonyol yang pernah aku denger. Dan kalau kamu mikir kayak gitu gara-gara kejadian tadi sore, berarti kamu udah salah paham.”

“Tapi aku liat jelas kamu meluk K-Kiyoko...”

“Dulu.” Kini giliran Iwaizumi yang mengambil langkah untuk semakin menghapus jarak di antara mereka. “Aku emang pernah deket sama dia. Tapi itu gara-gara kita berdua sempet skeptis sama konsep soulmate. Dulu aku percaya aku nggak akan pernah bisa nemuin soulmate-ku. Tapi aku juga nggak pernah serius sama dia. Dan tadi sore, aku tegasin hal yang sama. Dia yang meluk aku duluan. Bisa dibilang itu... salam perpisahan. Aku berani sumpah nggak punya perasaan apa-apa ke dia, Tooru.”

Oikawa berusaha memproses penjelasan tersebut dengan kepalanya yang semakin terasa berat. Namun satu pernyataan Iwaizumi justru menarik perhatiannya.

“Kenapa lo nggak percaya sama konsep soulmate? Semua orang kan pasti bakal ketemu sama soulmate-nya juga.”

“Karena aku ngerasa nggak berhak. Setelah apa yang pernah aku lakuin dulu... aku ngerasa nggak berhak.”

Kini jarak mereka hanya dibatasi oleh lima langkah. Wangi cokelat itu sudah benar-benar berada di depannya dan Oikawa harus menahan diri agar akal sehatnya tidak dikalahkan oleh nafsunya semata.

“Emang lo pernah ngapain sampe mikir gitu?”

Iwaizumi tidak langsung menjawab, tapi dari peripheral-nya, Oikawa bisa melihat pria itu tersenyum kecil.

“Kayaknya ini bukan omongan yang pas buat didenger orang mabuk.”

“Gue nggak mabuk!”

Tapi omongannya sudah terdengar rancu bahkan untuk telinganya sendiri. Oikawa maju selangkah lagi tanpa sadar, namun keseimbangannya ikut menghilang seiring dengan kesadarannya yang juga semakin menipis.

Ada dua lengan kokoh yang langsung menangkapnya sebelum wajahnya mencium tanah dengan bebatuan keras di bawahnya.

“Atsumu ngasih berapa botol tadi ke kamu?”

Suara Iwaizumi kini sudah terdengar begitu dekat di telinganya. Oikawa memejamkan matanya dan memasrahkan berat tubuhnya ditopang pria itu.

“Dua botol...” Dan Oikawa tetap menjawabnya selagi tangannya melingkari tubuh pria di hadapannya. Ia meletakkan kepalanya di ceruk leher Iwaizumi seraya menghela napas puas. “Suka... wangi cokelat...”

Iwaizumi tidak merespons, tapi tangannya ikut merengkuh tubuhnya erat seakan takut dirinya masih akan terjatuh.

“Seandainya kita bisa gini terus...” ucap pria itu nyaris dalam bisikan. Napas hangat pria itu menerpanya dan membuatnya menenggelamkan diri semakin dalam.

Oikawa hanya ingin tidur.

“Kenapa nggak...” jawabnya dengan bibir yang hanya terbuka sedikit. “Kita kan soulmate...”

Iwaizumi bergumam panjang. Salah satu tangannya naik dan memainkan surai cokelat Oikawa yang tertiup angin malam. Kalau ada orang lain yang memergoki mereka sekarang, pasti pemandangan keduanya berdiri di tengah hutan — di pinggir danau lebih tepatnya — dengan kesadaran Oikawa yang semakin hilang akibat mabuk akan terlihat aneh.

Tapi Oikawa tidak peduli. Ia justru tidak ingin beranjak sama sekali dari tempat ini meskipun ada kasur empuk yang menunggunya di rumah.

“Kamu tau...” Iwaizumi memulai halus. Tangannya menyelinap ke balik kaus Oikawa dan memberi usapan lembut di sana sehingga membuat kulitnya meremang. “Kalaupun nggak ada ikatan itu, aku bakalan tetap milih kamu.”

Bahkan di tengah kesadarannya yang semakin menipis, Oikawa tahu ucapan itu terlalu indah untuk menjadi kenyataan.

“Bohong...”

Rengkuhan di pinggangnya mengerat.

“Aku nggak bohong. Kamu boleh nganggap ini... hubungan kita sekarang... kayak semacam kewajiban yang harus dijalanin. Tapi buatku, dari semenjak kita ketemu, kamu orang yang aku pilih.”

Oikawa ingin mengatakan sesuatu. Apa pun. Sesuatu yang bisa menyadarkan Iwaizumi bahwa dirinya tidak seberharga itu untuk diperjuangkan. Ia memiliki kekurangan — kekurangan besar — yang tidak akan membuatnya cocok bersanding dengan sang Alpha.

Tapi untuk malam ini, egonya menang sehingga ia membiarkan kata-kata itu memeluknya seperti selimut tebal yang menghalaunya dari dingin. Seperti dua lengan yang masih memeluknya erat— Oikawa membiarkan malam itu ia percaya bahwa Iwaizumi akan tetap menerimanya dalam keadaan apa pun.

Ia membiarkan dirinya percaya bahwa ikatan ini merupakan sesuatu yang sama-sama mereka pilih.


@fakeloveros

“Kemaren aku nonton drama.”

“Drama apa?”

“Itu loh yang lagi rame sekarang, yang judulnya Nevertheless.”

“Oh, ceritanya tentang apa emang?”

“Jadi ceweknya mau ngejalanin hubungan serius, tapi cowoknya cuma mau mereka main-main.”

Bukannya sama kayak kita?

“Kenapa cowoknya gitu?”

Oikawa mengedikkan bahunya.

“Nggak tau. Cowoknya nggak cinta kali sama ceweknya.”

Iwaizumi tersenyum tipis, lalu melontarkan pertanyaan yang sedari tadi ada di benaknya.

“Emang menurut kamu cinta itu kayak gimana?”

Oikawa bergumam panjang. Matanya bergulir ke atas dengan pandangan berpikir— ekspresi yang sudah dihapal Iwaizumi setiap kali temannya itu memikirkan sesuatu dengan serius.

“Kayak gimana, ya... Aku juga nggak begitu paham, tapi harusnya sih cinta itu nggak perlu diomongin. Soalnya kalau dua orang beneran saling cinta, pasti kayak punya ikatan gitu nggak, sih?”

“Buat ukuran orang yang nggak percaya cinta, deskripsi kamu justru kayak paham banget.”

Oikawa memiringkan kepalanya beberapa derajat ke kanan. Kini ada rasa ingin tahu yang terpancar di balik netra cokelatnya.

“Emang kalau buat kamu cinta itu kayak gimana?”

“Aku kurang lebih setuju kok sama kamu. Cinta itu... lebih dari sekadar kata-kata. Bukan sesuatu yang bisa dideklarasiin gitu aja, bukan juga semua yang bermakna indah. Cinta bisa bikin sakit hati, bahagia sampai mau mati, juga takut sampai ke tulang. Bukan sesuatu yang abadi juga karena bisa aja sekarang aku cinta sama seseorang, tapi besoknya rasa itu udah nggak ada.”

Iwaizumi mengakhiri jawabannya dengan seulas senyum tak terbaca. Tanganya memainkan bibir cangkir tanpa membalas pandangan pria yang kini mengerjap takjub.

“Buat ukuran orang yang percaya cinta, kamu kedengeran skeptis banget,” ucap Oikawa, masih dengan ekspresi takjubnya. Iwaizumi hanya tertawa pelan tanpa merespons lebih lanjut.

“Kamu pernah kayak gitu? Jatuh cinta?” tanya Oikawa lagi setelah beberapa saat berlalu dalam keheningan meskipun suasana di sekitar mereka justru jauh dari itu. Tapi pertanyaan halus Oikawa terdengar begitu nyaring di telinganya.

Iwaizumi mengangkat wajahnya yang sedari tadi dibiarkan menunduk. Netra gelapnya beradu pandang dengan cerah milik si surai cokelat. Tidak ada maksud tertentu di balik pertanyaan itu— Iwaizumi paham. Oikawa benar-benar hanya penasaran.

Maka tidak ada alasan bagi Iwaizumi untuk berbohong.

“Pernah.”

Terutama di depan orang yang menjadi objek perasaan itu sendiri.

“Tapi orang itu nggak punya perasaan apa-apa sama aku,” lanjutnya sambil memaku manik cokelat yang terlihat lebih terang di bawah cahaya matahari siang itu. Oikawa mengerjap pelan dan ada seukir senyum halus terbit di wajahnya yang tampan.

“Kenapa gitu? Emang kamu udah pernah coba bilang?”

“Kalau aku bilang, nanti dia kabur.”

Oikawa tertawa. Suara tawanya dalam dan memberi kesan polos— jauh dari anggapan orang-orang yang selama ini berpikir bahwa pria itu arogan. Iwaizumi tahu Oikawa lebih dari anggapan orang-orang tersebut. Dan hanya Iwaizumi yang mengetahuinya.

“Atau kamunya aja yang keburu negative thinking duluan. Siapa tau orang itu diem-diem suka juga.” Oikawa lantas mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. “Tapi kalau aku sih kayaknya bakalan kabur kalau ada yang bilang begitu.”

Iwaizumi tersenyum. Ia sudah menduga jawaban tersebut.

“Soalnya kayak yang kamu bilang, cinta itu bukan sesuatu yang abadi. Bisa aja besoknya udah nggak ada. Aku nggak mau ngerasain kayak gitu. Takut.”

Iwaizumi terdiam seraya menyesap kopinya yang tinggal separuh. Hembusan angin memainkan surai cokelat pria di hadapannya sampai Iwaizumi harus menahan keinginannya sendiri agar tidak maju dan menghalaunya.

Padahal— padahal, ia rela menanggung rasa takut itu untuk mereka berdua.

Asalkan cintanya bersambut sekali saja.


@fakeloveros

“Ayo cepetan cerita!!”

“Sabar dong, lo kan baru sampe. Nggak mau minum dulu? Makan? Ke toilet?”

Alisa mengibaskan tangannya dengan tak sabar dan langsung melompat ke atas kasur lalu mengambil posisi nyaman. Wanita itu menepuk-nepuk sisi di sebelahnya sebagai tanda agar Oikawa cepat bergabung dengannya.

“Btw, tau nggak? Kayaknya soulmate lo masih marah sama gue gara-gara kejadian di club yang lo diculik itu. Dia kalau ngeliat gue, tatapannya asem banget! Padahal gue sama dia kan udah mutualan di IG, ramah dikit kenapa!”

Oikawa ikut duduk di atas kasur sambil menyalakan TV dalam volume rendah. Di tangannya ada sebotol susu stroberi yang khusus dibawakan temannya itu. Kebetulan Oikawa belum memiliki waktu untuk pergi belanja memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Tapi sekarang sepertinya sudah tidak perlu karena Alisa membawakannya berbagai makanan dan berbotol-botol susu yang bahkan mungkin akan cukup untuk sebulan. Tinggal bagaimana nanti ia harus menjelaskan pada Iwaizumi ketika pria itu melihat banyak botol berwarna merah muda di dalam kulkas.

Tapi itu urusan nanti.

“Kan gue udah pernah bilang, itu tuh cuma ekspresi default dia. Emang keliatan kayak mau marah terus, padahal mah…” Oikawa menggantung ucapannya untuk mengindikasikan hal yang justru berlawanan.

Alisa menaik-turunkan kedua alisnya seraya meyenggol bahu Oikawa pelan.

“Ciee… sekarang udah mulai belain, ya?”

“Siapa yang belain—“

“Ya udah sih, wajar, namanya juga lo berdua soulmate.” Alisa mengubah posisinya, lalu berbicara dengan nada lebih serius. “Tapi lo masih… belum mau ngomong sama dia soal itu?”

Posturnya langsung berubah tegang. Ia tahu pembicaraan ini cepat atau lambat akan datang juga, tapi saat benar-benar divokalisasikan, Oikawa kembali dibayangi oleh rasa takut.

Takut bahwa penolakan Iwaizumi akan menjadi kenyataan.

“Kalau gue bilang ke dia, menurut lo seberapa besar kemungkinannya dia bakal nolak gue?” tanya Oikawa dalam bisikan rendah meskipun di sana hanya ada mereka berdua.

“Nggak akan,” Alisa menjawab halus. “Kalau dia beneran nerima lo sebagai soulmate, dia nggak bakal ngelakuin hal semacam itu. Dia pasti bakalan nerima lo.”

Oikawa tersenyum tipis. Jawaban Alisa, walaupun terdengar meyakinkan, tetap membuatnya skeptis. Tapi ia tidak ingin mengungkit topik ini lebih lama karena bukan itu tujuan dirinya bertemu dengan Alisa. Setidaknya dia tidak ingin membuat mood mereka seharian menjadi turun akibat topik yang dianggapnya terlalu sensitif.

“Kan Iwaizumi bilang dia juga nyembunyiin sesuatu… menurut lo soal apa?” Oikawa bertanya lagi. Sekarang dirinya tengah berbaring seraya menatap langit-langit kamarnya tanpa fokus. Alisa mengikuti tak beberapa lama sambil menghela napas besar.

“Kalau gue tebak dia nyembunyiin semacam trauma gitu, lo bakalan marah nggak?”

Bukannya marah, Oikawa justru menoleh dengan terkejut ke arah temannya. “Nggak marah sih, cuma kenapa lo nebaknya kayak gitu? Trauma apa maksudnya?”

Alisa mengedikkan bahu dengan bibir yang mengerucut ke depan. “Nggak tau sih, feeling aja. Mungkin trauma yang bikin dia… takut ngejalanin hubungan? Bisa aja, kan?”

Oikawa kembali ke posisi awal sambil bergumam panjang. Dia tidak pernah memikirkan kemungkinan bahwa Iwaizumi bisa saja memiliki trauma semacam itu.

“Kalau pertanyaan lo barusan gue lempar balik, apa jawaban lo?” tanya Alisa tiba-tiba sambil menghadap ke arahnya dengan satu tangan menopang kepalanya. “Seandainya lo udah tau soal yang disembunyiin Iwaizumi, lo bakal nolak dia nggak?”

Jawaban tidak sudah berada di ujung lidahnya, tapi dirinya ragu bukan karena khawatir tentang apa yang disembunyikan Iwaizumi, melainkan perbandingannya dengan rahasia miliknya sendiri. Mau dipikirkan dari segi mana pun, menurutnya kebenaran soal dirinya pastilah lebih sulit diterima sehingga pada akhirnya, Iwaizumi lah yang akan tetap membuat keputusan.

Bukan dirinya.

“Gue tau lo mau jawab nggak,” ucap Alisa dengan tatapan menuntut. “Tapi gue juga tau lo pasti mikir nggak berhak bikin pilihan? Ya, kan?” Wanita itu kemudian menggeleng-geleng tanpa menunggu jawaban Oikawa. “Lo harus lebih percaya sama Iwaizumi, dia kan soulmate lo.”

“Soulmate…” Oikawa menggumamkan satu kata itu nyaris dalam bisikan. “Tapi apa lo pernah mikir, nggak ada orang yang bisa milih pasangan soulmate-nya. Makanya menurut gue… kalau emang ngerasa nggak cocok, salah satunya bisa aja nolak ikatan itu.”

Alisa tidak memberi respons, tapi Oikawa tahu omongannya didengarkan.

“Dan bukan berarti gue atau Iwaizumi nggak bisa ngelakuin hal itu— milih orang yang bener-bener kita sayang, dibandingin nyerahin semuanya ke status soulmate semata.”

“Tapi bukan berarti soulmate lo nggak bisa jadi orang yang lo pilih juga, Oikawa.”

Alisa memotongnya cepat, dan kali ini, giliran Oikawa yang terdiam memikirkan berbagai pilihan yang bisa dia ambil.


Ketika jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, Alisa akhirnya mengaku perlu bergerak sedikit karena perutnya sudah terlalu penuh dengan segala camilan yang dibawanya sendiri. Oikawa sadar mereka seharian tidak keluar dari kamar sehingga dirinya bahkan belum bertemu dengan Iwaizumi yang juga tidak mengganggunya sama sekali hari itu.

Bohong kalau mengatakan Oikawa tidak ingin melihat pria itu sedikit.

Tapi ini bukan rindu. Bukan. Oikawa berani bersumpah.

Memutuskan bahwa jalan-jalan sebentar ke dalam hutan tidak akan berbahaya bagi mereka, Oikawa mengajak Alisa untuk pergi melemaskan kaki sekaligus menurunkan semua makanan yang menumpuk di dalam lambung mereka. Alisa menyambut usulannya dengan senang hati, bahkan meminta untuk sekalian diajak berkeliling.

“Tapi ini nggak apa-apa, kan? Bukannya waktu itu kata lo ada anggota klan yang dibunuh pas ke hutan, ya?” tanya Alisa ketika mereka sudah keluar dari kediaman utama. Oikawa memperhatikan keadaan sekeliling namun tidak ada siapa pun yang tertangkap oleh mata.

“Hmm, itu di bagian hutan sana sih, yang lebih dalem. Sekarang kita ke yang deket aja. Ada danau kecil di deket sini. Kalau ke situ doang sih nggak apa-apa. Kayaknya.”

Alisa menyeringai lalu mulai berjalan mengikutinya. “Ya udahlah, rebel sedikit nggak masalah, kan? Paling yang bakal dimarahin juga lo ini sama Iwaizumi.”

“Ini bukan rebel, orang danaunya deket kok. Dan gue nggak bakal dimarahin, emangnya anak kecil?” gerutu Oikawa sembari menendang kerikil di bawahnya. Alisa hanya tertawa dan melanjutkan langkah seraya bersenandung pelan di bawah terik cahaya matahari sore. Oikawa ikut menikmati permainan cahaya itu di kulitnya sambil menghirup napas dalam-dalam. Ada sedikit wangi cokelat yang tertangkap indra penciumannya sehingga membuatnya mengerutkan kening. Apa Iwaizumi baru saja lewat sini?

“Btw, cewek yang namanya Kiyoko itu… yang barusan lo ceritain, gue jadi penasaran mau liat orangnya langsung,” ucap Alisa tiba-tiba. “Siapa tau pas liat langsung, gue punya feeling yang sama kayak lo.”

Oikawa mendengus keras. “Feeling kalau tuh cewek suka sama Iwaizumi?”

Alisa mengangguk, kemudian menatapnya diikuti seulas senyum lebar. “Lo cemburu, ya?”

“Nggak.”

Oikawa menjawab terlalu cepat, yang justru membuat seringai jahil di wajah Alisa semakin tercetak jelas.

“Iya juga nggak apa-apa sih, justru aneh kalau lo nggak cemburu.”

“Gue nggak cemburu,” Oikawa menyanggah, kali ini lebih tegas dari sebelumnya. “Lagian bukan urusan gue kalau ternyata tuh cewek emang—“

Oikawa menghentikan langkahnya secara mendadak sampai Alisa yang berjalan di sebelahnya ikut berhenti dan bertanya dengan bingung.

“Apa? Kenapa? Kita udah sampai? Mana danau—“

Tetapi bahkan omongan Alisa pun tersangkut di tenggorokannya begitu saja.

Karena pemandangan yang ada di depan mereka.

Oikawa terpaku di tempatnya saat menyaksikan Iwaizumi yang buru-buru mendorong Kiyoko menjauh dengan raut wajah bersalah. Pria itu langsung menoleh ke arahnya dan membuka mulut untuk mengatakan sesuatu.

Tapi kakinya sudah bergerak lebih dulu.

Oikawa langsung berbalik dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu. Ia tidak memperhatikan jalanan di depannya karena apa yang membayangi netranya hanya pemandangan Iwaizumi memeluk wanita lain. Atau wanita itu yang memeluk Iwaizumi? Entahlah, Oikawa tidak peduli.

Seharusnya ia tidak peduli, tapi kenapa seperti ada kobaran api yang membakar dadanya sekarang?

Oikawa terus berjalan tanpa memedulikan suara langkah kaki yang mengejarnya. Ia bahkan tidak mau memeriksa apakah itu Alisa atau justru Iwaizumi yang mengikutinya. Ia hanya ingin cepat kembali sampai ke rumah sebelum melakukan sesuatu yang dapat mempermalukan dirinya sendiri.

Namun belum sempat keluar dari hutan, ada tangan yang mencekal pergelangannya dengan kuat sehingga otomatis langkahnya terhenti.

Oikawa tidak perlu menoleh untuk mencari tahu siapa pelakunya.

“Tooru, aku—“ Iwaizumi memulai di tengah napasnya yang tersengal. “Yang barusan salah paham. Itu nggak yang kayak kamu pikir. Aku sama Kiyoko nggak—“

“Lepas.”

“Tooru—“

“Lepasin tangan gue!” Oikawa tanpa sadar menaikkan oktaf suaranya sampai Iwaizumi dengan terpaksa melepaskan cengkeraman tangannya. Namun Oikawa masih menghindari tatapan pria itu.

“Gue nggak peduli,” ucapnya singkat sebelum mulai kembali berjalan. Ia yakin wajahnya sudah memerah sekarang— entah dari menahan marah, malu, atau justru tangis.

“Tooru, tunggu—“

Iwaizumi berusaha meraihnya kembali, tetapi Oikawa buru-buru mengibaskan tangannya dan akhirnya berbalik menghadap pria itu. Oikawa menggigit bibirnya kuat-kuat sebelum mulai berbicara.

“Udah gue bilang, percuma kita usaha. Gue tau lo nggak pernah suka sama gue. Lo cuma berusaha ngejalanin apa yang jadi seharusnya cuma karena kita soulmate. Tapi gue pernah bilang, kan? Kalau lo emang mau lepas ikatan kita, ya silakan aja. Gue bakalan nerima.”

Oikawa tidak memedulikan ekspresi terkejut ataupun kemarahan yang sempat melintas di wajah sang Alpha karena dirinya buru-buru berbalik dan kembali berlari. Jantungnya memompa kencang dan darahnya seakan berkumpul di kepala untuk emosi yang ia sendiri sulit jelaskan.

Ada setitik air mata bergumpal di ujung matanya yang langsung ia hapus dengan kasar.

Oikawa sungguh berharap dirinya tidak pernah dipertemukan dengan soulmate-nya. Karena mau bagaimanapun, Oikawa yakin tidak akan ada yang bisa menerima dirinya, apalagi jika pasangannya nanti mengetahui kekurangan yang menjadikannya tidak sempurna.

Sekarang semuanya sudah terlanjur. Kalau memang Iwaizumi sudah menyukai orang lain sebelum bertemu dirinya, maka tidak ada lagi alasan bagi mereka untuk bertahan.

Ikatan mereka, cepat atau lambat, harus segera diputuskan.


@fakeloveros

Dengan segala hal yang terjadi, Oikawa hampir lupa rasanya menghadiri pesta. Meskipun dinamakan pesta penyambutan, menurut keterangan lebih lanjut dari Kita, para anggota klan justru bersenang-senang seolah mereka bukannya menyambut kedatangan seseorang. Karena itulah latihan diakhiri lebih cepat dan hidangan terus disediakan sampai malam.

(“Malah kayak pesta nyambut tahun baru,” kata Kita saat tadi bertemu dengannya.)

Mau tidak mau Oikawa merasa sedikit bersemangat dalam menghadiri pesta penyambutan ini. Meskipun sebagian besar anggota klan masih asing baginya, setidaknya dia sudah mengenal cukup baik beberapa orang semenjak menjalani misi pengambilan senjata. Dan harus Oikawa akui, ternyata mereka tidak seburuk yang selama ini dirinya kira.

Terutama satu orang, tentu saja.

Karena bahkan satu orang itu kini tengah menunggunya untuk pergi bersama— sebuah ajakan yang ternyata tak mampu untuk Oikawa tolak meskipun egonya bersikeras.

Matahari sedikit bersembunyi di balik awan saat keduanya berjalan beriringan menuju lokasi yang sebenarnya tak begitu jauh dari kediaman utama. Oikawa berusaha menjaga langkahnya tetap tenang dan matanya lurus ke depan. Ia berupaya agar tidak terlalu memedulikan Iwaizumi yang berjalan di sebelahnya karena pikirannya justru langsung melayang ke kejadian malam itu di motel, permintaan maaf Iwaizumi setelahnya, serta jawaban absurd pria itu.

Aku tau kamu nyembunyiin sesuatu.

Dan bohong kalau bilang aku juga gak ada sesuatu yang disembunyiin.

We’ll see.

Mau memikirkannya sekeras apa pun, Oikawa tetap tidak bisa mengira-ngira apa yang disembunyikan Iwaizumi. Dan pria itu pun pasti tidak memiliki petunjuk sekecil apa pun mengenai hal yang disembunyikannya.

Mereka berdiri di atas bilah yang sama.

Namun hal yang sama-sama mereka sembunyikan membuat situasinya menjadi seperti ini— keduanya terpaksa menahan diri dan belum bisa menerima satu sama lain sebagaimana soulmate semestinya. Dan itulah yang membuatnya frustrasi.

Tapi kalau Iwaizumi tahu—

“Haiba kapan mau dateng?”

“Eh?” Pikirannya terpotong saat suara bariton di sebelahnya tiba-tiba memecah keheningan di antara mereka.

“Temen kamu yang mau dateng,” Iwaizumi meliriknya selagi tetap berjalan. “Haiba, kan?”

“O-oh, iya… ehm…” Oikawa berusaha memaksa otaknya bekerja karena Iwaizumi bertanya begitu tiba-tiba. “Dia bakal dateng besok.”

Iwaizumi tidak bertanya apa pun lagi sampai gedung tempat pesta penyambutan sudah terlihat di depan mata. Oikawa pikir, pembicaraan mereka pun akan berhenti sampai di situ.

“Kamu deket sama dia? Haiba?”

Iwaizumi mendadak berhenti melangkah sehingga otomatis Oikawa mengikutinya. Oikawa menatap jalanan di hadapan mereka yang tinggal beberapa langkah lagi dengan bingung, lalu kembali pada sang Alpha yang masih menunggu jawabannya.

“Deket. Dia udah gue anggap kayak saudara sendiri. Kenapa emang?”

Iwaizumi sengaja tidak mengindahkan pertanyaannya. “Kalau Kageyama?”

“Sama Kageyama juga deket. Kita bertiga udah deket dari dulu soalnya nggak banyak orang-orang yang hampir sepantaran di klan gue. Kenapa sih emang?”

Iwaizumi membuat ekspresi berpikir, lantas mulai melangkah lagi meskipun kali ini temponya lebih lambat. Oikawa mengikuti dengan bingung.

“Kamu juga… kayaknya nggak susah buat deket sama Atsumu, Kita, juga anggota lain.”

Oikawa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia tidak mengerti dengan arah pembicaraan mereka. Apa selama ini Iwaizumi mengira dirinya sulit berteman dengan orang lain? Dia memang sering mengurung diri di kediaman utama sebelum ini, tapi bukan berarti dirinya tidak bersosialisasi sama sekali.

“Yah, soalnya… mereka asik diajak ngobrol,” jawab Oikawa tanpa berpikir dua kali karena memang seperti itu kenyataannya.

“Mungkin… kita bisa mulai dari situ,” ucap Iwaizumi pelan begitu mereka tiba di depan pintu. Kali ini Oikawa yang berhenti melangkah duluan dan mengarahkan pandangannya dengan tatapan menuntut penjelasan.

“Maksudnya?”

“Kita bisa mulai dari… berteman, daripada maksaian sesuatu yang sama-sama belum bisa kita terima,” jawab Iwaizumi dengan keseriusan terpancar jelas dari netra hijaunya. “Aku emang nggak bisa ngasih tau kamu sekarang soal… apa yang aku sembunyiin. Dan aku yakin kamu pun sama. Tapi bukan berarti kita nggak bisa nyoba pelan-pelan, kan?” tanya Iwaizumi penuh harap.

Oikawa tertegun. Ia tidak pernah memikirkan kemungkinan itu— mulai berteman dengan soulmate-nya sendiri karena selama ini ia pikir Iwaizumi akan bertingkah seperti Alpha kebanyakan;

egois, mau menang sendiri dan suka memaksakan kehendak.

Tapi jika diingat-ingat lagi, Iwaizumi justru tidak pernah memperlihatkan sikap seperti itu. Walaupun tidak dapat dipungkiri pria itu memang over-protective, dominan serta keras kepala. Tapi Oikawa juga keras kepala — bahkan mungkin lebih — jadi dia tidak merasa terbebani.

Dan berteman dengan Iwaizumi? Pilihan itu bahkan tidak pernah tebersit di otaknya.

Kamu juga Oikawa, coba lebih terbuka sama dia.

Ada suara serangga musim panas yang terdengar bersahutan dari dalam hutan. Ada juga suara ramai di balik pintu yang menandakan para anggota klan sudah berkumpul dan siap berpesta. Sampai dua bulan yang lalu, Oikawa tentu tidak mengira hidupnya akan berputar 180 derajat seperti ini— bertemu orang-orang baru, tinggal di lingkungan asing, serta memiliki seseorang yang bisa ia anggap sebagai soulmate. Banyak ketakutan yang disimpannya seorang diri dan Oikawa tidak berani membayangkan bagaimana seandainya pria di hadapannya akhirnya tahu.

Sampai sekarang.

Apakah Iwaizumi akan memutuskan ikatan mereka? Atau pria itu akan menerima seutuhnya? Dan bagaimana saat Oikawa nanti mengetahui apa yang disembunyikan Iwaizumi? Keputusan apa yang akan dia ambil?

Semua seperti berjalan di satu jalan lurus— mereka tahu harus melangkah ke mana, tapi tidak tahu kapan jalan itu akan menemui ujung.

Meskipun begitu, keduanya tetap nekat untuk berjalan.

Dan jika ada satu hal yang dipelajarinya selama ini, yaitu untuk tidak pernah takut dan berhenti melangkah.

“Boleh. Mungkin kita bisa coba… berteman dulu.”

Dan senyum kecil Iwaizumi setelahnya menjadi penanda dimulainya pertemanan mereka.


Lama nggak nulis kayaknya bikin aku lupa cara nulis...if that even made sense lol

@fakeloveros