TW: public sex, handjob, anal sex
Read at your own risk!
Dua puluh menit menit kemudian Oikawa sudah siap dengan segala persiapannya ke pantai. Ia meminjam tas besar milik Ushijima yang biasa digunakan temannya itu pergi berlatih voli. Dan komentar pertama yang dikeluarkan Iwaizumi saat melihatnya adalah—
“Ini kamu mau sekalian camping, ya?”
Oikawa mendelik kesal selagi memanuver tubuhnya masuk ke dalam mobil setelah meletakkan tas besarnya di jok belakang. Iwaizumi menatap tas yang dibawa dan dirinya secara bergantian dengan geli dari kursi pemudi. Pria itu mengenakan kemeja berwarna biru langit dengan kancing atas yang terbuka dua. Lengan panjangnya sengaja digulung sampai siku sehingga memperlihatkan otot-otot kencang yang didapat dari hasil olahraga rutin. Iwaizumi tersenyum ke arahnya dan binarnya matanya memperlihatkan antusiasme yang tak asing.
Oikawa merasa udara di dalam mobil semakin panas, dan ia yakin ini tak ada hubungannya dengan musim panas.
“Emang kamu nggak bawa apa-apa?” Oikawa mengalihkan atensinya dengan mengangkat topik lain.
Yang ditanya hanya mengedikkan bahu dan mulai menjalankan mobil.
“Nggak banyak. Kamu sendiri bawa apa aja itu? Kita beneran cuma mau ke pantai, kan?”
“Aku bawa baju ganti, handuk, minum, sunscreen, topi, HP, dompet, charger, picnic mat, bola tiup, sama—”
“Wow, wow, oke,” Iwaizumi cepat-cepat memotongnya seraya tertawa kecil. Pria itu menggeleng pelan sementara Oikawa memasang wajah bingung.
“Apa?”
“Nggak, cuma—” Iwaizumi tertawa lagi. “Persiapan kamu beneran banyak.”
“Aku jarang ke pantai, jadi bingung mau bawa apa aja...” ucap Oikawa sambil memainkan ujung kemeja dengan corak pohon kelapa kepunyaannya. “Kenapa? Lebay, ya?”
“Bukan lebay.” Namun Iwaizumi masih tersenyum lebar saat menyanggahnya. “Cuma well-prepared.”
Oikawa mendorong bahu kekasihnya dengan sedikit kencang. “Bilang aja aku lebay!”
Iwaizumi tertawa renyah sembari tangannya mengacak surai halus Oikawa.
“Kamu kok keringetan banget gini? Emang cuacanya panas banget?” tanya pria itu tiba-tiba saat menyadari beberapa helai rambut jatuh di atas keningnya dan menempel di sana akibat keringat.
“Ugh, AC apartemenku lagi rusak, makanya aku keringetan gini,” jawab Oikawa sambil mengipas-ngipas lehernya yang masih mengeluarkan peluh meskipun pendingin udara di dalam mobil sudah dinyalakan.
“Dari kapan rusaknya? Kenapa nggak bilang? Kan kamu bisa nginep di aku tau gitu.”
“Nggak ah, kasian Ushijima nanti dia tersiksa sendirian.”
“Ya biarin aja.”
Kali ini gantian Oikawa yang terkekeh pelan. “Udah dua setengah tahun, kamu masih aja cemburu sama dia?”
“Selama dia masih suka sama kamu, ya aku bakal tetap cemburu,” gerutu Iwaizumi di bawah napasnya.
“Oh, kayaknya dia udah mulai move on. Beberapa hari kemaren cerita habis ngedate sama temen part-timenya,” balas Oikawa santai. “Jadi udah, kamu nggak ada saingan.”
“Kageyama.”
“Apa?”
“Masih ada Kageyama.”
Tanpa bisa menahan dirinya, Oikawa tertawa kencang mendengar nama mantan adik kelasnya disebut.
“Dia cuma temen baik aku, kan kamu tau. Astaga, bisa-bisanya kamu cemburu sama dia...” Oikawa menggeleng tak habis pikir. Walaupun sudah dua tahun lebih menjalin hubungan, Iwaizumi masih saja menaruh kecurigaan pada juniornya yang malang itu. Pantas saja setiap mereka bertemu, wajah kekasihnya selalu berubah masam.
“Tuh kan, untung kita nggak ngajak siapa-siapa hari ini! Udah aku bilang, biar kita bisa pacaran berdua,” sambung Oikawa begitu dilihatnya Iwaizumi sudah kembali berkonsentrasi menatap jalanan di depannya. Ia kemudian meraih kacamata hitamnya yang ada di atas dashboard mobil dan memakainya. “Pokoknya hari ini kita seneng-seneng di pantai!”
“Woy! Iwaizumi! Sini join!”
“Oikawa! Jangan nonton doang, dong! Sini lo juga!”
Begitu namanya ikut disebut, Oikawa meringis pelan. Iwaizumi yang ada di sebelahnya melambai ke arah orang yang memanggil mereka sebelum menghela napas berat.
“Kok bisa ketemu mereka di sini...” Oikawa mengerang, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Kita jadi nggak bisa berduaan!”
Oikawa pikir, acara bermain ke pantainya hari itu bisa dihabiskan berdua saja dengan Iwaizumi. Namun siapa sangka, tak beberapa lama begitu menginjakkan kaki di atas hamparan pasir putih itu, ada yang menyapa mereka berdua.
“Soalnya Matsun ngeliat tweet lo.”
Mendadak, ada suara lain yang terdengar dari belakangnya. Oikawa menoleh dan mendapati Kuroo tengah menyeringai ke arahnya diikuti Kenma yang sibuk menancapkan netranya ke layar handphone.
“Habis itu, Suga deh yang ngusulin buat kita ikutan ke pantai,” sambung temannya lagi sambil melingkarkan tangan di bahunya. “Ya maaf deh, kalau udah ngehancurin rencana lo yang mau berduaan sama Iwaizumi.”
Namun tidak ada nada penyesalan sama sekali di balik permintaan maaf temannya itu. Kuroo malah tertawa semakin kencang begitu dilihatnya Oikawa memasang tampang cemberut.
“Lagian emang masih kurang, ya? Di kampus lo berdua nempel terus, pas liburan juga. Nggak apa-apa dong kalau sekarang main sama kita? Bentar lagi kita mau lulus, loh!”
“Belah mananya gue nempel terus sama dia? Orang Iwaizumi sibuk terus di kantor Ayahnya,” jawab Oikawa sembari memperhatikan punggung kekasihnya yang sudah berjalan lebih dulu di depan mereka. “Ini juga nggak biasanya dia bisa dapet day off segampang itu, makanya gue maunya berduaan aja!”
Kuroo menepuk-nepuk punggungnya dengan gestur menenangkan. “Ya udah, sabar aja. Atau lo coba aja nanti diem-diem pergi atau gimana kek. Walaupun kayaknya susah ya, soalnya Matsun dari tadi ngebet banget ngajakin pacar lo main voli pantai.”
“Matsun anjing,” Oikawa mengumpat penuh perasaan. Rasanya ia ingin menguburkan wajah ceria Matsukawa ke dalam pasir saat itu juga.
Kuroo kembali tertawa terbahak-bahak.
Oikawa menatap keramaian di depannya tanpa minat. Entah sudah berapa kali dirinya menghela napas berat hari itu. Semangat yang sejak awal ia rasakan seperti menguap begitu saja ke udara dan sekarang ia hanya bisa tenggelam dalam mood-nya yang tak kunjung membaik.
Singkat kata, yang mengganggu mereka kini bukan lagi teman-temannya, tetapi juga orang asing.
Oikawa pikir, Matsukawa yang tanpa sadar memonopoli kekasihnya hari itu sudah merupakan kenyataan yang buruk, tapi pikirannya langsung berubah begitu satu per satu kaum hawa ikut menonton permainan voli mereka. Dan yang membuat Oikawa bertambah kesal adalah saat wanita-wanita itu secara terang-terangan menggoda Iwaizumi.
Ada yang meneriakkan nama pria itu (dari mana juga mereka tahu?!), ada yang dengan berani mendatangi dan mengajak Iwaizumi main bersama, bahkan ada juga yang dengan seenaknya langsung menyentuh lengan kekasihnya seraya berakting manja.
Oikawa ingin muntah melihatnya.
Walau, Oikawa sendiri tak bisa menyalahkan mereka karena Iwaizumi terlihat sangat menarik perhatian di bawah terik cahaya matahari. Kemeja yang awalnya hanya terbuka tiga kancing, kini sudah dilepas seluruhnya sehingga menghadirkan pemandangan perut berotot pria itu. Jeans-nya pun sudah diganti dengan celana pendek. Panasnya cuaca ditambah hasil permainan voli membuat Iwaizumi berkeringat dan peluhnya mengalir dengan sangat menggoda dari dadanya lalu turun sampai ke bawah hingga menghilang di balik celana pria itu.
Oikawa kesal, tapi juga menikmati pemandangan langka tersebut.
Mungkin akan lebih baik untuk segera mengakhiri waktu bermain mereka, lalu ia bisa mengusulkan pulang ke apartemen pria itu dan keduanya bisa—
“Halo, permisi...”
Pikirannya teralihkan begitu ada suara wanita asing masuk ke gendang telinganya. Oikawa menoleh dan mendapati sosok wanita yang tak dikenalnya sudah berdiri di sebelahnya. Wanita itu menatapnya malu-malu dengan bibir yang digigit pelan.
“Ada apa, ya?” tanyanya, masih berusaha bersikap sopan walaupun mood-nya sedang berantakan. Wanita itu mengerjapkan matanya berulang kali kemudian tersenyum kecil.
“Aku ngeliat kamu berdiri di sini sendirian. Kalau nggak keberatan... kamu mau nggak ikut main sama kita?” Setelah bertanya seperti itu, sang wanita asing mengedikkan kepalanya ke belakang. Oikawa melihat ada tiga wanita lain yang tengah memperhatikan mereka dari kejauhan sambil berbisik-bisik satu sama lain. Oikawa berusaha untuk tidak memutar kedua bola matanya seraya mengembalikan atensi kepada wanita itu. Baru ia membuka mulut untuk menjawab, tiba-tiba ada sepasang lengan yang merengkuh pinggangnya dari samping.
“Hei, kamu kenapa sendirian aja di sini?”
Iwaizumi tahu-tahu sudah berada di sebelahnya, memeluknya, dan memamerkan senyumnya yang paling manis. Pria itu lantas mencium pipinya seakan-akan tidak ada seseorang yang berdiri di depan mereka dan menyaksikan semua itu.
“Hah? O-oh, nggak... lagi cool off aja. Kamu udah selesai mainnya?” tanya Oikawa di tengah kebingungannya atas sikap pria itu yang tiba-tiba.
“Udah, biarin Matsun lawan Daichi sekarang. Aku juga udah capek. Mau beli minum? Kayaknya tadi ada yang jual air kelapa di sana,” jawab Iwaizumi santai tanpa melepaskan rengkuhan tangannya. Oikawa melirik ke arah wanita asing yang kini menatap mereka dengan mulut sedikit terbuka. Tiba-tiba, ada keinginan untuk tertawa dari dalam dirinya.
“Hmm, boleh. Kebetulan aku haus banget,” jawabnya sambil memeluk balik pinggang kekasihnya dan menatap manja— ikut tidak memedulikan wanita yang berada di depan mereka.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Iwaizumi langsung menariknya pergi, bahkan tanpa melirik wanita itu sama sekali. Begitu sudah agak menjauh, barulah Oikawa tertawa keras.
“Liat nggak sih, tadi lagi ada yang ngajakin aku ngobrol? Jahat banget kamu nyuekin dia!” ucap Oikawa di tengah tawanya yang terpingkal-pingkal.
“Ya liat, makanya aku buru-buru nyulik kamu. Biar nggak ada yang godain lagi,” jawab Iwaizumi tanpa mengendurkan rengkuhannya. “Kamu tau seharian ini orang-orang pada ngeliatin kamu kayak gimana?”
Oikawa mengulum senyum geli. “Kebalik tau, bukannya kamu yang seharian ini narik perhatian cewek-cewek?”
Pertanyaannya dijawab dengan sebuah kerutan dalam di kening pria itu seakan-akan Iwaizumi benar-benar tidak menyadari efek eksistensi dirinya sendiri terhadap orang lain.
“Dan aku udah capek main sama Matsun. Jangan salah paham, aku seneng main sama mereka, tapi rencana kita ke sini kan buat berduaan, kenapa kita malah—”
Oikawa memotong ucapan pria itu dengan menempelkan bibirnya cepat. Iwaizumi lantas menghentikan racauannya, sedangkan Oikawa hanya tersenyum jahil.
“Aku juga maunya berduaan sama kamu.”
Ada kilatan determinasi di balik mata kekasihnya. Namun sebelum Oikawa dapat memproses apa pun, Iwaizumi tahu-tahu sudah menariknya ke arah bangunan kecil yang berada sedikit jauh dari pantai.
“Kita mau ngapain ke sini?”
Oikawa mengenali bangunan itu sebagai ruang ganti— terbagi dua, yaitu untuk pria dan wanita dengan banyak loker serta beberapa kubikel kamar mandi di dalamnya. Saat mereka masuk, tidak ada siapa-siapa di dalam dan Iwaizumi langsung menariknya ke kubikel paling ujung.
Meskipun belum bisa memproses sepenuhnya, jantung Oikawa bertalu kencang saat mengikuti langkah terburu-buru pria itu. Iwaizumi langsung mendorongnya masuk dan mengunci pintu kubikel.
Dalam hitungan detik, bibir pria itu sudah membungkamnya dalam ciuman keras— nyaris dominan. Oikawa bahkan tidak sempat memenuhi rongga dadanya dengan pasokan udara sehingga napasnya langsung tercekat. Ia mencengkeram lengan kokoh pria itu sementara Iwaizumi menariknya lebih dekat seakan jarak yang sudah menipis belumlah cukup.
“Tuhan...” Iwaizumi mengerang begitu bibir mereka terpisah selama beberapa detik. Dadanya naik turun dengan napas yang tersengal seolah habis berlari puluhan kilometer. Oikawa pun tak ada bedanya.
“Bukan Tuhan,” Oikawa mengoreksi sambil tersenyum miring. “Tapi Tooru.”
Iwaizumi tak melayangkan protes sama sekali dan namanya lantas dibisikkan pelan begitu bibir mereka kembali bertemu dalam ciuman yang tak kalah dengan panasnya cuaca. Oikawa yang sudah berkeringat merasa punggungnya semakin basah akibat gerakan tangan mereka yang saling menggerayangi. Ia tidak sengaja menggigit bibir Iwaizumi saat tangan pria itu turun dan menyentuh selangkangannya. Oikawa mendesah pelan saat tangan kekasihnya memijit dengan lihai kemaluannya yang sudah menegang. Kakinya langsung lemas, dan kalau tidak ada Iwaizumi yang memeluknya erat, pastilah dia sudah terjatuh ke atas lantai.
“Kamu tau...” Iwaizumi berbisik tepat di depan telinganya. Napas berat pria itu membuat bulu kuduknya berdiri. “Seharian ini aku udah nahan diri...”
“Aku— ah, aku juga...” Oikawa tidak yakin ia bisa mengeluarkan kalimat koheren di tengah nikmat yang diberikan Iwaizumi. “Seharian ini kamu dikelilingin cewek-cewek itu...”
“Nggak peduli,” Iwaizumi mengucap singkat. Gerakan tangannya semakin cepat. “Yang aku liat cuma kamu.”
Oikawa tidak mampu merespons lagi. Matanya terpejam erat dan bibirnya mengeluarkan desahan panjang saat tangan pria itu sudah menyelinap ke balik celananya. Kecepatannya tidak berkurang, bahkan sekarang tangan Iwaizumi ikut menekan ujung kemaluannya sehingga membuatnya berjengit.
“Gila. Kamu basah.”
Gara-gara siapa coba...
Oikawa hanya mampu berpikir dalam hati karena kemampuan bervokalisasinya seakan sudah lenyap. Iwaizumi mengangkat dagunya lalu mulai menciuminya lagi seperti orang yang kelaparan. Ciuman itu melibatkan terlalu banyak gigi dan lidah, namun Oikawa menikmati setiap detiknya.
“Lain kali— mmm,” Iwaizumi baru saja menggigit bibir bawahnya dan menariknya pelan. “Lain kali, kita nggak usah ke pantai lagi.”
“Kenapa?” Iwaizumi balik bertanya di tengah kesibukannya mengeluarkan kemaluannya sendiri yang sudah merah dan tegang. Oikawa menelan salivanya susah payah saat visualisasi di depannya mengacaukan kemampuan berpikirnya.
“Kamu— oh, astaga,” Oikawa kini harus melingkarkan tangannya di sekitar punggung kekasihnya karena Iwaizumi tiba-tiba menariknya lebih dekat dan membuat gigitan-gigitan kecil di ceruk lehernya sembari tangannya memainkan putingnya yang ikut mengeras. Oikawa mendongak untuk memberikan keleluasaan sementara otaknya kembali berusaha menyusun kata-kata.
“Kamu... banyak yang jadi ngeliatin kamu— aku, ah, nggak suka...”
“Tooru,” Iwaizumi menyebut namanya penuh penekanan. Tangan pria itu melepas pinggangnya selama sepersekian detik untuk meraih sesuatu dari dalam kantung celana pendeknya. Di tengah pandangannya yang berkabut, Oikawa memperhatikan pria itu melumuri tangannya dengan cairan dari dalam botol kecil.
Iwaizumi tersenyum miring lalu menariknya untuk sebuah ciuman dalam.
“Bukan cuma kamu yang punya banyak persiapan, sayang,” bisik pria itu di depan bibirnya yang terbuka.
Akal sehatnya lagi-lagi menguap di udara saat jari pria itu mulai menggoda dengan manis di lubang hangatnya yang sedari tadi sudah menuntut atensi. Vokalnya tak bisa lagi ditahan. Oikawa mengeluarkan desahan patah-patah saat jari kedua menyusul dan pegangannya di punggung pria itu semakin menimbulkan remuk. Namun Iwaizumi terlihat tak peduli dan terus menaikkan birahinya sampai jari ketiga masuk dan membuat pandangannya seketika memutih.
Oikawa nyaris meneriakkan nama Iwaizumi kalau tidak tiba-tiba ada suara-suara yang masuk ke dalam ruang ganti.
Matanya langsung terbuka lebar dan napasnya tertahan di tenggorokan. Gerakan Iwaizumi juga ikut berhenti sementara mereka berdua menahan napas.
Ada tiga suara tak asing yang memenuhi ruangan tersebut.
“Si Oikawa sama Iwaizumi kabur ke mana?” tanya Matsukawa yang langsung disambut tawa pelan Sugawara.
“Nggak tau, yang jelas sih mereka mau jauh-jauh dari lo.”
“Lah, kok gue?”
“Ya lo gangguin Iwaizumi terus,” kali ini Daichi yang ikut menyahut. “Nggak liat emang itu wajah temen lo udah asem dari tadi siang?”
Oikawa mengeluarkan segala macam sumpah serapah dalam hati. Belum cukupkah seharian ini ia diganggu mereka? Kenapa sekarang juga dia harus—
Oikawa menggigit bahu pria di hadapannya dengan refleks begitu Iwaizumi tahu-tahu kembali bergerak di bawah sana.
“Ssst...” Iwaizumi berbisik rendah di telinganya seakan tekanan dari jari-jarinya tidaklah membuat Oikawa nyaris kehilangan kontrol. “Kamu mau kita ketahuan?”
Oikawa menggeleng dengan frantik.
“Ya udah, tahan sebentar, sayang.”
Tanpa merasa bersalah, Iwaizumi mempercepat gerakannya sampai ada basah lain yang melumuri jari-jari pria itu. Oikawa menggigit bibirnya keras-keras agar tidak mengeluarkan desahan sekecil apa pun meskipun kakinya mulai bergetar saat Iwaizumi berhasil meraih prostatnya.
Sesungguhnya, Oikawa tidak lagi memedulikan suara teman-temannya di luar sana. Persetan kalau mereka memang harus ketahuan.
Seakan paham dengan konflik batinnya, Iwaizumi kembali mengacaukan pikirannya yang sudah tercerai-berai dengan meraihnya dalam ciuman rakus. Tak ada lagi sehelai benang yang memisahkan mereka, dan Oikawa bisa merasakan kulit Iwaizumi yang basah oleh peluh menempel di setiap inci tubuhnya. Jari-jari kakinya melengkung penuh kenikmatan saat tangan Iwaizumi kembali meraih kemaluannya dan membuat gerakan naik-turun dengan cepat.
“Tooru— ah, shit. Balik badan, ya?”
Kalau dalam keadaan normal, Oikawa pasti sudah membeliak terkejut karena mereka akan tetap melakukannya di tengah suasana seperti ini. Tapi pikirannya yang sudah berkabut pun tak bisa menolak lagi sehingga ia hanya mengangguk dan langsung membalikkan badan. Didengarnya suara robekan bungkus kondom yang entah bagaimana juga sudah disiapkan pria itu.
Oikawa bisa bertanya nanti.
“Ya udah yuk balik. Cari makan gitu, gue laper banget,” suara Matsukawa kembali terdengar. “Siapa tau pas kita balik tuh orang berdua juga udah muncul lagi.”
“Kata gue sih mereka kabur,” sahut Sugawara diikuti celotehan lain dari Daichi yang sudah tak bisa lagi diproses oleh Oikawa. Begitu suara-suara itu perlahan menjauh, Oikawa menoleh dari balik bahunya dan menatap kekasihnya dengan pandangan memohon.
“Hajime, tolong...“
Setelahnya, tak ada lagi yang melintas di otaknya selain sentuhan Iwaizumi, napas cepat pria itu, serta ekstasi yang dirasakannya. Bercinta dengan Iwaizumi membuatnya seakan melayang di udara sekaligus terjun bebas— ada napas yang tercekat, jantung yang mencelos serta panas membakar yang membangkitkan adrenalinnya. Ia seperti lupa caranya menjejak tanah, tetapi di saat bersamaan Iwaizumi mengikatnya agar tidak melayang terlalu jauh.
Bahkan setelah dua tahun berhubungan, sensasi memabukkan itu tidak pernah menghilang, bahkan semakin kuat seiring waktu yang mereka habiskan bersama.
Ruangan itu dengan cepat dipenuhi suara-suara berdosa dari gerakan mereka yang berusaha menelan satu sama lain. Oikawa tak lagi menggigit bibirnya, namun mulutnya hanya membuka tanpa suara sementara pria di belakangnya terus bergerak frantik mengejar kenikmatan puncak tanpa syarat itu bagi mereka berdua. Oikawa menggapai ke belakangnya dan Iwaizumi langsung menyambutnya dengan ciuman berantakan yang tak lagi sesuai ritme. Gerakan pria itu ikut kacau dan napasnya terdengar semakin berat sementara namanya dibisikkan penuh ketakjuban.
Seakan Oikawa lah yang membuat pria itu kehilangan akal sehat, dan bukannya sebaliknya.
Iwaizumi tak sanggup lagi menahan beban mereka berdua sehingga begitu keduanya keluar dalam waktu yang nyaris bersamaan, Oikawa langsung menjatuhkan tubuh ke lantai dengan tak berdaya. Napasnya berlomba antara satu tarikan dengan tarikan yang lain. Tubuhnya lemas dan basah oleh keringat— entah karena cuaca atau aktivitas mereka yang begitu menguras tenaga.
Oikawa membuka matanya dan memperhatikan Iwaizumi yang ikut bersender di dinding di sebelahnya. Pria itu mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan lalu tersenyum lebar.
“Apa?” Oikawa tak sanggup bertanya lebih karena baru sekarang tenggorokannya terasa kering. Ia butuh minum. Segera.
“Kamu nggak nanya kenapa di kantungku bisa ada...” Iwaizumi menggantungkan jawabannya dan membuat tatapan penuh arti.
Oikawa memutar kedua bola matanya.
“Tadinya aku mau nanya, tapi kayaknya mendingan aku nggak usah tau deh.”
Iwaizumi tertawa rendah, lantas menarik tubuhnya yang masih tak bertenaga itu mendekat. Pria itu menjatuhkan ciuman lebut di bahu telanjangnya, kemudian bergumam panjang.
“Habis ini kabur beneran, yuk? Kita pulang ke apartemenku. AC kamu masih rusak, kan?”
“Bisa aja nih umpannya...”
Iwaizumi tersenyum lagi. Ada kerlingan jahil yang biasanya terlihat di wajah pria penuh keseriusan itu.
“Kita bisa bikin minuman seger atau... mandi bareng. Biar nggak keringetan lagi.”
Iwaizumi mendengus pelan seraya tangannya meraih rahang pria itu untuk diberi kecupan cepat.
“Good. Let's go. I'm all sweaty.”
Selamat ulang tahun ya, Oikawa... semoga makin langgeng sama Iwaizumi... di AU mana pun kalian berada xixixi
@fakeloveros