Decision

“Ayo cepetan cerita!!”

“Sabar dong, lo kan baru sampe. Nggak mau minum dulu? Makan? Ke toilet?”

Alisa mengibaskan tangannya dengan tak sabar dan langsung melompat ke atas kasur lalu mengambil posisi nyaman. Wanita itu menepuk-nepuk sisi di sebelahnya sebagai tanda agar Oikawa cepat bergabung dengannya.

“Btw, tau nggak? Kayaknya soulmate lo masih marah sama gue gara-gara kejadian di club yang lo diculik itu. Dia kalau ngeliat gue, tatapannya asem banget! Padahal gue sama dia kan udah mutualan di IG, ramah dikit kenapa!”

Oikawa ikut duduk di atas kasur sambil menyalakan TV dalam volume rendah. Di tangannya ada sebotol susu stroberi yang khusus dibawakan temannya itu. Kebetulan Oikawa belum memiliki waktu untuk pergi belanja memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Tapi sekarang sepertinya sudah tidak perlu karena Alisa membawakannya berbagai makanan dan berbotol-botol susu yang bahkan mungkin akan cukup untuk sebulan. Tinggal bagaimana nanti ia harus menjelaskan pada Iwaizumi ketika pria itu melihat banyak botol berwarna merah muda di dalam kulkas.

Tapi itu urusan nanti.

“Kan gue udah pernah bilang, itu tuh cuma ekspresi default dia. Emang keliatan kayak mau marah terus, padahal mah…” Oikawa menggantung ucapannya untuk mengindikasikan hal yang justru berlawanan.

Alisa menaik-turunkan kedua alisnya seraya meyenggol bahu Oikawa pelan.

“Ciee… sekarang udah mulai belain, ya?”

“Siapa yang belain—“

“Ya udah sih, wajar, namanya juga lo berdua soulmate.” Alisa mengubah posisinya, lalu berbicara dengan nada lebih serius. “Tapi lo masih… belum mau ngomong sama dia soal itu?”

Posturnya langsung berubah tegang. Ia tahu pembicaraan ini cepat atau lambat akan datang juga, tapi saat benar-benar divokalisasikan, Oikawa kembali dibayangi oleh rasa takut.

Takut bahwa penolakan Iwaizumi akan menjadi kenyataan.

“Kalau gue bilang ke dia, menurut lo seberapa besar kemungkinannya dia bakal nolak gue?” tanya Oikawa dalam bisikan rendah meskipun di sana hanya ada mereka berdua.

“Nggak akan,” Alisa menjawab halus. “Kalau dia beneran nerima lo sebagai soulmate, dia nggak bakal ngelakuin hal semacam itu. Dia pasti bakalan nerima lo.”

Oikawa tersenyum tipis. Jawaban Alisa, walaupun terdengar meyakinkan, tetap membuatnya skeptis. Tapi ia tidak ingin mengungkit topik ini lebih lama karena bukan itu tujuan dirinya bertemu dengan Alisa. Setidaknya dia tidak ingin membuat mood mereka seharian menjadi turun akibat topik yang dianggapnya terlalu sensitif.

“Kan Iwaizumi bilang dia juga nyembunyiin sesuatu… menurut lo soal apa?” Oikawa bertanya lagi. Sekarang dirinya tengah berbaring seraya menatap langit-langit kamarnya tanpa fokus. Alisa mengikuti tak beberapa lama sambil menghela napas besar.

“Kalau gue tebak dia nyembunyiin semacam trauma gitu, lo bakalan marah nggak?”

Bukannya marah, Oikawa justru menoleh dengan terkejut ke arah temannya. “Nggak marah sih, cuma kenapa lo nebaknya kayak gitu? Trauma apa maksudnya?”

Alisa mengedikkan bahu dengan bibir yang mengerucut ke depan. “Nggak tau sih, feeling aja. Mungkin trauma yang bikin dia… takut ngejalanin hubungan? Bisa aja, kan?”

Oikawa kembali ke posisi awal sambil bergumam panjang. Dia tidak pernah memikirkan kemungkinan bahwa Iwaizumi bisa saja memiliki trauma semacam itu.

“Kalau pertanyaan lo barusan gue lempar balik, apa jawaban lo?” tanya Alisa tiba-tiba sambil menghadap ke arahnya dengan satu tangan menopang kepalanya. “Seandainya lo udah tau soal yang disembunyiin Iwaizumi, lo bakal nolak dia nggak?”

Jawaban tidak sudah berada di ujung lidahnya, tapi dirinya ragu bukan karena khawatir tentang apa yang disembunyikan Iwaizumi, melainkan perbandingannya dengan rahasia miliknya sendiri. Mau dipikirkan dari segi mana pun, menurutnya kebenaran soal dirinya pastilah lebih sulit diterima sehingga pada akhirnya, Iwaizumi lah yang akan tetap membuat keputusan.

Bukan dirinya.

“Gue tau lo mau jawab nggak,” ucap Alisa dengan tatapan menuntut. “Tapi gue juga tau lo pasti mikir nggak berhak bikin pilihan? Ya, kan?” Wanita itu kemudian menggeleng-geleng tanpa menunggu jawaban Oikawa. “Lo harus lebih percaya sama Iwaizumi, dia kan soulmate lo.”

“Soulmate…” Oikawa menggumamkan satu kata itu nyaris dalam bisikan. “Tapi apa lo pernah mikir, nggak ada orang yang bisa milih pasangan soulmate-nya. Makanya menurut gue… kalau emang ngerasa nggak cocok, salah satunya bisa aja nolak ikatan itu.”

Alisa tidak memberi respons, tapi Oikawa tahu omongannya didengarkan.

“Dan bukan berarti gue atau Iwaizumi nggak bisa ngelakuin hal itu— milih orang yang bener-bener kita sayang, dibandingin nyerahin semuanya ke status soulmate semata.”

“Tapi bukan berarti soulmate lo nggak bisa jadi orang yang lo pilih juga, Oikawa.”

Alisa memotongnya cepat, dan kali ini, giliran Oikawa yang terdiam memikirkan berbagai pilihan yang bisa dia ambil.


Ketika jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, Alisa akhirnya mengaku perlu bergerak sedikit karena perutnya sudah terlalu penuh dengan segala camilan yang dibawanya sendiri. Oikawa sadar mereka seharian tidak keluar dari kamar sehingga dirinya bahkan belum bertemu dengan Iwaizumi yang juga tidak mengganggunya sama sekali hari itu.

Bohong kalau mengatakan Oikawa tidak ingin melihat pria itu sedikit.

Tapi ini bukan rindu. Bukan. Oikawa berani bersumpah.

Memutuskan bahwa jalan-jalan sebentar ke dalam hutan tidak akan berbahaya bagi mereka, Oikawa mengajak Alisa untuk pergi melemaskan kaki sekaligus menurunkan semua makanan yang menumpuk di dalam lambung mereka. Alisa menyambut usulannya dengan senang hati, bahkan meminta untuk sekalian diajak berkeliling.

“Tapi ini nggak apa-apa, kan? Bukannya waktu itu kata lo ada anggota klan yang dibunuh pas ke hutan, ya?” tanya Alisa ketika mereka sudah keluar dari kediaman utama. Oikawa memperhatikan keadaan sekeliling namun tidak ada siapa pun yang tertangkap oleh mata.

“Hmm, itu di bagian hutan sana sih, yang lebih dalem. Sekarang kita ke yang deket aja. Ada danau kecil di deket sini. Kalau ke situ doang sih nggak apa-apa. Kayaknya.”

Alisa menyeringai lalu mulai berjalan mengikutinya. “Ya udahlah, rebel sedikit nggak masalah, kan? Paling yang bakal dimarahin juga lo ini sama Iwaizumi.”

“Ini bukan rebel, orang danaunya deket kok. Dan gue nggak bakal dimarahin, emangnya anak kecil?” gerutu Oikawa sembari menendang kerikil di bawahnya. Alisa hanya tertawa dan melanjutkan langkah seraya bersenandung pelan di bawah terik cahaya matahari sore. Oikawa ikut menikmati permainan cahaya itu di kulitnya sambil menghirup napas dalam-dalam. Ada sedikit wangi cokelat yang tertangkap indra penciumannya sehingga membuatnya mengerutkan kening. Apa Iwaizumi baru saja lewat sini?

“Btw, cewek yang namanya Kiyoko itu… yang barusan lo ceritain, gue jadi penasaran mau liat orangnya langsung,” ucap Alisa tiba-tiba. “Siapa tau pas liat langsung, gue punya feeling yang sama kayak lo.”

Oikawa mendengus keras. “Feeling kalau tuh cewek suka sama Iwaizumi?”

Alisa mengangguk, kemudian menatapnya diikuti seulas senyum lebar. “Lo cemburu, ya?”

“Nggak.”

Oikawa menjawab terlalu cepat, yang justru membuat seringai jahil di wajah Alisa semakin tercetak jelas.

“Iya juga nggak apa-apa sih, justru aneh kalau lo nggak cemburu.”

“Gue nggak cemburu,” Oikawa menyanggah, kali ini lebih tegas dari sebelumnya. “Lagian bukan urusan gue kalau ternyata tuh cewek emang—“

Oikawa menghentikan langkahnya secara mendadak sampai Alisa yang berjalan di sebelahnya ikut berhenti dan bertanya dengan bingung.

“Apa? Kenapa? Kita udah sampai? Mana danau—“

Tetapi bahkan omongan Alisa pun tersangkut di tenggorokannya begitu saja.

Karena pemandangan yang ada di depan mereka.

Oikawa terpaku di tempatnya saat menyaksikan Iwaizumi yang buru-buru mendorong Kiyoko menjauh dengan raut wajah bersalah. Pria itu langsung menoleh ke arahnya dan membuka mulut untuk mengatakan sesuatu.

Tapi kakinya sudah bergerak lebih dulu.

Oikawa langsung berbalik dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu. Ia tidak memperhatikan jalanan di depannya karena apa yang membayangi netranya hanya pemandangan Iwaizumi memeluk wanita lain. Atau wanita itu yang memeluk Iwaizumi? Entahlah, Oikawa tidak peduli.

Seharusnya ia tidak peduli, tapi kenapa seperti ada kobaran api yang membakar dadanya sekarang?

Oikawa terus berjalan tanpa memedulikan suara langkah kaki yang mengejarnya. Ia bahkan tidak mau memeriksa apakah itu Alisa atau justru Iwaizumi yang mengikutinya. Ia hanya ingin cepat kembali sampai ke rumah sebelum melakukan sesuatu yang dapat mempermalukan dirinya sendiri.

Namun belum sempat keluar dari hutan, ada tangan yang mencekal pergelangannya dengan kuat sehingga otomatis langkahnya terhenti.

Oikawa tidak perlu menoleh untuk mencari tahu siapa pelakunya.

“Tooru, aku—“ Iwaizumi memulai di tengah napasnya yang tersengal. “Yang barusan salah paham. Itu nggak yang kayak kamu pikir. Aku sama Kiyoko nggak—“

“Lepas.”

“Tooru—“

“Lepasin tangan gue!” Oikawa tanpa sadar menaikkan oktaf suaranya sampai Iwaizumi dengan terpaksa melepaskan cengkeraman tangannya. Namun Oikawa masih menghindari tatapan pria itu.

“Gue nggak peduli,” ucapnya singkat sebelum mulai kembali berjalan. Ia yakin wajahnya sudah memerah sekarang— entah dari menahan marah, malu, atau justru tangis.

“Tooru, tunggu—“

Iwaizumi berusaha meraihnya kembali, tetapi Oikawa buru-buru mengibaskan tangannya dan akhirnya berbalik menghadap pria itu. Oikawa menggigit bibirnya kuat-kuat sebelum mulai berbicara.

“Udah gue bilang, percuma kita usaha. Gue tau lo nggak pernah suka sama gue. Lo cuma berusaha ngejalanin apa yang jadi seharusnya cuma karena kita soulmate. Tapi gue pernah bilang, kan? Kalau lo emang mau lepas ikatan kita, ya silakan aja. Gue bakalan nerima.”

Oikawa tidak memedulikan ekspresi terkejut ataupun kemarahan yang sempat melintas di wajah sang Alpha karena dirinya buru-buru berbalik dan kembali berlari. Jantungnya memompa kencang dan darahnya seakan berkumpul di kepala untuk emosi yang ia sendiri sulit jelaskan.

Ada setitik air mata bergumpal di ujung matanya yang langsung ia hapus dengan kasar.

Oikawa sungguh berharap dirinya tidak pernah dipertemukan dengan soulmate-nya. Karena mau bagaimanapun, Oikawa yakin tidak akan ada yang bisa menerima dirinya, apalagi jika pasangannya nanti mengetahui kekurangan yang menjadikannya tidak sempurna.

Sekarang semuanya sudah terlanjur. Kalau memang Iwaizumi sudah menyukai orang lain sebelum bertemu dirinya, maka tidak ada lagi alasan bagi mereka untuk bertahan.

Ikatan mereka, cepat atau lambat, harus segera diputuskan.


@fakeloveros