Parting
“Kayaknya kamu suka banget ya, jalan-jalan ke hutan sendirian.”
Suara itu membuat Oikawa tersentak sehingga kepalanya ia tolehkan ke pemiliknya yang tengah berjalan mendekat. Oikawa bahkan tidak mendengar suara langkah pria itu datang. Atau dia barusan terlalu tenggelam dalam pikirannya sendiri hingga tidak menyadari apa pun?
“Lo sendiri selalu tau gue ada di sini,” cibir Oikawa sebagai upaya untuk mengalihkan rasa gugupnya yang mendadak muncul. “Lo cenayang, ya?”
Iwaizumi tersenyum tipis. “Kalau cenayang, harusnya aku bisa tau apa keputusan kamu nanti.”
Oikawa lantas terdiam.
“Maaf, maksudku bukan—“
“Gue yang minta maaf,” Oikawa memotong pelan. Tatapannya ia alihkan ke permukaan danau yang tak beriak. “Gue nggak bisa ngasih keputusan secepat itu. Gue…” Ia menelan salivanya susah payah. “Jujur, gue nggak tau harus gimana sekarang.”
Oikawa terkejut ketika didengarnya Iwaizumi tertawa rendah.
“Seenggaknya kita ada di kapal yang sama sekarang. Sama-sama nggak tau harus ngapain.”
Mereka berdua diam seribu bahasa selama beberapa saat sampai Oikawa yang memecahkan keheningan tersebut.
“Lo bahkan belum tau rahasia gue,” ucapnya getir.
“Kalau udah pun jawabanku bakal tetep sama,” jawab pria di sampingnya cepat dan terdengar tulus.
“Kenapa lo yakin banget?”
“Mungkin karena ini pertama kalinya aku sayang sama seseorang.”
Jawaban pria itu sungguh mengejutkan sampai Oikawa harus menarik napas dalam untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Ia tidak merespons apa pun sampai Iwaizumi kembali bersuara.
“Aku tau pernyataan barusan kedengeran bodoh di situasi kita yang lagi kayak gini. Padahal aku udah bilang semua keputusan ada di tangan kamu. Aku bahkan udah ngizinin kamu pulang. Tapi kalau boleh jujur,” Iwaizumi melangkah sampai tepat berdiri di sampingnya. “Semua bertentangan sama apa yang aku rasain.”
Oikawa mau tak mau menoleh. Tatapan bingungnya lagi-lagi dibalas oleh keseriusan dari netra hijau itu.
“Apa yang aku mau sebenernya adalah nggak ngizinin kamu pergi, dan maksa kamu biar tetep ada di sini. Juga ngeyakinin kamu sekuat tenaga bahwa masa depan kita nggak akan jadi seburuk itu kalau kita berani coba.”
Oikawa tertegun. Matanya mengerjap cepat menghadapi gelapnya suasana di sekitar sekaligus keteguhan sang Alpha yang begitu membara. Rasanya seperti menghadapi air dan api di saat yang bersamaan.
“Gue…” Oikawa membasahi bibirnya yang terasa kering. Ia menunduk— tak berani menatap netra yang semakin membakarnya dalam diam. “Gue nggak tau harus ngomong apa.”
“Kamu nggak perlu ngomong apa-apa. Itu cuma keegoisanku yang nggak perlu kamu penuhin. Aku paham kamu butuh waktu.” Iwaizumi membisu, kemudian melanjutkan dengan sedikit ragu. “Tapi… sebelum kamu pergi, apa aku boleh minta sesuatu?”
Oikawa mengangkat wajah dan dengan matanya bertanya.
“Boleh aku peluk kamu?”
Padahal sedang tak ada angin yang bertiup, tapi tubuhnya langsung meremang pendengar pertanyaan dalam satu tarikan napas tersebut. Tubuhnya mendadak terasa panas dan matanya kembali mencari distraksi selain pria di hadapannya.
“Sebelum ini lo nggak pernah minta,” balasnya refleks. “P-pas kita misi bareng itu… lo duluan yang nyentuh gue.”
“Maaf ya, harusnya aku nggak seenaknya kayak gitu,” ujar Iwaizumi yang untuk pertama kalinya terdengar sungkan. “Kalau yang tadi nggak boleh juga nggak apa-apa.”
Oikawa meneliti pria di hadapannya sekali lagi. Kali ini ia berusaha tenang, tanpa melibatkan emosinya yang kemarin sempat kacau begitu mendengar bahwa Iwaizumi tidak menginginkan bantuannya. Bukannya ia benar-benar akan membantu, namun penolakan itu tak ayal cukup membuatnya sedih dan kecewa.
Namun sekarang, dengan keyakinan yang sudah bulat, Oikawa maju beberapa langkah.
Tangannya ia lingkarkan di pinggang pria itu sampai panas tubuh sang Alpha menembus kaus tipisnya. Ia berusaha tidak memedulikan Iwaizumi yang tersentak pelan dan memilih untuk memejamkan mata seraya meletakkan kepalanya di bahu soulmate-nya itu. Aroma cokelat tercium begitu kuat dari ceruk leher Iwaizumi dan segala kecemasannya seakan tersapu bersih.
Tak beberapa lama, ada sepasang lengan yang melingkari tubuhnya erat.
Kayak deja vu, pikir Oikawa di tengah proksimitas tersebut. Rasanya samar-samar ia ingat pernah memeluk Iwaizumi seperti ini di tempat yang sama. Atau ia hanya pernah bermimpi?
“Tolong janji sama aku…” bisik Iwaizumi di dekat telinganya. Pelukan pria itu mengerat. “Kamu nggak akan balik sebelum dapet jawaban yang pasti.”
Oikawa mengangguk pelan.
“Dan selama kamu di sana, tolong jangan terlibat apa pun yang berbahaya.”
Dirinya mengangguk untuk kedua kalinya.
“Apa… aku boleh minta satu hal lagi?”
Oikawa bergumam pendek— menahan keinginan untuk menjawab bahwa permintaan apa pun pria itu pasti akan ia kabulkan. “Apa?”
“Bisa nggak kamu panggil namaku? Sekali aja.” Suara pria itu terdengar sedikit memohon sekarang. Tangan yang merengkuhnya semakin kuat menahannya seakan dirinya enggan dilepaskan.
Bukan berarti Oikawa pun ingin melepaskan diri.
“Hajime.” Nama sang Alpha mengalir lancar dari bibirnya. Ada kepuasan aneh yang membuat dadanya meledak-ledak begitu mengucap nama kecil pria itu. “Aku janji.”
Tak ada ucapan yang terlontar lagi di antara keduanya. Oikawa bisa mendengar desah lega pria itu sebelum dirinya bersumpah bahwa Iwaizumi baru saja mencium lembut sisi kepalanya dan membisikkan kata terima kasih.
Kasian deh dikasih angst terus... sabar ya guys
@fakeloveros