The Beginning

Oikawa menginjakkan kaki di permukaan yang sudah sangat dihapalnya. Seperti rumah.

Atau mungkin, karena ia memang sedang berada di rumahnya.

Pria dengan seragam biru langit bertuliskan 13 itu menghirup napas dalam-dalam dan memejamkan mata di tengah hiruk pikuk suasana. Ia bisa mendengar sorakan dari kedua negara yang menyatu dan memenuhi ruangan besar tersebut seperti oksigen yang juga mengisi rongga dadanya sampai penuh. Ada aroma familier yang membuat kerinduan sekaligus semangatnya naik berkali lipat.

Ia membuka mata dan yang dilihatnya pertama kali adalah seragam merah dengan wajah-wajah tak asing yang dulu pernah mengisi masa remajanya. Rasanya seperti melihat kilasan balik dalam sebuah film saat sang tokoh utama mengalami sebuah tragedi.

Bedanya, Oikawa tak pernah sekalipun menganggap memori itu sebagai tragedi. Justru ia berterima kasih karena berkat semua pengalaman — yang tak semuanya bisa dikatakan indah — itu ia bisa berada di sini dan tetap mengejar mimpinya.

Sekarang, Oikawa bertemu lagi dengan orang-orang yang tanpa sadar terus mencambuknya agar tetap maju. Di sisi yang berlawanan, namun memiliki tujuan yang sama.

Kemenangan.

Oikawa tersenyum kecil saat wajah datar Kageyama menyambutnya— bersiap melakukan servis begitu peluit pertama berbunyi. Ada juga wajah bersemangat Hinata yang siap membuat kagum penonton dengan gerakan penuh kejutannya. Ia sendiri sudah sering melihatnya dan tetap dibuat terkejut. Pun dengan wajah berseri pemain lain yang sudah terlalu dihapalnya.

Netranya lantas bergulir ke sisi kanan lapangan lawan dan langsung menemukan apa — atau lebih tepatnya siapa — yang dicarinya. Berdiri tegap dalam balutan seragam hitam yang sudah terlalu sering dilihatnya — entah dari artikel berita, wawancara di TV atau bahkan foto yang pria itu kirim langsung ke HP-nya — Iwaizumi memicingkan dan menatap ke arah lapangan seolah pria itu sendiri yang akan menghadapi lawan.

Tak ada yang berbeda. Semua tetap sama. Hajime-nya.

Seolah tahu ada yang menatapnya lekat, pria berwajah tegas itu melirik ke samping sehingga pandangan mereka bertemu. Bahkan dari jarak sejauh ini, Oikawa tetap bisa mengenali netra gelap sang pria yang tengah memakunya di tempat. Bulu kuduknya meremang dan jantungnya berdetak lebih kencang— bukan karena euforia dari suasana pertandingan itu sendiri. Oikawa yakin.

Mereka bertatapan untuk waktu yang cukup lama— cukup untuk membuatnya lupa akan tujuannya berdiri di tempat ini atau mengapa ada sorakan-sorakan yang menyebutkan namanya penuh kebanggaan.

Mendadak, ada yang menepuk bahunya pelan dari belakang sehingga Oikawa terpaksa kembali menapak bumi.

Oikawa menoleh, lantas salah satu anggota timnya mengangguk dan memberi acungan jempol. Ia pun membalasnya dengan anggukan singkat dan bersiap di posisi.

Ia bisa berbicara dengan Hajime nanti. Mereka masih memiliki banyak waktu. Namun sekarang, tiba saatnya ia mempertaruhkan waktu itu sendiri untuk mencetak angka sebanyak-banyaknya.

Ia sudah berjanji kepada seseorang untuk memberikan yang terbaik dan Oikawa tidak ada niatan sedikit pun untuk melanggarnya.

Oikawa kembali menghirup napas dalam dan tersenyum. Ia sudah berada di rumah dan siap mencapai kemenangan di negara tempat kelahirannya sendiri.

Lalu, peluit pun berbunyi.


@fakeloveros