Straight Path

Dengan segala hal yang terjadi, Oikawa hampir lupa rasanya menghadiri pesta. Meskipun dinamakan pesta penyambutan, menurut keterangan lebih lanjut dari Kita, para anggota klan justru bersenang-senang seolah mereka bukannya menyambut kedatangan seseorang. Karena itulah latihan diakhiri lebih cepat dan hidangan terus disediakan sampai malam.

(“Malah kayak pesta nyambut tahun baru,” kata Kita saat tadi bertemu dengannya.)

Mau tidak mau Oikawa merasa sedikit bersemangat dalam menghadiri pesta penyambutan ini. Meskipun sebagian besar anggota klan masih asing baginya, setidaknya dia sudah mengenal cukup baik beberapa orang semenjak menjalani misi pengambilan senjata. Dan harus Oikawa akui, ternyata mereka tidak seburuk yang selama ini dirinya kira.

Terutama satu orang, tentu saja.

Karena bahkan satu orang itu kini tengah menunggunya untuk pergi bersama— sebuah ajakan yang ternyata tak mampu untuk Oikawa tolak meskipun egonya bersikeras.

Matahari sedikit bersembunyi di balik awan saat keduanya berjalan beriringan menuju lokasi yang sebenarnya tak begitu jauh dari kediaman utama. Oikawa berusaha menjaga langkahnya tetap tenang dan matanya lurus ke depan. Ia berupaya agar tidak terlalu memedulikan Iwaizumi yang berjalan di sebelahnya karena pikirannya justru langsung melayang ke kejadian malam itu di motel, permintaan maaf Iwaizumi setelahnya, serta jawaban absurd pria itu.

Aku tau kamu nyembunyiin sesuatu.

Dan bohong kalau bilang aku juga gak ada sesuatu yang disembunyiin.

We’ll see.

Mau memikirkannya sekeras apa pun, Oikawa tetap tidak bisa mengira-ngira apa yang disembunyikan Iwaizumi. Dan pria itu pun pasti tidak memiliki petunjuk sekecil apa pun mengenai hal yang disembunyikannya.

Mereka berdiri di atas bilah yang sama.

Namun hal yang sama-sama mereka sembunyikan membuat situasinya menjadi seperti ini— keduanya terpaksa menahan diri dan belum bisa menerima satu sama lain sebagaimana soulmate semestinya. Dan itulah yang membuatnya frustrasi.

Tapi kalau Iwaizumi tahu—

“Haiba kapan mau dateng?”

“Eh?” Pikirannya terpotong saat suara bariton di sebelahnya tiba-tiba memecah keheningan di antara mereka.

“Temen kamu yang mau dateng,” Iwaizumi meliriknya selagi tetap berjalan. “Haiba, kan?”

“O-oh, iya… ehm…” Oikawa berusaha memaksa otaknya bekerja karena Iwaizumi bertanya begitu tiba-tiba. “Dia bakal dateng besok.”

Iwaizumi tidak bertanya apa pun lagi sampai gedung tempat pesta penyambutan sudah terlihat di depan mata. Oikawa pikir, pembicaraan mereka pun akan berhenti sampai di situ.

“Kamu deket sama dia? Haiba?”

Iwaizumi mendadak berhenti melangkah sehingga otomatis Oikawa mengikutinya. Oikawa menatap jalanan di hadapan mereka yang tinggal beberapa langkah lagi dengan bingung, lalu kembali pada sang Alpha yang masih menunggu jawabannya.

“Deket. Dia udah gue anggap kayak saudara sendiri. Kenapa emang?”

Iwaizumi sengaja tidak mengindahkan pertanyaannya. “Kalau Kageyama?”

“Sama Kageyama juga deket. Kita bertiga udah deket dari dulu soalnya nggak banyak orang-orang yang hampir sepantaran di klan gue. Kenapa sih emang?”

Iwaizumi membuat ekspresi berpikir, lantas mulai melangkah lagi meskipun kali ini temponya lebih lambat. Oikawa mengikuti dengan bingung.

“Kamu juga… kayaknya nggak susah buat deket sama Atsumu, Kita, juga anggota lain.”

Oikawa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia tidak mengerti dengan arah pembicaraan mereka. Apa selama ini Iwaizumi mengira dirinya sulit berteman dengan orang lain? Dia memang sering mengurung diri di kediaman utama sebelum ini, tapi bukan berarti dirinya tidak bersosialisasi sama sekali.

“Yah, soalnya… mereka asik diajak ngobrol,” jawab Oikawa tanpa berpikir dua kali karena memang seperti itu kenyataannya.

“Mungkin… kita bisa mulai dari situ,” ucap Iwaizumi pelan begitu mereka tiba di depan pintu. Kali ini Oikawa yang berhenti melangkah duluan dan mengarahkan pandangannya dengan tatapan menuntut penjelasan.

“Maksudnya?”

“Kita bisa mulai dari… berteman, daripada maksaian sesuatu yang sama-sama belum bisa kita terima,” jawab Iwaizumi dengan keseriusan terpancar jelas dari netra hijaunya. “Aku emang nggak bisa ngasih tau kamu sekarang soal… apa yang aku sembunyiin. Dan aku yakin kamu pun sama. Tapi bukan berarti kita nggak bisa nyoba pelan-pelan, kan?” tanya Iwaizumi penuh harap.

Oikawa tertegun. Ia tidak pernah memikirkan kemungkinan itu— mulai berteman dengan soulmate-nya sendiri karena selama ini ia pikir Iwaizumi akan bertingkah seperti Alpha kebanyakan;

egois, mau menang sendiri dan suka memaksakan kehendak.

Tapi jika diingat-ingat lagi, Iwaizumi justru tidak pernah memperlihatkan sikap seperti itu. Walaupun tidak dapat dipungkiri pria itu memang over-protective, dominan serta keras kepala. Tapi Oikawa juga keras kepala — bahkan mungkin lebih — jadi dia tidak merasa terbebani.

Dan berteman dengan Iwaizumi? Pilihan itu bahkan tidak pernah tebersit di otaknya.

Kamu juga Oikawa, coba lebih terbuka sama dia.

Ada suara serangga musim panas yang terdengar bersahutan dari dalam hutan. Ada juga suara ramai di balik pintu yang menandakan para anggota klan sudah berkumpul dan siap berpesta. Sampai dua bulan yang lalu, Oikawa tentu tidak mengira hidupnya akan berputar 180 derajat seperti ini— bertemu orang-orang baru, tinggal di lingkungan asing, serta memiliki seseorang yang bisa ia anggap sebagai soulmate. Banyak ketakutan yang disimpannya seorang diri dan Oikawa tidak berani membayangkan bagaimana seandainya pria di hadapannya akhirnya tahu.

Sampai sekarang.

Apakah Iwaizumi akan memutuskan ikatan mereka? Atau pria itu akan menerima seutuhnya? Dan bagaimana saat Oikawa nanti mengetahui apa yang disembunyikan Iwaizumi? Keputusan apa yang akan dia ambil?

Semua seperti berjalan di satu jalan lurus— mereka tahu harus melangkah ke mana, tapi tidak tahu kapan jalan itu akan menemui ujung.

Meskipun begitu, keduanya tetap nekat untuk berjalan.

Dan jika ada satu hal yang dipelajarinya selama ini, yaitu untuk tidak pernah takut dan berhenti melangkah.

“Boleh. Mungkin kita bisa coba… berteman dulu.”

Dan senyum kecil Iwaizumi setelahnya menjadi penanda dimulainya pertemanan mereka.


Lama nggak nulis kayaknya bikin aku lupa cara nulis...if that even made sense lol

@fakeloveros