Lagu Cinta
“Kemaren aku nonton drama.”
“Drama apa?”
“Itu loh yang lagi rame sekarang, yang judulnya Nevertheless.”
“Oh, ceritanya tentang apa emang?”
“Jadi ceweknya mau ngejalanin hubungan serius, tapi cowoknya cuma mau mereka main-main.”
Bukannya sama kayak kita?
“Kenapa cowoknya gitu?”
Oikawa mengedikkan bahunya.
“Nggak tau. Cowoknya nggak cinta kali sama ceweknya.”
Iwaizumi tersenyum tipis, lalu melontarkan pertanyaan yang sedari tadi ada di benaknya.
“Emang menurut kamu cinta itu kayak gimana?”
Oikawa bergumam panjang. Matanya bergulir ke atas dengan pandangan berpikir— ekspresi yang sudah dihapal Iwaizumi setiap kali temannya itu memikirkan sesuatu dengan serius.
“Kayak gimana, ya... Aku juga nggak begitu paham, tapi harusnya sih cinta itu nggak perlu diomongin. Soalnya kalau dua orang beneran saling cinta, pasti kayak punya ikatan gitu nggak, sih?”
“Buat ukuran orang yang nggak percaya cinta, deskripsi kamu justru kayak paham banget.”
Oikawa memiringkan kepalanya beberapa derajat ke kanan. Kini ada rasa ingin tahu yang terpancar di balik netra cokelatnya.
“Emang kalau buat kamu cinta itu kayak gimana?”
“Aku kurang lebih setuju kok sama kamu. Cinta itu... lebih dari sekadar kata-kata. Bukan sesuatu yang bisa dideklarasiin gitu aja, bukan juga semua yang bermakna indah. Cinta bisa bikin sakit hati, bahagia sampai mau mati, juga takut sampai ke tulang. Bukan sesuatu yang abadi juga karena bisa aja sekarang aku cinta sama seseorang, tapi besoknya rasa itu udah nggak ada.”
Iwaizumi mengakhiri jawabannya dengan seulas senyum tak terbaca. Tanganya memainkan bibir cangkir tanpa membalas pandangan pria yang kini mengerjap takjub.
“Buat ukuran orang yang percaya cinta, kamu kedengeran skeptis banget,” ucap Oikawa, masih dengan ekspresi takjubnya. Iwaizumi hanya tertawa pelan tanpa merespons lebih lanjut.
“Kamu pernah kayak gitu? Jatuh cinta?” tanya Oikawa lagi setelah beberapa saat berlalu dalam keheningan meskipun suasana di sekitar mereka justru jauh dari itu. Tapi pertanyaan halus Oikawa terdengar begitu nyaring di telinganya.
Iwaizumi mengangkat wajahnya yang sedari tadi dibiarkan menunduk. Netra gelapnya beradu pandang dengan cerah milik si surai cokelat. Tidak ada maksud tertentu di balik pertanyaan itu— Iwaizumi paham. Oikawa benar-benar hanya penasaran.
Maka tidak ada alasan bagi Iwaizumi untuk berbohong.
“Pernah.”
Terutama di depan orang yang menjadi objek perasaan itu sendiri.
“Tapi orang itu nggak punya perasaan apa-apa sama aku,” lanjutnya sambil memaku manik cokelat yang terlihat lebih terang di bawah cahaya matahari siang itu. Oikawa mengerjap pelan dan ada seukir senyum halus terbit di wajahnya yang tampan.
“Kenapa gitu? Emang kamu udah pernah coba bilang?”
“Kalau aku bilang, nanti dia kabur.”
Oikawa tertawa. Suara tawanya dalam dan memberi kesan polos— jauh dari anggapan orang-orang yang selama ini berpikir bahwa pria itu arogan. Iwaizumi tahu Oikawa lebih dari anggapan orang-orang tersebut. Dan hanya Iwaizumi yang mengetahuinya.
“Atau kamunya aja yang keburu negative thinking duluan. Siapa tau orang itu diem-diem suka juga.” Oikawa lantas mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. “Tapi kalau aku sih kayaknya bakalan kabur kalau ada yang bilang begitu.”
Iwaizumi tersenyum. Ia sudah menduga jawaban tersebut.
“Soalnya kayak yang kamu bilang, cinta itu bukan sesuatu yang abadi. Bisa aja besoknya udah nggak ada. Aku nggak mau ngerasain kayak gitu. Takut.”
Iwaizumi terdiam seraya menyesap kopinya yang tinggal separuh. Hembusan angin memainkan surai cokelat pria di hadapannya sampai Iwaizumi harus menahan keinginannya sendiri agar tidak maju dan menghalaunya.
Padahal— padahal, ia rela menanggung rasa takut itu untuk mereka berdua.
Asalkan cintanya bersambut sekali saja.
@fakeloveros