Choice
Malam sudah semakin larut. Oikawa tidak tahu persisnya jam berapa, tetapi suasana yang sudah sepi menandakan ini bukan waktu yang tepat lagi untuk terjaga.
Meskipun begitu, matanya masih terbuka lebar selagi tangannya menuang tetes terakhir dari dalam botol wine yang didapatnya sekitar tiga jam lalu. Seingatnya, Alisa hanya minum sedikit karena sebagian besar dihabiskan olehnya.
Oikawa menolehkan kepalanya yang terasa berat ke samping dan mendapi temannya sudah tertidur pulas. Jujur, ia merasa tidak enak karena rencana mereka hari ini justru berakhir kurang menyenangkan akibat perubahan mood-nya secara tiba-tiba. Oikawa pun merasa kesal terhadap dirinya sendiri yang begitu mudah termakan emosi.
Tapi siapa yang tidak akan emosi melihat soulmate-nya sendiri memeluk wanita lain?
Oikawa menghela napas, lalu bangkit dari tempat tidur seraya meletakkan gelasnya di atas nakas. Ia meregangkan tubuhnya yang terasa kaku, lantas berjalan ke luar kamar. Oikawa berhati-hati menutup pintu di belakangnya agar tidak membangunkan Alisa. Sepertinya tidak ada siapa-siapa di dalam rumah selain mereka berdua karena tidak ada cahaya di balik pintu kamar Iwaizumi atau bahkan ruang kerjanya. Atau mungkin pria itu memang sudah terlelap juga.
Dengan langkah pelan, Oikawa menuruni tangga lalu membuka pintu depan. Ia langsung memenuhi rongga dadanya dengan udara malam dan mulai berjalan ke arah hutan. Otaknya pastilah tidak berfungsi dengan benar karena Oikawa yakin kakinya bergerak sendiri.
Dan aroma cokelat panas yang tercium olehnya sekarang pun pastilah hanya berada di dalam khayalannya.
Namun aroma familier itu tercium dari dalam hutan— dari arah danau besar tempatnya dulu berbincang pertama kali dengan Iwaizumi ketika tidak ada satu pun di antara mereka yang dengan terang-terangan menerima kehadiran satu sama lain, tapi tidak juga menolak ikatan tersebut.
Siapa pun yang tahu, tentu akan menertawakan hubungan mereka yang tidak seperti soulmate kebanyakan— sulit untuk diinterpretasi.
Oikawa membayangkan, seandainya dia tidak memiliki kekurangan, apakah dirinya bisa dengan tanpa ragu menerima Iwaizumi? Apakah mereka bisa menjadi pasangan kebanyakan? Yang bisa menerima ikatan takdir itu tanpa perlu mengkhawatirkan pilihan lain apa yang mereka punya?
Bisakah?
Oikawa menarik napas saat aroma cokelat itu tercium semakin kuat. Di tengah otaknya yang semakin berkabut, Oikawa mempercepat langkahnya menghampiri sumber terkuat aroma tersebut. Arahnya datang persis dari danau, jadi mungkinkah—
Oikawa melihatnya lebih dulu sebelum otaknya bisa memproses.
Punggung lebar itu membelakanginya dan tidak bergerak seinci pun selagi sosok itu terdiam menatap permukaan danau yang tenang. Oikawa berhenti dan memperhatikan dalam kesunyian di bawah naungan salah satu pohon. Ada dorongan untuk segera kembali, tetapi ada juga keinginan untuk mendekati dan memeluk pria itu dari belakang.
Oikawa ingat saat Iwaizumi memeluknya di Inggris atau saat pria itu berada dalam jarak yang begitu dekat dengannya ketika di motel. Semuanya, Iwaizumi yang memulai duluan. Dirinya bahkan tidak pernah mencoba untuk menyentuh pria itu pertama kali.
Oikawa menggigit bibir bawahnya selagi berandai-andai— apa rasanya bisa menyentuh soulmate-nya sendiri tanpa perlu merasa takut akan penolakan? Tanpa perlu menahan diri sehingga bisa mengumumkan kepada siapa pun bahwa sang Alpha adalah miliknya.
Beberapa menit kemudian, Iwaizumi pastilah tersadar akan kehadirannya karena pria itu menoleh dan langsung beradu pandang dengannya. Tidak ada yang bergerak di antara mereka seakan ada pembatas tak kasat mata yang menghalangi ruang gerak keduanya. Oikawa sendiri takut, jika bergerak sedikit, dirinya akan langsung menghambur ke pelukan pria itu.
Mau di bawah pengaruh alkohol atau tidak sekalipun.
“Tooru.”
Oikawa lagi-lagi menghirup napas dalam. Ia tidak pernah mengakuinya, tapi ada perasaan senang setiap kali mendengar namanya mengalir begitu lancar dari mulut pria itu. Seakan panggilan itu memang hanya ditujukan untuknya dari bibir Iwaizumi seorang.
“Udah malem, kenapa belum tidur?” tanya Iwaizumi, tanpa bergerak selangkah pun dari tempatnya berdiri. Namun matanya terlihat lebih ekspresif di bawah langit yang diterangi oleh sinar bulan dan beberapa tabur bintang.
Oikawa mengambil satu langkah mendekat tanpa sadar.
“Ada... wangi cokelat.”
Oikawa yakin jawabannya tidak terdengar masuk akal, bahkan nyaris bodoh. Ia menggelengkan kepalanya sedikit sebagai upaya untuk menjernihkan otaknya yang semakin tertutupi oleh kabut.
Tapi sepertinya tidak begitu berhasil.
“Cokelat?” Iwaizumi bergumam bingung. Ada senyum kecil di balik nada bertanya itu. “Maksudnya wangi aku kayak cokelat?”
Oikawa mengangguk. Kakinya kembali melangkah seakan ikut memperkuat jawaban tanpa suaranya yang ingin menghirup aroma menyenangkan itu lebih dekat.
“Tetep aja. Lain kali jangan keluar jam segini sendirian, ya. Harus ada yang nemenin.”
Oikawa mengerutkan keningnya tidak suka mendengar perintah halus tersebut.
“Gue bukan anak kecil. Gue bisa jaga diri sendiri.”
“Aku tau kamu bukan akan kecil,” Iwaizumi menyanggah pelan. “Tapi bukan berarti aku nggak boleh khawatir.”
Sekarang kakinya seakan tidak bisa berhenti melangkah.
“Khawatir kenapa? Lo kan nggak suka sama gue.”
Di detik itu pula Oikawa merasa seperti anak kecil yang tengah merajuk.
Ada kilatan amarah yang sama seperti tadi sore terlihat di balik netra hijau sang Alpha. Oikawa bisa melihat Iwaizumi mengepalkan kedua tangannya di samping tubuh sebelum berkata tajam.
“Itu anggapan terkonyol yang pernah aku denger. Dan kalau kamu mikir kayak gitu gara-gara kejadian tadi sore, berarti kamu udah salah paham.”
“Tapi aku liat jelas kamu meluk K-Kiyoko...”
“Dulu.” Kini giliran Iwaizumi yang mengambil langkah untuk semakin menghapus jarak di antara mereka. “Aku emang pernah deket sama dia. Tapi itu gara-gara kita berdua sempet skeptis sama konsep soulmate. Dulu aku percaya aku nggak akan pernah bisa nemuin soulmate-ku. Tapi aku juga nggak pernah serius sama dia. Dan tadi sore, aku tegasin hal yang sama. Dia yang meluk aku duluan. Bisa dibilang itu... salam perpisahan. Aku berani sumpah nggak punya perasaan apa-apa ke dia, Tooru.”
Oikawa berusaha memproses penjelasan tersebut dengan kepalanya yang semakin terasa berat. Namun satu pernyataan Iwaizumi justru menarik perhatiannya.
“Kenapa lo nggak percaya sama konsep soulmate? Semua orang kan pasti bakal ketemu sama soulmate-nya juga.”
“Karena aku ngerasa nggak berhak. Setelah apa yang pernah aku lakuin dulu... aku ngerasa nggak berhak.”
Kini jarak mereka hanya dibatasi oleh lima langkah. Wangi cokelat itu sudah benar-benar berada di depannya dan Oikawa harus menahan diri agar akal sehatnya tidak dikalahkan oleh nafsunya semata.
“Emang lo pernah ngapain sampe mikir gitu?”
Iwaizumi tidak langsung menjawab, tapi dari peripheral-nya, Oikawa bisa melihat pria itu tersenyum kecil.
“Kayaknya ini bukan omongan yang pas buat didenger orang mabuk.”
“Gue nggak mabuk!”
Tapi omongannya sudah terdengar rancu bahkan untuk telinganya sendiri. Oikawa maju selangkah lagi tanpa sadar, namun keseimbangannya ikut menghilang seiring dengan kesadarannya yang juga semakin menipis.
Ada dua lengan kokoh yang langsung menangkapnya sebelum wajahnya mencium tanah dengan bebatuan keras di bawahnya.
“Atsumu ngasih berapa botol tadi ke kamu?”
Suara Iwaizumi kini sudah terdengar begitu dekat di telinganya. Oikawa memejamkan matanya dan memasrahkan berat tubuhnya ditopang pria itu.
“Dua botol...” Dan Oikawa tetap menjawabnya selagi tangannya melingkari tubuh pria di hadapannya. Ia meletakkan kepalanya di ceruk leher Iwaizumi seraya menghela napas puas. “Suka... wangi cokelat...”
Iwaizumi tidak merespons, tapi tangannya ikut merengkuh tubuhnya erat seakan takut dirinya masih akan terjatuh.
“Seandainya kita bisa gini terus...” ucap pria itu nyaris dalam bisikan. Napas hangat pria itu menerpanya dan membuatnya menenggelamkan diri semakin dalam.
Oikawa hanya ingin tidur.
“Kenapa nggak...” jawabnya dengan bibir yang hanya terbuka sedikit. “Kita kan soulmate...”
Iwaizumi bergumam panjang. Salah satu tangannya naik dan memainkan surai cokelat Oikawa yang tertiup angin malam. Kalau ada orang lain yang memergoki mereka sekarang, pasti pemandangan keduanya berdiri di tengah hutan — di pinggir danau lebih tepatnya — dengan kesadaran Oikawa yang semakin hilang akibat mabuk akan terlihat aneh.
Tapi Oikawa tidak peduli. Ia justru tidak ingin beranjak sama sekali dari tempat ini meskipun ada kasur empuk yang menunggunya di rumah.
“Kamu tau...” Iwaizumi memulai halus. Tangannya menyelinap ke balik kaus Oikawa dan memberi usapan lembut di sana sehingga membuat kulitnya meremang. “Kalaupun nggak ada ikatan itu, aku bakalan tetap milih kamu.”
Bahkan di tengah kesadarannya yang semakin menipis, Oikawa tahu ucapan itu terlalu indah untuk menjadi kenyataan.
“Bohong...”
Rengkuhan di pinggangnya mengerat.
“Aku nggak bohong. Kamu boleh nganggap ini... hubungan kita sekarang... kayak semacam kewajiban yang harus dijalanin. Tapi buatku, dari semenjak kita ketemu, kamu orang yang aku pilih.”
Oikawa ingin mengatakan sesuatu. Apa pun. Sesuatu yang bisa menyadarkan Iwaizumi bahwa dirinya tidak seberharga itu untuk diperjuangkan. Ia memiliki kekurangan — kekurangan besar — yang tidak akan membuatnya cocok bersanding dengan sang Alpha.
Tapi untuk malam ini, egonya menang sehingga ia membiarkan kata-kata itu memeluknya seperti selimut tebal yang menghalaunya dari dingin. Seperti dua lengan yang masih memeluknya erat— Oikawa membiarkan malam itu ia percaya bahwa Iwaizumi akan tetap menerimanya dalam keadaan apa pun.
Ia membiarkan dirinya percaya bahwa ikatan ini merupakan sesuatu yang sama-sama mereka pilih.
@fakeloveros