sua


CW // blood, violence, harsh words, using of guns


Jangan panik. Jangan panik. Jangan panik.

Oikawa terus merapalkan mantra itu di dalam kepala sementara tangannya yang mengontrol kemudi mengarahkan roda mobil ke lokasi yang ditulis di secarik kertas. Entah sudah berapa kali dirinya memandangi kertas itu seharian ini sambil memikirkan strategi terbaik, hingga sekarang alamat yang tertera sudah berada di luar kepalanya.

Setidaknya hal yang membuatnya bisa merasa tenang sedikit adalah kodenya yang ditinggalkan untuk Alisa. Oikawa khawatir seandainya ia benar-benar diawasi. Ia tentu tidak bisa menyampaikan kode sedang berada dalam bahaya secara terang-terangan. Untungnya Oikawa teringat dengan kode yang pernah mereka buat meski waktu itu niatnya hanya bercanda. Siapa sangka, tiba juga saat kode itu akhirnya berguna. Dan Oikawa yakin, Alisa pasti langsung paham dan akan menyampaikannya juga pada Kageyama.

Sekarang, ia tinggal menjalankan peran sebagai umpan karena entah kenapa perasaannya mengatakan bahwa Iwaizumi akan datang malam ini begitu mengetahui lokasinya.

Atau mungkin itu instingnya sebagai soulmate?

Tangannya yang memegang roda kemudi semakin dingin. Tentu dirinya tidak ingin mati malam itu. Belum. Masih ada urusan dengan sang Alpha yang harus diselesaikan. Dan jelas, Oikawa tidak akan membiarkan Iwaizumi pergi lagi jika sudah bertemu dengannya nanti. Oikawa akan memastikan hal itu.

Tapi Oikawa tidak tahu seberapa berbahayanya orang-orang Klan Azumane jika dirinya berani sedikit saja melawan. Apakah Azumane sendiri tipe yang tidak akan segan-segan membunuh? Seandainya begitu, sia-sia saja semua rencananya.

Oikawa bahkan tidak tahu apa rencana persisnya malam itu.

Dengan pikiran yang ikut mengelana, mobilnya tahu-tahu sudah keluar dari jalan tol dan memasuki daerah pinggiran yang tak seramai pusat kota. Oikawa mengikuti petunjuk GPS yang membawanya ke sebuah jalanan sepi dengan bangunan-bangunan yang terlihat seperti gudang besar di kanan kiri. Kawasan yang didatanginya begitu sepi dan gelap— sungguh lokasi yang tepat jika ingin membunuh seseorang.

Ternyata jalan kecil yang dilaluinya tak lama menemui buntu. Oikawa pun terpaksa menghentikan mobil dengan peluh yang semakin mengalir di kedua pelipis. Sebelum keluar, dirinya menarik napas panjang dan merapalkan satu mantra terakhir di dalam kepalanya.

Setelah membulatkan tekad, Oikawa pun melangkah keluar dari mobil.

Untungnya masih ada temaram cahaya dari beberapa lampu yang terpasang di dekat bangunan gudang-gudang itu sehingga ia tidak perlu berjalan dalam kegelapan total. Seolah ingin menambah suasana mencekam malam itu, bahkan tak ada bulan atau bintang yang menemaninya sama sekali.

Oikawa benar-benar merasa sendirian.

Ketika sudah melewati lima gudang besar dengan pintu dipenuhi karatan, barulah langkahnya terhenti. Seperti dalam film-film, di depannya ada sosok familier yang sudah menunggu kedatangannya dengan gaya begitu santai. Hanya saja—

pria itu sendirian?

“Gue nggak nyangka lo beneran dateng.”

Pria itu menyapa ketika Oikawa sudah berdiri persis di depannya dengan dipisahkan oleh beberapa langkah. Oikawa sendiri tak bergerak seincin pun saat suara berat itu memecah keheningan malam di antara mereka.

“Pasti lo bertanya-tanya sekarang kenapa gue sendirian,” ucap pria tinggi besar itu dengan seringai yang sedikit terhalangi oleh bayangan malam. “Anggota gue yang lain emang ada, tapi mereka sekarang lagi gue kasih tugas buat nyelesein urusan yang juga sama-sama penting di tempat lain.”

Oikawa menahan napas. Mendadak, perasaannya berubah tidak enak.

“Lo harus bersyukur udah dateng ke sini karena kalau nggak, mungkin lo udah mati terbunuh duluan sekarang di atas kasur lo yang empuk itu.”

Berengsek.

“Lo bilang kalau gue dateng sendirian ke sini... lo nggak akan ngelukain keluarga dan temen-temen gue...” Oikawa berusaha bersikap setenang mungkin meski yang ingin dirinya lakukan sekarang hanyalah menghapus seringai penuh kepuasan dari wajah pria di hadapannya. Jelas sekali apa yang dimaksud penerus Klan Azumane itu barusan.

“Oikawa, Oikawa...” Namanya disebut dengan nada bernyanyi. “Polos banget kalau lo beneran percaya. Pantesan aja ya, Iwaizumi ngelindungin lo banget sampai tuh orang nyuruh gue buat nggak macem-macem sama lo. Apa lo tau? Dia bahkan bilang rela dibunuh asal gue nggak nyentuh lo sedikit pun!”

Tawa menggelegar pria itu ditambah omongannya barusan lantas membuat Oikawa membeku di tempat seolah ada sebongkah besar balok es yang mengepungnya. Benaknya berusaha membuang jauh-jauh kemungkinan yang baru saja melintas di otaknya.

“Maksud lo... apa?”

Azumane hanya menyeringai, kemudian bersiul pendek dua kali— seperti tanda memanggil sesuatu, atau seseorang.

Tak lama, ada suara langkah kaki yang terdengar dari belakangnya. Oikawa segera membalikkan tubuh dengan waspada, namun gerakannya terhenti saat melihat pemandangan yang disajikan di depan netranya langsung.

Iwaizumi tengah diseret oleh dua orang. Awalnya Oikawa tidak yakin apakah itu Iwaizumi atau bukan karena wajahnya begitu babak belur. Sang Alpha pun terlihat kepayahan mengikuti langkah dua orang yang menariknya secara paksa dan mungkin akan terjatuh seandainya tidak dipegangi. Begitu jarak mereka tinggal tersisa sepuluh langkah besar, dua orang yang memegangi Iwaizumi langsung melepaskan begitu saja sehingga soulmate-nya jatuh terduduk di atas tanah yang keras dengan pasrah.

Bahkan untuk meringis saja Oikawa sudah tidak sanggup.

Tubuhnya mendadak lebih dingin dari sebelumnya. Tangannya kebas tanpa bisa merasakan apa pun. Persendian di kakinya tak bisa digerakkan sedikit pun seolah ada lem tikus yang saling mengeratkan. Matanya terpaku pada sosok sang Alpha yang hanya terduduk lemas tanpa tenaga. Oikawa ingin langsung meraih pria itu, tapi ia juga ingin segera menarik pistol yang disembunyikan untuk membunuh satu-satunya orang yang bertanggung jawab terhadap ini semua.

“Kenapa? Kaget ya, liat soulmate lo udah ada duluan di sini? Udah nggak berdaya gitu lagi. Lo nggak penasaran ceritanya gimana?” tanya Azumane yang kini mulai mendekatinya dari belakang. Oikawa beringsut menjauh secara refleks saat tangan pria itu tiba-tiba merangkul bahunya dari samping. Namun Azumane tak terlihat tersinggung sama sekali dan hanya mengangkat kedua tangan seraya tertawa terbahak-bahak.

“Oke, oke, gue paham Omega paling nggak suka disentuh sama Alpha lain... apalagi kalau Alpha itu udah mukulin soulmate-nya sampai kayak gini. Ya, kan? Gue juga nggak akan mau kok kalau Omega gue disentuh sama Alpha lain. Tapi sayang...”

Netra pria itu menggelap dengan kilat bengis saat melayangkan tatapan membunuh ke arah Iwaizumi yang masih tak bergerak sejengkal pul.

“Sayang, soulmate gue udah nggak ada di sini... atau di mana pun! Karena dia mati di tangan bajingan kayak lo!”

Azumane tiba-tiba berjalan menjauh darinya dan mendatangi Iwaizumi dalam beberapa langkah lebar. Pria itu menendang soulmate-nya yang tak melawan sedikit pun, bahkan kembali menjatuhkan pukulan bertubi-tubi di wajah sang Alpha yang sudah babak belur tersebut.

Oikawa terkesiap sebelum ikut maju dengan niat menghentikan Azumane. Namun baru beberapa langkah dia ambil, dua orang pengawal yang tadi menyeret Iwaizumi langsung mengarahkan moncong pistol ke arahnya.

Oikawa lantas berhenti dengan netra yang membeliak terkejut. Kedua tangannya dikepal di kedua sisi tubuh dengan tubuh bergetar hebat akibat menahan amarah sementara suara pukulan terus mengisi kekosongan. Meski begitu, ada juga rasa sakit yang menghantam dadanya seperti ombak kencang hingga Oikawa harus menggigit bibirnya kuat-kuat agar tidak mengeluarkan isak tangis. Sekujur tubuhnya seperti mendorong agar dia segera bersimpuh dan memohon agar Iwaizumi tidak disakiti lebih jauh. Lebih baik dirinya saja yang disiksa. Jangan soulmate-nya. Jangan Iwaizumi.

Bibirnya bergerak lebih cepat dibandingkan gerigi di otaknya.

“Lo mau balas dendam, kan?”

Azumane berhenti seperti ada pedal rem yang terinjak. Dengan napas yang terengah dan wajah seperti kerasukan, pria bengis itu menoleh ke arahnya. “Apa?”

“Gue tanya... lo mau bales dendam, kan? Karena soulmate lo ikut mati pas diserang klan mereka.” Oikawa menarik napas dalam sebelum melanjutkan. “Jadi kenapa lo mukulin dia? Kenapa lo nggak bales dendam dengan bunuh gue sekarang juga? Bukannya itu yang lo mau? Biar kita impas?”

Azumane mendengus keras, lantas berdiri tegak dan mulai menghampirinya dalam langkah lambat.

Untuk pertama kalinya, Iwaizumi mulai bergerak. Netra hijau itu sekilas terbuka lebar dalam kepanikan.

“Nggak! Tooru—”

Namun gerakan pria itu segera ditahan oleh dua orang yang berdiri setia seperti anjing pengawas. Oikawa menggertakan gigi dan menahan diri agar tidak mengindahkan panggilan maupun tatapan memohon soulmate-nya. Ia tidak boleh goyah sekarang.

Tidak di saat nyawa pria itu ikut menjadi taruhan.

Jadi matanya ikut menatap lurus Azumane yang semakin dekat menghampirinya.

“Emang itu yang gue pengenin. Tadinya.” Azumane kembali mengulas seringai jahat dan mengangkat tangan untuk menghalau poni yang terjatuh dari ikatan rambutnya. Buku-buku jari pria itu tak sengaja memperlihatkan darah yang berasal dari wajah Iwaizumi. Wajah sang Alpha semakin terlihat tak berbentuk dengan luka dan lebam di sana-sini.

Oikawa menancapkan kuku-kuku jari ke dalam telapak tangannya. Tidak memedulikan sakit yang mungkin telah merobek kulitnya sekarang.

“Tadinya?”

“Iya, tadinya. Tapi gue pikir... cara itu terlalu gampang, sedangkan gue mau liat kalian berdua tersiksa dulu. Jadi...” Azumane seolah ingin menambah efek dramatis dengan menggantungkan ucapannya. Pria itu tiba-tiba melirik ke bawah dan tersenyum semakin lebar. “Gimana kalau salah satu di antara kalian yang jadi penembaknya? Pake pistol yang lo bawa dan sembunyiin juga boleh. Gue izinin.”

Kalau tadi sekujur tubuhnya membeku, maka sekarang seluruh darah dalam pembuluhnya lah yang ikut berhenti mengalir. Oikawa yakin selama tiga detik penuh jantungnya sempat berhenti berdetak dan ia nyaris mencapai pintu neraka.

“Lo... bilang apa barusan?” bisiknya paksa di bawah napas yang tercekat. Jantungnya tak lagi berpacu dengan normal. Temponya terlalu cepat untuk ukuran manusia.

“Gue bilang,” Azumane menyebutkan per silabel seolah sedang berbicara dengan anak kecil. “Salah satu di antara kalian bisa pake pistol lo buat bunuh satu orang. Gue nggak peduli siapa, yang penting, salah satu harus mati malem ini di tangan soulmate kalian sendiri. Paham? Apa omongan gue barusan jelas?”

Saat dilihatnya Oikawa hanya terdiam di tempat dengan tatapan nyaris kosong, Azumane lantas menepuk-nepuk bahunya dengan gaya penuh keakraban.

“Gue yakin lo pasti bingung, jadi gimana kalau gue kasih waktu kalian berdua buat diskusi dulu nentuin siapa yang bakal mati di tangan siapa? Oke? Apa tiga menit cukup buat disuksi?”

“Nggak perlu.”

Saat akhirnya bisa menemukan lagi suaranya, Oikawa menyahut tanpa setitik pun emosi. Layaknya ombak yang sudah surut, kini hanya tersisa permukaan laut yang sangat tenang.

“Nggak perlu diskusi, gue yang bakal bunuh dia.”

Azumane bersiul panjang dengan ekspresi takjub selagi Oikawa menunduk dan mengeluarkan pistol yang dia sembunyikan dari awal keberangkatan. Sebelum Oikawa melangkah ke arah soulmate-nya, Azumane memperingatinya tajam.

“Kalau lo punya ide aneh-aneh atau semacamnya, bukan cuma gue, tapi dua orang itu juga nggak akan mikir dua kali buat langsung bunuh lo. Ngerti?”

Oikawa mengangguk tanpa berucap satu patah kata pun. Ia memantapkan langkah menuju Iwaizumi yang hanya diam seolah paham. Dalam jarak yang sudah hampir terhapus, mata mereka akhirnya beradu pandang.

Hijau dengan cokelat.

Cokelat dengan hijau.

Api dengan api yang saling melahap.

Saat sudah berada tepat di depan Iwaizumi, Oikawa berlutut untuk menyamakan level mereka. Pistol milik Kageyama sudah siap di tangannya dengan peluru yang terisi penuh.

Namun Oikawa hanya perlu satu untuk mengakhiri semuanya.

Saat itulah, Iwaizumi membisikkan sesuatu.

Cariño...

Pria itu terdengar sedih dan penuh penyesalan.

“Maaf, aku udah pergi ninggalin kamu...”

Oikawa tak berkedip. Tangannya yang memegang pistol sudah terangkat beberapa derajat.

“Tapi kalau salah satu di antara kita emang harus ada yang pergi, aku mau kamu yang tetap di sini.”

Sedikit lagi, dan moncong pistolnya tinggal ia arahkan ke titik vital pria itu.

“Jadi nggak apa-apa, cariño.”

Dengan bibir yang sedikit bergetar dan wajah yang menahan sakit, Iwaizumi mengulas senyum kecil.

Kamu bisa bunuh aku sekarang.”


@fakeloveros

“Kita ngapain sih, makan di sini lagi?”

“Sssst! Kuroo! Pelan-pelan ngomongnya!”

“Orangnya aja belum ada, anjir!”

“Siapa bilang?! Itu liat arah jam 12 di belakang lo!”

Yang dititah pun menurut dan otomatis menolehkan kepalanya ke belakang. Begitu sama-sama melihat target yang dimaksud, Kuroo kembali menghadap ke depan dan berdecak pelan.

“Dengan lo nge-stalk dia terus-terusan kayak begini, nggak akan bikin orangnya balikan sama lo, Oik!”

“Ssst! Kuroo, lo diem kek! Nanti bisa ketauan!”

Sang surai hitam hanya memutar kedua bola mata lantas melanjutkan aktivitas makan siangnya yang sempat tertunda. Oikawa sendiri terus mencuri-curi tatapan ke arah mantannya dari balik kamus tebal Bahasa Jerman milik Kuroo.

Sebenarnya, dia pun enggan melakukan ini. Tapi mau bagaimana, jika penasaran di hatinya terus mendorongnya untuk melakukan hal-hal yang lumrah dilakukan seorang mantan kekasih dalam novel-novel?

Alias, belum bisa move on.

“Dia makan bareng Akaashi lagi...” gumam Oikawa tanpa sadar begitu melihat sosok yang melangkah di sebelah Iwaizumi. “Menurut lo mereka beneran lagi pedekate, nggak...?”

“Akaashi bukannya udah digebet Bokuto?” jawab Kuroo sedikit tak acuh selagi menyendokkan nasi gorengnya.

“Emang? Kata siapa?” Oikawa bertanya dengan nada yang dibuat tak seberharap mungkin. Pokoknya dia tidak boleh senang dulu.

“Kata gue lah barusan.”

“Kur, kenapa ya gue temenan sama lo?”

“Jangan manggil gue Kur napa, lo pikir gue burung?” gerutu temannya sebelum digantikan oleh cengiran lebar khas pria itu. “Karena gue doang temen satu-satunya yang mau nemenin lo ke FISIP buat nge-stalk mantan pacar.”

Nggak salah, sih... Oikawa menghela napas seraya menopang dagunya dengan satu tangan.

“Lagian lo ngapain sih, pake acara putus segala kalau masih suka?” lanjut Kuroo begitu setengah nasi goreng yang dilahapnya sudah masuk ke dalam perut. “Nggak paham gue.”

Jujur, Oikawa sendiri bahkan tidak paham.

“Gue sama dia tuh nggak cocok... walaupun kata orang-orang dia duluan yang suka sama gue, tapi waktu itu aja harus gue yang gerak duluan buat nembak dia. Pas udah pacaran juga dia yang kayak biasa aja... kan gue jadi nggak yakin sebenernya dia tuh suka beneran atau nggak.”

Tanpa sadar, Oikawa jadi menumpahkan isi hati di depan teman SMA-nya itu. Rasanya masih banyak yang ingin diutarakan, tetapi kalau harus membuat kesimpulan, kira-kira itulah alasan dirinya memutuskan hubungan dengan sang kekasih. Ralat. Mantan, maksudnya.

Dan keputusannya diterima begitu saja oleh Iwaizumi seakan mengafirmasi ketidakcocokan mereka.

“Mas, tadi pesen soto, ya?”

Suasana mendung di salah satu meja panjang kantin fakultas itu dipotong oleh seorang penjual yang datang dengan membawa semangkuk makanan yang disebutkan. Oikawa mengangguk lemah, lantas menyingkirkan kamus milik Kuroo yang semakin terlihat lusuh— bukan karena sering dipakai pemiliknya, melainkan dijadikan tameng oleh Oikawa setiap mereka membuntuti mantannya.

Oikawa mulai menyendokkan sotonya yang masih mengepulkan asap tipis dengan sedikit murung sementara Kuroo hanya memperhatikan dengan wajah iba.

“Lo nggak mau coba move on aja?”

Pertanyaan itu terlalu sering Oikawa ajukan pada diri sendiri sampai kini begitu mendengarnya langsung dari seseorang dia sudah tidak terkejut lagi.

“Lo pikir move on itu gampang?”

“Gampang kalau lo niat,” balas temannya tanpa berpikir dua kali. “Lo begini karena belum ada niatan buat move on. Tapi lo juga bukannya ngapain gitu kek, buat nyelametin hubungan lo sama dia. Kalau kayak gini kan, jadinya nggak jelas lo maunya apa.”

Oikawa menghentikan suapan dan membuat ekspresi takjub yang ditujukan untuk teman beda jurusannya itu.

“Sekarang gue paham kenapa lo masuk sastra.”

“Ya karena gue pintar berkata-kata dan pandai dalam memutuskan sebelum bertindak gegabah lah,” ucap Kuroo, setengah menyindir, sebelum menyedot es tehnya sampai habis. “Nggak kayak seseorang yang masuk sastra lewat jalur kondangan.”

“Itu namanya gue lebih pinter dari lo, sial.”

“Beda lah,” Kuroo mengibaskan tangannya tak terima. “Seenggaknya gue berusaha dulu. Kalau lo kan tinggal nerima hasil.” Pria itu lantas terdiam dan menatap Oikawa penuh arti. “Sama kayak yang lo alamin sekarang. Lo nggak berusaha apa-apa.”

“Bangsat.” Oikawa melempar tisu yang ada di tangannya sampai mengenai kening sang teman. “Terus kalau gitu, menurut lo gue harus ngapain, hah?”

Kuroo terkekeh. Tangan pria itu memainkan sedotan hijau stabilo di gelasnya dengan santai selagi netranya menatap Oikawa sungguh-sungguh.

“Makanya lo harus cobain SIMAK, biar tau susahnya ngejar sesuatu yang bener-bener lo pengenin.”

“Korelasinya apa anj—”

“Korelasinya,” potong Kuroo segera dengan mata yang berkilat penuh keyakinan. “Sama kayak sebelum ujian masuk, lo harus tau dulu jurusan apa yang lo pengen. Jangan asal pilih doang mentang-mentang kampusnya beken. Begitu masuk, yang ada lo bakalan nyesel. Nah sekarang, coba lo pikirin baik-baik apa yang sebenernya lo pengenin dari hubungan lo sama Iwaizumi ini. Jangan asal mau balikan doang kalau nanti ternyata sama aja.”

Oikawa mengerjap. Satu kali. Dua kali. Lalu lebih cepat begitu rentetan kata tanpa jeda itu terproses di otaknya. Efeknya sama seperti ketika ajaran mata kuliah paling sulit akhirnya bisa diterima otaknya dengan baik.

“Emang ya, bener, jangan nilai orang dari penampilan luarnya...” bisik Oikawa pelan diikuti ekspresi kagum. “Tampang boleh jamet, tapi kata-kata lo barusan udah setingkat Pramoedya Ananta Toer!”

Oikawa menerima kembali lemparan tisu dari Kuroo. Kali ini telak mengenai wajahnya.


Sore itu, begitu kelas terakhirnya usai, Oikawa keluar dari gedung dengan mulut yang terbuka lebar. Beberapa mahasiswa tengah berlari-lari melewati lorong yang sempit sebagai upaya mereka agar tidak terpercik hujan. Pasalnya, tetes-tetes air jatuh begitu lebat hingga membuat orang-orang harus menaikkan oktaf suara jika ingin berbincang satu sama lain.

Oikawa tidak membawa payung sama sekali dan kini ia harus terjebak di dalam kampus.

“Sialan...” gumamnya pada diri sendiri ketika melangkah dengan hati-hati mengarungi lorong demi lorong fakultas sastra. Entah kenapa, beberapa hari terakhir ia merasa begitu sial. Seolah Tuhan mengaminkan keadaannya yang sudah jatuh dan tertimpa tangga.

“Pulangnya gimana nih gue...”

Kalau sudah begini, Oikawa jadi teringat pada Iwaizumi. Mantan kekasihnya.

Sebelum mereka putus, kalau langit tiba-tiba sedang tidak bersahabat dan Oikawa lupa membawa payung, dia akan langsung mengirim pesan singkat pada Iwaizumi yang biasanya dibalas tak sampai semenit kemudian.

Mau pulang bareng?

Belum sempat Oikawa menarikan jarinya di atas layar sentuh, tulisan typing... kembali muncul.

Aku bawa dua payung karena tau kamu pasti lupa bawa

Nanti kita ke halte bus aja bareng

Dan baginya, ajakan itu terdengar lebih romantis dibandingkan seorang kekasih yang menawarkan untuk naik mobil pribadi atau taksi.

Oikawa tersenyum kecil. Tangannya terjulur dari lindungan atap hingga tetes bumi itu membasahi telapaknya.

Ternyata, ia merindukan Iwaizumi lebih dari yang diperkirakan.

Setengah melamun, Oikawa membiarkan tangannya dibuat beku oleh rinai lebat yang berlomba-lomba turun ke tanah ketika ada getaran yang berasal dari dalam kantung jaketnya terasa. Otomatis tangannya mengeluarkan gawai yang menjadi sumber getaran itu dan membaca chat masuk tanpa menaruh ekspektasi apa pun.

Lalu dalam hitungan detik yang sama, matanya membeliak lebar begitu melihat siapa yang baru saja mengiriminya pesan.

Hei, bawa payung gak hari ini? Gue bawa 2 kalau lo mau pake


Sebenernya nulis ini mah excuse aja biar bisa mengenang masa kuliah (tsah). Soulmate masih lanjut kok, gaes (bentar lagi juga selesai, haha). Tapi aku refreshing dulu dengan nulis yg ringan-ringan... semoga kalian nggak keberatan xoxo

@fakeloveros


cw // smoking


Siang itu, yang terdengar dari dalam ruangan kelas berukuran 9x8 meter hanyalah suara pendingin udara tua dan gesekan pulpen di atas kertas yang terus dibolak-balik.

Tak ketinggalan, hela napas terus-menerus dari seorang pria bersurai hitam dan netra tegas yang kini tengah memainkan bolpoinnya dengan gestur berisik.

Nama Akaashi Keiji tertulis dengan rapi di sudut kertas. Ia sudah menjawab semua pertanyaan yang ada di dua lembar kertas berukuran A4 tersebut dalam waktu kurang dari dua jam. Akaashi masih memiliki waktu sekitar sepuluh menit lagi sebelum ujian berakhir. Ia bahkan sudah memeriksa semua jawabannya berulang kali, membolak-balikkan kertas, hingga teman di sebelahnya, Kuroo, mendelik kesal ke arahnya.

“10 menit lagi, ya.”

Akaashi menghela napas kesekian kalinya saat pengumuman dari dosen terdengar begitu lantang hingga menciptakan erangan dari beberapa mahasiswa yang kembali berkutat dengan soal-soal. Rasanya ia ingin mengetuk-ngetukkan kakinya karena sudah tidak sabar ingin segera keluar kelas, tapi Akaashi harus menahan diri kalau tidak ingin menerima pelototan dari teman di sebelahnya lagi.

Jadi, ia berusaha menunggu dengan sabar sembari sesekali melirik jam yang menempel pada dinding. Kemarin malam dirinya sudah belajar keras untuk menghadapi ujian hari ini, tetapi tetap saja yang terpikirkan di benaknya hanyalah satu nama—

Bokuto Koutaro.

Akaashi sudah tak tahan lagi ingin segera angkat kaki dari ruangan itu dan mencari Bokuto karena telah berani melanggar janji yang diikrarkan kemarin.

Bokuto berjanji akan masuk kelas hari ini.

Bokuto berjanji akan duduk di belakang Akaashi sambil mengerjakan ujian yang malam sebelumnya sudah mereka pelajari bersama.

Bokuto berjanji akan datang.

Tapi sampai dosen datang dan membagikan kertas ujian pun, bahkan sampai kursi di belakang Akaashi ditempati, Bokuto tetap belum menampakkan batang hidungnya.

Akaashi sendiri belum mengetahui alasan ketidakhadiran sang kekasih karena beberapa menit sebelum kelas dimulai, tidak ada satu pun pesan atau panggilan yang dijawab oleh Bokuto. Akaashi akhirnya hanya bisa pasrah karena tahu tidak akan sempat juga mencari Bokuto di waktu sesempit itu.

Akaashi baru tersadar kalau ternyata ia sudah mengetuk-ngetukkan kaki di atas lantai ketika dosen akhirnya bangkit dan menepukkan tangan sekali. “Waktunya sudah habis. Silakan kumpulkan kertas kalian di atas meja.”

Maka tanpa perlu aba-aba lagi, Akaashi lantas berdiri (alat tulisnya sudah ia rapikan sejak 20 menit yang lalu) dan meletakkan kertas ujian di tempat yang disediakan. Tidak lupa, dirinya juga mengucapkan terima kasih kepada dosennya, sebelum segera membuka pintu kelas dan keluar dengan langkah seribu.

Ketika sudah berada di luar gedung, tiba-tiba ada tangan yang menahan bahunya dari belakang. Langkahnya terhenti seketika dan refleks menoleh diikuti mata yang menyipit kesal.

Ternyata Kuroo.

Sebelum Akaashi sempat membuka mulut, Kuroo sudah menyelanya terlebih dulu. “Woy, lo mau ke tongkrongan, ya?

Akaashi mengernyit tidak mengerti. “Tongkrongan? Ngapain gue ke san—”

Akaashi terdiam. Tiba-tiba dirinya paham ke mana kemungkinan Bokuto melarikan diri. Atau bersembunyi.

“Bokuto ada di sana, ya?” tanya Akaashi pada temannya yang lebih jangkung.

“He-eh,” jawab Kuroo singkat. “Tadi dikasih tau Konoha,” lanjutnya lagi dengan mata menyelidik. “Kalau mau ke sana, nebeng gue aja. Kebetulan gue juga mau ke sana. Ada Kenma.”

“Lo bawa motor?”

Kuroo mengeluarkan cengiran lebarnya, lantas merogoh ke dalam kantung jaket dan memperlihatkan sebuah kunci. “Hari ini bawa mobil, soalnya mau kencan sama Kenma.”

“Ya udah, ayo cepetan,” balas Akaashi seraya melangkah cepat ke arah tempat parkir. Kuroo buru-buru mengejarnya sambil menggerutu.

“Kenapa sih buru-buru amat? Lo khawatir gara-gara Bokuto bolos hari ini?” tanya temannya begitu langkah mereka sudah seimbang.

Akaashi menelan ludahnya kasar, dan pikirannya kembali berputar memikirkan segala kemungkinan. “Padahal gue pikir, karena kemaren dia udah janji bakalan masuk, hari ini bakalan ada. Tapi ternyata…”

Akaashi menggantungkan kalimatnya dan lebih memilih untuk menghela napas lelah.

“Apa dia ada masalah lagi sama keluarganya?” tanya Kuroo hati-hati. Mereka sudah berteman cukup akrab sampai mengetahui masalah besar yang dihadapi masing-masing.

Dan di antara mereka, masalah keluarga Bokuto lah yang paling sering membuat khawatir. Pasalnya, jika sedang ikut stres Bokuto bisa tiba-tiba menghilang dan muncul beberapa hari kemudian. Pria itu akan sulit dihubungi hingga membuat Akaashi berpikiran macam-macam. Pernah suatu hari Bokuto menghilang sampai lima hari, dan ketika Akaashi sudah nyaris menghubungi polisi, tahu-tahu kekasihnya muncul di depan rumah dengan cengiran lebar khasnya. Ada kantung kresek yang berisi segala macam makanan yang akhirnya menemani mereka semalaman.

Akaashi tidak bertanya karena tahu pria itu tidak pernah suka jika dicampuri urusannya.

Meski begitu, bukan berarti Akaashi terbiasa dan tidak pernah khawatir lagi. Seperti sekarang, jantungnya memompa cepat dan tangannya berkeringat memikirkan apa lagi kali ini yang mengganggu ketenangan sang kekasih.

“Mau permen?” tanya Kuroo begitu mereka sudah berada di dalam mobil yang pengap. Tangan temannya menjulur ke arahnya menawarkan sebungkus besar makanan manis itu sementara satunya lagi menyalakan mesin dan pendingin udara.

Tanpa suara, Akaashi mengambil satu. Mungkin sesuatu yang manis bisa mengurangi ketegangannya sekarang.


Matahari siang itu memang sedang terik-teriknya bersinar. Untung saja Akaashi berangkat bersama Kuroo yang kebetulan hari itu membawa mobil. Setidaknya, dinginnya pendingin di dalam mobil mampu membuat Akaashi sedikit berpikir jernih tentang apa yang harus dikatakannya nanti begitu bertatap muka dengan Bokuto.

“Tenang aja, ujian barusan bisa susulan, kok. Jadi si Bokuto bisa tetep ikut nanti,” ucap Kuroo tanpa mengalihkan atensi pada jalanan di hadapan mereka.

Akaashi mendengus pelan. “Dia udah terlalu sering ikut susulan. Dosen-dosen sampe udah nanyain.”

Kuroo mengedikkan bahu. “Yah, mau gimana lagi…”

Benar. Mau bagaimana lagi? Pada titik ini Akaashi pun tidak tahu harus bersikap bagaimana. Dirinya ingin sekali membantu, tetapi tidak tahu langkah tepat yang harus diambil tanpa menyinggung perasaan kekasihnya. Meski baru berpacaran selama enam bulan, rasanya ia ingin menjadi satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan pria itu dari keterpurukan. Tapi apa yang harus dia lakukan kalau Bokuto saja enggan membicarakan masalahnya?

“Lo masuk duluan aja. Gue mau parkir dulu.”

Begitu kata Kuroo begitu mereka telah sampai di tempat tujuan. Akaashi pun mengangguk sambil membuka pintu mobil. “Thanks ya, Kuroo.”

Apa yang mereka sebut sebagai 'tempat tongkrongan' nyatanya merupakan bangunan tak terpakai berlantai dua. Saat pertama kali menemukannya, mereka sedikit membersihkan tempat itu dan meletakkan berbagai barang-barang. Sekarang, ‘tongkrongan’ itu terlihat lebih nyaman dan berwarna dengan macam-macam hiasan, sofa bekas, bahkan matras tua yang diambil dari rumah Kuroo. Hanya sesekali tempat itu dijadikan lokasi belajar bersama.

“Hai, Akaashi! Gimana tadi ujiannya? Lancar?” tanya pemuda mungil dengan rambut jingga terang yang langsung menyapanya begitu ia membuka pintu.

“Lumayan, eh.... Bokuto ada di sini, kan?” tanya Akaashi memastikan sambil mengerling ke arah tangga menuju lantai atas karena ia tidak melihat Bokuto tengah berkumpul bersama teman mereka yang lain.

Hinata tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya. “Naik aja, dia ada di lantai dua.”

Belum sempat Akaashi mengucapkan terima kasih, Kenma memotong duluan tanpa melepaskan pandangan dari layar handphone. “Tapi dia lagi nyebat.”

Perkataan itu sukses membuat Akaashi terkejut.

Bokuto sedang… merokok?

“Ooh… oke. Gue ke atas ya, kalau gitu. Oh ya, Kuroo lagi parkir mobil tuh di luar.”

Kenma hanya mengangguk diikuti Hinata yang memekik riang. “Oooh! Kuroo dateng juga!”

Akaashi mulai menaiki tangga menuju lantai dua. Gerigi di otaknya berputar memikirkan pemantik akan sikap sang kekasih yang tiba-tiba kembali merokok setelah sebelumnya sudah berhenti selama dua tahun.

Akaashi tahu Bokuto memang merokok sejak sebelum mereka berpacaran, bahkan saling mengenal. Pria itu pernah tidak sengaja bercerita bahwa keputusan untuk menghisap zat nikotin tersebut dipicu dari masalah-masalahnya. Namun suatu hari, Bokuto memutuskan untuk berhenti sebelum kecanduan karena tahu merokok tidak akan menyelesaikan masalah. Ditambah begitu mengetahui bahwa yang lebih muda ternyata tidak begitu menyukai asap rokok. Oleh karena itu, fakta bahwa sekarang Bokuto justru kembali merokok sangat mengganggu pikirannya.

Apa lagi stres banget, ya?

Sesampainya di lantai dua, yang sebenarnya tidak diisi apa-apa oleh mereka selain sebuah sofa tua di sebelah jendela besar, Akaashi mendapati sang kekasih sedang menghisap benda berwarna putih sambil sesekali meniupkan asapnya ke luar jendela.

“Bokuto.”

Akaashi memanggilnya pelan, tahu bahwa pria itu sebenarnya pasti sudah mengetahui kehadirannya semenjak ia menaiki tangga.

Yang dipanggil kemudian menoleh, lantas mengulas lengkungan lebar di bibirnya. “Hei.”

Akaashi menghampiri pria itu perlahan. Selagi berjalan menuju tempat Bokuto, Akaashi melihat kekasihnya langsung mematikan rokok dan menaruh sisanya di asbak dekat kaki sofa.

Begitu Akaashi sampai tepat di depan Bokuto, pria bersurai perak itu langsung menariknya ke atas pangkuan.

Akaashi terpekik kaget, tetapi setelahnya langsung berusaha menguasai diri dan menyamankan posisinya di pangkuan pria jangkung tersebut. Sambil memainkan surai lembut sang kekasih, Akaashi bertanya pelan. “Kamu kenapa hari ini nggak masuk? Nggak enak badan? Atau ada masalah?”

Bokuto tidak menjawab pertanyaan Akaashi. Pria itu hanya memejamkan mata dan menikmati afeksi yang diterimanya.

“Maaf,” Bokuto tiba-tiba membuka suara setelah beberapa saat. “Aku ngerokok lagi.”

Pria itu menatap Akaashi yang hanya terdiam di pangkuannya. “Padahal aku udah nggak bakal ngerokok lagi.”

Bokuto memeluk Akaashi dan membenamkan kepalanya di ceruk leher pria yang lebih muda. “Aku juga udah janji hari ini bakalan masuk kelas, tapi ternyata masih aku langgar juga.”

Bokuto mengeratkan pelukannya. “Maaf, Akaashi…”

Akaashi tidak sanggup bersuara. Ia membiarkan dirinya dipeluk sedemikian erat, sementara tangannya masih dengan lembut mengelus dan sesekali memainkan surai perak kekasihnya.

“Aku pernah baca, katanya orang kalau mau berhenti ngerokok harus ada penggantinya,” ucap Akaashi tiba-tiba begitu keheningan yang melanda tak lagi terasa menegangkan baginya. Biarlah yang mengganggu sang kekasih mereka bicarakan nanti karena sepertinya Bokuto tidak ingin membahas masalah itu sekarang.

Bokuto melepaskan pelukannya sedikit untuk menatap wajah Akaashi. “Pengganti? Kayak apa contohnya?”

Akaashi membuat ekspresi berpikir. “Hmm… misalnya, diganti jadi makan permen setiap kali kepikiran buat ngerokok. Atau minum susu juga bisa,” jawab Akaashi seraya memalingkan mukanya sedikit dari pandangan intens sang kekasih. Bagaimanapun, hubungan mereka belum berlangsung lama. Terkadang, Akaashi masih merasa malu apabila diperlakukan khusus oleh kekasihnya, terutama di hadapan publik.

Tapi sekarang, hanya ada mereka berdua di sini.

“Hmm...” Bokuto bergumam panjang sebagai tanggapan. Yang tidak Akaashi sangka, mendadak Bokuto kembali mengeratkan rengkuhannya sebagai upaya menghapus celah di antara mereka.

Bokuto tiba-tiba saja menciumnya.

Akaashi yang lagi-lagi dibuat terkejut oleh perlakuan Bokuto, berusaha mengumpulkan kesadaran dan membalas ciuman bertempo lambat tersebut. Tidak ada urgensi maupun tuntutan dalam sapuan lembut bibir Bokuto di atas bibirnya. Bibirnya hanya dilumat pelan seakan sang kekasih tengah mengulum permen yang sangat manis dan berlama-lama agar potongannya tidak cepat habis. Jantung Akaashi berdebar tidak karuan saat Bokuto menjilat bagian bibir bawahnya sampai membuka lebih lebar.

Akaashi bisa merasakan tekanan udara di sekitarnya berubah, meskipun ada jendela besar yang terbuka di samping mereka.

“Kalau gitu, aku ganti jadi kamu aja.”

Akaashi lantas membuka kelopaknya yang sempat terpejam begitu suara Bokuto masuk ke gendangnya dengan bibir pria itu yang tak lagi menempel dan memberi pagutan. Jantungnya masih berdebar kencang akibat ciuman lembut yang barusan diterimanya. Wajah Bokuto yang masih terlampau dekat pun sama sekali tidak membantu dalam meredakan debaran jantungnya yang seolah ingin keluar dari rongga dada.

“Tadi kamu bilang harus ada penggantinya, kan?” ucap pria itu lagi begitu didapatinya sang kekasih hanya mengerjap bingung.

Akaashi masih tidak bergerak sementara satu tangan Bokuto naik dan mengelus pipinya dengan penuh sayang. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang sangat Akaashi sukai dari pria itu.

“Kamu mau ganti ke… aku? Maksudnya?” Entah kenapa pertanyaannya terdengar bodoh, bahkan untuk dirinya sendiri. Padahal ia benar-benar tidak paham dengan perkataan ajaib Bokuto barusan.

“Soalnya rasa kamu barusan kayak stroberi.” Seolah mengafirmasi, Bokuto maju dan menjatuhkan kecupan kilat di bibirnya. “Manis. Rasanya mau aku makan terus.”

Akaashi tidak mampu membentuk kalimat koheren apa pun dalam kepalanya. Terlebih, karena lidahnya sudah berubah kelu. Bokuto sendiri terus bergerak pelan seakan memberi waktu untuk memproses— menciuminya lembut dari pipi sampai ke rahang, lalu terus turun hingga ke leher jenjangnya. Akaashi sedikit berjengit saat merasakan hidung pria itu tengah menghidu dalam-dalam aroma parfum di lehernya.

Akaashi bersyukur mereka sedang tidak berada dalam posisi berdiri atau dirinya bisa langsung terjatuh lemas.

“Kamu mau kan, bantuin aku buat berhenti merokok?”

Bokuto tiba-tiba mendongakkan kepalanya dari bawah dan menatap Akaashi sungguh-sungguh.

Akaashi tidak sanggup mengeluarkan suara, jadi dia hanya mengangguk dan langsung dibalas oleh tawa kecil dari kekasihnya. Akaashi ikut tersenyum melihat mata bulan sabit Bokuto yang terbentuk setiap kali tertawa.

Sebenarnya, Bokuto tidak perlu meminta pun Akaashi pasti akan bersedia. Dia bersedia jadi apa pun selama bisa membuat Bokuto melupakan segala masalahnya.

Sekalipun jadi permen yang mencegah agar pria itu tidak merokok lagi.


@fakeloveros


Malam itu, Oikawa tidak bisa tidur.

Ia sudah membolak-balikkan tubuh, bahkan mengambil posisi paling ajaib yang pernah dicobanya selama berusaha terlelap. Tetapi hasilnya tetap nihil— matanya tak mau menutup sama sekali dan yang terbayang hanya penjelasan Atsumu soal kemungkinan penyerang klan mereka.

Dan hubungannya dengan Iwaizumi.

Kalau benang yang disambungkannya benar, maka orang yang selamat dari Klan Azumane itu sedang membalaskan dendam soulmate-nya yang terbunuh. Lantas, kemungkinannya ada tiga;

orang itu ingin membunuh Iwaizumi,

membunuh dirinya,

atau bahkan membunuh mereka berdua sekaligus.

Oikawa tidak bisa memilih mana yang lebih baik.

Sebenci-bencinya ia terhadap sang Alpha yang sudah seenaknya pergi begitu saja, hati kecilnya mengatakan pria itu memiliki alasan. Kemungkinan, Oikawa menebak, Iwaizumi merasa bersalah.

Mungkin itu jugalah penyebab dia tidak bisa membenci Iwaizumi sepenuhnya. Karena diam-diam, Oikawa pun masih berharap.

Oikawa tidak berani mengatakannya pada Alisa ataupun Kageyama— tahu benar yang akan diterima selanjutnya hanyalah ceramah panjang lebar atau ejekan mengenai betapa bodoh cara berpikirnya itu. Bisa saja kan ternyata Iwaizumi benar-benar meninggalkannya? Tetapi untuk sekarang, biar saja mereka menganggap dirinya luar bisa tersiksa (walaupun ini memang benar) atas kepergian pria itu. Mereka tidak perlu tahu bahwa dirinya bahkan sudah ada niatan untuk memaafkan pria itu seandainya suatu hari Iwaizumi muncul di depan pintu rumahnya dan berlutut memohon maaf.

Oikawa mengeluarkan tawa pahit. Sekarang ia mengerti maksud perkataan yang menyebutkan bahwa soulmate bisa menjadi kekuatan sekaligus kelemahan seseorang.

Meski sesungguhnya, ia hanya ingin agar mereka berdua bisa menjadi kekuatan masing-masing.

Dengan angan-angan yang entah bisa tercapai atau tidak itu, Oikawa pun terlelap ke dalam alam bawah sadar.


Sesuatu membangunkannya.

Bukan yang terbangun tiba-tiba seperti disiram air dingin, melainkan ada keanehan yang tubuhnya rasakan, lalu perlahan mengirim sinyal ke otaknya sampai terbangun.

Oikawa mengerjapkan mata— otaknya seakan berteriak agar ia segera waspada. Namun kantuk yang masih tersisa hanya mampu membuatnya mengerjap dalam kegelapan kamar.

Mendadak dari sudut mata, Oikawa menangkap gerakan di sudut kamar.

Semua terjadi begitu cepat— hanya dalam satu kedipan mata dan tiba-tiba sudah ada beban berat yang menahan tubuhnya disertai moncong pistol yang mengarah di pelipis.

Oikawa baru ingin melawan ketika ada suara pria menyela aksinya.

“Bergerak atau teriak sedikit aja, gue nggak akan segan bunuh lo sekarang juga.”

Oikawa terdiam— bukan karena ketakutan akan ancaman tersebut, melainkan kecurigaannya atas identitas pria asing yang ada di kamarnya.

“Apa lo… dari Klan Azumane?”

Terdengar suara dengus pelan sebelum tubuhnya semakin ditekan. Pria itu tidak hanya memiliki badan yang besar, tetapi juga tenaga yang kuat sehingga Oikawa tidak bisa menggerakkan persendiannya barang seinci pun. Ia memicing dalam kegelapan, berusaha mendapati ekspresi sang penyerang.

“Dari Klan Azumane? Gue Azumane sendiri, Oikawa Tooru. Gue yang harusnya jadi penerus klan itu sebelum semuanya diambil sama klan punya soulmate lo yang berengsek.”

Jawaban pria itu terdengar begitu penuh kebencian. Dan sesusungguhnya, Oikawa tidak bisa sepenuhnya menyalahkan setelah mengetahui kebenarannya.

“Mau apa lo ke sini? Mau bunuh gue?” tanyanya tanpa terdengar getir.

Pria itu tertawa mengejek. “Bukan sekarang. Nggak seru kalau lo mati sendirian kayak gini cuma di depan mata gue. Harus ada orang lain yang liat langsung gimana proses kematian lo nanti.”

“Lo mau bunuh gue di depan siapa?”

Pertanyaan retoris, tentu saja.

Bahkan dalam kegelapan, Oikawa tahu pria itu tengah mengulas senyum lebar.

“Siapa lagi? Lo harus mati di depan soulmate lo sendiri, sama kayak yang dulu gue alami. An eye for an eye, no?”

Oikawa menggertakan gigi— geram dengan pernyataan tersebut sekaligus frustrasi karena tidak ada yang bisa dilakukannya sekarang.

“Terus? Gimana caranya lo bawa dia ke depan gue? Gue aja nggak tau sekarang dia ada di mana,” jawabnya dengan napas yang sedikit memburu— sedikit bersyukur dengan kepergian pria itu.

“Gampang. Lo pergi ke alamat yg gue tulis di sini.” Azumane mengeluarkan secarik kertas dan menempatkannya di sisi kepala Oikawa. “Sendirian. Jangan kasih tau siapa-siapa. Kalau ngelanggar, gue bisa langsung nyuruh seseorang buat bunuh keluarga sama temen-temen lo yang ada di sini.”

Oikawa ingin berteriak sekencang-kencangnya— ingin menghapus senyum sombong dari wajah pria itu. Namun untuk memastikan keamanan keluarga dan teman-temannya sekarang, ia harus mengikuti permainan pria itu dan mengangguk.

“Good. Kalau gitu, sampai ketemu nanti, Oikawa. Inget, lo cuma bakalan mati di depan si berengsek Iwaizumi, jadi nggak perlu pake baju yang keren-keren. Santai aja, oke?”

Azumane lantas menepuk pipinya pelan dengan gaya merendahkan. Pria itu lalu bergerak cepat di dalam kegelapan dan menghilang di balik jendela kamarnya yang ternyata sudah terbuka lebar— entah sejak kapan. Dengan napas yang tersengal, Oikawa buru-buru bangkit dan melangkah ke depan jendela.

Tetapi pria itu sudah tak bisa ditemukan di mana pun.

“Fuck.”


@fakeloveros


TW: major character death, accident, butterfly effect

Read the warnings carefully before you read! Thank you and... enjoy the ride.


Semua berjalan sebagaimana mestinya. Tidak kurang dan tidak lebih.

Beberapa minggu setelah kepergian Iwaizumi merupakan masa-masa terberat bagi Oikawa. Walaupun sangat sulit, ia berusaha mengikhlaskan kepergian kekasihnya— tahu bahwa Iwaizumi pasti tidak menginginkan dirinya jatuh ke dalam kesedihan untuk waktu yang lama.

Meskipun untuk beberapa waktu Oikawa harus bolak-balik ke psikiater demi menyembuhkan kesedihannya yang mendalam, tetapi ia bersyukur setidaknya ada teman-temannya yang terus menemani dan menyemangatinya. Ia pun jadi tidak merasa sendirian.

Setelah selama enam bulan menjalani hiatus dari profesinya, akhirnya ia mulai kembali dengan semangat yang baru. Oikawa pun memutuskan untuk mencari suasana baru dengan pindah ke apartemen lain yang lokasinya lebih dekat dengan gedung agensinya. Jadwalnya memang belum banyak, namun perlahan, ia mulai bisa tersenyum kembali di depan kamera, bahkan berinteraksi dengan para penggemarnya seperti dulu.

Di hari kepindahannya, ada Matsukawa yang membantu karena komplek apartemen pria itu sendiri tidaklah begitu jauh. Matsukawa pun dengan senang hati membantu dari pagi hingga matahari mulai terbenam di ufuk barat.

“Oik, yang ini apaan? Mau ditaro di mana?” tanya Matsukawa sambil mengangkat sebuah kotak kecil berwarna biru. Oikawa langsung mengenalinya sebagai barang-barang milik Iwaizumi yang dibawanya dari studio pria itu sebagai kenang-kenangan. Oikawa mengedikkan dagunya menunjuk meja kecil di depan TV. “Taro di atas situ aja dulu, nanti gue yang pisahin.”

“Oke!”

Setelah itu, Oikawa kembali memfokuskan aktivitasnya pada kardus-kardus yang belum dibukanya. Namun tiba-tiba, suara Matsukawa kembali menyela gerakannya. “Oik, lo nggak laper?”

“Kenapa? Lo mau makan sekarang?”

“Iya nih, laper banget gue tiba-tiba. Beli makan, dong.”

“Kenapa nggak pesen aja dari sini?” tanya Oikawa sambil mengelap peluh yang semakin membasahi kausnya.

“Di sekitar sini nggak ada yang enak, tau. Percaya sama gue. Mesti naik mobil dulu sampai lampu merah depan perempatan, baru deh lo bisa nemu banyak restoran.”

“Terus? Gue banget nih yang pergi?”

“Ya masa gue? Kan gue tamu di sini. Bantuin lo segala lagi,” jawab temannya itu sambil mengerucutkan bibir. “Ayo, Oik, cepetan. Perut gue udah bunyi, nih.”

Oikawa menghela napas, tapi dirinya bangkit juga untuk mengambil kunci mobil yang ada di atas counter dapur. “Lo mau makan apa?”

“Apa aja, yang penting bisa dimakan.”

Oikawa tertawa pelan kemudian segera beranjak menuju kamarnya untuk mengambil jaket. Sesaat kemudian, ia sudah berada di balik kemudi untuk melaksanakan misinya membeli makanan bagi mereka berdua. Benar kata Matsukawa, banyak pilihan restoran di dekat perempatan yang diarahkan temannya tadi. Meskipun agak jauh, jalanan yang sedang lengang membuat Oikawa bisa melajukan mobilnya tanpa hambatan.

Dalam perjalanan pulang, dia teringat bahwa Matsukawa tadi siang sempat berkata ingin makan es krim. Dan Oikawa tahu di sekitar apartemennya ada mini market yang pastilah menjual makanan khas musim panas tersebut. Tapi ia kurang begitu tahu rasa yang disukai Matsukawa, sehingga ia berinisiatif menghubungi temannya melalui sambungan bluetooth speaker di dalam mobil.

Oikawa menunggu beberapa saat sebelum panggilannya diangkat.

“Halo? Woy, gue mau beli es krim, nih. Lo mau rasa apa?”

Terdengar gumaman panjang di seberang sana sebelum Matsukawa menyuarakan pilihannya. “Vanilla aja deh.”

“Oke.” Oikawa baru akan memutuskan panggilan tersebut, ketika tiba-tiba Matsukawa menahannya.

“Eh, tunggu, Oikawa.”

Tangannya melayang di depan tombol End. Oikawa menunggu— berpikir mungkin temannya ingin menitip makanan yang lain.

“Lo… tau kan, kalau gue sayang sama lo? Sebagai temen dari SMA?”

Oikawa berusaha untuk menahan gelak tawanya yang hampir keluar saat mendengar pertanyaan yang tak terduga itu. Setahunya, Matsukawa bukanlah orang yang mellow seperti ini. Jadi, kenapa tiba-tiba temannya bertanya seperti itu padanya?

Oikawa tetap menjawabnya diiringin seulas cengiran lebar.

“Ya iyalah tau, apalagi kalau udah dibawain makanan kayak gini. Pasti lo bakal tambah sayang sama gue.”

Setelah mendengar balasan dari seberang, Oikawa segera memutuskan panggilan tersebut. Ia menggelengkan kepala dengan heran mendengar pengakuan tiba-tiba dari Matsukawa. Entah kenapa, rasanya seolah-olah mereka tidak akan bertemu lagi setelah—

Jari-jarinya membeku di roda kemudi.

Untuk suatu alasan, tubuhnya tiba-tiba mengeluarkan keringat dingin. Ia jadi teringat akan memori terakhirnya bersama Iwaizumi. Walaupun kalimatnya tidak persis sama, pertanyaan Matsukawa sedikit mengingatkannya dengan pertanyaannya sendiri pada mendiang kekasihnya dulu.

“Kamu tau kan, kalau aku cinta banget sama kamu?”

Belum sempat Oikawa memproses pemikiran itu lebih jauh, ada cahaya yang sangat terang muncul dari samping sehingga membutakannya untuk beberapa saat. Ia berusaha menghalau cahaya itu dengan sebelah tangannya, tetapi cahaya itu justru semakin mendekat ke arahnya.

Terdengar suara decitan mobil dan mesin yang tertabrak dengan sangat keras, sebelum semuanya menjadi gelap.

End.


@fakeloveros

P.S: btw kalau kalian pernah baca cerita yg mirip-mirip tapi tokohnya dari kpop fandom, itu berarti punyaku juga (cuma diedit lagi). Hehe, thank you!


TW: major character death, accident, butterfly effect

Read the warnings carefully before you read! Thank you and... enjoy the ride.


Oikawa mengirim pesan tersebut diiringi seulas senyum di wajahnya. Walaupun ia sendiri yang meminta pria itu untuk beristirahat lebih awal, tapi sebagian kecil hatinya berharap bahwa Iwaizumi akan tetap membalasnya.

Iya, sayang, ini udah di tempat tidur, kok.

Begitu balasan yang diterima Oikawa. Hatinya langsung menghangat dan dengan senyum yang belum meninggalkan wajahnya, Oikawa membalas kembali pesan tersebut.

Oke, kalau gitu. Good night. I love you.

I love you too. Good night, Tooru.

Setelah pesan terakhir tersebut, Oikawa pun tertidur dengan senyum lebar terukir di wajahnya.


Keesokan harinya, Oikawa kembali harus bangun lebih awal karena jadwalnya hari itu terbilang cukup padat. Selain pemotretan, sore harinya ia memiliki jadwal syuting untuk sebuah variety show. Bahkan saat makan siang pun, ia tidak memiliki waktu banyak sampai-sampai tidak sempat untuk mengecek handphone-nya.

Setelah jam menunjukkan pukul lima sore, barulah syuting itu selesai dan Oikawa akhirnya bisa mengambil napas lega. Ia bahkan sampai tidak sempat mengecek keadaan Iwaizumi hari itu— apakah kekasihnya sudah makan, beristirahat, keluar untuk menghirup udara segar, dan lain sebagainya.

Saat Oikawa mengecek gawai yang sepanjang hari itu ia letakkan di dalam tas, ada banyak panggilan tak terjawab dari Matsukawa. Untuk beberapa saat, Oikawa hanya memandangi layar persegi tersebut. Entah kenapa, ada perasaan aneh yang mendadak muncul sehingga membuatnya langsung menghubungi temannya tanpa berpikir panjang.

Panggilannya langsung diangkat, tetapi untuk sejenak, Oikawa hanya mendengar suara banyak orang dari seberang sana, sebelum Matsukawa menyebut namanya dengan suara yang tercekat.

”...Oik.”

“Matsukawa? Halo? Ada apa?”

Tidak ada suara apa pun yang terdengar. Lagi-lagi, hanya ada suara ramai orang berbicara yang menjadi latar belakang keheningan tersebut. Oikawa harus menahan diri agar tidak berteriak dan menuntut Matsukawa untuk segera berbicara.

”...Oik, kita lagi ada di rumah sakit sekarang...”

Jantungnya mencelos saat itu juga. “Kenapa? Iwaizumi baik-baik aja, kan?”

Ia pun tidak tahu kenapa, tetapi nama kekasihnya lah yang terpikirkan pertama kali.

“Nggak cuma Iwaizumi...Daichi juga...”

Apa?

“Me-mereka janjian makan siang di restoran deket gedung agensi Iwaizumi… te-terus, nggak tau gimana, ada kebocoran gas di restoran itu dan… dan… semuanya langsung meledak...”

Oikawa bisa merasakan kakinya melemas. Ia sampai harus berpegangan pada meja yang ada di ruang tunggu agar tidak terjatuh ke lantai. Dunianya serasa runtuh saat mendengar hal tersebut. Namun, ada satu hal yang belum ia pastikan dari Matsukawa...

“Ta-tapi, Iwaizumi… masih hidup, kan? Daichi juga?”

Matsukawa tidak langsung menjawabnya. Tetapi Oikawa tahu dari isak tangis yang tiba-tiba dikeluarkan pria itu — padahal Matsukawa bukan orang yang mudah menangis — apa jawaban dari pertanyaan yang barusan diajukannya.

Untuk kali ini, Oikawa membiarkan dirinya terjatuh ke lantai dan menangis.


Oikawa mendapatkan detail kejadiannya dari manajer Iwaizumi sesaat setelah ia sampai di rumah sakit. Iwaizumi telah menyusun janji dengan Daichi sehari sebelumnya untuk makan siang bersama. Kebetulan, restoran yang mereka kunjungi bahkan terletak tidak jauh dari lokasi syuting Oikawa.

Begitu Oikawa sampai di rumah sakit, hatinya kembali merasa sakit saat melihat temannya, Sugawara, yang juga kekasih Daichi, hanya duduk diam di pojokan ruangan dengan pandangan mata yang tak fokus. Pria itu sudah dibujuk berkali-kali untuk makan dan minum, tetapi hanya diam satu-satunya respons yang diberikan. Ketika Oikawa datang pun, Sugawara tidak mengatakan apa-apa, meliriknya saja tidak. Bahkan di tengah suasana seperti itu, ia merasa sungguh aneh melihat seorang Sugawara yang biasanya ceria dan penuh energi positif, bertingkah lain dari biasanya.

Saat itulah, Oikawa teringat dengan pigura kupu-kupu yang masih tersimpan di studio Iwaizumi.

Kalau dirinya pernah menyelamatkan Iwaizumi sekali, tentu ia bisa menyelamatkannya juga kali ini, bukan? Bahkan tidak hanya Iwaizumi, Oikawa pun mungkin bisa sekaligus menyelamatkan Daichi.

Matsukawa tidak mempertanyakan keputusan mendadaknya saat mengatakan bahwa dirinya akan pergi sebentar ke studio Iwaizumi. Manajernya pun langsung mengantarkannya tanpa banyak bertanya. Di perjalanan, ia meremas kesepuluh jarinya dengan gugup sembari berharap semoga kali ini pun bisa menyelamatkan Iwaizumi. Dan juga Daichi.

Setelah sampai, seperti orang yang kerasukan, Oikawa segera berlari menuju studio Iwaizumi dan mengeluarkan kunci yang sempat ia buat duplikatnya untuk berjaga-jaga. Dengan tangan yang gemetar hebat, Oikawa membuka pintu itu dan langsung menghampiri meja. Ia ingat di mana terakhir kali meletakkan pigura itu dan langsung mengambilnya.

Oikawa menarik napas dalam, dan seperti sebelumnya, ia memperhatikan pigura itu tanpa berkedip. Jantungnya mulai berdetak pelan seakan paham ada proses yang sedang ia jalani. Lalu seperti sebelumnya, ada sensasi aneh yang membuatnya tidak fokus dan seakan melayang keluar dari tubuh. Ia bisa merasakan dirinya perlahan jatuh ke lubang yang sama. Sedetik kemudian, sensasi itu lenyap tanpa-aba meninggalkan Oikawa dalam disorientasi yang sama, meski kali ini tak begitu parah. Matanya mengerjap cepat sebagai upaya membiasakan diri dengan cahaya di dalam studio.

“Tooru?”

Itu dia.

“Kamu habis ngelamun, ya?”

Berhasil. Cara itu ternyata berhasil dan Oikawa sudah kembali ke masa ketika dirinya berada di studio Iwaizumi pekan lalu. Semua masih sama seperti yang diingatnya— kertas-kertas berserakan, pakaian yang mereka kenakan, serta tatapan khawatir kekasihnya.

Sekali lagi, Oikawa kembali ke masa lalu.

“Tooru? Nggak apa-apa?” tanya Iwaizumi lagi, kali ini sambil menyentuhkan telapak tangannya ke kening Oikawa. Oikawa hanya tersenyum dan mengambil telapak tangan pria itu, lalu menggenggamnya erat.

“Nggak apa-apa, aku cuma laper aja. Gimana kalau kita pesen makan, terus minta dianter ke sini? Aku males keluar.”

“Hmm, boleh juga.”

Setelah tawarannya diterima, gawai yang ada di dalam kantung Oikawa mengeluarkan nada dering familer. Tanpa melihat layar, Oikawa langsung menerima panggilan tersebut.

“Halo, Matsukawa.”

“Hai, Oik! Lagi di mana lo? Lagi sama Iwaizumi, nggak?”

“Iya nih, lagi sama Hajime di studio dia,” jawabnya, berusaha bersikap setenang mungkin.

“Nah, kebetulan. Dateng sini ke restoran yang biasa. Ada gue, Hanamaki, Sugawara sama Daichi juga.

“Duh, sori banget. Kayaknya kita mau pesen makan aja dari sini. Hajime udah capek banget soalnya, jadi habis makan mau langsung istirahat.”

“Ohh… gitu? Yah, sayang banget...”

“Lain kali aja gimana?”

“Hmm… boleh, deh. Kalau gitu, salam buat Iwaizumi, ya!”

“Oke, bye!”

Setelah memutuskan panggilan tersebut, Oikawa langsung membuka aplikasi pengantar makanan, lantas bertanya pada sang kekasih yang tengah membereskan barang-barang berserakan di atas meja.

“Mau makan sushi?”


Di hari yang telah ditunggunya, Oikawa berusaha menyelesaikan jadwal pemotretan paginya secepat mungkin. Satu jam sebelum jam makan siang, ia sudah memohon kepada Akaashi untuk mampir ke gedung agensi sang kekasih dan mengajak Iwaizumi makan siang bersama.

Yang lebih muda menghela napas pasrah dan memberi syarat bahwa mereka harus segera kembali ke lokasi syuting sebelum jam setengah dua. Oikawa mengangguk dengan yakin dan berjanji. Lagi pula, ia tidak membutuhkan waktu banyak.

Begitu sampai di depan gedung, Oikawa cepat-cepat menghubungi Iwaizumi. Ternyata pria itu memang sedang turun dari lantai studionya untuk bertemu dengan Daichi yang sudah berada di jalan.

Setelah mengakhiri panggilan itu seraya menghembuskan napas lega, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahunya dari belakang.

“Hei, Oikawa. Nggak nyangka bisa ketemu di sini.”

“Aduh, kaget! Eh, iya nih, gue mau ngajakin Hajime makan siang bareng.”

“Loh, sama dong? Gue juga udah janjian sama Iwaizumi mau makan siang bareng sekarang.”

“Oh, ya? Kalau gitu, kita makan bareng aja!”

“Ide bagus,” ucap satu suara laki-laki yang tiba-tiba sudah bergabung dengan mereka. Iwaizumi tersenyum lebar ke arahnya sembari menyentuh pergelangan tangannya ringan. “Hai, sayang.”

“Terus? Mau makan di mana kita?” tanya Daichi sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling jalan raya. “Eh, di situ kayaknya ada resto—”

“Eh! Kita makan di deket gedung agensi gue aja. Tadi kata salah satu staf, di sana ada restoran baru yang suuuper enak!” Oikawa buru-buru menyela perkataan Daichi dan menatap keduanya dengan pandangan memohon. “Gimana?”

“Boleh. Gue mah di mana aja, sih,” jawab Daichi sekenanya. “Iwaizumi gimana?”

“Gue juga di mana aja. Sekarang yang penting makan, deh. Laper banget ini,” balas Iwaizumi sambil mengelus perut ratanya dengan tampang sedikit memelas.

“Oke, deh. Let's go!”


Oikawa bisa menghela napas lega karena setelahnya, tidak ada yang terjadi pada Iwaizumi maupun Daichi.

Oikawa kembali menjalani harinya seperti biasa. Jadwal pemotretan, wawancara dan syuting terus berdatangan seperti ombak di lautan— tak pernah habis dan tak pernah mereda.

Tanggal perilisan album untuk artis yang diproduserinya pun semakin dekat. Pria itu mulai mengurangi waktunya di studio dan lebih banyak menghabiskan waktu di ruang rekaman yang terpisah. Oikawa bersyukur, setidaknya sang kekasih kini dikelilingi oleh banyak orang.

Dua minggu sebelum tanggal rilis, Iwaizumi tiba-tiba menyetujui ajakan Sugawara yang mengajak mereka semua pergi liburan sebentar di vilanya yang berada di salah satu negara tropis. Sebenarnya Oikawa sempat heran karena tidak biasanya Iwaizumi mau diajak bepergian seperti itu, apalagi di tengah persiapan album barunya. Namun sepertinya sang kekasih memang membutuhkan sedikit refreshing setelah berbulan-bulan berkutat dengan kesibukan tanpa hampir mengenal dunia luar.

Sayangnya, Oikawa tidak bisa ikut karena jadwal syuting yang tidak bisa ditinggalkan. Tidak mungkin pula ia meminta kelonggaran untuk memundurkan jadwalnya. Jadi ia pun membiarkan Iwaizumi dan sahabatnya yang lain pergi bersenang-senang.

Rencananya mereka akan berangkat dua hari lagi. Untungnya, hari itu ia tidak memiliki jadwal begitu padat sehingga bisa ikut mengantar Iwaizumi sampai ke bandara. Oikawa hanya tidak bisa turun dan mengantar Iwaizumi  sampai ke gate keberangkatan. Jadi, ia hanya mengantarkan Iwaizumi dengan mobil yang dikendarainya sendiri sampai di tempat parkir.

“Kamu udah packing semuanya, kan? Nggak ada yang ketinggalan?” tanya Oikawa untuk terakhir kalinya sebelum kekasihnya itu turun dari mobil.

“Udah, Tooru. Udah semua,” Iwaizumi menjawab kalem sambil melepaskan sabuk pengaman.

“Kalau udah sampai, langsung hubungi aku, ya. Jangan lupa HP-nya di-charge terus. Pokoknya kalau ada apa-apa, langsung telepon aku. Oke?”

“Emang bakal langsung diangkat sama kamu? Kamunya aja sibuk banget,” balas Iwaizumi dengan tatapan mengejek.

“Ya, kan, seenggaknya gitu...”

“Haha, iya, iya, aku bercanda. Aku janji bakal hubungin kamu terus, kok. Kalau perlu, nanti aku IG live di sana biar kamu bisa liat.”

“Aku atau fans-fans kamu?” tanya Oikawa sambil pura-pura merengut kesal.

“Kamu, Tooru sayaang...” Iwaizumi mencubit pipinya gemas, lalu bersiap membuka pintu mobil. “Ya udah, aku turun sekarang, ya?”

“Sebentar!” Oikawa lantas maju dan menarik pria itu untuk dicium. Tidak butuh sedetik bagi Iwaizumi untuk balas merengkuh wajahnya dan membalas pagutannya. Setelah saling memberi jarak, Iwaizumi mencium keningnya dengan lembut.

“I love you. Take care, ya.” Iwaizumi akhirnya membuka pintu dan mengambil kopernya dari kursi belakang. Tidak lupa, pria itu melambaikan tangan pada Oikawa yang menatapnya sambil tersenyum dari balik kaca mobil. Setelahnya, Iwaizumi berjalan semakin menjauh sampai hilang dari pandangan.

Oikawa pun melajukan mobilnya perlahan untuk kembali ke apartemen. Mungkin setelah ini dia bisa membuat makan malamnya sendiri karena kebetulan tidak ada yang perlu dilakukan lagi selepas sore itu.

Sesampainya di apartemen, mendadak hujan turun dengan sangat lebat. Oikawa cepat-cepat membuka pakaian untuk bermandikan air panas. Setelah mengganti pakaiannya ke yang lebih nyaman, Oikawa berjalan santai menuju ruang tengah dan menyalakan TV. Sudah lama rasanya ia tidak menyalakan benda elektronik yang biasanya dibiarkan menganggur tersebut. Mungkin ia bisa membuat makan malam selagi menonton acara variety show yang sedang ditayangkan.

Namun karena jam sudah menunjukkan pukul lima, hampir semua saluran TV menayangkan berita sore. Oikawa lantas memilih asal salah satu saluran untuk sekadar pengisi keheningan.

Oikawa pun mulai membuat makan malam yang hanya terdiri dari nasi goreng sederhana. Ia sering dielu-elukan sebagai pria yang sempurna oleh para penggemar, padahal kekurangannya dalam memasak justru menjadi hambatan terbesarnya.

Selagi menunggu minyak dipanaskan, Oikawa tak sengaja memfokuskan netranya pada layar TV yang terlihat dari dapur. Tadi ia sengaja mengeraskan volume TV agar terdengar di tengah suara hujan yang begitu lebat— seolah berlomba-lomba sampai mana titik-titik itu bisa membasahi bumi.

Tiba-tiba, ada tulisan Breaking News muncul di layar. Dengan intonasi datar, sang pembawa berita memaparkan bahwa baru saja ada kecelakaan pesawat yang terjadi. Kecelakaan itu terjadi karena adanya kerusakan pada mesin. Ditambah hujan lebat yang turun secara tiba-tiba, tidak membantu kondisi yang dialami oleh pesawat tersebut. Bahkan, tidak ada yang sempat menyelamatkan diri karena pesawat tersebut langsung meledak di udara sebelum kepingannya berjatuhan ke dalam lautan.

Oikawa tidak bisa mengalihkan matanya dari layar TV seolah ada magnet yang menahannya.

Layar lalu berganti menjadi sebuah ilustrasi saat pesawat itu meledak di udara dan kepanikan sang pilot yang berusaha menghubungi tower pengontrol. Mata Oikawa bergulir ke arah nama maskapai penerbangan serta kode pesawat tersebut.

Japan Airlines — JL726

Oikawa langsung membeku di tempatnya berdiri. Dengan setengah kesadaran yang tersisa, ia mematikan kompor dan berjalan menuju ke ruang tengah. Sekarang, layar TV tengah menampilkan nama-nama awak kabin pesawat dan penumpang yang menjadi korban dalam kecelakaan tersebut.

Nama-nama itu muncul berdasarkan abjad.

Hanamaki Takahiro

Iwaizumi Hajime

Matsukawa Issei

Sawamura Daichi

Sugawara Koushi

Oikawa menatap layar TV dengan pandangan kosong. Mulutnya terbuka lebar dengan binar ketidakpercayaan. Ia yakin salah lihat. Tidak mungkin kekasih dan teman-temannya mengalami kecelakaan, padahal beberapa jam lalu dirinya masih bertemu dengan Iwaizumi. Baginya, ini sungguh mustahil.

Tangannya dingin dan bergetar hebat saat meraih gawainya dari atas meja untuk menghubungi sang kekasih.

Tidak. Yang barusan ada di TV pasti bukan Iwaizumi-nya. Pasti bukan teman-temannya. Itu pasti hanya orang lain yang memiliki nama sama. Ya, pasti begitu, pikirnya yakin dengan peluh sebesar biji-biji jagung yang mulai mengalir dari pelipis.

Namun hati kecilnya seolah tahu, mau menunggu berapa lama pun, tidak akan ada yang mengangkat panggilannya. Ia bahkan menghubungi nomor Matsukawa— hapal betul dengan kebiasaan sang sahabat yang tidak pernah melepaskan matanya dari layar gawai barang sedetik pun.

Panggilannya hanya disambut keheningan.

Oikawa terduduk di lantai apartemennya dengan lemas. Kepalanya seperti berputar dan telinganya berdengung keras. Meskipun begitu, ia memaksakan dirinya untuk segera bangkit dan meraih ke dalam kantung jaket yang tersampir di sofa untuk mengambil sesuatu.

Kunci duplikat studio Iwaizumi.

Tanpa memedulikan hujan yang masih turun lebat di luar sana, Oikawa mengendarai mobilnya menembus jalanan dengan kecepatan tinggi. Ia bahkan tidak repot-repot memarkirkan mobilnya dengan benar, dan langsung berlari ke dalam gedung— tidak memedulikan tubuhnya yang sudah basah kuyup dan membuat genangan di mana-mana.

Banyak staf gedung yang menatapnya dengan bingung. Beberapa bahkan meneriakkan namanya. Namun Oikawa tidak mengindahkan mereka dan terus berlari sampai pintu studio yang sudah sangat dihapalnya terlihat.

Begitu pintu terbuka, tanpa membuang waktu, Oikawa segera membuka laci meja dan mengeluarkan pigura kupu-kupu tersebut.

Namun, sesuatu tiba-tiba menghentikannya.

Oikawa mulai bertanya-tanya, sebenarnya kenapa ini terjadi? Bagaimana ini semua bisa terjadi? Kenapa dirinya bisa kembali ke masa lalu, tetapi yang terjadi selanjutnya terus berubah? Kenapa setiap ia kembali dan ingin memperbaiki situasi, semua justru bertambah buruk dari sebelumnya?

Dan jawabannya muncul begitu saja tanpa ia perlu repot-repot berpikir keras.

The Butterfly Effect.

Oikawa pernah membacanya sekali di internet. Namun konsep tersebut begitu menempel di otaknya sampai dia membicarakannya berkali-kali dengan Iwaizumi yang pada saat itu hanya menganggukkan kepala. Kejadian itu seperti adanya perubahan kecil dari suatu sistem tak linear yang dapat menyebabkan perubahan besar di kondisi selanjutnya. Seperti halnya sebuah teori di mana kepakan sayap kupu-kupu di hutan Brazil dapat menyebabkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian. Teori tersebut persis sama seperti yang dialaminya sekarang.

Semuanya terasa masuk akal. Perbuatan kecilnya dalam upaya menyelamatkan Iwaizumi telah mengakibatkan perubahan kondisi di masa depan berkembang menjadi sesuatu yang lebih buruk. Kejadian yang menimpa Daichi, dan kini teman-temannya pun pastilah akibat perubahan dari aksi 'kecil'nya tersebut. Namun semuanya tetap merujuk ke satu hal yang sama.

Kematian Hajime.

Semakin ia terus berusaha menyelamatkan Iwaizumi, maka akan semakin banyak orang yang terlibat. Dan Oikawa yakin, keterlibatan orang-orang itu dimulai dari sekitar mereka berdua. Tiba-tiba, Oikawa terlalu takut untuk membayangkan apabila ia melakukan ini terus-menerus— berapa orang yang akan menjadi korban? Berapa banyak kerabat yang harus ia saksikan kematiannya demi menyelamatkan sang kekasih?

Oikawa tahu apa yang harus ia lakukan.

Oikawa memejamkan mata untuk sesaat, lalu menarik napas dalam dan menatap pigura yang ada di tangannya. Sama seperti sebelum-sebelumnya, ia memfokuskan atensi pada kupu-kupu biru itu sampai disorientasi yang kelewat familier tidak lagi mengganggunya.

“Tooru?”

Oikawa memejamkan matanya rapat-rapat— tidak ingin menghadapi realita yang disajikan oleh takdir di hadapannya.

“Kamu habis ngelamun, ya?”

Perlahan, Oikawa membuka mata dan meletakkan pigura tersebut ke dalam laci. Ia lantas memutar kursi yang didudukinya untuk menatap Iwaizumi.

“Tadi aku kepikiran sesuatu...” Oikawa memulai dalam bisikan rendah. “Kalau bisa ngubah masa lalu, kamu mau ngapain?”

“Ngubah masa lalu?” Sebelah alis Iwaizumi terangkat tinggi. “Gimana caranya? Kayak, kembali ke masa lalu gitu? Pake mesin waktu?”

“Anggap aja begitu.”

“Hmm...” Iwaizumi bergumam panjang dengan ekspresi berpikir keras. “Apa ya… mungkin ngubah jurusan kuliahku?” Iwaizumi mengeluarkan cengiran lebarnya. Tapi kemudian, intonasi pria itu berubah serius saat menyuarakan kalimat selanjutnya.

“Tapi, aku lebih milih nggak bisa ngubah masa lalu, sih. Soalnya, semua pasti terjadi karena suatu alasan, kan? Kalau emang di masa lalu terjadinya begini, ya pasti karena di masa depan bakalan begitu hasilnya. Semua udah ada aturannya. Dan kalau kita ubah, belum tentu yang ada di masa depan bakal sesuai dengan keadaan yang kita harapkan.”

Tak lama, ada keheningan panjang yang menyusul dan mengisi ruangan. Oikawa hanya diam selagi memikirkan jawaban Iwaizumi dan menguatkan tekadnya.

Keheningan itu tiba-tiba dipecahkan oleh suara dering handphone.

“Halo, Matsukawa.” Oikawa menjawab panggilan tersebut tanpa ekspresi. Dengan sedikit melamun, ia mendengarkan tawaran Matsukawa yang rasanya sudah ratusan kali ia dengar, tetapi tetap saja terasa asing. Sampai akhirnya mereka sampai di penghujung perbincangan dan Oikawa menjawab pasrah. “Oke, nanti gue tanya ke orangnya.”

Dan seperti yang pertama kali ia lakukan, Oikawa membujuk Iwaizumi untuk pergi menemui teman-teman mereka. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Iwaizumi untuk setuju dan mulai membereskan barang-barangnya.

Saat pria itu akan membuka pintu, Oikawa secara spontan memanggil nama kekasihnya.

“Hajime, tunggu.”

Iwaizumi berbalik dan menatapnya sementara dirinya bangkit dan berjalan menghampiri pria yang selama dua tahun terakhir telah membuatnya amat sangat bahagia. Ia berusaha merekam wajah Iwaizumi di ingatannya agar tidak ada yang terlewat satu pun. Ada dorongan yang begitu kuat untuk mencegah kekasihnya pergi dan menahan pria itu agar terus berada di sisinya selamanya.

Namun ia paham, seandainya Iwaizumi tahu, pasti bukan ini yang diinginkan pria itu. Kekasihnya memiliki hati yang sangat baik di balik perawakannya yang dingin. Jadi mana mungkin pria itu mau mengorbankan banyak nyawa hanya demi menyelamatkan jiwanya.

Memaksakan dirinya untuk tersenyum, Oikawa mengucapkan kata-kata yang sudah ada di ujung lidahnya.

“Kamu tau kan, kalau aku cinta banget sama kamu?”

Ada sorot kebingungan di balik sorot mata kekasihnya, sebelum senyum lebar terukir di wajah tampan pria itu.

“Jelas tau, dong. Lagian kalau aku nggak ngerasain yang sama, mana mungkin aku mau pacaran sama kamu. Kenapa sih, tiba-tiba nanya gitu?”

“Pengen aja,” jawab Oikawa pelan. “Maaf ya, kalau aku selama ini terlalu sibuk. Maaf juga kalau kesannya nggak banyak yang aku lakuin buat hubungan kita. Tapi kamu harus tau, kalau aku… bakal terus cinta sama kamu. Bahkan walaupun masa lalu bisa diubah, aku nggak akan milih orang lain.”

Tatapan Iwaizumi melembut saat Oikawa selesai mengucapkan rentetan kalimat tersebut. Oikawa mati-matian melawan isak tangis yang keluar saat kekasihnya maju dan menariknya dalam pelukan erat. Ia balas memeluk pria itu erat sembari menghirup aroma yang sudah sangat dikenalnya— berusaha untuk merekamnya dalam kenangan.

“The feeling is mutual,” bisik pria itu sambil mencium puncak kepalanya. “Aku juga cinta sama kamu dan nggak mau sama yang lain. Tapi kalau boleh jujur, aku jadi takut soalnya kamu ngomong kayak gitu seolah-olah kita nggak bakalan ketemu lagi habis ini.”

Oikawa tersenyum lemah— menyadari ironi di balik pernyataan tersebut.

“Jangan khawatir, oke? Aku bakalan keluar, ketemu udara segar kayak yang kamu bilang, dan habis ini aku nggak bakalan telat makan lagi. Janji.”

Seandainya Hajime bisa benar-benar menepati janjinya...

Lalu, sentuhan pria itu menghilang saat akhirnya Oikawa harus menyaksikan pria itu pergi sembari melambaikan tangan.

Oikawa terdiam sesaat di depan pintu sebelum tubuhnya bergerak sendiri menuju meja dan membereskan kertas-kertas milik Iwaizumi. Tangannya yang tak sengaja menyentuh pinggir pigura kupu-kupu itu lantas berhenti. Oikawa sudah hampir melemparnya ke dinding, namun suara hatinya melarang perbuatan tersebut.

Oikawa akhirnya memutuskan untuk membawa pigura itu ke apartemen dan berniat untuk meletakkannya di tempat yang tidak akan bisa ditemukan oleh siapa pun.

Setelah memastikan semua barang berada di tempatnya, ia meninggalkan studio Iwaizumi dan kembali ke apartemennya.

Tanpa mengganti pakaian sama sekali, Oikawa berbaring di atas tempat tidur. Kali ini, ia tidak lupa mengisi daya baterai handphone-nya agar nanti begitu ada panggilan masuk dari manajer atau salah satu temannya bisa langsung terdengar.

Untuk beberapa saat, matanya tetap terbuka seraya menatap langit-langit kamar. Oikawa pikir, ia tidak akan bisa tidur malam ini dengan bayangan kejadian yang beberapa jam lagi harus dihadapinya. Namun pikirannya ternyata begitu lelah, sampai-sampai kelopaknya tak lagi kuat menahan rasa kantuk. Oikawa pun membiarkan dirinya terbawa ke alam bawah sadar tanpa mimpi— bersiap untuk menerima kabar yang akan datang.

-to be continued


@fakeloveros


TW: major character death, accident, butterfly effect

Read the warnings carefully before you read! Thank you and... enjoy the ride.


Tokyo akhirnya memasuki bulan Januari.

Euforia tahun baru masih begitu terasa, meskipun cuaca dingin menyerang sampai ke tulang sehingga membuat orang-orang yang harus berangkat pagi untuk bekerja terpaksa merapatkan jaket dan syal mereka. Tidak ada kata libur bagi para pekerja— sekalipun profesi yang dijalani adalah sebagai aktor ternama.

Seperti yang dilakukan Oikawa Tooru sebagai upaya menghidupi dirinya sendiri.

Oikawa baru saja menyelesaikan salah satu jadwal syuting film. Sekarang dirinya disibukkan dengan jadwal-jadwal untuk pemotretan berbagai majalah maupun brand kosmetik, menjadi panelis di beberapa acara variety show, juga melakukan persiapan untuk syuting doramanya yang terbaru.

Terdengar sibuk? Sangat. Padatnya jadwal membuatnya tidak bisa bersantai, apalagi sering-sering bertemu dengan kekasihnya. Bukan hanya dirinya yang sibuk, tetapi Iwaizumi pun sama-sama sibuk. Pria dengan lini profesi bidang musik itu tengah sibuk menggarap album terbaru bagi beberapa artis baru. Namanya yang cukup tersohor, membuatnya selalu kebanjiran job bahkan terkadang bisa melebihi sibuknya Oikawa.

Intinya, keduanya sama-sama lelah. Dan rindu.

Setelah beberapa minggu berusaha membujuk manajernya untuk menyelipkan jadwal kosong agar bisa mengunjungi studio tempat Iwaizumi berkutat dengan proses pembuatan album barunya, akhirnya Oikawa mendapatkan kesempatan itu di suatu Jumat petang.

Setelah dua tahun menjalin hubungan serius dengan pria yang memiliki sifat 180 derajat berkebalikan dengannya, Oikawa begitu paham akan kebiasaan buruk kekasihnya.

Iwaizumi tidak akan keluar selangkah pun dari studionya; tidak sampai lagu yang tengah digarapnya rampung. Tidak banyak yang mengetahui, tetapi Iwaizumi termasuk orang yang perfeksionis— sama seperti dirinya. Mungkin itu jugalah yang membuat mereka mengerti satu sama lain. Namun kalau sudah terlalu larut dalam pekerjaan, harus ada seseorang yang memaksanya keluar untuk menghirup udara segar.

Dalam perjalanan menuju studio tempat Iwaizumi mengasingkan diri, Oikawa bertemu beberapa staf yang menyapanya dengan ramah— paham betul ke mana arah pria jangkung itu melangkah karena hubungannya dengan Iwaizumi memang bukan rahasia di kalangan para pegawai di sana.

Namun, lain lagi ceritanya jika di hadapan publik.

Tanpa mengetuk pintu, Oikawa membuka perlahan pintu studio Iwaizumi yang memang biasanya jarang dikunci dengan alasan— “Takut nggak kedengeran kalau ada yang ngetuk, Tooru.”

Seperti yang telah diduga Oikawa, prianya itu tidak mendengar saat dirinya masuk karena tengah berkonsentrasi di antara kertas-kertas yang, dirinya duga, dipenuhi coretan-coretan lirik. Iwaizumi juga tidak mengetahui rencananya yang akan datang hari itu karena Oikawa sengaja ingin mengejutkan kekasihnya.

Oikawa menutup pintu di belakangnya dengan bunyi klik pelan, lalu menghampiri kekasihnya perlahan. Tetapi ia tidak ingin terlalu mengejutkan Iwaizumi, jadi Oikawa berdiri dipisahkan jarak beberapa langkah lalu berdeham pelan.

Satu kali, tetapi Iwaizumi belum mendengarnya juga.

Dua kali, dan Oikawa mulai jengkel.

Tiga kali, dirinya bahkan mulai terbatuk keras.

Karena kesal tidak mendapat respons, Oikawa akhirnya maju dan menepuk pundak kekasihnya sedikit kencang.

“Woy, serius banget sampai pacarnya dateng aja nggak sadar!” Oikawa berseru tepat di depan telinga Iwaizumi. Hal itu tentu saja menimbulkan kekagetan di wajah serius kekasihnya.

“Tooru?” Iwaizumi menyuarakan namanya dengan bingung. “Kamu ngapain ada di sini?”

“Aku minta ke manajerku buat ngosongin jadwalku sore ini.” Oikawa lalu melingkarkan lengannya dari belakang untuk memeluk hangat tubuh kekasihnya. “Aku kangen, tau… Emang kamu nggak kangen apa?”

Iwaizumi melepaskan kertas-kertas yang tengah dipegangnya dan menarik sedikit kepala Oikawa untuk menjatuhkan ciuman tepat di pelipisnya.

“Aku juga kangen sama kamu...”

Oikawa bergumam pelan dan memejamkan mata— masih sambil memeluk pria itu dari belakang sekaligus menghidu aroma sampo yang terlampau familier. Banyak hal yang ia rindukan dari sosok kekasihnya— seperti aroma pria itu sendiri, rambut pendek potongan clean cut yang terlihat sedikit berantakan karena pria itu pasti mengusaknya berulang kali saat tengah berpikir, juga jaket berwarna abu-abu pemberiannya yang sering Iwaizumi kenakan.

Bertemu dengan Iwaizumi rasanya benar-benar seperti mengisi ulang daya energinya yang hampir habis.

Setelah beberapa saat menikmati keheningan dalam studio, Oikawa membuka mata dan melontarkan pertanyaan yang sebenarnya bisa ia tebak jawabannya. “Kamu udah makan?”

Gelengan dari Iwaizumi membuat Oikawa menghela napas. Namun sebelum Oikawa sempat menceramahinya panjang lebar, Iwaizumi buru-buru menyelanya.

“Kalau ini udah selesai, aku bakal makan, kok.”

Oikawa melirik kertas-kertas yang ada di atas meja, tepat di sebelah komputer yang menyala. “Masih lanjutin nulis lirik yang kemarin kamu bilang itu?”

Iwaizumi mengangguk dan menghela napas lelah. “Padahal tinggal bagian bridge, tapi dari kemarin kayaknya belum juga nemu yang pas.”

Oikawa berinisiatif menarik kursi dari sebelah sofa agar bisa melihat lebih jelas pekerjaan kekasihnya. “Mau aku bantu?”

“Beneran?” Nada pria itu terdengar penuh harap, sehingga Oikawa refleks mencondongkan tubuh dan mencium pipi kekasihnya dengan sedikit gemas.

“Beneran, tapi habis ini kamu harus makan, ya. Nggak boleh ditunda lagi.”

Iwaizumi mengangguk penuh semangat dengan mata yang berbinar-binar. Oikawa hanya tersenyum, lalu mulai memperhatikan dengan saksama setiap coretan-coretan lirik yang memenuhi sampai ke sudut kertas. Ia ingin mengeluh soal tulisan cakar ayam milik pria itu, tapi memutuskan menelannya saja untuk sekarang.

Selagi berkonsentrasi membaca salah satu penggalan lirik, mata Oikawa tidak sengaja menangkap sebuah pigura yang menyembul dari balik tumpukan kertas. Penasaran— ia pun menarik pigura tersebut untuk memperhatikannya dengan lebih jelas.

Pigura itu berukuran kecil dan yang sedikit mengejutkannya, bukan berisi foto. Di dalam pigura itu ada kupu-kupu yang diawetkan— berwarna biru gelap dengan garis-garis hitam melintang di sayapnya. Lucunya, kupu-kupu di pigura itu terlihat begitu hidup— seolah bisa keluar dari pigura kapan saja. Oikawa terus menatap kupu-kupu dalam pigura itu hampir tanpa mengedipkan mata. Seperti tersihir, Oikawa mulai kehilangan fokus akan latar belakang keberadaannya dan hanya objek di tangannya lah yang terlihat. Rasanya seperti jatuh ke dalam sebuah lubang tak berdasar selagi dunianya ikut berputar.

Dan begitu saja, seperti TV yang dimatikan tiba-tiba, perasaan itu menghilang dan meninggalkan Oikawa dalam keadaan disorientasi untuk sesaat. Oikawa mengerjapkan matanya berulang kali, berusaha mengembalikan fokusnya. Untuk suatu alasan yang tak ia mengerti, bulu kuduknya berdiri dan punggungnya mengeluarkan keringat dingin. Padahal suhu di dalam studio Iwaizumi terasa hangat karena heater yang dinyalakan. Ia bahkan belum melepaskan jaketnya semenjak masuk ke ruangan tersebut.

“Tooru?”

Panggilan Iwaizumi lah yang mengembalikan kesadarannya pada dunia nyata. Ia mengalihkan pandangan, dan melihat Iwaizumi tengah menatapnya dengan bingung.

“Kamu habis ngelamun, ya?” tanya pria itu sembari tersenyum kecil.

Oikawa tidak mengindahkan pertanyaan itu dan malah mengangkat pigura yang dipegangnya. “Hajime, ini apa?”

“Hm?” Iwaizumi memicingkan mata selagi memperhatikan pigura itu selama beberapa detik. Namun pria itu langsung mengedikkan bahu dengan gaya cuek. “Nggak tau, punya manajerku kali. Dia kan hobinya aneh. Mungkin itu koleksi dia nggak sengaja ketinggalan.”

Iwaizumi lalu menaruh atensinya kembali ke coretan-coretan liriknya. Tak beberapa lama, pria itu mengerang pelan seraya mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi. Oikawa tersenyum dan menyentuh pipi kekasihnya dengan lembut.

“Capek, ya?”

Iwaizumi menghela napas untuk kesekian kalinya. Pria itu baru akan menjawab, ketika ada nada dering yang menginterupsi mereka. Oikawa merasakan kantungnya bergetar, menandakan ada panggilan masuk ke handphone-nya.

Sebelum menjawab, Oikawa sekilas melihat nama kontak yang tertera di layarnya. “Halo? Matsukawa?”

“Hai, Oik! Lagi di mana lo? Lagi sama Iwaizumi, nggak?” sapa pria bernama Matsukawa itu dari seberang sana, terdengar begitu ceria.

“Kok tau? Iya nih, lagi sama Hajime di studio dia.” Oikawa menjawab sambil memperhatikan Iwaizumi yang sudah kembali menenggelamkan diri di antara kertas-kertas.

“Nah, kebetulan. Dateng sini ke restoran yang biasa. Ada gue, Hanamaki, Sugawara sama Daichi juga.

“Mau ngapain?”

“Makan-makan, dong! Kasian itu pacar lo pasti hidupnya di studio terus, kan? Sini, ajak dia keluar sekali-sekali biar nggak jadi jamur di sana!”

“Hmm...” Oikawa bergumam panjang sambil berpikir. “Terus kenapa nelponnya ke gue?”

“Karena cuma lo yang bisa bujuk Iwaizumi buat keluar dari sana. Kalau gue nelpon langsung ke dia, yang ada malah langsung di-reject nanti.”

“Oh, ya udah, nanti coba gue tanya ke orangnya.”

“Sip! Gitu, dong. Thanks, Oik. Ditunggu, loh!”

Setelah panggilan itu terputus, Iwaizumi lantas menoleh padanya dan langsung bertanya tanpa basi-basi. “Mau ngapain si Matsukawa?”

“Dia ngajakin kamu keluar nih, buat makan di restoran yang biasa itu,” jawab Oikawa sembari memasukkan handphone-nya kembali ke dalam kantung.

“Ngajakin aku? Aku doang?” Iwaizumi bertanya dengan kening berkerut dalam mendengar subjek yang digunakan Oikawa dalam pernyataannya. “Lah, emang dia nggak ngajakin kamu juga?”

“Ngajak sih, tapi kalau aku kayaknya nggak bisa ikutan. Besok ada jadwal reading script pagi-pagi, jadi aku nggak boleh bangun telat.”

“Tinggal balik cepet aja nanti bareng aku, kan?”

Oikawa menggeleng, tatapannya sengaja dibuat lebih galak. “Kamu tuh butuh hiburan. Harus keluar buat menghirup udara segar. Kamu pikir sehat kalau ada di dalam ruangan tertutup kayak gini terus? Jadi, lama-lamain aja main di luarnya. Kalau perlu, lanjutin kerjaannya besok lagi aja.”

Iwaizumi terlihat akan langsung melontarkan protes, namun begitu melihat tatapan Oikawa yang semakin dikeraskan, pria itu lantas mengatupkan bibir dengan wajah menimbang-nimbang.

“Ayolah, aku yakin kamu butuh refreshing biar otak kamu seger lagi. Terus nanti pasti bakalan dapet inspirasi buat lanjutin lirik-lirik ini. Dan kalau semuanya cepet selesai...” Oikawa menggantungkan kalimatnya, lalu maju dan memeluk pria itu dengan erat. “Nanti kita bisa punya waktu buat pacaran yang lebih lama, hehe.”

Iwaizumi balas memeluknya diikuti hela napas yang terdengar pasrah. Namun Oikawa bisa merasakan pria itu tersenyum saat mencium puncak kepalanya. “Oke, fine.”

Oikawa bersorak kecil karena rencananya membujuk pria itu berhasil. Sebenarnya, ia sedikit sedih karena tidak bisa menghabiskan waktu lebih lama lagi dengan kekasihnya. Tapi ia tahu, Iwaizumi lebih membutuhkan ini sekarang. Lagi pula, mereka berdua masih memiliki banyak waktu nanti setelah jadwal masing-masing mulai melonggar.

Setelah mengucapkan salam perpisahan (diikuti Iwaizumi yang menjatuhkan ciuman di wajahnya berulang kali sampai Oikawa tertawa karena kegelian) dan pria itu menghilang dari balik pintu studio, Oikawa meregangkan badannya sambil menguap besar-besar. Ia membereskan sedikit kertas-kertas berserakan yang ada di atas meja agar setidaknya saat Iwaizumi kembali nanti, pria itu tidak akan dipusingkan dengan kekacauan yang ditimbulkan dirinya sendiri. Iwaizumi pun tadi telah memberikan kunci studionya agar nanti saat Oikawa pergi, ia bisa menitipkannya kepada resepsionis.

Oikawa tersenyum kecil melihat hasil pekerjaan Iwaizumi selama beberapa minggu terakhir. Ia paham betul bagaimana perjuangan pria itu untuk sampai di sini— menjadi produser yang dikejar-kejar oleh banyak orang. Dan Oikawa tahu betul hasil kerja keras kekasihnya tidak pernah mengkhianati hasil mengingat lagu yang diproduseri pria itu pasti selalu berada di puncak tangga lagu.

Setelah memastikan tidak ada barang yang ketinggalan, Oikawa mengunci studio itu dan menyerahkan kuncinya pada resepsionis di lantai satu. Sebelum turun pun ia menghubungi manajernya, sehingga mobil yang akan membawanya pulang ke apartemen sudah siap di depan lobi.

Perjalanannya terasa begitu singkat. Mungkin karena rasa lelah perlahan mulai menguasai tubuhnya. Ia sendiri tidak memiliki waktu istirahat sejak pagi karena sudah disibukkan dengan berbagai jadwal pemotretan. Dan sekarang, tidak ada hal yang diinginkan Oikawa selain menghempaskan tubuh ke atas kasur dan langsung pergi ke ladang mimpi. Sepertinya memang ide yang tepat untuk tidak ikut ke ajakan Matsukawa karena tubuhnya sudah tidak sanggup lagi bergerak ataupun bersosialisasi.

Benar saja— begitu sampai di apartemen, Oikawa dengan asal langsung membuka sepatu dan jaketnya, lantas berjalan setengah linglung menuju kamarnya. Tanpa repot-repot mengganti baju, Oikawa langsung melempar tubuhnya ke atas kasur dan memejamkan mata.

Sebelum kesadarannya mulai terbawa ke alam mimpi, samar-samar ia teringat belum mengisi daya baterai gawainya yang tadi hampir habis. Namun dirinya sudah terlalu lelah untuk bangun sehingga Oikawa akhirnya membiarkan rasa lelah itu menenggelamkan kesadarannya. Oikawa berpikir, nanti juga pasti akan terbangun tengah malam— entah untuk minum atau sekadar pergi ke toilet.

Oikawa pun jatuh tertidur.

Rasanya ia baru tertidur selama beberapa detik, ketika tiba-tiba ada suara dan goncangan bertubi-tubi di bahunya. Oikawa membuka matanya dengan kaget, seolah-olah ada yang baru saja menyiramkan air dingin di atas kepalanya. Apakah ada gempa bumi?

“Kak! Bangun!”

Oikawa berusaha memfokuskan penglihatan dalam kegelapan kamarnya. Ia langsung mengenali sosok yang tiba-tiba membangunkannya tersebut, yaitu manajernya sendiri.

Dengan luar biasa bingung, Oikawa menatap pria yang lebih muda darinya itu. “Akaashi? Ngapain malem-malem ke sini?”

Bukannya bingung kenapa pria itu bisa masuk (karena Oikawa memang memberitahukan kode apartemennya kepada manajernya itu), tapi ia mempertanyakan apa yang menyebabkan pria itu sampai membangunkannya di tengah malam.

“Kak… Iwaizumi...”

Setelah itu, manajernya tidak berkata apa-apa lagi dan hanya menatapnya dengan ketakutan, kesedihan dan kekhawatiran yang bercampur jadi satu.

Oikawa mendadak takut untuk bertanya lebih jauh dan hanya terpaku di tempatnya. Ia memiliki firasat, ada kejadian buruk yang menimpa kekasihnya, dilihat dari ekspresi yang tergambarkan di wajah manajernya.

“Kita harus ke rumah sakit sekarang, Kak.”

“Iwa— Hajime… kenapa?” Suaranya sudah bergetar duluan, bahkan sebelum mengetahui apa yang benar-benar terjadi pada kekasihnya. Jantungnya memompa cepat untuk alasan yang belum ia ketahui.

“Nanti aku kasih tau di jalan. Tapi kita harus pergi sekarang.” Manajernya itu berbicara dengan nada tergesa, sehingga otomatis Oikawa langsung menyingkirkan selimut dan bangkit.

Mereka baru sampai di depan pintu apartemen, Oikawa pun sedang memakai sepatunya, ketika ada nada dering yang terdengar dari handphone milik sang manajer.

Dengan cepat, manajernya menerima panggilan itu. Wajahnya kembali menampilkan ekspresi khawatir selagi berbicara dengan orang — entah siapa — di seberang sana. Sedangkan Oikawa hanya terdiam tanpa tahu harus berbuat apa. Lidahnya terasa kelu dan otaknya kosong.

“Iya, ini kita udah mau jalan. Paling nyampe sekitar jam—”

Dalam sekejap, manajernya berhenti berbicara. Terjadi keheningan yang sangat memekakkan telinga di dalam apartemen yang gelap itu. Oikawa tidak berani bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Tidak bisa juga, karena sekujur tubuhnya seperti berada di dalam balok es.

Manajernya lalu melepaskan benda elektronik itu dari telinganya. Perlahan, tangannya turun dengan suara-suara yang masih sedikit terdengar dari benda yang layarnya masih menyala tersebut. Namun manajernya hanya menatapnya dengan ekspresi yang Oikawa tak berani artikan maksudnya apa.

“Ada apa…?” Akhirnya Oikawa membuka suara, meskipun hanya berupa bisikan. Ia ingin manajernya mengatakan sesuatu, apa pun itu, karena keheningan yang ia rasakan kini mulai membuatnya sesak.

Namun saat pria itu membuka mulutnya, Oikawa langsung menyesali keinginannya.

“Iwaizumi meninggal, Kak.”


Menurut rekaman CCTV, ada pengemudi truk yang sedang mabuk menghantam mobil yang dikendarai Iwaizumi pada pukul sebelas malam.

Oikawa paham benar betapa tingginya risiko kecelakaan antar kendaraan di kota metropolitan sebesar Tokyo, apalagi jika penyebabnya adalah pengemudi yang sedang mabuk. Ia hanya tidak menyangka, nasib naas itu harus menimpa Iwaizumi, kekasihnya sendiri.

Kecelakaan itu terjadi saat Iwaizumi berada dalam perjalanan pulang menuju apartemen setelah pertemuannya dengan Matsukawa dan beberapa teman lain. Pertemuan yang Oikawa paksakan untuk didatangi pria itu. Ia tahu, ini di luar kendalinya dan sama sekali bukan kesalahannya. Namun Oikawa tidak bisa menyangkal ada sebagian dalam dirinya yang merasa bersalah atas kejadian tersebut.

Sepanjang hari itu, Oikawa menghabiskan waktunya di rumah sakit bersama Matsukawa dan yang lain. Takahiro dan Sugawara beberapa kali ikut meneteskan air mata, sedangkan Matsukawa dan Daichi hanya bisa berusaha untuk tegar dan sesekali menghiburnya dengan berkata, nggak apa-apa, semua bakal baik-baik aja.

Tapi apa yang akan akan baik-baik saja?

Oikawa sudah terlalu lelah untuk menangis. Matanya terasa begitu bengkak dan berat. Agensinya pun akhirnya bertindak dan memutuskan untuk memundurkan segala jadwal aktivitasnya, termasuk rencana script reading-nya pagi itu. Media pun langsung dihebohkan dengan berita Iwaizumi yang meninggal karena kecelakaan. Ratusan, bahkan ribuan ucapan belasungkawa langsung membanjiri media sosial kekasihnya. Berita tentang mereka yang selama dua tahun ini menjalin hubungan pun ikut tersiarkan, tapi Oikawa sudah tidak menaruh peduli.

Entah bagaimana, tetapi dengan sisa kekuatannya, Oikawa akhirnya bangkit berdiri meminta Akaashi untuk mengantarkannya ke studio Iwaizumi. Ia tidak ingin berada di rumah sakit itu lagi, tapi ia juga tidak ingin berada sendirian di apartemennya. Tanpa mengatakan apa pun, manajernya setuju dan langsung membawanya pergi diiringi tatapan iba sahabat-sahabatnya.

Dan di sinilah sekarang Oikawa berada— di depan pintu studio pria itu dengan kunci yang digenggamnya sangat erat.

Saat membuka pintu studio, Oikawa setengah berharap akan menemukan pemandangan yang biasa— Iwaizumi duduk di kursi sambil berkonsentrasi menciptakan melodi-melodi melalui komputer, atau memenuhi kertas berisikan lirik lagu dengan tulisan cakar ayamnya.

Tubuhnya seperti robot tak bernyawa yang bergerak sendiri menghampiri meja dengan tumpukan kertas yang baru dirapikannya kemarin malam. Ia menyentuh kertas-kertas itu, sambil mengingat-ingat Iwaizumi yang terlihat begitu lelah, tetapi juga antusias saat memperlihatkan kumpulan lirik lagu yang telah dibuatnya.

Oikawa memperhatikan meja pria itu— berisi kehidupan kekasihnya selama beberapa minggu terakhir saat mereka tidak bisa bertemu. Rasa sedih yang menjerat hatinya terasa begitu kuat. Saking kuatnya, ia sampai tidak sanggup untuk mengeluarkan air mata dan hanya menerima perasaan kosong yang mengisi relung hatinya saat ini.

Oikawa menyapu pemandangan di atas meja, sampai netranya tiba-tiba menangkap pigura kupu-kupu yang ditemukannya kemarin di balik tumpukan kertas.

Tanpa sadar, tangannya bergerak ke arah pigura itu dan mengamatinya sekali lagi dengan pandangan kosong. Mendadak, seakan ada efek blur yang menghalau pandangannya sehingga ia tidak bisa menatap sekelilingnya dengan begitu jelas. Ia pikir itu karena efek pusing yang menjera setelah seharian tidak tidur dan menangis di rumah sakit. Namun beberapa detik kemudian, segalanya kembali jelas seperti sedia kala seakan tidak ada yang terjadi.

Oikawa mengerjapkan matanya dengan bingung. Rasanya untuk sesaat, ia tidak seperti sedang berada di tempat itu.

“Tooru?”

Oikawa pikir, jantungnya baru saja jatuh ke dasar perut saat mendengar suara yang mengisi gendang telinganya beberapa detik setelah ia sadar. Kepalanya ditolehkan begitu cepat karena suara yang baru saja masuk ke indra pendengarannya terdengar amat sangat familier.

Iwaizumi.

Oikawa hampir tersedak salivanya sendiri saat mendapati siapa yang ada di depannya. Penampilan pria itu masih sama seperti malam sebelum kecelakaan terjadi— kantung mata tebal, rambut berantakan, jaket abu-abu pemberiannya, juga tatapannya. Dari sudut mata, Oikawa bisa melihat kertas-kertas yang telah ia rapikan, kembali berserakan seperti malam sebelumnya.

Semua sama persis seperti malam itu.

Oikawa mulai bertanya-tanya apakah ini halusinasinya semata akibat kurang tidur atau akhirnya dia bisa melihat hantu, ketika Iwaizumi yang ada di hadapannya membuka mulut untuk bersuara lagi.

“Kamu habis ngelamun, ya?”

“A-aku...” Oikawa tidak bisa menyelesaikan perkataannya. Baginya, ini semua terlalu sulit untuk diproses. Ia sendiri tidak berani berkedip atau menyentuh sosok di hadapannya karena takut pria itu akan langsung lenyap. Kalau memang ia sedang bermimpi, lebih baik dirinya tidak terbangun sama sekali.

Kalau perlu, sekalian saja ia ikut mati.

“Kenapa, sih? Kok diem? Kamu sakit, ya?”

Oikawa menelan salivanya mendengar suara Iwaizumi yang amat sangat jelas. Ekspresi pria itu ikut berubah melihat dirinya yang terlihat sangat kebingungan. Selagi Oikawa mengedarkan pandangannya dengan linglung ke sekeliling ruangan, tidak sengaja matanya menangkap jam yang terpasang di dinding. Jarum jam itu menunjukkan waktu yang sama persis saat kemarin dirinya mendatangi studio sang kekasih.

“Ini… hari apa?” tanyanya dengan suara yang tak lebih dari sebuah bisikan.

“Hari Jumat. Tooru, kamu kenapa, sih? Kayanya yang lebih butuh makan kamu deh, bukan aku. Wajah kamu pucat banget soalnya,” jawab pria itu dengan kerutan di kening yang semakin dalam. Pria itu pun terdengar lebih khawatir dibandingkan sebelumnya.

Perlahan, gerigi di dalam otaknya mulai berputar. Oikawa semakin yakin bahwa ini bukan halusinasi, mimpi atau akibat dirinya yang berubah jadi gila. Oikawa menatap pigura kupu-kupu yang masih berada di tangannya, lalu sebuah teori gila terpikirkan begitu saja.

Oikawa masih berusaha menyangkal. Bisa saja ini memang permainan otaknya yang sudah terlampau lelah atau hatinya yang begitu rindu. Namun Oikawa yakin, pigura itulah yang membawanya kembali ke masa ini— saat semua masih terlihat sama, yaitu sebelum Iwaizumi pergi dan direnggut darinya oleh sang pencabut nyawa.

Singkatnya, Oikawa kembali ke masa lalu.

Dengan gerakan teramat pelan, Oikawa meletakkan pigura itu di atas meja dan menghirup napas dalam-dalam. Oikawa berusaha memantrai dirinya sendiri bahwa ia bukan tiba-tiba berubah jadi gila. Namun rasanya, ia sendiri hampir gila memikirkan kejadian yang sungguh mustahil dijelaskan dengan segala ilmu pengetahuan alam yang ia tahu.

“Kamu nggak apa-apa?”

Oikawa menatap kekasihnya yang masih hidup di hadapannya. Rasanya ia seperti baru ditampar dengan kenyataan bahwa sekarang Iwaizumi ada di sini dan terlihat sangat hidup.

Sebuah pikiran tiba-tiba melintas di otaknya.

Mungkin, kalau begitu, dirinya bisa menyelamatkan Iwaizumi.

Kalau bukan untuk melakukan hal itu, lantas kenapa ia bisa terlempar kembali ke masa lalu? Pastilah ini permainan gila takdir yang menginginkannya untuk mengubah nasib Iwaizumi agar tidak mengalami kejadian yang sama seperti sebelumnya.

Oikawa menganggap ini adalah kesempatannya.

“Nggak apa-apa, cuma sedikit capek aja kayaknya,” jawab Oikawa sembari mengulas senyum tipis.

Tiba-tiba, ada suara dering handphone yang memenuhi ruangan tersebut. Oikawa meraba kantungnya saat merasakan benda itu bergetar. Padahal seingatnya, ia belum mengisi daya baterai benda elektronik itu sejak kemarin dirinya tertidur. Kenyataan itu membuatnya semakin yakin bahwa ia benar-benar telah kembali ke masa lalu.

Berusaha untuk bersikap tenang, Oikawa mengeluarkan handphone-nya dari dalam kantung. Ia melihat sekilas nama Matsukawa tertera di layar dan menelan saliva dengan gugup.

“Halo? Matsukawa?”

“Hai, Oik! Lagi di mana lo? Lagi sama Iwaizumi, nggak?”

“Iya, bener. Kenapa?” tanya Oikawa, sementara otaknya bersikap untuk melontarkan jawaban lain.

“Nah, kebetulan. Dateng sini ke restoran yang biasa. Ada gue, Hanamaki, Sugawara sama Daichi juga.

“Mau ngapain?”

“Makan-makan, dong! Kasian itu pacar lo pasti hidupnya di studio terus, kan? Sini, ajak dia keluar sekali-sekali biar nggak jadi jamur di sana!”

Oikawa melirik Iwaizumi yang sudah kembali berkutat dengan kertas-kertas, sebelum akhirnya menjawab. “Duh, maaf banget, kayaknya Hajime nggak bisa, deh. Dia capek banget soalnya, beberapa hari ini belum istirahat. Lain kali aja gimana?”

Dari sudut matanya, ia melihat Iwaizumi menghentikan pekerjaannya dan menoleh padanya dengan satu alis yang terangkat.

“Yah, serius nih, Oik?”

“Iya, serius. Dua rius malah. Lagian gue mau berduaan aja sama Hajime. Udah lama nggak ketemu dia juga.”

“Dih, TMI deh lo. Ya udah deh, kalau gitu, lain kali harus bisa ya, lo berdua! Udah lama nih kita nggak ngumpul.”

“Iya, gampang itu, nanti atur aja.”

“Oke deh, salam buat Iwaizumi! Daah!”

Setelah Oikawa memutuskan sambungan tersebut, Iwaizumi langsung bertanya dengan sudut bibir yang sedikit terangkat. “Matsukawa ngajak ketemuan?”

“Iya, ada Takahiro, Sugawara sama Daichi.”

Iwaizumi memutar kursi sampai benar-benar menghadap Oikawa, lantas bertanya lagi dengan nada sedikit bingung. “Aku pikir kamu bakal maksa aku buat keluar kayak biasanya? Kok tumben ini nggak?”

Perlahan Oikawa berdiri dan menghampiri Iwaizumi dengan senyum yang terkulum. “Kita udah lama nggak ketemu, masa langsung diganggu sama orang lain? Tadi katanya kangen juga sama aku?”

Saat sudah benar-benar berada di hadapan Iwaizumi dan pria itu mendongakkan kepala untuk menatapnya, Oikawa dengan hati-hati mendudukkan diri di atas pangkuan kekasihnya. Otomatis, pinggangnya langsung direngkuh untuk menjaga keseimbangan.

“Lagian...” Oikawa berbisik pelan di telinga Iwaizumi. “Aku bisa nemenin kamu istirahat di sini.”

Oikawa lah yang menjadi pertama menghapus jarak di antara mereka. Ia mencium bibir sang kekasih dan langsung disambut dengan intensitas yang sama. Tangan Oikawa melingkari leher Iwaizumi dan pria itu balas menariknya semakin dekat sampai tidak ada jarak lagi yang tersisa.

Saat keduanya melepaskan diri untuk mengambil napas, Oikawa bertanya dalam bisikan rendah dan menggoda. “Studio kamu soundproof, kan?”

Iwaizumi langsung mencondongkan tubuh dan memagut bibirnya dalam sebuah ciuman rakus. Oikawa tersenyum saat merasakan bibir pria itu bergerak di atas bibirnya dan menjawab dalam oktaf begitu rendah.

“Totally.”

-to be continued


@fakeloveros

Tidak ada suara apa pun yang masuk ke telinganya.

Bahkan argumen Alisa dan Kageyama tentang jalur mana yang akan membawa mereka secepat mungkin menuju klan soulmate-nya terdengar begitu lamat-lamat. Kepalanya seakan berada di bawah air— berat dan kosong.

Malam di musim panas tidaklah semenyiksa saat matahari masih berada di atas kepala. Meski begitu, tangan dan punggungnya bermandikan peluh yang tak ada hubungannya sama sekali dengan cuaca. Jantungnya berdetak sangat kencang sampai ia takut organ tubuh penopang nyawanya itu bisa melompat keluar kapan saja.

“Oikawa.” Ada suara lembut yang memanggilnya dari kursi depan. Alisa dan Kageyama ternyata sudah berhenti berseteru. Saat Kageyama sudah kembali fokus menyetir, Alisa justru menatapnya dengan pandangan perihatin. “Gue tau kita barusan kesannya kayak maksa lo, tapi kalau lo sendiri beneran belum yakin, kita bisa puter balik.”

“Nggak,” Oikawa memotong cepat. Ia mengeratkan jaketnya karena peluh yang bertemu pendingin udara mulai membuatnya menggigil. “Bukan gitu. Gue udah yakin, cuma...”

Oikawa membasahi bibirnya yang kering. Ia sendiri sulit mendeskripsikan apa yang tengah dirasakannya kini. Ketidakyakinan dan rasa takut memang masih mengisi sudut hatinya, tapi dibandingkan dua hal itu, ada perasaan lain yang membuatnya tidak tenang.

”...nggak tau, gue juga bingung,” jawabnya lemah ketika dilihatnya Alisa masih menunggu jawabannya. Wanita itu tersenyum bak seorang ibu yang berusaha menenangkan anaknya ketika mau naik ke atas panggung pementasan pertama kali. Temannya lalu menggapai ke belakang dan menggenggam tangannya begitu erat.

“Nggak apa-apa, gue paham. Yang penting kalau lo udah yakin sama diri sendiri, nanti percaya aja sama Iwaizumi. Inget, dia soulmate lo. Orang yang seharusnya paling ngerti sama perasaan lo. Lagian gue yakin, Iwaizumi nggak akan ngelakuin apa pun yang bertentangan sama keinginan lo.” Alisa lantas mengubah senyumannya menjadi sedikit menggoda. “Dan dari cerita lo selama ini, dia kayak udah bucin banget sama lo, Oikawa. Jadi tenang aja.”

Alisa padahal jarang memberinya nasihat. Wanita itu lebih banyak mendengarkan atau memberi ekslamasi berlebihan. Namun sungguh ajaib bagaimana kata-kata temannya barusan justru berhasil menenangkan hatinya, walau tak banyak.

Dan Oikawa selalu percaya pada Iwaizumi— tanpa ia sadari. Jadi seharusnya tak ada yang perlu ia khawatirkan.

Oikawa pun mengalihkan netranya ke arah pemandangan di luar jendela yang terlihat blur karena kecepatan mobil mereka. Kali ini, ia ganti berdoa agar jangan sampai Iwaizumi merasakan sakit yang amat sangat.


Begitu sampai di klan Iwaizumi dan dirinya dikenali oleh penjaga gerbang sehingga diizinkan masuk, yang pertama kali menyambutnya adalah Atsumu. Tangan kanan soulmate-nya itu terlihat panik selagi menghampirinya.

“Lo harusnya nggak usah dateng,” ucap pria itu buru-buru sementara Oikawa memberi arahan kepada dua temannya agar langsung kembali pulang dan tak usah menungguinya. “Bahkan harusnya lo nggak tau Iwaizumi hari ini rut. Dia sendiri yang bilang supaya jangan ngasih tau lo,” sambung Atsumu dengan kepanikan yang sama.

Mendadak, Oikawa merasa kesal.

“Kenapa sih, dia suka ngelarang-larang gue? Terserah gue dong, mau dateng ke sini atau nggak.” Oikawa lantas memperhatikan suasana di sekitar mereka yang begitu hening. “Sekarang dia ada di man—”

Detik itu juga, ada yang memotong ucapannya dengan teriakan menggelegar dari arah hutan yang membuatnya terbeliak tak percaya begitu mengenali pemilik suara tersebut. Oikawa tak memedulikan panggilan Atsumu yang berusaha menahannya dan langsung melesat ke arah hutan.

Oikawa mengendus udara dan mengikuti aroma cokelat yang tercium begitu kuat. Tangannya mulai bergetar, namun dirinya tetap meneguhkan hati dan mempercepat langkah.

Begitu tiba di danau dalam hutan yang sudah sangat dihapalnya, Oikawa terkejut saat melihat sosok seorang wanita tengah berdiri diam menghadap gelapnya pepohonan. Setelah berada di jarak lebih dekat, Oikawa memberanikan memanggil wanita yang identitasnya ia ketahui itu.

“Kiyoko.”

Tak ayal, sang empunya nama langsung menoleh ke arahnya. Wajahnya masih setegas dan setenang dulu saat Oikawa pertama kali berkenalan dengannya. Namun Oikawa bisa melihat, di balik lensa tipisnya, wanita itu menyimpan kekhawatiran.

“Di mana Iwaizumi?” tanyanya tanpa basi-basi dengan napas yang sedikit terengah. Aroma cokelat yang seakan memenuhi udara memang tercium semakin kuat, tapi ia masih tidak tahu di mana letak persisnya keberadaan sang Alpha. “Gue harus cepet-cepet ke sana.”

“Oikawa.” Tiba-tiba, tangannya diraih dan digenggam wanita berkacamata itu. Dilihat dari jarak yang cukup dekat, ternyata ada selaput tipis basah yang menggenangi matanya. “Makasih udah dateng ke sini. Aku—”

“Gue dateng ke sini bukan buat lo, atau gara-gara lo,” selanya sambil menarik tangannya kembali dan mengepalkannya di sisi tubuh. “Gue, seperti yang lo tanyakan, sangat peduli sama soulmate gue dan berencana buat ngebantu dia. Jadi, apa sekarang lo bisa kasih tau aja Iwaizumi ada di mana?”

Oikawa pikir, Kiyoko sangatlah pandai mengatur ekspresi wajah karena wanita itu hanya menatapnya selama sepersekian detik sebelum mengangguk. Dengan jari lentiknya, Kiyoko menunjuk ke lebatnya pepohonan yang ada di hadapan mereka.

“Ada semacam rumah kecil di dalam sana. Kamu bisa muterin danau ini, terus ikutin aja jalan lurus itu. Cuma ada bangunan itu satu-satunya di dalam hutan, jadi kamu nggak bakalan keliru. Habis ini, aku bakalan langsung balik. Tapi kalau kamu butuh sesuatu atau... bantuan, langsung telepon aku atau Atsumu aja. Kita bakalan selalu stand by di deket hutan. Oh ya, dan kamu nggak perlu masuk ke dalem. Cukup berdiri di luar pintu masuknya aja. Yang penting, Iwaizumi tau kalau ada kamu di luar.” Kiyoko lantas merogoh sesuatu dari kantung jaketnya. “Tapi ini... kuncinya, buat jaga-jaga kalau ada sesuatu.”

Oikawa mengangguk dan menerima uluran kunci perak tersebut— tak ingin memperpanjang obrolan dengan wanita yang ia curigai memiliki perasaan khusus terhadap soulmate-nya. Namun sebelum dirinya berbalik, Kiyoko menahannya.

“Tunggu! Aku tau kamu mungkin nggak suka sama aku gara-gara hubunganku dengan Iwaizumi dulu. Tapi sekarang kita udah bener-bener nggak ada apa-apa lagi. Kamu soulmate dia satu-satunya... dan aku tau, Iwaizumi sayang banget sama kamu.”

Oikawa bahkan tak ingin bertanya sekarang maksud dari perkataan hubunganku dengan Iwaizumi dulu. Ia pun hanya mengangguk dan menggumamkan terima kasih sebelum berlari memutari danau. Begitu ada geraman kencang yang nyaris terdengar seperti hewan liar mengisi kesunyian hutan, Oikawa menelan saliva dan mempercepat menuvernya.

Mau tak mau, Oikawa mendesah lega saat terlihat cahaya dari kejauhan. Benar kata Kiyoko— ada sebuah rumah berukuran sedang terletak di tengah hutan. Seolah memang sengaja dibangun untuk keperluan menyendiri.

Saat bangunan itu sudah berada di depan matanya, Oikawa memperlambat langkah sampai berhenti tepat di depan pintu masuk. Ada banyak rantai dan gembok yang menempel di gagang pintu sehingga Oikawa langsung paham kenapa dirinya disuruh menunggu di luar.

Karena Iwaizumi tidak bisa membukanya dari dalam.

Oikawa berdiri diam di tempatnya. Tangannya menyentuh permukaan pintu kayu yang terasa sedikit kasar. Ia menghela napas panjang untuk menenangkan jantungnya yang berdetak gila-gilaan.

Anehnya, ada kesunyian yang mengikuti di dalam sana.

“Tooru?”

Namanya dibisikkan dari balik pintu. Heningnya suasana membuat oktaf rendah itu terdengar begitu lantang di telinganya. Namun dirinya tak berani langsung menjawab.

“Tooru…?” Namanya dipanggil sekali lagi. Kali ini ada ketidakpercayaan dalam bariton milik sang Alpha. “Kamu…ngapain…?”

Oikawa menarik napas panjang.

“Hajime…? Kamu… nggak apa-apa?”

Pertanyaan bodoh. Tentu saja soulmate-nya itu tidak baik-baik saja. Oikawa berdiri tanpa bergerak seinci pun selama menunggu pertanyaannya dijawab.

“Hajime? Kamu baik-baik aja—“

“Pergi.”

Oikawa pikir ia salah dengar. “Apa?”

“Pergi dari sini. Sekarang.”

Untuk seseorang yang baru saja menggetarkan hutan dengan geramannya, Iwaizumi terdengar begitu tenang. Namun ketenangan, juga perintah itu, justru membuat bulu kuduknya berdiri.

“Katanya… kamu kesakitan karena udah lama nggak rut. Makanya aku ke sini buat…” bantuin kamu?

BRAK

Oikawa terlonjak. Iwaizumi baru saja memukul pintu yang menghalangi mereka dengan begitu kencang sampai menggetarkan gembok dan rantai yang menempel. Untuk sedetik, Oikawa pikir pintu itu akan hancur.

Pergi. Sekarang. Juga.” Perintah itu diucapkan per silabel dengan penuh penekanan. Meski terdengar tegas, ada getaran dalam nada suara pria itu. “Kamu nggak bisa—“

Seruan sang Alpha terpotong oleh rintih kesakitan yang terdengar begitu memperihatinkan. Oikawa menempelkan kembali tangannya ke permukaan pintu dengan khawatir. “Hajime, mungkin aku bisa—“

“KAMU NGGAK BISA BANTU AKU! JADI PERGI DARI SINI SEKARANG!”

Iwaizumi terdengar marah. Sangat marah hingga untuk sesaat otoritas Alpha dalam suaranya membuat Oikawa harus mundur beberapa langkah. Napasnya tercekat dan seperti ada gumpalan kapas yang menyumpal tenggorokannya sampai ia tidak bisa melontarkan satu patah kata pun.

Setelah beberapa menit berlalu, Oikawa berasumsi Iwaizumi telah menjauhi pintu. Ia pun menegakkan tubuh dan berusaha berpikir jernih.

Tenang. Gue harus tenang. Kalau nggak, sia-sia gue ke sini.

Oikawa sendiri tahu secara logika, bantuan yang bisa ditawarkan kepada Alpha yang sedang rut adalah pelepasan keinginan secara fisik. Namun tak mudah untuk memuaskan seorang Alpha dalam keadaan seperti itu, terlebih lagi dalam kasus Iwaizumi. Ia pun tak tahu bagaimana sensasi siklus bulanan serupa karena dirinya bahkan tidak pernah merasakan apa yang seharusnya Omega normal alami.

Yang ia tahu, soulmate-nya sedang berada dalam keadaan tersiksa sekarang. Dan ada bagian dari instingnya yeng terus mendorong untuk secepatnya membantu pria itu.

Tapi, apa yang bisa dilakukannya sekarang? Berdiri diam di luar takkan membantu pria itu sama sekali. Namun jika dirinya nekat dan masuk ke dalam—

Apa? Kalau gue balik badan dan pergi sekarang pun apa bedanya? Kita cuma bakal kembali ke awal, bahkan mungkin lebih parah. Dia bakalan terus nunggu dan gue bakalan terus mikir, Oikawa membatin dalam hati.

Sedangkan dirinya sendiri bingung, apa lagi yang sebenarnya perlu dipikirkan?

Kakinya bergerak sendiri tanpa sadar untuk mendekat kembali ke depan pintu. Ia tidak mendengar suara apa pun lagi dari dalam. Mungkin Iwaizumi pun sadar bahwa dirinya belum beranjak dari sana.

“Kamu tau, selama ini aku selalu takut buat ketemu soulmate-ku sendiri. Waktu orang-orang di sekitarku nantiin hal itu, aku malah berdoa setiap hari supaya semakin dijauhin. Begitu ketemu kamu, sekuat tenaga aku berusaha benci, bahkan berharap kamu yang bakal nolak ikatan aku duluan.”

Oikawa memejamkan mata— berharap ada kekuatan ajaib yang membuatnya bisa mengakui semua kekurangannya dalam satu tarikan napas.

“Tapi di lain sisi, aku berharap soulmate-ku nanti mau nerima aku apa adanya. Bukan semata-mata emang udah takdir, tapi karena dia beneran sayang sama aku. Dulu aku pikir, itu permintaan yang egois karena siapa yang mau nerima Omega nggak sempurna?”

Oikawa menelan salivanya susah payah. Wajahnya ditundukkan seakan Iwaizumi bisa menghakiminya langsung dari balik pintu.

“Soalnya aku nggak bisa hamil.”

Oikawa menggigit bibirnya kuat-kuat sebagai upaya untuk menahan rintihannya yang hampir keluar. Bukan saatnya dia mengasihani dirinya sendiri sekarang. Oikawa sudah menerima kenyataan pahit itu sejak lama dan tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengubahnya.

Sekarang, ia hanya perlu fokus ke tujuan utamanya.

“Dan hal itu bikin aku sadar, nggak seharusnya kamu nempatin aku sebagai pembuat keputusan di sini. Aku mau kita ada di dalam posisi seimbang. Lagian... bukannya waktu itu kamu pernah bilang sendiri? Kita sekarang ada di atas perahu yang sama. Jadi kalau kamu jatuh, aku juga bakalan ikut jatuh.” Oikawa tertawa getir. “Kalau aku nolak kamu, atau sebaliknya, kita berdua juga yang bakalan sama-sama tersiksa. Nggak ada yang menang atau kalah di sini, dan itu yang hampir aku lupain.”

Kalau setelah ini dirinya masih disuruh pergi, maka Oikawa hanya bisa menurut dengan pasrah.

“Aku pernah baca satu kalimat di dalam novel. Waktu itu aku lagi bosen, dan hiburan yang ada cuma novel roman picisan punya Alisa.” Oikawa tertawa kecil saat mengingatnya. “Padahal aku nggak suka baca buku, tapi satu kalimat itu nempel banget di kepalaku.”

Berbeda jauh dari perkiraannya, ternyata setelah mengakui semuanya hatinya justru merasa lebih tenang. Seperti ada beban berat yang akhirnya terangkat dari pundak sehingga ia tidak perlu merangkak lagi saat berjalan.

We met not because we were perfect, but because our combined flaws were arranged in a way that allowed two separate beings to hinge together.”

Sudah. Oikawa tidah tahu lagi harus berkata apa. Keheningan yang memekakkan telinga itu berlangsung cukup lama sampai Oikawa bergerak gelisah di tempatnya. Bagaimana kalau ternyata barusan kata-katanya tidak didengar? Bagaimana kalau yang dikatakannya tetaplah sia-sia?

Bagaimana kalau Iwaizumi menolaknya detik ini juga?

“Hajime? Apa kamu denger—”

“Cariño.”

Apa?

“Kalau kamu masuk sekarang—” Terdengar geraman pelan dan bunyi seperti cakaran pintu yang sempat mengagetkannya. “Aku takut nggak akan bisa berhenti nanti.”

“Nggak apa-apa.” Oikawa terkejut dengan dirinya sendiri karena bisa menjawab begitu yakin. “Aku nggak akan minta kamu buat berhenti.”

Iwaizumi mengutuk pelan dari balik pintu. “Kamu sadar sama apa yang diomongin barusan?”

“Kalau nggak sadar, aku nggak akan masih berdiri di sini sekarang.”

Ada suara tarikan napas pendek-pendek berasal dari sang Alpha. Oikawa menunggu sabar dengan jantung yang kembali bertalu kencang. Namun kali ini bukan karena rasa takut atau ketidakyakinan.

Ada antisipasi yang perlahan naik dari ujung kaki sampai ke perut dan menimbulkan gejolak aneh di sana. Indra penciumannya dipenuhi aroma cokelat yang semakin kuat dan memabukkan. Dada dan lehernya terasa panas seakan ada yang menyalakan api di dalamnya. Padahal dia sedang berada di ruang terbuka, tapi di saat bersamaan, Oikawa merasa seperti kekurangan oksigen.

“Oke.”

Oikawa menahan napas saat satu kata itu dibisikkan dari balik pintu— terdengar begitu tersiksa, tapi juga penuh harap.

“Kamu boleh... masuk.”

Oikawa membulatkan matanya, lalu mengangguk meskipun tahu Iwaizumi tidak bisa melihatnya. Tangannya menyentuh rantai dan gembok yang saling terlilit, lantas membukanya perlahan satu per satu. Peluh yang membasahi telapak tangannya membuat kenop pintu itu terasa sedikit licin.

Oikawa menarik napas panjang dan membukanya.

Dia membukanya.


Jiaaakh kasian deh digantung.

@fakeloveros

Keheningan malam sudah menjadi sahabatnya sejak beberapa hari terakhir— ralat.

Semenjak kepergian Oikawa.

Dan selama beberapa hari itu pula, ia tidak pernah berhenti menyibukkan diri dalam tumpukan pekerjaan yang berkaitan dengan klan. Sesungguhnya, meskipun tangan dan matanya sibuk bekerja, otaknya tak pernah berada di tempat yang sama.

Selalu. Setiap malam. Tanpa jeda— benaknya justru akan dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan seperti, apa Tooru udah makan? Dia ngapain aja hari ini? Apa dia bisa tidur nyenyak?

Apa hanya dirinya yang merasa kehilangan?

Iwaizumi berusaha tampil seperti biasa di depan anggota yang lain. Namun ia tahu, dari tatapan iba Atsumu, mereka tidak bisa dibohongi. Pemimpin mereka merindukan soulmate-nya—

dan dirinya pun tidak menampik hal tersebut.

Jadi bayangkan keterkejutannya saat layar gawainya yang dibiarkan membisu di atas meja, mendadak menyala dan menampilkan satu nama yang dirindukannya setengah mati.

Iwaizumi menatap tak percaya layar benda persegi panjang itu, lalu buru-buru mengangkatnya sebelum ia terbangun dari mimpi.

“Halo?” tanyanya, masih sedikit terkejut dicampur rasa bingung.

Terdengar bunyi denting gelas, umpatan kasar dan benda berisik lainnya sebelum suara yang sudah sangat dihapalnya menyapa indra pendengarannya.

“Hajime? Ugh—”

Iwaizumi tersentak. Matanya menelusuri ruangan kerjanya dengan bingung. Bertanya-tanya dalam hati apakah dia memang sedang bermimpi sekarang.

“Tooru?” sebutnya hati-hati. Terdengar suara berisik lainnya sebelum ada tawa kecil yang menyusul. Lantas, seperti ada bunyi klik di dalam otaknya. “Kamu... mabuk?”

“Kenapa? Nggak boleh?” tantang suara di seberang sana tiba-tiba. Suara Oikawa memang masih terdengar jelas, tetapi Iwaizumi tahu kesadaran pria itu telah sepenuhnya dikuasai alkohol. Karena kalau tidak, mana mungkin sang Omega menghubunginya duluan seperti ini.

“Kamu di mana? Sendirian? Ini hampir jam 3 pagi dan kamu... mabuk?” tanyanya sedikit tak habis pikir.

Dari seberang sana, Oikawa mengeluarkan suara cegukan keras sebelum menjawab dengan nada yang mengalun santai.

“Gue di kamar kok, sendirian. Emang kenapa mabuk jam 3 pagi, hah? Ada di peraturan lo kalau itu nggak boleh?” Suara pria itu terdengar lebih lantang sekarang. “Kalau nggak boleh, ya udah gue tutup—”

“Jangan.” Bibirnya bergerak duluan bahkan sebelum otaknya memproses apa yang dikatakannya. “Jangan... ditutup. Aku mau denger suara kamu.” Iwaizumi menghela napas, kemudian menyenderkan punggungnya dengan lelah di sandaran kursi. “Tapi kenapa kamu mabuk begini?”

Ada keheningan beberapa sekon sebelum Oikawa bertutur dalam bisikan rendah.

“Kepala gue... rasanya aneh.”

“Aneh? Aneh gimana? Kamu sakit?”

“Nggh... nggak tau, tapi kalau jalan tuh... ke mana-mana... gue kayak ngeliat atau denger suara lo.” Ada jeda sebentar. “Aneh.”

Iwaizumi tak langsung menjawab. Sibuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang karena jawaban polos tersebut. Seandainya boleh, ingin ia tafsirkan jawaban Oikawa sebagai rasa yang ia alami juga seminggu terakhir ini.

“Aku juga kangen sama kamu,” balasnya setelah mengumpulkan keberanian.

“Kangen?” Suara Oikawa terdengar sangat bingung. “Emang itu namanya kangen? Emang lo ngerasain juga?”

“Setiap hari.”

“Oh.” Iwaizumi bisa membayangkan Oikawa kini tengah berpikir keras dengan kening yang berkerut sedikit dan bibir yang dimajukan. “Ada obatnya nggak, ya?”

Iwaizumi tertawa pelan. “You tell me.”

Karena kalau ada, mana mungkin dia merasa setersiksa ini sekarang.

Terdengar gumaman panjang dari sang Omega sebelum ucapan pria itu selanjutnya mengejutkan Iwaizumi.

“Ceritain sesuatu, dong!”

“Cerita apa?”

“Apa aja! Gue lagi bosen, nih. Lagian selama ini lo jarang banget cerita ke gue.” Ucapan Oikawa terdengar sedikit menuduh hingga Iwaizumi merasa sedikit bersalah.

“Soalnya hidupku nggak ada yang menarik...”

“Kalau gitu...” Oikawa bergumam panjang. “Kasih tau warna kesukaan lo aja!”

Mau tak mau, sudut bibirnya terangkat sedikit mendengar permintaan tersebut.

“Cokelat. Aku suka warna cokelat.”

Ada tawa keras yang menggelegar di seberang sana sampai tanpa sadar Iwaizumi pun ikut tersenyum.

“Apa lo... suka warna cokelat karena wangi lo kayak cokelat??” tanya pria itu di sela-sela tawanya.

“Anggap aja begitu,” jawabnya singkat, meskipun yang ada di bayangannya sekarang justru manik cokelat susu milik pria yang masih terkekeh pelan nun jauh di sana. “Mau nanya apa lagi?”

“Hmm... kalau hobi?”

“Olahraga... kayaknya.”

“Kok kayaknya, sih? Kalau makanan kesukaan?”

“Apa aja, aku nggak pilih-pilih, kok.”

Iwaizumi merasa lebih rileks sekarang. Mungkin ini pertama kalinya mereka berbicara begitu santai. Yang kurang hanya keberadaan pria itu yang jauh darinya.

Selanjutnya, Oikawa menanyakan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang dijawabnya dengan sabar. Beberapa kali pria itu sempat tertawa lagi akibat jawabannya yang terdengar biasa-biasa saja. Namun Iwaizumi tak pernah melontarkan protes asalkan tawa pria itu terus terdengar.

Saat jam hampir menunjukkan pukul empat lebih lima belas, suara Oikawa terdengar semakin mengantuk. Pria itu bahkan sudah menguap lebih dari tiga kali sebelumnya.

“Kamu mau tidur sekarang?”

“Satu pertanyaan lagi!”

“Oke, tapi habis ini kamu tidur, ya.”

Tangan Iwaizumi terjulur untuk membereskan beberapa dokumen yang berserakan di atas meja sementara Oikawa mengeluarkan suara-suara berpikir yang membuatnya tak berhenti tersenyum. Kemudian terdengar suara oh pelan sebelum dirinya dikejutkan dengan pertanyaan—

“Apa nama kontak gue di HP lo?”

Setidaknya itu cukup mengejutkan sampai Iwaizumi menghentikan gerakannya dan terdiam cukup lama.

“Kenapa? Kok diem? Pasti dinamain yang aneh-aneh, ya?”

Cariño.”

“Hah?”

“Aku namain kamu Cariño di HP-ku.”

“Kok... apa tuh tadi? Emang itu bahasa apa?” Pertanyaan itu terlontar diikuti suara Oikawa yang menguap lebar dan derit kasur. Iwaizumi berasumsi, pria itu sudah bersiap untuk tidur.

“Bahasa Spanyol,” jawabnya singkat sambil mematikan komputernya.

“Spanyol?” Oikawa menguap lagi. “Lo... bisa ngomong Spanyol?”

“Dulu pernah belajar sebentar sebelum stay di sana buat salah satu misi klan.”

Hening. Tak ada respons.

“Tooru? Udah tidur, ya?”

”....lum.” Jawaban Oikawa terdengar sedikit teredam. ”...mang artinya apa?”

Iwaizumi membiarkan beberapa detik berlalu sampai terdengar suara tarikan napas teratur dari seberang. Setelah memastikan Oikawa sudah tertidur, barulah dirinya menjawab.

“Sayang.”

Iwaizumi tersenyum pada dirinya sendiri. Membayangkan soulmate-nya tertidur dengan gawai yang masih menyala dan menempel di dekat telinganya. Seandainya saja dia bisa melihat pemandangan itu secara langsung, mungkin akan diabadikan olehnya.

“Artinya sayang.”


Ugh... mood-ku sempet jelek banget tadi sore, terus ada masalah (?) juga makanya sempet gembokan. Tapi habis nulis ini (sama jajan), dan mood-ku langsung naik lagi wkwkw semoga kalian juga seneng bacanya. Anggap aja ini part filler~

@fakeloveros


Disclaimer: this is actually the edited version of my short fic for another pairing in one of the kpop fandoms and Jujutsu Kaisen, so I'm not plagiarized this piece of work if you ever stumbled upon the original one. Thank you!


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, tapi dari salah satu kubikel kantor dengan tumpukan buku di mana-mana, masih terdengar suara ketikan keyboard yang memenuhi ruangan luas tersebut. Karena sudah melewati jam pulang kantor, tidak ada siapa pun lagi yang tersisa kecuali dua orang yang salah satunya tengah bersiap untuk pulang.

“Woy, Kita, lo belum mau pulang?” tanya temannya seraya berjalan menghampiri kubikelnya.

“Iya nih, tanggung tinggal sedikit lagi,” jawab pria yang dipanggil Kita itu sambil menyunggingkan senyum simpul.

“Ooh... ya udah, gue balik duluan, ya.”

“Oke! Hati-hati, ya,” jawab Kita sembari berjalan menuju kulkas ruangan kantor mereka dan mengambil susu stroberinya yang dibeli tadi siang. Kita lantas kembali ke kubikelnya dan bertekad menyelesaikan pekerjaannya sebelum malam semakin larut. Lagi pula, ia juga tidak enak karena sudah berjanji akan pulang dengan seseorang.

Kita sedang memasukkan data terakhir ke dalam laporan yang dikerjakannya, ketika tanpa aba-aba ada suara langkah kaki diikuti suara bariton yang sudah dihafalnya.

“Susu stroberi lagi? Lama-lama kamu bisa jadi susu stroberi kalau minum itu terus, Shin,” ujar pria yang tahu-tahu sudah berada di depan kubikelnya sembari memamerkan senyum sejuta watt-nya. Penampilan pria itu terlihat seperti orang yang sudah bersiap untuk pulang kerja— dengan jaket hitam menutupi kemeja putih dan kunci motor yang dimainkan di tangan.

“Kamu ngomong apa, sih, Atsumu?” balas yang ditanya tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari layar komputer— sedikit banyak tidak menghiraukan ucapan aneh kekasihnya itu.

“Ayo balik. Kamu nggak mau nginep di kantor, kan? Kalau mau nginep, aku tinggal nih,” ucap pria bernama Atsumu itu sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di atas pembatas kubikel— setengah mati berusaha menarik perhatian kekasihnya yang begitu fokus.

“Sebentar, dong. Ini udah mau selesai, kok.”

“Sebentarnya kamu tuh bisa sejam tau nggak.” Atsumu menggerutu, kemudian menarik kursi dari kubikel sebelah kekasihnya karena ia sudah mulai pegal berdiri. “Emang ini nggak bisa dilanjut besok?”

“Bisa,” jawab yang lebih tua seraya membuang kotak susunya yang sudah kosong ke tempat sampah. “Tapi tanggung. Lagian biar besok aku bisa santai juga.”

“Kebiasaan, deh.” Atsumu hanya berdecak pelan, namun tak lagi berkomentar apa pun.

Setelahnya, tidak ada yang bersuara. Hanya keheningan yang mengisi sementara Kita kembali berkonsentrasi demi menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin.

“Eh, kamu tau, nggak?” Tiba-tiba suara Atsumu terdengar memecah kesunyian.

“Apa?” Kita balik bertanya dengan singkat.

“Aku laper,” jawab pria itu sambil mengelus perut ratanya dengan tampang yang memelas. “Nanti makan dulu yuk, di mana gitu yang deket.”

“Tumben ngajakin makan di luar pas tanggal tua begini?”

“Ya jangan makan di tempat yang mahal...”

“Ya udah, sebentar, ini dikit lagi.”

Atsumu hanya bergumam panjang seraya memainkan kunci motornya.

“Eh, kamu mau tau sesuatu, nggak?”

“Apa lagi, sih, Atsumu?” Kita mulai menggerutu kesal. Pasalnya, bagaimana dia bisa cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya kalau kekasihnya itu terus menerus mendistraksinya?

“Kemaren ada anak baru di unit aku. Terus pulangnya kita sempet papasan sama dia. Kamu inget, nggak?” tanya pria itu santai tanpa memedulikan nada kesal yang terdengar dari objek atensinya.

Mau tak mau, Kita berhenti sebentar untuk mengingat-ingat. “Ooh... kayaknya aku inget. Yang pake kacamata itu, kan? Kenapa?”

“Nah, iya. Terus pagi ini dia nyamperin aku dan nanyain siapa cowok yang bareng aku kemaren.”

“Hah? Aku maksudnya? Emang dia mau ngapain?”

“Dia nanyain nama kamu.”

“Buat apa?”

Yang lebih muda memicingkan mata mendengar pertanyaan kekasihnya yang terdengar polos.

“Ini kamu sok-sok nggak tau atau beneran nggak tau?” tanya Atsumu curiga.

“Ya kalau tau, ngapain aku nanya ke kamu?” balas Kita sambil mengedikkan bahunya.

Atsumu menghela napas dengan gaya begitu dramatis.

“Pertanyaan dia nggak langsung aku jawab, dong. Aku juga nanya ke dia, ngapain nanya-nanya? Terus dia dengan frontalnya jawab kalau mau deketin kamu.” Atsumu lantas mendengus pelan begitu mengingat kejadian tadi pagi yang menurutnya sangat konyol.

Kita hanya tertawa pelan diikuti gelengan kepala tak paham. “Ada-ada aja.”

“Kamu kok santai banget gitu, sih?” Atsumu menatap sang kekasih dengan heran karena baginya, reaksi Kita dianggap terlalu santai. “Udah sering dideketin orang lain, ya?” tanyanya lagi dengan bibir yang dimajukan.

“Terus aku harus gimana? Dia kan cuma nanyain namaku, Atsumu.”

“Gimana kek...” Yang lebih muda terdiam sebentar. “Dia nggak ngira aku pacar kamu kali, padahal udah jelas-jelas kemarin kita pulang bareng,” keluh pria itu sambil merengut kesal.

“Kalau pulang bareng doang sih, dulu aku juga suka nebeng temen di sini. Dan nggak ada yang ngira aku pacaran sama temen aku tuh.”

Atsumu terlihat berpikir. Dahinya ia kerutkan sedikit.

“Kayaknya beneran karena kita kurang keliatan kayak orang pacaran deh,” ujar pria itu setelah beberapa saat. Kita yang sudah selesai berkutat dengan pekerjaannya dan kini tengah membereskan meja, menoleh untuk menatap sang kekasih. Satu alisnya terangkat tinggi-tinggi.

“Orang pacaran tuh emang harusnya kayak gimana?”

“Gimana kalau aku manggil kamu sayang setiap ada di depan dia? Jadi dia bakal langsung tau kalau kamu pacar aku,” ucap yang ditanya dengan nada begitu santai— sengaja mengabaikan pertanyaan yang dilontarkan padanya barusan.

Kali ini, giliran Kita yang terdiam mendengar ucapan Atsumu. Pasalnya, keduanya baru saja meresmikan hubungan dua minggu yang lalu, jadi memang belum banyak orang-orang di kantor yang mengetahui hubungan mereka. Ditambah lagi, yang lebih tua masih berusaha membiasakan diri dengan statusnya yang kini berubah. Ia sudah terbiasa berbicara formal dengan Atsumu sebelum berpacaran, sehingga membutuhkan waktu sampai kini dirinya bisa bicara lebih santai. Terlebih lagi ia masih merasa sedikit malu menunjukkan kemesraan mereka di depan orang lain. Jadi pertanyaan Atsumu barusan tak ayal membuatnya agak tertegun.

“Terserah,” jawab Kita singkat. Pria mungil itu berbalik, lalu berpura-pura membereskan isi tasnya. Ia tidak ingin Atsumu melihat pipinya yang mulai mengeluarkan semburat merah.

“Sayang.”

Jantung Kita refleks berdetak dua kali lebih cepat mendengar panggilan itu keluar dari mulut kekasihnya. Suara rendah pria yang baru saja memanggilnya penuh afeksi tersebut justru membuat wajahnya semakin memanas.

“Ka-katanya mau manggil sayang kalau di depan pegawai baru itu aja?” tanya Kita pelan, berusaha menutupi kegugupannya.

“Loh, kan harus dites dulu,” jawab Atsumu sambil tersenyum menggoda. “Lagian, masa aku cuma boleh manggil kamu sayang kalau lagi di depan orang lain?”

“Terserah, deh. Udah ayo balik, katanya laper!” balas Kita tanpa berani menatap Atsumu, dan langsung berjalan menuju pintu keluar ruangan.

Atsumu hanya terkekeh seraya ikut berdiri untuk menyusul kekasihnya.

“Tungguin dong, sayang.”

“Berisik, Atsumu!” Kita membalas dengan ketus meskipun diam-diam dia ingin mendengar Atsumu terus memanggilnya seperti itu.

Sepertinya, tidak buruk juga memiliki panggilan sayang.


@fakeloveros