TW: major character death, accident, butterfly effect
Read the warnings carefully before you read! Thank you and... enjoy the ride.
Tokyo akhirnya memasuki bulan Januari.
Euforia tahun baru masih begitu terasa, meskipun cuaca dingin menyerang sampai ke tulang sehingga membuat orang-orang yang harus berangkat pagi untuk bekerja terpaksa merapatkan jaket dan syal mereka. Tidak ada kata libur bagi para pekerja— sekalipun profesi yang dijalani adalah sebagai aktor ternama.
Seperti yang dilakukan Oikawa Tooru sebagai upaya menghidupi dirinya sendiri.
Oikawa baru saja menyelesaikan salah satu jadwal syuting film. Sekarang dirinya disibukkan dengan jadwal-jadwal untuk pemotretan berbagai majalah maupun brand kosmetik, menjadi panelis di beberapa acara variety show, juga melakukan persiapan untuk syuting doramanya yang terbaru.
Terdengar sibuk? Sangat. Padatnya jadwal membuatnya tidak bisa bersantai, apalagi sering-sering bertemu dengan kekasihnya. Bukan hanya dirinya yang sibuk, tetapi Iwaizumi pun sama-sama sibuk. Pria dengan lini profesi bidang musik itu tengah sibuk menggarap album terbaru bagi beberapa artis baru. Namanya yang cukup tersohor, membuatnya selalu kebanjiran job bahkan terkadang bisa melebihi sibuknya Oikawa.
Intinya, keduanya sama-sama lelah. Dan rindu.
Setelah beberapa minggu berusaha membujuk manajernya untuk menyelipkan jadwal kosong agar bisa mengunjungi studio tempat Iwaizumi berkutat dengan proses pembuatan album barunya, akhirnya Oikawa mendapatkan kesempatan itu di suatu Jumat petang.
Setelah dua tahun menjalin hubungan serius dengan pria yang memiliki sifat 180 derajat berkebalikan dengannya, Oikawa begitu paham akan kebiasaan buruk kekasihnya.
Iwaizumi tidak akan keluar selangkah pun dari studionya; tidak sampai lagu yang tengah digarapnya rampung. Tidak banyak yang mengetahui, tetapi Iwaizumi termasuk orang yang perfeksionis— sama seperti dirinya. Mungkin itu jugalah yang membuat mereka mengerti satu sama lain. Namun kalau sudah terlalu larut dalam pekerjaan, harus ada seseorang yang memaksanya keluar untuk menghirup udara segar.
Dalam perjalanan menuju studio tempat Iwaizumi mengasingkan diri, Oikawa bertemu beberapa staf yang menyapanya dengan ramah— paham betul ke mana arah pria jangkung itu melangkah karena hubungannya dengan Iwaizumi memang bukan rahasia di kalangan para pegawai di sana.
Namun, lain lagi ceritanya jika di hadapan publik.
Tanpa mengetuk pintu, Oikawa membuka perlahan pintu studio Iwaizumi yang memang biasanya jarang dikunci dengan alasan— “Takut nggak kedengeran kalau ada yang ngetuk, Tooru.”
Seperti yang telah diduga Oikawa, prianya itu tidak mendengar saat dirinya masuk karena tengah berkonsentrasi di antara kertas-kertas yang, dirinya duga, dipenuhi coretan-coretan lirik. Iwaizumi juga tidak mengetahui rencananya yang akan datang hari itu karena Oikawa sengaja ingin mengejutkan kekasihnya.
Oikawa menutup pintu di belakangnya dengan bunyi klik pelan, lalu menghampiri kekasihnya perlahan. Tetapi ia tidak ingin terlalu mengejutkan Iwaizumi, jadi Oikawa berdiri dipisahkan jarak beberapa langkah lalu berdeham pelan.
Satu kali, tetapi Iwaizumi belum mendengarnya juga.
Dua kali, dan Oikawa mulai jengkel.
Tiga kali, dirinya bahkan mulai terbatuk keras.
Karena kesal tidak mendapat respons, Oikawa akhirnya maju dan menepuk pundak kekasihnya sedikit kencang.
“Woy, serius banget sampai pacarnya dateng aja nggak sadar!” Oikawa berseru tepat di depan telinga Iwaizumi. Hal itu tentu saja menimbulkan kekagetan di wajah serius kekasihnya.
“Tooru?” Iwaizumi menyuarakan namanya dengan bingung. “Kamu ngapain ada di sini?”
“Aku minta ke manajerku buat ngosongin jadwalku sore ini.” Oikawa lalu melingkarkan lengannya dari belakang untuk memeluk hangat tubuh kekasihnya. “Aku kangen, tau… Emang kamu nggak kangen apa?”
Iwaizumi melepaskan kertas-kertas yang tengah dipegangnya dan menarik sedikit kepala Oikawa untuk menjatuhkan ciuman tepat di pelipisnya.
“Aku juga kangen sama kamu...”
Oikawa bergumam pelan dan memejamkan mata— masih sambil memeluk pria itu dari belakang sekaligus menghidu aroma sampo yang terlampau familier. Banyak hal yang ia rindukan dari sosok kekasihnya— seperti aroma pria itu sendiri, rambut pendek potongan clean cut yang terlihat sedikit berantakan karena pria itu pasti mengusaknya berulang kali saat tengah berpikir, juga jaket berwarna abu-abu pemberiannya yang sering Iwaizumi kenakan.
Bertemu dengan Iwaizumi rasanya benar-benar seperti mengisi ulang daya energinya yang hampir habis.
Setelah beberapa saat menikmati keheningan dalam studio, Oikawa membuka mata dan melontarkan pertanyaan yang sebenarnya bisa ia tebak jawabannya. “Kamu udah makan?”
Gelengan dari Iwaizumi membuat Oikawa menghela napas. Namun sebelum Oikawa sempat menceramahinya panjang lebar, Iwaizumi buru-buru menyelanya.
“Kalau ini udah selesai, aku bakal makan, kok.”
Oikawa melirik kertas-kertas yang ada di atas meja, tepat di sebelah komputer yang menyala. “Masih lanjutin nulis lirik yang kemarin kamu bilang itu?”
Iwaizumi mengangguk dan menghela napas lelah. “Padahal tinggal bagian bridge, tapi dari kemarin kayaknya belum juga nemu yang pas.”
Oikawa berinisiatif menarik kursi dari sebelah sofa agar bisa melihat lebih jelas pekerjaan kekasihnya. “Mau aku bantu?”
“Beneran?” Nada pria itu terdengar penuh harap, sehingga Oikawa refleks mencondongkan tubuh dan mencium pipi kekasihnya dengan sedikit gemas.
“Beneran, tapi habis ini kamu harus makan, ya. Nggak boleh ditunda lagi.”
Iwaizumi mengangguk penuh semangat dengan mata yang berbinar-binar. Oikawa hanya tersenyum, lalu mulai memperhatikan dengan saksama setiap coretan-coretan lirik yang memenuhi sampai ke sudut kertas. Ia ingin mengeluh soal tulisan cakar ayam milik pria itu, tapi memutuskan menelannya saja untuk sekarang.
Selagi berkonsentrasi membaca salah satu penggalan lirik, mata Oikawa tidak sengaja menangkap sebuah pigura yang menyembul dari balik tumpukan kertas. Penasaran— ia pun menarik pigura tersebut untuk memperhatikannya dengan lebih jelas.
Pigura itu berukuran kecil dan yang sedikit mengejutkannya, bukan berisi foto. Di dalam pigura itu ada kupu-kupu yang diawetkan— berwarna biru gelap dengan garis-garis hitam melintang di sayapnya. Lucunya, kupu-kupu di pigura itu terlihat begitu hidup— seolah bisa keluar dari pigura kapan saja. Oikawa terus menatap kupu-kupu dalam pigura itu hampir tanpa mengedipkan mata. Seperti tersihir, Oikawa mulai kehilangan fokus akan latar belakang keberadaannya dan hanya objek di tangannya lah yang terlihat. Rasanya seperti jatuh ke dalam sebuah lubang tak berdasar selagi dunianya ikut berputar.
Dan begitu saja, seperti TV yang dimatikan tiba-tiba, perasaan itu menghilang dan meninggalkan Oikawa dalam keadaan disorientasi untuk sesaat. Oikawa mengerjapkan matanya berulang kali, berusaha mengembalikan fokusnya. Untuk suatu alasan yang tak ia mengerti, bulu kuduknya berdiri dan punggungnya mengeluarkan keringat dingin. Padahal suhu di dalam studio Iwaizumi terasa hangat karena heater yang dinyalakan. Ia bahkan belum melepaskan jaketnya semenjak masuk ke ruangan tersebut.
“Tooru?”
Panggilan Iwaizumi lah yang mengembalikan kesadarannya pada dunia nyata. Ia mengalihkan pandangan, dan melihat Iwaizumi tengah menatapnya dengan bingung.
“Kamu habis ngelamun, ya?” tanya pria itu sembari tersenyum kecil.
Oikawa tidak mengindahkan pertanyaan itu dan malah mengangkat pigura yang dipegangnya. “Hajime, ini apa?”
“Hm?” Iwaizumi memicingkan mata selagi memperhatikan pigura itu selama beberapa detik. Namun pria itu langsung mengedikkan bahu dengan gaya cuek. “Nggak tau, punya manajerku kali. Dia kan hobinya aneh. Mungkin itu koleksi dia nggak sengaja ketinggalan.”
Iwaizumi lalu menaruh atensinya kembali ke coretan-coretan liriknya. Tak beberapa lama, pria itu mengerang pelan seraya mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi. Oikawa tersenyum dan menyentuh pipi kekasihnya dengan lembut.
“Capek, ya?”
Iwaizumi menghela napas untuk kesekian kalinya. Pria itu baru akan menjawab, ketika ada nada dering yang menginterupsi mereka. Oikawa merasakan kantungnya bergetar, menandakan ada panggilan masuk ke handphone-nya.
Sebelum menjawab, Oikawa sekilas melihat nama kontak yang tertera di layarnya. “Halo? Matsukawa?”
“Hai, Oik! Lagi di mana lo? Lagi sama Iwaizumi, nggak?” sapa pria bernama Matsukawa itu dari seberang sana, terdengar begitu ceria.
“Kok tau? Iya nih, lagi sama Hajime di studio dia.” Oikawa menjawab sambil memperhatikan Iwaizumi yang sudah kembali menenggelamkan diri di antara kertas-kertas.
“Nah, kebetulan. Dateng sini ke restoran yang biasa. Ada gue, Hanamaki, Sugawara sama Daichi juga.
“Mau ngapain?”
“Makan-makan, dong! Kasian itu pacar lo pasti hidupnya di studio terus, kan? Sini, ajak dia keluar sekali-sekali biar nggak jadi jamur di sana!”
“Hmm...” Oikawa bergumam panjang sambil berpikir. “Terus kenapa nelponnya ke gue?”
“Karena cuma lo yang bisa bujuk Iwaizumi buat keluar dari sana. Kalau gue nelpon langsung ke dia, yang ada malah langsung di-reject nanti.”
“Oh, ya udah, nanti coba gue tanya ke orangnya.”
“Sip! Gitu, dong. Thanks, Oik. Ditunggu, loh!”
Setelah panggilan itu terputus, Iwaizumi lantas menoleh padanya dan langsung bertanya tanpa basi-basi. “Mau ngapain si Matsukawa?”
“Dia ngajakin kamu keluar nih, buat makan di restoran yang biasa itu,” jawab Oikawa sembari memasukkan handphone-nya kembali ke dalam kantung.
“Ngajakin aku? Aku doang?” Iwaizumi bertanya dengan kening berkerut dalam mendengar subjek yang digunakan Oikawa dalam pernyataannya. “Lah, emang dia nggak ngajakin kamu juga?”
“Ngajak sih, tapi kalau aku kayaknya nggak bisa ikutan. Besok ada jadwal reading script pagi-pagi, jadi aku nggak boleh bangun telat.”
“Tinggal balik cepet aja nanti bareng aku, kan?”
Oikawa menggeleng, tatapannya sengaja dibuat lebih galak. “Kamu tuh butuh hiburan. Harus keluar buat menghirup udara segar. Kamu pikir sehat kalau ada di dalam ruangan tertutup kayak gini terus? Jadi, lama-lamain aja main di luarnya. Kalau perlu, lanjutin kerjaannya besok lagi aja.”
Iwaizumi terlihat akan langsung melontarkan protes, namun begitu melihat tatapan Oikawa yang semakin dikeraskan, pria itu lantas mengatupkan bibir dengan wajah menimbang-nimbang.
“Ayolah, aku yakin kamu butuh refreshing biar otak kamu seger lagi. Terus nanti pasti bakalan dapet inspirasi buat lanjutin lirik-lirik ini. Dan kalau semuanya cepet selesai...” Oikawa menggantungkan kalimatnya, lalu maju dan memeluk pria itu dengan erat. “Nanti kita bisa punya waktu buat pacaran yang lebih lama, hehe.”
Iwaizumi balas memeluknya diikuti hela napas yang terdengar pasrah. Namun Oikawa bisa merasakan pria itu tersenyum saat mencium puncak kepalanya. “Oke, fine.”
Oikawa bersorak kecil karena rencananya membujuk pria itu berhasil. Sebenarnya, ia sedikit sedih karena tidak bisa menghabiskan waktu lebih lama lagi dengan kekasihnya. Tapi ia tahu, Iwaizumi lebih membutuhkan ini sekarang. Lagi pula, mereka berdua masih memiliki banyak waktu nanti setelah jadwal masing-masing mulai melonggar.
Setelah mengucapkan salam perpisahan (diikuti Iwaizumi yang menjatuhkan ciuman di wajahnya berulang kali sampai Oikawa tertawa karena kegelian) dan pria itu menghilang dari balik pintu studio, Oikawa meregangkan badannya sambil menguap besar-besar. Ia membereskan sedikit kertas-kertas berserakan yang ada di atas meja agar setidaknya saat Iwaizumi kembali nanti, pria itu tidak akan dipusingkan dengan kekacauan yang ditimbulkan dirinya sendiri. Iwaizumi pun tadi telah memberikan kunci studionya agar nanti saat Oikawa pergi, ia bisa menitipkannya kepada resepsionis.
Oikawa tersenyum kecil melihat hasil pekerjaan Iwaizumi selama beberapa minggu terakhir. Ia paham betul bagaimana perjuangan pria itu untuk sampai di sini— menjadi produser yang dikejar-kejar oleh banyak orang. Dan Oikawa tahu betul hasil kerja keras kekasihnya tidak pernah mengkhianati hasil mengingat lagu yang diproduseri pria itu pasti selalu berada di puncak tangga lagu.
Setelah memastikan tidak ada barang yang ketinggalan, Oikawa mengunci studio itu dan menyerahkan kuncinya pada resepsionis di lantai satu. Sebelum turun pun ia menghubungi manajernya, sehingga mobil yang akan membawanya pulang ke apartemen sudah siap di depan lobi.
Perjalanannya terasa begitu singkat. Mungkin karena rasa lelah perlahan mulai menguasai tubuhnya. Ia sendiri tidak memiliki waktu istirahat sejak pagi karena sudah disibukkan dengan berbagai jadwal pemotretan. Dan sekarang, tidak ada hal yang diinginkan Oikawa selain menghempaskan tubuh ke atas kasur dan langsung pergi ke ladang mimpi. Sepertinya memang ide yang tepat untuk tidak ikut ke ajakan Matsukawa karena tubuhnya sudah tidak sanggup lagi bergerak ataupun bersosialisasi.
Benar saja— begitu sampai di apartemen, Oikawa dengan asal langsung membuka sepatu dan jaketnya, lantas berjalan setengah linglung menuju kamarnya. Tanpa repot-repot mengganti baju, Oikawa langsung melempar tubuhnya ke atas kasur dan memejamkan mata.
Sebelum kesadarannya mulai terbawa ke alam mimpi, samar-samar ia teringat belum mengisi daya baterai gawainya yang tadi hampir habis. Namun dirinya sudah terlalu lelah untuk bangun sehingga Oikawa akhirnya membiarkan rasa lelah itu menenggelamkan kesadarannya. Oikawa berpikir, nanti juga pasti akan terbangun tengah malam— entah untuk minum atau sekadar pergi ke toilet.
Oikawa pun jatuh tertidur.
Rasanya ia baru tertidur selama beberapa detik, ketika tiba-tiba ada suara dan goncangan bertubi-tubi di bahunya. Oikawa membuka matanya dengan kaget, seolah-olah ada yang baru saja menyiramkan air dingin di atas kepalanya. Apakah ada gempa bumi?
“Kak! Bangun!”
Oikawa berusaha memfokuskan penglihatan dalam kegelapan kamarnya. Ia langsung mengenali sosok yang tiba-tiba membangunkannya tersebut, yaitu manajernya sendiri.
Dengan luar biasa bingung, Oikawa menatap pria yang lebih muda darinya itu. “Akaashi? Ngapain malem-malem ke sini?”
Bukannya bingung kenapa pria itu bisa masuk (karena Oikawa memang memberitahukan kode apartemennya kepada manajernya itu), tapi ia mempertanyakan apa yang menyebabkan pria itu sampai membangunkannya di tengah malam.
“Kak… Iwaizumi...”
Setelah itu, manajernya tidak berkata apa-apa lagi dan hanya menatapnya dengan ketakutan, kesedihan dan kekhawatiran yang bercampur jadi satu.
Oikawa mendadak takut untuk bertanya lebih jauh dan hanya terpaku di tempatnya. Ia memiliki firasat, ada kejadian buruk yang menimpa kekasihnya, dilihat dari ekspresi yang tergambarkan di wajah manajernya.
“Kita harus ke rumah sakit sekarang, Kak.”
“Iwa— Hajime… kenapa?” Suaranya sudah bergetar duluan, bahkan sebelum mengetahui apa yang benar-benar terjadi pada kekasihnya. Jantungnya memompa cepat untuk alasan yang belum ia ketahui.
“Nanti aku kasih tau di jalan. Tapi kita harus pergi sekarang.” Manajernya itu berbicara dengan nada tergesa, sehingga otomatis Oikawa langsung menyingkirkan selimut dan bangkit.
Mereka baru sampai di depan pintu apartemen, Oikawa pun sedang memakai sepatunya, ketika ada nada dering yang terdengar dari handphone milik sang manajer.
Dengan cepat, manajernya menerima panggilan itu. Wajahnya kembali menampilkan ekspresi khawatir selagi berbicara dengan orang — entah siapa — di seberang sana. Sedangkan Oikawa hanya terdiam tanpa tahu harus berbuat apa. Lidahnya terasa kelu dan otaknya kosong.
“Iya, ini kita udah mau jalan. Paling nyampe sekitar jam—”
Dalam sekejap, manajernya berhenti berbicara. Terjadi keheningan yang sangat memekakkan telinga di dalam apartemen yang gelap itu. Oikawa tidak berani bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Tidak bisa juga, karena sekujur tubuhnya seperti berada di dalam balok es.
Manajernya lalu melepaskan benda elektronik itu dari telinganya. Perlahan, tangannya turun dengan suara-suara yang masih sedikit terdengar dari benda yang layarnya masih menyala tersebut. Namun manajernya hanya menatapnya dengan ekspresi yang Oikawa tak berani artikan maksudnya apa.
“Ada apa…?” Akhirnya Oikawa membuka suara, meskipun hanya berupa bisikan. Ia ingin manajernya mengatakan sesuatu, apa pun itu, karena keheningan yang ia rasakan kini mulai membuatnya sesak.
Namun saat pria itu membuka mulutnya, Oikawa langsung menyesali keinginannya.
“Iwaizumi meninggal, Kak.”
Menurut rekaman CCTV, ada pengemudi truk yang sedang mabuk menghantam mobil yang dikendarai Iwaizumi pada pukul sebelas malam.
Oikawa paham benar betapa tingginya risiko kecelakaan antar kendaraan di kota metropolitan sebesar Tokyo, apalagi jika penyebabnya adalah pengemudi yang sedang mabuk. Ia hanya tidak menyangka, nasib naas itu harus menimpa Iwaizumi, kekasihnya sendiri.
Kecelakaan itu terjadi saat Iwaizumi berada dalam perjalanan pulang menuju apartemen setelah pertemuannya dengan Matsukawa dan beberapa teman lain. Pertemuan yang Oikawa paksakan untuk didatangi pria itu. Ia tahu, ini di luar kendalinya dan sama sekali bukan kesalahannya. Namun Oikawa tidak bisa menyangkal ada sebagian dalam dirinya yang merasa bersalah atas kejadian tersebut.
Sepanjang hari itu, Oikawa menghabiskan waktunya di rumah sakit bersama Matsukawa dan yang lain. Takahiro dan Sugawara beberapa kali ikut meneteskan air mata, sedangkan Matsukawa dan Daichi hanya bisa berusaha untuk tegar dan sesekali menghiburnya dengan berkata, nggak apa-apa, semua bakal baik-baik aja.
Tapi apa yang akan akan baik-baik saja?
Oikawa sudah terlalu lelah untuk menangis. Matanya terasa begitu bengkak dan berat. Agensinya pun akhirnya bertindak dan memutuskan untuk memundurkan segala jadwal aktivitasnya, termasuk rencana script reading-nya pagi itu. Media pun langsung dihebohkan dengan berita Iwaizumi yang meninggal karena kecelakaan. Ratusan, bahkan ribuan ucapan belasungkawa langsung membanjiri media sosial kekasihnya. Berita tentang mereka yang selama dua tahun ini menjalin hubungan pun ikut tersiarkan, tapi Oikawa sudah tidak menaruh peduli.
Entah bagaimana, tetapi dengan sisa kekuatannya, Oikawa akhirnya bangkit berdiri meminta Akaashi untuk mengantarkannya ke studio Iwaizumi. Ia tidak ingin berada di rumah sakit itu lagi, tapi ia juga tidak ingin berada sendirian di apartemennya. Tanpa mengatakan apa pun, manajernya setuju dan langsung membawanya pergi diiringi tatapan iba sahabat-sahabatnya.
Dan di sinilah sekarang Oikawa berada— di depan pintu studio pria itu dengan kunci yang digenggamnya sangat erat.
Saat membuka pintu studio, Oikawa setengah berharap akan menemukan pemandangan yang biasa— Iwaizumi duduk di kursi sambil berkonsentrasi menciptakan melodi-melodi melalui komputer, atau memenuhi kertas berisikan lirik lagu dengan tulisan cakar ayamnya.
Tubuhnya seperti robot tak bernyawa yang bergerak sendiri menghampiri meja dengan tumpukan kertas yang baru dirapikannya kemarin malam. Ia menyentuh kertas-kertas itu, sambil mengingat-ingat Iwaizumi yang terlihat begitu lelah, tetapi juga antusias saat memperlihatkan kumpulan lirik lagu yang telah dibuatnya.
Oikawa memperhatikan meja pria itu— berisi kehidupan kekasihnya selama beberapa minggu terakhir saat mereka tidak bisa bertemu. Rasa sedih yang menjerat hatinya terasa begitu kuat. Saking kuatnya, ia sampai tidak sanggup untuk mengeluarkan air mata dan hanya menerima perasaan kosong yang mengisi relung hatinya saat ini.
Oikawa menyapu pemandangan di atas meja, sampai netranya tiba-tiba menangkap pigura kupu-kupu yang ditemukannya kemarin di balik tumpukan kertas.
Tanpa sadar, tangannya bergerak ke arah pigura itu dan mengamatinya sekali lagi dengan pandangan kosong. Mendadak, seakan ada efek blur yang menghalau pandangannya sehingga ia tidak bisa menatap sekelilingnya dengan begitu jelas. Ia pikir itu karena efek pusing yang menjera setelah seharian tidak tidur dan menangis di rumah sakit. Namun beberapa detik kemudian, segalanya kembali jelas seperti sedia kala seakan tidak ada yang terjadi.
Oikawa mengerjapkan matanya dengan bingung. Rasanya untuk sesaat, ia tidak seperti sedang berada di tempat itu.
“Tooru?”
Oikawa pikir, jantungnya baru saja jatuh ke dasar perut saat mendengar suara yang mengisi gendang telinganya beberapa detik setelah ia sadar. Kepalanya ditolehkan begitu cepat karena suara yang baru saja masuk ke indra pendengarannya terdengar amat sangat familier.
Iwaizumi.
Oikawa hampir tersedak salivanya sendiri saat mendapati siapa yang ada di depannya. Penampilan pria itu masih sama seperti malam sebelum kecelakaan terjadi— kantung mata tebal, rambut berantakan, jaket abu-abu pemberiannya, juga tatapannya. Dari sudut mata, Oikawa bisa melihat kertas-kertas yang telah ia rapikan, kembali berserakan seperti malam sebelumnya.
Semua sama persis seperti malam itu.
Oikawa mulai bertanya-tanya apakah ini halusinasinya semata akibat kurang tidur atau akhirnya dia bisa melihat hantu, ketika Iwaizumi yang ada di hadapannya membuka mulut untuk bersuara lagi.
“Kamu habis ngelamun, ya?”
“A-aku...” Oikawa tidak bisa menyelesaikan perkataannya. Baginya, ini semua terlalu sulit untuk diproses. Ia sendiri tidak berani berkedip atau menyentuh sosok di hadapannya karena takut pria itu akan langsung lenyap. Kalau memang ia sedang bermimpi, lebih baik dirinya tidak terbangun sama sekali.
Kalau perlu, sekalian saja ia ikut mati.
“Kenapa, sih? Kok diem? Kamu sakit, ya?”
Oikawa menelan salivanya mendengar suara Iwaizumi yang amat sangat jelas. Ekspresi pria itu ikut berubah melihat dirinya yang terlihat sangat kebingungan. Selagi Oikawa mengedarkan pandangannya dengan linglung ke sekeliling ruangan, tidak sengaja matanya menangkap jam yang terpasang di dinding. Jarum jam itu menunjukkan waktu yang sama persis saat kemarin dirinya mendatangi studio sang kekasih.
“Ini… hari apa?” tanyanya dengan suara yang tak lebih dari sebuah bisikan.
“Hari Jumat. Tooru, kamu kenapa, sih? Kayanya yang lebih butuh makan kamu deh, bukan aku. Wajah kamu pucat banget soalnya,” jawab pria itu dengan kerutan di kening yang semakin dalam. Pria itu pun terdengar lebih khawatir dibandingkan sebelumnya.
Perlahan, gerigi di dalam otaknya mulai berputar. Oikawa semakin yakin bahwa ini bukan halusinasi, mimpi atau akibat dirinya yang berubah jadi gila. Oikawa menatap pigura kupu-kupu yang masih berada di tangannya, lalu sebuah teori gila terpikirkan begitu saja.
Oikawa masih berusaha menyangkal. Bisa saja ini memang permainan otaknya yang sudah terlampau lelah atau hatinya yang begitu rindu. Namun Oikawa yakin, pigura itulah yang membawanya kembali ke masa ini— saat semua masih terlihat sama, yaitu sebelum Iwaizumi pergi dan direnggut darinya oleh sang pencabut nyawa.
Singkatnya, Oikawa kembali ke masa lalu.
Dengan gerakan teramat pelan, Oikawa meletakkan pigura itu di atas meja dan menghirup napas dalam-dalam. Oikawa berusaha memantrai dirinya sendiri bahwa ia bukan tiba-tiba berubah jadi gila. Namun rasanya, ia sendiri hampir gila memikirkan kejadian yang sungguh mustahil dijelaskan dengan segala ilmu pengetahuan alam yang ia tahu.
“Kamu nggak apa-apa?”
Oikawa menatap kekasihnya yang masih hidup di hadapannya. Rasanya ia seperti baru ditampar dengan kenyataan bahwa sekarang Iwaizumi ada di sini dan terlihat sangat hidup.
Sebuah pikiran tiba-tiba melintas di otaknya.
Mungkin, kalau begitu, dirinya bisa menyelamatkan Iwaizumi.
Kalau bukan untuk melakukan hal itu, lantas kenapa ia bisa terlempar kembali ke masa lalu? Pastilah ini permainan gila takdir yang menginginkannya untuk mengubah nasib Iwaizumi agar tidak mengalami kejadian yang sama seperti sebelumnya.
Oikawa menganggap ini adalah kesempatannya.
“Nggak apa-apa, cuma sedikit capek aja kayaknya,” jawab Oikawa sembari mengulas senyum tipis.
Tiba-tiba, ada suara dering handphone yang memenuhi ruangan tersebut. Oikawa meraba kantungnya saat merasakan benda itu bergetar. Padahal seingatnya, ia belum mengisi daya baterai benda elektronik itu sejak kemarin dirinya tertidur. Kenyataan itu membuatnya semakin yakin bahwa ia benar-benar telah kembali ke masa lalu.
Berusaha untuk bersikap tenang, Oikawa mengeluarkan handphone-nya dari dalam kantung. Ia melihat sekilas nama Matsukawa tertera di layar dan menelan saliva dengan gugup.
“Halo? Matsukawa?”
“Hai, Oik! Lagi di mana lo? Lagi sama Iwaizumi, nggak?”
“Iya, bener. Kenapa?” tanya Oikawa, sementara otaknya bersikap untuk melontarkan jawaban lain.
“Nah, kebetulan. Dateng sini ke restoran yang biasa. Ada gue, Hanamaki, Sugawara sama Daichi juga.
“Mau ngapain?”
“Makan-makan, dong! Kasian itu pacar lo pasti hidupnya di studio terus, kan? Sini, ajak dia keluar sekali-sekali biar nggak jadi jamur di sana!”
Oikawa melirik Iwaizumi yang sudah kembali berkutat dengan kertas-kertas, sebelum akhirnya menjawab. “Duh, maaf banget, kayaknya Hajime nggak bisa, deh. Dia capek banget soalnya, beberapa hari ini belum istirahat. Lain kali aja gimana?”
Dari sudut matanya, ia melihat Iwaizumi menghentikan pekerjaannya dan menoleh padanya dengan satu alis yang terangkat.
“Yah, serius nih, Oik?”
“Iya, serius. Dua rius malah. Lagian gue mau berduaan aja sama Hajime. Udah lama nggak ketemu dia juga.”
“Dih, TMI deh lo. Ya udah deh, kalau gitu, lain kali harus bisa ya, lo berdua! Udah lama nih kita nggak ngumpul.”
“Iya, gampang itu, nanti atur aja.”
“Oke deh, salam buat Iwaizumi! Daah!”
Setelah Oikawa memutuskan sambungan tersebut, Iwaizumi langsung bertanya dengan sudut bibir yang sedikit terangkat. “Matsukawa ngajak ketemuan?”
“Iya, ada Takahiro, Sugawara sama Daichi.”
Iwaizumi memutar kursi sampai benar-benar menghadap Oikawa, lantas bertanya lagi dengan nada sedikit bingung. “Aku pikir kamu bakal maksa aku buat keluar kayak biasanya? Kok tumben ini nggak?”
Perlahan Oikawa berdiri dan menghampiri Iwaizumi dengan senyum yang terkulum. “Kita udah lama nggak ketemu, masa langsung diganggu sama orang lain? Tadi katanya kangen juga sama aku?”
Saat sudah benar-benar berada di hadapan Iwaizumi dan pria itu mendongakkan kepala untuk menatapnya, Oikawa dengan hati-hati mendudukkan diri di atas pangkuan kekasihnya. Otomatis, pinggangnya langsung direngkuh untuk menjaga keseimbangan.
“Lagian...” Oikawa berbisik pelan di telinga Iwaizumi. “Aku bisa nemenin kamu istirahat di sini.”
Oikawa lah yang menjadi pertama menghapus jarak di antara mereka. Ia mencium bibir sang kekasih dan langsung disambut dengan intensitas yang sama. Tangan Oikawa melingkari leher Iwaizumi dan pria itu balas menariknya semakin dekat sampai tidak ada jarak lagi yang tersisa.
Saat keduanya melepaskan diri untuk mengambil napas, Oikawa bertanya dalam bisikan rendah dan menggoda. “Studio kamu soundproof, kan?”
Iwaizumi langsung mencondongkan tubuh dan memagut bibirnya dalam sebuah ciuman rakus. Oikawa tersenyum saat merasakan bibir pria itu bergerak di atas bibirnya dan menjawab dalam oktaf begitu rendah.
“Totally.”
-to be continued
@fakeloveros