Drunk Call

Keheningan malam sudah menjadi sahabatnya sejak beberapa hari terakhir— ralat.

Semenjak kepergian Oikawa.

Dan selama beberapa hari itu pula, ia tidak pernah berhenti menyibukkan diri dalam tumpukan pekerjaan yang berkaitan dengan klan. Sesungguhnya, meskipun tangan dan matanya sibuk bekerja, otaknya tak pernah berada di tempat yang sama.

Selalu. Setiap malam. Tanpa jeda— benaknya justru akan dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan seperti, apa Tooru udah makan? Dia ngapain aja hari ini? Apa dia bisa tidur nyenyak?

Apa hanya dirinya yang merasa kehilangan?

Iwaizumi berusaha tampil seperti biasa di depan anggota yang lain. Namun ia tahu, dari tatapan iba Atsumu, mereka tidak bisa dibohongi. Pemimpin mereka merindukan soulmate-nya—

dan dirinya pun tidak menampik hal tersebut.

Jadi bayangkan keterkejutannya saat layar gawainya yang dibiarkan membisu di atas meja, mendadak menyala dan menampilkan satu nama yang dirindukannya setengah mati.

Iwaizumi menatap tak percaya layar benda persegi panjang itu, lalu buru-buru mengangkatnya sebelum ia terbangun dari mimpi.

“Halo?” tanyanya, masih sedikit terkejut dicampur rasa bingung.

Terdengar bunyi denting gelas, umpatan kasar dan benda berisik lainnya sebelum suara yang sudah sangat dihapalnya menyapa indra pendengarannya.

“Hajime? Ugh—”

Iwaizumi tersentak. Matanya menelusuri ruangan kerjanya dengan bingung. Bertanya-tanya dalam hati apakah dia memang sedang bermimpi sekarang.

“Tooru?” sebutnya hati-hati. Terdengar suara berisik lainnya sebelum ada tawa kecil yang menyusul. Lantas, seperti ada bunyi klik di dalam otaknya. “Kamu... mabuk?”

“Kenapa? Nggak boleh?” tantang suara di seberang sana tiba-tiba. Suara Oikawa memang masih terdengar jelas, tetapi Iwaizumi tahu kesadaran pria itu telah sepenuhnya dikuasai alkohol. Karena kalau tidak, mana mungkin sang Omega menghubunginya duluan seperti ini.

“Kamu di mana? Sendirian? Ini hampir jam 3 pagi dan kamu... mabuk?” tanyanya sedikit tak habis pikir.

Dari seberang sana, Oikawa mengeluarkan suara cegukan keras sebelum menjawab dengan nada yang mengalun santai.

“Gue di kamar kok, sendirian. Emang kenapa mabuk jam 3 pagi, hah? Ada di peraturan lo kalau itu nggak boleh?” Suara pria itu terdengar lebih lantang sekarang. “Kalau nggak boleh, ya udah gue tutup—”

“Jangan.” Bibirnya bergerak duluan bahkan sebelum otaknya memproses apa yang dikatakannya. “Jangan... ditutup. Aku mau denger suara kamu.” Iwaizumi menghela napas, kemudian menyenderkan punggungnya dengan lelah di sandaran kursi. “Tapi kenapa kamu mabuk begini?”

Ada keheningan beberapa sekon sebelum Oikawa bertutur dalam bisikan rendah.

“Kepala gue... rasanya aneh.”

“Aneh? Aneh gimana? Kamu sakit?”

“Nggh... nggak tau, tapi kalau jalan tuh... ke mana-mana... gue kayak ngeliat atau denger suara lo.” Ada jeda sebentar. “Aneh.”

Iwaizumi tak langsung menjawab. Sibuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang karena jawaban polos tersebut. Seandainya boleh, ingin ia tafsirkan jawaban Oikawa sebagai rasa yang ia alami juga seminggu terakhir ini.

“Aku juga kangen sama kamu,” balasnya setelah mengumpulkan keberanian.

“Kangen?” Suara Oikawa terdengar sangat bingung. “Emang itu namanya kangen? Emang lo ngerasain juga?”

“Setiap hari.”

“Oh.” Iwaizumi bisa membayangkan Oikawa kini tengah berpikir keras dengan kening yang berkerut sedikit dan bibir yang dimajukan. “Ada obatnya nggak, ya?”

Iwaizumi tertawa pelan. “You tell me.”

Karena kalau ada, mana mungkin dia merasa setersiksa ini sekarang.

Terdengar gumaman panjang dari sang Omega sebelum ucapan pria itu selanjutnya mengejutkan Iwaizumi.

“Ceritain sesuatu, dong!”

“Cerita apa?”

“Apa aja! Gue lagi bosen, nih. Lagian selama ini lo jarang banget cerita ke gue.” Ucapan Oikawa terdengar sedikit menuduh hingga Iwaizumi merasa sedikit bersalah.

“Soalnya hidupku nggak ada yang menarik...”

“Kalau gitu...” Oikawa bergumam panjang. “Kasih tau warna kesukaan lo aja!”

Mau tak mau, sudut bibirnya terangkat sedikit mendengar permintaan tersebut.

“Cokelat. Aku suka warna cokelat.”

Ada tawa keras yang menggelegar di seberang sana sampai tanpa sadar Iwaizumi pun ikut tersenyum.

“Apa lo... suka warna cokelat karena wangi lo kayak cokelat??” tanya pria itu di sela-sela tawanya.

“Anggap aja begitu,” jawabnya singkat, meskipun yang ada di bayangannya sekarang justru manik cokelat susu milik pria yang masih terkekeh pelan nun jauh di sana. “Mau nanya apa lagi?”

“Hmm... kalau hobi?”

“Olahraga... kayaknya.”

“Kok kayaknya, sih? Kalau makanan kesukaan?”

“Apa aja, aku nggak pilih-pilih, kok.”

Iwaizumi merasa lebih rileks sekarang. Mungkin ini pertama kalinya mereka berbicara begitu santai. Yang kurang hanya keberadaan pria itu yang jauh darinya.

Selanjutnya, Oikawa menanyakan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang dijawabnya dengan sabar. Beberapa kali pria itu sempat tertawa lagi akibat jawabannya yang terdengar biasa-biasa saja. Namun Iwaizumi tak pernah melontarkan protes asalkan tawa pria itu terus terdengar.

Saat jam hampir menunjukkan pukul empat lebih lima belas, suara Oikawa terdengar semakin mengantuk. Pria itu bahkan sudah menguap lebih dari tiga kali sebelumnya.

“Kamu mau tidur sekarang?”

“Satu pertanyaan lagi!”

“Oke, tapi habis ini kamu tidur, ya.”

Tangan Iwaizumi terjulur untuk membereskan beberapa dokumen yang berserakan di atas meja sementara Oikawa mengeluarkan suara-suara berpikir yang membuatnya tak berhenti tersenyum. Kemudian terdengar suara oh pelan sebelum dirinya dikejutkan dengan pertanyaan—

“Apa nama kontak gue di HP lo?”

Setidaknya itu cukup mengejutkan sampai Iwaizumi menghentikan gerakannya dan terdiam cukup lama.

“Kenapa? Kok diem? Pasti dinamain yang aneh-aneh, ya?”

Cariño.”

“Hah?”

“Aku namain kamu Cariño di HP-ku.”

“Kok... apa tuh tadi? Emang itu bahasa apa?” Pertanyaan itu terlontar diikuti suara Oikawa yang menguap lebar dan derit kasur. Iwaizumi berasumsi, pria itu sudah bersiap untuk tidur.

“Bahasa Spanyol,” jawabnya singkat sambil mematikan komputernya.

“Spanyol?” Oikawa menguap lagi. “Lo... bisa ngomong Spanyol?”

“Dulu pernah belajar sebentar sebelum stay di sana buat salah satu misi klan.”

Hening. Tak ada respons.

“Tooru? Udah tidur, ya?”

”....lum.” Jawaban Oikawa terdengar sedikit teredam. ”...mang artinya apa?”

Iwaizumi membiarkan beberapa detik berlalu sampai terdengar suara tarikan napas teratur dari seberang. Setelah memastikan Oikawa sudah tertidur, barulah dirinya menjawab.

“Sayang.”

Iwaizumi tersenyum pada dirinya sendiri. Membayangkan soulmate-nya tertidur dengan gawai yang masih menyala dan menempel di dekat telinganya. Seandainya saja dia bisa melihat pemandangan itu secara langsung, mungkin akan diabadikan olehnya.

“Artinya sayang.”


Ugh... mood-ku sempet jelek banget tadi sore, terus ada masalah (?) juga makanya sempet gembokan. Tapi habis nulis ini (sama jajan), dan mood-ku langsung naik lagi wkwkw semoga kalian juga seneng bacanya. Anggap aja ini part filler~

@fakeloveros