An Eye for an Eye
Malam itu, Oikawa tidak bisa tidur.
Ia sudah membolak-balikkan tubuh, bahkan mengambil posisi paling ajaib yang pernah dicobanya selama berusaha terlelap. Tetapi hasilnya tetap nihil— matanya tak mau menutup sama sekali dan yang terbayang hanya penjelasan Atsumu soal kemungkinan penyerang klan mereka.
Dan hubungannya dengan Iwaizumi.
Kalau benang yang disambungkannya benar, maka orang yang selamat dari Klan Azumane itu sedang membalaskan dendam soulmate-nya yang terbunuh. Lantas, kemungkinannya ada tiga;
orang itu ingin membunuh Iwaizumi,
membunuh dirinya,
atau bahkan membunuh mereka berdua sekaligus.
Oikawa tidak bisa memilih mana yang lebih baik.
Sebenci-bencinya ia terhadap sang Alpha yang sudah seenaknya pergi begitu saja, hati kecilnya mengatakan pria itu memiliki alasan. Kemungkinan, Oikawa menebak, Iwaizumi merasa bersalah.
Mungkin itu jugalah penyebab dia tidak bisa membenci Iwaizumi sepenuhnya. Karena diam-diam, Oikawa pun masih berharap.
Oikawa tidak berani mengatakannya pada Alisa ataupun Kageyama— tahu benar yang akan diterima selanjutnya hanyalah ceramah panjang lebar atau ejekan mengenai betapa bodoh cara berpikirnya itu. Bisa saja kan ternyata Iwaizumi benar-benar meninggalkannya? Tetapi untuk sekarang, biar saja mereka menganggap dirinya luar bisa tersiksa (walaupun ini memang benar) atas kepergian pria itu. Mereka tidak perlu tahu bahwa dirinya bahkan sudah ada niatan untuk memaafkan pria itu seandainya suatu hari Iwaizumi muncul di depan pintu rumahnya dan berlutut memohon maaf.
Oikawa mengeluarkan tawa pahit. Sekarang ia mengerti maksud perkataan yang menyebutkan bahwa soulmate bisa menjadi kekuatan sekaligus kelemahan seseorang.
Meski sesungguhnya, ia hanya ingin agar mereka berdua bisa menjadi kekuatan masing-masing.
Dengan angan-angan yang entah bisa tercapai atau tidak itu, Oikawa pun terlelap ke dalam alam bawah sadar.
Sesuatu membangunkannya.
Bukan yang terbangun tiba-tiba seperti disiram air dingin, melainkan ada keanehan yang tubuhnya rasakan, lalu perlahan mengirim sinyal ke otaknya sampai terbangun.
Oikawa mengerjapkan mata— otaknya seakan berteriak agar ia segera waspada. Namun kantuk yang masih tersisa hanya mampu membuatnya mengerjap dalam kegelapan kamar.
Mendadak dari sudut mata, Oikawa menangkap gerakan di sudut kamar.
Semua terjadi begitu cepat— hanya dalam satu kedipan mata dan tiba-tiba sudah ada beban berat yang menahan tubuhnya disertai moncong pistol yang mengarah di pelipis.
Oikawa baru ingin melawan ketika ada suara pria menyela aksinya.
“Bergerak atau teriak sedikit aja, gue nggak akan segan bunuh lo sekarang juga.”
Oikawa terdiam— bukan karena ketakutan akan ancaman tersebut, melainkan kecurigaannya atas identitas pria asing yang ada di kamarnya.
“Apa lo… dari Klan Azumane?”
Terdengar suara dengus pelan sebelum tubuhnya semakin ditekan. Pria itu tidak hanya memiliki badan yang besar, tetapi juga tenaga yang kuat sehingga Oikawa tidak bisa menggerakkan persendiannya barang seinci pun. Ia memicing dalam kegelapan, berusaha mendapati ekspresi sang penyerang.
“Dari Klan Azumane? Gue Azumane sendiri, Oikawa Tooru. Gue yang harusnya jadi penerus klan itu sebelum semuanya diambil sama klan punya soulmate lo yang berengsek.”
Jawaban pria itu terdengar begitu penuh kebencian. Dan sesusungguhnya, Oikawa tidak bisa sepenuhnya menyalahkan setelah mengetahui kebenarannya.
“Mau apa lo ke sini? Mau bunuh gue?” tanyanya tanpa terdengar getir.
Pria itu tertawa mengejek. “Bukan sekarang. Nggak seru kalau lo mati sendirian kayak gini cuma di depan mata gue. Harus ada orang lain yang liat langsung gimana proses kematian lo nanti.”
“Lo mau bunuh gue di depan siapa?”
Pertanyaan retoris, tentu saja.
Bahkan dalam kegelapan, Oikawa tahu pria itu tengah mengulas senyum lebar.
“Siapa lagi? Lo harus mati di depan soulmate lo sendiri, sama kayak yang dulu gue alami. An eye for an eye, no?”
Oikawa menggertakan gigi— geram dengan pernyataan tersebut sekaligus frustrasi karena tidak ada yang bisa dilakukannya sekarang.
“Terus? Gimana caranya lo bawa dia ke depan gue? Gue aja nggak tau sekarang dia ada di mana,” jawabnya dengan napas yang sedikit memburu— sedikit bersyukur dengan kepergian pria itu.
“Gampang. Lo pergi ke alamat yg gue tulis di sini.” Azumane mengeluarkan secarik kertas dan menempatkannya di sisi kepala Oikawa. “Sendirian. Jangan kasih tau siapa-siapa. Kalau ngelanggar, gue bisa langsung nyuruh seseorang buat bunuh keluarga sama temen-temen lo yang ada di sini.”
Oikawa ingin berteriak sekencang-kencangnya— ingin menghapus senyum sombong dari wajah pria itu. Namun untuk memastikan keamanan keluarga dan teman-temannya sekarang, ia harus mengikuti permainan pria itu dan mengangguk.
“Good. Kalau gitu, sampai ketemu nanti, Oikawa. Inget, lo cuma bakalan mati di depan si berengsek Iwaizumi, jadi nggak perlu pake baju yang keren-keren. Santai aja, oke?”
Azumane lantas menepuk pipinya pelan dengan gaya merendahkan. Pria itu lalu bergerak cepat di dalam kegelapan dan menghilang di balik jendela kamarnya yang ternyata sudah terbuka lebar— entah sejak kapan. Dengan napas yang tersengal, Oikawa buru-buru bangkit dan melangkah ke depan jendela.
Tetapi pria itu sudah tak bisa ditemukan di mana pun.
“Fuck.”
@fakeloveros