Fire on Fire (part 1)
CW // blood, violence, harsh words, using of guns
Jangan panik. Jangan panik. Jangan panik.
Oikawa terus merapalkan mantra itu di dalam kepala sementara tangannya yang mengontrol kemudi mengarahkan roda mobil ke lokasi yang ditulis di secarik kertas. Entah sudah berapa kali dirinya memandangi kertas itu seharian ini sambil memikirkan strategi terbaik, hingga sekarang alamat yang tertera sudah berada di luar kepalanya.
Setidaknya hal yang membuatnya bisa merasa tenang sedikit adalah kodenya yang ditinggalkan untuk Alisa. Oikawa khawatir seandainya ia benar-benar diawasi. Ia tentu tidak bisa menyampaikan kode sedang berada dalam bahaya secara terang-terangan. Untungnya Oikawa teringat dengan kode yang pernah mereka buat meski waktu itu niatnya hanya bercanda. Siapa sangka, tiba juga saat kode itu akhirnya berguna. Dan Oikawa yakin, Alisa pasti langsung paham dan akan menyampaikannya juga pada Kageyama.
Sekarang, ia tinggal menjalankan peran sebagai umpan karena entah kenapa perasaannya mengatakan bahwa Iwaizumi akan datang malam ini begitu mengetahui lokasinya.
Atau mungkin itu instingnya sebagai soulmate?
Tangannya yang memegang roda kemudi semakin dingin. Tentu dirinya tidak ingin mati malam itu. Belum. Masih ada urusan dengan sang Alpha yang harus diselesaikan. Dan jelas, Oikawa tidak akan membiarkan Iwaizumi pergi lagi jika sudah bertemu dengannya nanti. Oikawa akan memastikan hal itu.
Tapi Oikawa tidak tahu seberapa berbahayanya orang-orang Klan Azumane jika dirinya berani sedikit saja melawan. Apakah Azumane sendiri tipe yang tidak akan segan-segan membunuh? Seandainya begitu, sia-sia saja semua rencananya.
Oikawa bahkan tidak tahu apa rencana persisnya malam itu.
Dengan pikiran yang ikut mengelana, mobilnya tahu-tahu sudah keluar dari jalan tol dan memasuki daerah pinggiran yang tak seramai pusat kota. Oikawa mengikuti petunjuk GPS yang membawanya ke sebuah jalanan sepi dengan bangunan-bangunan yang terlihat seperti gudang besar di kanan kiri. Kawasan yang didatanginya begitu sepi dan gelap— sungguh lokasi yang tepat jika ingin membunuh seseorang.
Ternyata jalan kecil yang dilaluinya tak lama menemui buntu. Oikawa pun terpaksa menghentikan mobil dengan peluh yang semakin mengalir di kedua pelipis. Sebelum keluar, dirinya menarik napas panjang dan merapalkan satu mantra terakhir di dalam kepalanya.
Setelah membulatkan tekad, Oikawa pun melangkah keluar dari mobil.
Untungnya masih ada temaram cahaya dari beberapa lampu yang terpasang di dekat bangunan gudang-gudang itu sehingga ia tidak perlu berjalan dalam kegelapan total. Seolah ingin menambah suasana mencekam malam itu, bahkan tak ada bulan atau bintang yang menemaninya sama sekali.
Oikawa benar-benar merasa sendirian.
Ketika sudah melewati lima gudang besar dengan pintu dipenuhi karatan, barulah langkahnya terhenti. Seperti dalam film-film, di depannya ada sosok familier yang sudah menunggu kedatangannya dengan gaya begitu santai. Hanya saja—
pria itu sendirian?
“Gue nggak nyangka lo beneran dateng.”
Pria itu menyapa ketika Oikawa sudah berdiri persis di depannya dengan dipisahkan oleh beberapa langkah. Oikawa sendiri tak bergerak seincin pun saat suara berat itu memecah keheningan malam di antara mereka.
“Pasti lo bertanya-tanya sekarang kenapa gue sendirian,” ucap pria tinggi besar itu dengan seringai yang sedikit terhalangi oleh bayangan malam. “Anggota gue yang lain emang ada, tapi mereka sekarang lagi gue kasih tugas buat nyelesein urusan yang juga sama-sama penting di tempat lain.”
Oikawa menahan napas. Mendadak, perasaannya berubah tidak enak.
“Lo harus bersyukur udah dateng ke sini karena kalau nggak, mungkin lo udah mati terbunuh duluan sekarang di atas kasur lo yang empuk itu.”
Berengsek.
“Lo bilang kalau gue dateng sendirian ke sini... lo nggak akan ngelukain keluarga dan temen-temen gue...” Oikawa berusaha bersikap setenang mungkin meski yang ingin dirinya lakukan sekarang hanyalah menghapus seringai penuh kepuasan dari wajah pria di hadapannya. Jelas sekali apa yang dimaksud penerus Klan Azumane itu barusan.
“Oikawa, Oikawa...” Namanya disebut dengan nada bernyanyi. “Polos banget kalau lo beneran percaya. Pantesan aja ya, Iwaizumi ngelindungin lo banget sampai tuh orang nyuruh gue buat nggak macem-macem sama lo. Apa lo tau? Dia bahkan bilang rela dibunuh asal gue nggak nyentuh lo sedikit pun!”
Tawa menggelegar pria itu ditambah omongannya barusan lantas membuat Oikawa membeku di tempat seolah ada sebongkah besar balok es yang mengepungnya. Benaknya berusaha membuang jauh-jauh kemungkinan yang baru saja melintas di otaknya.
“Maksud lo... apa?”
Azumane hanya menyeringai, kemudian bersiul pendek dua kali— seperti tanda memanggil sesuatu, atau seseorang.
Tak lama, ada suara langkah kaki yang terdengar dari belakangnya. Oikawa segera membalikkan tubuh dengan waspada, namun gerakannya terhenti saat melihat pemandangan yang disajikan di depan netranya langsung.
Iwaizumi tengah diseret oleh dua orang. Awalnya Oikawa tidak yakin apakah itu Iwaizumi atau bukan karena wajahnya begitu babak belur. Sang Alpha pun terlihat kepayahan mengikuti langkah dua orang yang menariknya secara paksa dan mungkin akan terjatuh seandainya tidak dipegangi. Begitu jarak mereka tinggal tersisa sepuluh langkah besar, dua orang yang memegangi Iwaizumi langsung melepaskan begitu saja sehingga soulmate-nya jatuh terduduk di atas tanah yang keras dengan pasrah.
Bahkan untuk meringis saja Oikawa sudah tidak sanggup.
Tubuhnya mendadak lebih dingin dari sebelumnya. Tangannya kebas tanpa bisa merasakan apa pun. Persendian di kakinya tak bisa digerakkan sedikit pun seolah ada lem tikus yang saling mengeratkan. Matanya terpaku pada sosok sang Alpha yang hanya terduduk lemas tanpa tenaga. Oikawa ingin langsung meraih pria itu, tapi ia juga ingin segera menarik pistol yang disembunyikan untuk membunuh satu-satunya orang yang bertanggung jawab terhadap ini semua.
“Kenapa? Kaget ya, liat soulmate lo udah ada duluan di sini? Udah nggak berdaya gitu lagi. Lo nggak penasaran ceritanya gimana?” tanya Azumane yang kini mulai mendekatinya dari belakang. Oikawa beringsut menjauh secara refleks saat tangan pria itu tiba-tiba merangkul bahunya dari samping. Namun Azumane tak terlihat tersinggung sama sekali dan hanya mengangkat kedua tangan seraya tertawa terbahak-bahak.
“Oke, oke, gue paham Omega paling nggak suka disentuh sama Alpha lain... apalagi kalau Alpha itu udah mukulin soulmate-nya sampai kayak gini. Ya, kan? Gue juga nggak akan mau kok kalau Omega gue disentuh sama Alpha lain. Tapi sayang...”
Netra pria itu menggelap dengan kilat bengis saat melayangkan tatapan membunuh ke arah Iwaizumi yang masih tak bergerak sejengkal pul.
“Sayang, soulmate gue udah nggak ada di sini... atau di mana pun! Karena dia mati di tangan bajingan kayak lo!”
Azumane tiba-tiba berjalan menjauh darinya dan mendatangi Iwaizumi dalam beberapa langkah lebar. Pria itu menendang soulmate-nya yang tak melawan sedikit pun, bahkan kembali menjatuhkan pukulan bertubi-tubi di wajah sang Alpha yang sudah babak belur tersebut.
Oikawa terkesiap sebelum ikut maju dengan niat menghentikan Azumane. Namun baru beberapa langkah dia ambil, dua orang pengawal yang tadi menyeret Iwaizumi langsung mengarahkan moncong pistol ke arahnya.
Oikawa lantas berhenti dengan netra yang membeliak terkejut. Kedua tangannya dikepal di kedua sisi tubuh dengan tubuh bergetar hebat akibat menahan amarah sementara suara pukulan terus mengisi kekosongan. Meski begitu, ada juga rasa sakit yang menghantam dadanya seperti ombak kencang hingga Oikawa harus menggigit bibirnya kuat-kuat agar tidak mengeluarkan isak tangis. Sekujur tubuhnya seperti mendorong agar dia segera bersimpuh dan memohon agar Iwaizumi tidak disakiti lebih jauh. Lebih baik dirinya saja yang disiksa. Jangan soulmate-nya. Jangan Iwaizumi.
Bibirnya bergerak lebih cepat dibandingkan gerigi di otaknya.
“Lo mau balas dendam, kan?”
Azumane berhenti seperti ada pedal rem yang terinjak. Dengan napas yang terengah dan wajah seperti kerasukan, pria bengis itu menoleh ke arahnya. “Apa?”
“Gue tanya... lo mau bales dendam, kan? Karena soulmate lo ikut mati pas diserang klan mereka.” Oikawa menarik napas dalam sebelum melanjutkan. “Jadi kenapa lo mukulin dia? Kenapa lo nggak bales dendam dengan bunuh gue sekarang juga? Bukannya itu yang lo mau? Biar kita impas?”
Azumane mendengus keras, lantas berdiri tegak dan mulai menghampirinya dalam langkah lambat.
Untuk pertama kalinya, Iwaizumi mulai bergerak. Netra hijau itu sekilas terbuka lebar dalam kepanikan.
“Nggak! Tooru—”
Namun gerakan pria itu segera ditahan oleh dua orang yang berdiri setia seperti anjing pengawas. Oikawa menggertakan gigi dan menahan diri agar tidak mengindahkan panggilan maupun tatapan memohon soulmate-nya. Ia tidak boleh goyah sekarang.
Tidak di saat nyawa pria itu ikut menjadi taruhan.
Jadi matanya ikut menatap lurus Azumane yang semakin dekat menghampirinya.
“Emang itu yang gue pengenin. Tadinya.” Azumane kembali mengulas seringai jahat dan mengangkat tangan untuk menghalau poni yang terjatuh dari ikatan rambutnya. Buku-buku jari pria itu tak sengaja memperlihatkan darah yang berasal dari wajah Iwaizumi. Wajah sang Alpha semakin terlihat tak berbentuk dengan luka dan lebam di sana-sini.
Oikawa menancapkan kuku-kuku jari ke dalam telapak tangannya. Tidak memedulikan sakit yang mungkin telah merobek kulitnya sekarang.
“Tadinya?”
“Iya, tadinya. Tapi gue pikir... cara itu terlalu gampang, sedangkan gue mau liat kalian berdua tersiksa dulu. Jadi...” Azumane seolah ingin menambah efek dramatis dengan menggantungkan ucapannya. Pria itu tiba-tiba melirik ke bawah dan tersenyum semakin lebar. “Gimana kalau salah satu di antara kalian yang jadi penembaknya? Pake pistol yang lo bawa dan sembunyiin juga boleh. Gue izinin.”
Kalau tadi sekujur tubuhnya membeku, maka sekarang seluruh darah dalam pembuluhnya lah yang ikut berhenti mengalir. Oikawa yakin selama tiga detik penuh jantungnya sempat berhenti berdetak dan ia nyaris mencapai pintu neraka.
“Lo... bilang apa barusan?” bisiknya paksa di bawah napas yang tercekat. Jantungnya tak lagi berpacu dengan normal. Temponya terlalu cepat untuk ukuran manusia.
“Gue bilang,” Azumane menyebutkan per silabel seolah sedang berbicara dengan anak kecil. “Salah satu di antara kalian bisa pake pistol lo buat bunuh satu orang. Gue nggak peduli siapa, yang penting, salah satu harus mati malem ini di tangan soulmate kalian sendiri. Paham? Apa omongan gue barusan jelas?”
Saat dilihatnya Oikawa hanya terdiam di tempat dengan tatapan nyaris kosong, Azumane lantas menepuk-nepuk bahunya dengan gaya penuh keakraban.
“Gue yakin lo pasti bingung, jadi gimana kalau gue kasih waktu kalian berdua buat diskusi dulu nentuin siapa yang bakal mati di tangan siapa? Oke? Apa tiga menit cukup buat disuksi?”
“Nggak perlu.”
Saat akhirnya bisa menemukan lagi suaranya, Oikawa menyahut tanpa setitik pun emosi. Layaknya ombak yang sudah surut, kini hanya tersisa permukaan laut yang sangat tenang.
“Nggak perlu diskusi, gue yang bakal bunuh dia.”
Azumane bersiul panjang dengan ekspresi takjub selagi Oikawa menunduk dan mengeluarkan pistol yang dia sembunyikan dari awal keberangkatan. Sebelum Oikawa melangkah ke arah soulmate-nya, Azumane memperingatinya tajam.
“Kalau lo punya ide aneh-aneh atau semacamnya, bukan cuma gue, tapi dua orang itu juga nggak akan mikir dua kali buat langsung bunuh lo. Ngerti?”
Oikawa mengangguk tanpa berucap satu patah kata pun. Ia memantapkan langkah menuju Iwaizumi yang hanya diam seolah paham. Dalam jarak yang sudah hampir terhapus, mata mereka akhirnya beradu pandang.
Hijau dengan cokelat.
Cokelat dengan hijau.
Api dengan api yang saling melahap.
Saat sudah berada tepat di depan Iwaizumi, Oikawa berlutut untuk menyamakan level mereka. Pistol milik Kageyama sudah siap di tangannya dengan peluru yang terisi penuh.
Namun Oikawa hanya perlu satu untuk mengakhiri semuanya.
Saat itulah, Iwaizumi membisikkan sesuatu.
“Cariño...“
Pria itu terdengar sedih dan penuh penyesalan.
“Maaf, aku udah pergi ninggalin kamu...”
Oikawa tak berkedip. Tangannya yang memegang pistol sudah terangkat beberapa derajat.
“Tapi kalau salah satu di antara kita emang harus ada yang pergi, aku mau kamu yang tetap di sini.”
Sedikit lagi, dan moncong pistolnya tinggal ia arahkan ke titik vital pria itu.
“Jadi nggak apa-apa, cariño.”
Dengan bibir yang sedikit bergetar dan wajah yang menahan sakit, Iwaizumi mengulas senyum kecil.
“Kamu bisa bunuh aku sekarang.”
@fakeloveros