Jamais Vu (last part)


TW: major character death, accident, butterfly effect

Read the warnings carefully before you read! Thank you and... enjoy the ride.


Semua berjalan sebagaimana mestinya. Tidak kurang dan tidak lebih.

Beberapa minggu setelah kepergian Iwaizumi merupakan masa-masa terberat bagi Oikawa. Walaupun sangat sulit, ia berusaha mengikhlaskan kepergian kekasihnya— tahu bahwa Iwaizumi pasti tidak menginginkan dirinya jatuh ke dalam kesedihan untuk waktu yang lama.

Meskipun untuk beberapa waktu Oikawa harus bolak-balik ke psikiater demi menyembuhkan kesedihannya yang mendalam, tetapi ia bersyukur setidaknya ada teman-temannya yang terus menemani dan menyemangatinya. Ia pun jadi tidak merasa sendirian.

Setelah selama enam bulan menjalani hiatus dari profesinya, akhirnya ia mulai kembali dengan semangat yang baru. Oikawa pun memutuskan untuk mencari suasana baru dengan pindah ke apartemen lain yang lokasinya lebih dekat dengan gedung agensinya. Jadwalnya memang belum banyak, namun perlahan, ia mulai bisa tersenyum kembali di depan kamera, bahkan berinteraksi dengan para penggemarnya seperti dulu.

Di hari kepindahannya, ada Matsukawa yang membantu karena komplek apartemen pria itu sendiri tidaklah begitu jauh. Matsukawa pun dengan senang hati membantu dari pagi hingga matahari mulai terbenam di ufuk barat.

“Oik, yang ini apaan? Mau ditaro di mana?” tanya Matsukawa sambil mengangkat sebuah kotak kecil berwarna biru. Oikawa langsung mengenalinya sebagai barang-barang milik Iwaizumi yang dibawanya dari studio pria itu sebagai kenang-kenangan. Oikawa mengedikkan dagunya menunjuk meja kecil di depan TV. “Taro di atas situ aja dulu, nanti gue yang pisahin.”

“Oke!”

Setelah itu, Oikawa kembali memfokuskan aktivitasnya pada kardus-kardus yang belum dibukanya. Namun tiba-tiba, suara Matsukawa kembali menyela gerakannya. “Oik, lo nggak laper?”

“Kenapa? Lo mau makan sekarang?”

“Iya nih, laper banget gue tiba-tiba. Beli makan, dong.”

“Kenapa nggak pesen aja dari sini?” tanya Oikawa sambil mengelap peluh yang semakin membasahi kausnya.

“Di sekitar sini nggak ada yang enak, tau. Percaya sama gue. Mesti naik mobil dulu sampai lampu merah depan perempatan, baru deh lo bisa nemu banyak restoran.”

“Terus? Gue banget nih yang pergi?”

“Ya masa gue? Kan gue tamu di sini. Bantuin lo segala lagi,” jawab temannya itu sambil mengerucutkan bibir. “Ayo, Oik, cepetan. Perut gue udah bunyi, nih.”

Oikawa menghela napas, tapi dirinya bangkit juga untuk mengambil kunci mobil yang ada di atas counter dapur. “Lo mau makan apa?”

“Apa aja, yang penting bisa dimakan.”

Oikawa tertawa pelan kemudian segera beranjak menuju kamarnya untuk mengambil jaket. Sesaat kemudian, ia sudah berada di balik kemudi untuk melaksanakan misinya membeli makanan bagi mereka berdua. Benar kata Matsukawa, banyak pilihan restoran di dekat perempatan yang diarahkan temannya tadi. Meskipun agak jauh, jalanan yang sedang lengang membuat Oikawa bisa melajukan mobilnya tanpa hambatan.

Dalam perjalanan pulang, dia teringat bahwa Matsukawa tadi siang sempat berkata ingin makan es krim. Dan Oikawa tahu di sekitar apartemennya ada mini market yang pastilah menjual makanan khas musim panas tersebut. Tapi ia kurang begitu tahu rasa yang disukai Matsukawa, sehingga ia berinisiatif menghubungi temannya melalui sambungan bluetooth speaker di dalam mobil.

Oikawa menunggu beberapa saat sebelum panggilannya diangkat.

“Halo? Woy, gue mau beli es krim, nih. Lo mau rasa apa?”

Terdengar gumaman panjang di seberang sana sebelum Matsukawa menyuarakan pilihannya. “Vanilla aja deh.”

“Oke.” Oikawa baru akan memutuskan panggilan tersebut, ketika tiba-tiba Matsukawa menahannya.

“Eh, tunggu, Oikawa.”

Tangannya melayang di depan tombol End. Oikawa menunggu— berpikir mungkin temannya ingin menitip makanan yang lain.

“Lo… tau kan, kalau gue sayang sama lo? Sebagai temen dari SMA?”

Oikawa berusaha untuk menahan gelak tawanya yang hampir keluar saat mendengar pertanyaan yang tak terduga itu. Setahunya, Matsukawa bukanlah orang yang mellow seperti ini. Jadi, kenapa tiba-tiba temannya bertanya seperti itu padanya?

Oikawa tetap menjawabnya diiringin seulas cengiran lebar.

“Ya iyalah tau, apalagi kalau udah dibawain makanan kayak gini. Pasti lo bakal tambah sayang sama gue.”

Setelah mendengar balasan dari seberang, Oikawa segera memutuskan panggilan tersebut. Ia menggelengkan kepala dengan heran mendengar pengakuan tiba-tiba dari Matsukawa. Entah kenapa, rasanya seolah-olah mereka tidak akan bertemu lagi setelah—

Jari-jarinya membeku di roda kemudi.

Untuk suatu alasan, tubuhnya tiba-tiba mengeluarkan keringat dingin. Ia jadi teringat akan memori terakhirnya bersama Iwaizumi. Walaupun kalimatnya tidak persis sama, pertanyaan Matsukawa sedikit mengingatkannya dengan pertanyaannya sendiri pada mendiang kekasihnya dulu.

“Kamu tau kan, kalau aku cinta banget sama kamu?”

Belum sempat Oikawa memproses pemikiran itu lebih jauh, ada cahaya yang sangat terang muncul dari samping sehingga membutakannya untuk beberapa saat. Ia berusaha menghalau cahaya itu dengan sebelah tangannya, tetapi cahaya itu justru semakin mendekat ke arahnya.

Terdengar suara decitan mobil dan mesin yang tertabrak dengan sangat keras, sebelum semuanya menjadi gelap.

End.


@fakeloveros

P.S: btw kalau kalian pernah baca cerita yg mirip-mirip tapi tokohnya dari kpop fandom, itu berarti punyaku juga (cuma diedit lagi). Hehe, thank you!