Affection Sign


Disclaimer: this is actually the edited version of my short fic for another pairing in one of the kpop fandoms and Jujutsu Kaisen, so I'm not plagiarized this piece of work if you ever stumbled upon the original one. Thank you!


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, tapi dari salah satu kubikel kantor dengan tumpukan buku di mana-mana, masih terdengar suara ketikan keyboard yang memenuhi ruangan luas tersebut. Karena sudah melewati jam pulang kantor, tidak ada siapa pun lagi yang tersisa kecuali dua orang yang salah satunya tengah bersiap untuk pulang.

“Woy, Kita, lo belum mau pulang?” tanya temannya seraya berjalan menghampiri kubikelnya.

“Iya nih, tanggung tinggal sedikit lagi,” jawab pria yang dipanggil Kita itu sambil menyunggingkan senyum simpul.

“Ooh... ya udah, gue balik duluan, ya.”

“Oke! Hati-hati, ya,” jawab Kita sembari berjalan menuju kulkas ruangan kantor mereka dan mengambil susu stroberinya yang dibeli tadi siang. Kita lantas kembali ke kubikelnya dan bertekad menyelesaikan pekerjaannya sebelum malam semakin larut. Lagi pula, ia juga tidak enak karena sudah berjanji akan pulang dengan seseorang.

Kita sedang memasukkan data terakhir ke dalam laporan yang dikerjakannya, ketika tanpa aba-aba ada suara langkah kaki diikuti suara bariton yang sudah dihafalnya.

“Susu stroberi lagi? Lama-lama kamu bisa jadi susu stroberi kalau minum itu terus, Shin,” ujar pria yang tahu-tahu sudah berada di depan kubikelnya sembari memamerkan senyum sejuta watt-nya. Penampilan pria itu terlihat seperti orang yang sudah bersiap untuk pulang kerja— dengan jaket hitam menutupi kemeja putih dan kunci motor yang dimainkan di tangan.

“Kamu ngomong apa, sih, Atsumu?” balas yang ditanya tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari layar komputer— sedikit banyak tidak menghiraukan ucapan aneh kekasihnya itu.

“Ayo balik. Kamu nggak mau nginep di kantor, kan? Kalau mau nginep, aku tinggal nih,” ucap pria bernama Atsumu itu sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di atas pembatas kubikel— setengah mati berusaha menarik perhatian kekasihnya yang begitu fokus.

“Sebentar, dong. Ini udah mau selesai, kok.”

“Sebentarnya kamu tuh bisa sejam tau nggak.” Atsumu menggerutu, kemudian menarik kursi dari kubikel sebelah kekasihnya karena ia sudah mulai pegal berdiri. “Emang ini nggak bisa dilanjut besok?”

“Bisa,” jawab yang lebih tua seraya membuang kotak susunya yang sudah kosong ke tempat sampah. “Tapi tanggung. Lagian biar besok aku bisa santai juga.”

“Kebiasaan, deh.” Atsumu hanya berdecak pelan, namun tak lagi berkomentar apa pun.

Setelahnya, tidak ada yang bersuara. Hanya keheningan yang mengisi sementara Kita kembali berkonsentrasi demi menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin.

“Eh, kamu tau, nggak?” Tiba-tiba suara Atsumu terdengar memecah kesunyian.

“Apa?” Kita balik bertanya dengan singkat.

“Aku laper,” jawab pria itu sambil mengelus perut ratanya dengan tampang yang memelas. “Nanti makan dulu yuk, di mana gitu yang deket.”

“Tumben ngajakin makan di luar pas tanggal tua begini?”

“Ya jangan makan di tempat yang mahal...”

“Ya udah, sebentar, ini dikit lagi.”

Atsumu hanya bergumam panjang seraya memainkan kunci motornya.

“Eh, kamu mau tau sesuatu, nggak?”

“Apa lagi, sih, Atsumu?” Kita mulai menggerutu kesal. Pasalnya, bagaimana dia bisa cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya kalau kekasihnya itu terus menerus mendistraksinya?

“Kemaren ada anak baru di unit aku. Terus pulangnya kita sempet papasan sama dia. Kamu inget, nggak?” tanya pria itu santai tanpa memedulikan nada kesal yang terdengar dari objek atensinya.

Mau tak mau, Kita berhenti sebentar untuk mengingat-ingat. “Ooh... kayaknya aku inget. Yang pake kacamata itu, kan? Kenapa?”

“Nah, iya. Terus pagi ini dia nyamperin aku dan nanyain siapa cowok yang bareng aku kemaren.”

“Hah? Aku maksudnya? Emang dia mau ngapain?”

“Dia nanyain nama kamu.”

“Buat apa?”

Yang lebih muda memicingkan mata mendengar pertanyaan kekasihnya yang terdengar polos.

“Ini kamu sok-sok nggak tau atau beneran nggak tau?” tanya Atsumu curiga.

“Ya kalau tau, ngapain aku nanya ke kamu?” balas Kita sambil mengedikkan bahunya.

Atsumu menghela napas dengan gaya begitu dramatis.

“Pertanyaan dia nggak langsung aku jawab, dong. Aku juga nanya ke dia, ngapain nanya-nanya? Terus dia dengan frontalnya jawab kalau mau deketin kamu.” Atsumu lantas mendengus pelan begitu mengingat kejadian tadi pagi yang menurutnya sangat konyol.

Kita hanya tertawa pelan diikuti gelengan kepala tak paham. “Ada-ada aja.”

“Kamu kok santai banget gitu, sih?” Atsumu menatap sang kekasih dengan heran karena baginya, reaksi Kita dianggap terlalu santai. “Udah sering dideketin orang lain, ya?” tanyanya lagi dengan bibir yang dimajukan.

“Terus aku harus gimana? Dia kan cuma nanyain namaku, Atsumu.”

“Gimana kek...” Yang lebih muda terdiam sebentar. “Dia nggak ngira aku pacar kamu kali, padahal udah jelas-jelas kemarin kita pulang bareng,” keluh pria itu sambil merengut kesal.

“Kalau pulang bareng doang sih, dulu aku juga suka nebeng temen di sini. Dan nggak ada yang ngira aku pacaran sama temen aku tuh.”

Atsumu terlihat berpikir. Dahinya ia kerutkan sedikit.

“Kayaknya beneran karena kita kurang keliatan kayak orang pacaran deh,” ujar pria itu setelah beberapa saat. Kita yang sudah selesai berkutat dengan pekerjaannya dan kini tengah membereskan meja, menoleh untuk menatap sang kekasih. Satu alisnya terangkat tinggi-tinggi.

“Orang pacaran tuh emang harusnya kayak gimana?”

“Gimana kalau aku manggil kamu sayang setiap ada di depan dia? Jadi dia bakal langsung tau kalau kamu pacar aku,” ucap yang ditanya dengan nada begitu santai— sengaja mengabaikan pertanyaan yang dilontarkan padanya barusan.

Kali ini, giliran Kita yang terdiam mendengar ucapan Atsumu. Pasalnya, keduanya baru saja meresmikan hubungan dua minggu yang lalu, jadi memang belum banyak orang-orang di kantor yang mengetahui hubungan mereka. Ditambah lagi, yang lebih tua masih berusaha membiasakan diri dengan statusnya yang kini berubah. Ia sudah terbiasa berbicara formal dengan Atsumu sebelum berpacaran, sehingga membutuhkan waktu sampai kini dirinya bisa bicara lebih santai. Terlebih lagi ia masih merasa sedikit malu menunjukkan kemesraan mereka di depan orang lain. Jadi pertanyaan Atsumu barusan tak ayal membuatnya agak tertegun.

“Terserah,” jawab Kita singkat. Pria mungil itu berbalik, lalu berpura-pura membereskan isi tasnya. Ia tidak ingin Atsumu melihat pipinya yang mulai mengeluarkan semburat merah.

“Sayang.”

Jantung Kita refleks berdetak dua kali lebih cepat mendengar panggilan itu keluar dari mulut kekasihnya. Suara rendah pria yang baru saja memanggilnya penuh afeksi tersebut justru membuat wajahnya semakin memanas.

“Ka-katanya mau manggil sayang kalau di depan pegawai baru itu aja?” tanya Kita pelan, berusaha menutupi kegugupannya.

“Loh, kan harus dites dulu,” jawab Atsumu sambil tersenyum menggoda. “Lagian, masa aku cuma boleh manggil kamu sayang kalau lagi di depan orang lain?”

“Terserah, deh. Udah ayo balik, katanya laper!” balas Kita tanpa berani menatap Atsumu, dan langsung berjalan menuju pintu keluar ruangan.

Atsumu hanya terkekeh seraya ikut berdiri untuk menyusul kekasihnya.

“Tungguin dong, sayang.”

“Berisik, Atsumu!” Kita membalas dengan ketus meskipun diam-diam dia ingin mendengar Atsumu terus memanggilnya seperti itu.

Sepertinya, tidak buruk juga memiliki panggilan sayang.


@fakeloveros