Strawberries & Cigarretes
cw // smoking
Siang itu, yang terdengar dari dalam ruangan kelas berukuran 9x8 meter hanyalah suara pendingin udara tua dan gesekan pulpen di atas kertas yang terus dibolak-balik.
Tak ketinggalan, hela napas terus-menerus dari seorang pria bersurai hitam dan netra tegas yang kini tengah memainkan bolpoinnya dengan gestur berisik.
Nama Akaashi Keiji tertulis dengan rapi di sudut kertas. Ia sudah menjawab semua pertanyaan yang ada di dua lembar kertas berukuran A4 tersebut dalam waktu kurang dari dua jam. Akaashi masih memiliki waktu sekitar sepuluh menit lagi sebelum ujian berakhir. Ia bahkan sudah memeriksa semua jawabannya berulang kali, membolak-balikkan kertas, hingga teman di sebelahnya, Kuroo, mendelik kesal ke arahnya.
“10 menit lagi, ya.”
Akaashi menghela napas kesekian kalinya saat pengumuman dari dosen terdengar begitu lantang hingga menciptakan erangan dari beberapa mahasiswa yang kembali berkutat dengan soal-soal. Rasanya ia ingin mengetuk-ngetukkan kakinya karena sudah tidak sabar ingin segera keluar kelas, tapi Akaashi harus menahan diri kalau tidak ingin menerima pelototan dari teman di sebelahnya lagi.
Jadi, ia berusaha menunggu dengan sabar sembari sesekali melirik jam yang menempel pada dinding. Kemarin malam dirinya sudah belajar keras untuk menghadapi ujian hari ini, tetapi tetap saja yang terpikirkan di benaknya hanyalah satu nama—
Bokuto Koutaro.
Akaashi sudah tak tahan lagi ingin segera angkat kaki dari ruangan itu dan mencari Bokuto karena telah berani melanggar janji yang diikrarkan kemarin.
Bokuto berjanji akan masuk kelas hari ini.
Bokuto berjanji akan duduk di belakang Akaashi sambil mengerjakan ujian yang malam sebelumnya sudah mereka pelajari bersama.
Bokuto berjanji akan datang.
Tapi sampai dosen datang dan membagikan kertas ujian pun, bahkan sampai kursi di belakang Akaashi ditempati, Bokuto tetap belum menampakkan batang hidungnya.
Akaashi sendiri belum mengetahui alasan ketidakhadiran sang kekasih karena beberapa menit sebelum kelas dimulai, tidak ada satu pun pesan atau panggilan yang dijawab oleh Bokuto. Akaashi akhirnya hanya bisa pasrah karena tahu tidak akan sempat juga mencari Bokuto di waktu sesempit itu.
Akaashi baru tersadar kalau ternyata ia sudah mengetuk-ngetukkan kaki di atas lantai ketika dosen akhirnya bangkit dan menepukkan tangan sekali. “Waktunya sudah habis. Silakan kumpulkan kertas kalian di atas meja.”
Maka tanpa perlu aba-aba lagi, Akaashi lantas berdiri (alat tulisnya sudah ia rapikan sejak 20 menit yang lalu) dan meletakkan kertas ujian di tempat yang disediakan. Tidak lupa, dirinya juga mengucapkan terima kasih kepada dosennya, sebelum segera membuka pintu kelas dan keluar dengan langkah seribu.
Ketika sudah berada di luar gedung, tiba-tiba ada tangan yang menahan bahunya dari belakang. Langkahnya terhenti seketika dan refleks menoleh diikuti mata yang menyipit kesal.
Ternyata Kuroo.
Sebelum Akaashi sempat membuka mulut, Kuroo sudah menyelanya terlebih dulu. “Woy, lo mau ke tongkrongan, ya?
Akaashi mengernyit tidak mengerti. “Tongkrongan? Ngapain gue ke san—”
Akaashi terdiam. Tiba-tiba dirinya paham ke mana kemungkinan Bokuto melarikan diri. Atau bersembunyi.
“Bokuto ada di sana, ya?” tanya Akaashi pada temannya yang lebih jangkung.
“He-eh,” jawab Kuroo singkat. “Tadi dikasih tau Konoha,” lanjutnya lagi dengan mata menyelidik. “Kalau mau ke sana, nebeng gue aja. Kebetulan gue juga mau ke sana. Ada Kenma.”
“Lo bawa motor?”
Kuroo mengeluarkan cengiran lebarnya, lantas merogoh ke dalam kantung jaket dan memperlihatkan sebuah kunci. “Hari ini bawa mobil, soalnya mau kencan sama Kenma.”
“Ya udah, ayo cepetan,” balas Akaashi seraya melangkah cepat ke arah tempat parkir. Kuroo buru-buru mengejarnya sambil menggerutu.
“Kenapa sih buru-buru amat? Lo khawatir gara-gara Bokuto bolos hari ini?” tanya temannya begitu langkah mereka sudah seimbang.
Akaashi menelan ludahnya kasar, dan pikirannya kembali berputar memikirkan segala kemungkinan. “Padahal gue pikir, karena kemaren dia udah janji bakalan masuk, hari ini bakalan ada. Tapi ternyata…”
Akaashi menggantungkan kalimatnya dan lebih memilih untuk menghela napas lelah.
“Apa dia ada masalah lagi sama keluarganya?” tanya Kuroo hati-hati. Mereka sudah berteman cukup akrab sampai mengetahui masalah besar yang dihadapi masing-masing.
Dan di antara mereka, masalah keluarga Bokuto lah yang paling sering membuat khawatir. Pasalnya, jika sedang ikut stres Bokuto bisa tiba-tiba menghilang dan muncul beberapa hari kemudian. Pria itu akan sulit dihubungi hingga membuat Akaashi berpikiran macam-macam. Pernah suatu hari Bokuto menghilang sampai lima hari, dan ketika Akaashi sudah nyaris menghubungi polisi, tahu-tahu kekasihnya muncul di depan rumah dengan cengiran lebar khasnya. Ada kantung kresek yang berisi segala macam makanan yang akhirnya menemani mereka semalaman.
Akaashi tidak bertanya karena tahu pria itu tidak pernah suka jika dicampuri urusannya.
Meski begitu, bukan berarti Akaashi terbiasa dan tidak pernah khawatir lagi. Seperti sekarang, jantungnya memompa cepat dan tangannya berkeringat memikirkan apa lagi kali ini yang mengganggu ketenangan sang kekasih.
“Mau permen?” tanya Kuroo begitu mereka sudah berada di dalam mobil yang pengap. Tangan temannya menjulur ke arahnya menawarkan sebungkus besar makanan manis itu sementara satunya lagi menyalakan mesin dan pendingin udara.
Tanpa suara, Akaashi mengambil satu. Mungkin sesuatu yang manis bisa mengurangi ketegangannya sekarang.
Matahari siang itu memang sedang terik-teriknya bersinar. Untung saja Akaashi berangkat bersama Kuroo yang kebetulan hari itu membawa mobil. Setidaknya, dinginnya pendingin di dalam mobil mampu membuat Akaashi sedikit berpikir jernih tentang apa yang harus dikatakannya nanti begitu bertatap muka dengan Bokuto.
“Tenang aja, ujian barusan bisa susulan, kok. Jadi si Bokuto bisa tetep ikut nanti,” ucap Kuroo tanpa mengalihkan atensi pada jalanan di hadapan mereka.
Akaashi mendengus pelan. “Dia udah terlalu sering ikut susulan. Dosen-dosen sampe udah nanyain.”
Kuroo mengedikkan bahu. “Yah, mau gimana lagi…”
Benar. Mau bagaimana lagi? Pada titik ini Akaashi pun tidak tahu harus bersikap bagaimana. Dirinya ingin sekali membantu, tetapi tidak tahu langkah tepat yang harus diambil tanpa menyinggung perasaan kekasihnya. Meski baru berpacaran selama enam bulan, rasanya ia ingin menjadi satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan pria itu dari keterpurukan. Tapi apa yang harus dia lakukan kalau Bokuto saja enggan membicarakan masalahnya?
“Lo masuk duluan aja. Gue mau parkir dulu.”
Begitu kata Kuroo begitu mereka telah sampai di tempat tujuan. Akaashi pun mengangguk sambil membuka pintu mobil. “Thanks ya, Kuroo.”
Apa yang mereka sebut sebagai 'tempat tongkrongan' nyatanya merupakan bangunan tak terpakai berlantai dua. Saat pertama kali menemukannya, mereka sedikit membersihkan tempat itu dan meletakkan berbagai barang-barang. Sekarang, ‘tongkrongan’ itu terlihat lebih nyaman dan berwarna dengan macam-macam hiasan, sofa bekas, bahkan matras tua yang diambil dari rumah Kuroo. Hanya sesekali tempat itu dijadikan lokasi belajar bersama.
“Hai, Akaashi! Gimana tadi ujiannya? Lancar?” tanya pemuda mungil dengan rambut jingga terang yang langsung menyapanya begitu ia membuka pintu.
“Lumayan, eh.... Bokuto ada di sini, kan?” tanya Akaashi memastikan sambil mengerling ke arah tangga menuju lantai atas karena ia tidak melihat Bokuto tengah berkumpul bersama teman mereka yang lain.
Hinata tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya. “Naik aja, dia ada di lantai dua.”
Belum sempat Akaashi mengucapkan terima kasih, Kenma memotong duluan tanpa melepaskan pandangan dari layar handphone. “Tapi dia lagi nyebat.”
Perkataan itu sukses membuat Akaashi terkejut.
Bokuto sedang… merokok?
“Ooh… oke. Gue ke atas ya, kalau gitu. Oh ya, Kuroo lagi parkir mobil tuh di luar.”
Kenma hanya mengangguk diikuti Hinata yang memekik riang. “Oooh! Kuroo dateng juga!”
Akaashi mulai menaiki tangga menuju lantai dua. Gerigi di otaknya berputar memikirkan pemantik akan sikap sang kekasih yang tiba-tiba kembali merokok setelah sebelumnya sudah berhenti selama dua tahun.
Akaashi tahu Bokuto memang merokok sejak sebelum mereka berpacaran, bahkan saling mengenal. Pria itu pernah tidak sengaja bercerita bahwa keputusan untuk menghisap zat nikotin tersebut dipicu dari masalah-masalahnya. Namun suatu hari, Bokuto memutuskan untuk berhenti sebelum kecanduan karena tahu merokok tidak akan menyelesaikan masalah. Ditambah begitu mengetahui bahwa yang lebih muda ternyata tidak begitu menyukai asap rokok. Oleh karena itu, fakta bahwa sekarang Bokuto justru kembali merokok sangat mengganggu pikirannya.
Apa lagi stres banget, ya?
Sesampainya di lantai dua, yang sebenarnya tidak diisi apa-apa oleh mereka selain sebuah sofa tua di sebelah jendela besar, Akaashi mendapati sang kekasih sedang menghisap benda berwarna putih sambil sesekali meniupkan asapnya ke luar jendela.
“Bokuto.”
Akaashi memanggilnya pelan, tahu bahwa pria itu sebenarnya pasti sudah mengetahui kehadirannya semenjak ia menaiki tangga.
Yang dipanggil kemudian menoleh, lantas mengulas lengkungan lebar di bibirnya. “Hei.”
Akaashi menghampiri pria itu perlahan. Selagi berjalan menuju tempat Bokuto, Akaashi melihat kekasihnya langsung mematikan rokok dan menaruh sisanya di asbak dekat kaki sofa.
Begitu Akaashi sampai tepat di depan Bokuto, pria bersurai perak itu langsung menariknya ke atas pangkuan.
Akaashi terpekik kaget, tetapi setelahnya langsung berusaha menguasai diri dan menyamankan posisinya di pangkuan pria jangkung tersebut. Sambil memainkan surai lembut sang kekasih, Akaashi bertanya pelan. “Kamu kenapa hari ini nggak masuk? Nggak enak badan? Atau ada masalah?”
Bokuto tidak menjawab pertanyaan Akaashi. Pria itu hanya memejamkan mata dan menikmati afeksi yang diterimanya.
“Maaf,” Bokuto tiba-tiba membuka suara setelah beberapa saat. “Aku ngerokok lagi.”
Pria itu menatap Akaashi yang hanya terdiam di pangkuannya. “Padahal aku udah nggak bakal ngerokok lagi.”
Bokuto memeluk Akaashi dan membenamkan kepalanya di ceruk leher pria yang lebih muda. “Aku juga udah janji hari ini bakalan masuk kelas, tapi ternyata masih aku langgar juga.”
Bokuto mengeratkan pelukannya. “Maaf, Akaashi…”
Akaashi tidak sanggup bersuara. Ia membiarkan dirinya dipeluk sedemikian erat, sementara tangannya masih dengan lembut mengelus dan sesekali memainkan surai perak kekasihnya.
“Aku pernah baca, katanya orang kalau mau berhenti ngerokok harus ada penggantinya,” ucap Akaashi tiba-tiba begitu keheningan yang melanda tak lagi terasa menegangkan baginya. Biarlah yang mengganggu sang kekasih mereka bicarakan nanti karena sepertinya Bokuto tidak ingin membahas masalah itu sekarang.
Bokuto melepaskan pelukannya sedikit untuk menatap wajah Akaashi. “Pengganti? Kayak apa contohnya?”
Akaashi membuat ekspresi berpikir. “Hmm… misalnya, diganti jadi makan permen setiap kali kepikiran buat ngerokok. Atau minum susu juga bisa,” jawab Akaashi seraya memalingkan mukanya sedikit dari pandangan intens sang kekasih. Bagaimanapun, hubungan mereka belum berlangsung lama. Terkadang, Akaashi masih merasa malu apabila diperlakukan khusus oleh kekasihnya, terutama di hadapan publik.
Tapi sekarang, hanya ada mereka berdua di sini.
“Hmm...” Bokuto bergumam panjang sebagai tanggapan. Yang tidak Akaashi sangka, mendadak Bokuto kembali mengeratkan rengkuhannya sebagai upaya menghapus celah di antara mereka.
Bokuto tiba-tiba saja menciumnya.
Akaashi yang lagi-lagi dibuat terkejut oleh perlakuan Bokuto, berusaha mengumpulkan kesadaran dan membalas ciuman bertempo lambat tersebut. Tidak ada urgensi maupun tuntutan dalam sapuan lembut bibir Bokuto di atas bibirnya. Bibirnya hanya dilumat pelan seakan sang kekasih tengah mengulum permen yang sangat manis dan berlama-lama agar potongannya tidak cepat habis. Jantung Akaashi berdebar tidak karuan saat Bokuto menjilat bagian bibir bawahnya sampai membuka lebih lebar.
Akaashi bisa merasakan tekanan udara di sekitarnya berubah, meskipun ada jendela besar yang terbuka di samping mereka.
“Kalau gitu, aku ganti jadi kamu aja.”
Akaashi lantas membuka kelopaknya yang sempat terpejam begitu suara Bokuto masuk ke gendangnya dengan bibir pria itu yang tak lagi menempel dan memberi pagutan. Jantungnya masih berdebar kencang akibat ciuman lembut yang barusan diterimanya. Wajah Bokuto yang masih terlampau dekat pun sama sekali tidak membantu dalam meredakan debaran jantungnya yang seolah ingin keluar dari rongga dada.
“Tadi kamu bilang harus ada penggantinya, kan?” ucap pria itu lagi begitu didapatinya sang kekasih hanya mengerjap bingung.
Akaashi masih tidak bergerak sementara satu tangan Bokuto naik dan mengelus pipinya dengan penuh sayang. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang sangat Akaashi sukai dari pria itu.
“Kamu mau ganti ke… aku? Maksudnya?” Entah kenapa pertanyaannya terdengar bodoh, bahkan untuk dirinya sendiri. Padahal ia benar-benar tidak paham dengan perkataan ajaib Bokuto barusan.
“Soalnya rasa kamu barusan kayak stroberi.” Seolah mengafirmasi, Bokuto maju dan menjatuhkan kecupan kilat di bibirnya. “Manis. Rasanya mau aku makan terus.”
Akaashi tidak mampu membentuk kalimat koheren apa pun dalam kepalanya. Terlebih, karena lidahnya sudah berubah kelu. Bokuto sendiri terus bergerak pelan seakan memberi waktu untuk memproses— menciuminya lembut dari pipi sampai ke rahang, lalu terus turun hingga ke leher jenjangnya. Akaashi sedikit berjengit saat merasakan hidung pria itu tengah menghidu dalam-dalam aroma parfum di lehernya.
Akaashi bersyukur mereka sedang tidak berada dalam posisi berdiri atau dirinya bisa langsung terjatuh lemas.
“Kamu mau kan, bantuin aku buat berhenti merokok?”
Bokuto tiba-tiba mendongakkan kepalanya dari bawah dan menatap Akaashi sungguh-sungguh.
Akaashi tidak sanggup mengeluarkan suara, jadi dia hanya mengangguk dan langsung dibalas oleh tawa kecil dari kekasihnya. Akaashi ikut tersenyum melihat mata bulan sabit Bokuto yang terbentuk setiap kali tertawa.
Sebenarnya, Bokuto tidak perlu meminta pun Akaashi pasti akan bersedia. Dia bersedia jadi apa pun selama bisa membuat Bokuto melupakan segala masalahnya.
Sekalipun jadi permen yang mencegah agar pria itu tidak merokok lagi.
@fakeloveros