i. they said rain is the epitome of missing someone
“Kita ngapain sih, makan di sini lagi?”
“Sssst! Kuroo! Pelan-pelan ngomongnya!”
“Orangnya aja belum ada, anjir!”
“Siapa bilang?! Itu liat arah jam 12 di belakang lo!”
Yang dititah pun menurut dan otomatis menolehkan kepalanya ke belakang. Begitu sama-sama melihat target yang dimaksud, Kuroo kembali menghadap ke depan dan berdecak pelan.
“Dengan lo nge-stalk dia terus-terusan kayak begini, nggak akan bikin orangnya balikan sama lo, Oik!”
“Ssst! Kuroo, lo diem kek! Nanti bisa ketauan!”
Sang surai hitam hanya memutar kedua bola mata lantas melanjutkan aktivitas makan siangnya yang sempat tertunda. Oikawa sendiri terus mencuri-curi tatapan ke arah mantannya dari balik kamus tebal Bahasa Jerman milik Kuroo.
Sebenarnya, dia pun enggan melakukan ini. Tapi mau bagaimana, jika penasaran di hatinya terus mendorongnya untuk melakukan hal-hal yang lumrah dilakukan seorang mantan kekasih dalam novel-novel?
Alias, belum bisa move on.
“Dia makan bareng Akaashi lagi...” gumam Oikawa tanpa sadar begitu melihat sosok yang melangkah di sebelah Iwaizumi. “Menurut lo mereka beneran lagi pedekate, nggak...?”
“Akaashi bukannya udah digebet Bokuto?” jawab Kuroo sedikit tak acuh selagi menyendokkan nasi gorengnya.
“Emang? Kata siapa?” Oikawa bertanya dengan nada yang dibuat tak seberharap mungkin. Pokoknya dia tidak boleh senang dulu.
“Kata gue lah barusan.”
“Kur, kenapa ya gue temenan sama lo?”
“Jangan manggil gue Kur napa, lo pikir gue burung?” gerutu temannya sebelum digantikan oleh cengiran lebar khas pria itu. “Karena gue doang temen satu-satunya yang mau nemenin lo ke FISIP buat nge-stalk mantan pacar.”
Nggak salah, sih... Oikawa menghela napas seraya menopang dagunya dengan satu tangan.
“Lagian lo ngapain sih, pake acara putus segala kalau masih suka?” lanjut Kuroo begitu setengah nasi goreng yang dilahapnya sudah masuk ke dalam perut. “Nggak paham gue.”
Jujur, Oikawa sendiri bahkan tidak paham.
“Gue sama dia tuh nggak cocok... walaupun kata orang-orang dia duluan yang suka sama gue, tapi waktu itu aja harus gue yang gerak duluan buat nembak dia. Pas udah pacaran juga dia yang kayak biasa aja... kan gue jadi nggak yakin sebenernya dia tuh suka beneran atau nggak.”
Tanpa sadar, Oikawa jadi menumpahkan isi hati di depan teman SMA-nya itu. Rasanya masih banyak yang ingin diutarakan, tetapi kalau harus membuat kesimpulan, kira-kira itulah alasan dirinya memutuskan hubungan dengan sang kekasih. Ralat. Mantan, maksudnya.
Dan keputusannya diterima begitu saja oleh Iwaizumi seakan mengafirmasi ketidakcocokan mereka.
“Mas, tadi pesen soto, ya?”
Suasana mendung di salah satu meja panjang kantin fakultas itu dipotong oleh seorang penjual yang datang dengan membawa semangkuk makanan yang disebutkan. Oikawa mengangguk lemah, lantas menyingkirkan kamus milik Kuroo yang semakin terlihat lusuh— bukan karena sering dipakai pemiliknya, melainkan dijadikan tameng oleh Oikawa setiap mereka membuntuti mantannya.
Oikawa mulai menyendokkan sotonya yang masih mengepulkan asap tipis dengan sedikit murung sementara Kuroo hanya memperhatikan dengan wajah iba.
“Lo nggak mau coba move on aja?”
Pertanyaan itu terlalu sering Oikawa ajukan pada diri sendiri sampai kini begitu mendengarnya langsung dari seseorang dia sudah tidak terkejut lagi.
“Lo pikir move on itu gampang?”
“Gampang kalau lo niat,” balas temannya tanpa berpikir dua kali. “Lo begini karena belum ada niatan buat move on. Tapi lo juga bukannya ngapain gitu kek, buat nyelametin hubungan lo sama dia. Kalau kayak gini kan, jadinya nggak jelas lo maunya apa.”
Oikawa menghentikan suapan dan membuat ekspresi takjub yang ditujukan untuk teman beda jurusannya itu.
“Sekarang gue paham kenapa lo masuk sastra.”
“Ya karena gue pintar berkata-kata dan pandai dalam memutuskan sebelum bertindak gegabah lah,” ucap Kuroo, setengah menyindir, sebelum menyedot es tehnya sampai habis. “Nggak kayak seseorang yang masuk sastra lewat jalur kondangan.”
“Itu namanya gue lebih pinter dari lo, sial.”
“Beda lah,” Kuroo mengibaskan tangannya tak terima. “Seenggaknya gue berusaha dulu. Kalau lo kan tinggal nerima hasil.” Pria itu lantas terdiam dan menatap Oikawa penuh arti. “Sama kayak yang lo alamin sekarang. Lo nggak berusaha apa-apa.”
“Bangsat.” Oikawa melempar tisu yang ada di tangannya sampai mengenai kening sang teman. “Terus kalau gitu, menurut lo gue harus ngapain, hah?”
Kuroo terkekeh. Tangan pria itu memainkan sedotan hijau stabilo di gelasnya dengan santai selagi netranya menatap Oikawa sungguh-sungguh.
“Makanya lo harus cobain SIMAK, biar tau susahnya ngejar sesuatu yang bener-bener lo pengenin.”
“Korelasinya apa anj—”
“Korelasinya,” potong Kuroo segera dengan mata yang berkilat penuh keyakinan. “Sama kayak sebelum ujian masuk, lo harus tau dulu jurusan apa yang lo pengen. Jangan asal pilih doang mentang-mentang kampusnya beken. Begitu masuk, yang ada lo bakalan nyesel. Nah sekarang, coba lo pikirin baik-baik apa yang sebenernya lo pengenin dari hubungan lo sama Iwaizumi ini. Jangan asal mau balikan doang kalau nanti ternyata sama aja.”
Oikawa mengerjap. Satu kali. Dua kali. Lalu lebih cepat begitu rentetan kata tanpa jeda itu terproses di otaknya. Efeknya sama seperti ketika ajaran mata kuliah paling sulit akhirnya bisa diterima otaknya dengan baik.
“Emang ya, bener, jangan nilai orang dari penampilan luarnya...” bisik Oikawa pelan diikuti ekspresi kagum. “Tampang boleh jamet, tapi kata-kata lo barusan udah setingkat Pramoedya Ananta Toer!”
Oikawa menerima kembali lemparan tisu dari Kuroo. Kali ini telak mengenai wajahnya.
Sore itu, begitu kelas terakhirnya usai, Oikawa keluar dari gedung dengan mulut yang terbuka lebar. Beberapa mahasiswa tengah berlari-lari melewati lorong yang sempit sebagai upaya mereka agar tidak terpercik hujan. Pasalnya, tetes-tetes air jatuh begitu lebat hingga membuat orang-orang harus menaikkan oktaf suara jika ingin berbincang satu sama lain.
Oikawa tidak membawa payung sama sekali dan kini ia harus terjebak di dalam kampus.
“Sialan...” gumamnya pada diri sendiri ketika melangkah dengan hati-hati mengarungi lorong demi lorong fakultas sastra. Entah kenapa, beberapa hari terakhir ia merasa begitu sial. Seolah Tuhan mengaminkan keadaannya yang sudah jatuh dan tertimpa tangga.
“Pulangnya gimana nih gue...”
Kalau sudah begini, Oikawa jadi teringat pada Iwaizumi. Mantan kekasihnya.
Sebelum mereka putus, kalau langit tiba-tiba sedang tidak bersahabat dan Oikawa lupa membawa payung, dia akan langsung mengirim pesan singkat pada Iwaizumi yang biasanya dibalas tak sampai semenit kemudian.
Mau pulang bareng?
Belum sempat Oikawa menarikan jarinya di atas layar sentuh, tulisan typing... kembali muncul.
Aku bawa dua payung karena tau kamu pasti lupa bawa
Nanti kita ke halte bus aja bareng
Dan baginya, ajakan itu terdengar lebih romantis dibandingkan seorang kekasih yang menawarkan untuk naik mobil pribadi atau taksi.
Oikawa tersenyum kecil. Tangannya terjulur dari lindungan atap hingga tetes bumi itu membasahi telapaknya.
Ternyata, ia merindukan Iwaizumi lebih dari yang diperkirakan.
Setengah melamun, Oikawa membiarkan tangannya dibuat beku oleh rinai lebat yang berlomba-lomba turun ke tanah ketika ada getaran yang berasal dari dalam kantung jaketnya terasa. Otomatis tangannya mengeluarkan gawai yang menjadi sumber getaran itu dan membaca chat masuk tanpa menaruh ekspektasi apa pun.
Lalu dalam hitungan detik yang sama, matanya membeliak lebar begitu melihat siapa yang baru saja mengiriminya pesan.
Hei, bawa payung gak hari ini? Gue bawa 2 kalau lo mau pake
Sebenernya nulis ini mah excuse aja biar bisa mengenang masa kuliah (tsah). Soulmate masih lanjut kok, gaes (bentar lagi juga selesai, haha). Tapi aku refreshing dulu dengan nulis yg ringan-ringan... semoga kalian nggak keberatan xoxo
@fakeloveros