Clarity
Tidak ada suara apa pun yang masuk ke telinganya.
Bahkan argumen Alisa dan Kageyama tentang jalur mana yang akan membawa mereka secepat mungkin menuju klan soulmate-nya terdengar begitu lamat-lamat. Kepalanya seakan berada di bawah air— berat dan kosong.
Malam di musim panas tidaklah semenyiksa saat matahari masih berada di atas kepala. Meski begitu, tangan dan punggungnya bermandikan peluh yang tak ada hubungannya sama sekali dengan cuaca. Jantungnya berdetak sangat kencang sampai ia takut organ tubuh penopang nyawanya itu bisa melompat keluar kapan saja.
“Oikawa.” Ada suara lembut yang memanggilnya dari kursi depan. Alisa dan Kageyama ternyata sudah berhenti berseteru. Saat Kageyama sudah kembali fokus menyetir, Alisa justru menatapnya dengan pandangan perihatin. “Gue tau kita barusan kesannya kayak maksa lo, tapi kalau lo sendiri beneran belum yakin, kita bisa puter balik.”
“Nggak,” Oikawa memotong cepat. Ia mengeratkan jaketnya karena peluh yang bertemu pendingin udara mulai membuatnya menggigil. “Bukan gitu. Gue udah yakin, cuma...”
Oikawa membasahi bibirnya yang kering. Ia sendiri sulit mendeskripsikan apa yang tengah dirasakannya kini. Ketidakyakinan dan rasa takut memang masih mengisi sudut hatinya, tapi dibandingkan dua hal itu, ada perasaan lain yang membuatnya tidak tenang.
”...nggak tau, gue juga bingung,” jawabnya lemah ketika dilihatnya Alisa masih menunggu jawabannya. Wanita itu tersenyum bak seorang ibu yang berusaha menenangkan anaknya ketika mau naik ke atas panggung pementasan pertama kali. Temannya lalu menggapai ke belakang dan menggenggam tangannya begitu erat.
“Nggak apa-apa, gue paham. Yang penting kalau lo udah yakin sama diri sendiri, nanti percaya aja sama Iwaizumi. Inget, dia soulmate lo. Orang yang seharusnya paling ngerti sama perasaan lo. Lagian gue yakin, Iwaizumi nggak akan ngelakuin apa pun yang bertentangan sama keinginan lo.” Alisa lantas mengubah senyumannya menjadi sedikit menggoda. “Dan dari cerita lo selama ini, dia kayak udah bucin banget sama lo, Oikawa. Jadi tenang aja.”
Alisa padahal jarang memberinya nasihat. Wanita itu lebih banyak mendengarkan atau memberi ekslamasi berlebihan. Namun sungguh ajaib bagaimana kata-kata temannya barusan justru berhasil menenangkan hatinya, walau tak banyak.
Dan Oikawa selalu percaya pada Iwaizumi— tanpa ia sadari. Jadi seharusnya tak ada yang perlu ia khawatirkan.
Oikawa pun mengalihkan netranya ke arah pemandangan di luar jendela yang terlihat blur karena kecepatan mobil mereka. Kali ini, ia ganti berdoa agar jangan sampai Iwaizumi merasakan sakit yang amat sangat.
Begitu sampai di klan Iwaizumi dan dirinya dikenali oleh penjaga gerbang sehingga diizinkan masuk, yang pertama kali menyambutnya adalah Atsumu. Tangan kanan soulmate-nya itu terlihat panik selagi menghampirinya.
“Lo harusnya nggak usah dateng,” ucap pria itu buru-buru sementara Oikawa memberi arahan kepada dua temannya agar langsung kembali pulang dan tak usah menungguinya. “Bahkan harusnya lo nggak tau Iwaizumi hari ini rut. Dia sendiri yang bilang supaya jangan ngasih tau lo,” sambung Atsumu dengan kepanikan yang sama.
Mendadak, Oikawa merasa kesal.
“Kenapa sih, dia suka ngelarang-larang gue? Terserah gue dong, mau dateng ke sini atau nggak.” Oikawa lantas memperhatikan suasana di sekitar mereka yang begitu hening. “Sekarang dia ada di man—”
Detik itu juga, ada yang memotong ucapannya dengan teriakan menggelegar dari arah hutan yang membuatnya terbeliak tak percaya begitu mengenali pemilik suara tersebut. Oikawa tak memedulikan panggilan Atsumu yang berusaha menahannya dan langsung melesat ke arah hutan.
Oikawa mengendus udara dan mengikuti aroma cokelat yang tercium begitu kuat. Tangannya mulai bergetar, namun dirinya tetap meneguhkan hati dan mempercepat langkah.
Begitu tiba di danau dalam hutan yang sudah sangat dihapalnya, Oikawa terkejut saat melihat sosok seorang wanita tengah berdiri diam menghadap gelapnya pepohonan. Setelah berada di jarak lebih dekat, Oikawa memberanikan memanggil wanita yang identitasnya ia ketahui itu.
“Kiyoko.”
Tak ayal, sang empunya nama langsung menoleh ke arahnya. Wajahnya masih setegas dan setenang dulu saat Oikawa pertama kali berkenalan dengannya. Namun Oikawa bisa melihat, di balik lensa tipisnya, wanita itu menyimpan kekhawatiran.
“Di mana Iwaizumi?” tanyanya tanpa basi-basi dengan napas yang sedikit terengah. Aroma cokelat yang seakan memenuhi udara memang tercium semakin kuat, tapi ia masih tidak tahu di mana letak persisnya keberadaan sang Alpha. “Gue harus cepet-cepet ke sana.”
“Oikawa.” Tiba-tiba, tangannya diraih dan digenggam wanita berkacamata itu. Dilihat dari jarak yang cukup dekat, ternyata ada selaput tipis basah yang menggenangi matanya. “Makasih udah dateng ke sini. Aku—”
“Gue dateng ke sini bukan buat lo, atau gara-gara lo,” selanya sambil menarik tangannya kembali dan mengepalkannya di sisi tubuh. “Gue, seperti yang lo tanyakan, sangat peduli sama soulmate gue dan berencana buat ngebantu dia. Jadi, apa sekarang lo bisa kasih tau aja Iwaizumi ada di mana?”
Oikawa pikir, Kiyoko sangatlah pandai mengatur ekspresi wajah karena wanita itu hanya menatapnya selama sepersekian detik sebelum mengangguk. Dengan jari lentiknya, Kiyoko menunjuk ke lebatnya pepohonan yang ada di hadapan mereka.
“Ada semacam rumah kecil di dalam sana. Kamu bisa muterin danau ini, terus ikutin aja jalan lurus itu. Cuma ada bangunan itu satu-satunya di dalam hutan, jadi kamu nggak bakalan keliru. Habis ini, aku bakalan langsung balik. Tapi kalau kamu butuh sesuatu atau... bantuan, langsung telepon aku atau Atsumu aja. Kita bakalan selalu stand by di deket hutan. Oh ya, dan kamu nggak perlu masuk ke dalem. Cukup berdiri di luar pintu masuknya aja. Yang penting, Iwaizumi tau kalau ada kamu di luar.” Kiyoko lantas merogoh sesuatu dari kantung jaketnya. “Tapi ini... kuncinya, buat jaga-jaga kalau ada sesuatu.”
Oikawa mengangguk dan menerima uluran kunci perak tersebut— tak ingin memperpanjang obrolan dengan wanita yang ia curigai memiliki perasaan khusus terhadap soulmate-nya. Namun sebelum dirinya berbalik, Kiyoko menahannya.
“Tunggu! Aku tau kamu mungkin nggak suka sama aku gara-gara hubunganku dengan Iwaizumi dulu. Tapi sekarang kita udah bener-bener nggak ada apa-apa lagi. Kamu soulmate dia satu-satunya... dan aku tau, Iwaizumi sayang banget sama kamu.”
Oikawa bahkan tak ingin bertanya sekarang maksud dari perkataan hubunganku dengan Iwaizumi dulu. Ia pun hanya mengangguk dan menggumamkan terima kasih sebelum berlari memutari danau. Begitu ada geraman kencang yang nyaris terdengar seperti hewan liar mengisi kesunyian hutan, Oikawa menelan saliva dan mempercepat menuvernya.
Mau tak mau, Oikawa mendesah lega saat terlihat cahaya dari kejauhan. Benar kata Kiyoko— ada sebuah rumah berukuran sedang terletak di tengah hutan. Seolah memang sengaja dibangun untuk keperluan menyendiri.
Saat bangunan itu sudah berada di depan matanya, Oikawa memperlambat langkah sampai berhenti tepat di depan pintu masuk. Ada banyak rantai dan gembok yang menempel di gagang pintu sehingga Oikawa langsung paham kenapa dirinya disuruh menunggu di luar.
Karena Iwaizumi tidak bisa membukanya dari dalam.
Oikawa berdiri diam di tempatnya. Tangannya menyentuh permukaan pintu kayu yang terasa sedikit kasar. Ia menghela napas panjang untuk menenangkan jantungnya yang berdetak gila-gilaan.
Anehnya, ada kesunyian yang mengikuti di dalam sana.
“Tooru?”
Namanya dibisikkan dari balik pintu. Heningnya suasana membuat oktaf rendah itu terdengar begitu lantang di telinganya. Namun dirinya tak berani langsung menjawab.
“Tooru…?” Namanya dipanggil sekali lagi. Kali ini ada ketidakpercayaan dalam bariton milik sang Alpha. “Kamu…ngapain…?”
Oikawa menarik napas panjang.
“Hajime…? Kamu… nggak apa-apa?”
Pertanyaan bodoh. Tentu saja soulmate-nya itu tidak baik-baik saja. Oikawa berdiri tanpa bergerak seinci pun selama menunggu pertanyaannya dijawab.
“Hajime? Kamu baik-baik aja—“
“Pergi.”
Oikawa pikir ia salah dengar. “Apa?”
“Pergi dari sini. Sekarang.”
Untuk seseorang yang baru saja menggetarkan hutan dengan geramannya, Iwaizumi terdengar begitu tenang. Namun ketenangan, juga perintah itu, justru membuat bulu kuduknya berdiri.
“Katanya… kamu kesakitan karena udah lama nggak rut. Makanya aku ke sini buat…” bantuin kamu?
BRAK
Oikawa terlonjak. Iwaizumi baru saja memukul pintu yang menghalangi mereka dengan begitu kencang sampai menggetarkan gembok dan rantai yang menempel. Untuk sedetik, Oikawa pikir pintu itu akan hancur.
“Pergi. Sekarang. Juga.” Perintah itu diucapkan per silabel dengan penuh penekanan. Meski terdengar tegas, ada getaran dalam nada suara pria itu. “Kamu nggak bisa—“
Seruan sang Alpha terpotong oleh rintih kesakitan yang terdengar begitu memperihatinkan. Oikawa menempelkan kembali tangannya ke permukaan pintu dengan khawatir. “Hajime, mungkin aku bisa—“
“KAMU NGGAK BISA BANTU AKU! JADI PERGI DARI SINI SEKARANG!”
Iwaizumi terdengar marah. Sangat marah hingga untuk sesaat otoritas Alpha dalam suaranya membuat Oikawa harus mundur beberapa langkah. Napasnya tercekat dan seperti ada gumpalan kapas yang menyumpal tenggorokannya sampai ia tidak bisa melontarkan satu patah kata pun.
Setelah beberapa menit berlalu, Oikawa berasumsi Iwaizumi telah menjauhi pintu. Ia pun menegakkan tubuh dan berusaha berpikir jernih.
Tenang. Gue harus tenang. Kalau nggak, sia-sia gue ke sini.
Oikawa sendiri tahu secara logika, bantuan yang bisa ditawarkan kepada Alpha yang sedang rut adalah pelepasan keinginan secara fisik. Namun tak mudah untuk memuaskan seorang Alpha dalam keadaan seperti itu, terlebih lagi dalam kasus Iwaizumi. Ia pun tak tahu bagaimana sensasi siklus bulanan serupa karena dirinya bahkan tidak pernah merasakan apa yang seharusnya Omega normal alami.
Yang ia tahu, soulmate-nya sedang berada dalam keadaan tersiksa sekarang. Dan ada bagian dari instingnya yeng terus mendorong untuk secepatnya membantu pria itu.
Tapi, apa yang bisa dilakukannya sekarang? Berdiri diam di luar takkan membantu pria itu sama sekali. Namun jika dirinya nekat dan masuk ke dalam—
Apa? Kalau gue balik badan dan pergi sekarang pun apa bedanya? Kita cuma bakal kembali ke awal, bahkan mungkin lebih parah. Dia bakalan terus nunggu dan gue bakalan terus mikir, Oikawa membatin dalam hati.
Sedangkan dirinya sendiri bingung, apa lagi yang sebenarnya perlu dipikirkan?
Kakinya bergerak sendiri tanpa sadar untuk mendekat kembali ke depan pintu. Ia tidak mendengar suara apa pun lagi dari dalam. Mungkin Iwaizumi pun sadar bahwa dirinya belum beranjak dari sana.
“Kamu tau, selama ini aku selalu takut buat ketemu soulmate-ku sendiri. Waktu orang-orang di sekitarku nantiin hal itu, aku malah berdoa setiap hari supaya semakin dijauhin. Begitu ketemu kamu, sekuat tenaga aku berusaha benci, bahkan berharap kamu yang bakal nolak ikatan aku duluan.”
Oikawa memejamkan mata— berharap ada kekuatan ajaib yang membuatnya bisa mengakui semua kekurangannya dalam satu tarikan napas.
“Tapi di lain sisi, aku berharap soulmate-ku nanti mau nerima aku apa adanya. Bukan semata-mata emang udah takdir, tapi karena dia beneran sayang sama aku. Dulu aku pikir, itu permintaan yang egois karena siapa yang mau nerima Omega nggak sempurna?”
Oikawa menelan salivanya susah payah. Wajahnya ditundukkan seakan Iwaizumi bisa menghakiminya langsung dari balik pintu.
“Soalnya aku nggak bisa hamil.”
Oikawa menggigit bibirnya kuat-kuat sebagai upaya untuk menahan rintihannya yang hampir keluar. Bukan saatnya dia mengasihani dirinya sendiri sekarang. Oikawa sudah menerima kenyataan pahit itu sejak lama dan tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengubahnya.
Sekarang, ia hanya perlu fokus ke tujuan utamanya.
“Dan hal itu bikin aku sadar, nggak seharusnya kamu nempatin aku sebagai pembuat keputusan di sini. Aku mau kita ada di dalam posisi seimbang. Lagian... bukannya waktu itu kamu pernah bilang sendiri? Kita sekarang ada di atas perahu yang sama. Jadi kalau kamu jatuh, aku juga bakalan ikut jatuh.” Oikawa tertawa getir. “Kalau aku nolak kamu, atau sebaliknya, kita berdua juga yang bakalan sama-sama tersiksa. Nggak ada yang menang atau kalah di sini, dan itu yang hampir aku lupain.”
Kalau setelah ini dirinya masih disuruh pergi, maka Oikawa hanya bisa menurut dengan pasrah.
“Aku pernah baca satu kalimat di dalam novel. Waktu itu aku lagi bosen, dan hiburan yang ada cuma novel roman picisan punya Alisa.” Oikawa tertawa kecil saat mengingatnya. “Padahal aku nggak suka baca buku, tapi satu kalimat itu nempel banget di kepalaku.”
Berbeda jauh dari perkiraannya, ternyata setelah mengakui semuanya hatinya justru merasa lebih tenang. Seperti ada beban berat yang akhirnya terangkat dari pundak sehingga ia tidak perlu merangkak lagi saat berjalan.
“We met not because we were perfect, but because our combined flaws were arranged in a way that allowed two separate beings to hinge together.”
Sudah. Oikawa tidah tahu lagi harus berkata apa. Keheningan yang memekakkan telinga itu berlangsung cukup lama sampai Oikawa bergerak gelisah di tempatnya. Bagaimana kalau ternyata barusan kata-katanya tidak didengar? Bagaimana kalau yang dikatakannya tetaplah sia-sia?
Bagaimana kalau Iwaizumi menolaknya detik ini juga?
“Hajime? Apa kamu denger—”
“Cariño.”
Apa?
“Kalau kamu masuk sekarang—” Terdengar geraman pelan dan bunyi seperti cakaran pintu yang sempat mengagetkannya. “Aku takut nggak akan bisa berhenti nanti.”
“Nggak apa-apa.” Oikawa terkejut dengan dirinya sendiri karena bisa menjawab begitu yakin. “Aku nggak akan minta kamu buat berhenti.”
Iwaizumi mengutuk pelan dari balik pintu. “Kamu sadar sama apa yang diomongin barusan?”
“Kalau nggak sadar, aku nggak akan masih berdiri di sini sekarang.”
Ada suara tarikan napas pendek-pendek berasal dari sang Alpha. Oikawa menunggu sabar dengan jantung yang kembali bertalu kencang. Namun kali ini bukan karena rasa takut atau ketidakyakinan.
Ada antisipasi yang perlahan naik dari ujung kaki sampai ke perut dan menimbulkan gejolak aneh di sana. Indra penciumannya dipenuhi aroma cokelat yang semakin kuat dan memabukkan. Dada dan lehernya terasa panas seakan ada yang menyalakan api di dalamnya. Padahal dia sedang berada di ruang terbuka, tapi di saat bersamaan, Oikawa merasa seperti kekurangan oksigen.
“Oke.”
Oikawa menahan napas saat satu kata itu dibisikkan dari balik pintu— terdengar begitu tersiksa, tapi juga penuh harap.
“Kamu boleh... masuk.”
Oikawa membulatkan matanya, lalu mengangguk meskipun tahu Iwaizumi tidak bisa melihatnya. Tangannya menyentuh rantai dan gembok yang saling terlilit, lantas membukanya perlahan satu per satu. Peluh yang membasahi telapak tangannya membuat kenop pintu itu terasa sedikit licin.
Oikawa menarik napas panjang dan membukanya.
Dia membukanya.
Jiaaakh kasian deh digantung.
@fakeloveros