Jamais Vu (part 2)


TW: major character death, accident, butterfly effect

Read the warnings carefully before you read! Thank you and... enjoy the ride.


Oikawa mengirim pesan tersebut diiringi seulas senyum di wajahnya. Walaupun ia sendiri yang meminta pria itu untuk beristirahat lebih awal, tapi sebagian kecil hatinya berharap bahwa Iwaizumi akan tetap membalasnya.

Iya, sayang, ini udah di tempat tidur, kok.

Begitu balasan yang diterima Oikawa. Hatinya langsung menghangat dan dengan senyum yang belum meninggalkan wajahnya, Oikawa membalas kembali pesan tersebut.

Oke, kalau gitu. Good night. I love you.

I love you too. Good night, Tooru.

Setelah pesan terakhir tersebut, Oikawa pun tertidur dengan senyum lebar terukir di wajahnya.


Keesokan harinya, Oikawa kembali harus bangun lebih awal karena jadwalnya hari itu terbilang cukup padat. Selain pemotretan, sore harinya ia memiliki jadwal syuting untuk sebuah variety show. Bahkan saat makan siang pun, ia tidak memiliki waktu banyak sampai-sampai tidak sempat untuk mengecek handphone-nya.

Setelah jam menunjukkan pukul lima sore, barulah syuting itu selesai dan Oikawa akhirnya bisa mengambil napas lega. Ia bahkan sampai tidak sempat mengecek keadaan Iwaizumi hari itu— apakah kekasihnya sudah makan, beristirahat, keluar untuk menghirup udara segar, dan lain sebagainya.

Saat Oikawa mengecek gawai yang sepanjang hari itu ia letakkan di dalam tas, ada banyak panggilan tak terjawab dari Matsukawa. Untuk beberapa saat, Oikawa hanya memandangi layar persegi tersebut. Entah kenapa, ada perasaan aneh yang mendadak muncul sehingga membuatnya langsung menghubungi temannya tanpa berpikir panjang.

Panggilannya langsung diangkat, tetapi untuk sejenak, Oikawa hanya mendengar suara banyak orang dari seberang sana, sebelum Matsukawa menyebut namanya dengan suara yang tercekat.

”...Oik.”

“Matsukawa? Halo? Ada apa?”

Tidak ada suara apa pun yang terdengar. Lagi-lagi, hanya ada suara ramai orang berbicara yang menjadi latar belakang keheningan tersebut. Oikawa harus menahan diri agar tidak berteriak dan menuntut Matsukawa untuk segera berbicara.

”...Oik, kita lagi ada di rumah sakit sekarang...”

Jantungnya mencelos saat itu juga. “Kenapa? Iwaizumi baik-baik aja, kan?”

Ia pun tidak tahu kenapa, tetapi nama kekasihnya lah yang terpikirkan pertama kali.

“Nggak cuma Iwaizumi...Daichi juga...”

Apa?

“Me-mereka janjian makan siang di restoran deket gedung agensi Iwaizumi… te-terus, nggak tau gimana, ada kebocoran gas di restoran itu dan… dan… semuanya langsung meledak...”

Oikawa bisa merasakan kakinya melemas. Ia sampai harus berpegangan pada meja yang ada di ruang tunggu agar tidak terjatuh ke lantai. Dunianya serasa runtuh saat mendengar hal tersebut. Namun, ada satu hal yang belum ia pastikan dari Matsukawa...

“Ta-tapi, Iwaizumi… masih hidup, kan? Daichi juga?”

Matsukawa tidak langsung menjawabnya. Tetapi Oikawa tahu dari isak tangis yang tiba-tiba dikeluarkan pria itu — padahal Matsukawa bukan orang yang mudah menangis — apa jawaban dari pertanyaan yang barusan diajukannya.

Untuk kali ini, Oikawa membiarkan dirinya terjatuh ke lantai dan menangis.


Oikawa mendapatkan detail kejadiannya dari manajer Iwaizumi sesaat setelah ia sampai di rumah sakit. Iwaizumi telah menyusun janji dengan Daichi sehari sebelumnya untuk makan siang bersama. Kebetulan, restoran yang mereka kunjungi bahkan terletak tidak jauh dari lokasi syuting Oikawa.

Begitu Oikawa sampai di rumah sakit, hatinya kembali merasa sakit saat melihat temannya, Sugawara, yang juga kekasih Daichi, hanya duduk diam di pojokan ruangan dengan pandangan mata yang tak fokus. Pria itu sudah dibujuk berkali-kali untuk makan dan minum, tetapi hanya diam satu-satunya respons yang diberikan. Ketika Oikawa datang pun, Sugawara tidak mengatakan apa-apa, meliriknya saja tidak. Bahkan di tengah suasana seperti itu, ia merasa sungguh aneh melihat seorang Sugawara yang biasanya ceria dan penuh energi positif, bertingkah lain dari biasanya.

Saat itulah, Oikawa teringat dengan pigura kupu-kupu yang masih tersimpan di studio Iwaizumi.

Kalau dirinya pernah menyelamatkan Iwaizumi sekali, tentu ia bisa menyelamatkannya juga kali ini, bukan? Bahkan tidak hanya Iwaizumi, Oikawa pun mungkin bisa sekaligus menyelamatkan Daichi.

Matsukawa tidak mempertanyakan keputusan mendadaknya saat mengatakan bahwa dirinya akan pergi sebentar ke studio Iwaizumi. Manajernya pun langsung mengantarkannya tanpa banyak bertanya. Di perjalanan, ia meremas kesepuluh jarinya dengan gugup sembari berharap semoga kali ini pun bisa menyelamatkan Iwaizumi. Dan juga Daichi.

Setelah sampai, seperti orang yang kerasukan, Oikawa segera berlari menuju studio Iwaizumi dan mengeluarkan kunci yang sempat ia buat duplikatnya untuk berjaga-jaga. Dengan tangan yang gemetar hebat, Oikawa membuka pintu itu dan langsung menghampiri meja. Ia ingat di mana terakhir kali meletakkan pigura itu dan langsung mengambilnya.

Oikawa menarik napas dalam, dan seperti sebelumnya, ia memperhatikan pigura itu tanpa berkedip. Jantungnya mulai berdetak pelan seakan paham ada proses yang sedang ia jalani. Lalu seperti sebelumnya, ada sensasi aneh yang membuatnya tidak fokus dan seakan melayang keluar dari tubuh. Ia bisa merasakan dirinya perlahan jatuh ke lubang yang sama. Sedetik kemudian, sensasi itu lenyap tanpa-aba meninggalkan Oikawa dalam disorientasi yang sama, meski kali ini tak begitu parah. Matanya mengerjap cepat sebagai upaya membiasakan diri dengan cahaya di dalam studio.

“Tooru?”

Itu dia.

“Kamu habis ngelamun, ya?”

Berhasil. Cara itu ternyata berhasil dan Oikawa sudah kembali ke masa ketika dirinya berada di studio Iwaizumi pekan lalu. Semua masih sama seperti yang diingatnya— kertas-kertas berserakan, pakaian yang mereka kenakan, serta tatapan khawatir kekasihnya.

Sekali lagi, Oikawa kembali ke masa lalu.

“Tooru? Nggak apa-apa?” tanya Iwaizumi lagi, kali ini sambil menyentuhkan telapak tangannya ke kening Oikawa. Oikawa hanya tersenyum dan mengambil telapak tangan pria itu, lalu menggenggamnya erat.

“Nggak apa-apa, aku cuma laper aja. Gimana kalau kita pesen makan, terus minta dianter ke sini? Aku males keluar.”

“Hmm, boleh juga.”

Setelah tawarannya diterima, gawai yang ada di dalam kantung Oikawa mengeluarkan nada dering familer. Tanpa melihat layar, Oikawa langsung menerima panggilan tersebut.

“Halo, Matsukawa.”

“Hai, Oik! Lagi di mana lo? Lagi sama Iwaizumi, nggak?”

“Iya nih, lagi sama Hajime di studio dia,” jawabnya, berusaha bersikap setenang mungkin.

“Nah, kebetulan. Dateng sini ke restoran yang biasa. Ada gue, Hanamaki, Sugawara sama Daichi juga.

“Duh, sori banget. Kayaknya kita mau pesen makan aja dari sini. Hajime udah capek banget soalnya, jadi habis makan mau langsung istirahat.”

“Ohh… gitu? Yah, sayang banget...”

“Lain kali aja gimana?”

“Hmm… boleh, deh. Kalau gitu, salam buat Iwaizumi, ya!”

“Oke, bye!”

Setelah memutuskan panggilan tersebut, Oikawa langsung membuka aplikasi pengantar makanan, lantas bertanya pada sang kekasih yang tengah membereskan barang-barang berserakan di atas meja.

“Mau makan sushi?”


Di hari yang telah ditunggunya, Oikawa berusaha menyelesaikan jadwal pemotretan paginya secepat mungkin. Satu jam sebelum jam makan siang, ia sudah memohon kepada Akaashi untuk mampir ke gedung agensi sang kekasih dan mengajak Iwaizumi makan siang bersama.

Yang lebih muda menghela napas pasrah dan memberi syarat bahwa mereka harus segera kembali ke lokasi syuting sebelum jam setengah dua. Oikawa mengangguk dengan yakin dan berjanji. Lagi pula, ia tidak membutuhkan waktu banyak.

Begitu sampai di depan gedung, Oikawa cepat-cepat menghubungi Iwaizumi. Ternyata pria itu memang sedang turun dari lantai studionya untuk bertemu dengan Daichi yang sudah berada di jalan.

Setelah mengakhiri panggilan itu seraya menghembuskan napas lega, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahunya dari belakang.

“Hei, Oikawa. Nggak nyangka bisa ketemu di sini.”

“Aduh, kaget! Eh, iya nih, gue mau ngajakin Hajime makan siang bareng.”

“Loh, sama dong? Gue juga udah janjian sama Iwaizumi mau makan siang bareng sekarang.”

“Oh, ya? Kalau gitu, kita makan bareng aja!”

“Ide bagus,” ucap satu suara laki-laki yang tiba-tiba sudah bergabung dengan mereka. Iwaizumi tersenyum lebar ke arahnya sembari menyentuh pergelangan tangannya ringan. “Hai, sayang.”

“Terus? Mau makan di mana kita?” tanya Daichi sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling jalan raya. “Eh, di situ kayaknya ada resto—”

“Eh! Kita makan di deket gedung agensi gue aja. Tadi kata salah satu staf, di sana ada restoran baru yang suuuper enak!” Oikawa buru-buru menyela perkataan Daichi dan menatap keduanya dengan pandangan memohon. “Gimana?”

“Boleh. Gue mah di mana aja, sih,” jawab Daichi sekenanya. “Iwaizumi gimana?”

“Gue juga di mana aja. Sekarang yang penting makan, deh. Laper banget ini,” balas Iwaizumi sambil mengelus perut ratanya dengan tampang sedikit memelas.

“Oke, deh. Let's go!”


Oikawa bisa menghela napas lega karena setelahnya, tidak ada yang terjadi pada Iwaizumi maupun Daichi.

Oikawa kembali menjalani harinya seperti biasa. Jadwal pemotretan, wawancara dan syuting terus berdatangan seperti ombak di lautan— tak pernah habis dan tak pernah mereda.

Tanggal perilisan album untuk artis yang diproduserinya pun semakin dekat. Pria itu mulai mengurangi waktunya di studio dan lebih banyak menghabiskan waktu di ruang rekaman yang terpisah. Oikawa bersyukur, setidaknya sang kekasih kini dikelilingi oleh banyak orang.

Dua minggu sebelum tanggal rilis, Iwaizumi tiba-tiba menyetujui ajakan Sugawara yang mengajak mereka semua pergi liburan sebentar di vilanya yang berada di salah satu negara tropis. Sebenarnya Oikawa sempat heran karena tidak biasanya Iwaizumi mau diajak bepergian seperti itu, apalagi di tengah persiapan album barunya. Namun sepertinya sang kekasih memang membutuhkan sedikit refreshing setelah berbulan-bulan berkutat dengan kesibukan tanpa hampir mengenal dunia luar.

Sayangnya, Oikawa tidak bisa ikut karena jadwal syuting yang tidak bisa ditinggalkan. Tidak mungkin pula ia meminta kelonggaran untuk memundurkan jadwalnya. Jadi ia pun membiarkan Iwaizumi dan sahabatnya yang lain pergi bersenang-senang.

Rencananya mereka akan berangkat dua hari lagi. Untungnya, hari itu ia tidak memiliki jadwal begitu padat sehingga bisa ikut mengantar Iwaizumi sampai ke bandara. Oikawa hanya tidak bisa turun dan mengantar Iwaizumi  sampai ke gate keberangkatan. Jadi, ia hanya mengantarkan Iwaizumi dengan mobil yang dikendarainya sendiri sampai di tempat parkir.

“Kamu udah packing semuanya, kan? Nggak ada yang ketinggalan?” tanya Oikawa untuk terakhir kalinya sebelum kekasihnya itu turun dari mobil.

“Udah, Tooru. Udah semua,” Iwaizumi menjawab kalem sambil melepaskan sabuk pengaman.

“Kalau udah sampai, langsung hubungi aku, ya. Jangan lupa HP-nya di-charge terus. Pokoknya kalau ada apa-apa, langsung telepon aku. Oke?”

“Emang bakal langsung diangkat sama kamu? Kamunya aja sibuk banget,” balas Iwaizumi dengan tatapan mengejek.

“Ya, kan, seenggaknya gitu...”

“Haha, iya, iya, aku bercanda. Aku janji bakal hubungin kamu terus, kok. Kalau perlu, nanti aku IG live di sana biar kamu bisa liat.”

“Aku atau fans-fans kamu?” tanya Oikawa sambil pura-pura merengut kesal.

“Kamu, Tooru sayaang...” Iwaizumi mencubit pipinya gemas, lalu bersiap membuka pintu mobil. “Ya udah, aku turun sekarang, ya?”

“Sebentar!” Oikawa lantas maju dan menarik pria itu untuk dicium. Tidak butuh sedetik bagi Iwaizumi untuk balas merengkuh wajahnya dan membalas pagutannya. Setelah saling memberi jarak, Iwaizumi mencium keningnya dengan lembut.

“I love you. Take care, ya.” Iwaizumi akhirnya membuka pintu dan mengambil kopernya dari kursi belakang. Tidak lupa, pria itu melambaikan tangan pada Oikawa yang menatapnya sambil tersenyum dari balik kaca mobil. Setelahnya, Iwaizumi berjalan semakin menjauh sampai hilang dari pandangan.

Oikawa pun melajukan mobilnya perlahan untuk kembali ke apartemen. Mungkin setelah ini dia bisa membuat makan malamnya sendiri karena kebetulan tidak ada yang perlu dilakukan lagi selepas sore itu.

Sesampainya di apartemen, mendadak hujan turun dengan sangat lebat. Oikawa cepat-cepat membuka pakaian untuk bermandikan air panas. Setelah mengganti pakaiannya ke yang lebih nyaman, Oikawa berjalan santai menuju ruang tengah dan menyalakan TV. Sudah lama rasanya ia tidak menyalakan benda elektronik yang biasanya dibiarkan menganggur tersebut. Mungkin ia bisa membuat makan malam selagi menonton acara variety show yang sedang ditayangkan.

Namun karena jam sudah menunjukkan pukul lima, hampir semua saluran TV menayangkan berita sore. Oikawa lantas memilih asal salah satu saluran untuk sekadar pengisi keheningan.

Oikawa pun mulai membuat makan malam yang hanya terdiri dari nasi goreng sederhana. Ia sering dielu-elukan sebagai pria yang sempurna oleh para penggemar, padahal kekurangannya dalam memasak justru menjadi hambatan terbesarnya.

Selagi menunggu minyak dipanaskan, Oikawa tak sengaja memfokuskan netranya pada layar TV yang terlihat dari dapur. Tadi ia sengaja mengeraskan volume TV agar terdengar di tengah suara hujan yang begitu lebat— seolah berlomba-lomba sampai mana titik-titik itu bisa membasahi bumi.

Tiba-tiba, ada tulisan Breaking News muncul di layar. Dengan intonasi datar, sang pembawa berita memaparkan bahwa baru saja ada kecelakaan pesawat yang terjadi. Kecelakaan itu terjadi karena adanya kerusakan pada mesin. Ditambah hujan lebat yang turun secara tiba-tiba, tidak membantu kondisi yang dialami oleh pesawat tersebut. Bahkan, tidak ada yang sempat menyelamatkan diri karena pesawat tersebut langsung meledak di udara sebelum kepingannya berjatuhan ke dalam lautan.

Oikawa tidak bisa mengalihkan matanya dari layar TV seolah ada magnet yang menahannya.

Layar lalu berganti menjadi sebuah ilustrasi saat pesawat itu meledak di udara dan kepanikan sang pilot yang berusaha menghubungi tower pengontrol. Mata Oikawa bergulir ke arah nama maskapai penerbangan serta kode pesawat tersebut.

Japan Airlines — JL726

Oikawa langsung membeku di tempatnya berdiri. Dengan setengah kesadaran yang tersisa, ia mematikan kompor dan berjalan menuju ke ruang tengah. Sekarang, layar TV tengah menampilkan nama-nama awak kabin pesawat dan penumpang yang menjadi korban dalam kecelakaan tersebut.

Nama-nama itu muncul berdasarkan abjad.

Hanamaki Takahiro

Iwaizumi Hajime

Matsukawa Issei

Sawamura Daichi

Sugawara Koushi

Oikawa menatap layar TV dengan pandangan kosong. Mulutnya terbuka lebar dengan binar ketidakpercayaan. Ia yakin salah lihat. Tidak mungkin kekasih dan teman-temannya mengalami kecelakaan, padahal beberapa jam lalu dirinya masih bertemu dengan Iwaizumi. Baginya, ini sungguh mustahil.

Tangannya dingin dan bergetar hebat saat meraih gawainya dari atas meja untuk menghubungi sang kekasih.

Tidak. Yang barusan ada di TV pasti bukan Iwaizumi-nya. Pasti bukan teman-temannya. Itu pasti hanya orang lain yang memiliki nama sama. Ya, pasti begitu, pikirnya yakin dengan peluh sebesar biji-biji jagung yang mulai mengalir dari pelipis.

Namun hati kecilnya seolah tahu, mau menunggu berapa lama pun, tidak akan ada yang mengangkat panggilannya. Ia bahkan menghubungi nomor Matsukawa— hapal betul dengan kebiasaan sang sahabat yang tidak pernah melepaskan matanya dari layar gawai barang sedetik pun.

Panggilannya hanya disambut keheningan.

Oikawa terduduk di lantai apartemennya dengan lemas. Kepalanya seperti berputar dan telinganya berdengung keras. Meskipun begitu, ia memaksakan dirinya untuk segera bangkit dan meraih ke dalam kantung jaket yang tersampir di sofa untuk mengambil sesuatu.

Kunci duplikat studio Iwaizumi.

Tanpa memedulikan hujan yang masih turun lebat di luar sana, Oikawa mengendarai mobilnya menembus jalanan dengan kecepatan tinggi. Ia bahkan tidak repot-repot memarkirkan mobilnya dengan benar, dan langsung berlari ke dalam gedung— tidak memedulikan tubuhnya yang sudah basah kuyup dan membuat genangan di mana-mana.

Banyak staf gedung yang menatapnya dengan bingung. Beberapa bahkan meneriakkan namanya. Namun Oikawa tidak mengindahkan mereka dan terus berlari sampai pintu studio yang sudah sangat dihapalnya terlihat.

Begitu pintu terbuka, tanpa membuang waktu, Oikawa segera membuka laci meja dan mengeluarkan pigura kupu-kupu tersebut.

Namun, sesuatu tiba-tiba menghentikannya.

Oikawa mulai bertanya-tanya, sebenarnya kenapa ini terjadi? Bagaimana ini semua bisa terjadi? Kenapa dirinya bisa kembali ke masa lalu, tetapi yang terjadi selanjutnya terus berubah? Kenapa setiap ia kembali dan ingin memperbaiki situasi, semua justru bertambah buruk dari sebelumnya?

Dan jawabannya muncul begitu saja tanpa ia perlu repot-repot berpikir keras.

The Butterfly Effect.

Oikawa pernah membacanya sekali di internet. Namun konsep tersebut begitu menempel di otaknya sampai dia membicarakannya berkali-kali dengan Iwaizumi yang pada saat itu hanya menganggukkan kepala. Kejadian itu seperti adanya perubahan kecil dari suatu sistem tak linear yang dapat menyebabkan perubahan besar di kondisi selanjutnya. Seperti halnya sebuah teori di mana kepakan sayap kupu-kupu di hutan Brazil dapat menyebabkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian. Teori tersebut persis sama seperti yang dialaminya sekarang.

Semuanya terasa masuk akal. Perbuatan kecilnya dalam upaya menyelamatkan Iwaizumi telah mengakibatkan perubahan kondisi di masa depan berkembang menjadi sesuatu yang lebih buruk. Kejadian yang menimpa Daichi, dan kini teman-temannya pun pastilah akibat perubahan dari aksi 'kecil'nya tersebut. Namun semuanya tetap merujuk ke satu hal yang sama.

Kematian Hajime.

Semakin ia terus berusaha menyelamatkan Iwaizumi, maka akan semakin banyak orang yang terlibat. Dan Oikawa yakin, keterlibatan orang-orang itu dimulai dari sekitar mereka berdua. Tiba-tiba, Oikawa terlalu takut untuk membayangkan apabila ia melakukan ini terus-menerus— berapa orang yang akan menjadi korban? Berapa banyak kerabat yang harus ia saksikan kematiannya demi menyelamatkan sang kekasih?

Oikawa tahu apa yang harus ia lakukan.

Oikawa memejamkan mata untuk sesaat, lalu menarik napas dalam dan menatap pigura yang ada di tangannya. Sama seperti sebelum-sebelumnya, ia memfokuskan atensi pada kupu-kupu biru itu sampai disorientasi yang kelewat familier tidak lagi mengganggunya.

“Tooru?”

Oikawa memejamkan matanya rapat-rapat— tidak ingin menghadapi realita yang disajikan oleh takdir di hadapannya.

“Kamu habis ngelamun, ya?”

Perlahan, Oikawa membuka mata dan meletakkan pigura tersebut ke dalam laci. Ia lantas memutar kursi yang didudukinya untuk menatap Iwaizumi.

“Tadi aku kepikiran sesuatu...” Oikawa memulai dalam bisikan rendah. “Kalau bisa ngubah masa lalu, kamu mau ngapain?”

“Ngubah masa lalu?” Sebelah alis Iwaizumi terangkat tinggi. “Gimana caranya? Kayak, kembali ke masa lalu gitu? Pake mesin waktu?”

“Anggap aja begitu.”

“Hmm...” Iwaizumi bergumam panjang dengan ekspresi berpikir keras. “Apa ya… mungkin ngubah jurusan kuliahku?” Iwaizumi mengeluarkan cengiran lebarnya. Tapi kemudian, intonasi pria itu berubah serius saat menyuarakan kalimat selanjutnya.

“Tapi, aku lebih milih nggak bisa ngubah masa lalu, sih. Soalnya, semua pasti terjadi karena suatu alasan, kan? Kalau emang di masa lalu terjadinya begini, ya pasti karena di masa depan bakalan begitu hasilnya. Semua udah ada aturannya. Dan kalau kita ubah, belum tentu yang ada di masa depan bakal sesuai dengan keadaan yang kita harapkan.”

Tak lama, ada keheningan panjang yang menyusul dan mengisi ruangan. Oikawa hanya diam selagi memikirkan jawaban Iwaizumi dan menguatkan tekadnya.

Keheningan itu tiba-tiba dipecahkan oleh suara dering handphone.

“Halo, Matsukawa.” Oikawa menjawab panggilan tersebut tanpa ekspresi. Dengan sedikit melamun, ia mendengarkan tawaran Matsukawa yang rasanya sudah ratusan kali ia dengar, tetapi tetap saja terasa asing. Sampai akhirnya mereka sampai di penghujung perbincangan dan Oikawa menjawab pasrah. “Oke, nanti gue tanya ke orangnya.”

Dan seperti yang pertama kali ia lakukan, Oikawa membujuk Iwaizumi untuk pergi menemui teman-teman mereka. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Iwaizumi untuk setuju dan mulai membereskan barang-barangnya.

Saat pria itu akan membuka pintu, Oikawa secara spontan memanggil nama kekasihnya.

“Hajime, tunggu.”

Iwaizumi berbalik dan menatapnya sementara dirinya bangkit dan berjalan menghampiri pria yang selama dua tahun terakhir telah membuatnya amat sangat bahagia. Ia berusaha merekam wajah Iwaizumi di ingatannya agar tidak ada yang terlewat satu pun. Ada dorongan yang begitu kuat untuk mencegah kekasihnya pergi dan menahan pria itu agar terus berada di sisinya selamanya.

Namun ia paham, seandainya Iwaizumi tahu, pasti bukan ini yang diinginkan pria itu. Kekasihnya memiliki hati yang sangat baik di balik perawakannya yang dingin. Jadi mana mungkin pria itu mau mengorbankan banyak nyawa hanya demi menyelamatkan jiwanya.

Memaksakan dirinya untuk tersenyum, Oikawa mengucapkan kata-kata yang sudah ada di ujung lidahnya.

“Kamu tau kan, kalau aku cinta banget sama kamu?”

Ada sorot kebingungan di balik sorot mata kekasihnya, sebelum senyum lebar terukir di wajah tampan pria itu.

“Jelas tau, dong. Lagian kalau aku nggak ngerasain yang sama, mana mungkin aku mau pacaran sama kamu. Kenapa sih, tiba-tiba nanya gitu?”

“Pengen aja,” jawab Oikawa pelan. “Maaf ya, kalau aku selama ini terlalu sibuk. Maaf juga kalau kesannya nggak banyak yang aku lakuin buat hubungan kita. Tapi kamu harus tau, kalau aku… bakal terus cinta sama kamu. Bahkan walaupun masa lalu bisa diubah, aku nggak akan milih orang lain.”

Tatapan Iwaizumi melembut saat Oikawa selesai mengucapkan rentetan kalimat tersebut. Oikawa mati-matian melawan isak tangis yang keluar saat kekasihnya maju dan menariknya dalam pelukan erat. Ia balas memeluk pria itu erat sembari menghirup aroma yang sudah sangat dikenalnya— berusaha untuk merekamnya dalam kenangan.

“The feeling is mutual,” bisik pria itu sambil mencium puncak kepalanya. “Aku juga cinta sama kamu dan nggak mau sama yang lain. Tapi kalau boleh jujur, aku jadi takut soalnya kamu ngomong kayak gitu seolah-olah kita nggak bakalan ketemu lagi habis ini.”

Oikawa tersenyum lemah— menyadari ironi di balik pernyataan tersebut.

“Jangan khawatir, oke? Aku bakalan keluar, ketemu udara segar kayak yang kamu bilang, dan habis ini aku nggak bakalan telat makan lagi. Janji.”

Seandainya Hajime bisa benar-benar menepati janjinya...

Lalu, sentuhan pria itu menghilang saat akhirnya Oikawa harus menyaksikan pria itu pergi sembari melambaikan tangan.

Oikawa terdiam sesaat di depan pintu sebelum tubuhnya bergerak sendiri menuju meja dan membereskan kertas-kertas milik Iwaizumi. Tangannya yang tak sengaja menyentuh pinggir pigura kupu-kupu itu lantas berhenti. Oikawa sudah hampir melemparnya ke dinding, namun suara hatinya melarang perbuatan tersebut.

Oikawa akhirnya memutuskan untuk membawa pigura itu ke apartemen dan berniat untuk meletakkannya di tempat yang tidak akan bisa ditemukan oleh siapa pun.

Setelah memastikan semua barang berada di tempatnya, ia meninggalkan studio Iwaizumi dan kembali ke apartemennya.

Tanpa mengganti pakaian sama sekali, Oikawa berbaring di atas tempat tidur. Kali ini, ia tidak lupa mengisi daya baterai handphone-nya agar nanti begitu ada panggilan masuk dari manajer atau salah satu temannya bisa langsung terdengar.

Untuk beberapa saat, matanya tetap terbuka seraya menatap langit-langit kamar. Oikawa pikir, ia tidak akan bisa tidur malam ini dengan bayangan kejadian yang beberapa jam lagi harus dihadapinya. Namun pikirannya ternyata begitu lelah, sampai-sampai kelopaknya tak lagi kuat menahan rasa kantuk. Oikawa pun membiarkan dirinya terbawa ke alam bawah sadar tanpa mimpi— bersiap untuk menerima kabar yang akan datang.

-to be continued


@fakeloveros